Bagaimana Cara yang Paling Tepat untuk Memotivasi Seorang Pembelajar?

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tapi ironisnya, pendekatan orang tua yang tidak tepat justru menghambat proses belajar para pelajar.

Topik motivasi adalah hal yang begitu menjual dewasa ini. Beragam buku, seminar, talk show, dan juga artikel dibuat dengan tujuan untuk memberikan motivasi kepada audience-nya. Tapi tenang saja, artikel yang saya tulis di sini bukan berisi tentang pesan yang membangun motivasi atau tips semacam itu. Saya jamin Anda tidak akan lebih termotivasi setelah membaca tulisan saya ini. Jadi, jika Anda datang ke sini untuk mendapatkan motivasi, rasanya tulisan ini bukanlah bacaan yang tepat, karena memang bukan itu tujuan saya.

Dalam artikel ini, saya ingin membahas topik motivasi dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu berfokus pada motivasi seorang pembelajar. Sesuai dengan kapasitas dan pengalaman saya sebagai seorang pemerhati pendidikan yang cukup aktif beberapa tahun belakangan ini.

Untuk kamu yang mungkin selama ini cukup sering membaca tulisan saya mungkin agak heran dengan gaya penulisan saya yang lebih formal dari biasanya. Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya dikenal sebagai penulis yang memakai pendekatan informal, seperti contohnya memakai kata ganti "Gue, Gua, Lo" dalam menunjukan kata ganti orang. Namun khusus pada tulisan kali ini, saya memutuskan untuk memakai kata ganti "saya, kamu, Anda". Karena kemungkinan besar target audience pembaca tulisan saya kali ini tidak hanya terbatas pada kalangan pelajar dan mahasiswa, tapi juga untuk kalangan guru dan orangtua.

Mungkin ada sebagian dari Anda yang bertanya-tanya siapakah saya, dan kenapa saya memberanikan diri untuk membahas topik ini. Yang jelas, saya bukanlah seorang motivator, saya juga bukan seorang guru memiliki pengalaman mengajar selama puluhan tahun. Tapi, bisa dikatakan saya cukup beruntung, karena (tuntutan profesi dan pekerjaan) selama hampir enam tahun belakangan ini saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan kurang lebih 350.000 pelajar dari seluruh pelosok Indonesia. Dengan akses yang relatif luas pada para pelajar ini (rata-rata umur 15–20 tahun), saya mendapatkan cukup banyak insights yang menarik dan semoga saja bisa jadi refleksi bagi kita semua, khususnya yang jika Anda peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Lalu, apakah pekerjaan saya? Saya bekerja sebagai online marketer manager pada sebuah lembaga pendidikan bernama Zenius Education, sekaligus merangkap sebagai editor dan penulis di sebuah blog yang (most probably) merupakan blog bertema pendidikan dengan traffic tertinggi di Indonesia sampai dengan hari ini. Itulah keberuntungan yang saya terima dalam beberapa tahun ini.

1836022542

Sebagai seorang marketer, interaksi yang selama ini saya lakukan pada audience tidak hanya sebatas untuk tujuan kepentingan promosi saja. Tetapi, sedikit banyak, saya juga menjadi “telinga” bagi mereka, yang dituntut untuk selalu siap mendengar apa yang sebetulnya menjadi beban mereka, apa yang menjadi kekhawatiran mereka, dan apa yang sebetulnya mereka inginkan sebagai seorang pembelajar.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya hanya ingin berbagi tentang beberapa hal menarik yang selama ini saya dapatkan dari pengalaman saya. Mungkin, apa yang akan saya bahas dalam artikel ini, ada sedikit yang didasarkan pada pandangan pribadi yang bersifat subjektif, sehingga tidak mewakili paradigma zenius sebagai institusi secara keseluruhan. Namun, saya harap sedikit sharing dan opini dari saya ini, bisa menjadi refleksi kita bersama untuk memahami pendekatan yang lebih tepat tentang bagaimana cara yang paling tepat untuk memotivasi para pembelajar secara umum, dan pelajar di Indonesia secara khusus.

 

Apa hal menarik yang saya temukan dari interaksi dengan para pelajar dari seluruh Indonesia?

Sebetulnya, ada banyak sekali hal menarik yang saya dapatkan dalam kesempatan saya untuk berinteraksi dengan para pelajar ini, dari mulai cara belajar yang keliru, bagaimana persepsi pelajar ini dalam memandang pentingnya pendidikan, dan sebagainya. Namun, kali ini saya ingin berfokus pada satu permasalahan yang seringkali luput dalam perhatian dunia pendidikan kita, masalah yang mungkin dianggap sepele, tapi rupa-rupanya punya dampak yang sangat besar terhadap motivasi belajar dari para siswa di seluruh Indonesia. Hal itu adalah pengaruh peran dari orangtua dalam memberikan dukungan positif terhadap minat belajar anak-anaknya. 

