Edjaan Tempoe Doeloe hingga Ejaan yang Disempurnakan

Penjelasan sejarah panjang perubahan ejaan Bahasa Indonesia dari awal abad ke 20 hingga menjadi ejaan yang disempurnakan (EYD) yang kita pakai sekarang ini.

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. 

Pada 28 Oktober 1928, beberapa perwakilan pemuda di Nusantara yang berkumpul dalam Kongres Pemuda Kedua untuk mencetuskan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak bersejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini menegaskan cita-cita akan "Tanah air Indonesia", "Bangsa Indonesia", dan "Bahasa Indonesia" yang akhirnya baru terwujud 17 tahun kemudian pada 17-08-45.

Setelah 87 tahun berselang, cita-cita ikrar tersebut telah menjadi identitas tak terbantahkan untuk negara yang telah merdeka selama 70 tahun ini. Kita sebagai bangsa Indonesia memiliki tumpah darah satu, yaitu tanah air Indonesia, dan berbahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.

Akan tetapi, ada suatu hal yang mungkin bikin penasaran, kenapa kok ejaan bahasa yang dituangkan pada Sumpah Pemuda 87 tahun yang lalu bebeda dengan ejaan yang kita gunakan sehari-hari sekarang? Sebagian dari kita mungkin dengan gampangnya berpikir bahwa bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang pertama kali disahkan pada momentum Sumpah Pemuda tersebut, tapi sekarang malah beda ejaannya. Apakah benar demikian? Dari mana sih asalnya ejaan yang tertuang di zaman Sumpah Pemuda? Bagaimana pula ceritanya bahasa persatuan kita bisa bertransformasi dari edjaan tempoe doeloe menjadi ejaan yang disempurnakan (EyD) yang dipakai dalam kehidupan Indonesia modern?

Nah, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, ZeniusBlog kali ini mau mengulik sejarah bahasa persatuan kita, khususnya tentang ejaannya. Siapa yang menyangka, ejaan sebagai bagian dari bahasa, ternyata bisa dijadikan alat politik untuk mengendalikan suatu kelompok masyarakat? Ya, ternyata penetapan standar ejaan yang mungkin terlihat sepele terkait erat dengan usaha sekelompok penguasa untuk melenggangkan pengaruhnya sehingga kadang menuai pro dan kontra. Siapa saja penguasa-penguasa di Indonesia yang turut andil dalam ejaan bahasa kita sehari-hari?

Baiklah, langsung saja kita masuk ke mesin waktu bahasa Indonesia.

ejaan

 

Pengenalan Ejaan

Salah satu sifat bahasa adalah berubah. Perubahan itu bisa karena pemakainya, baik karena kesepakatan atau keterbiasaan, bisa juga atas kemauan pemerintah, atau kebutuhan lainnnya. Salah satu yang bisa berubah dari bahasa adalah ejaan. Apa sih ejaan itu?

Ejaan merupakan kata turunan dari eja yang ditambahkan imbuhan –an. Kalau kita cek di Tesaurus Bahasa Indonesia, bikinan Eko Endarmoko, ejaan juga berarti pelafalan, pelafazan, pengucapan, penyuaraan, atau penyebutan suatu huruf atau kata.

Ya, intinya ejaan adalah bagaimana sih kita mengucapkan (secara lisan) sebuah kata. Ejaan sendiri diatur dalam kaidah berbahasa baku, termasuk di dalam bahasa Indonesia. Jadi, ejaan tidak hanya diatur dari segi cara pengucapan tapi juga cara menulis dan penggunaan tanda baca.

 

Asal Mula Ejaan Bahasa Indonesia Mengalami Standardisasi

Sebelum mempunyai tata bahasa baku dan resmi menggunakan aksara latin, bahasa Melayu (sebagai cikal-bakal Bahasa Indonesia) ditulis menggunakan aksara Jawi (arab gundul) selama beratus-ratus tahun lamanya. Lalu, sejak bangsa Eropa datang dan nangkring di Nusantara, barulah kita mengenal aksara latin. Ejaan latin yang dipakai untuk bahasa Melayu pun sudah berubah berkali-kali sesuai dengan kebijakan para penulis buku pada waktu itu. Ternyata Nusantara yang diduduki Belanda punya gaya ejaan yang berbeda dengan Semenanjung Melaya yang notabene dikolonisasi Inggris.

