Punya cita-cita keren? Semangat aja ga cukup, lo butuh strategi!

Untuk mencapai sebuah tujuan, modal semangat saja tidak cukup. Kamu perlu tahu strategi dan langkah-langkah yang tepat sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Halo pembaca Zenius Blog ketemu lagi sama gue, Sasa. Gimana kemarin perayaan tujuhbelasan, ikut lomba apa aja? Masih dalam suasana merayakan kemerdekaan HUT RI ke-70 nih, di antara lo, ada yang pernah denger salah satu kata-kata Bung Karno yang ini gak?

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit!”

Kata-kata itu beliau tujukan untuk membakar semangat kaum muda untuk berani bermimpi. Karena kata-kata itu pula, banyak dari kita yang dari kecil suka ditanyain sama guru dan orangtua cita-citanya kalo udah gede mau jadi apa. Terlepas dari apakah waktu kita kecil udah bisa mikir jauh ke depan, jawaban kita biasanya lumayan klise, dari mulai jadi presiden, jadi dokter, jadi pilot, jadi artis, dan lain sebagainya.

cita-cita

Nah bagi elo para pembaca Zenius Blog yang kebanyakan udah berumur 16-20 tahun, pertanyaan cita-cita ini mungkin gak sesepele waktu dulu masih kecil. Kalo dulu lo mungkin berpikir pertanyaan tentang cita-cita cuma hal pertanyaan basa-basi sambil lalu. Bagi lo yang sekarang di bangku SMA/SMK & sedang mempersiapkan diri buat masuk kuliah, atau lo yang mungkin sekarang lagi menjalani kuliah… pertanyaan soal ‘mimpi’ & ‘cita-cita’ ini mungkin gak ditanyain sama guru atau orangtua lagi, tapi malah ditanyain sama diri elo sendiri…

“Sebenernya gua mau jadi apa sih? Apa yang mau gua lakukan dalam hidup? Ke arah mana tujuan hidup gua ya nantinya?”

Bicara soal cita-cita dan tujuan hidup memang bukan perkara mudah, belum lagi untuk menjalani dan mewujudkannya, itu akan jadi perkara yang jauh lebih sulit lagi. Kalo waktu kecil kita ditanya cita-citanya mau jadi apa, mungkin dengan entengnya kita bisa jawab (misalnya) jadi dokter. Sekarang bagi lo yang masih SMA, bicara soal “gue mau jadi dokter”  bukan jadi sekadar menjawab pertanyaan basa-basi. Karena di umur segitu, lo udah harus mulai mikirin hal-hal yang lebih konkrit supaya bisa beneran jadi dokter, nih gua kasih contoh beberapa hal yang lo harus pikirin kalo lo mau jadi dokter:

  • Lo harus merenungkan baik-baik apakah lo sanggup jadi dokter, sanggup melihat darah, sanggup diberikan tanggung jawab atas nyawa orang lain, sanggup ditelepon jam 3 pagi untuk situasi darurat, dan sebagainya.
  • Udah saatnya lo siap bersaing masuk ke fakultas kedokteran yang (pada umumnya) memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi.
  • Lo harus siap menghadapi kenyataan bahwa waktu kuliah lo akan jauh lebih lama dari temen-temen lo di jurusan lain.
  • Lo harus pastiin orangtua lo sanggup (atau minimal mensiasati) terkait mahalnya biaya kuliah di kedokteran, caranya dapet beasiswa, dan sebagainya…

Empat point di atas mungkin cuma segelintir hal yang perlu lo pikirin kalo misalnya cita-cita lo mau jadi dokter, untuk jadi pilot pastinya ada banyak point lain yang perlu lo pikirin, apalagi kalo lo mau jadi presiden, dan sebagainya.

Terlepas dari itu semua, berani bermimpi dan bercita-cita setinggi langit tentu baik. Tapi keberanian untuk bermimpi itu juga harus diiringi dengan strategi yang mantap juga dari diri lo sendiri. Maksudnya strategi itu gimana? Maksudnya, untuk sekedar punya mimpi dan cita-cita itu mudah, tapi berapa banyak sih orang yang bener-bener mikirin bagaimana cara membangun cita-cita itu supaya punya arah yang jelas, punya tujuan yang konkrit, paham akan setiap konsekuensinya, dan juga dipikirin secara serius tahap demi tahapnya?