Peran orangtua dalam dunia pendidikan anak mungkin terdengar sebagai tema yang “klise”. Pada umumnya, kita semua mengetahui (dan juga mengharapkan) adanya dukungan positif dari orangtua, dari mulai pendampingan belajar sewaktu SD, pengorbanan finansial yang tentu tidak sedikit, sampai bimbingan personal terhadap masalah yang dihadapi pelajar di umur remaja. Namun, dari pengalaman saya berinteraksi dengan para siswa, ternyata “peran orangtua” yang para pelajar ini suarakan di dunia maya, justru bertolak belakang dari pandangan umum masyarakat tentang hubungan supportif orangtua terhadap anak-anaknya. Khususnya dalam upaya membangun motivasi belajar dalam dunia akademis, maupun pembelajaran secara umum.

Untuk bisa lebih memahami konteks yang saya maksud, mari kita bisa sama-sama melihat sepenggal screenshot di bawah ini. Screenshot ini adalah beberapa potongan “curhatan” para pelajar dari seluruh Indonesia yang pernah masuk ke tulisan artikel saya maupun email pribadi. Jika tulisannya tidak terbaca karena terlalu kecil, tinggal klik gambarnya saja untuk memperbesar.

ortu-png

Mungkin Anda cukup terkejut melihat sembilan potong curhatan di atas (percayalah, saya sendiri juga kaget). Dalam periode tiga tahun ke belakang sampai dengan artikel ini dipublikasikan, saya telah menerima tidak kurang dari 1.453 pesan dari para siswa di seluruh pelosok Indonesia yang kurang-lebih curhat tentang topik yang sama seperti screenshot di atas. Dalam hal ini, “topik” yang saya maksud adalah curhatan yang menyatakan bahwa sosok orangtua seringkali tidak mendukung pilihan anaknya dalam memilih jalur studinya, baik dalam memilih sekolah (negeri/swasta/SMK/madrasah), memilih jurusan konsentrasi SMA (IPA/IPS/Bahasa) maupun dalam pemilihan program studi (jurusan) kuliah – dimana hal ini, seringkali saya lihat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya motivasi belajar, baik dalam konteks akademis sebagai pelajar/mahasiswa, maupun menjadi seorang pembelajar secara umum.

angry parent
sumber gambar : http://parentreviewers.com/

Saya pikir hal ini merupakan masalah yang cukup serius dalam dunia pendidikan kita, yang ironisnya masih seringkali luput dari perhatian kita semua. Ketika sosok orangtua yang notabene seharusnya berperan sebagai pendamping yang mengayomi serta memberikan dukungan penuh terhadap perkembangan pendidikan anak-anaknya, malah justru menjadi sosok yang paling sering disebut ketika para pelajar ini curhat tentang permasalahan akademis dan penyebab kurangnya motivasi mereka dalam belajar.

Jika Anda yang membaca artikel ini adalah orangtua yang juga sempat bersilang pendapat dengan anak Anda terkait dengan pemilihan jalur studi, mungkin Anda akan berkata seperti ini kepada saya:

Saya melakukan ini semua karena saya peduli dengan masa depan mereka, toh sebagai orangtua saya tidak mungkin menjerumuskan anak-anak saya sendiri. Saya lebih mengenal anak saya. Saat ini saya tahu bahwa anak saya belum memiliki kapasitas untuk memahami dunia luar. Jadi biarkanlah saya sebagai orangtua, yang memiliki pengalaman hidup yang lebih luas dan pertimbangan yang lebih matang ini untuk bisa mengarahkan anak saya pada keputusan yang lebih tepat. Sebagai orangtua mereka, saya tahu betul hal yang terbaik buat mereka. 

 

Saya memahami bahwa maksud semua orangtua (untuk terlibat dalam menentukan jalur studi anak-anaknya) pada dasarnya pasti baik. Semua orangtua tidak ingin anak-anaknya salah melangkah, dan tentunya menginginkan segala yang terbaik bagi pendidikan anak-anaknya. Apalagi jika hal tersebut terkait dengan keputusan yg sangat krusial bagi masa depan mereka. Semua orangtua menginginkan anak-anaknya kelak memiliki prospek kerja yang bagus, berkarya secara positif terhadap masyarakat, dan juga memiliki kebebasan finansial. Di satu sisi, sayapun sangat memahami kekhawatiran setiap orangtua, dan saya kira hampir setiap anakpun menginginkan hal tersebut.

