Iya, Gua Emang Bukan Anak Pinter. Terus Gimana Dong?

Orang pintar atau bodoh tidak ditentukan dari lahir. Artikel ini membahas pentingnya peranan pola pikir atau mindset dalam keberhasilan seseorang.

“Aku bodoh..”

Kira-kira itu yang digumamkan Ani pada diri sendiri ketika melihat nilai UTS Matematikanya yang cuma 25. Di sampingnya, ada Doni yang menyeringai puas dapat 90, sambil bergumam,

“Ah gw emang jago Matematik!!”

 

Guys, gw mau nanya sama lo, menurut lo kira-kira apa sih kunci untuk mencapai sebuah tujuan atau keberhasilan? Mungkin lo bakal jawab, kerja keras, ada juga yang bakal jawab harus tetep fokus, atau ketekunan. Selama ini, kita di Zenius emang sering pesan ke lo kalo kerja keras adalah harga mati untuk mencapai apa yang lo inginkan. Memang itu semua bener.

Tapi kali ini, gw akan beberin satu kunci yang ga kalah krusial dalam meraih keberhasilan, terlepas dengan apapun definisi dari “berhasil” dalam hidup lo. Kunci ini berlaku buat segala bidang, dari belajar, penampilan, cinta, sampe penyelesaian konflik. Kunci inilah yang penting banget buat lo kembangin buat ngedorong banget motivasi lo untuk kerja keras, fokus, dan tekun. Apa itu?

catur

Eit sebelumnya gua bahas kuncinya, gw mau kenalin lo ke seseorang bernama Josh Waitzkin. Kalo lo pernah nonton film “Searching for Bobby Fischer” atau lo penggemar catur sejati, mungkin lo udah tau nih orang. Siapa sih dia? Josh Waitzkin adalah master catur internasional asal Amerika Serikat. Dia satu-satunya orang yang pernah menang turnamen di segala tingkat di AS. Pas duduk di bangku sekolah aja, dia berhasil memenangkan 7 kejuaraan catur nasional. Belum ada yang pernah memenangkan semua kejuaraan catur nasional sebanyak Josh. Dia berhasil menyandang gelar MASTER dalam catur internasional pada usia 16 tahun. Mantep? Tunggu dulu.

taichiKetika berusia 21 tahun, dia memutuskan untuk ambil tantangan dalam hidupnya dengan banting setir, mempelajari sesuatu yang jauuh berbeda dari dunia caturnya selama ini… ilmu bela diri! Waduh. Kok bisa? Dia menyadari kalo dia udah belajar gimana caranya tumbuh dan berhasil (di dunia catur), dan dia pikir pasti bisa diterapin juga untuk bidang lain. Mulailah dia mencurahkan diri belajar Tai Chi. Setelah melalui perjuangan yang keras, kesulitan di sana-sini, dan entah berapa kali dia cedera, akhirnya dia berhasil jadi master bela diri hebat dan memenangkan dua Kejuaraan Dunia Tai Chi. Wuih!

Nggak puas dengan prestasi dia di seni bela diri Tai Chi, sekarang doi lagi sibuk belajar jiujitsu bahkan udah sampe mendirikan akademi jiujitsu pula. Gila banget yak nih orang!

Mungkin sekarang lo mulai berpikir:

“Ah si Josh emang jenius aja kali tuh. Emang orang spesial gitu, prodigy.”

Jangan salah Guys, ada satu momen dalam hidup Josh yang menurut pengakuannya jadi hal terbesar yang pernah terjadi di hidupnya. Percaya atau tidak, Josh bilang, kekalahan yang dia alami pas pertama kali ikut turnamen catur nasional membantu dia menghindari jebakan psikologis. Jebakan psikologis yang berhasil dia hindari adalah percaya kalo dia itu spesial, kalo dia emang lebih pintar dari orang lain, dan dia nggak perlu usaha terlalu keras untuk dapetin yang dia mau. Dengan deretan prestasi yang dia punya, Josh bisa aja tergoda untuk mikir kalo dia itu emang seorang jenius. Tapi nyatanya tidak. Seorang master catur internasional pun juga melewati kegagalan.

“The moment we believe that success is determined by an ingrained level of ability, we will be brittle in the face of adversity.” – Josh Waitzkin

 

Oke, trus apa dong satu kunci krusial yang pengen lo bahas di sini, Fan? Kuncinya adalah pola pikir dalam bagaimana lo memandang segala sesuatu, atau lebih gampangnya kita sebut dengan istilah Mindset ..