Hal ini pastinya bikin ruwet, bahasa sama tapi kaidah ejaan latin beda. Eh, ditambah dengan aksara Jawi yang asing di mata bangsa Eropa. Untuk mengatasinya, tahun 1897, seorang linguis Londo (sebutan orang Belanda) kelahiran Batavia, yang bernama A.A. Fokker mengusulkan agar ada penyeragaman ejaan di antara dua wilayah ini. Hingga akhirnya, van Ophuijsen (sistem orthografi) membakukan segalanya tentang Bahasa Melayu.

 

Prinsip-prinsip yang Mendasari Perubahan Ejaan dalam Bahasa Indonesia

Ejaan dalam konteks Bahasa Indonesia sendiri mengalami perubahan beberapa kali sejak seratus tahun ini. Motif yang mendasari perubahan ejaan itu umumnya karena alasan politik. Tapi, sebelum kita masuk ke cerita pengaruh-pengaruh politik apa saja yang memotori perubahan tersebut, ada baiknya kita perlu tahu dulu nih prinsip aja sih yang biasanya digunakan para ahli bahasa dalam melakukan perubahan ejaan. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Prinsip kehematan (efisiensi)

Bayangkan, kalau elo disuruh menulis kalimat ini menggunakan ejaan jadul (zaman doele): saya selalu galau jika memikirkannya. Jadinya seperti ini: saja selaloe galaoe djika memiirkannja. Lebih efisien kalau kita pakai ejaan yang sekarang, kan? Lagipula, ada beda antara pengucapan dan penulisan.

2. Prinsip keluwesan

Keluwesan berarti kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Pada contoh yang gue sebutin sebelumnya, keliatan kan, dengan ejaan zaman sekarang, kita lebih luwes menulis dan mengucapkannya.

 “Kalau begitu, huruf x bisa mewakili partikel –nya seperti yang digunakan bahasa alay akhir-akhir ini, dong?”- anak muda masa kini

meme-from-iphonetextgenerator

Ya, masuk akal. Tapi tidak bisa masuk ke dalam konteks bahasa baku kita. Kenapa tidak bisa? Coba bayangkan, nama tokoh kartun X-men atau merk fotokopi Xerox dibaca menjadi nya-emen atau nya-ero-nya. Jadi enggak universal, kan??

3. Prinsip kepraktisan

diakritikPrinsip kepraktisan ini terkait dengan penggunaan tanda diakritis. Apa tuh tanda diakritis? Itu lho, tanda di atas huruf yang biasanya dipake di negara-negara yang masih berbahasa tonal, kayak Mandarin, Jerman, Ceko, Vietnam, Islandia, atau Spanyol. Tanda diakritis tetap dipertahankan di negara-negara tersebut karena adanya perbedaan makna yang dikandung. Dulu, bahasa kita sempat menggunakan penanda diakritis lho, tetapi dihapuskan dengan alasan kepraktisan.

Nah, selanjutnya, kita akan lihat perjalanan ejaan dalam Bahasa Indonesia sejak bahasa Melayu dibakukan. Lalu, setelah berselang tiga puluh enam tahun, berganti (meskipun tidak banyak namun cukup signifikan) menjadi ejaan Republik, sebagai penanda Indonesia tidak lagi dibayang-bayangi Belanda (1947). Berikutnya, terdapat tiga ejaan yang kurang beken yang menjadi tahapan hingga ke Ejaan yang Disempurnakan (EyD), yaitu ejaan Pembaruan (1957), ejaan Melindo (1959) dan ejaan Baru (1966). Setelah melalui masa-masa kegalauan perencanaan bahasa di era Soekarno, masalah-masalah ini dirampungkan hingga akhirnya Soeharto meresmikan EyD pada perayaan kemerdekaan Indonesia, tahun 1972 lalu.

 

1. Ejaan van Ophuysen (1901-1947)

Charles Adrian van Ophuijsen (Ch. A. van Ophuysen) merupakan tokoh penting dalam tonggak bahasa Indonesia. Seperti yang udah gue sebutkan sebelumnya di atas, ejaan Ophuijsen lahir dari niat pemerintah kolonial Belanda untuk menengahi keberagaman variasi bahasa Melayu yang ada di Nusantara saat itu, sekaligus memudahkan Belanda menyebarkan kekuasaan di daerah kolonisasinya.

