Penalaran Sejarah: Asal-Usul Konsep Uang

Bagaimana manusia menciptakan konsep uang? Mengapa bentuk fisik uang di berbagai peradaban bisa berbeda-beda? Mengapa uang menjadi alat tukar yang mendunia? Semua dijelaskan di sini.

Uang memang memiliki peran yang sangat besar dalam hampir semua aspek kehidupan manusia, terutama pada peradaban dunia modern. Rasanya tidak terlalu berlebihan kalo gua bilang, uang memiliki kekuatan lebih dari sekadar alat tukar nilai. Dalam bermasyarakat, uang seringkali menjadi indikator status sosial, kekuasaan, dan juga simbol dari kekayaan. Itulah sebabnya manusia berlomba-lomba mencari uang sebanyak-banyaknya dan bermimpi untuk mencapai kebebasan finansial. Uang menjadi sedemikian besar kekuatannya, hingga merasuk menjadi sebuah tujuan hidup manusia yang tidak jarang ditanamkan sejak dini pada pelajar. Bagi lo yang sekarang masih berstatus pelajar, mungkin gak asing lagi mendengar kalimat seperti ini dari orangtua / keluarga:

“Ayo belajar yang bener! kamu ini disekolahin tinggi supaya nanti gampang mencari uang” – Mama

Uang lagi, uang lagi… Dari sumber motivasi, menjadi sumber petaka, dari sumber keserakahan, sampai sumber harapan akan kehidupan yang lebih baik. Terlepas dari atribut negatif maupun positif dari uang, pernah gak sih lo berpikir sejak kapan konsep uang ini dikenal oleh peradaban manusia? Sejak kapan manusia menjadi begitu bergantung dengan uang? Apa yang melatarbelakangi konsep uang ini, sampai tiba-tiba saja (hampir) semua orang di dunia bersepakat menerapkan konsep uang? Jangan-jangan kehidupan manusia bisa jadi lebih baik tanpa mengenal uang? Apakah ada alternatif konsep lain selain uang untuk menjembatani transaksi nilai ekonomi?

Nah, dalam artikel Zenius Blog kali ini, gua akan mengupas latar belakang / asal-usul konsep uang dalam sejarah peradaban manusia.. yang pastinya gak cuma gua bahas dari disiplin ilmu ekonomi doang, tapi juga dari sudut pandang sejarah, antropologi, sosiologi, dan geografi. Jadi bagi lo semua yang ngakunya sebagai anak IPS sejati, atau lo yang mau / lagi kuliah di fakultas ekonomi, atau lo yang simply penasaran tentang sejarah salah satu poros ‘kekuatan’ terbesar dunia ini, wajib banget deh untuk baca artikel ini sampai habis. Yuk, kita mulai pembahasannya!

 

Peran Revolusi Kognisi Dalam Pembentukan Gagasan Transaksi Nilai

Jauh sebelum manusia memahami konsep uang, kita akan mundur agak jauh pada periode yang disebut hunter & gatherer (70.000 – 12.000 tahun yang lalu). Dalam periode ini, manusia gak kenal sama yang namanya uang. Setiap kelompok manusia berupaya memenuhi semua kebutuhan dasarnya dengan cara berburu (hunting) dan mengumpulkan hasil alam (gathering). Hasil buruan & mengumpulkan hasil alam itu digunakan sebagai bahan makanan, pakaian, senjata, tanaman obat, bahan membuat rumah, dan sebagainya. Selama puluhan ribu tahun, manusia menjalani kehidupan secara berkelompok seperti ini… hingga lambat-laun otak manusia mengalami perkembangan yang membuat manusia berbeda dengan binatang lain. Proses ini dinamakan revolusi kognisi.

Jika kita bertanya apa yang membedakan manusia modern (Homo sapiens) dengan binatang atau manusia purba yang lain? Biasanya jawaban yang kita dapatkan itu agak klise: ‘manusia memiliki akal budi dan pikiran, binatang gak punya’. Tapi kalo coba gali lagi secara definitif, kita perlu memberi batasan yang jelas, maksudnya ‘akal budi dan pikiran’ itu apa? Seorang profesor sejarah, Yuval Harari, menurut gua memberikan definisi yang tepat, dia berpendapat bahwa yang membedakan manusia dengan binatang yang lain adalah kemampuan manusia untuk bisa berimajinasi.