Namun dalam tulisan ini, izinkan saya untuk juga bisa mewakili suara para siswa dan calon mahasiswa dari seluruh Indonesia yang telah mereka titipkan pada saya selama 6 tahun ini. Sehingga kita bisa bersama-sama melihat masalah ini dalam perspektif yang lebih luas dan menyeluruh.

Saya mungkin belum menjadi orangtua sampai saat ini, but if I may, saya ingin berbagi sedikit pengalaman dengan Anda tentang apa yang kemungkinan besar akan dialami oleh para pelajar di Indonesia secara umum, yang mungkin juga akan dialami oleh anak Anda (atau anak didik Anda) beberapa tahun ke depan.

Saat ini saya berumur 30 tahun, dan telah menyelesaikan masa studi S1 sekitar 8 tahun yang lalu. Umur yang mungkin bisa jadi refleksi yang belum terlalu jauh dengan kondisi dan situasi para pelajar maupun mahasiswa saat ini. Sekaligus juga umur yang tepat untuk melihat bagaimana pencapaian teman-teman angkatan saya, setelah lulus kuliah dan berkarya dalam masyarakat selama kurang lebih 7-8 tahun.

Jika saya boleh sedikit melakukan “generalisasi”, saya bisa mengatakan bahwa dunia perkuliahan mahasiswa di Indonesia itu sangatlah berat untuk dilewati, terutama jika mahasiswa yang bersangkutan tidak benar-benar menjalaninya dengan segenap “jiwa-raga” dan juga rasa kecintaan terhadap disiplin ilmu yang sedang ditekuninya.

Apa yang akan para pembelajar ini hadapi di dunia perkuliahan, sangatlah berbeda dengan masa SMA. Ada begitu banyak materi kuliah, tugas, ujian praktek, ujian tengah semester, ujian akhir semester, laporan praktikum, kerja lapangan, seminar, skripsi, sidang akhir, yang tentu sangat menuntut dedikasi, kemandirian, serta kegigihan yang tinggi untuk bisa dijalani secara konsisten selama 4 tahun.

Tidak jarang, saya dan teman-teman mahasiswa (terlepas dari jurusan mana pun) bisa sampai tidak tidur berhari-hari hanya untuk menyelesaikan deadline tugas, kejar-kejaran dengan dosen pembimbing untuk evaluasi karya tulis ilmiah, sampai pergi merantau ke luar kota hanya untuk mendapatkan data observasi. Mungkin Anda yang telah menjalani masa studi S1 juga mengalami hal yang kurang lebih sama dengan yang saya sebutkan di atas. Namun, pernahkah para orangtua membayangkan betapa menderitanya para pembelajar ini jika harus menjalani semua itu dengan penuh keterpaksaan dan beban hanya karena mereka harus mempelajari ilmu yang bukan ingin mereka tekuni?

4097009340_0f8343edac_o
sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/anniferrr/4097009340/

Banyak dari orangtua yang berpikir bahwa anak-anaknya cepat atau lambat bisa beradaptasi dan belajar untuk mencintai ilmu yang dipilihkan oleh mereka. Namun, pada kenyataannya, bukan hal itulah yang saya lihat selama saya menjalani masa studi hingga beberapa tahun yang lalu.

Saya sudah melihat terlalu banyak contoh nyata dari kawan-kawan angkatan mahasiswa saya, yang menjalani studi dengan penuh keterpaksaan karena tidak sesuai dengan minat mereka. Mereka seperti terpenjara dalam arus tuntutan akademis, tidak berhasrat dalam belajar dan mengikuti kuliah, serta tidak punya kegigihan dalam menjalani berbagai macam tantangan dan peluang yang ada di sekitar mereka – terlepas sebetulnya mereka adalah individu-individu cerdas yang berkuliah di program studi dan universitas yang bergengsi. Tidak jarang kawan-kawan saya yang malang ini lebih suka menghabiskan waktu kuliahnya dengan kegiatan lain sebagai pelampiasan stress. Hal itu terus berlarut-larut sampai mereka betul-betul kehilangan minat sama sekali untuk meneruskan kuliah dan akhirnya berujung pada drop out.

