Dinamika Senioritas di Lingkungan Pelajar

Apakah fenomena senioritas di kalangan pelajar selalu identik dengan hal yang buruk seperti bullying? Bagaimana interaksi antara senior & junior yang sehat di kalangan pelajar dijabarkan di sini.

Buat lo semua yang mungkin sekarang baru masuk SMA, baru masuk dunia kuliah, atau baru masuk organisasi kampus/sekolah, atau baru masuk bimbel, pasti ngalamin yang rasanya masuk ke lingkungan baru yang betul-betul asing. Ada rasa enggan, was-was, sungkan, canggung yang mungkin menghantui lo. Tapi dari semua perasaan gak enak waktu masuk ke lingkungan baru, kayaknya nggak ada yang ngalahin rasa takut sama tekanan dari pihak senior.

Kita paham banget kok, betapa para junior kadang ngerasa jengkel banget sama sikap-sikap jahil senior yang suka ngegodain iseng, ngerjain gak lucu, ngeplonco (hazing) lah, bullying lah, malak lah, ngajak ribut lah, dan sebagainya.. yang intinya menjadikan para junior ini jadi target dan ajang pamer kekuasaan.

Iya nih bener banget, gua sebel banget sama para senior yang suka sok kuasa begitu. Kita kan di sini mau beradaptasi dalam lingkungan baru, mau berkontribusi pada kelompok, kok malah dibikin susah. Mereka kan ngerasa hebat padahal gara-gara cuma mereka lebih duluan di sini doang

Iya, gua ngerti kok emang ada fenomena yang kadang mungkin nyebelin buat lo yang sekarang ini masih berstatus sebagai “junior”. Fenomena seperti ini emang udah turun-temurun terjadi dari jaman dinosaurus sampai sekarang, haha.. Dari mulai kecenderungan para senior yang ingin menyalahgunakan posisinya jadi cenderung nindas yang junior, yang junior pasrah aja sambil ngarep cepetan ada junior baru biar bisa bales dendam ke mereka. Budaya senioritas ini berputar terus antar generasi dan nggak ada habis-habisnya.

Nah, sebelum lanjut kita ngebahas hal ini, ada hal yang perlu gue kasih tau tentang topik kita kali ini sebelumnya. Pertama, ini bukan tulisan standard tentang senioritas maupun bullying yang ujung-ujungnya bakal nasehatin lo pada tentang bahaya bullying dan sebagainya. Lo bisa baca tentang hal begituan di tulisan orang lain. Yang mau kita bahas lewat tulisan ini adalah dinamika hubungan antara junior-senior yang sebetulnya gak sebatas cuma bisa kita lihat dari sudut pandang negatif doang — tapi lebih ke arah hubungan yang lebih luas terutama bagi perkembangan intelektual, mental, karakter, dan juga sumber koneksi lo untuk masa depan. 

 

Kenapa ada fenomena senioritas?

Sebelum dibahas lebih jauh tentang pertanyaan ini, gua mau tekenin dulu kalo definisi “senioritas” yang gua maksud di sini bukan cuma sebatas stigma negatif yang secara umum dipikirkan seputar penyalahgunaan kekuasaan, hazing, bullying, dan sebagainya. Tapi justru lebih ke arah hubungan interaksi antar kelompok memiliki jenjang umur serta pengalaman yang berbeda dalam lingkungan yang sama. Nah, dalam pengertian tersebut budaya senioritas ini bisa ditelusuri dari perspektif antropologi maupun biologis.

Budaya ini diperkirakan sudah ada sejak jaman hunter-gatherer (berburu-mengumpul) sekitar 80.000 — 12.000 tahun yang lalu. Itu lho ketika manusia masih hidup dalam kelompok kecil-kecil, dan menggantungkan hidupnya dengan berburu dan mengumpulkan makanan dari alam. Pada periode tersebut, manusia mengalami peningkatan kemampuan adaptasi yang luar biasa, dimulai dari terciptakan sistem agrikultur, taktik berburu, dan yang paling penting adalah transisi budaya yang terjadi secara turun-temurun!

Nah, sekarang coba pikirin deh, kenapa kebudayaan manusia bisa berkembang seiring berjalannya waktu? Ya pasti karena adanya transfer ilmu pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya. Bayangkan kalo tidak ada transfer ilmu pengetahuan. Ilmu seseorang hanya mandek di satu orang atau generasi itu aja. Ketika orang itu mati, manusia-manusia lain harus eksplor dan mulai dari awal lagi untuk discover ilmu yang sama. Iya kan? Nah, itulah awal mula dari konsep senioritas udah ngejalanin sistem kemasyarakatan yang kaya gini.

father_son

Lo bayangin aja deh, dulu waktu zaman hunter-gatherer, ekspektasi umur manusia rata-rata itu gak setinggi sekarang yang bisa meninggal rata-rata di umur 65 ke atas. Jaman dulu hunter-gatherer itu, jarang banget ada orang yang ngelewatin usia 40. Jangankan 40, 15 atau 20 aja kemungkinan besar udah tewas dimakan macem-macem, bisa binatang buas, keracunan makanan, kecelakaan, bencana alam, perang antar suku, dan sebagainya. Jadi, buat individu manusia yang bisa berhasil bertahan sampe umur 40 tahun lebih, udah pasti dianggep paling “sakti”, paling bijak, dan yang jelas paling sukses dalam bertahan hidup. Makanya mereka yang berhasil menembus usia 30-40 begitu dihormati dan udah dianggap jadi panutan buat masyarakatnya. Sebaliknya mereka yang senior juga seneng banget untuk berbagi ilmu kepada anak-anak, cucu-cucu, maupun junior-juniornya agar masyarakat tersebut bisa terus berkembang dan beradaptasi.