 

Illustrasi kehidupan hunter and gatherer

 

Yak, itulah definisi yang cukup tepat membedakan manusia dari binatang lainnya, manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang bisa berimajinasi dan berkomunikasi tentang suatu gagasan abstrak di luar realita konkrit. Kebanyakan mamalia sebetulnya mampu berkomunikasi satu sama lain, tapi komunikasi yang terjadi pada binatang (selain manusia), hanya sebatas informasi yang konkrit . Sementara manusia memiliki kemampuan berkomunikasi berdasarkan imajinasi. Kalo lo masih bingung apa itu bentuk komunikasi konkrit, lo bisa bayangin simpanse komunikasi seperti ini:

  • “Awas, ada macan!”
  • “Di situ ada banyak makanan lho.”
  • “Gue laper nih…”

Bedakan dengan komunikasi yang didasari oleh imajinasi abstrak (bold):

  • “Mulai hari ini, si anu adalah pemimpin kelompok ini.”
  • “Kita coba bagi tugas yuk, gua berburu, elo yang masak.”
  • “Kelompok kita sedang berperang melawan kelompok itu”

Konsep “pemimpin dan bawahan” adalah hal yang muncul dari imajinasi abstrak di luar realita, sebagaimana juga konsep “bagi tugas” tidak bisa dinyatakan secara konkrit. Pada intinya, kemampuan yang tinggi pada manusia untuk berpikir abstrak meningkatkan kemampuan interaksi antar individu secara kompleks. Para ahli antropologi dan sejarah percaya bahwa kemampuan manusia untuk bisa berpikir abstrak inilah yang menyebabkan manusia sanggup untuk menciptakan imajinasi dan melahirkan gagasan kolektif, contohnya seperti konsep hirarki kekuasaan, ideologi politik, perkembangan budaya, konsep negara, koalisi kelompok, dan yang paling sukses dari semuanya adalah KONSEP UANG.

Di artikel ini, kita tidak bisa membahas terlalu detail tentang revolusi kognisi, tapi pada intinya… perkembangan cara berpikir manusia ini, memungkinkan manusia untuk memahami konsep pertukaran nilai ekonomi yang paling kuno yaitu sistem BARTER.

 

Lahirnya Sistem Barter dan Kelemahannya

Cara barter atau bertukar barang, merupakan sistem pertukaran nilai ekonomi yang paling kuno hasil gagasan abstrak buatan imajinasi manusia. Sistem barter telah diterapkan selama ribuan tahun dalam periode hunter and gatherer (70.000 – 12.000 tahun lalu) sampai periode revolusi agrikultur (12.000 – 5.000 tahun lalu). Kemungkinan besar, setiap kelompok manusia di berbagai belahan dunia, menciptakan gagasan pertukaran barang ini secara intuitif sebagai bentuk interaksi sosial dan kepraktisan dalam pemenuhan kebutuhan. Itulah sebabnya, para ilmuwan cukup sulit untuk ditelusuri sejarah perkembangan awal dari sistem barter ini.

Konsep barter ini cara kerjanya cukup simpel, praktis, dan mudah. Lo punya daging, gua punya tanaman obat. Ya udah tinggal tukeran aja daging dengan tanaman obat. Segala hal ditentukan berdasarkan negosiasi dan kesepakatan bersama. Simpel kan? Tapi kenapa manusia sepertinya kurang puas dengan gagasan barter ini? Mengapa manusia perlu beralih dari sistem barter menjadi sistem uang? Apa yang memicu hal tersebut dan mengapa bentuk solusinya haruslah bentuk uang?

