10 Salah Kaprah dalam Bahasa Indonesia

Banyak kata-kata Bahasa Indonesia yang tanpa disadari penggunaannya salah, padahal sering digunakan sehari-hari. Ini penjelasan penyebabnya dan contohnya.

A: Bro, besok kita nongkrong yuk.

B: Ogah ah, males gue.

A: Ah, dasar antsos lo..

B: Heh, gue cuma asosial, bukan psikopat!

A: Hee?

Gue yakin banget, banyak dari elo yang bingung dengan dialog di atas. Kalau bingung, itu berarti selama ini kalian biasa menggunakan istilah “antsos” untuk melabeli orang yang sedang malas atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Padahal, penggunaan istilah itu keliru, lho. Ini adalah contoh salah kaprah dalam berbahasa Indonesia!

ikn75

Itu baru satu. Masih buanyak lagi contoh salah kaprah penggunaan bahasa Indonesia yang tanpa disadari sering kita lakukan sehari-hari. Apalagi, di era informasi dan media sosial saat ini, kreasi kata baru serta serapan bahasa daerah dan bahasa asing makin banyak mengakomodasi kebutuhan komunikasi generasi melek internet. Di sisi lain, dengan banjir informasi, apakah sebagai generasi melek internet, kalian juga peduli untuk sekadar cek-ricek kesesuaian kata-kata dengan makna yang digunakan sehari-hari? Atau cuma asal nyeletuk yang penting lawan bicara paham?

Nah, bertemu lagi dengan gue Fajar, pengajar TPA Verbal di bimbel Zenius-X. Sebelumnya, gue sudah pernah mengisi Zenius Blog tentang tips mengerjakan soal TPA Verbal untuk SBMPTN 2015. Tapi kali ini, gue akan mengupas lebih lanjut salah kaprah dalam  berbahasa Indonesia tercinta ini. Kenapa bisa ada banyak salah kaprah berbahasa di masyarakat? Gue juga akan mengajak elo mengecek contoh-contoh salah kaprah bahasa yang umum digunakan masyarakat. Jika dari kalian ada yang tahu contoh salah kaprah berbahasa dan selama ini gatel ingin dikoreksi, yuk sama-sama berbagi melengkapi artikel ini. Untung-untung bisa membantu perbendaharaan kata saat mengerjakan soal TPA Verbal di SBMPTN nanti 😉

Kenapa Ada Salah Kaprah dalam Berbahasa?

Meskipun ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakatnya. Tidak sedikit orang yang dibesarkan dari keluarga yang dominan menggunakan bahasa daerah. Namun demikian, mereka paham Bahasa Indonesia meskipun tidak mesti belajar secara formal terlebih dulu seperti pembelajaran bahasa Inggris di kursus-kursus. Bisa dibilang, yang mempelajari secara baik itu hanya orang asing dan guru bahasa saja.

Ternyata, ini punya efek yang jelek ke penggunaan Bahasa Indonesia itu sendiri. Kita jadi sering abai saat berbahasa Indonesia karena merasa sudah bisa (dan biasa) menggunakannya. Kita suka malas buka kamus saat menemukan kata yang artinya belum diketahui atau diketahui tapi berdasarkan dugaan semata. Ini baru buta makna kata, belum buta tata bahasa dan tetek bengek lainnya. Akhirnya, kebutaan ini telanjur menjadi kebiasaan padahal salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan bahasa, salah kaprah banyak terjadi.

 

Salah Paham atau Salah Kaprah?

Ajip Rosidi, seorang bahasawan dan juga sastrawan tersohor, pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Baginya, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham (salah kaprah sering digunakan untuk maksud salah paham). Salah kaprah berarti sebuah kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga dianggap kaprah (biasa;lumrah) atau dianggap kelaziman.

Contohnya ya kata antsos atau antisosial pada dialog di atas.

Antisosial
Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak (bully), membunuh, merampok, perilaku licik. Anti-: bentuk terikat (jadi harus digabung dengan kata berikutnya) berarti melawan; menentang; memusuhi. Berdasarkan definisi ini,
antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho…

Jadi, masih yakin akan pakai istilah ini untuk kegiatan menarik diri dari kehidupan sosial atau sekadar berdiam diri? Lebih baik pakai kata asosial.

