Iya, Gua Emang Bukan Anak Pinter. Terus Gimana Dong?

Orang pintar atau bodoh tidak ditentukan dari lahir. Artikel ini membahas pentingnya peranan pola pikir atau mindset dalam keberhasilan seseorang.

“Aku bodoh..”

Kira-kira itu yang digumamkan Ani pada diri sendiri ketika melihat nilai UTS Matematikanya yang cuma 25. Di sampingnya, ada Doni yang menyeringai puas dapat 90, sambil bergumam,

“Ah gw emang jago Matematik!!”

 

Guys, gw mau nanya sama lo, menurut lo kira-kira apa sih kunci untuk mencapai sebuah tujuan atau keberhasilan? Mungkin lo bakal jawab, kerja keras, ada juga yang bakal jawab harus tetep fokus, atau ketekunan. Selama ini, kita di Zenius emang sering pesan ke lo kalo kerja keras adalah harga mati untuk mencapai apa yang lo inginkan. Memang itu semua bener.

Tapi kali ini, gw akan beberin satu kunci yang ga kalah krusial dalam meraih keberhasilan, terlepas dengan apapun definisi dari "berhasil" dalam hidup lo. Kunci ini berlaku buat segala bidang, dari belajar, penampilan, cinta, sampe penyelesaian konflik. Kunci inilah yang penting banget buat lo kembangin buat ngedorong banget motivasi lo untuk kerja keras, fokus, dan tekun. Apa itu?

catur

Eit sebelumnya gua bahas kuncinya, gw mau kenalin lo ke seseorang bernama Josh Waitzkin. Kalo lo pernah nonton film “Searching for Bobby Fischer” atau lo penggemar catur sejati, mungkin lo udah tau nih orang. Siapa sih dia? Josh Waitzkin adalah master catur internasional asal Amerika Serikat. Dia satu-satunya orang yang pernah menang turnamen di segala tingkat di AS. Pas duduk di bangku sekolah aja, dia berhasil memenangkan 7 kejuaraan catur nasional. Belum ada yang pernah memenangkan semua kejuaraan catur nasional sebanyak Josh. Dia berhasil menyandang gelar MASTER dalam catur internasional pada usia 16 tahun. Mantep? Tunggu dulu.

taichiKetika berusia 21 tahun, dia memutuskan untuk ambil tantangan dalam hidupnya dengan banting setir, mempelajari sesuatu yang jauuh berbeda dari dunia caturnya selama ini… ilmu bela diri! Waduh. Kok bisa? Dia menyadari kalo dia udah belajar gimana caranya tumbuh dan berhasil (di dunia catur), dan dia pikir pasti bisa diterapin juga untuk bidang lain. Mulailah dia mencurahkan diri belajar Tai Chi. Setelah melalui perjuangan yang keras, kesulitan di sana-sini, dan entah berapa kali dia cedera, akhirnya dia berhasil jadi master bela diri hebat dan memenangkan dua Kejuaraan Dunia Tai Chi. Wuih!

Nggak puas dengan prestasi dia di seni bela diri Tai Chi, sekarang doi lagi sibuk belajar jiujitsu bahkan udah sampe mendirikan akademi jiujitsu pula. Gila banget yak nih orang!

Mungkin sekarang lo mulai berpikir:

“Ah si Josh emang jenius aja kali tuh. Emang orang spesial gitu, prodigy.”

Jangan salah Guys, ada satu momen dalam hidup Josh yang menurut pengakuannya jadi hal terbesar yang pernah terjadi di hidupnya. Percaya atau tidak, Josh bilang, kekalahan yang dia alami pas pertama kali ikut turnamen catur nasional membantu dia menghindari jebakan psikologis. Jebakan psikologis yang berhasil dia hindari adalah percaya kalo dia itu spesial, kalo dia emang lebih pintar dari orang lain, dan dia nggak perlu usaha terlalu keras untuk dapetin yang dia mau. Dengan deretan prestasi yang dia punya, Josh bisa aja tergoda untuk mikir kalo dia itu emang seorang jenius. Tapi nyatanya tidak. Seorang master catur internasional pun juga melewati kegagalan.

“The moment we believe that success is determined by an ingrained level of ability, we will be brittle in the face of adversity.” – Josh Waitzkin

 

Oke, trus apa dong satu kunci krusial yang pengen lo bahas di sini, Fan? Kuncinya adalah pola pikir dalam bagaimana lo memandang segala sesuatu, atau lebih gampangnya kita sebut dengan istilah Mindset ..

 

Perbedaan Pola Pikir

Beberapa orang di dunia ini menilai kalo kecerdasan atau kemampuan seseorang adalah sesuatu yang bersifat "tetap" (fixed). Orang-orang kayak begini bakal menilai, “Oh dia emang anak yang terlahir pintar” atau “Otak gw tuh emang lelet, lambat banget kalo disuruh hafalan” atau “Badan gw tuh kaku, ga akan bisa deh belajar nge-dance”. Penilaian-penilaian macam ini disebut dengan fixed mindset.

Di sisi lain, ada juga orang-orang di dunia ini yang melihat kalo sebuah kualitas itu dapat dikembangkan. Contohnya, ya, kayak si Josh. Orang-orang yang semacam ini dengan atau tanpa mereka sadari memiliki pola pikir yang terus berkembang atau gampangnya disebut dengan growth mindset.

growth mindset

Oke, sekrusial itukah peran mindset (pola pikir) dalam keberhasilan seseorang? Jawabannya IYA BANGET, dan udah banyak riset yang membuktikannya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan profesor Stanford, membuktikan kalo kedua mindset yang berbeda ini memang mengantarkan pada perilaku dan hasil yang berbeda secara signifikan. Konsep risetnya gini, setelah memilih ratusan sampel anak kelas 7 SMP yang background-nya dianggap mewakili populasi, mereka diminta untuk memberikan pandangan terhadap dirinya sendiri. Ternyata, anak-anak yang menganggap kemampuan mereka itu emang cuma berdasarkan apa yang mereka lihat selama 7 tahun sekolah dan gak berpikir kalo kecerdasan mereka itu masih bisa meningkat (fixed mindset), nilai akademisnya cenderung stagnan (segitu-gitu aja) selama beberapa tahun. Sedangkan anak-anak yang berpikir bahwa mereka masih bisa meningkatkan kemampuan dan kecerdasan mereka (growth mindset), nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Sekarang gua tanya, berapa banyak sih dari lo yang berpikir kalo lo emang nggak jago matematika, atau lo emang nggak kreatif, atau nggak jago komunikasi, nggak atletis, nggak punya sense of fashion, dll.? Berapa banyak pula dari lo yang berpikir kalo lo alaminya emang udah jago di bidang tertentu?

Kalo kita ingin memaksimalkan potensi kita, kita harus mulai berpikir berbeda. Kita harus mulai sadar kalo potensi diri kita tidak dirantai dengan kemampuan kita sekarang.

otak

Neurosains menunjukkan kalo otak kita bisa ditempa. Otak itu sama kayak otot. Otot kalo dilatih, yang tadinya klemar-klemer, bisa jadi kenceng, atletis. Lo kira Ade Rai udah punya six pack dari lahir? Sama juga dengan otak. Kalo rajin lo latih, lo bisa menguatkan ikatan antarneuronnya. Eits, tapi jangan salah kaprah ya, dan kemakan mitos otak 10%.

Banyak orang-orang hebat tadinya diprediksikan bakal bermasa depan suram. Charles Darwin, Lucille Ball, Marcel Proust, Mozart, Einstein. Walaupun tadinya dicap sebagai manusia gagal, mereka mampu membangun kemampuan mereka.

Kita semua sama-sama mulai dari nol. Sama-sama awalnya nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan, nggak bisa baca tulis, berhitung, nggak bisa naik sepeda, dan lain-lain. Ada saatnya Shakespeare juga baru mulai belajar alfabet, ada saatnya Einstein mulai kenal sama angka dan nama-nama satuan dalam fisika, sama kayak kita semua. Tapi, kuncinya sejauh mana kita percaya bahwa kita lahir untuk terus tumbuh dan berkembang dan kemampuan kita tuh jangan lo nilai hanya dari beberapa tahun waktu lo belajar selama ini. Ketika kita menyadari kalo kita bisa merubah kemampuan kita di bidang apapun yang kita mau, ketika kita punya growth mindset, we bring our game to new levels.

"I have no special talents. I am only passionately curious." -Albert Einstein-

 

Fixed mindset, ego, dan gengsi

Gimana bisa ya pola pikir mempengaruhi performa seseorang?

Ternyata, ada manifestasi fisiologis terhadap pola pikir. Apa lagi itu? Hasil scan otak menunjukkan, pada orang-orang dengan fixed mindset, otaknya paling aktif ketika menerima informasi tentang performanya, seperti nilai tes atau bakal mikir, “gw udah keliatan pinter belum ya”. Tapi untuk orang-orang growth mindset, otak mereka paling aktif ketika menerima informasi tentang bagaimana mereka bisa melakukan lebih baik lagi.

