Apa betul hewan purba itu moyangnya hewan sekarang? Tahu dari mana?

Apa betul hewan purba itu moyangnya hewan sekarang? Tahu dari mana?

Halo Guys, ketemu lagi dengan gue, Ijul. Kalo pada artikel sebelumnya, Ivan udah sempat ngebahas tentang Gimana caranya ilmuwan tau umur dari fosil yang ditemukan. Gue jadi ikutan gemes sekaligus tertantang untuk ngebahas topik yang sama tapi dari sudut pandang disiplin ilmu yang beda, yaitu Biologi.

Sebagai pelajar yang dari kecil udah dicekokin berbagai ilmu pengetahuan, lo mungkin udah gak asing dengan pengetahuan tentang dunia masa lampau. Pengetahuan dunia tentang masa lampau bisa dikemas dalam bentuk rantai informasi sejarah yang seru banget. Dari mulai kondisi peradaban manusia, bentuk iklim di masa lampau yang ekstrim, sampai keanekaragaman hayati makhluk hidup di masa lalu yang melambungkan imajinasi kita untuk terpesona dengan kisah tentang dinosaurus, manusia purba, sampai mamalia besar yang sudah punah seperti stegodon, diprotodon, mammoth, sabertooth, dkk.

Tapi pernah gak sih lo wondering kok tayangan dokumenter di Discovery Channel, History Channel, NatGeo, bisa menggambarkan keanekaragaman hayati di masa lalu sampai tau hal sedetail itu? Emangnya para produser dan sutradaranya ngeliat langsung manusia purba sama Mammoth puluhan ribu tahun yang lalu? Terus siapa dong yang ngasih tau sutradaranya, ilmuwan? Emang ilmuwan tau dari mana? Dari fosil yang ditemukan? Emangnya cuma dari sekumpulan tulang belulang begitu, kita bisa tau bentuk hewannya kayak gimana?

Bahkan, dalam beberapa tayangan serial dokumenter sejarah binatang begitu, ada yang menyebutkan bahwa fosil hewan dari jutaan tahun yang lalu, adalah nenek moyang dari hewan zaman modern sekarang - padahal bentuknya beda banget. Misalnya fosil dari hyracotherium (+50 juta tahun yang lalu), tau-tau ilmuwan menyimpulkan bahwa fosil mamalia kecil (40 cm) itu adalah nenek moyang dari kuda. Padahal dari bentuknya aja udah beda banget sama kuda zaman sekarang, malahan bentuknya lebih mirip sama kancil daripada kuda. Ini para ilmuwan cuma ngibul doang kali ya? Rasanya nggak masuk akal banget kan kalo hewan seperti kancil gitu adalah nenek moyang dari kuda?

Hyracotherium
Illustrasi perbandingan antar kuda zaman modern (kiri) dengan spesies bernama Hyracotherium, yang diperkirakan hidup 53 juta tahun yang lalu © Danielle Byerly, University of Florida.

Okay, dalam artikel zeniusBLOG kali ini, gue akan mencoba mengupas metode seperti apa sih yang digunakan oleh para ilmuwan untuk bisa mengetahui kekerabatan antar species? Gimana caranya ilmuwan tahu bahwa fosil hewan yang ditemukan memiliki kekerabatan dengan hewan zaman sekarang? Termasuk juga cara para ilmuwan menganalisa bentuk hewan masa lalu itu hanya dari fosil yang ditemukan. Bahkan lebih jauh lagi, para ilmuwan juga bisa memperkirakan keadaan lingkungan di jaman makhluk tersebut hidup, umur ketika hewan tsb mati, kondisi kesehatannya, apa makanannya, dsb.

Nah, kalo pada artikel lalu Ivan ngebahas tentang metode Radiometric dating dan stratigrafi untuk mengetahui umur dari fosil yang ditemukan. Sekarang gue akan melengkapi dengan menjelaskan:

  1. Metode analisa DNA - pendekatan genome maping.
  2. Membandingan morfologi, fisiologi, dan anatomi antar fosil.

Nah, tapi sebelum kita masuk ke penjelasan mengenai kedua metode ini, mau nggak mau gue harus pastiin dulu lo memahami konsep genetika dasar (A) yang menjelaskan tentang pewarisan sifat dari makhluk hidup ke keturunannya. Selain itu, lo juga harus paham konteks dari "hubungan kekerabatan (B)" yang mau gue bahas di sini. Dalam arti, pemahaman biologis tentang "kekerabatan" mungkin berbeda dengan konteks umum yang diketahui oleh orang awam. Jadi, supaya nggak sampai salah paham, gue perlu menjelaskan dua hal itu dulu sebelum masuk ke metode.

A. Konsep Dasar Genetika

Sebelum membahas tentang bagaimana analisa DNA dan pendekatan genetik bisa digunain untuk memecahkan seperti apa mahluk hidup yang ada di masa lalu, dan bagaimana tingkat kekerabatannya dengan spesies hewan jaman sekarang. Gue mau jelasin dikit tentang konsep dasar genetika dan biologi molekuler dulu, supaya lo ada gambaran tentang apa itu DNA, apa itu gen, dsb.

Sekarang, coba lo bayangin bahwa diri lo adalah citra dari sekumpulan data dan informasi, dimana bentuk data/informasi yang menyusun makhluk hidup disebut dengan istilah gen. Gen adalah unit terkecil yang membawa informasi dari seluruh identitas lo sebagai organisme. Dari bentuk fisiologis seperti warna kulit, bentuk rambut, golongan darah lo, tinggi badan, sampai kecenderungan sifat, risiko penyakit turunan, dsb semua ditentukan oleh rantai informasi dalam gen.