Asosial
Dipungut dari bahasa Belanda (asociaal). Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral; tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial; tidak memedulikan kepentingan masyarakat.

Selain satu contoh ini, gue akan coba kupas lebih lanjut 10 salah kaprah lain dalam menggunakan Bahasa Indonesia itu. Oke deh langsung aja.

 

10 Contoh Salah Kaprah dalam Berbahasa Indonesia di Kehidupan Sehari-hari

1. Tegar

Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam musibah ini menjadi tegar.

Pada awalnya (cek Kamus Umum Bahasa Indonesia, karya W.J.S Purwadarminta), kata tegar berarti keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna (jadi dua makna) yaitu tabah; kuat; sabar. Padahal makna kedua ini bertolak belakang dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih sering beredar makna yang kedua seperti pada kalimat contoh di atas.

 

2. Ubah vs rubah

Aku Mau (Once)

Kau boleh acuhkan diriku
dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu 

Apa yang janggal dari lirik salah satu lagu yang pernah hits di radio ini? Ada apa dengan kata ubah?

Ya, dalam bahasa formal atau informal, seringkali kata ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me-, kata yang terbentuk adalah mengubah (me+ubah=meng+ubah) dan bukan merubah. Merubah bisa saja berarti menjadi (seperti binatang) rubah. Gue menduga ini disebabkan karena salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dalam pengamatan gue, kesalahan ini acap dilakukan oleh para orang tua kita.

 

3. Absensi vs presensi

Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan Infrastruktur Indonesia

Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru adalah penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari bahasa Belanda (absent), berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi, kalau absensi  digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beza, kalau kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan.

Namun begitu, penggunaan kata mengabsen (pemanggilan daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak) atau absensi (daftar ketidakhadiran) sah-sah saja digunakan.

Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir

 

4. Acuh

Gelandang Manchester United Nani mulai menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan “hidup dan mati”. 

(cekdisini: http://bola.viva.co.id/news/read/490238-sikap-acuh-nani-di-laga–hidup-mati–mu )

Kata “acuh” merupakan kata paling sering disalahartikan. Bagi sebagian penutur, acuh itu berarti cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli; hirau; ingat; indah; hisab. Jadi kalau kalimat: dia sudah mengacuhkanku lagi berarti dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dengan frasa acuh tak acuh? Ya, berarti itu berarti peduli-tidak peduli atau terkadang perhatian dan terkadang tidak.

 

5. Geming

Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi grogi, diam tak bergeming.  

Selain acuh, kata geming termasuk yang sering salah tempat. Coba bayangkan, kata yang berarti diam dan tak bergerak ini dijadikan ke dalam kalimat di atas. Jadi, apa coba artinya? Diam tak diam? Padahal maksudnya itu kan diam dan tak bergerak. Hal serupa juga ditemukan dalam tautan (link) berita berikut.

Pengamat: PAN Tak Bergeming Soal Rangkap Jabatan

Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini diam (tenang-tenang saja) saat isu jabatan rangkap ini bergulir ke publik.

 

6. Nuansa vs suasana (sanskerta: suasana)

Penggunaan kata nuansa dalam lirik lagu yang pernah dipopulerkan oleh Vidi Aldiano ini termasuk yang benar ya. Nuansa diserap dari bahasa Belanda (nuance) dan berarti variasi, derajat atau perbedaan yang sangat halus/kecil sekali. Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan makna kata. Atau pemisalan lain: terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata murah dan murahan.

Namun demikian, kita masih mendengar kata ini digunakan maksud yang sama dari kata suasana. Contoh konkret penggunaan salah kaprah ini adaah pada berita berikut.

Nuansa Seram dalam Ritual Sumpah Pocong

Kalau aja si wartawan mau cek kamus, dia bakal menemukan kalo “Suasana menyeramkan” lebih pas digunakan daripada “Nuansa menyeramkan”.

 

7. Ke luar vs keluar

Menurut elo mana yang tepat:

Sandra akan pergi ke luar negeri
atau
Sandra akan pergi keluar negeri?

Walaupun dua kata ini ditulis berbeda, namun saat diucapkan, kedengarannya sama aja. Sebetulnya, dua kata ini sangat beda. Ke luar merupakan bentuk preposisi, sama seperti ke dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dll.  Kalau kita contohkan dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri.  Sebut saja ia akan ke Singapura. Artinya, Sandra akan pergi ke luar dari negeri Indonesia menuju Singapura.