 

Perbedaan Pola Pikir

Beberapa orang di dunia ini menilai kalo kecerdasan atau kemampuan seseorang adalah sesuatu yang bersifat “tetap” (fixed). Orang-orang kayak begini bakal menilai, “Oh dia emang anak yang terlahir pintar” atau “Otak gw tuh emang lelet, lambat banget kalo disuruh hafalan” atau “Badan gw tuh kaku, ga akan bisa deh belajar nge-dance”. Penilaian-penilaian macam ini disebut dengan fixed mindset.

Di sisi lain, ada juga orang-orang di dunia ini yang melihat kalo sebuah kualitas itu dapat dikembangkan. Contohnya, ya, kayak si Josh. Orang-orang yang semacam ini dengan atau tanpa mereka sadari memiliki pola pikir yang terus berkembang atau gampangnya disebut dengan growth mindset.

growth mindset

Oke, sekrusial itukah peran mindset (pola pikir) dalam keberhasilan seseorang? Jawabannya IYA BANGET, dan udah banyak riset yang membuktikannya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan profesor Stanford, membuktikan kalo kedua mindset yang berbeda ini memang mengantarkan pada perilaku dan hasil yang berbeda secara signifikan. Konsep risetnya gini, setelah memilih ratusan sampel anak kelas 7 SMP yang background-nya dianggap mewakili populasi, mereka diminta untuk memberikan pandangan terhadap dirinya sendiri. Ternyata, anak-anak yang menganggap kemampuan mereka itu emang cuma berdasarkan apa yang mereka lihat selama 7 tahun sekolah dan gak berpikir kalo kecerdasan mereka itu masih bisa meningkat (fixed mindset), nilai akademisnya cenderung stagnan (segitu-gitu aja) selama beberapa tahun. Sedangkan anak-anak yang berpikir bahwa mereka masih bisa meningkatkan kemampuan dan kecerdasan mereka (growth mindset), nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Sekarang gua tanya, berapa banyak sih dari lo yang berpikir kalo lo emang nggak jago matematika, atau lo emang nggak kreatif, atau nggak jago komunikasi, nggak atletis, nggak punya sense of fashion, dan lain-lain? Berapa banyak pula dari lo yang berpikir kalo lo alaminya emang udah jago di bidang tertentu?

Kalo kita ingin memaksimalkan potensi kita, kita harus mulai berpikir berbeda. Kita harus mulai sadar kalo potensi diri kita tidak dirantai dengan kemampuan kita sekarang.

otak

Neurosains menunjukkan kalo otak kita bisa ditempa. Otak itu sama kayak otot. Otot kalo dilatih, yang tadinya klemar-klemer, bisa jadi kenceng, atletis. Lo kira Ade Rai udah punya six pack dari lahir? Sama juga dengan otak. Kalo rajin lo latih, lo bisa menguatkan ikatan antarneuronnya. Eits, tapi jangan salah kaprah dan kemakan mitos otak 10%, ya.

Banyak orang-orang hebat tadinya diprediksikan bakal bermasa depan suram. Charles Darwin, Lucille Ball, Marcel Proust, Mozart, Einstein. Walaupun tadinya dicap sebagai manusia gagal, mereka mampu membangun kemampuan mereka.

Kita semua sama-sama mulai dari nol. Sama-sama awalnya nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan, nggak bisa baca tulis, berhitung, nggak bisa naik sepeda, dan lain-lain. Ada saatnya Shakespeare juga baru mulai belajar alfabet, ada saatnya Einstein mulai kenal sama angka dan nama-nama satuan dalam fisika, sama kayak kita semua. Tapi, kuncinya sejauh mana kita percaya bahwa kita lahir untuk terus tumbuh dan berkembang dan kemampuan kita tuh jangan lo nilai hanya dari beberapa tahun waktu lo belajar selama ini. Ketika kita menyadari kalo kita bisa merubah kemampuan kita di bidang apapun yang kita mau, ketika kita punya growth mindset, we bring our game to new levels.

I have no special talents. I am only passionately curious.” -Albert Einstein-

 

Fixed Mindset, Ego, dan Gengsi

Gimana bisa ya pola pikir mempengaruhi performa seseorang?

