Asal-Usul Kata dalam Bahasa Indonesia

Bagaimana Etimologi Bahasa Indonesia? Penasaran, bahasa asing apa saja yang diserap dalam Bahasa Indonesia? Yuk kita lihat sama-sama!

Seorang munsyi (ahli bahasa), Yapi Tambayong pernah mengutip kontak jodoh yang dibuat harian Kompas:

“Gadis 33, Flores, Katolik, sarjana, karyawati, humoris, sabar, setia, jujur, antimerokok, antifoya-foya, aktif di gereja. Mengidamkan jejaka maks 46, min 38, penghasilan lumayan, kebapakan, romatis, taat, punya charisma”.

Wah wah wah, banyak maunya juga si gadis ini. Gue enggak tahu apakah iklan cari jodoh macam ini masih ada di zaman Tinder, Path, Facebook dan sebagainya. 🙂 Bayangkan, euy! Dulu orang cari jodoh di media massa, se-Indonesia jadi tahu! Atau jangan-jangan orang tua elo dipertemukan berkat kontak jodoh di koran? Hehehe. Baiklah, maksud gue bukan itu. Itu hanya ilustrasi semata.

Mari kembali ke topik bahasan: tentang bahasa, khususnya bahasa Indonesia (BI). Pernah enggak, elo berpikir bahwa bahasa yang kita pakai dan tuturkan sehari-hari ini asalnya dari mana? Terucap begitu saja? Atau para ahli terdahulu sengaja berkumpul untuk merancang dan merapatkan kata-kata apa saja yang akhirnya ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia? Atau jangan-jangan terbentuknya BI ini mirip dengan terbentuknya bahasa Inggris yang merupakan kata pinjaman dari bahasa-bahasa rumpun Indo-Eropa lainnya?

Iya, betul sekali, BI memang merupakan bahasa campur-campur dari bahasa para tetua-tetua kita berabad-abad lalu. Buktinya:

Gadis (Minangkabau) 33, Flores (Portugis: floresce), Katolik (Belanda: katholiek), sarjana (Sanskerta: sajjana), karyawati (Sanskerta: karya+wati), humoris (Belanda: humorist), sabar (Arab: ṣabr/sabran), setia (Sanskerta: Satya), jujur (Jawa), antimerokok (Belanda: anti+roken), antifoya-foya (Belanda: anti & Menado: foya), aktif di gereja (Belanda: actief; Portugis: igreja). Mengidamkan (Tamil: iṭṭam) jejaka (Sunda: jajaka) maks (Belanda: maximal) 46, min (Belanda: minimal) 38, penghasilan (Arab: ḥāṣil) lumayan (Jawa), kebapakan (Cina: bapak {?}), romantic (Belanda: romantisch), taat (Arab: ṭāʿa/thawa’iyat), punya (Sanskerta: Empu) karisma (Belanda: charisma)”.

Tidak salah kalau Yapi Tambayong ini membuat buku berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. 

9 dari 10 Kata Indonesia adalah Asing

Nah, sobatZen, pada kesempatan kali ini, gue mau cerita panjang lebar tentang asal-usul kata dalam Bahasa Indonesia, khususnya terkait donor bahasa asing. Perkembangan BI erat sekali kaitannya dengan sejarah perkembangan bangsa ini, dari masuknya para pedagang dan penjajah hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa yang menyangka kata-kata, seperti dahsyat dan gengsi, yang sering dipakai oleh kawula muda zaman sekarang, ternyata berhutang sejarah dengan Islamisasi Nusantara pada abad ke-12? Atau kata-kata cetar membahana yang sering dilontarkan Syahrini ternyata berhutang sejarah ke masa masuknya agama Hindu di Nusantara. Penasaran, kan?!

Buat lo yang tertarik dengan dunia linguistik dan sejarah, bercita-cita mau jadi ahli bahasa, atau lagi kuliah di jurusan sastra, gue sarankan buat baca artikel ini sampai beres. Gue juga bakal kasih tau buku dan referensi menarik yang patut lo pantengin sebagai pecinta bahasa. Baiklah, mari kita mulai pembahasannya.

