Punya cita-cita keren? Semangat aja ga cukup, lo butuh strategi!

Punya cita-cita keren? Semangat aja ga cukup, lo butuh strategi!

Halo pembaca zeniusBLOG ketemu lagi sama gue, Sasa. Gimana kemarin perayaan tujuhbelasan, ikut lomba apa aja? Masih dalam suasana merayakan kemerdekaan HUT RI ke-70 nih, di antara lo, ada yang pernah denger salah satu kata-kata Bung Karno yang ini gak?

"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit!"

Kata-kata itu beliau tujukan untuk membakar semangat kaum muda untuk berani bermimpi. Karena kata-kata itu pula, banyak dari kita yang dari kecil suka ditanyain sama guru dan orangtua cita-citanya kalo udah gede mau jadi apa. Terlepas dari apakah waktu kita kecil udah bisa mikir jauh ke depan, jawaban kita biasanya lumayan klise, dari mulai jadi presiden, jadi dokter, jadi pilot, jadi artis, dlsb.

cita-cita

Nah bagi elo para pembaca zeniusBLOG yang kebanyakan udah berumur 16-20 tahun, pertanyaan cita-cita ini mungkin gak sesepele waktu dulu masih kecil. Kalo dulu lo mungkin berpikir pertanyaan tentang cita-cita cuma hal pertanyaan basa-basi sambil lalu. Bagi lo yang sekarang di bangku SMA/SMK & sedang mempersiapkan diri buat masuk kuliah, atau lo yang mungkin sekarang lagi menjalani kuliah... pertanyaan soal 'mimpi' & 'cita-cita' ini mungkin gak ditanyain sama guru atau orangtua lagi, tapi malah ditanyain sama diri elo sendiri...

"Sebenernya gua mau jadi apa sih? Apa yang mau gua lakukan dalam hidup? Ke arah mana tujuan hidup gua ya nantinya?"

Bicara soal cita-cita dan tujuan hidup memang bukan perkara mudah, belum lagi untuk menjalani dan mewujudkannya, itu akan jadi perkara yang jauh lebih sulit lagi. Kalo waktu kecil kita ditanya cita-citanya mau jadi apa, mungkin dengan entengnya kita bisa jawab (misalnya) jadi dokter. Sekarang bagi lo yang masih SMA, bicara soal "gue mau jadi dokter"  bukan jadi sekadar menjawab pertanyaan basa-basi. Karena di umur segitu, lo udah harus mulai mikirin hal-hal yang lebih konkrit supaya bisa beneran jadi dokter, nih gua kasih contoh beberapa hal yang lo harus pikirin kalo lo mau jadi dokter:

  • Lo harus merenungkan baik-baik apakah lo sanggup jadi dokter, sanggup melihat darah, sanggup diberikan tanggung jawab atas nyawa orang lain, sanggup ditelp jam 3 pagi untuk situasi darurat, dsb.
  • Udah saatnya lo siap bersaing masuk ke fakultas kedokteran yang (pada umumnya) memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi.
  • Lo harus siap menghadapi kenyataan bahwa waktu kuliah lo akan jauh lebih lama dari temen-temen lo di jurusan lain.
  • Lo harus pastiin orangtua lo sanggup (atau minimal mensiasati) terkait mahalnya biaya kuliah di kedokteran, caranya dapet beasiswa, dsb...

Empat point di atas mungkin cuma segelintir hal yang perlu lo pikirin kalo misalnya cita-cita lo mau jadi dokter, untuk jadi pilot pastinya ada banyak point lain yang perlu lo pikirin, apalagi kalo lo mau jadi presiden, dsb.

Terlepas dari itu semua, berani bermimpi dan bercita-cita setinggi langit tentu baik. Tapi keberanian untuk bermimpi itu juga harus diiringi dengan strategi yang mantap juga dari diri lo sendiri. Maksudnya strategi itu gimana? Maksudnya, untuk sekedar punya mimpi dan cita-cita itu mudah, tapi berapa banyak sih orang yang bener-bener mikirin bagaimana cara membangun cita-cita itu supaya punya arah yang jelas, punya tujuan yang konkrit, paham akan setiap konsekuensinya, dan juga dipikirin secara serius tahap demi tahapnya?

Nah, dalam artikel zeniusBLOG kali ini, gua mau share beberapa strategi, terkait tentang bagaimana cara kita merancang impian/cita-cita/tujuan yang jelas, yang konkrit, terukur, realistis, dan juga gimana sebaiknya sikap kita dalam proses untuk merealisasikan hal tersebut.

Screen Shot 2015-08-23 at 15.08.10

Tapi sebelum gua bahas dengan detail, gua mau disclaimer sedikit dulu. Dalam pembahasan gua di bawah ini, konteks impian, cita-cita, atau tujuan yang gua maksud tidak hanya bersifat jangka panjang saja (seperti misalnya : ingin jadi dokter yang sukses). Tapi bisa berlaku juga untuk tujuan-tujuan yang bersifat jangka pendek, misalnya : ingin menurunkan berat badan dengan target tertentu, belajar bahasa asing sampai betul-betul fasih, dan semacamnya. Oke deh, kita langsung mulai aja yuk pembahasannya!

Bangun tujuanmu dengan SMART!

Terlepas dari apakah tujuan lo jangka pendek atau jangka panjang, jadilah orang yang 'cerdas' dalam menentukan apa tujuan lo, apa yang lo mau, dan apa yang perlu lo pikirkan terkait hal itu. Emang gimana sih tujuan yang 'cerdas' itu? Ini rumus yang menurut gua penting banget:

  1. Specific

  2. Measurable

  3. Action-Oriented

  4. Realistic

  5. Time-Oriented

1. Make it more Specific!

Pada saat kita menentukan arah tujuan kita, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tujuan itu harus spesifik. Karena kebanyakan orang pada umumnya, membuat tujuan yang terlalu general, misalnya dalam menentukan tujuan jangka panjang "Gua mau menjadi orang sukses!". Nah, we have to be specific here. Ketika lo nentuin bahwa apa yang lo mau adalah “jadi orang sukses”, lo harus mendefinisikan dengan lebih jelas lagi, emang “sukses” itu apa, sih? Punya banyak uang? Punya kekuasaan dan pengaruh atas banyak orang? atau apa? Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri tentang kesuksesan.