Sebaliknya, saya melihat kawan-kawan angkatan mahasiswa saya yang saat ini berkarya luar biasa dalam bidangnya, memiliki ambisi yang besar, bahkan telah mencapai kemandirian finansial di usia muda – tidak jarang justru bukan berasal dari jurusan atau universitas paling bergengsi yang menjanjikan “prospek kerja” yang terjamin. Melainkan mereka-mereka ini adalah seorang pembelajar sejati yang betul-betul menjalani masa studinya dengan rasa kecintaan yang besar terhadap bidang ilmunya tersebut. Terlepas dari stereotype masyarakat bahwa bidang tersebut tidak memiliki prospek kerja yang menjanjikan, tapi seorang pembelajar yang betul-betul mendalami ilmu dalam bidangnya secara sungguh-sungguh, saya perhatikan mereka pada akhirnya akan menemukan atau bahkan menciptakan peluangnya sendiri dalam berkarya.

Berdasarkan apa yang telah saya lalui dalam menyelesaikan dunia akademis, sekaligus juga pengalaman berkarya dalam dunia pendidikan, perspektif inilah yang saya dapatkan:

Motivasi yang tertinggi bagi seorang pembelajar, bukan didapatkan dari rasa kepatuhan untuk sekedar menjalankan kewajiban, bukan juga didapatkan untuk mendapatkan reward ataupun menghindari punishment (baca: nilai akademis). Motivasi tertinggi bagi seorang pembelajar, didapatkan dari hasrat dan kecintaan yang lahir secara alami dalam diri mereka untuk menekuni suatu disiplin ilmu. Motivasi itu lahir secara alami dari rasa penasaran, dari rasa “gemas” untuk terus menggali ilmu itu tanpa paksaan, tanpa perlu ada yang menyuruh, serta dari rasa kepuasan dan kenikmatan tersendiri yang didapat ketika mempelajarinya.

Saya kira itulah sumber yang paling utama dan paling hakiki dari seorang pembelajar. So, with all due respect for parents, saya harap dari pengalaman dan sedikit opini dari saya ini, kita semua bisa sama-sama merefleksi diri: Sudah sejauh manakah kita (sebagai orangtua dan pendidik) mendukung para pembelajar ini untuk memiliki otonomi dan kebebasan untuk memilih ilmu yang ingin mereka tekuni? untuk memilih arah masa depannya sendiri? dan untuk belajar bertanggung-jawab akan keputusan dan konsekuensi yang akan mereka hadapi?

Saya kira sekarang ini, kita telah tiba pada era dimana “prospek kerja” tidak lagi hanya menjadi satu-satunya indikator keberhasilan yang menjamin kesuksesan, baik secara finansial maupun emosional. Di tahun 2018 ini, kita telah tiba pada sebuah era di mana setiap disiplin ilmu bisa memiliki kesempatan dan peluang yang begitu luas dan nyaris tanpa terbatas untuk bisa berkembang.

Oleh karena itu, saya harap kita semua baik pendidik, orangtua, guru, dan siapapun yang memiliki peran penting bagi para pembelajar di negeri ini, bisa memberikan dukungan dan otonomi terhadap setiap individu dan para pembelajar ini untuk bisa memilih jalan karya hidupnya secara merdeka. Saya kira, hanya dengan dukungan penuh dari kita, para pembelajar ini bisa melewati masa studinya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran penuh untuk bisa berkarya dan bermanfaat, bagi dirinya sendiri dan juga masyarakat. Itulah menurut saya, cara paling tepat untuk memotivasi para pembelajar. Terima kasih, salam pendidikan.

—————————CATATAN EDITOR—————————

Sedikit tips untuk orangtua yang bersilang pendapat dalam menentukan jalur studi dengan anaknya: Sediakanlah waktu khusus dengan anak Anda untuk berdiskusi secara sehat tentang alternatif pilihan jurusan kuliah. Carilah informasi yang akurat terkait dengan jurusan maupun kampus yang diinginkan oleh anak Anda. Uraikan setiap konsekuensi yang akan mereka hadapi. Pastikan anak Anda tahu betul kondisi perkuliahan dan ilmu semacam apa yang akan mereka pelajar. Jika anak Anda sudah tahu betul akan apa yang akan mereka hadapi, yakinkan mereka untuk mampu menghadapi konsekuensi tersebut dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab.

Jika Anda ingin berdiskusi dengan penulis terkait topik tulisan ini, langsung saja tinggalkan komentar di comment section yang telah tersedia di bawah artikel ini.

Pesan: Jika kamu yang membaca artikel ini adalah seorang pembelajar, saya harap kamu bisa share artikel ini pada pihak-pihak yang kamu anggap perlu untuk membacanya, bisa jadi orangtua kamu, guru kamu, kepala sekolah, atau lembaga pendidikan tertentu. Semoga sharing pengalaman dan opini dari saya ini bisa bermanfaat bagi kita semua, terima kasih.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.