 

Etimologi Bahasa Indonesia

Bahasa yang kita pakai sehari-hari ada alasan dan sejarahnya. Berbicara sejarah, tak terpisahkan dari asal-usul atau asal-muasal. Semua kata yang kita pakai dalam tuturan sehari-hari pastinya tidak muncul begitu saja. Entah berasal dari pinjaman bahasa lain, kesalahan yang kemudian dianggap betul, atau rekaan seseorang dan sekelompok orang. Asal-muasal sebuah kata bahkan dikaji secara serius oleh para linguis. Ilmu yang membahas tentang ini disebut etimologi dan termasuk cabang linguistik. Etimologi berasal dari bahasa Yunani (etymos=kata dan logos=ilmu), yang bisa berarti penyelidikan asal-usul kata, serta perubahan bentuk & maknanya.

Kalau elo perhatikan di kamus-kamus besar bahasa Inggris macam Oxford Dictionary atau Cambridge Dictionary, hampir di setiap katanya terdapat penjelasan origin. Origin atau asal-usul tersebut menjelaskan bagaimana kata itu lahir.

Kata "elephant" dalam bahasa Inggris ternyata berasal dari bahasa Perancis kuno. Sumber: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/elephant
Kata “elephant” dalam bahasa Inggris ternyata berasal dari bahasa Perancis kuno. Sumber: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/elephant

 

Terus kalau di Indonesia? Meskipun kamus kebanggaan kita, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak demikian, ternyata beberapa dekade yang lalu sudah ada dua kamus yang mencantumkan asal-usulnya. Pertama, Kamus Modern Bahasa Indonesia, karya Sutan Moh.Zain (terbit pertama kali tahun 1952 dan disempurnakan oleh J.S. Badudu menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia yang terbit tahun 1994). Berikutnya Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang dibuat oleh W.J.S Purwadarminta, meskipun tidak semua lema (kata) diterakan asal-usulnya. Sebenarnya sudah ada anjuran agar KBBI buatan pemerintah menerakan asal-usul lema yang ada. Ini merupakan keputusan Konggres Bahasa Indonesia ke-4 tahun 1983 lalu. Sayangnya, dua puluh dua tahun berselang dan empat kamus besar terbit, anjuran ini belum diejewantahkan (diwujudkan). Mungkin jangan pakai kata anjuran, ya? 🙂

Kita tidak memungkiri bahwa bahasa Indonesia dibentuk dari beraneka ragam bahasa asing. Buku Remy Sylado, nama beken dari Yapi Tambayong di atas, mendokumentasikannya secara apik dan populer dalam buku ‘9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing’. Sebelum Yapi pun, sudah banyak peneliti bahasa yang mencari tahu ragam etimologi bahasa Indonesia. Ada yang sudah dalam bentuk artikel jurnal, buku popular bahkan kamus.

Tahun 1999, Pusat Bahasa terbitkan buku ‘Senarai Kata Serapan Dalam Bahasa Indonesia’. Isinya sangat menarik dan ulasan di antaranya: ada 10 donor bahasa Indonesia:

  • Belanda (3.280 kata)
  • Inggris (1.610)
  • Arab (1.495)
  • Sanskerta-Jawa Kuna (677)
  • China (290)
  • Portugis (131)
  • Tamil (83)
  • Parsi/Persia (63)
  • Hindi (7)

Enam tahun berselang (2007), terbit kamus etimologi karya para sarjanawan Belanda: Loan-Words in Indonesian and Malay (LWIN), yang  pembagiannya hampir mirip kecuali dalam jumlah kata dan penambahan bahasa Jepang sebagai donor. Benang merah dari kedua buku ini adalah donor yang dituju merupakan donor yang berasal dari luar Nusantara. Jadi, elo enggak akan menemukan donor dari daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minangkabau atau Batak.