barterSistem barter yang awalnya terkesan praktis ini, sebetulnya memiliki banyak kelemahan, terutama jika masyarakat dalam sebuah kelompok semakin besar jumlahnya dan masing-masing sudah memiliki spesialisasi tersendiri. Sekarang coba lo bayangin diri lo adalah pemburu yang hidup 7.000 tahun yang lalu. Sebagai pemburu, tentu lo membuat hasil buruan lo itu sebagai bahan barteran, seperti daging hewan, kulit, tanduk, dan lain-lain. . Apapun lo akan coba tuker dengan hasil buruan, dari mulai gandum, garam, tanaman obat, dan lain-lain. Tapi masalahnya akan muncul ketika :

  • Gak semua orang lagi membutuhkan hasil buruan lo
  • Banyak pemburu lain yang bikin standar kualitas hewan buruan jadi beragam

Kalo misalnya lo mau nuker daging banteng hasil buruan lo dengan (katakanlah) sekarung gandum, eh pas mau barter rupanya petani gandum itu ternyata gak suka makan daging banteng! Nah lho, gimana tuh? Malahan, si petani ini justru bilang kalo dia lagi butuh potongan kayu. Nah, sekarang masalahnya jadi ribet, karena lo harus kerepotan nyari seorang pengumpul kayu yang mau barteran sama daging banteng supaya lo bisa dapetin gandum. Nah ribet kan!? Itulah kelemahan pertama dari sistem barter.

Selain itu, perbedaan standard kualitas dari barang yang sama juga menjadi kelemahan dari sistem barter. Karena tentu petani yang menghasilkan kualitas gandum yang bagus, gak mau disamakan dengan petani dengan kualitas beras yang jelek. Di situlah muncul masalah pertama dalam dunia ekonomi, yaitu fluktuasi barter-rate yang berbeda-beda antar kelompok masyarakat, tergantung dengan persepsi masyarakat terhadap kualitas produk yang dimiliki masing-masing pihak.

Lo bayangin aja segimana ribetnya bertransaksi kalo fluktuasi barter-rate naik-turun berdasarkan perbandingan persepsi dan selera masyarakat  yang beragam antar produk yang serupa. Kemarin 1 karung beras petani A = 1 ekor ayam peternak B. Besok ternyata 1 karung beras petani C = 2 ekor ayam peternak B, lusa 2 karung beras petani A = 1 ekor ayam peternak D. Bingung kan lo?

Beberapa kelompok masyarakat mencoba mencari solusi dari permasalahan ekonomi pertama di dunia ini dengan membuat “PASAR” yaitu suatu tempat barter yang terpusat pada satu tempat. Dengan terpusat pada satu tempat, diharapkan perbandingan nilai antar produk yang sama bisa diredam. Tapi ternyata hal ini belum cukup meredam ketimpangan barter-rate antar kelompok yang terpisah.

Ada juga membuat gagasan untuk membuat penampungan semua jenis produk, untuk kemudian dikelola dan didistribusikan kepada pihak yang membutuhkan. Gagasan ini sempat ingin diterapkan lagi pada jaman modern, contoh yang paling dikenal adalah percobaan sistem ekonomi oleh Uni Soviet.

Gagasan Uni-Soviet intinya seperti ini:

“Pokoknya masyarakat silakan berkarya dan produktif sesuai dengan kemampuannya masing-masing, nanti hasil produksinya negara yang akan tampung. Dari hasil penampungan tersebut, negara akan mengelola dan mendistribusikan kembali pada setiap masyarakat dengan porsi yang adil dan merata.”

Gagasan yang mengusung kesetaraan dan keadilan ekonomi ini tentu diharapkan bisa menjadi solusi dari masalah sistem barter, tapi kenyataannya sistem pengelolaan sumber daya yang terpusat ini tidak mampu bertahan lama. Alasannya karena dengan sistem ini, kualitas produk semakin lama semakin turun, tidak ada daya saing, semua pihak jadinya bekerja dengan asal-asalan saja. Toh seburuk apapun produk yang kita buat, akan ada sistem barter terpusat (negara) yang mau menampung produk kita. Perubahan kondisi psikologi industri ini juga jadi membuka masalah baru, yaitu perdagangan gelap dimana-mana yang semakin mengacaukan kesetimbangan ekonomi.