Ternyata, ada manifestasi fisiologis terhadap pola pikir. Apa lagi itu? Hasil scan otak menunjukkan, pada orang-orang dengan fixed mindset, otaknya paling aktif ketika menerima informasi tentang performanya, seperti nilai tes atau bakal mikir, “gw udah keliatan pinter belum ya”. Tapi untuk orang-orang growth mindset, otak mereka paling aktif ketika menerima informasi tentang bagaimana mereka bisa melakukan lebih baik lagi.

Dengan kata lain, orang2 fixed mindset paling khawatir dengan bagaimana dia dinilai atau penilaian eksternal terhadap dia (ciee.. insecure dia). Sebaliknya, orang dengan growth mindset fokus utamanya ke sejauh mana dia memahami sebuah ilmu.

Salah satu ciri-ciri jelek dari orang dengan fixed mindset itu adalah mereka suka melihat “usaha” itu sebagai sesuatu yang konyol, sesuatu yang hanya perlu dilakukan oleh orang-orang berkemampuan rendah (makanya harus berusaha). Waktu mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung menarik kesimpulan kalo mereka emang ga bakat di bidang itu (ciee menghibur diri). Terus, mungkin karena ego, mereka kemudian cenderung kehilangan minat sampai akhirnya menarik diri atau berhenti belajar di bidang itu. Semakin sering dia melakukan hal ini di berbagai aspek kehidupannya, orang lain bakal mudah ngecap dia sebagai quitter. Kita mungkin selama ini melihat kasus begini karena orangnya kekurangan motivasi, padahal itu cuma sebuah gejala masalah doang. Akar masalah yang sebenarnya adalah bagaimana pola pikir fixed mindset yang menghambat dia untuk berkembang.

Kebalikannya. Orang dengan growth mindset melihat “usaha” itu sebagai sesuatu yang bikin mereka pintar, cara untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka gagal, mereka sadar kalo kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan mereka akan terus mencoba dan menemukan cara lain, seperti yang dilakukan Josh Waitzkin ketika dia kalah main catur atau bela diri.

tan malaka

 

Stop Memuji, “Anak Pintar”

Ada cerita seru dari sebuah studi lain. Ceritanya dalam studi ini, sang peneliti ngasih sekumpulan puzzle pada sekelompok anak. Ketika anak-anaknya berhasil menyusun puzzle, peneliti akan ngasih pujian. Pujiannya ada dua jenis.

  • Sebagian anak akan dipuji begini, “Wow, skor kamu bagus sekali, kamu emang pinter ya nyusun puzzle.” Ini adalah jenis pujian fixed mindset karena menggambarkan kecerdasan atau kemampuan sebagai kualitas yang tetap (fixed).
  • Sebagian anak lagi akan dipuji begini, “Wow, skor kamu bagus sekali, kamu pasti sudah berusaha keras ya.” Ini adalah jenis pujian growth mindset karena fokus pada proses.

Selesai puzzle pertama , para peneliti nanya ke anak-anak, “Oke, selanjutnya kalian mau kerjain puzzle yang mana, yang mudah atau yang sulit?” Mayoritas anak yang menerima pujian fixed mindset milih puzzle yang gampang, sedangkan sebagian besar anak yang nerima pujian growth mindset memilih untuk menantang dirinya.

Selesai puzzle kedua, para peneliti kemudian ngasih puzzle yang bener-bener sulit ke semua anak untuk ngeliat gimana pengaruh konfrontasi kesulitan terhadap performa anak. Setelah puzzle ketiga (yang sulit), para peneliti kasih puzzle gampang yang mirip dengan puzzle pertama. Ternyata, hasilnya menarik banget lho, anak-anak dengan pujian fixed mindset skornya lebih buruk signifikan dari skor mereka pertama kali. Sedangkan anak-anak dengan pujian growth mindset justru malah dapat skor lebih baik dari skor pertama mereka. Padahal itu puzzle yang mirip banget sama puzzle pertama yang mereka kerjakan sebelumnya lho!

Lucunya lagi, di akhir sesi, anak-anak disuruh ngelaporin skor mereka selama ngerjain puzzle. Anak dengan pujian fixed mindset rata-rata bohong 3 kali lebih banyak daripada anak2 dengan pujian growth mindset. Mereka ngga punya cara lain untuk menghadapi kegagalan mereka, kecuali dengan jaga image dan melindungi ego mereka.