Nah, dalam artikel Zenius Blog kali ini, gua mau share beberapa strategi, terkait tentang bagaimana cara kita merancang impian/cita-cita/tujuan yang jelas, yang konkrit, terukur, realistis, dan juga gimana sebaiknya sikap kita dalam proses untuk merealisasikan hal tersebut.

Tapi sebelum gua bahas dengan detail, gua mau disclaimer sedikit dulu. Dalam pembahasan gua di bawah ini, konteks impian, cita-cita, atau tujuan yang gua maksud tidak hanya bersifat jangka panjang saja (seperti misalnya : ingin jadi dokter yang sukses). Tapi bisa berlaku juga untuk tujuan-tujuan yang bersifat jangka pendek, misalnya : ingin menurunkan berat badan dengan target tertentu, belajar bahasa asing sampai betul-betul fasih, dan semacamnya. Oke deh, kita langsung mulai aja yuk pembahasannya!

 

Bangun tujuanmu dengan SMART!

Terlepas dari apakah tujuan lo jangka pendek atau jangka panjang, jadilah orang yang ‘cerdas’ dalam menentukan apa tujuan lo, apa yang lo mau, dan apa yang perlu lo pikirkan terkait hal itu. Emang gimana sih tujuan yang ‘cerdas’ itu? Ini rumus yang menurut gua penting banget:

  1. Specific

  2. Measurable

  3. Action-Oriented

  4. Realistic

  5. Time-Oriented

1. Make it more Specific!

Pada saat kita menentukan arah tujuan kita, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tujuan itu harus spesifik. Karena kebanyakan orang pada umumnya, membuat tujuan yang terlalu general, misalnya dalam menentukan tujuan jangka panjang “Gua mau menjadi orang sukses!”. Nah, we have to be specific here. Ketika lo nentuin bahwa apa yang lo mau adalah “jadi orang sukses”, lo harus mendefinisikan dengan lebih jelas lagi, emang “sukses” itu apa, sih? Punya banyak uang? Punya kekuasaan dan pengaruh atas banyak orang? atau apa? Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri tentang kesuksesan.

Nah, semakin elo belibet ngomongin tentang apa yang lo mau, dan semakin banyak hal-hal yang lo butuhin untuk mencapai apa yang lo mau, artinya rencana awal elo itu belum cukup spesifik. Mungkin aja, lo sebenernya tujuan lo gak bisa secara mudah direpresentasikan oleh kata “sukses”, tapi setelah lo renungkan, tujuan lo sebetulnya sederhana, yaitu (misalnya) memiliki penghasilan di atas 20 juta per bulannya. Nah kalau gini kan jadi lebih spesifik.

Contoh lainnya misalnya tujuan lo (kali ini bersifat jangka pendek) “gue mau jago berbahasa inggris!” Nah, tujuan ini bisa lebih dijabarkan lagi pada hal-hal yang lebih spesifik. Misalnya lo coba uraikan 4 keterampilan berbahasa Inggris, yaitu nulis (writing), baca (reading), denger (listening), ama ngomong (speaking). Dari keempat keterampilan berbahasa ini, lo mau fokusin di keterampilan yang mana? Kalo lo pengen jago di semua keterampilan tersebut? Sah-sah aja! Coba lo urutkan sejauh ini lo paling jago di keterampilan yang mana, dan paling lemah di mana. Di situ lo bisa bikin prioritas dan tau kira-kira di mana lo harus investasikan waktu dan energi lo lebih banyak untuk mengasah masing-masing keterampilan tersebut. Dengan merancang tujuan yang lebih spesifik, lo bisa lebih jeli melihat upaya-upaya yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut..

2. Make sure your goal is Measurable!

Pastikan lo punya tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yg mau lo capai. Kalo (misalnya) lo mau jadi orang ‘kaya’, jadikan kekayaan itu bisa diukur dengan jelas. ‘Kaya’ itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa dianggap kaya? atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya :

‘Gue mau kuliah gua lancar dan lulus dengan nilai bagus’

jadikan lebih terukur dan punya indikator yang jelas jadi kayak gini…

‘Gua mau lulus kuliah 4 tahun dengan nilai IPK minimal 3.00’ 

contoh lain misalnya gini :

‘Gue mau memperbaiki hubungan dengan pasangan jadi lebih harmonis’

pastikan itu jadi ‘measurable” jadi gini…

‘Gue mau meminimalisasi frekuensi pertengkaran dengan pasangan jadi maksimal hanya 1x dalam 3 bulan.’