Itulah kira-kira gambaran kenapa sistem barter tidak mampu bertahan dalam peradaban. Bentuk transaksi yang selalu didasari negosiasi harga yang fluktuatif ternyata kurang efektif ketika sekelompok besar manusia berupaya untuk hidup bersama dalam satu sistem kemasyarakatan.

 

Gagasan Awal Konsep Uang

Masalah pertama dalam ekonomi ini akhirnya menemukan titik terang ketika munculnya gagasan untuk menjadikan salah satu komoditi sebagai standard nilai tukar yang ‘universal’ atau berlaku secara umum (setidaknya untuk cakupan geografis tertentu). Gagasan ini menjadi dasar cikal bakal terbentuknya konsep uang dalam peradaban manusia.

Dalam perjalanan peradaban manusia, sesungguhnya, gagasan untuk menjadikan satu komoditas sebagai standard nilai tukar (baca: konsep uang) ini terbentuk berkali-kali di banyak tempat terpisah. Kenapa bisa begitu? Karena penalaran konsep uang tidak memerlukan technological breakthrough, melainkan hanya didasari perubahan dari pola pikir masyarakat.

Pada awal mulanya, manusia menjadikan satu komoditas yang dianggap memiliki nilai manfaat yang berlaku bagi semua orang, contohnya seperti garam, gandum, kulit binatang, jagung, dll tergantung sejauh mana komoditas itu berlaku secara umum di daerah geografis tersebut. Bentuk uang pertama dalam sejarah adalah jelai (sejenis padi) yang digunakan oleh bangsa Sumeria 3.000 tahun sebelum masehi. Bangsa Sumeria sekitar 5.000 tahun yang lalu,sudah mampu menciptakan gagasan yang disepakati secara umum bahwa jelai adalah komoditas yang dijadikan alat tukar universal (dalam skala Kerajaan Sumeria).

Setiap orang di Sumeria 5 ribu tahun yang lalu, dapat menukar kebutuhan barang maupun jasa dengan menggunakan jelai. Kenapa jelai? karena jelai dianggap sebagai sumber makanan pokok utama, yang memiliki nilai intrinsik yang paling universal – yaitu : semua orang di Sumeria toh menggunakan jelai sebagai bahan makanan pokoknya! Jadi anggapannya, gak akan ada orang Sumeria yang merasa rugi untuk menukar barang/jasanya dengan jelai.

Beberapa contoh lain penggunakan barang komoditi sebagai uang adalah garam yang digunakan oleh Bangsa Romawi Kuno pada awal peradabannya. Biji cokelat sebagai alat tukar pada peradaban Aztec. Kemudian kulit kerang sebagai alat tukar pada berbagai tempat di Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara pada 1.700 – 900 tahun sebelum Masehi. Bahkan di jaman modern sekarang ini, British Uganda (Uganda ketika masih dijajah Inggris), masih menggunakan kulit kerang untuk membayar pajak ke Negara Inggris pada awal abad 20 lho. Kebayang gak sih lo di awal tahun 1900an, orang-orang Uganda masih bayar pajak pake kulit kerang yang biasa lo pake main congklak? Hehehe..money comodity

Contoh lain yang menarik adalah yang terjadi di beberapa penjara Amerika dan camp tawanan Perang Dunia 2 yang menjadikan rokok sebagai bentuk mata uang. Lo jangan ngebayangin penjara itu tempat dimana gak ada perputaran ekonomi yah… Selama manusia punya kebutuhan (dan sipir dalam penjara juga mau disogok), perputaran ekonomi bisa terjadi di mana saja, termasuk juga dalam penjara. Ada saat di mana para tawanan penjara menukar roti, pasta gigi, selimut, bahkan minuman beralkohol dengan batangan rokok. Selama kepercayaan para narapidana terhadap mata uang rokok itu tinggi, bahkan tawanan yang tidak merokok sekalipun akan ikut-ikutan ngumpulin batangan rokok untuk bisa ditukar dengan berbagai barang kebutuhan.