Pada makhluk eukarya (mahluk hidup yang memiliki inti sel), gen dapat ditemukan pada inti sel dan mitokondria. Sementara pada organisme fotosintetik, gen juga dapat ditemukan pada kloroplas. Gen itu sendiri terdiri dari molekul molekul DNA yang tersusun oleh molekul-molekul pospat, asam deoksiribosa, dan basa nitrogen. Molekul DNA ini membentuk untaian panjang yang berbentuk tangga berpilin, lalu untaian tersebut membentuk kromosom yang berada di dalam seluruh sel. Nah kumpulan kromosom yang mengandung rantai DNA dan kode genetik dalam satu spesies mahluk hidup itu disebut Genome.

Biar lebih kebayang hubungan antara inti sel, kromosom, DNA, dan gen. Lo bisa lihat illustrasi di bawah ini.

konsep dna
Illustrasi hubungan gen-dna-kromosom-sel

Nah, terus gimana sih informasi di dalam gen ini menentukan bentuk makhluk hidup? Sebetulnya agak ribet untuk nerangin ini dalam bentuk tulisan, jadi gue saranin lo untuk nonton 3 track video penjelasan tentang genetika yang udah dijelasin Pras di zenius.net. Tapi, secara singkat (banget) intinya begini: Urutan DNA di dalam inti sel bakal di transkripsi menjadi mRNA yang bisa dikeluarin dari inti sel ke sitoplasma. mRNA yang dihasilkan dibaca oleh organel bernama ribosom dan berdasarkan urutan DNA tersebut, Ribosom bekerja sama dengan tRNA untuk membentuk urutan-urutan asam amino yang nantinya akan disempurnakan menjadi protein di organel yang bernama RE kasar.

Nah, si protein ini bisa dibilang sebagai "mesin-mesin" terkecil untuk menjalankan sel-sel mahluk hidup, protein bisa jadi enzim atau jadi "building blok" yang membentuk organ manapun, dari mulai pembuatan tulang, bikin rambut, bikin mata, waktu dalam kandungan, dsb. Itulah (singkatnya) gimana gen menentukan bentuk morfologi makhluk hidup. Bingung? Makanya coba nonton video Pras di zenius.net aja biar dapet penjelasan yang lebih detail.

 

B. Pengertian "Kekerabatan" Antarspecies

Oke, setelah lo ngerti tentang konsep dasar genetika, gue mau bahas dikit apa yang dimaksud dengan istilah "kekerabatan" dalam artikel ini. Maksudnya kekerabatan di sini adalah, bahwa hubungan spesies dengan spesies lain pada prinsipnya ada 2, yaitu:

  1. Direct ancestor (hubungan nenek moyang) contohnya serigala adalah nenek moyang dari segala jenis varian spesies anjing.
  2. Common ancestor (2 atau lebih spesies yang memiliki nenek moyang yang sama) contohnya harimau, singa, dan beruang dulunya berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Dormaalocyon latouri yang hidup sekitar 56 juta tahun yang lalu)

Bentuk dua jenis kekerabatan ini bisa terjadi karena proses evolusi, di mana spesies baru merupakan bentuk mutasi dari spesies sebelumnya yang bertahan hidup dalam seleksi alam.

mekanisme evolusi

llustrasi di atas itu maksudnya gini, jika ada spesies yang punya 1 gen kotak berwarna biru. Kalo spesies itu kawin antar sesama spesiesnya, maka gen itu akan turun juga ke anak-anaknya. Tapi kadang, terjadi mutasi yang menghasilkan gen yang berbeda. Hasil dari mutasi ini akan membuat variasi yang baru di dalam spesies tersebut. Contohnya seperti animasi di atas pada awalnya tidak ada variasi bulat hijau, namun akibat ada mutasi muncul variasi bulat hijau. Mutasi ini terjadi secara acak akibat kesalahan dalam penggandaan kode genetik di dalam mahluk hidup. Hasil dari mutasi itu sendiri bisa berefek netral, berefek negatif, dan bisa juga berefek positif. Hasil mutasi yang bersifat positif dapat membantu si spesies melewati proses yang namanya seleksi alam. Gen hasil mutasi yang gagal (negatif) itu akan punah sementara yang berhasil (positif) akan terus bertahan. Nah jika variasi baru yang muncul ini selalu kawin dan menghasilkan keturunan dengan sesama variasi baru secara terus menerus (variasi bulat hijau kawin dengan sesama bulat hijau), dalam jangka ribuan generasi ada kemungkinan variasi bulat hijau ini dapat menjadi spesies yang berbeda dari kotak biru.

Dalam konteks ini, spesies yang membawa gen warna biru kotak adalah leluhur (direct ancestor) dari spesies yang membawa gen bulat hijau. Di sisi lain, katakanlah spesies yang membawa gen segitiga merah itu berhasil bertahan dan menjadi spesies baru, maka bisa dikatakan bahwa hewan dengan gen kotak hijau itu adalah common ancestor atau nenek moyang yang sama dari spesies yang membawa gen bulat hijau dan segitiga merah. Nah, kurang lebih itulah yang gue maksud dengan konsep "kekerabatan" antarspecies dalam konteks Biologi.

1. Metode Analisa DNA

Nah, setelah lo paham kenapa kode genetik mengatur seluruh sifat dan bentuk dari mahluk hidup dan juga pengertian "kekerabatan" antar species. Baru deh sekarang gue akan bahas tentang pendekatan metode analisa DNA untuk mengetahui kekerabatan antar spesies, khususnya spesies purba dengan spesies jaman sekarang.

Berdasarkan pemahaman lo tentang genetika dan bentuk kekerabatan di atas, secara sederhana kita bisa mengatakan kalo saja para ilmuwan itu bisa dapet sampel kode genetik lengkap (genome) dari suatu mahluk hidup, maka para ilmuwan juga bisa tau informasi detail tentang mahluk hidup tersebut. Pendekatan yang sama juga dilakukan dalam menganalisa fosil. Dari fosil makhluk hidup yang ditemukan, lo bisa mengambil sampel DNA dari tulang, kuku, rambut, atau segala bentuk sisa apapun dari fosil tersebut.