Okay, sekarang kebayang kan maksudnya ‘measurable‘ itu apa? Jadikan setiap tujuan lo itu bisa terukur dan punya indikator yang jelas! Pada contoh yang pertama, gua merubah kata-kata “lancar” dan “bagus” dengan membuat 2 indikator yaitu waktu “lamanya proses kuliah” dan “nilai IPK”. Sementara pada contoh yang kedua, gua merubah “harmonis” jadi punya indikator “frekuensi pertengkaran”. Dengan lo membuat tujuan lo lebih terukur dan punya indikator, maka lo akan lebih mudah bisa mengevaluasi sudah sejauh mana lo mencapai tujuan lo tersebut.

3. Can you put it into Action?

Okay, setelah lo membuat tujuan lo secara spesifik, terukur, dan punya indikator yang jelas. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tujuan lo ini bisa diuraikan menjadi langkah-langkah yang jelas bentuk aktivitasnya seperti apa. Ini merupakan salah satu elemen yang paling penting sekaligus paling sering diabaikan. Kalo kita menentukan tujuan udah oke, terukur, dan punya indikator tapi bentuk aktivitasnya gak jelas juga percuma aja.

Sebagai cerita selingan aja nih, ada sebuah penelitian  yang  dilakukan oleh beberapa psikolog pendidikan mengenai performa akademik dari mahasiswa-mahasiswa di Universitas McGill. Nah, si psikolog ini pengen nyari tau : Apakah peningkatan performa nilai akademis punya korelasi yang tinggi jika mahasiswa bener-bener nyusun, menjabarkan dengan detail, dan mikirin langkah tahap demi tahap untuk meningkatkan nilai-nilai mereka.

Jadi, psikolog ini mengambil sampel dari 85 mahasiswa yang IP-nya di bawah 3.00 (kita asumsikan saja bahwa IP di bawah 3.00 itu tergolong mahasiswa yang kurang berprestasi). Dari 85 mahasiswa itu, kemudian dibagi nih jadi dua kelompok dengan proporsi orang yang sama. Satu kelompok disuruh untuk ngejabarin hal-hal spesifik apa yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan performa akademis mereka, dan satu lagi nggak disuruh untuk ngelakuin hal tersebut.

Hasilnya? Kelompok yang diminta untuk nyusun, ngejabarin dengan detil, dan mikirin performa akademik mereka, memiliki IP yang meningkat secara signifikan di semester selanjutnya daripada yang gak disuruh ngapa-ngapain! Kesimpulannya gimana? Ternyata dengan ngejabarin hal tersebut, mereka jadi tau mereka harus ngapa-ngapain aja untuk ningkatin nilai akademis mereka,  mereka butuhin apa aja, dan  mereka juga jadi punya gambaran yang semakin jelas terkait apa yang akan mereka lakukan. Makin jelas rencana dan step-step yang akan lo lakuin, maka akan semakin besar pula peluang lo untuk mendapatkan tujuan lo. Nggak ada lagi tuh pertanyaan “duh habis ini gue harus ngapain ya?”

Bentuk aktivitas itu kesannya mungkin sepele tapi justru jadi kunci utama untuk mewujudkan tujuan lo. Contohnya nih, misalnya tujuan lo adalah untuk bisa lolos seleksi SBMPTN atau UM supaya bisa kuliah di PTN impian lo. Tujuannya udah cukup spesifik, indikatornya juga jelas, action-nya gimana?