Jadi apa saja sumbangan sepuluh donor asing di atas? Yuk kita bahas!

 

Donor 1: Bahasa Sanskerta

Pertama, ihwal asal-usul bahasa Nusantara tentunya tidak lepas dari sejarah. Contoh pertama yaitu bahasa Sanskerta. Sebuah prasasti ditemukan di Kutai (Kaltim), pada abad ke-5 menggunakan bahasa Sanskerta (Prasasti Mulawarman). Sebenarnya sejak abad ke-9 SM, diperkirakan bahasa Sanskerta sudah ada di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan lantaran disebarkannya agama Hindu. Lalu abad ke-7, kontak dagang bersama orang Arab dan China pun tak terhindarkan (di Malaka).Tentunya persinggungan bahasa pun terjadi. Dari bahasa ini, kita menyerap 775 kata dan di antaranya:

Bahasa Indonesia Bahasa Sanskerta Keterangan
Asmara Āśrama
Asrama Āśrama
Bahagia Bhāgya
Berahi Virahin Birahi
Durhaka Drohaka
Gembira Gambhīra
Hartawan arthavān Harta+wan
Istimewa Āstām eva
Janda Raṇḍā
Jelita Lalita
Merdeka Maharddhika
Mesra Miśra
Sederhana Sādhāraṇa
Wanita Vanitā
Wisuda Viśuddha

 

Donor 2: Bahasa Arab

Kedua, bahasa yang berkaitan dengan Islamisasi di Nusantara, yaitu Arab. Temuan konkret persinggungan bahasa ini baru ada sejak ditemukannya batu nisan raja-raja Aceh di Samudra Pasai (1237). Russel Johns, linguis yang telaten mengurus etimologi, mengutarakan bahwa bahasa Arab baru benar-benar diserap (arabisasi) ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-16 karena sudah banyak bukti karya sastra yang ada. Terdapat 2215 kata yang berhasil diserap menjadi BI.

Bahasa Indonesia

Bahasa Arab

Ajaib ajāʾib
Akal ʿaql
Badan gensi badan
Balut ballūṭ
Daerah dāʾira
Dahsyat Dahsha
Gengsi  jinsī
Hadiah Hadiyya
Hadir ḥāḍir
Ijazah Ijāza
Iklan iʿlān
Jadwal jadwal
Kabar Khabar
Kertas  qirṭas

 

Donor 3: Bahasa Parsi

Ketiga adalah bahasa Parsi. Bahasa ini berasal dari kawasan yang sekarang disebut Iran dan sekitarnya. Oleh sebab itu, tidak heran bahasa yang terserap mirip dengan Arab. Dari catatan LMIW, terdapat 214 kosakata yang diserap BI, di antaranya:

Bahasa Indonesia Bahas Parsi Keterangan
Anggur Angūr
Baju Bāzū
Bang Bang
Bedebah Bad-bakht
Biadab Bī-adab
Bius Bī-hosh
Cambuk Chābuk
Darurat Darūra
Gandum Gandum
Geram Garm
Gusti Kushtī
Haji ḥājī
Kebuli Kābulī Nasi kebuli, khas arab dan popular di Indonesia
Nakhoda Nā-khudā

 

Donor 4: Bahasa Hindi

Keempat, kita akan beralih ke bahasa Hindi. Bahasa Hindi menjadi bahasa resmi kedua di rumahnya sendiri, India, setelah bahasa Inggris. Meskipun hanya tertera 93 kosakata saja di LMIW, representasi di tabel di bawah ini membuktikan kata-kata ini tetap tergunakan hingga saat ini. Bahkan Syahrini saja pakai ({cetar mem}bahana: bhanak).