Dengan kata lain, orang2 fixed mindset paling khawatir dengan bagaimana dia dinilai atau penilaian eksternal terhadap dia (ciee.. insecure dia). Sebaliknya, orang dengan growth mindset fokus utamanya ke sejauh mana dia memahami sebuah ilmu.

Salah satu ciri-ciri jelek dari orang dengan fixed mindset itu adalah mereka suka melihat “usaha” itu sebagai sesuatu yang konyol, sesuatu yang hanya perlu dilakukan oleh orang-orang berkemampuan rendah (makanya harus berusaha). Waktu mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung menarik kesimpulan kalo mereka emang ga bakat di bidang itu (ciee menghibur diri). Terus, mungkin karena ego, mereka kemudian cenderung kehilangan minat sampai akhirnya menarik diri atau berhenti belajar di bidang itu. Semakin sering dia melakukan hal ini di berbagai aspek kehidupannya, orang lain bakal mudah ngecap dia sebagai quitter. Kita mungkin selama ini melihat kasus begini karena orangnya kekurangan motivasi, padahal itu cuma sebuah gejala masalah doang. Akar masalah yang sebenarnya adalah bagaimana pola pikir fixed mindset yang menghambat dia untuk berkembang.

Kebalikannya. Orang dengan growth mindset melihat “usaha” itu sebagai sesuatu yang bikin mereka pintar, cara untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka gagal, mereka sadar kalo kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan mereka akan terus mencoba dan menemukan cara lain, seperti yang dilakukan Josh Waitzkin ketika dia kalah main catur atau bela diri.

tan malaka

 

Stop memuji, “Anak Pintar”

Ada cerita seru dari sebuah studi lain. Ceritanya dalam studi ini, sang peneliti ngasih sekumpulan puzzle pada sekelompok anak. Ketika anak-anaknya berhasil menyusun puzzle, peneliti akan ngasih pujian. Pujiannya ada dua jenis.

  • Sebagian anak akan dipuji begini, “Wow, skor kamu bagus sekali, kamu emang pinter ya nyusun puzzle.” Ini adalah jenis pujian fixed mindset karena menggambarkan kecerdasan atau kemampuan sebagai kualitas yang tetap (fixed).
  • Sebagian anak lagi akan dipuji begini, “Wow, skor kamu bagus sekali, kamu pasti sudah berusaha keras ya.” Ini adalah jenis pujian growth mindset karena fokus pada proses.

Selesai puzzle pertama , para peneliti nanya ke anak-anak, “Oke, selanjutnya kalian mau kerjain puzzle yang mana, yang mudah atau yang sulit?” Mayoritas anak yang menerima pujian fixed mindset milih puzzle yang gampang, sedangkan sebagian besar anak yang nerima pujian growth mindset memilih untuk menantang dirinya.

Selesai puzzle kedua, para peneliti kemudian ngasih puzzle yang bener-bener sulit ke semua anak untuk ngeliat gimana pengaruh konfrontasi kesulitan terhadap performa anak. Setelah puzzle ketiga (yang sulit), para peneliti kasih puzzle gampang yang mirip dengan puzzle pertama. Ternyata, hasilnya menarik banget lho, anak-anak dengan pujian fixed mindset skornya lebih buruk signifikan dari skor mereka pertama kali. Sedangkan anak-anak dengan pujian growth mindset justru malah dapat skor lebih baik dari skor pertama mereka. Padahal itu puzzle yang mirip banget sama puzzle pertama yang mereka kerjakan sebelumnya lho!

Lucunya lagi, di akhir sesi, anak-anak disuruh ngelaporin skor mereka selama ngerjain puzzle. Anak dengan pujian fixed mindset rata-rata bohong 3 kali lebih banyak daripada anak2 dengan pujian growth mindset. Mereka ngga punya cara lain untuk menghadapi kegagalan mereka, kecuali dengan jaga image dan melindungi ego mereka.

Nah, studi yang menarik ini bisa jadi refleksi kita bersama, seberapa sering sih kita pas kecil dipuji karena pintar atau jago dalam suatu hal? Atau mungkin sampe sekarang orang tua dan guru lo masih melakukan yang sama? Atau lo sering melakukannya sama adik lo?

Mungkin sebagian orang berpikir kalo kata-kata pujian itu buat meningkatkan rasa percaya diri, tapi salah-salah malah naruh kita ke fixed mindset. Ketika kita mendapatkan label "pinter" atau "jago" sejak awal dari dunia eksternal, kita malah jadi takut sama tantangan untuk berkembang dan kehilangan rasa percaya diri ketika segala hal yang kita upayakan itu udah mulai sulit. Sama juga ketika kita sering dicap sebagai payah/bego dalam suatu hal, baik oleh diri sendiri atau orang lain, kemampuan kita mandek karena kita percaya kemampuan kita emang segitu-gitu doang.

Tapi jangan salah ya, maksud gua bukan berarti kita nggak boleh dapet masukan (feedback) dari lingkungan. Penting untuk mendapatkan feedback (pujian atau kritik), tapi harus berdasarkan proses, bukan berorientasi pada hasil, bukan pula berdasarkan bakat.

 

Mindset bisa diubah kok

Buat lo yang baru nyadar setelah baca artikel ini kalo selama ini lo terjebak dengan pola fixed mindset, tenang aja... Studi-studi yang gw ceritain di atas menunjukkan kalo kita bisa merubah mindset kita. Lagian sebetulnya ini wajar banget kok, karena sebagian besar dari kita pasti punya fixed mindset tentang sesuatu, bisa jadi fixed-mindset lo bukan di pelajaran, tapi di kehidupan sosial, cara lo berkomunikasi, kemampuan fisik lo, dlsb.

Dalam beberapa kasus, ketika growth mindset ini dicoba untuk sengaja dibangun pada murid-murid secara bertahap, mereka jadi cenderung lebih tertarik untuk belajar, usaha lebih keras, dan pastinya tercermin juga dari nilai akademis yang semakin meningkat. Mengembangkan growth mindset juga terbukti memecah stereotype yang ada di dunia pendidikan, seperti cewek kurang di matematik atau etnis tertentu kemampuannya lebih rendah dari etnis lain.

Sekarang lo udah tau gimana ngebentuk pola pikir yang kondusif untuk perkembangan diri lo. Jangan lupa belajar gimana cara mengembangkan potensi kita lewat deliberate practice dan cara gimana caranya supaya belajar jadi fun. Ketika kita paham bagaimana cara mengembangkan kemampuan kita, itu akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita punya kontrol sepenuhnya atas kemampuan kita. Ngga fixed bawaan dari orok doang. And at last, kalo di kepala lo masih ada suara-suara begini:

“Gw emang payah di Fisika, nggak akan bisa kalo nggak remed”

“Kemampuan gw emang cuma segini, nggak akan bisa lulus SBMPTN”

“Gw tuh males gerak, perut gw akan buncit selamanya”

“Gw emang sucks in relationship, gw akan forever alone”

“Kecepatan renang gw 3 detik lebih lambat dari dia, gw nggak akan menang turnamen kabupaten”

Lo coret pemikiran itu semua dari kepala lo. Lo ganti kata-kata “ga bisa” jadi “BELUM” atau “BELUM SEKARANG”. Teruslah berusaha, jangan pernah menyerah, dan ketahuilah bahwa kalo gagal itu artinya bukan cuma keberhasilan yang tertunda tapi terus lo gak berusaha. Kegagalan itu lebih tepat artinya lo sedang dalam proses belajar. Berhasil atau nggaknya, itu semua tergantung usaha lo, dan pola pikir lo untuk terus mau berkembang!

 

Sumber Referensi:

Disadur dari video TEDx http://www.youtube.com/watch?v=pN34FNbOKXc
Khan Academy http://www.youtube.com/watch?v=JC82Il2cjqA

Sumber Gambar:

http://thelifegarage.blogspot.com/
http://kidaptive.com/fixed-vs-growth-mindset-the-benefits-of-believing-your-brain-can-learn
http://blog.mimio.com/the-growth-mindset
http://observer.com/2012/05/chess-master-josh-waitzkin-makes-winning-move-into-greenwich-village-co-op/

 

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Fanny tentang pengalaman lo terkait growth mindset maupun fixed mindset, jangan malu-malu, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

  • Wah, oke banget nih artikelnya. Gua jadi inget dulu waktu SMP, gua selalu dibilangin jago gambar sama guru dan temen-temen gua. Hasilnya kemampuan gua gak berkembang sampai akhirnya gua sadar ketertinggalan gua (dalam kemampuan gambar) pas waktu udah mau lulus SMA.