  • Pikirin berapa banyak bahan materi yang perlu lo pelajari untuk ujian seleksi SBMPTN dan UM
  • Bikin jadwal belajar yang ketat sesuai dengan siswa waktu yang tersedia
  • Buat target try out sesuai dengan passing grade jurusan yang jadi tujuan kuliah lo
  • Belajar yang rajin dan tekun, serta pastikan semua materi yang diperlukan bisa dipelajari dengan batas waktu yang tersisa.
  • Upayakan try out sebelum SBMPTN selalu mencapai target passing grade minimal untuk tembus di jurusan yang lo inginkan, dsb…

Naaah… kalo lo bisa menjabarkan apa aja aktivitas yang perlu lo jalani untuk mencapai tujuan lo, kan jadi jauh lebih jelas arah action-nya kemana. Usaha dan waktu lo juga jadi lebih terarah untuk melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan tujuan lo, sekaligus menjadikan aktivitas tersebut sebagai hal prioritas dibandingkan aktivitas lain dalam keseharian lo.

4. Be Realistic!

Terlepas dari apapun tujuan lo, pastikan hal itu sesuatu hal yang realistis. Realistis di sini bukan bermaksud discourage elo supaya jangan punya mimpi yang setinggi langit yah. Menentukan tujuan dengan realistis maksudnya adalah: menentukan target yang wajar dalam setiap langkah-langkah yang perlu lo ambil dalam upaya mewujudkan impian lo. Jangan belum apa-apa udah muluk mematok target yang terlalu tinggi, nantinya proses upaya lo semakin ngawang-ngawang. Contoh nih, tujuan jangka panjang lo adalah: menjadi musisi Indonesia yang sukses dengan total penjualan album menembus 1 juta kopi!

Dalam upaya untuk mewujudkan impian lo ini, jangan sampai belum apa-apa lo udah buru-buru ikut audisi, rekaman bikin album, terus bersaing dengan band-band dan musisi ngetop Indonesia.. ya pasti lo akan kalah sama para musisi lain yang udah jauh lebih berpengalaman. Lo harus lebih realistis untuk menentukan langkah dan target-target awal yang harus lo raih. Misalnya nih.. untuk awal-awal target lo (yang realistis) adalah: bikin youtube channel terus rekam diri lo sendiri bermain musik, targetkan per video minimal 10.000 views dan 90% komentar dari audience positif terhadap karya musik lo. Nah, baru setelah lo sukses dengan langkah awal ini, lo baru bisa punya target-target baru yang lebih tinggi (tapi tetap realistis) dengan kapasitas lo yang sekarang.

Dalam arti yang lain, menjadi realistis juga bisa diartikan dengan menyesuaikan target-target awal lo dengan mempertimbangkan segala sumber daya di sekitar lo yang bisa dengan relatif mudah elo jangkau. Sumber daya yang gua maksud ini bisa jadi uang, waktu, tenaga, koneksi, peluang, lingkungan pergaulan yang mendukung, akses pada peralatan yang mendukung, dan sebagainya. Dalam konteks contoh menjadi musisi tadi, mungkin upaya untuk langsung masuk ke dapur rekaman belum realistis untuk sekarang karena lo belum punya sumber daya (koneksi, populeritas, uang dll) untuk bisa masuk ke dapur rekaman. Sementara itu, untuk langkah dan target awal, lo bisa memanfaatkan teknologi dengan upload karya musik lo di youtube atau di soundcloud. Baru setelahnya lo menargetkan sesuatu yang lebih tinggi.

5. Time-Oriented!

Element terakhir dari SMART adalah Time atau Waktu. Setelah lo punya tujuan yang spesifik, terukur, realistis, dan aktivitas yang jelas. Langkah berikutnya lo harus punya target waktu yang jelas! Di video Zenius Learning Sabda di zenius.net lo mungkin pernah denger pesan doi yang kurang lebih isinya begini: “Sadari bahwa waktu lo di dunia ini terbatas, dan lo gak mungkin bisa melakukan segala hal yang lo inginkan. Oleh karena itu, tentukanlah prioritas!”

Yak waktu lo memang terbatas! that’s why lo harus punya tolak ukur waktu yang jelas juga untuk setiap aktivitas dan tujuan lo. Dari mulai kapan lo mau mulai melakukan hal itu, sampai kapan target waktu yang lo tentukan agar tujuan lo tercapai. Misalnya nih, lo punya tujuan untuk bisa fasih dalam berbahasa Inggris. Lo udah tentuin aktivitas yang jelas untuk mencapai tujuan lo itu, dari mulai belajar grammar, vocab, membiasakan diri dalam dengerin orang ngomong Inggris (listening), baca buku bahasa inggris (reading), sampai berani nulis (writing) dan ngomong pake bahasa inggris (speaking).