Bahasa Indonesia

Bahasa Hindi

Ayah Āyā
Bangsal Bhansāl
Bendi Bhinḍī
Candu Caṇḍū
Celana Ćolnā
Duhai Duhā’ī
Gusar Gussā
Ganja Gāṁjā
Padi Pādī
Pulau Pulāv
Roti Roṭī
Setan Sthān
Topi ṭopī
Ujar Ucār

 

Donor 5: Bahasa Tamil

Kelima adalah Tamil. Apa pula itu. Kalau elo pernah mendengar sebutan orang keling di daerah Sumatra Utara (masih berhubungan dengan orang India yang kebanyakan berkulit gelap), maka merujuk ke sanalah kata Tamil. Memang, penggunan Tamil lebih terkesan netral dan tidak penuh prasangka. Bahasa yang berasal dari India Selatan dan dikategorikan rumpun Dravida ini ternyata telah bersinggungan dengan bahasa Melayu sejak dua millennium, menurut Tom H. Hoogervorst. Tidak heran, kan, kalau bahasa ini digunakan juga dituturkan di Negara jiran, seperti Malaysia dan Singapura.

Tamil sendiri mengambil peran penting dalam membentuk bahasa nasional. Ada 136 jumlah kata yang diserap dan di antaranya disumbangkan ke dalam ranah gastronomi, politik, militer, milter, ekonomi, pertanian hingga budi pekerti (Tambayong, 2003)

Bahasa Indonesia Bahasa Tamil Keterangan
Andai Aṇṭai
Badai Vāṭai
Banci Vāycci
Bedil Veṭi
Belenggu Vilāṅku
Canai Cāṇai-k-kal (Roti) cane
Cerutu Curuṭṭu
Dendam Daṇḍa
Gembala Gō-pālan
Jodoh Cōṭi
Kedelai Kaṭalai
Keledai Kaḻutai
Meterai Muttirai
Onde-onde Uṇṭai

 

Donor 6: Bahasa Cina

Keenam, bahasa dari bangsa yang terkenal dengan bakat alamnya sebagai pedagang: Cina. Sebagian besar bahasa Cina yang diserap ke dalam bahasa Indonesia tidak jauh-jauh dari makanan dan minuman. Bukti awal eksistensinya di Nusantara, yaitu prasasti Jawa Kuno (abad ke-10), yaitu kata: tahu (tau hu). Berbeda dengan donor lain seperti Sanskerta, Arab, dan Eropa yang juga mewariskan aksaranya kepada perkembangan bahasa di Nusantara, Cina ternyata digunakan sebatas lisan saja. Bahasa Cina yang berkunjung ke Nusantara pun diambil dari dialek Hokyan. Ada 395 kata yang berhasil terserap dan beberapa contoh di antaranya:

Bahasa Indonesia

Bahasa China

Keterangan/variasi

Angpau 紅包 âng pau angpao
Apa 阿爸 a pà
Bakiak 木屐 bák kiáh
Bakmi 肉麵 bah mīn
Bakpau 肉包 bah pau
Bakpia  肉餅 bah pián
Bakso 肉酥 bah so
Bakwan 肉丸 bah oân
Bopeng 麻斑 mô·pan
Cekak 一角 chít kak
Cukong 主公 tsú kong
Engkong 阿公 án kong
Jelangkung 伽籃公 ch’ai lang kung
Kecoak  ka tsóah

Sayangnya, minim naskah yang menceritakan tentang penyerapan bahasa-bahasa dari bahasa Cina.Berbeda dengan bahasa-bahasa dari Eropa, Arab dan Sanskerta.

 

Donor 7: Bahasa Portugis

Puas membahas Asia, kita akan melompat ke Eropa. Nusantara yang menjadi titik penting dalam perniagaan, membuat bangsa Eropa datang untuk berdagang. Masuklah bangsa Portugis ke Melaka & timur Nusantara serta menjadi donor ketujuh. Uniknya, walaupun armada mereka belum pernah ke Jacatra alias Batavia alias Jakarta, bahasa Portugis sudah beken di sana. Ini terekam saat Belanda mendarat pertama kali di Bantam (Banten).Bahkan sejarawan Jean Gelman Taylor, mengukuhkan bahasa Portugis sebagai bahasa utama dalam perdagangan di Asia (abad ke-16 dan 17). Coba bandingkan dengan kata serapan Cina yang didominasi makanan, bahasa serapan Portugis ini punya karakteristik perkakas, yah?