Sampai di sini gua harap lo paham esensi dari konsep uang secara lebih mendalam. Dalam arti, uang itu bukanlah selalu hadir dalam bentuk kertas bergambar, emas, perak, batu mulia, atau cek dari bank seperti yang kita kenal sekarang. Uang itu bisa jadi segala bentuk komoditas atau benda apapun yang dijadikan standard nilai tukar dengan bentuk perbandingan yang relatif stabil pada nilai barang lain dan berlaku universal bagi masyarakat pelaku ekonomi seluas-luasnya. Sekarang, begitu konsep uang menjadi lebih jelas, kenapa bentuk uang jadi mengerucut pada beberapa bentuk umum seperti emas, perak, dan uang kertas pada beberapa abad terakhir? Kenapa kita tidak menjumpai lagi negara yang menggunakan gandum atau garam sebagai mata uangnya?

 

Perjalanan Mencari Bentuk Uang yang Paling Ideal

Menjadikan satu komoditas sebagai alat tukar memang gagasan briliant yang menyelesaikan masalah pada sistem barter. Tapi kemudian muncul masalah baru dalam konsep uang komoditas ini. Fungsi dari uang kini tidak hanya untuk alat mengkonversi satu nilai ke nilai lainnya, tapi juga bisa digunakan untuk menimbun kekayaan / ditabung. Artinya, uang tsb harus bersifat durable atau tidak mudah busuk/kadaluarsa. Masalahnya, uang dalam bentuk komoditas seperti gandum, garam, biji cokelat, dll tidak mampu bertahan selamanya karena akan mengalami pembusukan.

Kelemahan uang komoditas adalah sulitnya untuk dibawa kemana-mana. Bisa dibayangkan, betapa repotnya kalo kita harus membawa berkantong-kantong gandum atau biji cokelat ke mana-mana untuk berbelanja. Selain itu, diperlukan sistem pergudangan yang cukup ribet agar uang komoditas tersebut dapat tetap terjaga, tidak dimakan hama, tidak terbakar, kebasahan, dsb. Untuk itu, diperlukan bentuk uang yang lebih ideal untuk bisa menjaga fungsi uang sebagai alat penimbun kekayaan.

contoh koin perak dari Kerajaan Lydia

Transisi dari bentuk uang komoditas menjadi bentuk lain tidaklah mudah. Diperlukan proses pembentukan gagasan abstrak yang radikal untuk bisa membuat sekelompok masyarakat mempercayai bentuk uang yang tidak memiliki nilai intrinsik (baca: gak bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari), tapi karakter materialnya bisa tahan lama dan mudah untuk disimpan maupun dibawa kemana-mana.

Bentuk uang pertama tidak memiliki nilai intrinsik ini pertama hadir di peradaban Mesopotamia kuno sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi, yaitu silver shekel atau syikal perak. Syikal perak ini bukan koin, tapi onggokan perak seberat 8,33 gram. Inilah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah peradaban mempercayakan bentuk uang sebagai nilai tukar, pada benda yang tidak memiliki manfaat intrinsik apapun. Dalam arti, perak tidak bisa dikonsumsi, maupun dijadikan senjata karena terlalu lembek, perak juga tidak bisa dijadikan bahan baku untuk peralatan apapun.

Indikator berat (8.33 gram) pada metal berharga inilah yang nantinya melahirkan bentuk koin. Karena dengan cetakan bentuk koin, berat dari perak itu jadi memiliki standarisasi tersendiri dan tidak perlu harus selalu menimbang setiap perak kalo mau transaksi. Bentuk koin pertama dalam sejarah diterapkan oleh peradaban Lydia (sekarang dikenal sebagai daerah Turki) oleh Raja Alyttes pada 640 tahun SM. Konsep uang dalam bentuk koin ini memberikan 2 informasi tambahan yang tidak terdapat dalam bentuk koin lain sebelumnya, yaitu:

  1. Keterangan nominal seberapa berharga koin tersebut.
  2. Otoritas manakah yang menjamin keberhargaan dari uang koin tsb.