Faktor Pemicu Hadirnya Ejaan van Ophuysen

Dulu, bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal BI ditulis menggunakan huruf Jawi (Arab Melayu atau Arab gundul). Meskipun bahasa ini tetap hidup di masyarakat, para sarjana Belanda menilai bahasa Melayu tidak cocok menggunakan huruf Arab karena penulisan huruf vokal seperti e, i, o ditulis sama saja saat ingin menuliskan kata yang memiliki vocal a dan u. Bagi yang tinggal di daerah Riau dan pernah mendapatkan pelajaran Arab Melayu dari sekolahnya, mungkin ngerti nih dengan apa yang gue maksud. Sebagai ilustrasi, coba lihat deh contoh tulisan Arab Melayu (arab gundul) di bawah ini.

arab melayu

Sebenarnya sih bukan itu saja, salah satunya karena ancaman militansi umat Islam bagi kolonial Belanda membuat Belanda merasa perlu mengurangi pengaruh Islam-arab di Nusantara.

Faktor lain penetapan ejaan baku ini diresmikan Belanda karena pada saat itu pemerintah kolonial sedang menjalankan politik etisnya di Nusantara, yaitu sebuah kebijakan untuk membuka peluang pendidikan bagi kaum ningrat Nusantara. Masalahnya, jika bahasa Melayu tidak distandarkan, proses pendidikan ini akan terhambat. Coba bayangkan kalau tidak ada standar bahasa, pasti susah kan melakukan proses belajar-mengajar?

Dalam karirnya sebagai inspektur pendidikan ulayat (kaum bumiputera, saat itu), van Ophuijsen telah membuat Kitab Logat Melayu: Woordenlijst voor de spelling der Malaisch taal met Latijnch karakter (Perbendaharaan Kosakata: daftar kata untuk ejaan bahasa Melayu dalam huruf Latin) yang diterbitkan di Batavia 1901 dan berisi 10.130 kata-kata Melayu dalam ejaan baru, dengan prinsip ejaan bahasa Belanda. Kitab ini merupakan upaya Belanda dalam membuat standar bahasa saat mereka bercokol di Nusantara. Yah, namanya berbasis alasan kolonial, tentu ini dibuat agar bisa meluaskan kekuasaan mereka sekaligus dapat menyatukan Nusantara di bawah kendalinya. Belanda menerapkan bahasa ini mulai dari sekolah-sekolah bumiputera. Oleh karena itu, bahasa Melayu Ophuijsen ini sering disebut “bahasa Melayu sekolahan”. Tidak berhenti di situ, sejak penerbit Balai Poestaka (sekarang: Balai Pustaka) didirikan Belanda, bahasa ini semakin menancap di kaum terdidik Nusantara. Ya, artinya Belanda melalui pemerintah kolonialnya berhasil melakukan politik bahasa dengan menjadikan bahasa (Melayu) Indonesia sebagai standar bahasa kita, yang bahkan masih berlaku hingga saat ini.

Pernah terpikir enggak sih, bagaimana bisa seorang Belanda totok macam van Ophuijsen bisa menulis kitab bahasa Melayu yang demikian kompleks? Ternyata eyang buyut Ophuijsenini lahir di Solok, Sumatera Barat, tempat digunakannya bahasa Melayu dengan masif. Selain memang suka mempelajari bahasa-bahasa di Nusantara, kehidupan masa kecil van Ophuijsen yang lahir di tanah Minangkabau ini memudahkannya membuat standar yang menjadi cikal-bakal Bahasa Indonesia yang kita pakai hingga saat ini. Enggak heran juga, akhirnya dia diangkat menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda.

Ciri-Ciri Ejaan van Ophuysen

Dalam merumuskan buku tersebut (1896), van Ophuijsen dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Pedoman tata bahasa ini selanjutnya dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen dan diakui pemerintah kolonial tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

  1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
  2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jangsajawajang, dsb.
  3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloeakoeSoekarni, repoeblik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.
  4. Tandadiakritis, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moerjum’at, ta’(dieja tak), pa’, (dieja pak), dsb.
  5. Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya, dsb.
  6. Huruh ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloe’, dsb.

Ternyata, jauh sebelum menerbitkan Kitab Logat Bahasa Melayu, lelaki yang lahir tahun 1856 dan meninggal tahun 1917 ini sudah membuat dua buku bahasa lain: Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Selintas Kehidupan Kekeluargaan Suku Batak) tahun 1879 dan Maleische Spraakkunst (Tata Bahasa Melayu) tahun 1910. Buku Tata Bahasa Melayu inilah yang akhirnya menjadi pedoman dalam berbahasa Melayu di Indonesia setelah diterjemahkan oleh T.W. Kamil dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kecakapannya di bidang bahasa membuat pemerintah kolonial menugaskannya untuk merumuskan tata bahasa Melayu baku. Maka mulailah Ophuysen berjalan menyusuri Sumatera hingga Semenanjung Malaya untuk meneliti bentuk murni dari bahasa melayu hingga terpilihlah bahasa melayu Riau sebagai patokan standardisasi.