    Di satu sisi, guru matematika SMP gua selalu bilang ke gua "wah nilai kamu ningkat lagi nih, bagus2.. berikutnya harus lebih oke lagi yah!". Cuma gara2 itu gua yang tadinya waktu SD nilai matematika selalu di bawah 50 makin lama-makin bagus sampe nilainya pernah 100 berkali-kali. Tapi yah abis itu sempet takabur lagi jadi nurun lagi jadi 80an, hahaha.. Ck, coba gua baca artikel ini dari dulu yee, hahaha...

    • Justru guè pernah denger tentang pentingnya fixed mindset. Jadi gini, misalnya pas sd ada 2 orang anak yg sedang menggambar (kemampuan menggambar mereka setara). Sebutlah si A dan si B. Nah, Kebetulan saat itu si A gambarnya sedang bagus banget dan si B lg jelek banget. Trs ada guru yg bilang kalau si A pinter gambar dan si B ga bisa gambar.

      Efeknya si A menstimulus dirinya kalau dia itu pinter gambar dan jago gambar segala macem, dan berkebalikan dg si B. plikasinya pas mereka udah dewasa si A tambah pinter gambar dan si B gak pinter gambar.

      Itu yg pernah gue denger sih. Jadi keahlian itu pengaruh sedikit dr bakat, dan berpengaruh banyak dr stimulus macem gitu. Ini yg bener mana dong?

      • Rizaldi Prasetya

        Menurut gue yg paling penting itu mau u/ terus dan terus belajar deh bro.. Skrg inti dari yg mau disampein artikel ini kan, walaupun kita udh dianggap org2 pinter, jgn cepat puas diri trus leha leha. Kita harus punya growth mindset kalo kita masih bisa berkembang sama skill kita itu. Dan kalo emang kita belum dianggap org2 sekitar sebagai seorang master, jgn berkecil hati jg. Kita tetep harus belajar dan belajar. Karna pada intinya otak maupun otot itu bisa dilatih. Kita harus punya growth mindset.

        dan kalo dikaitkan sama pertanyaan lo,sabda jg udh cerita tentang self concept di videonya. Kalo ada 2 anak, pas tk satunya dipuji terus sama lingkungannya kalo dia pinter , lama kelamaan dia jadi pinter beneran. Dan yg satunya di jelek jelekin kalo gak pinter. Dan terbukti, pas gede dia jadi gak pinter. Pengetahuannya sedikit. Kenapa? Karna yg pinter itu pas dikasih soal susah bakal pasang mindset kalo dia bisa! Karna dia ngerasa dia pinter. Masak anak pinter gak bisa? Tapi yg dijelek jelekin td masang mindset kalo dia gak pinter. Dia gak bisa. Jd begitu dikasih soal yg susah dia lgsg aja tidur. Soalnya dia nganggepnya dia gak bisa. Padhl kalo td anak yg kedua mbaca artikel ini, dia bakal tau kalo kemampuan otak dan otot itu sebenernya SANGAT BISA u/ ditingkatin. Dan mungkin aja setelah itu dia jadi terus belajar dan belajr, sampe akhirnya kemampuannya bisa ngalahin anak yg pertama. Jd inti dari yg mau sampaikan zenius itu (MUNGKIN) : kita harus mau terus dan terus belajar. Karna belajar itu sampai akhir hayat bro.

        Tolong dibenerin ya kalo ada konsep saya yg salah mas/ mbak zenius 🙂

        • Fanny Rofalina

          Setujuh!!

      • Yusrina Golbasi

        Kalo menurut gue nih ya. Tergantung individu itu sendiri. Misal nih ya:
        Si A, "Gue udah pinter, ngga usah belajar lagi. Buat apa capek-capek."
        Si B, "Gue musti belajar lebih rajin, biar gak ngecewain kedepannya (motivasinya bisa beda-beda juga sih)"

        Alhasil si A kemampuannya gitu aja terus. Dan si B berkat kerja kerasnya dia makin tambah jago di bidang tersebut.

  • ray

    keren banget thanks

    • Fanny Rofalina

      Simi-simi. Semoga bermanfaat ya..

  • putridiar

    Membantu dan bermanfaat nih kak, makasih =)

    • Fanny Rofalina

      Yep, yep. Ayo semangat!

  • putra wijaya

    thanks banget lah ini bermanfaat bagi gua sama adik2 gua yg make zenius hahaha

    • Fanny Rofalina

      🙂
      Emangnya kamu kelas berapa? Adik mu kelas berapa?

  • Bagaskoro Dwi R

    wow, pelatih jujitsu gua pernah bilang "jangan bilang gak bisa! nanti jadi gak bisa beneran!" dan sampe sekarang alhamdulillah gua gak pernah bilang "gak bisa" walaupun nemuin keadaan sulit apa pun.

    • Fanny Rofalina

      Wah, bisa nyusul Josh Waitzkin dong nih..

      • Bagaskoro Dwi R

        hmm bisa gak yaaaa? 🙂 . Btw artikel yang bagus kak!!!, bisa keren nih indonesia kalo seluruh pelajarnya pada baca 😀

        • Fanny Rofalina

          Iya bener. Bantu share dong bro 😀

          • Bagaskoro Dwi R

            siap boss!!!

  • Talaksoru

    Gue termasuk korban fixed mindset. Dari dulu banyak banget yang muji suara gue bagus kalo nyanyi. Dan emang bener, pujian2 kayak gitu bikin gue jadi puas diri. Jadinya males banget latihan vokal. Seandainya latihan pun seadanya. Terbukti pas SMP ada kayak idol2an gitu di sekolah, dan gue ga lolos audisi. Makin demotivasi jadinya waktu itu. Gue ngerasa orang2 bohong tentang kemampuan gue. Sampai akhirnya mendam bakat tanpa dieksplor sampe SMA.

    Efek pujian tipe "fixed mindset" itu emang rada bahaya sih. Yah belakangan baru gue sadar, krn orangtua sering ngasih motivasi ala growth mindset gitu dan mulai latihan lagi deh. Btw, itu catatan editor salah deh kayaknya. Penulisnya kan bukan Annisa (Sasa). Hahaha.

    • Fanny Rofalina

      Hhaaha, makasih udah diingetin bro.

      Iya, gw juga suka refleksi, pas duduk bangku sekolah, gw suka udah berasa pinter, karena emang nilai ujian bagus terus dan langganan juara. Efek jeleknya, pas nilai gw jelek dan disuruh belajar lebih bener lagi, gw malah tersinggung dan jadi dendam sama tuh guru karena udah remehin kemampuan gw. Hahaha.

      Untunglah banyak riset psikologi dan neurosains tentang beginian ya..

      • Timothy ST

        gue share di page facebook gue gpp boleh ya

        • Fanny Rofalina

          Boleh buanget!!

  • muthiadestiana

    Waktu kelas 10 aku sering banget remed matematika dan mikir duh kayaknya emang gaada bakat matematika dan udah nyerah aja deh pokoknya. Tiap mau ulangan, ga pernah belajar karena bingung mau ngapain dan udah pasrah sama yg maha kuasa. Simple as that, "ga suka matematika". Oke. Ternyata emang gabisa lepas dari yg namanya matematika ya. Mau ipa, ips, bahasa, pasti ada matematikanya. Kelas 11 aku lelah menjadi peserta olimpiade matematika (atlet remed sih sebenernya:() akhirnya aku mulai belajar, mulai mengubah cara pandangku terhadap matematika dan wow! Ternyata matematika itu menyenangkan juga. Alhasil aku gapernah lagi remedial matematika sampe kelas 12 ini *alhamdulillah ya, sesuatu. Dan buat temen2 ips seperjuangan sebangsa setanah air, tetaplah percaya diri bahwa kita bisa dan buktikan pada dunia bahwa kita hebat dan kita bukan anak saringan ipa yg gakesaring. Hidup itu harus siap tersandung tanpa harus terjatuh. Namun kebanggaan terbesar bukan karena tidak pernah terjatuh, melainkan selalu bangkit saat terjatuh. You are what you think. Salam sukses 2015!

    • Fanny Rofalina

      Sesuatu ya sis. Semangat semangat!!