Nah, semakin elo belibet ngomongin tentang apa yang lo mau, dan semakin banyak hal-hal yang lo butuhin untuk mencapai apa yang lo mau, artinya rencana awal elo itu belum cukup spesifik. Mungkin aja, lo sebenernya tujuan lo gak bisa secara mudah direpresentasikan oleh kata “sukses”, tapi setelah lo renungkan, tujuan lo sebetulnya sederhana, yaitu (misalnya) memiliki penghasilan di atas 20 juta per bulannya. Nah kalau gini kan jadi lebih spesifik.

Contoh lainnya misalnya tujuan lo (kali ini bersifat jangka pendek) "gue mau jago berbahasa inggris!" Nah, tujuan ini bisa lebih dijabarkan lagi pada hal-hal yang lebih spesifik. Misalnya lo coba uraikan 4 keterampilan berbahasa Inggris, yaitu nulis (writing), baca (reading), denger (listening), ama ngomong (speaking). Dari keempat keterampilan berbahasa ini, lo mau fokusin di keterampilan yang mana? Kalo lo pengen jago di semua keterampilan tersebut? Sah-sah aja! Coba lo urutkan sejauh ini lo paling jago di keterampilan yang mana, dan paling lemah di mana. Di situ lo bisa bikin prioritas dan tau kira-kira di mana lo harus investasikan waktu dan energi lo lebih banyak untuk mengasah masing-masing keterampilan tersebut. Dengan merancang tujuan yang lebih spesifik, lo bisa lebih jeli melihat upaya-upaya yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut..

2. Make sure your goal is Measurable!

Pastikan lo punya tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yg mau lo capai. Kalo (misalnya) lo mau jadi orang 'kaya', jadikan kekayaan itu bisa diukur dengan jelas. 'Kaya' itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa dianggap kaya? atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya :

'Gue mau kuliah gua lancar dan lulus dengan nilai bagus'

jadikan lebih terukur dan punya indikator yang jelas jadi kayak gini...

'Gua mau lulus kuliah 4 tahun dengan nilai IPK minimal 3.00' 

contoh lain misalnya gini :

'Gue mau memperbaiki hubungan dengan pasangan jadi lebih harmonis'

pastikan itu jadi 'measurable" jadi gini...

'Gue mau meminimalisir frekuensi pertengkaran dengan pasangan jadi maksimal hanya 1x dalam 3 bulan.'

Okay, sekarang kebayang kan maksudnya 'measurable' itu apa? Jadikan setiap tujuan lo itu bisa terukur dan punya indikator yang jelas! Pada contoh yang pertama, gua merubah kata-kata "lancar" dan "bagus" dengan membuat 2 indikator yaitu waktu "lamanya proses kuliah" dan "nilai IPK". Sementara pada contoh yang kedua, gua merubah "harmonis" jadi punya indikator "frekuensi pertengkaran". Dengan lo membuat tujuan lo lebih terukur dan punya indikator, maka lo akan lebih mudah bisa mengevaluasi sudah sejauh mana lo mencapai tujuan lo tersebut.

3. Can you put it into Action?

Okay, setelah lo membuat tujuan lo secara spesifik, terukur, dan punya indikator yang jelas. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tujuan lo ini bisa diuraikan menjadi langkah-langkah yang jelas bentuk aktivitasnya seperti apa. Ini merupakan salah satu elemen yang paling penting sekaligus paling sering diabaikan. Kalo kita menentukan tujuan udah oke, terukur, dan punya indikator tapi bentuk aktivitasnya gak jelas juga percuma aja.

Sebagai cerita selingan aja nih, ada sebuah penelitian  yang  dilakukan oleh beberapa psikolog pendidikan mengenai performa akademik dari mahasiswa-mahasiswa di Universitas McGill. Nah, si psikolog ini pengen nyari tau : Apakah peningkatan performa nilai akademis punya korelasi yang tinggi jika mahasiswa bener-bener nyusun, menjabarkan dengan detail, dan mikirin langkah tahap demi tahap untuk meningkatkan nilai-nilai mereka.

Jadi, psikolog ini mengambil sampel dari 85 mahasiswa yang IP-nya di bawah 3.00 (kita asumsikan saja bahwa IP di bawah 3.00 itu tergolong mahasiswa yang kurang berprestasi). Dari 85 mahasiswa itu, kemudian dibagi nih jadi dua kelompok dengan proporsi orang yang sama. Satu kelompok disuruh untuk ngejabarin hal-hal spesifik apa yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan performa akademis mereka, dan satu lagi nggak disuruh untuk ngelakuin hal tersebut.

Hasilnya? Kelompok yang diminta untuk nyusun, ngejabarin dengan detil, dan mikirin performa akademik mereka, memiliki IP yang meningkat secara signifikan di semester selanjutnya daripada yang gak disuruh ngapa-ngapain! Kesimpulannya gimana? Ternyata dengan ngejabarin hal tersebut, mereka jadi tau mereka harus ngapa-ngapain aja untuk ningkatin nilai akademis mereka,  mereka butuhin apa aja, dan  mereka juga jadi punya gambaran yang semakin jelas terkait apa yang akan mereka lakukan. Makin jelas rencana dan step-step yang akan lo lakuin, maka akan semakin besar pula peluang lo untuk mendapatkan tujuan lo. Nggak ada lagi tuh pertanyaan “duh habis ini gue harus ngapain ya?”

Bentuk aktivitas itu kesannya mungkin sepele tapi justru jadi kunci utama untuk mewujudkan tujuan lo. Contohnya nih, misalnya tujuan lo adalah untuk bisa lolos seleksi SBMPTN atau UM supaya bisa kuliah di PTN impian lo. Tujuannya udah cukup spesifik, indikatornya juga jelas, action-nya gimana?