Bahasa Indonesia

Bahasa Portugis

Algojo Algoz
Bangku Banco
Bendera Bandeira
Boneka Boneca
Garpu Garfo
Gereja Igreja
Gudang Gudão
Jendela Janella
Kartu Carta
Kemeja Camisa
Minggu Domingo

 

Donor 8: Bahasa Belanda

Kedelapan: kata-kata dari bahasa Belanda. Siapa yang tidak kenal negara ini? Kalau tidak kenal, berarti elo sering bolos pas mata pelajaran Sejarah, nih. Hehehe. Sebagai penjajah sekaligus pembagun cikal-bakal Negara Indonesia, Belanda punya tempat khusus di Indonesia. Di buku-buku sejarah sekolah disebut Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun alias 3,5 abad. Padahal menurut G.J. Resink tidak, lho! Baca lebih lanjut artikel keren Zenius Blog tentang hal ini:

Indonesia Dijajah Ratusan Tahun Oleh Bangsa Eropa, Masa Sih?

Begitu lamanya ia bercokol di Nusantara, berbanding lurus dengan peninggalan yang mereka beri kepada kita. Dari sistem hukum, arsitektur, budaya, musik, ilmu kedokteran, mode hingga tak terkecuali bahasa.

Walaupun bahasa Belanda banyak terserap ke dalam bahasa Indonesia, tidak menjadikan bahasa itu sebagai lingua franca (bahasa perhubungan/pergaulan) dulunya. Memang, awalnya Belanda berniat menjadikan bahasanya sebagai bahasa resmi di Hindia Belanda. Tapi karena saat itu bahasa Melayu sudah kadung (terlanjur) mengakar kuat, mau tak mau mereka mengalah dan harus puas sebagai bahasa administrasi (hukum, politik, ketentuan dagang dan pencatatan sipil serta pendidikan).

Mengapa meskipun tidak menjadi bahasa resmi, bahasa ini tetap menjadi donor nomor wahid di bahasa kita? Selain faktor waktu (lamanya bercokol di Nusantara) dan keterpakaian dalam bidang administrasi serta politik, bahasa ini semakin berpengaruh di abad 19 & paruh awal ke-20. Faktor imigrasi besar-besaran warga dari Belanda juga menjadi pemicunya.

Berikut ini 17 kata dari 7350 kata yang diserap bahasa kita dari Belanda:

Bahasa Indonesia Bahasa Belanda (7350) Keterangan/variasi
Aktif/Aktivitas Actief/ Activitiet Sering salah penulisan: aktifitas
Bando Bandeau
Diet Dieet
Efektif/ Efektivitas Effectief/ effectiviteit Sering salah penulisan: efektifitas
Fanatik Fanatiek
Grosir Grossier
Harmonis Harmonisch
Indehoi in het hooi
Indekos in de kost
Kamar Kamer
Losmen Logement
Mariyuana Marihuana
Objektif/objektivitas Objectief/ objectiviteit Sering salah penulisan: objektifitas
Perkedel Frikandel

 