Kalo para ilmuwan udah berhasil mengisolasi DNA sampel dari fosil, mereka akan melakukan metode genetic sequencing atau penjabaran urutan DNA. Untuk menggambarkan proses DNA sequencing emang rada ribet, tapi akan gue coba jelaskan secara sederhana.

Langkah pertama adalah dengan memperbanyak DNA sampel, caranya gimana? Caranya dengan mencampurkan DNA sampel dengan DNA polymerase (enzim untuk mereplikasi DNA). Dengan memperbanyak DNA sampel, para ilmuwan jadi lebih leluasa untuk menganalisa lebih detail.

Setelah ilmuwan udah punya cukup banyak sampel DNA untuk dianalisa, kemudian DNA tsb dimasukin ke 4 tabung berbeda. Di setiap tabung tersebut dikasih primer (atau template untuk replikasi DNA), enzim DNA polimerase dan kumpulan nukleotida bebas dengan basa nitrogen A,T,G, C yang nanti bakal menyusun DNA. Kenapa kok harus dibagi jadi 4 tabung?

Perbedaannya ada di komposisi basa nitrogen yang di berikan tiap tabung. Di tabung yang pertama ditambahkan juga nukleotida dengan basa nitrogen A yang dimodifikasi. Pada tabung kedua ditambahkan nukleotida dengan basa nitrogen T yang dimodifikasi, pada tabung ketiga ditambahkan nukleotida dengan basa nitrogen C yang termodifikasi, dan di tabung keempat ditambahkan nukleotida dengan basa nitrogen G yang termodifikasi.

Nah, Nukleotida dengan basa nitrogen yang termodifikasi ini berperan untuk memberhentikan pembentukan DNA oleh DNA polimerase. DNA yang sudah terpisah itu baru dapat bisa "dibaca" dan "diterjemahkan" oleh para ilmuwan untuk bisa menggambarkan bentuk makhluk hidup itu secara detail dan utuh. Supaya lebih jelas, lo bisa liat gambar dan video di bawah.

Okay, setelah ada gambaran tentang metodenya, sekarang gimana tentang implementasi metode gen-sequencing ini untuk mengetahui kekerabatan hewan yang terfosilisasi dengan hewan zaman sekarang?

Penerapan gen-sequencing untuk melihat tingkat kekerabatan antar species.

Okay, setelah lo punya gambaran kasar tentang metode penjabaran urutan DNA, kira-kira gimana bentuk implementasinya? Dalam penerapannya, sebetulnya metode ini 'ga segampang itu' untuk dilakukan, apalagi untuk meneliti sampel DNA yang sudah purba. Kenapa karena DNA yang ada dalam fosil itu sudah udah ribuan tahun dibiarin di alam dan gak diawetkan dengan baik, jadi pasti kondisi DNA-nya beragam, ada yang udah rusak. Tapi kalo beruntung, bisa juga dapet yang kondisinya masih bagus. Kebanyakan sampel DNA yang bagus itu didapat dari fosil yang kebetulan terawetkan dalam kondisi permafrost (suhu beku) sehingga laju degradasi DNA lebih lambat.

Tapi bukan berarti DNA yang 'rusak' itu karena sudah termakan umur tidak bisa disiasati sama sekali. Para ilmuwan bahkan mengkategorikan jenis kerusakan, efeknya terhadap DNA, dan alternatif solusi yang bisa dilakukan. Untuk info selengkapnya, bisa lo lihat pada tabel di bawah ini :

damage dna

Sekarang, coba kita asumsikan deh, bahwa para ilmuwan menemukan DNA berkualitas baik dari fosil hewan yang membeku di kutub utara. Dari DNA tersebut kita bisa memetakan genome (DNA lengkap) lalu menguraikan informasi tersebut dan mengetahui ciri-ciri fisik makhluk hidup tersebut. Mungkin di antara lo ada yang mempertanyakan:

“Lah itu kan DNA purba, emangnya DNA purba cara kerjanya sama dengan DNA di zaman sekarang?”

Inget Coy, DNA boleh purba, tapi prinsipnya tetep sama, prinsipnya adalah: DNA diekspresikan dengan pembentukan protein, protein itu dibentuk dari untaian asam amino, dan untaian asam amino ini dibentuk sesuai dengan urutan si DNA itu. Si urutan asam amino itu nanti bakal diubah jadi protein aktif. Pembentukan Protein dari DNA manapun dan di zaman manapun selalu memiliki prinsip yang sama.

Dengan membandingkan genome antar spesies, kita bisa mengetahui tentang kekerabatan antar spesies. Mungkin dengan logika sederhana aja lo bisa tau gimana caranya. Caranya bener-bener ngebandingin urutan DNA nya. Semakin banyak urutan DNA yang sama maka semakin berkerabat lah spesies tersebut.

Contohnya sekarang ini kita udah bisa menganalisa tingkat kekerabatan antar gajah modern asia, gajah modern afrika, dengan mammoth. Berdasarkan analisis kesamaan genome mitokondria, sekarang kita bisa tau bahwa gajah asia memiliki kekerabatan yang lebih dekat ke mammoth daripada ke gajah modern afrika. Selain itu, berdasarkan keseragaman dari rantai DNA itu juga kita bisa liat variasi yang mana yang lebih dahulu ada daripada variasi yang lainnya. Dari situ pula kita bisa mempelajari sejarah populasi dari spesies-spesies yang udah punah.

gajah dengan mammoth

Kalo lo lihat diagram tabel di atas, lo bisa lihat bahwa tingkat kekerabatan gajah asia dengan mammoth itu memiliki common ancestor atau nenek moyang yang sama, yaitu elephantina. Sementara itu, baik mammoth maupun gajah asia juga memiliki kekerabatan dengan gajah afrika, karena ketiganya berasal dari moyang yang sama, yaitu elephantidae.