Pro-Kontra Ejaan van Ophuysen

Layaknya pro dan kontra, ada yang sepakat dan menolak, hal itu terjadi pada karya Ophuijsen ini. Meskipun jasa Opuijsen ini begitu besar, ada juga yang menudingnya sebagai arsitek yang telah menggusur varian bahasa Melayu lain. Joss Wibisono, sejarawan, menyalahkan Ophuijsen sebagai pihak yang menjadikan derajat bahasa Melayu Riau (Riouw Maleisch) lebih tinggi daripada Melayu pasar (laag Maleis) yang memang digunakan secara meluas oleh khalayak di Nusantara dulu. Bagi Joss, Melayu Riau itu mitos, dan hanya ditemui di karya sastra (yang nanti setelah dibakukan oleh Belanda kemudian disebarluaskan melalui novel-novel terbitan Balai Pustaka).

Meski ejaan Ophuysen sudah dihilangkan oleh pemerintah dulu, tetapi ejaan ini nyatanya tidak benar-benar hilang. Tengok saja merek dagang: Bakoel Koffie (http://www.bakoelkoffie.com/) yang ingin memunculkan kembali suasana tempo doeloe. Selain itu, Eka Kurniawan, seorang sastrawan muda, pernah menelurkan kompilasi cerpen berjudul Cinta Tak Ada Mati (2005), dengan memakai ejaan Ophuysen di salah satu cerpennya: Pengakoean Seorang Pemadat Indis. Eka beralasan ingin tampil orisinal dengan ejaan ini dan berniat menggugah generasi muda pada ejaan lama agar tidak enggan membaca tulisan-tulisan jadul.

 

2. Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) – 1947-1972

soewandi
Raden Soewandi

Ejaan ini disebut sebagai Ejaan Soewandi karena diresmikan tanggal 17 Maret 1947 oleh Menteri, Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan saat itu, yaitu Raden Soeawandi, menggantikan ejaan Ophuijsen. Sebenarnya nama resminya adalah ejaan Republik, namun lebih dikenal dengan ejaan Soewandi.

Faktor Pemicu Hadirnya Ejaan Soewandi

Menteri yang sebenarnya ahli hukum dan merupakan notaris pertama bumiputera ini punya alasan mencanangkan ejaan ini. Faktor kebangsaan Indonesia yang sudah merdeka dan ingin mengikis citra Belanda yang diwakili oleh ejaan Ophuijsen membuat pentingnya adanya perubahan ejaan di bahasa kita. Apalagi, saat itu Londo sedang sirik-siriknya melihat pencapaian kemerdekaan mantan negara jajahannya ini hingga datang lagi ke Indonesia dengan memboncengi sekutu (tahun 1947). Semakin jelek deh impresi Belanda yang terwakilkan dalam ejaan Ophuijsen.

Ciri-ciri Ejaan Soewandi

1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata duluakuSukarni, republik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.

Ternyata yah, perubahan ejaan ini mendapat pertentangan dari orang-orang yang namanya menggunakan ejaan oe. Sebagian tetap mempertahankan menggunakan ejaan Ophuijsen untuk nama mereka meskipun ejaan Republik sudah diberlakukan. Mungkin salah satu orangnya adalah Mr. Soewandi sendiri 🙂 Belakangan, varian penulisan nama dua mantan presiden kita, Soeharto (Suharto) dan Soekarno (Sukarno), membuat salah satu komponen ejaan Ophuijsen dimaklumkan untuk dimunculkan kembali (lihat dua gambar di bawah).

sukarno

 

suharto

Duo contoh di atas membuktikan bahwa nama orang yang mestinya tetap (enggak berubah), ternyata bisa juga berubah disesuaikan dengan ejaan yang sudah lazim.