Kedua informasi ini memberikan terobosan besar terhadap sejarah penggunaan uang di berbagai belahan dunia. Pertama adalah keterangan jumlah pada koin yang membuatnya semakin praktis untuk disimpan, dibawa, maupun dibandingkan dengan nilai barang tertentu. Kedua adalah unsur kepercayaan masyarakat akan suatu otoritas (raja atau kerajaan) yang melindungi keberhargaan koin tersebut. Semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap sosok otoritas tersebut, maka akan semakin universal nilai uang tersebut diakui di berbagai tempat lain.

Metal berharga yang digunakan untuk membentuk koin ini biasanya berupa perak atau emas. Kenapa emas dan perak? Soalnya dari emas dan perak cenderung tahan terhadap korosi atau oksidasi di udara yang lembap, tidak terlalu keras sehingga mudah dicetak, dan juga langka/sulit didapat sehingga hanya otoritas tertentu saja yang bisa memproduksi koin emas/perak. Bentuk koin emas dan perak ini berhasil mendapatkan kepercayaan yang sangat besar selama ribuan tahun, dari jaman peradaban Lydia, Persia, Yunani, Romawi, hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia sampai India, Tiongkok, dan terakhir adalah Amerika.

Eh tapi tunggu dulu, kenapa juga yah kok bisa uang koin emas dan perak akhirnya bisa menjadi mata uang yang berlaku begitu luas sampai ke pelosok India dan Tiongkok segala? Bagaimana mungkin, masyarakat India, Tiongkok, Arab, dan lain-lain yang sangat berbeda latar belakang budayanya bisa kompak dalam satu hal yaitu penggunaan mata uang koin berbahan emas dan perak? Kenapa pada jaman era klasik, setiap peradaban gak tetap pada mata uangnya masing-masing, misalnya di wilayah Roma (pesisir laut Mediterranean) pakai koin emas/perak, sementara India tetap dengan kulit kerang, Arab dengan jelai, dan Tiongkok dengan sutra?

 

Peran Uang Koin Emas & Perak Sebagai Pemersatu Umat Manusia

Dari jaman Romawi Kuno, bisa dibilang tingkat kepercayaan masyarakat di pesisir Laut Mediterania sangat tinggi terhadap otoritas dan kedigdayaan Kerajaan Roma. Bayangin aja kekuasaan Roma pada awal abad masehi itu mencakup seluruh pesisir Laut Mediterania, Eropa Selatan, timur tengah, Afrika Utara, dan sebagian Eropa Timur. Oleh karena itu, koin denarii (istilah koin Romawi) memiliki tingkat kepercayaan universal yang sangat kuat. Sampai-sampai masyarakat yang berada di luar jazirah kekuasaan Kerajaan Roma sekalipun (misalnya India) tetap menerima transaksi dengan koin denarii. Saking terkenalnya koin Roma ini, nama denarii menjadi terminologi umum dari “uang koin”, hingga akhirnya peradabaan Islam khalifah Arab mengadopsi namanya menjadi ‘dinar‘ yang sampai sekarang tetap menjadi mata uang Yordania, Irak, Serbia, Macedonia, Tunisia, dan beberapa negara lain.

Cakupan luas Kerajaan Roma tahun 117 Masehi

Karena perputaran ekonomi di wilayah Roma ini sangat kuat, tentu barang produksi di wilayah Roma juga dikonsumsi di wilayah peradaban lain. Sebaliknya, barang produksi di wilayah lain seperti India, Arab, dan Tiongkok juga laku keras di Kerajaan Roma karena daya beli masyarakat Roma terbilang tinggi. Di sinilah, peran saudagar/pedagang yang merantau ke wilayah memiliki peran penting pada universalitas uang dalam bentuk koin emas/perak di jaman klasik.

republic-denarius-NAV063
contoh koin denarii dari Kerajaan Roma

Coba sekarang lo bayangin jadi saudagar di India yang merantau ke wilayah Mediterania dan mengetahui bahwa nilai dari emas itu dihargai sangat tinggi. Sementara itu, emas di wilayah India itu sangat murah bahkan bisa dibilang gak ada harganya sama sekali. Dasar emang otak bisnis saudagar, pasti pengen dapet keuntungan dong!! Dalam beberapa tahun saja, pasti berita perbedaan nilai emas di tanah India dengan mediterranean akan tersebar ke banyak pedagang. Makanya, para saudagar di India akan berlomba-lomba menjual emas di tanah Mediterania dengan selisih harga yang fantastis!