Okay, kurang lebih itulah gambaran dasar dari metode pemetaan genome dengan teknik gen-sequencing. Mungkin emang bagi sebagian dari lo, penjelasannya kurang mendalam. Emang sebetulnya metode dan teknik ini agak rumit jadi mohon maklum kalo gue sendiri agak kesulitan merangkumnya hanya dengan beberapa paragraf. Bagi lo yang bener-bener tertarik lebih dalem ngulik tentang metode ini, lo bisa telusuri lebih dalem di wikipedia gene-maping dan DNA-sequencing. Nah, sekarang gue akan masuk ke metode pendekatan lain yaitu membandingkan bentuk fosil.

2. Pendekatan Membandingan Fisiologi Antarfosil.

Selain pendekatan analisa gen, kita juga bisa melakukan perbandingan fisiologis antarfosil, untuk mengetahui hubungan kekerabatannya. Supaya lebih kebayang, gue bakal akan ngasih illustrasi berdasarkan contoh pertama kita di awal artikel tentang hubungan kekerabatan kuda modern dengan hyracotherium dan "kuda purba" lainnya yang menjembatani evolusi dari hyracotherium menjadi kuda modern.

Pada prinsipnya, membandingkan fisiologi antarfosil ini mirip seperti cara analisa detektif. Pada awalnya para ilmuwan menemukan banyak fosil di sekitar amerika dan eropa yang secara fisiologi, morfologi, dan anatomi cenderung mirip dengan kuda modern, hanya saja ukurannya beragam. Di sini, para ilmuwan gak langsung mengambil kesimpulan, tapi mereka coba menguraikan temuan-temuan ini berdasarkan umur dan lokasinya. Dengan menggunakan metode carbon-dating dan stratigrafi, para ilmuwan bisa memperkirakan berapa umur masing-masing dari temuan fosil tersebut.

Setelah dikelompokkin berdasarkan umur dan lokasi penemuan, para ilmuwan bisa melihat pola tersendiri bahwa fosil yang umurnya kurang lebih sama, bentuk tulang-tulangnya cenderung seragam. Sementara itu, perbedaan fisiologis yang terdapat antar fosil itu ternyata memiliki proses perubahan yang perlahan-lahan (secara gradual) dimana perubahan tersebut sesuai dengan urutan umur dari fosil-fosil tersebut.

Kelompok Sampel Fosil Umur Fosil Ukuran tubuh Struktur kaki depan
A 50 juta tahun 40 cm 4 ruas
B 35 juta tahun 60 cm 3 ruas
C 15 juta tahun 100 cm 3 ruas (2 ruas kecil)
D 8 juta tahun 125 cm 1 ruas
E 1 juta tahun 140 cm 1 ruas

Nah, berdasarkan data di atas, kita bisa melihat bahwa masing-masing kelompok sampel fosil menunjukan adanya perubahan fisiologi yang perlahan-lahan (secara gradual), dimana hal itu menunjukan adanya proses evolusi (mutasi) pada gen yang mengekspresikan karakter ukuran tubuh dan struktur ruas kaki, yang terus berubah seiring dengan waktu dan bantuan proses seleksi alam. Sampai akhirnya keturunan sampel fosil tersebut akhirnya menjadi spesies kuda jaman sekarang yang memiliki rata-rata tinggi 160cm dengan 1 ruas kaki depan.

horse evolutionNah, dengan ngeliat perbandingan struktur tulang antar sampel fosil, kita bisa ngeliat bahwa ada perubahan struktur morfologi yang terjadi secara gradual (karena adanya mutasi) yang juga bersesuaian dengan umur fosil yang bisa kita perkirakan berdasarkan metode carbon dating dan stratigrafi. Di samping itu, kalo misalnya para peneliti cukup beruntung menemukan sampel fosil dengan DNA yang nggak rusak, mereka juga bisa melakukan pendekatan genetic-sequencing untuk mengetahui informasi lebih detail terkait makhluk hidup tersebut. Dengan menggabungkan beberapa macam metode, para ilmuwan bisa mendapatkan banyak informasi dari kumpulan fosil tersebut. Dari mulai bentuk tubuhnya, hidup berapa tahun yang lalu, hubungan kekerabatannya dengan sampel fosil lain maupun makhluk hidup di jaman modern, dsb.

****

Itulah kurang lebih pembahasan gue tentang dua metode pendekatan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk mengetahui tingkat kekerabatan antar spesies, baik antar spesies yang sudah punah maupun dengan spesies modern. Dengan sedikit gambaran melalui artikel ini, gue harap lo punya bayangan bahwa para ilmuwan dan peneliti itu gak cuma asal-asalan apalagi ngarang-ngarang doang dalam menelaah hubungan kekerabatan antar spesies purba dengan spesies jaman sekarang yak. Ada dasar asumsi yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, ada metode yang konkrit dan hasilnya juga bisa dievaluasi terus-menerus sampai menghasilkan pola data yang konsisten. Berdasarkan semua metode dan penalaran terhadap sains tersebut, para ilmuwan gak sembarangan dalam mengambil sebuah kesimpulan ilmiah. Moga-moga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan lo semua, see you next time!

Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Evolution_of_the_horse
http://www.equinestudies.org/evolution_horse_2008/elsevier_horse_evolution_2008_pdf1.pdf
http://www.eva.mpg.de/fileadmin/content_files/staff/paabo/pdf/Paeaebo_Genetic_Annual_2004.pdf
https://dl.dropboxusercontent.com/u/107708419/HuffmanZaim2003%20JMT%20MojoResults.pdf
https://en.wikipedia.org/wiki/DNA_sequencing
https://en.wikipedia.org/wiki/Whole_genome_sequencing
https://en.wikipedia.org/wiki/Gene_mapping
http://global.britannica.com/animal/dawn-horse

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol sama Ijul tentang genetika, evolusi, kekerabatan antar spesies, atau tentang metode genetic sequencing, genome mapping, dan analisa fosil... langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Ijul adalah anggota tim Business Development Zenius dan juga alumni Zenius-X angkatan 2010. Ijul mengambil gelar Sarjana di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati-Jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. Saat ini, Ijul sedang menjalani studi pasca sarjana di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, untuk Jurusan Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Bandung.