  1. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, pada kata-kata makmur, takpak, atau hamzahnya dihilangkan menjadi kira-kira, apa elo masih menulis jum’at alih-alih jumat?
  2. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada mobil2ber-jalan2ke-barat2-an. Jadi terjawab deh kenapa sampai saat ini kita masih sering menuliskan angka 2 sebagai perwakilan kata ulang. Tapi sayang, kalau konteks bahasa baku, hal ini sudah kedaluarsa.
  3. Awalan di- dan kata depan di keduanya ditulis serangkai dengan kata yang menyertainya. Alhasil, penulisan disekolah atau dijalan disamakan dengan dijual atau diminum. Nah, penulisan di- sebagai awalan dan kata depan selalu menjadi momok dalam tutur lisan maupun tulisan. Saat mestinya digabung, dijalankan menjadi di jalankan. Sebaliknya, di mana menjadi dimana.
  4. Penghapusan tanda diakritis atau pembeda antara huruf vokal tengah / yang disebut schwa oleh para linguis atau e ‘pepet’ disamakan dengan e ‘taling’. Gue pribadi agak keberatan dengan penghapusan ini. Akibatnya, karena dialek bahasa Indonesia kita sangat beragam dan dipengaruhi bahasa daerah masing-masing, jadi mestinya kita bisa maklum jika ada orang Ambon/Papua yang kesulitan mengeja Tebet (konsensusnya Tbt) tetapi malah dieja Tebet (seperti mengeja bebek). Atau misalnya, komputer yang bagi orang Batak dieja sebagai komputer (seperti mengeja e pada kemah) alih-alih komputer (seperti mengeja e pada terbang). Namun begitu, ada juga pendapat bahwa hal ini baik karena menuliskan tanda diakritis tidaklah praktis.

 

3. Ejaan Pembaharuan (1957)

Faktor Pemicu Hadirnya Ejaan Pembaharuan

Ejaan ini bermula dari polemik yang terjadi pada Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Medan tahun 1954. Kongres kedua ini akhirnya diadakan setelah pertama kali diadakan di Solo tahun 1938. Yamin selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dan pemrakarsa Kongres Bahasa Indonesia ke-2 mengatakan bahwa kongres ini merupakan bentuk rasa prihatinnya akan kondisi bahasa Indonesia saat itu yang masih belum mapan. Medan pun dipilih karena di kota itulah bahasa Indonesia dipakai dan terpelihara, baik dalam rumah tangga ataupun dalam masyarakat, setidaknya itu alasan Yamin. Di kongres ini, memang diusulkan banyak hal dan salah satunya adalah perubahan ejaan. Usulan ini ditindaklanjuti oleh pemerintah waktu itu dengan membentuk panitia pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia.

Ciri-ciri Ejaan Pembaharuan

Panitia ini diharapkan bisa membuat standar satu fonem dengan satu huruf (misalnya menyanyi: menjanji menjadi meñañi; atau mengalah: mengalah menjadi meɳalah). Penyederhanaan ini sesuai dengan iktikad agar dibuat ejaan yang praktis saat dipakai dalam keseharian. Selain itu, isu tanda diakritis diputuskan agar kembali digunakan. Walhasil, k-e-ndaraan dengan é (seperti elo mengeja k-e-lainan) yang tadinya ditulis sama dengan k-e-mah, akhirnya ditulis berbeda. Untuk kata sjarat (syarat) dibedakan menjadi śarat.

Kalau enggak hati-hati, bisa saja nyaru antara sarat (penuh/termuat) dengan syarat. Sedangkan huruf j yang digunakan pada kata jang (yang) malah sudah disepakai ditulis menjadi yang (seperti kita pakai sekarang). Kata mengapa pun akan dieja menjadi meɳapa. Untuk kata-kata berdiftong ai, au, dan oi seperti sungai, kerbau, dan koboiakan dieja dengan sungay, kerbaw, dan koboy.

Prof. Priyono
Prof. Priyono

Ejaan Pembaharuan ini dibuat dengan maksud menyempurnakan Ejaan Soewandi dan juga disebut dengan Ejaan Prijono-Katoppo. Meskipun salah satu putusan kongres menyatakan supaya ejaan itu ditetapkan undang-undang, ejaan ini urung diresmikan. Meskipun demikian, ejaan ini disinyalir menjadi pemantik awal diberlakukannya EyD tahun 1972.