Tapi tunggu dulu, tingkat perbedaan harga itu gak akan lama, seiring dengan berjalannya waktu, kesetimbangan ekonomi akan seimbang. Karena permintaan emas di tanah India tiba-tiba melonjak drastis (buat dijual di Mediterania), orang-orang akan berusaha menambang emas di tanah India dan harganya pun akan naik terus, sementara di wilayah Mediterania akan kebanjiran emas. Ketika emas jadi tidak terlalu langka lagi, hukum ekonomi akan berlaku sehingga nilainya akan terus menurun. Akhirnya, sampailah kondisi ketika harga emas di India dan Mediterania  tidak jauh berbeda satu sama lain. Itulah kenapa harga emas di dua peradaban terpisah bisa saling mempengaruhi yang akhirnya mencapai titik kesetimbangan. Di atas gua mengambil contoh kebudayaan India kuno, tapi skenario yang kurang lebih sama juga terjadi pada peradaban kuno lain, seperti Arab dan Tiongkok.

aztec-ear-pendants
anting-anting dari emas hasil kebudayaan Aztec

Peran para pedagang rantau (dan kekuatan Kerajaan Roma) itulah yang menyebabkan, mata uang dalam bentuk koin emas/perak menjadi semakin diterima secara universal ke seluruh belahan dunia, bahkan sampai sekarang. Sayangnya, tidak semua proses “persebaran” bentuk uang berupa emas dan perak dilakukan dengan pendekatan ekonomi dagang. Ketika Hernan Cortes (pelaut Spanyol) menjelajahi daratan Amerika Tengah pada tahun 1519, mereka sangat terkejut waktu melihat peradaban suku Aztec yang sangat “kaya” karena bergelimang emas.

Sebaliknya, suku Aztec justru heran kenapa orang-orang asing berkulit putih ini sangat terobsesi dengan metal kekuningan yang mereka anggap tidak berharga. Karena terisolasi dengan dunia luar, gagasan abstrak akan evolusi bentuk uang yang tidak harus memiliki nilai intrinsik belum terpikirkan oleh bangsa Aztec. Mata uang suku Aztec adalah biji cokelat, yang mereka anggap memiliki nilai intrinsik dan berlaku ‘universal’ bagi peradaban mereka saat itu. Sayangnya, perbedaan budaya dan cara komunikasi yang terlalu timpang tidak memungkinkan 2 kebudayaan ini (Aztec) dan budaya Barat untuk bekerja sama. Alhasil adalah pembantaian besar-besaran suku Aztec oleh para penjelajah Spanyol untuk merebut emas dan dibawa ke Eropa.

 

Bentuk Uang Dalam Dunia Modern

Penggunaan bentuk uang koin emas dan perak ini terus berlanjut sampai akhirnya bentuk uang yang lebih praktis dapat direalisasikan seiring dengan terciptakan mesin cetak, yaitu bentuk uang kertas. Dalam bentuk kertas, uang jadi semakin mudah disimpan, ringan untuk dibawa-bawa, dan murah untuk diproduksi. Peralihan uang koin ke kertas sendiri terjadi tidak serempak di seluruh dunia, dari mulai yang pertama China (abad ke-7), Italia (abad ke-14), Amerika Serikat (abad ke-17).