    • kiki aviani

      suka banget sama kata2nya XD kak

      "kita hebat dan kita bukan anak saringan ipa yg gakesaring" 😉

    • diana

      Izin share kata2nya ka ka

    • Bani Ulyses

      sesuatu bangat uhh lala jadi lapar bacanya

  • Hilmy Adam Jieta Pradana

    huwanjeeer kesindir abeeeszzz...
    mungkin ini yang bikin gue loyo 2 bulan ini di ITB. 12 tahun jadi high achiever di sekolah hanya mampu menjadikan gue butiran jasjus yang tak terminum di ITB. Seminggu ini udah tobat sih, mantep dah ini artikel moga bisa nge-boost tobat gue dan gue bisa memulai mencintai tantangan yang lebih gede. 4 jempol dah 🙂

    • Fanny Rofalina

      Butiran jasjus.. Hahaha.
      Ane lebih suka butiran Minute Maid Pulpy Orange, gan. *kenapa jadi kayak iklan begini*

      Semangat ya di ITB. Lo bisa masuk ke ITB kan juga pasti melalui usaha, Jangan sia-siakan ya. Jalan lo masih panjang. Banyak petualangan menunggu. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya and explore the world 🙂

      • Hilmy Adam Jieta Pradana

        kyaaa siaaap makasih kak, iya betul sayang banget kalo disia-siakan 🙂

    • alfikri d. pratama

      Azehhhhh anak itb,

  • Pas banget nih. Baru nyadar bahwa selama ini yang namanya fixed mindset itu betah bersarang di kepala aku. Aku lagi kuliah di jurusan sastra bahasa negara lain. Aku ngerasa gaada bakat nih dalam mempelajari bahasa itu. Sampe besok senin UTS pun masih belum ada gambaran bakal gimana UTSnya. Meski baru dasar banget mempelajari bahasanya itu udah bikin mental breakdown apa lagi temen - temen udah banyak yang kelihatannya bisa. Tapi berkat artikel ini jadi muncul pengharapan lagi. Bahwa aku bakalan bisa kalau berusaha lebih dan belajar dengan "benar" bukan menghafal seperti dulu waktu SMA. Terimakasih, Kak Fanny. 🙂

    • Fanny Rofalina

      Sama-sama Yuliana.
      Wah belajar sastra apa nih? Ajarin gw juga dong 😀

      • Sastra Prancis nih, Kak. Besok ya, Kak kalo aku udah bisa belajar dengan bener dan udah sampe level C2. Tinggal kontak aja. LOL. Aminin dulu deh. 😀

        • Fanny Rofalina

          Wih, seksi banget Perancis. Gw cuma bisa andelin DuoLingo hahaha

  • faris latif

    demi, SUKA BANGET nih artikel !! keren !! (baru dijelasin, haha maaf abis keren)

    • Fanny Rofalina

      Thank you, Bantu share ya.. 🙂

  • edy amyani

    waah...artikel yang sunguh menarik......selama ini saya termasuk yg bertype fix mindset....jadi merasa gemana gtu.....dan hasilnya, lambat berkembang dari teman2 lain nya....sekarang baru nyadar....terimakasih mbak fanny yang sudah menyusun artikel apik ini, ijinin saya nyimpan halaman ini di arsip pribadi, buat dibagiin ke anak saya, agar dia bisa ikut baca juga....

    • Fanny Rofalina

      Sama-sama pak Edy. Semoga berguna dan jadi reminder buat kita semua ya pak ..

  • bayu

    Wih, aku pas baca ni artikel ke inget wktu sd, gw slalu Guru blng anake pnter wae, smpai" juara 1 dri klas 1 ampe 6, but wktu msuk smp aku slalu nganggap diri ane pnter dan pola piqir fixed minset yaa jadinya ane ggal krna tdak dikembangkan plajaranya, hngga ampe SMA klas 2 ini msih sja bgitu ,akhirnya ane sadar pas baca artikel ini hngga ane tau kslahan yg ada pda diriku,, Kasih Jempol bnget dah ñih group.
    Dan skrang ane udh kelas 3 diutus oleh sklah buat ikut competensi Dibogor "LCTB" ,, yaa dngan adanya artikel ini ane Harus Berusaha buat yg lebih terbaik lgi,,, Mksih kak Fanny.

    • Fanny Rofalina

      Iya, sama-sama Bayu. Btw, LCTB itu apa ya?

  • Dhawy Farras Putra

    Pas baca 1/4 artikel udah nebak bakalan ngebahas "You can learn anything" . Btw khan academy cara belajarnya mirip zenius berangkat dari konsep dan step by step.
    Makasih banget di selip-selipin kata-kata yang ga familiar ditandain pake garis miring jadi sekalian belajar kata-kata baru.

    Kira-kira ada ga ya, sekolah di indonesia yang menanamkan growth mindset pada murid didiknya ?

    • Fanny Rofalina

      Hehe, iya emang disadur dari salah satu video TEDx dan salah satu kampanye nya Khan Academy.

      Zenius emang mirip Khan Academy, in some parts. Cuma kita emang fokus ke pelajaran sekolah.

      Wah, gw belum cek tuh. Mesti nanya ke forum pemerhati pendidikan. nih.

  • Rizky Prasetya

    Pingin bnget dech make zenius

    • Fanny Rofalina

      Ayo lah coba lah 😀

    • Talaksoru

      Langsung beli vouchernya bro, dan rasakan khasiatnya 😀

  • Sandro Hanaehan Sirait

    WOW! terima kasih untuk artikel yang membuka pikiran!
    saya sempat berasumsi karena "negative labeling" dengan keyword buruk berakibat buruk (sudah ada banyak studinya), maka haruslah dilakukan "positive labelling". Masalahnya bukan di negative/positive labelling tapi di growth/fixed mindset.
    Terima kasih!

    • Fanny Rofalina

      Setali tiga uang ya..

  • Jihad

    kan ada tuh kak orng2 yang beli kunci pas UN ? tanggapan kaka apa sama orang2 kaya gitu .

    • Fanny Rofalina

      Yang pasti karena ga pede sama kemampuan mereka ya. Fixed mindset bisa jadi salah satu akar masalahnya.

  • Irwan Ardiansyah

    Baca artikel ini gue sampe ketawa-ketawa sendiri. Cerita dikit boleh ya? Dulu pas gw SMA ,gw itu ga bisa olahraga apa-apa. Sepak bola gw gak bisa,Bulu tangkis gw ga bisa,balap lari paling belakang udah gitu gampang capek (secara pas SMA gw gendut,hehe). Saat gw beranjak kelas dua SMA barulah ada temen-temen gw yg ngajak main bulu tangkis. Saat pertama kali gw main bulu tangkis,pasti gw selalu diledekin sama temen-temen dan kalo main ganda pasti tim gw bakal kalah karna gw ga bisa main. Well,emang pertama-tama gw ngerasa ga berguna banget,payah,cemen. Tapi karna temen-temen gw yg terus ngajak gw maen, itu juga mungkin biar ada bahan tertawaan mereka kali hehe..akhirnya setahun ini gw bisa ngalahin mereka satu-persatu walaupun ada yang belom bisa gw kalahin. Emang cerita gw ga "Wah" kaya para ilmuwan,tapi saat gw mengalami ini gw jadi berfikir bahwa ga ada orang yang ditakdirkan payah selama-lamanya oleh Tuhan. Semua bisa didapat dengan latihan dan latihan.Mind set itu gw pake terus sampe detik ini dan tahun ini gw lagi berusaha untuk ngalahin temen gw yang udah masuk UI sekaligus ngalahin dia main Piano secara temen gw itu jago main Piano :v

    • Fanny Rofalina

      Cerita lo keren kok, bro.
      Kabar-kabarin ya kalo udah masuk UI. Ajari juga gw main piano. :p

      • Irwan Ardiansyah

        Insya Allah gue kabarin. Hahaha ga janji gue kalo piano. :V

  • Kristofel Rompas

    Fixed Mindset to Growth Mindset ... !!

    Need Help Please ... !!

    • Ridwan

      No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.

  • Akhmadi Waridyanto

    Asli jadi semangat buat Cum Laude 😀 hatur nuhun atuh nya ! Artikel yg luar biasa

    • Fanny Rofalina

      Wuih, semangat ya.. Stay alert, teruslah cari peluang 🙂

      • Akhmadi Waridyanto

        hehehe makasih teteh geulis.Sekilas cerita aja emang benar tulisan ini banyak gue alami selama perkuliahan smp semester 3 ini,kebetulan gue kuliah di PTS di Bandung jurusan teknik kimia banyak sekali temen gue ya pola pikirnya fixed mindset bicarain nilai A,atau B ya sejenis saing bersaing dan pernah gue kemakan omongan kalo tingkat 1 itu mesti tinggi IPK nya kalo udh tingkat 2 udah susah untuk ningkatinnya alhasil gue dr semester 1-3 IPK gue ga bagus2 bgt tp ga jelek2 amat tp setelah nemu tulisan ini gue merasa apapun masih mungkin untuk dikejar dan gue msh berhasrat untuk mengejar IPK tinggi dan beasiswa S2 ke Luar Negri of course pengen ke Amerika Serikat 🙂 sekali lagi makasih zenius!