  • Pikirin berapa banyak bahan materi yang perlu lo pelajari untuk ujian seleksi SBMPTN dan UM
  • Bikin jadwal belajar yang ketat sesuai dengan siswa waktu yang tersedia
  • Buat target try out sesuai dengan passing grade jurusan yang jadi tujuan kuliah lo
  • Belajar yang rajin dan tekun, serta pastikan semua materi yang diperlukan bisa dipelajari dengan batas waktu yang tersisa.
  • Upayakan try out sebelum SBMPTN selalu mencapai target passing grade minimal untuk tembus di jurusan yang lo inginkan, dsb...

Naaah... kalo lo bisa menjabarkan apa aja aktivitas yang perlu lo jalani untuk mencapai tujuan lo, kan jadi jauh lebih jelas arah action-nya kemana. Usaha dan waktu lo juga jadi lebih terarah untuk melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan tujuan lo, sekaligus menjadikan aktivitas tersebut sebagai hal prioritas dibandingkan aktivitas lain dalam keseharian lo.

4. Be Realistic!

Terlepas dari apapun tujuan lo, pastikan hal itu sesuatu hal yang realistis. Realistis di sini bukan bermaksud discourage elo supaya jangan punya mimpi yang setinggi langit yah. Menentukan tujuan dengan realistis maksudnya adalah: menentukan target yang wajar dalam setiap langkah-langkah yang perlu lo ambil dalam upaya mewujudkan impian lo. Jangan belum apa-apa udah muluk mematok target yang terlalu tinggi, nantinya proses upaya lo semakin ngawang-ngawang. Contoh nih, tujuan jangka panjang lo adalah: menjadi musisi Indonesia yang sukses dengan total penjualan album menembus 1 juta kopi!

Dalam upaya untuk mewujudkan impian lo ini, jangan sampai belum apa-apa lo udah buru-buru ikut audisi, rekaman bikin album, terus bersaing dengan band-band dan musisi ngetop Indonesia.. ya pasti lo akan kalah sama para musisi lain yang udah jauh lebih berpengalaman. Lo harus lebih realistis untuk menentukan langkah dan target-target awal yang harus lo raih. Misalnya nih.. untuk awal-awal target lo (yang realistis) adalah: bikin youtube channel terus rekam diri lo sendiri bermain musik, targetkan per video minimal 10.000 views dan 90% komentar dari audience positif terhadap karya musik lo. Nah, baru setelah lo sukses dengan langkah awal ini, lo baru bisa punya target-target baru yang lebih tinggi (tapi tetap realistis) dengan kapasitas lo yang sekarang.

Dalam arti yang lain, menjadi realistis juga bisa diartikan dengan menyesuaikan target-target awal lo dengan mempertimbangkan segala sumber daya di sekitar lo yang bisa dengan relatif mudah elo jangkau. Sumber daya yang gua maksud ini bisa jadi uang, waktu, tenaga, koneksi, peluang, lingkungan pergaulan yang mendukung, akses pada peralatan yang mendukung, dsb. Dalam konteks contoh menjadi musisi tadi, mungkin upaya untuk langsung masuk ke dapur rekaman belum realistis untuk sekarang karena lo belum punya sumber daya (koneksi, populeritas, uang dll) untuk bisa masuk ke dapur rekaman. Sementara itu, untuk langkah dan target awal, lo bisa memanfaatkan teknologi dengan upload karya musik lo di youtube atau di soundcloud. Baru setelahnya lo menargetkan sesuatu yang lebih tinggi.

5. Time-Oriented!

Element terakhir dari SMART adalah Time atau Waktu. Setelah lo punya tujuan yang spesifik, terukur, realistis, dan aktivitas yang jelas. Langkah berikutnya lo harus punya target waktu yang jelas! Di video zenius learning Sabda di zenius.net lo mungkin pernah denger pesan doi yang kurang lebih isinya begini: "Sadari bahwa waktu lo di dunia ini terbatas, dan lo gak mungkin bisa melakukan segala hal yang lo inginkan. Oleh karena itu, tentukanlah prioritas!"

Yak waktu lo memang terbatas! that's why lo harus punya tolak ukur waktu yang jelas juga untuk setiap aktivitas dan tujuan lo. Dari mulai kapan lo mau mulai melakukan hal itu, sampai kapan target waktu yang lo tentukan agar tujuan lo tercapai. Misalnya nih, lo punya tujuan untuk bisa fasih dalam berbahasa Inggris. Lo udah tentuin aktivitas yang jelas untuk mencapai tujuan lo itu, dari mulai belajar grammar, vocab, membiasakan diri dalam dengerin orang ngomong Inggris (listening), baca buku bahasa inggris (reading), sampai berani nulis (writing) dan ngomong pake bahasa inggris (speaking).

Tapi terlepas dari semua langkah dan serangkaian aktivitas itu, kalo gak ditentukan oleh batasan waktu yang jelas... seringnya bakalan molor terus dan akhirnya beneran gak tercapai. Jadi langkah terakhir yang perlu lo lakukan adalah menentukan kapan lo mulai melakukan aktivitas tersebut, dan kapan target waktu lo untuk mencapai hal itu semua. Dengan lo memiliki target waktu yang jelas. Lo jadi bisa evaluasi diri lo sendiri secara berkala, udah sejauh mana proses lo dalam mewujudkan impian dan cita-cita lo?


****

Okay, itulah sedikit pembahasan gua tentang strategi menentukan tujuan dan menjalaninya dengan prinsip S.M.A.R.T. Moga-moga sharing dari gua bermanfaat buat lo semua yak! Oh ya, terlepas dari prinsip SMART, gua mau sharing 3 TIPS lagi yang gak kalah penting buat lo simak terkait upaya lo dalam mewujudkan tujuan, goal, impian atau cita-cita lo. Berikut adalah 3 TIPS dari gue

TIPS #1: Jangan gembar-gembor sama orang lain tentang apa yang jadi impian lo, keep it for yourself!

Banyak orang berpikir kalo kita menginginkan sesuatu, salah satu cara mewujudkannya adalah dengan bicarakan hal itu dengan orang lain. Mungkin harapannya, semakin sering kita curhat tentang cita-cita kita, maka dukungan dari lingkungan sekitar akan semakin banyak. Tapi seorang bernama Derek Siver melakukan riset terkait hal ini: Berdasarkan penelitian dia, ternyata, orang yang menyimpan tujuan, goals, cita-cita, atau impiannya untuk dirinya sendiri itu jauh lebih cenderung untuk berupaya mewujudkan hal tersebut ketimbang orang yang suka ngomongin tentang cita-citanya itu ke orang lain.