Nah, studi yang menarik ini bisa jadi refleksi kita bersama, seberapa sering sih kita pas kecil dipuji karena pintar atau jago dalam suatu hal? Atau mungkin sampe sekarang orang tua dan guru lo masih melakukan yang sama? Atau lo sering melakukannya sama adik lo?

Mungkin sebagian orang berpikir kalo kata-kata pujian itu buat meningkatkan rasa percaya diri, tapi salah-salah malah naruh kita ke fixed mindset. Ketika kita mendapatkan label “pinter” atau “jago” sejak awal dari dunia eksternal, kita malah jadi takut sama tantangan untuk berkembang dan kehilangan rasa percaya diri ketika segala hal yang kita upayakan itu udah mulai sulit. Sama juga ketika kita sering dicap sebagai payah/bego dalam suatu hal, baik oleh diri sendiri atau orang lain, kemampuan kita mandek karena kita percaya kemampuan kita emang segitu-gitu doang.

Tapi jangan salah ya, maksud gua bukan berarti kita nggak boleh dapet masukan (feedback) dari lingkungan. Penting untuk mendapatkan feedback (pujian atau kritik), tapi harus berdasarkan proses, bukan berorientasi pada hasil, bukan pula berdasarkan bakat.

 

Mindset Bisa Diubah, kok

Buat lo yang baru nyadar setelah baca artikel ini kalo selama ini lo terjebak dengan pola fixed mindset, tenang aja… Studi-studi yang gw ceritain di atas menunjukkan kalo kita bisa merubah mindset kita. Lagian sebetulnya ini wajar banget kok, karena sebagian besar dari kita pasti punya fixed mindset tentang sesuatu, bisa jadi fixed-mindset lo bukan di pelajaran, tapi di kehidupan sosial, cara lo berkomunikasi, kemampuan fisik lo, dan lain sebagainya.

Dalam beberapa kasus, ketika growth mindset ini dicoba untuk sengaja dibangun pada murid-murid secara bertahap, mereka jadi cenderung lebih tertarik untuk belajar, usaha lebih keras, dan pastinya tercermin juga dari nilai akademis yang semakin meningkat. Mengembangkan growth mindset juga terbukti memecah stereotype yang ada di dunia pendidikan, seperti cewek kurang di matematik atau etnis tertentu kemampuannya lebih rendah dari etnis lain.

Sekarang lo udah tau gimana ngebentuk pola pikir yang kondusif untuk perkembangan diri lo. Jangan lupa belajar gimana cara mengembangkan potensi kita lewat deliberate practice dan cara gimana caranya supaya belajar jadi fun. Ketika kita paham bagaimana cara mengembangkan kemampuan kita, itu akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita punya kontrol sepenuhnya atas kemampuan kita. Ngga fixed bawaan dari orok doang. And at last, kalo di kepala lo masih ada suara-suara begini:

“Gw emang payah di Fisika, nggak akan bisa kalo nggak remed”

“Kemampuan gw emang cuma segini, nggak akan bisa lulus SBMPTN”

“Gw tuh males gerak, perut gw akan buncit selamanya”

“Gw emang sucks in relationship, gw akan forever alone”

“Kecepatan renang gw 3 detik lebih lambat dari dia, gw nggak akan menang turnamen kabupaten”

Lo coret pemikiran itu semua dari kepala lo. Lo ganti kata-kata “ga bisa” jadi “BELUM” atau “BELUM SEKARANG”. Teruslah berusaha, jangan pernah menyerah, dan ketahuilah bahwa kalo gagal itu artinya bukan cuma keberhasilan yang tertunda tapi terus lo gak berusaha. Kegagalan itu lebih tepat artinya lo sedang dalam proses belajar. Berhasil atau nggaknya, itu semua tergantung usaha lo, dan pola pikir lo untuk terus mau berkembang!

 

Sumber Referensi:

Disadur dari video TEDx http://www.youtube.com/watch?v=pN34FNbOKXc
Khan Academy http://www.youtube.com/watch?v=JC82Il2cjqA

Sumber Gambar:

http://thelifegarage.blogspot.com/
http://kidaptive.com/fixed-vs-growth-mindset-the-benefits-of-believing-your-brain-can-learn
http://blog.mimio.com/the-growth-mindset
http://observer.com/2012/05/chess-master-josh-waitzkin-makes-winning-move-into-greenwich-village-co-op/

 

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Fanny tentang pengalaman lo terkait growth mindset maupun fixed mindset, jangan malu-malu, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.