  • sriwahyuni

    wahh keren kak!!
    kak bagi dong cara supaya kita tidak lemot saat belajar =)

  • vinvin

    Kak mau tanya. Dari semanjak aku sekolah sampai lulus ini aku ga pernah bisa sma yg namanya pelajaran dan aku ga punya ke mampuan apa2. Sampai aku di cap anak paling bego di kelas Dan sampai lulus pun sama. Aku malu di bilang bego atau apalah sma teman2 di kls dlu. Apa mereka itu benar ka? Aku baru kerja 3 bulan aku langsung di pecat, aku ga bisa apa2 ka. Aku udah coba buat berubah tapi itu susah ka. Untuk rajin aja aku susah. Aku emang di takdir kan untuk begin kali ya ka?

    • Fanny Rofalina

      Hai vinvin.

      Banyak lho orang hebat yang tadinya punya cerita kayak kamu. Sering dilabeli negatif.
      Aku juga dulu punya sahabat yang kayak kamu, self-esteem nya rendah banet. Tapi perlahan, dia bisa bangun kemampuan dan mulai percaya diri, bahwa semua proses bisa dijalani. Intinya, dia mau nerima diri apa adanya dan fokus ke kualitas positifnya, sekecil apapun itu.

      Untuk kamu, aku kan ga tau detil ya lika-liku kehidupan mu, tapi aku coba kasih saran yang mungkin bisa membantu ya.

      1. Berdamai dulu dengan diri sendiri. Ini penting banget, it's about acceptance. Mau seburuk apapun kondisi kamu sekarang, coba terima diri kamu sendiri. Memang mungkin berat, tapi penolakan terhadap diri sendiri kadang malah bikin kita sulit maju. Terima segala kekurangan diri kamu, karena pada akhirnya itu emang bagian dari diri kamu. Percaya deh, ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri, itu salah satu kebahagian paling besar lho dalam hidup. Ketika kita udah bisa tenang sama diri sendiri, baru enak untuk melakukan action.

      2. Kenali diri lo. Kenali semua kualitas dalam diri lo. Setiap orang pasti ada aja kok kualitas positifnya. Kenali itu. Kenali kelemahan lo di mana. Apa kesukaan, hobi, passion lo? Apa hal yang ga lo suka atau ga lo banget? Apakah selama ini jalur kehidupan yang lo jalani adalah keinginan lo? Merefleksikan nilai pribadi lo? Sesuai dengan kualitas diri lo? Lo harus tau diri lo terlebih dahulu supaya lo tau mau mulai dari mana, maju ke mana, berkembang ke mana.

      3. Untuk membangun kepercayaan diri lo, coba deh lakukan hal yang lo sukai dan lo cukup bisa. Mau apapun itu. Merajut, memasak, edit gambar, main musik, atau apapun deh. Pokoknya cari satu aktivitas yang lo lumayan suka dan lumayan bisa. Trus coba bikin challenge ke diri lo. Misalnya nih, lo bisa merajut, coba lo bikin challenge, lo mau selesain 1 rajutan sapu tangan dalam 1 bulan. Atau kalo doyan edit gambar, selesain 5 tutorial dalam sebulan. Atau kalo lo doyan masak, coba 3 resep dalam 1 bulan. Bikin target yang reasonable dan terukur. Pokoknya lo fokus aja di situ, dan harus lo selesain! Kenapa gw saranin begini? Biar lo liat, lo pasti bisa achieved something. Kenapa hal yg lo sukai, biar lo bisa nikmatin prosesnya. Ada kepuasaan sendiri lo kalo kita bisa menyelesaikan sesuatu dan bisa bangun self-esteem lo. Pada akhirnya lo bisa liat sendiri, kelebihan lo di mana, kualitas lo di mana. Kalo lo udah berhasil, tingkatin trus level kesulitannya. Ntar lo bisa paham sendiri, proses yg lo jalanin bisa lo terapin di semua aspek kehidupan lo.

      4. Kalo lo bisa bahasa inggris, main2 deh ke Quora.com. Atau coba lebih sering lagi baca-baca cerita kehidupan orang lain. Dari foum, dari buku. You're not alone, sis.

      5. Kumpul ke komunitas yang bisa bikin lo berkembang. Kalo kita mau berubah, harus ada niat dan usaha. Orang positif ngumpulnya sama orang positif. Biarkan merkea kasih influence ke lo.

      Udah, segini dulu aja deh. Semoga membantu ya. 🙂

      • Azzam Oky

        makasih kak..sudah bantu vivin..smoga tuhan bls kakak

    • s.sabrina

      Hai vinvin, aku juga punya penglaman hampir sama kok.. aku berfikir aku harus kerja keras lebih dibanding anak lain karena aku bodoh, tepatny di matematika mungkin karena cara belajar aku di didik "aku bodoh matematika".. mindset itu teruus.. alhasil ketika aku dihadapkan ujian matematika aku grogi tegang gugup gak santai mengahadapi ujian, bnyak soal yg sebenerny bisa, tapi mental aku termakan gugup sehingga jadi bnyak salah, alhasil nilai uas aku matematika selalu saja buruk dibanding mata pelajaran yg lain.. ketika itu aku pun jadi tidak percaya diri, tdk percaya diri mengakibatkan malas..
      baru2 skrg mungkin aku barusadar ketika suatu hal tdk berhasil mungkin carany kurang efektif atau memang aku masi malas.. kerja keras memang harga mati, tpi memotivasi diri sendiri lebih penting, dan menganalisa kenapa kita bisa kurang hal tersebut.
      Kedua jadikan suatu mata pelajaran seperti hal yg menyenangkan (biar kita rajin) misal biologi anggap itu serame gosip artis (bahkan lebih rame ha), jangan jadikan musuh atau tembok yang besar tpi jangan meremehkan juga.. Bangun percaya diri vinvin semangat 🙂

  • rohmah rezeki

    keren ka,, oke banget nih, tpi kenapa ya membangun growth mindset itu susah,, selalu aja down saat dapet nilai ulangan yang jelek, pesimis kalo liat guru selalu memperhatikan anak anak yang pinter doang?

    • Fanny Rofalina

      Coba lo resapi lagi paragraf yang ini:

      "Sekarang lo udah tau gimana ngebentuk pola pikir yang kondusif untuk perkembangan diri lo. Jangan lupa belajar gimana cara mengembangkan potensi kita lewat deliberate practice dan cara gimana caranya supaya belajar jadi fun. Ketika kita paham bagaimana cara mengembangkan kemampuan kita, itu akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita punya kontrol sepenuhnya atas kemampuan kita."

  • Fariz Ramadhan1

    Wahhhhh...jadi lebih Optimis! nie artikel jadi salah satu modal berpikir gue buat jadi ilmuwan di bidang medis hahahah 😀 Thank's banget ka, sangat bermanfaat

    • Fanny Rofalina

      Wah, keren jadi ilmuwan bidang medis. Harus jago bioinformatic nih :p

  • Adinda Dwika Rahma

    ini saya banget, makasih banyak infonya. MAKASIH BANGET

    • Fanny Rofalina

      You're welcome 🙂

  • leonardus Dwi Kurnia

    makasih banyak Fanny Rofalina, membantu untuk keluar dari fixed mindset plus mengobati galau karena remed matematika 😀

    • Fanny Rofalina

      Yup yup, ayo ayo berkembang lagi.

  • prasetyaji

    tryhard...yah coba deh ngapus mindset "gue ga bisa matematika,dan gue ngga yakin lulus" thx yang udah nulis ini artikel....

  • Muhammad Vickry

    Kak fanny slain quora.com web/aplikasi yg bermanfaat aplg yg sering kk dan tutor zenius buka?

    • Fanny Rofalina

      Udah, embat seisi Quora aja dulu..

  • sigit budi prakoso

    Bener banget ini, intinya sih memang harus bener2 NIKMATIN PROSES. Kebetulan di parkour juga diajarin kalo jangan terlalu terpaku sama hasil, tapi proses menuju keberhasilan itu. Banyak orang yang terlalu fokus sama hasil, dan ketika gagal mereka malah frustasi & berhenti tanpa ada usaha lebih lanjut

    (came across this blog by accident and think "dayum, i must visit this blog as often as possible" )

    cheers.

    • Fanny Rofalina

      Keren, lo ikut Parkour. Itu kan gerakannya berat banget, otot mesti kuat banget, ngeliatnya doang keliatannya ringan hahaha.. Udah bisa jadi Jackie Chan.

      Thanks for visiting this blog. Enjoy the blog 🙂

  • Tria

    artikelnya keren banget, bikin semangat lagi buat lulus 2 tahun SMA 😀
    doain ya kak 😀

    • Fanny Rofalina

      Enjoy the process yah..