Follow Ijul at @zulfikarhh

  • alfinsa

    anjay mantabbss..

    dalam benak gue terbersit pertanyaan yang agak nyeleneh:
    "kalo gitu, jaman hewan purba itu gede2 banget yak hewannya? kayak megalodon-uyutnya paus/hiu (gue lupa), T-Rex-cikalnya ayam, dsb. kemudian, segede gimana 'kah manusia pada zaman itu?"

    • zulfikar

      Jaman dulu benar ada hewan gede2 (lebih gede dari yang ada sekarang), tapi inget ga semua gede buanyak yang kecil2 juga..
      Kenapa dinosaurus bisa gede? Mereka kan reptil berdarah dingin, jadi makanan yang dibutuhkan mereka ga sebanyak mamalia. jaman nya dinosaurus mamalia yang ada cuma mamalia kecil, kenapa? Karna kalah saing sama dinosaurus yang gede2 yang udah ada duluan dibandingkan mamalia..
      mamalia baru bisa evolve ke spesies dgn ukuran besar saat dinosaurus punah jd relungnya kosong.
      Manusia gimana? Elah manusia modern baru ada sekitar 200rb taun yang lalu, hewan gede2 itu udah pada ga ada, paling kalo ada yang gede tuh mamot doang.

      Fyi sebagian besar manusia purba ukurannya relatif lebih kecil dr manusia modern

  • Rudiansyah Gunawan

    Kak mo nanya, gmn cara ilmuwan nentuin bahwa fosil yg ditemuin itu adalah direct ancestor ato common ancestor? bisa diliat bedanya cm dr liat fosilnya doank???

    • zulfikar

      Sebenarnya kita gabisa tau pasti, apalagi kalau untuk spesies yang tua dan fosilnya jarang. Biasanya kekerabatan cuma bisa dicari mana yang paling dekat kekerabatannya dengan pendekatan perbandingan morfologi..
      kalo direct ancestor dari spesies2 tua mungkin bisa ditemuin kalo ada kasus2 khusus, seperti di lapisan yang relatif sama (paling selisih 1juta taun). contohnya gini, Spesies A dan B mirip bgt secara morfologi. spesies B dan A ditemukan di lapisan X dan di tempat yang sama. Di lapisan bawahnya (yang lebih tua) ga ada fosil spesies A, adanya spesies B. Nah dilapisan setelah X spesies A makin banyak ditemukan.
      Nah kl kasusnya kaya gitu kemungkinan besar spesies B itu direct ancestor dari spesies A

  • Jadi kebayang manusia dulunya sebesar apa ya?

    • zulfikar

      Manusia purba relatif lebih kecil daripada manusia modern, dan lebih pendek umurnya.. kayanya di komen atas gue uda bilang

      • bayu

        kak kalo hubungan manusia purba dg islam gmn ya? kan Nabi Adam dulu tinggi

        • ilham

          menurut gw sih jgn disamain dulu antara science dan religi soalnya pasti ada missing link, apalagi menyangkut masalah2 gini2an

        • manusia seperti nabi Adam adalah manusia di Timur Tengah. Manusia selain Adam ya gak dituntun agama, sehingga masih ada sifat liar binatangnya, seperti perang

      • Qaysh Isaaq As situdani

        interesting....bukannya karena komposisi atmosfer dulu, makhluk di bumi cenderung lebih besar?

        http://news.nationalgeographic.com/2015/11/151116-denisovan-human-anthropology-ancient-dna/

  • Abdi Manab Idris

    Triple jempol dah bwt kak zulfikar (y)

  • Priscilla Setiawati

    Ka ijul, klo ga salah ancient dna tuh ada bates waktunya, antar ratusan ribu thn ato berapa lupa.. trus kalo bntang yg lbh tua lagi (misalnya bntang yg umurnya di atas 10jt thn gt), itu ga bs dipastikan kekerabatannya lwt DNA dong??

    • zulfikar

      Waduh, gue baru sadar, ternyata bagian itunya ga ditampilin sama editornya..
      Rekor Ancient dna yang paling tua yang itu di isolasi dr sampel berusia 700rb taun..
      jadi kalo yang uda jutaan, ya gabisa hehehe

  • Grace Aprilia Helena

    Bang Jul jangan baper yaa ~

  • Menarik nih, tapi aku punya beberapa pertanyaan.

    1) Berarti, di masa depan nanti ada kemungkinan kalau ada binatang baru yang belum ada di masa sekarang dong?
    2) Masih belum ngerti tentang mutasi mutasi. Maksudnya yang membuat hewan baru ada karena perkawinan sesama jenis (ex: kucing sama kucing) atau perkawinan yang beda jenis (kucing sama macan)?

    Hehehe sory kalau pertanyaannya rada nggak berbobot -___-

    • zulfikar

      1. Ya, tapi ingat evolusi bekerja sangat lambat, dan baru bisa menghasilkan spesies baru setelah ribuan atau ratus ribuan generasi. Jadi bisa dipastikan 100rb tahun yang akan datang, bumi spesiesnya beda sama yang sekarang.. (masalahnya kita gabakal idup aja saat itu)

      2.mutasi gada hubungannya sama kawin, mutasi terjadi random di tiap individu. Nah perubahan hasil mutasi ini bisa diturunkan ke offspring nya hewan mutan.