Donor 9: Bahasa Inggris

Kemerdekaan di tahun 1945 tidak serta-merta menghilangkan pengaruh bahasa Belanda di Bumi Pertiwi ini. Baru setelah 1966, pengaruh kuat bahasa itu perlahan berkurang. Mengapa? “Pascakudeta” Soeharto kepada Soekarno, Indonesia menjadi lebih akrab dengan barat (AS dan sekutunya). Berbagai kerjasama dagang & pendidikan dibuat Soeharto yang tidak sabar untuk membangun Indonesia yang maju seperti barat, lalu memutuskan untuk impor aneka pengetahuan dari barat. Alhasil, sangat banyak para sarjana dan ilmuwan kita yang dikirim untuk studi ke negara-negara Amerika dan Eropa. Tidak hanya itu, banyak juga buku-buku pengetahuan dan teknologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris. Jadilah bahasa Inggris sebagai donor kesembilan. Selain itu, budaya popular barat pun semakin kental di Indonesia. Mau tidak mau, hal ini berdampak terhadap penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Sejak kamus LWIM dibuat, baru 2413 kata yang berhasil terdokumentasi dengan kategori serapan dari bahasa Inggris. Namun, arus globalisasi yang semakin kuat membuat serapannya menjadi semakin banyak dan sepertinya akan terus bertambah. Beberapa di antaranya adalah:

Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

Analisis Analysis
Bisnis Business
Boikot boycott
Cas Charge
Deposit Deposit
Euforia Euphoria
Festival Festival
Gambling Gambling
Heroik Heroic
Individual Individual
Jeriken Jerrycan
Mancis Matches
Suplai Supply
Terpal Tarpaulin

 

Donor 10: Bahasa Jepang

Nah, jauh-jauh ke Eropa, kita sampailah kepada penjajah yang katanya paling kejam daripada bangsa Eropa: Jepang. Sebagai donor kesepuluh, bahasa ini sudah masuk ke Nusantara sejak tahun 1942. Di antara yang tetap bertahan muncul di KBBI (edisi ke-IV): keibodan, kamikaze, dan jibaku. Selain kosakata untuk dunia militer seperti di atas, ada pula kata kimono. Walaupun begitu, kata ini tersua dalam prosa Armijn Pane (1940), sebelum Jepang datang. Yah, namanya sastrawan. Biasanya dia sudah riset dulu sebelum membuat tulisannya. 10 kata berikut adalah representasi dari 69 kata yang berhasil dihimpun:

Bahasa Indonesia

Bahasa Jepang

Bonsai bonsai
Jibaku Jikabu
Judo Judo
Kamikaze Kamikaze
Karaoke karaoke
Karate Karate
Kimono Kimono
Mochi mochi
Origami origami
Samurai Samurai
Sumo Sumo
Tsunami Tsumani
Yoyo yôyô

 

****

Dari uraian di atas, kehadiran bangsa asing ke Nusantara, apa pun misinya, dapat berdampak terhadap bangsa yang ditujunya. Entah itu berdampak terhadap kehidupan politik, ekonomi, agama, dan yang tak kalah penting, budaya. Di dalam budaya sendiri , hadir bahasa. Itu juga berdampak pada semakin kayanya kosakata yang digunakan pada masyarakat Nusantara saat dulu dan Indonesia saat ini. Jangankan kosakata dalam arti yang berbeda-beda, satu kosakata yang sama pun bisa menghasilkan variasi yang berbeda-beda tergantung dari daerah dan kelompok penuturnya, terutama dalam ragam cakapan atau informal.

Tulisan ini mencitrakan pinjam-meminjam, serap-menyerap di dalam bahasa kita dulunya. Asal usul atau etimologi sebenarnya isu yang bagus tapi sangat sukar untuk direkonstruksi. Apalagi kalau minimnya sumber tulisan yang tersua. Alhasil kita hanya akan dihadapkan dengan asal-usul populer, yang dikenal dengan etimologi populer atau etimologi rakyat. Penjelasannya merupakan rekaan semata dan tidak dari penelitian yang serius. Contoh, etimologi telepon: telefoon (Belanda). Namun menurut etimologi populer, kata “telepon” diduga berasal dari “tali pohon”. Ini keliru ya.

Semoga ke depannya kamus besar kita punya fitur etimologi di setiap katanya agar para generasi penerus paham bahwa bahasa yang dipakainya nanti tidak muncul begitu saja.

 

Referensi
gambar banner dimodifikasi dari freepik.com, istockphoto, dan 7428.net

www.asalkata.com

 

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol dengan Fajar seputar asal-usul Bahasa Indonesia, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.