Nah lho, lo termasuk orang yang sering ngomongin hal itu ke orang lain atau nggak? Mulai sekarang, kalo lo berambisi akan sesuatu, gak perlu diceritain ke orang-orang dulu yah. Keep it for yourself atau at least ke beberapa orang-orang terdekat aja. Kalo lo penasaran, gimana riset Derek Siver, lo bisa tonton video di bawah ini:

Jadi, ada sebuah penelitian di mana 163 orang diminta untuk menjalani tes yang terpisah. Setiap orang diminta untuk menuliskan tujuan pribadi mereka di sebuah kertas. Setelah itu, peneliti meminta sebagian dari orang-orang tersebut untuk mengutarakan tujuan mereka (sampel A), dan sebagian lagi gak ngasih tau tujuan mereka (sampel B). Habis itu, mereka dikasi waktu selama 45 menit untuk ngerjain pekerjaan yang relevan sama tujuan pribadi mereka (misalnya kalo tujuan mereka mau menurunkan berat badan, mereka disuruh olahraga naik sepeda statis).

Dalam proses itu, mereka dikasi tau kalau misalnya mereka bisa berenti kapanpun mereka mau. Orang-orang yang ngasi tau tujuan pribadi mereka rata-rata berhenti di menit ke-33, sementara orang-orang yang ga ngasih tau tujuan mereka, ngehabisin  rata-rata 45 menit!

Menariknya lagi, ketika sampel A ditanya gimana rasanya setelah melakukan kegiatan itu, mereka bilang kalau mereka merasa sudah cukup dan sudah deket dalam mencapai tujuan mereka. Sebaliknya, ketika sampel B ditanya setelah kegiatannya selesai, mereka bilang kalau mereka ngerasa bahwa mereka masih jauuuh banget dari tujuan mereka.

Kenapa bisa gitu? Ternyata orang-orang yang ngasih tau tujuan mereka ke orang lain itu ngerasa mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan mereka. Penelitian-penelitian psikologis terkait hal ini ngebuktiin bahwa semakin lo ngasi tau tujuan-tujuan lo kepada orang lain, semakin kecil juga kegigihan lo untuk mewujudkan hal tersebut karena lo merasa sudah mendapatkan apa yang lo inginkan (which is pengakuan sosial). dalam proses usaha yang sebetulnya belum seberapa.

TIPS #2 : Kurangi kegiatan yang tidak relevan dengan upaya lo untuk mewujudkan impian/cita-cita lo.

Salah satu faktor yang paling sering bikin lo gagal menjalani apapun tujuan lo adalah : kecenderungan untuk merespon distraction / gangguan. Contoh sederhananya nih, kalo tujuan lo adalah untuk meningkatkan nilai akademis, dan aktivitasnya jelas-jelas adalah BELAJAR... tapi lo kurang konsisten dan komitmen terhadap tujuan lo itu. Jadinya begitu ada distraction (misalnya ada temen ngajak main ke mall, nongkrong gak jelas, ngabisin waktu main kartu/game, dsb). Nah, saran gua sih... jangan segan-segan untuk nolak godaan-godaan dari lingkungan lo yang berpotensi untuk ngehambat produktivitas elo. Jangan sampai hal-hal kecil ngalihin perhatian dari apa yang udah lo rancang sebelumnya.

Jadi, bijak-bijaklah memilah, mana yang relevan sama tujuan yang udah lo rancang (dengan rumus SMART) sebelumnya. Pastikan fokus lo adalah untuk mewujudkan tujuan itu, dan hindari (atau senggaknya kurangilah) kegiatan lain yang kura relevan. Jangan biarkan diri lo malah terlalu kelimpungan dalam proses pencapaian tujuan tersebut. Bikin skala porsi yang jelas dalam menghabiskan waktu keseharian lo, dan pastikan kegiata-kegiatan yang produktif berada dalam skala prioritas yang lebih banyak daripada kegiatan yang tidak relevan.

TIPS #3 : Tanggapi kegagalan dengan cara yang bijak!

Lo udah bikin tujuan dengan rumus SMART, lo juga udah bersikap asertif dengan tidak menceritakan tujuan lo secara berlebihan ke lingan lo, dan lo juga udah berusaha untuk menghindari distraction yang gak relevan sama tujuan lo.... eh tau-tau ternyata lo belum berhasil-berhasil juga untuk mencapai tujuan yang udah lo rumusin sebelumnya.

In this case, mungkin kalimat "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda" itu terlalu klise buat lo. Tapi satu hal yang mau gua tekankan adalah: dalam proses kita mencapai sesuatu, trial and error merupakan hal yang sangat wajar terjadi dalam siklus kehidupan kita. Siapa sih orang di dunia ini yang ga pernah gagal? Thomas Edison itu gagal sampai 10.000 kali untuk nemuin yang namanya bohlam lampu, Steven Spielberg pada awal karirnya ditolak oleh 3 sekolah film karena dia dianggap gak layak, Walt Disney sering dihina sebagai orang yang ga kreatif... Kadang yang bedain orang sukses dan gagal itu sesederhana bagaimana kita merespon kegagalan.

Mungkin pada awalnya emang berat untuk menerima kegagalan, tapi  jangan terlalu berkutat pada rasa putus asa yang berlarut-larut, cobalah untuk menerima kalau kita emang gagal (untuk kali ini) dan mungkin kurang optimal dalam berjuang. Setelah itu, coba kita mulai evaluasi apa yang telah kita kerjakan. Ingat, trial and error adalah hal yang wajar dan bahkan merupakan komponen penting dari proses pembelajaran kita terkait hal-hal yang kita lakukan.

****

Okay, sekian sharing dari gue, semoga apa yang gue share di tulisan ini sedikit membantu kalian semua dalam ngehadapin pahitnya kehidupan. Kalo ada yang mau ngobrol-ngobrol sama gua bisa tinggalin komentar di bawah artikel ini yak!