  • werben jager

    Bahas tentang teori evolusi dong bang. Saya lihat masih banyak banget orang Indonesia, yang walaupun berpendidikan, tapi masih gagal paham dengan teori evolusi ini. Walaupun topiknya emang agak sensitif, soalnya sering dikait-kaitkan sama agama. Tapi kayaknya perlu diluruskan deh biar gak semakin banyak lagi orang yang salah paham.

    Saya juga udah bosan tiap kali bahas tentang evolusi selalu muncul pertanyaan konyol semacam: "Kalau manusia hasil evolusi dari monyet, kenapa sekarang masih ada monyet?"

    • Zulfikar Akbar

      Wkwkwk, menurut ane manusia emang berasal dari manusia, beda dengan spesies lain yang kalo evolusi masih memiliki cara fikir yang sama. Mungkin kalo manusia berasal dari monyet, manusia sekarang suka bugil naik2 di pohon wak kaji sunari. Jadi yang bisa evolusi mungkin cuma morfologi ama cara bertahan hidup aja. Misalnya manusia jaman dahulu udah bisa berpakaian, menikah dsb, sekarangpun juga masih tetep berpakaian ama menikah. Manusia yang ada di pedalaman bugil2 yang dipedalaman tetep aja bugil2 kalo gak kontak dengan dunia luar. Tapi bentuk manusia dahulu hampir mirip dengan sekarang. Jadi menurut ane lagi, gak ada manusia dari monyet. Tambahan lagi, ane juga pro ama Aristoteles ato siapa ya yang misahin kingdom manusia dengan hewan. *wkwwk gak mau disamain sama hewan.

      • Yogi Safran

        Ya kalo berdasarkan penjelasan bang ijul diatas. Trus diteliti gen dan morfologi manusia 90% mirip kera brarti kera moyangnya manusia dunk.. Tp apa bener mahluk hidup itu saling kekerabatan? Gimana kl sebenernya mahluk hidup itu emang udah beraneka ragam dari sejak awal keberadaannya dan antar species itu cm mirip doang (baik gen dan morfologinya)

        kalo emang gen2 bermutasi positip dan bisa diturunkan, apa ada contohnya didunia modern bang? Setau ane mutasi gen malah bikin mahluk hidup ga stabil, jgnkan diturunkan utk hidup pun Mutan sulit bertahan. CMIIW bang ijul

        • hipotesa bahwa spesies sejak dulu sudah beranekaragam bisa dipatahkan dengan melihat diversity dari varian spesies anjing dan binatang domestik lainnya. Jaman 20.000 tahun yang lalu, tidak ada yang namanya anjing chihuahua, retriever, bulldog, pitbull, dll. Tidak pernah ada jejak fosil bahwa anjing jenis chihuahua, pincher, dkk itu bisa bertahan dan hidup dengan berburu di hutan rimba 20.000 tahun yang lalu.

          Tapi melalui penelusuran DNA, kita bisa tau bahwa seluruh varian anjing yang ada di jaman modern sekarang ini adalah keturunan dari serigala. Spesies baru itu terus bertambah di alam seiring berjalannya waktu.

          Mutasi yang berimbas secara positif dalam tingkat survival itu banyak banget, dari mulai leher jerapah yang panjang, corak beruang kutub yang berwarna putih seperti salju, itu semua bentuk mutasi yang secara "positif" mendukung survival rate dari spesies tsb.

          Mutasi gen itu memang sifatnya bisa jadi macem2, seringnya memang membuat jadi spesies tsb gak hidup dgn cara yang normal. Tapi ada beberapa yang bisa bertahan karena tuntutan lingkungan/ bahkan berselaras dengan lingkungan. Nah, yang bisa bertahan itulah yang nantinya jadi spesies baru.

          • Yogi Safran

            Anjing chihuahua, retriever, bulldog, pitbull, dll. Itu jd terdiversivikasi karena mutasi gen ato kawin silang dlm satu spesies? Kalo kawin silang mah byk dan menurut saya itu bukan mutasi gen. Sama kayak manusia, orang afrika kawin sm org eropa, jd afro tetep aja manusia. Tp ga mkn kawin antar spesies misal manusia kawin ama kuda jd spesies baru centaurus 😀

            Trus kl contoh leher jerapah jd panjang utk bertahan hidup itu jg rasanya ga mungkin, misalnya leher jerapah awalnya pendek trus krn makanannya tinggi2 jerapah manjangin lehernya, trus anak keturunannya jd berleher panjang. Satahu saya perubaham fisik ga mkn ngaruh ke gen. Kl gt hrsnya anak2nya binaragawan lahir langsung berotot sejak bayi krn bapaknya berotot hehe.

            Ato misal dari spesies jerapah leher pendek ada satu yg bermutasi jd berleher panjang, mutasinya positif krn dia bs bertahan saat makanannya ada dipohon yg tinggi. Tapi kan cm dia sendiri yg bertahan, trus dia kawin sama siapa biar bs meneruskan gen leher panjangnya? Apa jerapah yg bermutasi leher panjangnya kebetulan lahir sepasang? Berapa persen kemungkinannya mutasi gen lahir sepasang hehe

            Lain kalo spesies jerapah itu dr dulu emang dah bervariasi ada yg berleher panjang dan pendek, lalu yg pendek punah krn ga kebagian makanan. Tp bukan berarti jerapah leher pendek itu moyangnya jerapah leher panjang.

            Maaf saya sama sekali awam, makanya nanya sm ahlinya... Semoga pertanyaan saya sejak SMP tentang teori evolusi bs terjawab sm para master...

          • Satyo Nugroho

            Bukti fosil tentang transisi jerapah dari leher pendek ke leher panjang juga tidak pernah ditemukan.
            CMIIW

            Saya setuju dengan pendapat mas Yogi.