  • kak, boleh sharing?
    misalnya saya sudah dalam growth mindset, tapi kemampuan saya belum nampak peningkatannya. saya berusaha lebih lagi dan saya terbiasa dengan jadwal belajar tertentu, lebih spesifik pada malam hari. namun "tubuh" ini tak mau diajak kerja sama seperti mudah mengantuk dsb. jadi saya merasa failed dalam mengejar ketertinggalan materi atau hal yang ingin saya pelajari. dan untuk planning yg sudah direncanakan sudah tidak teratur lagi.
    menurut kakak bagaimana saya bisa lebih meningkatkan growth mindset dlm pola pikir saya? terima kasih

    • Fanny Rofalina

      Lo harus lebih pandai lagi menganalisis kekurangan lo apa dan bagaimana mengatasinya.
      Jangan takut bereksperimen. Misal, seperti yg lo bilang, lo suka ngantuk di malam hari. Coba lo eksperimen dengan jadwal dan cara belajar lo. Liat outcome dari tiap eksperimen yg lo lakuin.

      Growth mindset itu bisa kokoh kalo kita juga dilengkapi dengan pengetahuan akan diri kita sendiri. Cara apa yg efisien untuk diri kita sendiri. Lo bisa banyak baca referensi, tapi pada akhirnya, untuk tau sesuatu efektif atau ga, harus lo sendiri yg coba.

      Oiya, coba baca deh jawaban komen gw untuk Vinvin di atas.
      Semoga membantu 🙂

  • iva

    your article extremely motivates me,Thnk U kak fanny & zenius!

    • Fanny Rofalina

      ^_^

  • Azzam Oky

    makasih bnyak.....zenius ,aku sngat bangga....selalu aku kagum dgan sytem kalian menggebrak pasar...bukan cuma asal standar..tpi "taste" nya itu bnner2 kerasa ....i really love u zenius team..salut buat the founder of this really big system [platform] .Azzam s.a

    • thanks juga Azzam. kita juga seneng juga kalo apa yg kita sharing bisa bermanfaat buat kalian 🙂

    • Fanny Rofalina

      Bantu kita menyebarkan visi pendidikan ini seluas-luasnya ya bro 🙂

      • Azzam Oky

        selalu kak.fanny

  • Ahmad Dimas

    Keren parah artikelnya

    • Fanny Rofalina

      Semoga bermanfaat ya 🙂

  • Rananda Dian

    makin semangat buat ngincer kuliah di luar negri,,sekarang mungkin gw masih payah di berhitung apalagi fisika,tapi nanti gw bakal menyandang status sebagai mahasiswa di jurusan yang berhubungan dengan mesin,pesawat,roket dsb.....tapi sekarang slesain kuliah di pts dulu trus beli zenius xpedia.

    • Fanny Rofalina

      Semangat ya. Terus pantau progress, dan bikin milestone2 yg terukur ya ..

  • tia

    ngenanya tuh disini *nunjuk apa gatau* haha
    makasih kakaknya 😀 bagus banget dan ngebuat sadar dan emang bener banget apa yang diomongin disini.
    jatohnya jadi yaudahlah udah bisa juga, eh pas dikasih yang susah dikit rubah rubah kelabakan.. huft bener2 lagi ngerasain

    • Fanny Rofalina

      Iya, kadang gw juga masih merasakan jebakan psikologis itu. Gw nulis ini sekalian self-reminder hehehe

  • Aishaa Lula

    Nah, ini dia biang keroknya. Bener tuh, Kak. Kalau udah punya fixed mindset itu bawaannya nggak mau keluar dari zona nyaman. Oke, mulai sekarang (perlahan namun pasti) saya mau BERUBAH. Semangat!
    Makasih Kakak udah share tentang hal ini. 🙂

    • Fanny Rofalina

      Nah, bener kan?!
      Hayo hayoo berubah! *udah kayak Poer Ranger aja :p

      • Aishaa Lula

        Siap, Kak! 😀

        Terima kasih telah memberikan pencerahan bagiku.. Hehe 😀

  • Dhaniel Juan

    awesome and impressive. dari tulisan ini aja situ udah bisa ngubah mindset orang orang yang ngebaca ini. apalagi ditambah penjelasan tentang 2 jenis mindset yaak wkwkwk. tapi, saran pribadi gue nih, kalo emang kita sadar kemampuan sama potensi kita kaya gimana, alangkah baiknya kita tempa dulu yang itu. bener kan? istilahnya einstein. dari awalnya dia udah jago matematika kok. jadi emang naluri murni dia yg bisa nemuin relativitas yg woow itu. adalagi contoh lain, faraday. dia itu gabisa sama sekali di matematika. tapi nyatanya? jadi emang tuh orang ber2 dilahirin murni dengan naluri ilmuwan. nah, kalo boleh ditambahkan, naluri juga jadi faktor penting dalam pembentukan pola pikir seseorang. walaupun bentuknya abstrak, naluri ini bisa jadi senjata rahasia orang kalo bisa diconquer oleh diri kita sendiri. anyway, sekali lagi, terima kasih udah bikin tulisan ini. semoga banyak orang membaca ini supaya kehidupan mereka lebih berarti. amin

    • Fanny Rofalina

      Sebelum dibahas lebih lanjut, pertanyaannya, apa itu naluri?

  • irfan

    nah,.gw setuju sama ni artikel..ternyata selama ini gw gak salah,.banyak banget temen gw yang "fixed mindset" -_-
    gw bingung cara ngubah pola pikir mereka,yang terlalu "cepat menyerah" sama kemampuan mereka,.
    bahkan saking percaya diri,.gw di kira sombong,.sok,.dan laen2,..
    bahkan dengan percaya diri gw pernah sampe dihina,.( cie curhat ) :v
    pertama,.dari kecil gw udah hobi nggambar,. dan orang2 cuma liat bagian "akhir" nya aja,. kalo gw "berbakat nggambar" ,.dan menurut gw itu salah,.mereka ngira kalo itu bakat alami yang udah sejak lahir,.padahal sejak kecil gambar gw jelek,.dan dari gw yakin pasti suatu saat nanti bagus,.dan akhirnya waktu SMA udah bagus,.
    trus sejak sd sampe sma gw gak niat namanya pelajaran .*parah (emang ga minat )
    trus pas akhir kelas 2 gw dibilangin temen gw,. "lu gausah belajar,.bakat lu kan di gambar "
    gw gak setuju banget men,.gw ga percaya bakat,.
    trus gw usaha,.belajar,.emang sih ga langsung bisa, ada kalanya itu gagal,.
    trus..akhir nya berhasil deh,.pertengahan kelas 2 smp,..
    yang dulu gw nyontek terus,.nilai 5,6..5,6,..dan dapet 7 aja seneng,.sekarang,. gw dapet 9 kebawah malu,.wkwk,.
    dan yang udah baca artikel ini,.ini beneran,.bukan bullshit,.mitos,.INI NYATA :v

    • Fanny Rofalina

      Thank you udah sharing cerintanya 🙂

  • Audy Muhammad L

    Artikelnya keren. Gaboong gue

  • Lidya Abhane

    thanks banget info nya . artikelnya bagus banget, gue udah tau sih tentang mindset tapi gue gk tau kalau mindset terbagi 2 macam. keren keren

  • Aliva Rachma D.M.

    wah mantap nih bikin semangat lagi, thanks kak!

  • Feli

    Gue merasa kalo gue tuh fixed mindset, apalgi pas ngeliat contoh-contoh diatas, gue merasa kalo itu bener-bener gue. Gue sendiri sadar kalo jadi fixed minsdet tuh capek banget karena gue bener-bener menjaga pandangan orang-orang ke gue. Beberapa kali gue mencoba untuk memperbaiki, tapi kadang-kadang suka lupa gitu. Gue juga jadi sering putus asa kalo gak bisa ngerjain sesuatu. Jadi, sebenarnya gimana sih caranya mengubah jadi growth mindset? Waktu itu, Bapak Rheinald Kasali pernah ngasih pengarahan di skolah gue tentang hal ini, tapi gue masih kurang ngerti cara ngubah fixed mindset ini. Tolong dijawab ya, kak hehe Thank you! 😀

  • Toni Kusuma

    that's totally right! pas SD dulu gua memegang fixed mindset, karena dulu emang ego gua tinggi dan pujian dari guru juga membuat gua agak sombong. Tapi, masuk SMP dan SMA gua gak bisa lagi make mindset itu, dan secara gak langsung lingkungan tempat gua belajar mengubah mindset gua jadi growth mindset (dulu dapet SMP favorit dan SMA alhamdulillah dapet kelas unggulan). Intinya sih kalo emang lu udah ada niat untuk mengubah mindset dengan tambahan usaha, itu bukan sesuatu yang mustahil walau emang agak susah diawal. Makasih zenius dah posting artikel-artikel yang isinya "nonjok" hehe...