 

4. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Sejak Kongres bahasa tahun 1954 di Medan dan dihadiri oleh delegasi Malaysia, maka mulailah ada keinginan di antara dua penutur Bahasa Melayu ini untuk menyatukan ejaan. Keinginan ini semakin kuat sejak Malaysia merdeka tahun 1957 dan kita pun menandatangani kesepakatan untuk membicarakan ejaan bersama tahun 1959-nya. Sayangnya, karena situasi politik kita yang sedang memanas (Indonesia sedang condong ke poros Moskow-Peking-Pyongyang, sedangkan Malaysia yang Inggris banget), akhirnya ditangguhkan dulu pembahasannya. Hal lain yang membuat ejaan ini kurang seksi adalah perubahan huruf-huruf yang dianggap aneh. Misalnya, kata "menyapu" akan ditulis "meɳapu"; "syair" ditulis "Ŝyair"; "ngopi" menjadi "ɳopi"; atau "koboi" ditulis "koboy". Mungkin aneh karena belum biasa dan harus menyesuaikan diri lagi. Tapi, akhirnya, usulan yang mustahil dilaksanakan ini dengan cepat ditinggalkan.

 

5. Ejaan Baru atau Ejaan LBK

Sebelum adanya EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang bernama Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan ini, sebenarnya estafet dari ikhtiar yang sudah dirintis oleh panitia Ejaan Melindo. Anggota pelaksananya pun terdiri dari panitia ejaan dari Malaysia. Pada intinya, hampir tidak ada perbedaan berarti di antara ejaan LBK dengan EYD, kecuali pada rincian kaidah-kaidah saja.

 

6. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

facepalm

Nah, sekarang, kita bahas ejaan yang paling populer se-Indonesia: EyD! Anak sekolahan mana yang enggak kenal “makhluk” ini? Mahasiswa mana yang belum pernah ditegur oleh dosennya karena makalahnya tidak sesuai EyD? Kapan sih ejaan yang selalu jadi acuan para guru bahasa Indonesia elo ini muncul? Ejaan ini diresmikan sejak 16 Agustus 1972 oleh Presiden Soeharto. Sejak itulah, muncul perubahan signifikan pada ejaan kita hingga saat ini. Bayangkan, semua kop surat+amplop, kartu nama, papan jalan, papan nama kantor dan toko, mulai dari Sabang sampai Merauke diganti dan menyesuaikan diri.

Lalu kenapa sih ejaan kita berganti lagi? Kenapa enggak pake ejaan sebelumnya saja. Kan bisa menghemat, tak perlu gonta-ganti. Sebenarnya perjalanan menuju EyD ini relatif panjang. Dimulai dari era Soekarno masih presiden (1954), lalu sempat sudah ada perubahan melalui Ejaan Pembaharuan (1957), dilanjutkan dengan Ejaan Melindo (1959) yang akhirnya batal lagi karena Soekarno menyerukan Ganyang Malaysia!. Kondisi terkatung-katung itu lagi-lagi mandek karena peristiwa kudeta 30 September 1965. Kondisi ekonomi kita parah, politik dan keamanan yang buruk. Tentu maklum kalau urusan bahasa menjadi ditangguhkan dulu. Mulai Mei 1966, urusan ejaan dibuka kembali dan kepanitiaan diketuai oleh pendekar bahasa Indonesia, Anton Moeliono.

Meskipun ejaan ini rampung setahun sesudahnya, dan telah dirundingkan dengan Malaysia (karena sejak 1959 memang kita sudah bersepakat buat menyamakan ejaan), tapi lagi-lagi ejaan ini urung diluncurkan. Ejaan ini mendapatkan kritik karena isu politis, alih-alih linguistis. Namun, setelah Mendikbud kala itu mengeluarkan SK tahun 1972 barulah ejaan ini dapat melenggangkan diri ke permukaan. Di negeri jiran sendiri, namanya bukan EYD tapi ERB (Ejaan Rumi Baru Bahasa Malaysia/ New Roman Spelling of Malaysian).

Ciri-ciri EYD

Jadi, apa saja perubahan sejak EYD? Versi lengkap elo bisa unduh dari sini:

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

Kalau ada waktu untuk baca, lebih bagus dibaca. Hitung-hitung nyicil sebelum menjadi mahasiswa nanti (kalau mahasiswa, semoga enggak terbentur dengan persoalan EYD dengan sang dosen tercinta).

Jadi, kalau biasanya Djajalah Indonesia!, maka sesuai EYD diubah menjadi Jayalah Indonesia!. Perubahan ejaan dj menjadi j pun tak terhindarkan. Kalau dalam teks proklamasi 1945 dulu masih tertulis “Djakarta, hari 17……”, maka diubah menjadi “Jakarta, hari 17…..”. Untuk sebagian orang tetap mengeja namanya jika mengandung ejaan dj. Misalnya, Djojobojo alih-alih Joyoboyo; Selain itu, ejaan nj juga diubah menjadi ny, sehingga penulisan njonja menjadi nyonya; Hal ini juga berlaku untuk ejaan kata ch dan menyesuaikan diri menjadi kh. Kalau dulu achirnya, sekarang menjadi akhirnya.