Tapi terlepas dari semua langkah dan serangkaian aktivitas itu, kalo gak ditentukan oleh batasan waktu yang jelas… seringnya bakalan molor terus dan akhirnya beneran gak tercapai. Jadi langkah terakhir yang perlu lo lakukan adalah menentukan kapan lo mulai melakukan aktivitas tersebut, dan kapan target waktu lo untuk mencapai hal itu semua. Dengan lo memiliki target waktu yang jelas. Lo jadi bisa evaluasi diri lo sendiri secara berkala, udah sejauh mana proses lo dalam mewujudkan impian dan cita-cita lo?


****

Okay, itulah sedikit pembahasan gua tentang strategi menentukan tujuan dan menjalaninya dengan prinsip S.M.A.R.T. Moga-moga sharing dari gua bermanfaat buat lo semua yak! Oh ya, terlepas dari prinsip SMART, gua mau sharing 3 TIPS lagi yang gak kalah penting buat lo simak terkait upaya lo dalam mewujudkan tujuan, goal, impian atau cita-cita lo. Berikut adalah 3 TIPS dari gue

TIPS #1: Jangan gembar-gembor sama orang lain tentang apa yang jadi impian lo, keep it for yourself!

Banyak orang berpikir kalo kita menginginkan sesuatu, salah satu cara mewujudkannya adalah dengan bicarakan hal itu dengan orang lain. Mungkin harapannya, semakin sering kita curhat tentang cita-cita kita, maka dukungan dari lingkungan sekitar akan semakin banyak. Tapi seorang bernama Derek Siver melakukan riset terkait hal ini: Berdasarkan penelitian dia, ternyata, orang yang menyimpan tujuan, goals, cita-cita, atau impiannya untuk dirinya sendiri itu jauh lebih cenderung untuk berupaya mewujudkan hal tersebut ketimbang orang yang suka ngomongin tentang cita-citanya itu ke orang lain.

Nah lho, lo termasuk orang yang sering ngomongin hal itu ke orang lain atau nggak? Mulai sekarang, kalo lo berambisi akan sesuatu, gak perlu diceritain ke orang-orang dulu yah. Keep it for yourself atau at least ke beberapa orang-orang terdekat aja. Kalo lo penasaran, gimana riset Derek Siver, lo bisa tonton video di bawah ini:

Jadi, ada sebuah penelitian di mana 163 orang diminta untuk menjalani tes yang terpisah. Setiap orang diminta untuk menuliskan tujuan pribadi mereka di sebuah kertas. Setelah itu, peneliti meminta sebagian dari orang-orang tersebut untuk mengutarakan tujuan mereka (sampel A), dan sebagian lagi gak ngasih tau tujuan mereka (sampel B). Habis itu, mereka dikasi waktu selama 45 menit untuk ngerjain pekerjaan yang relevan sama tujuan pribadi mereka (misalnya kalo tujuan mereka mau menurunkan berat badan, mereka disuruh olahraga naik sepeda statis).

Dalam proses itu, mereka dikasi tau kalau misalnya mereka bisa berenti kapanpun mereka mau. Orang-orang yang ngasi tau tujuan pribadi mereka rata-rata berhenti di menit ke-33, sementara orang-orang yang ga ngasih tau tujuan mereka, ngehabisin  rata-rata 45 menit!

Menariknya lagi, ketika sampel A ditanya gimana rasanya setelah melakukan kegiatan itu, mereka bilang kalau mereka merasa sudah cukup dan sudah deket dalam mencapai tujuan mereka. Sebaliknya, ketika sampel B ditanya setelah kegiatannya selesai, mereka bilang kalau mereka ngerasa bahwa mereka masih jauuuh banget dari tujuan mereka.

Kenapa bisa gitu? Ternyata orang-orang yang ngasih tau tujuan mereka ke orang lain itu ngerasa mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan mereka. Penelitian-penelitian psikologis terkait hal ini ngebuktiin bahwa semakin lo ngasi tau tujuan-tujuan lo kepada orang lain, semakin kecil juga kegigihan lo untuk mewujudkan hal tersebut karena lo merasa sudah mendapatkan apa yang lo inginkan (which is pengakuan sosial). dalam proses usaha yang sebetulnya belum seberapa.