          • //Anjing chihuahua, retriever, bulldog, pitbull, dll. Itu jd terdiversivikasi karena mutasi gen ato kawin silang dlm satu spesies?//

            nah utk menjawab pertanyaan ini, kamu harus paham sistem taksonomi menjadi "spesies" itu sebetulnya hanya sarana yang mempermudah manusia utk mengklasifikasi makhluk hidup saja. Kalo kita mengacu pada definisi dari Ernst Meyr (Bapak Biologi modern):

            “species is not just a group of morphologically similar
            individuals, but a group that can breed only among themselves, excluding all others. When
            populations within a species become isolated by geography, feeding strategy,
            mate selection, or other means, they may start to differ from other populations
            through genetic drift and natural
            selection, and over time may evolve into new
            species”

            artinya yang bisa dikatakan sebagai satu spesies itu hanya yang bisa menghasilkan keturunan fertil. Masalahnya, definisi tidak berlaku jika diterapkan pada sistem taksonomi spesies yang kita kenal sekarang. Contohnya, anjing chihuahua tidak akan bisa kawin menghasilkan keturunan yang fertil dengan anjing herder (padahal 1 spesies) sebagaimana harimau dan singa bisa kawin dan punya anak (coba search google tigon atau liger) tapi tetap saja tidak menghasilkan spesies baru karena tigon maupun liger bukanlah keturunan yang fertil.

            Untuk kasus evolusi jerapah, kamu agak keliru intrepretasikan ceritanya..
            //misalnya leher jerapah awalnya pendek trus krn makanannya tinggi2 jerapah manjangin lehernya, trus anak keturunannya jd berleher panjang. //

            jerapah memang tidak mungkin bisa memanjangkan lehernya dalam satu siklus kehidupan, evolusi itu berlangsung perlahan selama ratusan ribu/jutaan tahun.

            //spesies jerapah leher pendek ada satu yg bermutasi jd berleher panjang, mutasinya positif krn dia bs bertahan saat makanannya ada dipohon yg tinggi. Tapi kan cm dia sendiri yg bertahan, trus dia kawin sama siapa biar bs meneruskan gen leher panjangnya? Apa jerapah yg bermutasi leher panjangnya kebetulan lahir sepasang? //

            ketika mutasi (misalnya jerapah berleher panjang) itu muncul pada satu individu, tentu dia tidak otomatis langsung menjadi spesies yang berbeda, dan dia masih bisa kawin dengan spesies jerapah berleher pendek lainnya. Mutasi itu kemudian menjadi 1 data pada gene pool dari jerapah dan dalam waktu yang lama sesekali muncul lagi dan melahirkan jerapah berleher panjang. seiring dengan berjalannya waktu, populasi jerapah berleher panjang jadi tambah banyak + didukung dengan situasi lingkungan (seleksi alam) menyebabkan jerapah berleher panjang (yg dimulai oleh mutasi entah berapa ribu tahun sebelumnya) itu bisa lebih survive daripada jerapan sebelumnya.

            Jadi pada intinya, coba ubah cara pandang berpikir kamu bahwa evolusi itu bukan terjadi pada 1-2 siklus kehidupan, tapi dari proses mutasi gen yang muncul kemudian spread out secara gradual, perlahan, sampai akhirnya lebih bertahan daripada kode gen sebelumnya.

            Untuk lebih jelasnya coba kamu tonton beberapa video berikut ini:

          • Yogi Safran

            Brarti kuncinya evolusi itu random (terjadi secara acak dan kebetulan) dalam waktu yang lama jutaan tahun. Gen2 positif terkumpul hingga satu generasi tertentu membentuk satu spesies baru yang udah terdifferensiasi dr bentuk awalnya.

            Tapi kl ngga terjadi dlm siklus hidup yg dekat, apa ngga malah membingungkan bang?
            1. Tujuan evolusi kan buat bertahan hidup dari seleksi alam, sementara hidup kan pendek, kl evolusinya terjadi jutaan tahun gmn dunk?

            2. Bagaimana cara suatu spesies bs tahu gen positif dari kakeknya utk terus dikembangkan oleh generasi transisi agar diteruskan ke anak cucunya tanpa ada yg ngasih tw rencana jangka panjangnya? Misalnya burung tadinya ngga bs terbang. Trus kakek buyut burung ga sengaja bermutasi menumbuhkan calon sayap menggantikan fungsi tangan, selama jutaan tahun calon sayap ini ga berguna bagi spesies transisi (bahkan menurut sy mengganggu) sampai ada cicit burung yg ngga sengaja bisa menggunakannya utk terbang entah tw dari mana.

            3. Krn terjadi perlahan dlm jutaan tahun harusnya ada byk peninggalan fosil hewan transisi ato bbrp contoh hewan transisi yg masih hidup? misalnya jerapah dgn leher setengah pendek sbg spesies transisi. Ga mungkin hewan transisi jerapah itu punah ga tersisa kan?Kl pun jerapah dg leher setengah pendek itu punah krn seleksi alam akibat persediaan makanannya habis, hrsnya semua hewan berleher pendek pemakan tumbuhan didunia ini jg habis.

            CMIIW bang

          • 1. Evolusi itu tidak memiliki tujuan, mutasi genetik tidak berubah karena suatu tujuan untuk bertahan hidup. Mutasi terjadi secara random, sehingga lebih sering mutasi tidak bisa bertahan bisa jadi cocok dengan lingkungan dan tuntutan alam. Tapi beberapa dari mutasi itu ada yang bertahan karena cocok dengan kondisi lingkungan dan perlahan (tanpa tujuan apapun) membentuk spesies baru.

            2. Sekali lagi, mutasi gen berjalan secara random tanpa suatu arah tujuan. Tujuan itu seolah2 ada karena evolusi mengerucut pada kondisi yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jadi secara hereditas, bukan berarti "ada yang memberi tahu rencana jangka panjangnya". Tapi karena lingkungan/alam saja yg menentukan mutasi yang bertahan dan yang tidak bertahan.