Pro-Kontra EYD

Pemberlakuan EyD bukan tanpa kritik, lho. Bagi pengritik zaman Orba, EyD dianggap sebagai produk Soeharto yang “sukses” mengatur cara pikir masyarakatnya. Kok bisa? Jadi, ketika aturan berbahasa sudah seragam dan terstandar, pemerintah akan mudah mengatur masyarakatnya. Itulah yang menyebabkan indonesianis, Bennedict Anderson, yang sangat anti-Soeharto menjadi oposisi EYD.

Salah satu bentuk perlawanannya, ia tuangkan melalui tulisan bergaya ejaan Suwandi. Menurutnya, pemberlakuan EYD adalah bentuk ketakutan Soeharto terhadap pengaruh Soekarno kala itu. Memang, sejak Soeharto berkuasa, ada kecenderungan segala bentuk ke-Soekarno-an dihilangkan. Ada juga sebagian pengamat sejarah politik yang menduga, bahwa dengan membiasakan masyarakat Indonesia baca-tulis dengan ejaan yang baru tanpa dj, tj, cha atau nj akan membuat masyarakat malas membaca tulisan-tulisan era sebelum Orde Baru.

Rangkuman Sejarah Perubahan Ejaan Bahasa Indonesia

Di bawah ini, rangkuman bagaimana sejarah ejaan di Indonesia mulai dari edjaan tempo doeloe hingga EYD yang tidak asing di kuping kita:

Van Ophuysen (1901) Soewandi (1947) Pembaruan (1957) Melindo (1959) Ejaan Baru (1966) Ejaan yang Disempurnakan (1972)
j J y y y y
dj dj j j j j
nj nj ñ ɳ ny ny
sj - ś Ŝ sy sy
tj tj - c c c
ch - - - kh kh
ng ng ɳ ɳ ng ng
z - z z z z
F - F F F f
- - V V V v
é e é é e e
e e e e e e
oe u u u u u
ai ai ay ay ai ai
au au aw aw au au
oi oi oy oy oi oi
Ejaan di Indonesia dari waktu ke waktu (Harimurdi Kridalaksana & Hermina Sutami, 2007)

****

Memang tidak dapat dimungkiri, standardisasi bahasa erat kaitannya dengan politik bahasa. Namun, dalam melakukan standardisasi, tetap dibutuhkan perencanaan bahasa untuk mengakomodasi kebutuhan bahasa saat itu. Jika ini tidak diterapkan, maka akan terjadi kekacauan bahasa (karena tidak ada standar utama untuk mudah dipelajari dan dikembangkan). Perencanaan bahasa pun jamak dilakukan di negara manapun. Tak terkecuali Belanda sekalipun, mereka punya undang-undang ejaan (Spellingwet) dan diejawantahkan ke dalam Buku Hijau (het Groene Boekje).

Apakah EYD abadi atau masih bisa berubah? Bisa saja berubah tergantung apa yang diinginkan pemerintah atau dibutuhkan masyarakat bahasa kita nanti. Tetapi, sebuah perencanaan bahasa yang baik, pastinya akan bisa digunakan dalam rentang waktu yang lama. Proses panjang dari tahun 1954 menuju 1972 adalah waktu yang tidak sedikit dan melibatkan para sarjana bahasa yang trengginas untuk membuat perencanaan bahasa Indonesia. Buktinya? Sejak ejaan terakhir diresmikan 43 tahun yang lalu, ini masih dipakai dengan (relatif) baik oleh penuturnya. Artinya, EYD sudah terbilang mapan. Perencanaan bahasa pun tidak melulu tentang ejaan saja, persoalan tata bahasa juga termasuk. Mungkin ini yang perlu diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Rujukan bacaan

http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/242/Charles-Adriaan-van-Ophuysen
https://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/07/05/dari-mana-datangnya-tuan/

Pesona Bahasa

https://books.google.co.id/books?id=8rt2JikaPCoC&pg=PA86&lpg=PA86&dq=ejaan+pembaharuan&source=bl&ots=cemvTm2eOH&sig=0TAQtg1v1s6BD5npq00Z9oeRPug&hl=id&sa=X&ved=0CE8Q6AEwCGoVChMIlPiV_7eWyAIVDHCOCh1Jbgo0#v=onepage&q=ejaan%20pembaharuan&f=false