Sedangkan keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata kerja (verba) dan bermakna ’bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar’. Coba kita cari apa lawan dari kata keluar? Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata keluar: Ia dikeluarkan dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di kelas atau Shanti mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu menyanyi.

Kedua contoh ini mencerminkan makna memindahkan sesuatu dari dalam (dari dalam sekolah dan dari dalam saku). Nah, sesuai dong kalau lawannya adalah masuk?

 

8. Pasca vs paska

Kuliah Perdana Paska Sarjana Sekolah Tinggi Intelijen Negara 

Akhir-akhir ini para pembawa berita di televisi sering membubuhkan kata pasca untuk mengganti kata sesudah atau setelah. Mungkin kata itu terdengar lebih keren dibandingkan dua kata padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi masalahnya banyak yang menulis atau membaca kata ini dengan ejaan paska. Kesalahan lain adalah memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang melekat setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca tsunami.

Lalu, bagaimana dengan contoh yang gue berikan di atas? Salahnya ganda, euy. Hehehe

Pasca merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta dan dalam penulisannya mesti digabung karena termasuk bentuk terikat. Ada juga penulisan yang menggunakan tanda strip () seperti pasca-SBY, maksudnya setelah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN, setelah ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu, bedakan penulisan pascatsunami dengan pasca-Tsunami Aceh. Pascatsunami, penulisannya dirangkai karena tsunami yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum sedangkan pasca-Tsunami Aceh lebih khusus.

 

9. Garang vs gahar

gahar

Maksud hati ingin memberikan nilai garang, seram, keras atau laki banget, hal yang terucap malah kata gahar. Gue ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan empat kata sebelumnya. Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari contoh di atas: menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang Indonesia (www.kamusslang.com), kata gahar baru senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum diakui sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu percakapan santai saja.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini, bukan tidak mungkin mengalami nasib yang sama dengan tegar (memiliki dua makna padahal awalnya cuma satu), akhirnya bermakna dua dan saling tidak berkaitan satu sama lainnya. Cuma, sayang kan, kalau memang artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi dimaklumkan lalu “direstui” masuk kamus besar.

 

10. Nol atau kosong?

Tanya  : Mba, saya mau pesan taksi..

Jawab  : Oh, baik. Berapa nomor teleponnya pak?

Tanya  : nol delapan satu tiga…

Jawab  : kosong delapan satu tiga…

Tanya: mba, nol. Bukan kosong…

Sebagian dari kita sering menemukan “perlakuan” seperti itu. Ya, ini terjadi karena ada yang menyamakan peran angka nol (0) yang diambil dari bahasa Belanda (nul), dengan kata kosong. Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia, padanan untuk nol itu kosong, namun hanya diberi label cak (cakapan alias tidak resmi; informal). Sementara makna kedua adalah hampa; nihil dan keduanya merupakan kata sifat. Padahal kata nol pada contoh di atas merupakan kata bilangan, bukan kata sifat.

Kalau ada yang masih ingat iklan layanan internet oleh Telkom dan sering diputar pada televisI swasta pada awal millennium ini: Telkom-net Instan 080989999, mungkin ada yang berprasangka hal ini yang memperkuat penggunaan nol menjadi kosong menjadi kaprah.

****

Baiklah, ini baru sepuluh dari segudang kesalahkaprahan berbahasa kita yang gue pun baru tahu beberapa tahun terakhir ini, kok. Kita bisa mulai memperbaiki dan menggunakannya dengan baik mulai saat ini… secara perlahan. Coba bayangkan kalau nanti para bule belajar bahasa kita dan mereka lebih paham serta terampil dari kita? Hehehe. Dan seperti yang gue sebutkan di atas, kalau ada dari kalian yang tahu contoh salah kaprah berbahasa lagi, yuk sila cantumkan di komentar bawah, ya. Biar kita bisa saling berbagi ilmu penggunaan bahasa Indonesia 🙂

 

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara lo yang mau menjawab tantangan Fajar untuk lengkapin 10 contoh salah kaprahnya, langsung aja tambahin contoh salah kaprah berbahasa yang kalian tau di komen bawah ya. Kalau kalian mau ngobrol atau diskusi sama Fajar tentang salah kaprah berbahasa Indonesia, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini juga ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.