Referensi:
Morisano, D., Hirsh, J. B., Peterson, J. B., Pihl, R. O., & Shore, B. M. (2010). Setting, elaborating, and reflecting on personal goals improves academic performance. Journal of Applied Psychology, 95(2), 255.)
http://www.ted.com/talks/d erek_sivers_keep_your_goals_to_yourself

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol sama Sasa tentang rumus SMART atau tips untuk mewujudkan tujuan, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Sasa adalah kontributor Zenius Blog. Sasa tadinya menjalani masa studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012.

Follow Twitter Sasa at @arrwibowo
Email Sasa: arw.wibowo@gmail.com

  • Fransisca

    thankyou ya ka!

    • A .R. Wibowo (Sasa)

      Sama-sama 😀

  • alfinsa

    behh kak sasa ajib dah.
    btw pembahasannya bagus bgt, nggabungin bagian 'Goals and Motivation' ama 'Time Management' dengan lebih spesifik.

    alhamdulillah nih kak, gua juga kebetulan udah bikin seperti di atas, moga aja strateginya berhasil 😀

    • A .R. Wibowo (Sasa)

      Good for you! And good luck for that, too! 😀

      • alfinsa

        finally, setelah gua dengerin sabda dan baca artikel ini, gua jadi sering mikir gini:
        -> "bagaimana pun, gua pasti bisa. usaha dulu dah, pokoknya gua mesti bisa."
        -> "ah bodo amat orang ngomong/mikir negatif tentang gua, yang penting gua gak begitu kok."

        -> "oh ini cuma urgent doang, nah ini lebih penting. yaudah urgent ntar dulu, gua lebih milih ngerjain yang penting."

        menurut lo gimana kak? apakah pola berpikir di atas harus gua evaluasi atau diterusin?

        • Menurut gue, setiap pola berpikir yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari HARUS selalu dievaluasi. Dievaluasi di sini maksudnya lo kaji lagi: untungnya apa? Buruknya apa? Dengan mengevaluasi pola pikir lo, lo akan bisa melakukan improvisasi terhadap hal-hal yang lo lakukan. Kalau misalnya nguntungin dan bermanfaat, lanjutkan. Kalau enggak, buka kemungkinan-kemungkinan lain sehingga lo bisa mencari tau mana yang lebih sesuai ke diri lo-nya. 🙂

          • alfinsa

            iya juga sih kak sa, harus ada evaluasi thd hal2 yang non profitable. selama gua nerapin self concept demikian, salahnya gua adalah selalu bilang bisa bisa bisa, tanpa mengevaluasi. thanks nih, next time bakal evaluasi deh..

  • Helmi

    Keren kak sasa! 😀 Ohya mau curhat nih haha gw punya problem gini. Gw keterima di ptn nih, dan ambil jurusan kimia mipa, tapi gw ngerasa dasar pelajaran sma gw bisa dibilang mati lah, terutama ipa nya, kalo gw mundur posisinya ga mungkin karena alesan tertentu. Nah kan mau ga mau harus terus fight, tapi gw bingung sama dasar pengetahuan gw yg blank sedangkan awal mulai kuliah september , panik dong gw, menurut kak sasa di posisi gw yg saat ini harus ngapaaaiiin??

    • fakhri

      Halo helmi, kalau menurut gue lo bisa review teori di zenius.net aja.

    • Kalau misalkan kamu memang benar-benar ingin dan merasa mampu melanjutkan studi kamu di jurusan kimia mipa, go fight for it! Setuju sama usul Fakhri, kamu bisa nge-review pelajaran-pelajaran kimia dari zenius.net.

      Selain itu, FYI, di beberapa universitas/institut, biasanya di awal-awal perkuliahan akan ada matrikuasi terlebih dahulu. Matrikulasi ini merupakan ajang "pembekalan" supaya kamu bisa siap untuk mempelajari dan mendalami pelajaran yang akan kamu dapatkan semasa kuliah. Good luck!

  • Deny Arya Wiranata

    Wah mbak Anissa! Salut, untuk cara SMART gw ga bisa berkomentar apa2 lagi. Tapi gw masih agak janggal nih sama penelitian di bagian #1.

    Ini juga berbeda dengan versi TED Talks yang gw denger beberapa waktu lalu dari Carrie Green "Programming Your Mind For Success" dimana disana dikatakan "jika kamu ingin sukses and bahagia, kamu harus mencari tahu apa yang ingin diraih, dan mengapa ingin meraihnya. Kemudian cari teman yang kamu butuhkan untuk membuatnya terjadi dan 'program' your mind untuk membuatnya terjadi." kira2 begitu isinya.

    Satu hal yang menurut gw aneh adalah lingkungan (room) yang dimaksud atau orang lain tersebut seperti apa bahasannya? Jika diibaratkan orang banyak, justru sebelum memulai tapi announce kayak gitu malah membuat kesannya jadi sombong, then you know arrogant person is never being success. Tapi, kalau yang disebut adalah teman sejawat / sahabat (biasanya 1-2 orang) itu udah beda cerita menurut gw, dan itu yang pengen gw bahas.

    Menurut gw ceritain goal ke temen baik gw itu bukan lebih soal pengakuan sosial, tapi bisa menjadi moodbooster buat gw ketika gw berbagi keluh kesah nantinya dalam mencapai itu, supaya gw keep on track. Atau contohnya sama temen2 yang satu goal, kayak belajar sbmptn sama2 konsisten, menurut gw jelas lebih efektif ketika gw belajar bareng (misal pejuang sbmptn alumni) temen2 gw selalu support pastinya, ketimbang sendiri yang kadang banyak males2nya.

    Itu aja sih, kalau gw salah monggo dikoreksi bisa aja ada yang salah sama pemahaman gw hehe.

    • Setahu gue, karena penelitian tersebut adalah penelitian eksperimen, orang-orang yang berinteraksi dengan partisipan merupakan orang-orang yang tidak begitu dikenal oleh partisipan (karena metode pemilihan sample-nya adalah random sampling).

      Maksudnya social acceptance di sini adalah ketika lo ngasih tau ke orang lain bahwa kamu ingin mencapai ini dan ingin mencapai itu. Namun ketika kamu mencari orang untuk menyampaikan keluh kesah lo atau mencari moodbooster, beda ceritanya. Apalagi sampai lo belajar atau ngerjain tugas bareng-bareng. Hal tersebut sudah diluar konteks pembicaraan dari penelitian tersebut; aspek yang dibahas sudah beda.