            3. betul sekali, memang banyak peninggalan fosil hewan transisi. Bahkan kita yang sekarang hidup di jaman modern sekalipun, tidak terlepas dari proses transisi itu sendiri. Walaupun ada juga spesies yang memang tidak berevolusi lagi karena sudah mampu bertahan secara stabil di lingkungan. Contoh yang paling mudah itu evolusi kuda yang ada di artikel atas, dari hyrachoterium untuk menjadi kuda modern (Equus caballus) terdapat proses transisi. Dalam konteks kuda di atas, kita tidak bisa menjamin bahwa kuda modern sekarang ini adalah hasil akhir dari evolusi. Ketika lingkungan berubah suatu saat nanti, dan mutasi random itu menghasilkan spesies baru yang lebih bisa beradaptasi dengan lingkungan.

            https://en.wikipedia.org/wiki/Evolution_of_the_horse
            https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/dd/Horseevolution.png

    • //Kalau manusia hasil evolusi dari monyet, kenapa sekarang masih ada monyet?//

      Pernyataan itu ibaratnya sama seperti "kalo orang bule Australia berasal dari orang bule Inggris, kenapa orang Inggris masih ada sampai sekarang?" hehehe...

      Anyway, sebetulnya tidak ada scientis, bilogist, ahli evolusi yang pernah mengatakan bahwa manusia berevolusi dari monyet. Sekali lagi, tidak ada ahli biologi yang bener itu ngeluarin statement manusia berevolusi dari monyet. Monyet itu Macaca fascicularis. Pernah nonton topeng monyet? Nah itu hewan yang jungkir balik, monyet itu yang itu. Sekali lagi, tidak ada ilmuwan yang pernah mengatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari monyet.. yang betul adalah : manusia dan monyet berasal dari nenek moyang yang sama. Itu pun kalo ditarik ke belakang, jaauuuuh banget common ancestor-nya.

      • Yogi Safran

        Ya sama aja bang kl gt brarti manusia n monyet itu masih kerabat dekat, krn teori evolusi ga mkn mengecualikan manusia itu berdiri sendiri ga ada asal evolusinya 😀

        Tapi bang, kl evolusi itu terjadi dari mutasi gen yg terjd secara random tanpa arah tanpa rencana dalam wkt yg lama sepertinya ga mungkin.

        DNA/Gen terdiri dari milyaran kode genetik yg kl susunannya ga bener satu aja, bakal bikin kacau keseluruhan dan bikin cacat individunya, gen pool yg diharapkan dari mutasi positif yg terjd sama aja kyk 1 diantara milyar kemungkinan.

        Apa mungkin hewan darat bisa berevolusi jd burung yg bs terbang, ato hewan yg ngga punya mata bisa berevolusi jd hewan yg punya mata begitu kompleks hanya mengandalkan mutasi yg kebetulan?

        Berapa persen kemungkinan 1 milyar dadu yg dilempar bersamaan biar bisa tersusun rapi dengan angka yg berurutan? Wah repot. Biar diundi tiap hari sampe berjuta tahun jg blm tentu dapet 1 hehe..

        Kalo kita ambil contoh kloning domba dolly yg udah direncanakan dg matang dan lingkungannya dikondisikan dg baik aja ngga ada satupun yg bertahan dlm 1 generasi. Lalu apa mungkin mutasi yg random dan blm tentu cocok dg kondisi lingkungannya itu bs bertahan?

        Maaf sotoy bang

        • Untuk analogi kamu terhadap domba dolly rasanya kurang relevan, karena mutasi gen + seleksi alam itu tidak bisa disandingkan dengan rekayasa genetika. Keberhasilan/kegagalan dalam rekayasa genetika tidak mempengaruhi teori evolusi. Analogi kamu tentang 1 milyar dadu yang dilempar bersamaan juga kurang tepat, karena perhitungan probabilitas dalam evolusi itu dependent probability, bukan dalam skala independent probability. Asumsi dasarnya jelas sangat berbeda, jadi analogi dadu itu tidak tepat. Coba pahami lagi teori dasar statistik dan probabilitas.

          Dalam memahami sesuatu, kamu jangan ambil asumsi kuantifikasi sampai jutaan tahun, milyaran, dan trilyunan terus tiba-tiba bilang "ini gak mungkin" secara sepihak begitu. semuanya harus bisa dikuantifikasi secara riil, bukan main tebak2an dan "rasa-rasa" begitu doang. Kalau kita bicara tentang probabilitas, statistik, peluang, dengan pendekatan matematis... itu hitungan dilakukan harus hati-hati sekali dengan asumsi yang netral, gak boleh bias oleh pendapat pribadi. Untuk kuantifikasi kemungkinan random mutation pada single organism hingga menjadi kompleks memang ada hitungannya sendiri dan ada pendekatan matematika yang gak sembarangan. Mungkin lain kali gua share di artikel baru zenius.

          Salah satu contoh perhitungan umur fosil dengan pendekatan matematis, bisa coba kamu baca di sini >>
          https://www.zenius.net/blog/8469/metode-carbon-dating-stratigrafi-fosil

      • Dan kemudian berevolusi masing2

  • Nabi adam gimana?

  • M Ali S

    cuma mau nambahin, karena kita berpendidikan, kalau bisa gunakan bahasa indonesia yang benar. Kalau masalah lo gue bagus2 aja, tapi kata2 seperti
    "analisa" , "pospat" , "fikir" diperbaiki. saya suka tulisan2 di blog zenius.net , tapi saya sering sekali ketemu kata "analisa" bertebaran dmn2

  • Rasmat

    Mutasi gen, kenapa bisa terjadi ya? Adakah faktor yang mempengaruhi?
    Mohon pencerahannya, terima kasih. 🙂

  • Aditya Zhangra Eloran

    ".........di mana spesies baru merupakan bentuk mutasi dari spesies sebelumnya yang bertahan hidup dalam seleksi alam." apakah spesies baru hanya terjadi karena itu bang?