  • Adri Quanta

    lagi berjuang buat lepas dari fixed mindset. emang bener sih, Fixed Mindset tu banyakan membunuh perkembangan karir. entah itu dunia kuliah ataupun game (wakakakakak)
    Gua jadi inget, dulu gua tuh di SMA kalo udah dapet nilai di bawah KKM itu bawaan ngegoblokin diri. pernah bilang "Gua manusia gagal." Guru gua denger, ditabok....... *buset, maksudnya ditabok pake kata-kata*
    sampe sekarang, itu masih nempel di gua. Orang dapet lebih bagus dari aku, aku turun, bawaan ngehina diri.
    gak sengaja masuk zenius, artikelnya sungguh WOW........ Glenn bener" nyelametin gua dari down terparah gua gara-gara IPS sem 5 cuma 2,96 (akhirnya setelah sekina lama di IPS 3 koma). For you, thanks banget udah bantu aku soal mindset. Yang kayak gini nih, gua butuh. Tapi kok baru sekarang nemunya......

  • harmawati judding

    keren bgt:)

  • Fega Andriana

    trus kak, apa gunanya tes minat dan bakat ya kalo sebenernya semua orang itu punya kemampuan dibidang yg dia mau tekunin.. ? thanks before

  • Nugroho Prasetyo

    oke banget untuk merubah fixed mindset ke growth mindset 😀 saya suka artikel ini

  • terima kasih banget infonya kak.

  • Kasabi

    Keren binggoo nih artikel. Gue mau cerita pas SD kelas 3 gue bodoh banget sama Matematika sampe gw dapet nilai 1 (bukan 10 loh) dan setelah itu ada temen gue yg ngeledekin gue karna nilai itu sampe akhirnya gue nangis dan untungnya ada guru gue namanya bu Marwani (gue biasa manggil bu mamah) dia ngehibur gue dengan bilang "gapapa Ika nilai kamu sekarang segini tapi untuk nanti pasti bisa lebih bagus lagi..intinya belajar belajar belajar" gue sangat sangat berterima kasih sama bu Mamah karna motivasi dari dia akhirnya gue dari kelas 5-6 gue masuk 3 besar dan dari SMP-SMA alhamdulillah gue bisa jadi ranking 1 (cieee senangnyaa)..
    tapi ada yang mengganggu pikiran gue nih, gue rangking 1 itu karena saingan gue emng lower atau emang guenya termasuk anak yang pinter?? Gue sekarang kelas 12 bentar lagi gue kuliah, dan nanti gua bakal ikut tes SBMPTN lantas gimana caranya gue bisa ngeliat kemampuan gue sedangkan gue aja gatau gue ini anak yang pinter atau emng saingan gue yg dulu itu lower??

  • KurniawanRR

    wahh.. seringkali gitu min, ane dulu nilai mapelnya bagus, trus temen2 ane pada muji kalo ane pinter, jago.. sekarang ane jadi ngempos ga kayak dulu lagi..
    hmm... gimana dong solusinya, kan pujian itu dari orang lain..

  • annisa

    Artikelnya keren 🙂 kak gue pengen cerita, gue udah bisa ngerubah mindset gue tentang fisika. gue udah tanemin dalam hati bahwa fisika menyenangkan, dan alhamdulillah gue udah ada kemauan buat belajar fisika :") meskipun cuma mau ya.... dan nilai gue udah ada peningkatan, tapi ini blm bisa berlaku ke Matematika, apa ini gara-gara gue benci sama guru matematika gue pas sd? jadi kutukan benci gue terus ikut sampe SMA? tolong jawab ya kak krn sekeras apapun gue berusaha, tetep aja tiep jam matematika gue rasanya olahrga, jantung gue berdetak dgn cepat takut kaga bisa jawab soal....

  • alfinsa

    gue udah komen di artikel ini belom yah.

    sepertinya gua adalah korban FIXED MINDSET. many people said, "eh bro gila lo jago banget presentasi." some people said, "keren bener dah lo, ngerjain math ga pake rumus."

    pernyataan itu bikin gua cengar-cengir kayak kuda belom sikat gigi:
    "Oh ternyata gua emang jago kali yah."

    but gua mulai berpikir, apakah kemampuan gua cuma segini doang? pasti bisa nembus limit skills yang gua punya sekarang. pas banget dirangsang ama video Self Concept dan Goals n Motivation di Zen Learning; ditambah artikel ini bikin gua berpikir: gua yakin skill gua ga cuma segini, masih bisa diexplore lebih luas lagi, dan apapun yang gua hadepin... never say can not do that (sorry for bad grammar) *aduh gustiiii*

  • Songgolangit

    Ini pengalaman gue pas waktu SD gue bisa baca itu kelas 3 baru bisa lancar.Pembagian perkalian aja Smp baru bisa.Gue itu pernah ngerasa kalo gue terbodoh sekeluarga,karna kakak adek gue itu pas sekolah itu selalu dapet rank 1-5,sedangkan gue ndak pernah SD,smp dapet rank.Setelah ayah gue selalu bilang "Sebenernya kalau kamu belajar lebih tekun lagi pasti kamu bisa lebih pandai dari sekarang".Gue baru sadar pas waktu masuk Smk,all hasil pas Smk gue bisa ningkat akademinya.Malah ane punya temen yang Smpnya nilainya bagus terus malah pas SmK nya nilai nya melorot.

  • Kamal Fatih

    mantep gan artikelnya .. buat saya jadi mikir dan optimis
    makasih ga

  • Bani Ulyses

    aku malahan gak pernah di puji selalu di remeh kan

  • agus bakti s

    kak boleh nanya...
    Semenjak gue berada di jurusanIPA SMA kemaren, gue merasa tidak punya kemampuan di bidang IPA. Nilai ulangan,uts, uas(matematika, fisika, kimia) selalu dapet jelek, remed terus, tidakpernah dapet nilai di atas KKM, (kecuali biologi lumayan). Guru mapel ygbersangkutan tidak pernah menegur, tidak pernah ngasih saran atau motivasi(diem aja). Seolah olah gue tuh tidak ada gunanya di jurusan IPA. Apa mungkinkemampuan gue bukan di jurusan IPA?. Apa gue lebih cocok dg jurusan IPS. Pada dasarnya gue masuk IPA karena gue suka dengan pelajaran Biologi. Terbukti kemaren waktu pengumuman SBMPTN 2015 dan UM di beberapa PTN, gue ikut ujian dan ambil jurusanyang Rumpun SAINTEK, hasilnya gagal semua. gue bertanya pada diri sendiri, apa bener gue tidak cocok dengan jurusan yang kaitannya dengan IPA?, atau gua lebih cocok dengan IPS?.

  • yulfiana harini

    huaaa pas banget nih lagi down banget gue kak. gue sering bgt nih bilang gini "belum belajar yg ini, matilah gak bisa nanti gimana, ihh dia udah belajar semua, gimana ni matidah remed ni remed"

  • iki

    mmg kita harus selalu berpikiran positif dan pantang menyerah tp dalam setiap kesempatan ada waktu yg diberikan untuk mencapai target atau kemampuan kita menjadi seperti yg pimpinan inginkan tdk sesuai dgn usaha kita utk berubah dan menjadi spt yg mereka inginkan, jd menurut saya selain mindset, dalam mengusahakan sesuatu tak terlepas dari waktu, waktu jg harus diperhatikan tdk bs ya berusaha tp tdk mempercepat kinerjanya ini sama saja tdk mengusahakan apa2, cth klo perusahaan mentargetkan kita menjadi bs ini itu dlm 1 tahun ternyata kita baru bs setelah 1 tahun 3 bln ya sama aja gagal. misal kampus menginkan mahasiswanya lulus kurang dr 5 thn tp baru selesai skripsi setelah 6 thn sama aja gagal. jd selain mindset jg perlu perhatikan waktu yg digunakan dalam berusaha

  • Proud of My Name

    ada yang kurang ka, Ani harusnya sama Rhoma :'' wkwkwkwk

  • Amalia Bintang

    Thanks a lot artikelnya! Sekarang gue sadar ternyata gue termasuk fixed mindset. Dari SD gue selalu juara kelas dan dapet banyak pujian. Hal ini justru bikin gue jadi nganggep remeh saingan. Di SMP prestasi gue mulai naik turun nggak jelas, tergantung mood dan semangat. Dan di SMA, gue malah tumbuh jadi remaja yang "hidup segan, mati tak mau". Gue males banget usaha, tapi kalo ada yang ngrebut posisi gue, gue bakal stress setengah mati. Sekarang gue udah kelas XII dan ngerasa beruntung banget nemu artikel ini. Gue harap gue belum terlambat. Aamiin.

  • Alfi Syahriza

    Artikel nya Maknyus jga nieee...sayang kalau engga dibaca :v dan gua setuju banget dengan berbagai pernyataan dalam artikel diatas terutama kalimat "Neurosains menunjukkan kalau otak itu bisa ditempa" walau diawal agak sulit untuk memulai nya....