      Menanggapi apa yang dibicarakan oleh Carrie Green, gue rasa kasusnya juga beda. Yang dijelaskan oleh Carrie Green di video tersebut adalah how to seek a help when you don't know what you will do. Dan gak hanya sekadar sharing tentang "gimana dan mengapa lo harus melakukan hal tersebut", tapi juga ngediskusiin strategi untuk mencapai hal tersebut.

      Sedangkan penelitian yang gue jabarin di atas menjelaskan ketika orang hanya ngasih tau tujuannya dia doang, hanya sekadar ngasih tau, dan nggak berdiskusi. Nah, menurut gue, berdiskusi (in terms of ngerencanain program buat mencapai tujuan lo) bisa lo gabungin sama tips SMART yang udah gue jabarkan. Jadi, diskusiin lah SMART plan lo. 🙂

      • Deny Arya Wiranata

        Oh gitu ya Sa, jadi sebenernya penelitian ini lebih ke awalnya doang ya, perihal announce pengennya lo apa ke orang-orang.

        Pantesan gw mikirnya kayaknya nyimpang kalau udah bahasnya ke moodbooster, rupanya gw salah pemahaman hehe.

        Sip, jadi kayaknya yang gw lakuin di komen gw di atas sebenernya gak salah juga ya, dimana gw cuma bingung langkah kayak apa yang harusnya gw lakuin, seperti yang gw dapet dari video Carrie Green. 🙂

        • Yup 🙂 Good luck yah!

  • fakhri

    Halo Kak Sasa, "gantungkan cita2 mu setinggi langit, jika kamu jatuh maka kamu akan jatuh di antara bintang2" nah gue lagi di bintang2 nih kak wkwkwk, dan gue mau mencoba kesempatan kedua tapi tapi keluarga gue menentang keras keputusan gue ini. apa yg mesti gue lakukan ya?

      • fakhri

        gue udah lama baca yg ini glen, dan gue gagal dalam berdiplomasi ke ortu terus jujur aja gue belum menemukan bidang yg gue jiwai. tapi kalau untuk intesitasnya topik tentang psikologi cukup menarik perhatian gue. dan gue sekarang jadi maba HI di PTN lokal yg gue belum tau akan suka atau tidak. hmm need more advice, sir....

        • Neny Agustina Adamuka

          hi, aku mahasiswa HI UB, menurutku kamu harus mantapin keputusanmu dan jangan terburu dg judgement akan suka atau ngga. untuk masalah HI itu emang bener2 harus passion ya, klo masalahnya bukan di jurusan tapi di PTNnya kayaknya itu bisa kembali lagi ke diri masing2, apapun institusinya cuma kita yang bisa nentuin bakal jadi apa kita , gimana bisanya aja kita ngolah input (materi kuliah ) jadi output (maybe your personal target).
          salam, Neny - Malang. Keep Burning!!!

          • fakhri

            Hy juga neny, gue gk masalah PTN nya kok. Gue milih PTN di luar daerah gue untuk beberapa alasan yg kuat. Maaf tapi gue menolak kasih alasannya, yg jelas gue akan tetap coba tahun depan dgn syarat2 tertentu terpenuhi. Btw makasih tanggapannya ya neny.... 🙂

  • Abdurohman Atsar Q

    *ikut mempertegas, tips #1 kayanya emang mesti dibawa serius . waktu gue jaman smp ( skrg kelas 12 ) pernah ada prinsip pemikirian tersendiri bahwa kalau rencana sering diomongin ke orang , biasanya akhir2 nya malah gagal , itu beneran kejadian . luckily itu waktu masih smp , jadi palingan yg gagal yang ringan2 kaya mau beli ini , mau beli itu , mau olahraga hari ini , atau mau maen ke rumah si ini .
    btw ada temen gue yg sampe akhir2 ini sering banget ngumbar cita2 nya di kelas, tapi agak sembarangan usahanya , kasian juga kan jadinya , mungkin ada kaitannya ama penjelasan diatas .

    • That's true dan cukup banyak penelitian yang mendukung hal tersebut. Ujung-ujungnya lo malah jadi bragging sendiri. Pengakuan sosial ini dampaknya secara gak langsung akan berpengaruh terhadap performa kita. Thanks and keep up your good works 🙂

    • alfinsa

      research kecil2an gua juga sepertinya membuktikan itu dah, bahwa kebanyakan ngumbar rencana2 atau cita2 malah ga ada hasil. ga tau dah kenapa, gua amati di sekitar dan dari gua sendiri pun demikian.

      makanya gua jadi takut ngumbar cita2 XD

  • Amaylia Dwi Wahyuni

    hai kak, artikelnya bagus 🙂 sesuai dengan gejolak yang ada dihati saya*ciyee. tapi kak saya masih bingung nentuin tujuanya dengan SMART karena tujuan saya gampang banget berubah alias masih labil, awalnya sih iya semangat tpi pas denger macem hal ngga enaknya langsung melorot mentalnya. gimana caranya supaya dapet keyakinan lebih dan membuat mental jadi ngga melorot gitu ya kak?

    • Supaya lo tetap bisa mempertahankan mental lo, dari awal lo emang harus settled sama SMART plan lo. Kalau misalnya tujuan lo gampang berubah-ubah, ada kemungkinan bahwa lo belum spesifik nentuin apa yang lo mau/apa yang akan lo lakukan. Semua plan lo diawali dengan step "spesifik" ini. Semakin spesifik, semakin jelas juga lo harus ngapain.
      Ketika lo merancang SMART plan, lo juga harus membuka kemungkinan-kemungkinan lain dalam bikin plan lo. Kemungkinan-kemungkinan yanng gue maksud di sini ya dari kemungkinan berhasil ampe kemungkinan gak berhasil. Jadi, ketika plan A lo gak berhasil, lo bisa mencoba plan B. Dengan kata lain, ketika lo ngedenger macem hal yang nggak enak, lo udah mempertimbangkan hal tersebut dan lo sudah tau gimana caranya mengantisipasi hal tersebut. Selain itu, lo juga bisa sharing ke teman-teman terdekat lo untuk mencari moodbuster, atau minta pendapat lain terkait tujuan-tujuan lo.