Bentuk uang terakhir yang tercipta adalah yang berbentuk informasi digital. Seiring dengan berkembangnya era digital sekarang ini, peradaban kita telah sampai pada titik dimana kepercayaan manusia akan konsep sangatlah tinggi sehingga bentuk uang tidak lagi perlu pembuktian secara fisik, tapi hanya berupa informasi digital saja. Kalo lo mau tau, menurut data sampai tahun 2014, total uang yang beredar di seluruh dunia ini jika dikumpulkan kira-kira jumlahnya adalah 60-75 trilyun dolar Amerika (lo bisa tinggal google: “how much money in the world”). Dari total segitu, uang yang beredar dalam bentuk kertas dan koin itu kira-kira hanya 5-6 trilyun dollar amerika doang! Artinya, kira-kira 90-93% uang yang beredar di seluruh dunia ini hanyalah berbentuk data digital di server komputer. Gila banget kan!? Di dunia modern ini, hampir semua transaksi adalah menggerakan data elektronik dari sebuah ke akun ke akun yang lain tanpa ada perpindahan barang fisik. Jadi kalo seluruh nasabah bank secara serentak mau ambil duitnya secara cash, hampir pasti bank tersebut gak akan punya cadangan cash sebanyak itu. Kita telah sampai pada era dimana nilai uang itu hanya ditentukan oleh nilai kepercayaan kolektif.

Bursa saham menggambarkan perputaran uang dalam bentuk informasi digital

 

Itulah kekuatan dari gagasan abstrak manusia yang menciptakan konsep bernama uang hingga berlaku secara universal. Itulah kekuatan uang sebagai pemersatu manusia, dari beragam budaya, agama, kepercayaan, filosofi, dan ideologi politik… (hampir) semuanya dipersatukan oleh satu hal, yaitu kepercayaan akan konsep uang. Kepercayaan kolektif secara abstrak inilah yang membuat jutaan bahkan milyaran manusia bisa bekerja sama secara efektif dari berbagai belahan dunia, walaupun tidak saling kenal satu sama lain. Di sisi lain, kebergantungan nilai uang terhadap kepercayaan kolektif jugalah yang menyebabkan kestabilan nilai mata uang sangat berkaitan erat dengan kondisi politik. Begitu iklim politik bergeser, kepercayaan kolektif terhadap otoritas yang menjamin nilai uang itu juga bergeser.

****

Itulah kurang lebih penjabaran gua tentang sejarah/ asal-usul / latar belakang konsep uang. Moga-moga bermanfaat bagi lo semua dan juga memberi perspektif baru akan pemahaman lo tentang kondisi ekonomi dan sosial. Bahwa terlepas dari atribut negatif yang diberikan pada uang sebagai sumber masalah, keserakahan, dsb. Tapi sejarah mencatat, bahwa uang adalah objek pertama yang menjadi jembatan toleransi antar berbagai kebudayaan dan peradaban di dunia ini.

“Money isn’t a material reality, it is a psychological construct. it works by converting matter into mind. Money is the most universal and most efficient system of mutual trust ever devised… Money is the only trust system created by human that can bridge almost any cultural gap, that does not discriminate on the basis of religion, gender, race, age, or sexual orientation.”- Yuval Noah Harari, Professor of History, Hebrew University.”

Referensi :

Harari, Yuval Noah. Sapiens A Brief History of Humankind. 2014. Harvill Secker: London.
http://lauravaleri.com/2014/12/18/sumerian-currency/
http://www.ynharari.com/money-and-politics/
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_money
https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_colonization_of_the_Americas
http://onlygold.com/Info/History-Of-Gold.asp
https://en.wikipedia.org/wiki/Commodity_money

 

Sumber gambar :

http://www.silverbearcafe.com/private/07.11/barter.html
https://www.sixbid.com/images/auction_images/981/925300l.jpg
http://www.ancientresource.com/lots/ancient-coins/roman-republic.html
http://www.latinamericanstudies.org/aztec-jewelry.htm
http://www.vox.com/2014/8/19/5942585/40-maps-that-explain-the-roman-empire

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara lo yang mau ngobrol atau diskusi sama Glenn tentang sejarah konsep uang, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini, ya. Buat lo yang lagi gemes pengen mendalami ilmu ekonomi, gua saranin baca artikel lama zenius yang gak kalah keren dengan artikel ini:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.