TIPS #2 : Kurangi kegiatan yang tidak relevan dengan upaya lo untuk mewujudkan impian/cita-cita lo.

Salah satu faktor yang paling sering bikin lo gagal menjalani apapun tujuan lo adalah : kecenderungan untuk merespon distraction / gangguan. Contoh sederhananya nih, kalo tujuan lo adalah untuk meningkatkan nilai akademis, dan aktivitasnya jelas-jelas adalah BELAJAR… tapi lo kurang konsisten dan komitmen terhadap tujuan lo itu. Jadinya begitu ada distraction (misalnya ada temen ngajak main ke mall, nongkrong gak jelas, ngabisin waktu main kartu/game, dsb). Nah, saran gua sih… jangan segan-segan untuk nolak godaan-godaan dari lingkungan lo yang berpotensi untuk ngehambat produktivitas elo. Jangan sampai hal-hal kecil ngalihin perhatian dari apa yang udah lo rancang sebelumnya.

Jadi, bijak-bijaklah memilah, mana yang relevan sama tujuan yang udah lo rancang (dengan rumus SMART) sebelumnya. Pastikan fokus lo adalah untuk mewujudkan tujuan itu, dan hindari (atau senggaknya kurangilah) kegiatan lain yang kura relevan. Jangan biarkan diri lo malah terlalu kelimpungan dalam proses pencapaian tujuan tersebut. Bikin skala porsi yang jelas dalam menghabiskan waktu keseharian lo, dan pastikan kegiata-kegiatan yang produktif berada dalam skala prioritas yang lebih banyak daripada kegiatan yang tidak relevan.

TIPS #3 : Tanggapi kegagalan dengan cara yang bijak!

Lo udah bikin tujuan dengan rumus SMART, lo juga udah bersikap asertif dengan tidak menceritakan tujuan lo secara berlebihan ke lingan lo, dan lo juga udah berusaha untuk menghindari distraction yang gak relevan sama tujuan lo…. eh tau-tau ternyata lo belum berhasil-berhasil juga untuk mencapai tujuan yang udah lo rumusin sebelumnya.

In this case, mungkin kalimat “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda” itu terlalu klise buat lo. Tapi satu hal yang mau gua tekankan adalah: dalam proses kita mencapai sesuatu, trial and error merupakan hal yang sangat wajar terjadi dalam siklus kehidupan kita. Siapa sih orang di dunia ini yang ga pernah gagal? Thomas Edison itu gagal sampai 10.000 kali untuk nemuin yang namanya bohlam lampu, Steven Spielberg pada awal karirnya ditolak oleh 3 sekolah film karena dia dianggap gak layak, Walt Disney sering dihina sebagai orang yang ga kreatif… Kadang yang bedain orang sukses dan gagal itu sesederhana bagaimana kita merespon kegagalan.

Mungkin pada awalnya emang berat untuk menerima kegagalan, tapi  jangan terlalu berkutat pada rasa putus asa yang berlarut-larut, cobalah untuk menerima kalau kita emang gagal (untuk kali ini) dan mungkin kurang optimal dalam berjuang. Setelah itu, coba kita mulai evaluasi apa yang telah kita kerjakan. Ingat, trial and error adalah hal yang wajar dan bahkan merupakan komponen penting dari proses pembelajaran kita terkait hal-hal yang kita lakukan.

****

Okay, sekian sharing dari gue, semoga apa yang gue share di tulisan ini sedikit membantu kalian semua dalam ngehadapin pahitnya kehidupan. Kalo ada yang mau ngobrol-ngobrol sama gua bisa tinggalin komentar di bawah artikel ini yak!

Referensi:
Morisano, D., Hirsh, J. B., Peterson, J. B., Pihl, R. O., & Shore, B. M. (2010). Setting, elaborating, and reflecting on personal goals improves academic performance. Journal of Applied Psychology, 95(2), 255.)
http://www.ted.com/talks/d erek_sivers_keep_your_goals_to_yourself

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol sama Sasa tentang rumus SMART atau tips untuk mewujudkan tujuan, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.