      • Amaylia Dwi Wahyuni

        ah terima kasih jawabanya kak akan saya coba 🙂

  • M Syahman Samhan

    Beneran kayak gitu kah? Di kelas gw malah cita2 anak2 sekelas ditempel di tembok :') parahnya, itu usul gw dan respon positif dari temen2 gw. What should i do?

    • Menurut penelitian tersebut: iya. Yang harus lo lakukan? Balik lagi ke elo-nya sih. Lo mungkin bisa mengevaluasi lagi cita-cita lo yang sudah lo deklarasiin ke temen-temen sekelas lo dengan cara bikin SMART plan, supaya lo tau apa yang harus lo lakukan supaya cita-cita lo tercapai. Good luck for that! 🙂

  • Aulia Ts

    bermanfaat banget kak! jadi lebih tau caranya dan semangat buat ngeraih apa yang diimpikan, makasih kak!

    • Sama-sama. Good luck ya 🙂

  • Annisa Mawarni

    Bagus banget ka sasa.. sebenarnya aku jg lg gamang bgt sm tujuan hidup.. sebenarnya yah aku dari dulu mau jadi dokter tapi.... aku sekarang kuliah malah di FT di sebuah PTN di semarang.. aku msh jadi maba sih tapi jujur aku ga sreg bgt di jurusan itu krn ada kata pendidikannya sedang aku ga mau jadi guru.. aku mau ikut sbmptn lagi tapi.....aku takut terlalu ngebenanin ortu... mohon sarannya yah ka.. kaka kan lebih berpengalaman..trims 😀

  • Rony

    kalo mencapai tujuan/sukses gak usah ribet2 apa lagi buat artikel ini wkwk :v...klo mau sukses dan mencapai tujuan itu semua tergantung dirimu nakk bagaimana kamu menjalaninya wkwk..piss :*

    • Hi, Rony! Benar sekali, jika kita ingin sukses dan mencapai tujuan kita, semuanya tergantung dengan bagaimana diri kita menjalaninya. Gue hanya share tips yang bisa mempermudah kalian dalam menjalani lika-liku untuk mencapai tujuan hidup kalian. Good luck, tho! 🙂

  • anon

    wah, kakak salah satu fasilitator di obm ui ya kak?

    • Hi hi! Bukan kok hehehe. 🙂

  • Azmir Gani

    Kak rumus SMART nya keren banget boleh ya aku pake buat presentasi bulanan di sekolah ya. Dan kayak nya keren ni kalau aku berhasil praktekin pasti ada perbuhan besar dalam mencapai tujuan di hidup aku

    • Sip! Silakan digunakan tips dari saya. Semoga berhasil, ya! Senang bisa share hal-hal yang bisa dipraktekin dan bermanfaat untuk pembaca blog zenius! 😀

  • up up up, nice post 😀

    • Thank you 🙂

  • rizaldi

    kak saya angkatan 2014 yang berhasil lulus di hukum undip 2014 lewat sbmptn, tp akhirnya saya milih mundur karena selalu pgn ngejar utk kuliah di sbm itb. Tahun ini saya ikut lagi, dan apesnya saya sakit waktu hari-H sehingga akhirnya gak lulus. Sekarang saya diterima di salah satu politeknik negeri di Bdg dgn jurusan d4 manajemen, tapi tetep aja mimpi tuh ngegantung sama itb dan ngerasa gak puas. tahun 2016 adalah tahun terakhir saya sbmptn, haruskah saya ambil? saya memang ingin kuliah manajemen tp bukan disini, jadwal kuliah saya padet, kira-kira bisa ga ya ngejar sbmptn taun depan? saya cuma pake cd zenius, apa harus saya ikut juga yg online? mohon bantuannya

  • Bogel

    Kak untuk sbmptn 2016 belajar dari materi ktsp bisa gak ?

  • Alif Ahsanil Satria

    Thanks banget artikel nya. Bisa dibilang gw org salah satu yg udah bikin tujuan dengan rumus SMART, Bisa bersikap asertif dengan tidak menceritakan tujuan gw secara berlebihan ke orang lain, bisa menghindari distraction2 yang mengganggu gw. Ya inti nya gua udah nyiapin 1 tahun buat SBM lah. Tapi gw keterima pilihan ke-3 di SBM di salah satu jurusan bidang saintek di UI yg bkn pilihan gw banget. Penyebab nya krn some faktor nonteknis.

    Gw depresi juga kagak keterima di pilihan I ama II, tapi gara2 baca artikel ini gw jadi semangat lagi buat ngejar pilihan gw di SBM tahun depan.

    • Nice to know 🙂 Semoga bermanfaat buat elo dan temen-temen lo, ya! Spread the knowledge! 😀

  • aldi

    Hello ka mau tanya nih, saya kan kelas 12 sekarang mumumpung masih ada waktu nih saya pengen ikutan les online di Zenius, tapi ingin mengefektifkan waktu dalam belajar soalnya tugas sekolah numpuk banget, pulang sih jam 2 tapi harus ngerjain tugas sampe malem abis itu keburu cape deh, nah tolong bantu cara mengefektifkan waktu buat belajar onlinenya dong, butuh konsisten dalam komitmen saya.