    Sedikit berbagi cerita bahwa orang2 besar memang lahir dari pemikiran yg sifatnya growth mindset (pada akhirnya)....dan terkadang dahulu nya mereka memang (sebagian) dalam proses nya harus berjuang keluar dari stigma-stigma negatif yg diberikan oleh orang di sekitar lingkungannya nya ntah (di olok-olok,diremehin,dianggep sampah gak guna dan dihina abis-abis-an)... dan berusaha se-optimal mungkin meraih apa yg mereka inginkan...contoh nya Jobs dan Sanders sosok tokoh inspirasi gue sampai sekarang ini...

    Gua setuju Fixed Mindset itu bisa dirubah tetapi kalau kita cermati,ada beberapa hal dalam hidup ini yg tak terlepas dari fixed mindset itu jga dan itu memang sangat diperlukan...tetapi setiap orang kan jga punya pandangan dan pemikiran yg berbeda-beda tergantung bagaimana pribadi orang tersebut dapat menyikapi sesuai dengan keadaan yg ada dan gua setuju jga bahwa peran growth mindset sangat diperlukan oleh setiap orang (walau banyak yg belum sadar) misalnya dalam hal akademis itu sah-sah saja...

    Gua jga pernah baca suatu reseacrh dari Quarterly Journal Of Experimental Psychology... para peneliti membuat dimana sekelompok orang harus menemukan barang. 1 kelompok mencari barang tersebut dengan diam, 1 kelompok lainnya mencari barang tersebut sambil menyebut-nyebut nama barang yg dicari tersebut.
    Hasilnya, orang yang mencari sambil menyebut nama barang justru mendapatkan barang tersebut dengan lebih mudah dibandingkan dengan mereka yg diam saat mencari barang tersebut. (menurut gua hal ini ada sangkut-paut nya jga dengan growth mindset yg kali ini sedang dibahasa)

    Jadi, kesimpulan pribadi yg dapat gua petik dari artikel ini ialah sejauh mana lo bisa mengkondisikan diri lo dalam berbagai hal dan suasana lingkugan yg berbeda dan seberapa besar kemampuan orang lain dalam memberi stimulus2 ke lo (termasuk diri lo sendiri) terhadap perkembangan mindset dan mental lo...jujur aja gua type orang yg lebih suka mendapat omongan tentang kejelekan/keburukan dan segala hal negatif yg ada dalam diri gua karena dengan cara begitu gua bisa menata lebih baik lagi diri dari kesalahan dan kegagalan gua dan bisa membangun lebih tinggi lagi mental gua menjadi TB (Tahan Banting).

    Terima Kasih kak Fanny....Nais buat artikel nya... :O

  • Dita Aisyiyah Larasati

    Mungkin aku punya sisi fixed mindset sih. Aku suka dikenal orang dan aku juga pengen orang merasakan hal itu, aku ga malu buat kenalan sama orang. Di sebuah forum besar, evaluasi kegiatan gitu lah, ada yang kritik dan saran kalo aku tuh ngelakuin kesalahan. Oke, aku akuin aku salah yang ga ku sengaja, tapi aku selalu ambil sisi positifnya, banyak orang yang tahu(doang sih) kalo aku bernama dita dari evaluasi itu. Tentunya aku pingin dikenal dengan hal baik, tapi aku selalu berpikiran untuk mengambil kesempatan dimana aku bisa ketemu banyak orang2 asing untuk saling mengenal dan memperluas jaringan teman, gitu. Apa aku punya sisi fixed mindset itu, Kak? Adakah yang harus aku perbaiki?

  • Fhisilmi Anwar

    kak, saya sering mengikuti berbagai lomba, namun selalu gagal
    padahal di sekolah udah usaha mati-matian dan udah dapat kepercayaan..
    namun mindset kalau 'saya gak bakalan menang, karena anak kota lebih pintar' selalu menghantui dan tidah pernah lepas dari pikiran, samapai sekarangpun untuk menentukan masuk PTN mana masih bingung dan takut gak jebol karena mikir, 'orang lain jauh lebih hebat'
    gimana solusi dari kakak ?
    makasih

  • Billy Ramadandi

    Ijin copy ya biar bisa dibaca ulang

  • penyimak-sama

    Gue juga dari sd-smp selalu dicap "pinter dari sononya" sama orang orang disekitar gue. Gue selalu dapet peringat 123,tapi ketika masuk sma ntah knpa sepuluh besarpun gue gak masuk. Dulu gue belajar kalo ada ujian dari pulang sekolah, sampe-sampe jam tidur dicepetin stengah jam. Ketika masuk sma gara gara peringkat menurun itu gue jadi males belajar lagi. Udh SMA gue plang skolah cma nonton, belajar juga itupun pagi pagi cuma baca biasa gak pake diresapi. Gimana yah caranya supaya gue nemuin lagi motivasi belajar

  • Si Git

    masih proses belajar di zenius. mudah2an bisa istiqomah belajarnya. masuk PTN impian. ilmunya manfaat, aamiin.
    baru nyadar kalo selama ini kejebak pada fixed mindset. 😀

  • Si Git

    sayang.... waktu belajar cuma ada di malem doang. smpe bulan april bisa tuntas gak yaa???

  • Delaneira

    makasi banyak kak artikelnya mencerahkan banget
    tapi masih bingung sama yg pernah dijelasin sebelumnya tentang law of attraction, disitu di jelasin bahwa kita harus percaya bahwa kita cerdas apakah itu masuk kategori fixed mindset juga kak?
    karena di atas di jelaskan josh tipuan psikologi yang menghambat dia itu adalah percaya bahwa kita cerdas
    moho pencerahannya ya kak fanny makasii

  • Ulfi FN

    Oh iy kak. Kalau aku nih kan masih SMA. Mau ujian. Tapi passion ku bener bener pingin di teknik informatika. Udah bosen banget sama pelajaran pelajaran di SMA. Jadi kadang merasa hopless buat belajar. Kadang semangat banget. Tapi ujung ujungnya nilainya cuma gitu gitu aja. Jadinya fixed mindset. Duh gimana solusinya nih kak.

  • Agnes Retno Larasati

    Artikelnya bagus.

  • Vierni Angela

    Setelah baca artikel ini, aku jadi berasa flashback kejadian 2 tahun yang lalu, ketika papa membanding-bandingkan antar hasil tes IQ adikku dengan hasil tes IQ punya aku... adek punya IQ 132 sedangkan aku cuma 113.. setelah tahu hasil tes itu, papa kasih komentar yang dikemudian hari bakal menjadi cambuk semangatku untuk makin giat belajar : " Papa dari dulu juga udah pantau, dan emang kenyataannya adek kamu itu logikanya lebih 'main' sejak kecil. Adek kamu emang 'lebih' kemampuannya dari kamu", dan papa nyebut statement ini di depan adikku juga. Otomatis ya dia jadi merasa 'wow' gitu dong.... Aku berasa sedih gitu ... secara rasanya dibanding-bandingin itu, apalagi sama sodara kandung sendiri, gak enak banget 😂
    Tapi justru semenjak kejadian itu, aku malah makin semangat buat belajar dan buktiin ke papa kalau aku bisa bersaing kok, walau score IQ ku gak sebagus IQ adekku... dan terbukti semenjak mendapat pujian 'fixed mindset' ini , justru prestasi adekku malah menurun... yah kesimpulannya kemampuan intelegensia juga harus diiringi kecerdasan emosional alias EQ alias pengendalian diri agar tidak mudah berbangga diri dan tidak pula mudah untuk labelling diri sendiri dengan hal negatif

  • Irfan Khaeruna

    Keren banget ini artikel. Jadi sadar gua selama ini kalau gua memang fixed-mindset. Yang akhirnya jadi orang putus asa. Thanks udah share.

  • Anggita Hutami

    Kak fan artikelnya keren, kerja keras yg membuahkan hasil!
    .
    .
    .
    .
    trying to give a compliment in growth mindset way

  • Aditya Nuansa

    Gw tanya kapan remed

  • Spirit Fingers

    izin sharee yaa. artikel sgt bermanfaat

  • Alimah Bahriyah

    Wah keren. tapi saya punya masalah nih. Nilai fisika saya jelek dan untuk un sma tahun ini harus memilih pelajran ipa anatar biologi, fisika, kimia. Walaupun nilai saya jelek, tapi akhirnya saya milih fisika juga karena sebenarnya saya memang suka fisika. trus aksi saya ini disebut apa ya ? nekat atau bagaimana? trus solusi supaya saya dapat meningkatkan belajar saya bagaimana? terima kasih.

  • sinta maharani

    gua baru baca artikel keren yang satu ini. gila gua baru nyadar kalo gua fixed mindset dan itu bahaya wkwkwk. gua selalu mundur kalo belajar kimia dan fisika, and thanks for the article i'll try it. coba dari dulu gua baca artikel ini wkwkwk