Sumber Gambar Diakritis:

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://cdn.ilovetypography.com/img/diacritical-marks1.gif&imgrefurl=http://ilovetypography.com/2008/04/25/extreme-type-terminology-part-4/&h=262&w=500&tbnid=knqyBCiqSdJABM:&docid=LHviU-kiu2KdaM&ei=P

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Fajar tentang sejarah ejaan Bahasa Indonesia, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini. Kalo kamu tertarik dengan Bahasa Indonesia dan dunia linguistik secara luas, zenius sangat merekomendasikan beberapa artikel di bawah ini:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

  • cazador

    pedoman umumnya EYDnya gak bisa diakses tuh bos,ada link alternatifnya gak?

  • Surya Putera

    Ka tolong kasih contoh dong gimana sih dulu bahasa melayu kuno sblm ejaan van ophuysen? yg masih pake bhs jawi gitu... pnasaran nih 😛

    • Fanny Rofalina

      Hai Surya, kebetulan gue dulu smp-sma di Pekanbaru, Riau dan dapat pelajaran Arab Melayu dari sekolah. Jadi gue lumayan masih inget gimana caranya nulis pake aksara melayu gundul. Ini contohnya.
      Gambarnya juga udah gue update di artikel di atas ya. Thnak you masukannya.

      • Fajar Erikha

        Fanny, makasih udh bantu kasih contoh yah 🙂

  • Neki Reilena

    Kak, punya link buat kata serapan asing2 gitu ga yang sering keluar di TPA gituuu ???

  • sooyoungssi

    kak gimana sih cara yang enak buat belajar linguistik, apalagi soal fonetik fonologi? aku masih maba dan masih ga ngerti sampe skrg padahal uts DDL udah lewat 🙁

  • Neki Reilena

    kak, mau nanya nih, katanya sabda ada kumpulan kata2 yg sering muncul di tes tes gitu ama root words nyaa, itu dimana ya download nya??? katanya bisa didownload, makasih sebelumnya

    • Fajar Erikha

      Hahaha msh proses itu. Sabar yaa Neki 🙂

      • Neki Reilena

        kak, yang bahasa indo (teori) bagian tata kalimat, dll itu kalo mau bljr lebih lanjut di buku apa ya??

        walopun udah dengerin video materinya sih, tpi pengen bljr lbh lengkap hahaha

        • Fajar Erikha

          Ada bbrp bukunya, @nekireilena:disqus, versi buku ataupun ebook. Kamu mau?maaf baru balas.

          • Neki Reilena

            ebook nya aja kak

          • Fajar Erikha

            minta alamat emailnya yah, nanti sy kirim @nekireilena:disqus

          • Neki Reilena

            nekireilena98@gmail.com
            makasih kak hihi 🙂

          • Fajar Erikha

            udah sy kirim yah. Monggo dicek 😀

          • Neki Reilena

            sipp, makasih kak

  • Bayu

    Klo nulis di buku iya pake EyD (Ejaan yang Disempurnakan ) biar jadi kebiasaan
    Klo dah ngetik di forum chit chat buat ngediscuss gini enaknya pake EyD (Ejaan yang Digaulkan) biar kekinian hahaha

    • Fajar Erikha

      Hehehe monggo aja. Btw istilah EyD versi @disqus_lP6lzffDLQ:disqus boleh juga dipopulerin tuh.

      • Neki Reilena

        kak, punya kumpulan kata yang susah dan asing gitu ga?? yg sering keluar atau dipakek koran2 atau yg sering keluar di soal tkpa?

  • Bayu Gunawan

    Matur nuwun mas e. Artikelnya SANGAT BERGUNA untuk tambahan bahan mengajar

  • Tarmizi Bustamam

    Saya sebagai orang Minang generasi lama setuju sekali dengan disempurnakannya dan disatukannya ejaan bahasa Indonesia dan Malaysia. Namun saya sangat menyayangkan dihilangkannya tanda pembeda e-pepet dan e-taling. Akibatnya sangat fatal bagi orang Minang yang mana dari pemantauan saya sebagian besar orang Minang generasi yang mulai bersekolah sesudah tahun 1972 rata-rata semua "e" mereka ucapkan menjadi "e" taling. Cobalah dengar Radio RRI Padang atau Bukittinggi ucapan bahasa Indonesia mereka sangat menyedihkan. Berbeda dengan penyiar RRI di Jawa Tengah dan Timur ucapan bahasa Indonesia bagus-bagus dan sama sekali tidak medok Jawa.