  • nadya cm

    sedikit curcol boleh ya ka:)

    saya lulusan smk jurusan tkj tahun 2013
    saya punya cita2 untuk jadi anggota mpr
    dan saya pun punya keinginan untuk bisa berkuliah

    saya tidak tau bakat yang saya miliki itu apa, yang saya tau saya sangat menyukai pelajaran bahasa indonesia, saya hobi membaca apapun itu, suka menonton film & acara tentang kesuksesan/meraih mimpi/motivasi/dll

    saya pernah mengikuti berbagai tes masuk ptn dan semunya gagal
    dari :
    1) snmptn 2013
    *tahun 2014 tidak mengikuti tes apapun karena bekerja
    2) sbmptn 2015 pilih nyebrang jurusan ke soshum pilih sastra indonesia & ilmu komunikasi
    3) penmaba pilih sastra indonesia & ilmu agama islam
    4) umb-ptn pilih 7 ptn ambil sastra indonesia & ilmu komunikasi
    5) um unsoed pilih sastra indonesia & ilmu komunikasi

    yang mau saya tanyakan
    1) adakah yang salah dengan pemilihan jurusan? ataukah peluang smk untuk nyebrang jurusan langsung ke ips itu sangat kecil?
    2) apakah lulusan 2013 masi bisa ikut tes masuk ptn di tahun 2016?
    kalau ada, apakah bisa mendapat keringanan biaya (biaya kuliah sesuai penghasilan orang tua)
    setau saya kelas pararel tidak dapat bantuan biaya malah tidak bisa menyicil dalam pembayaran kuliah
    *saya bukan dari keluarga mampu dan saya pun bukan siswi yang sangat pintar

    3) apa ada ptn yang dapat menerima calon mahasiswinya tanpa melihat tahun kelulusan dan dapat keringanan biaya (sesuai penghasilan orangtua)
    4) jika ptn memang sudah tidak bisa ada usulan untuk masuk pt lainnya?

    terimakasih

    • Linda

      Kalo ikut sbmptn udah gk bisa. Mungkin pts bisa.

  • Nita

    artikelnya bagus kak

  • Tri Wahyuni Puji Lestari

    Terima kasih bgt kak jadi motivasi buat gue. Kak gue mau nanya nih kak, sekarang ini kan gue udh jd maba tp kuliah yg gue jalanin saat ini rekomendasi dr orang tua gue dan gue gabisa nolak gitu kak akhirnya gue jalanin nih sekarang tp rasanya setengah2 gitu kak krn emang bkn dr kemauan sendiri kan. Nah thn depan gue pgn lg coba sbm sm um2, orang tua sih msh ngedukung buat gue coba lagi dgn jurusan yg gue minatin bgt. Menurut lo kak, gue bisa ga ya kak belajar buat sbm sm um2 tp sambil kuliah gini? Tolong dijawab ya kak, biar buat jadi motivasi semangat gue kak!

    Note: td gue udh baca artikel yg belajar sbm sambil kuliah itu kak tp gue kurang puas sm jawabannya, pgn jawaban asli dr lo kak. Terima kasih kakkk:))

  • Harris

    Great artikel Sasa, By the way, perihal share goal, menurut pendapat pribadi gw.

    Emang bener kalo share goal lo itu ke semua orang cenderung gagal, tapi ngga semua orang,
    Well actually gw punya temen yang dari dulu kalo mau apa-apa(set goal) pasti cerita ke semua orang yang hampir dia temui, dan lucunya hampir semua goalnya itu tercapai.
    Emang sih environment yang ngedukung dia, karena Ortu dan sodara-sodara dia suka banget ngucilin dia, dan gw aneh sampe sekarang kenapa itu keluarganya selalu ngucilin dia, padahal doi anak pertama dan pinter banget, sekarang udah punya perusahaan ISP gede di tangerang.

    Kalo gw sendiri lebih suka share goal sama pasangan, karena biar saling motivasi satu sama laen kalo lagi ketemu titik jenuh atau alasan yang ngga masuk akal..

    Dan emang gw juga pernah ngalamin kegagalan karena share goal sama banyak orang, niatnya sih biar dibilang keren, dan emang bener apa yang lo tulis, saat temen-temen lo denger share goal lo dan mereka muji-muji atau bahkan overexcited, yang ada lo bakalan nemuin titik mediocrity dalam pikiran lo, alhasil jadi ngga kenceng deh ngejar goalnya lagi, karena udah ngerasa "diterima" lingkaran sosial kita.

  • Suci Rahma Putri

    kak, soal UN 2015 nya belum ada ya? di sekolah udah bahas2 soal UN nih.

  • syakhshiyyah nadalamits

    cara menghilangkan rasa males gimana sih kak? mau dapet yg di inginkan tapi semangat belajar suka naik turun gt . solusi nyaaa

  • Bagoss, ada referensinya.

  • Wkwkwk. Nice one, gue selalu suka artikel yang bikin kolom diskusi jadi rame. Dalam artikel ini, hal itu terdapat di point "keep your goal to yourself". Artikelnya keren!

  • Nabila Basya

    makasih kak sasa,aku pengen bangt bisa dapat psikologi ui, boleh ngak aku konsul sama kakak?

  • elfa dela rahmanisa

    thanks your information kk, walopun nih tulisan udah lama tapi tetep berguna ampe kedepannya. oo ia kk belum terlambatkan minta sarannya kan?? aku mau nanya, ketika mimpi kita yang udah terlanjur kita bicarain ke orang lain apa perlu kita mereset ulang mimpi-mimpi kita???

  • waah yang masalah gembar gembor impian kayaknya bener ya kak,,aku salah satu orang yg suka ngomongin ke org masalah impian... T_T

  • Fadli Hidayatullah

    Terima Kasih kak atas tulisannya yang menginspirasi.

  • yudhis

    Satu kalimat yang cocok dngan ini n baru baru ini terngiang dikepalaku

    "kamu bisa jadi apa saja di dunia ini , TAPI tidak untuk jadi semuanya "

    so , is it right ??

  • Ria Mlau

    makasih kak
    ngebantu banget

  • Anggi vslla

    Duh makasih bangeet ya kak,gegara kakak aku jadi punya SMART dan semoga bisa ngejalani nya

  • Nur Suci Aulia

    thank you ka sasa. awal sempet bingung gua mau jadi apaan entar, tp pas gua nonton zenius learning dan baca artikel ini gua baru sadar, gua harus ngubah diri gua buat gapai cita-cita gua. makasih banyak ka
    🙂

  • limones hernandez ramona del p

    Saya Ingin menggunakan media ini dalam mengapresiasi Renee Mooney pendanaan setelah ditipu uang saya, dalam waktu kurang dari 24 jam Dia membantu saya keluar. Dia adalah kepercayaan layak dan affordable.Contact nya di (reneemooney@outlook.com).

  • davit raffinto

    Kak menurut kakak kuliah sambil kerja itu possible or no? Terus kalo sambil kerja apa itu nggak ganggu? :v