Dengan perspektif seperti ini, lo bisa ngeliat jelas bedanya definisi dari “senioritas” yang lebih ideal, di mana senioritas itu nggak cuma dari sudut pandang negatif doang, tapi justru sebagai budaya positif untuk meneruskan rantai ilmu pengetahuan, keterampilan, maupun pengalaman dari generasi sebelumnya. Karena memang dengan cara seperti inilah spesies manusia bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan hingga mengembangkan peradaban sebesar ini.

Hal itulah juga sebetulnya yang sedang dilakukan oleh kita di Zenius — yang memang lebih senior dari lo yang saat ini masih SMA maupun kuliah. Kata “senior” yang dimaksud bukan berarti lo harus menghormati kita di sini, tapi justru kita sebagai orang yang lebih dulu mengalami apa yang lo alami sekarang, mau untuk berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan agar lo bisa lebih efisien dan efektif dalam belajar serta lebih cepat dalam berkembang. Dengan harapan kelak ketika lo juga menjadi senior, lo juga akan meneruskan budaya yang sama ke generasi berikutnya sehingga masyarakat kita bisa berkembang lebih baik lagi.

Okay, sekarang setelah lo paham kenapa ada fenomena senioritas ini dan kenapa budaya ini sebetulnya bisa diarahkan menjadi hal yang positif, baru deh kita bisa membahas hal-hal yang lebih praktis buat kehidupan lo sebagai pelajar. Biar ini jadi PR lo sebagai junior (maupun senior) untuk mengurangi efek yang negatif, dan maksimalin dampak yang positif dalam lingkungan lo masing-masing.

 

Saran buat Junior : Gimana cara beradaptasi di lingkungan yang baru?

Buat lo yang sekarang mungkin lagi berstatus sebagai junior, entah itu karena lo baru masuk ke lingkungan kampus, baru masuk SMA, atau masuk organisasi tertentu.. emang ada tantangan tersendiri buat beradaptasi. Apalagi kalo lo tau bahwa budaya interaksi antara senioritas dalam lingkungan tersebut kurang bersahabat bagi junior. Nah, terus sikap seperti apa nih yang sebaiknya lo lakukan ketika berada dalam kondisi seperti itu? Pertama, sebelum lo coba berinteraksi dengan senior, ada satu hal yang perlu lo pahami. Bahwa dari pihak junior maupun senior itu memiliki kebutuhan dan kepentingannya masing-masing. Sebagai junior itu gua ngerti kalo lo butuh diterima, butuh pengakuan, butuh ditemenin, dan sebagainya. Sedangkan yang junior juga paham bahwa senior itu punya pengalaman bisa dibagikan, butuh dihargai, butuh dihormati (dalam taraf yang wajar dan nggak berlebihan, ya), dan emang pengen juga sharing tentang pengalaman dan ilmu yang mereka punya.

Dengan lo paham bahwa ada 2 kepentingan dan kebutuhan di setiap lingkungan yang lo hadapi, lo akan lebih bisa melihat situasi secara komprehensif. Berikut adalah beberapa saran dari kita tentang gimana cara taktis buat bisa beradaptasi dalam lingkungan yang baru terutama dalam berinteraksi dengan mereka yang lebih senior.

MANFAATKAN HALO EFFECT!

Apaan tuh Halo Effect? Pengertian sederhananya dalam konteks ini sih Halo Effect adalah bias kognitif terhadap impresi dan karakter seseorang pada saat pertama kali bertemu. Lo pasti pernah kan ketemu sama orang baru, terus dalam hati udah nge-judge karakter orangnya seperti ini :

  • “Ih nih orang pasti pinter banget deh!”

  • “Eaa… ni anak kayaknya sombong banget sih”

  • “Uuh, kayaknya ini tipe orang yang gak bisa dipercaya”

  • “Wow, nih orang pasti anak orang kaya banget”

  • “Kayaknya dia anaknya seru, asik, dan nyenengin deh..”

  • dan sebagainya..

Halo effect ini emang nggak selamanya bener, malah sering banget justru salah. Ya nggak jarang juga kan lo denger kalimat “Dulu gua pikir dia orangnya cuek, ternyata dia peduli sama temen juga” atau sebaliknya “Dulu gua pikir dia bisa dipercaya, eh ternyata orangnya ember”. Nah, walaupun halo effect ini sebetulnya bias yang seringkali salah, tapi sayangnya ini akan selalu jadi impresi yang sangat mempengaruhi interaksi dan komunikasi di awal-awal hubungan antara dua individu. Jadi kalo dari awal orang udah memberi kesan (baca: halo effect) yang positif, ya interaksi lo dengan siapapun pasti akan jauh lebih enak ketimbang kalo dari awal lo udah “blunder” duluan dengan memberikan kesan yang jelek.

Try to be Nice! 

Yes, kadang sebetulnya hal yang paling simpel kayak begini tuh justru sering banget dilewatkan. Being nice di sini maksudnya bukan berarti harus jadi penjilat, nunduk, atau cari perhatian dan sebagainya yah.. Berdasarkan perspektif halo effect yang gua jelasin sebelumnya, minimal menurut gue sih lo coba untuk memberikan tanda bahwa “Eh gua orang yang nyenengin lho! :)”. Tanda itu bisa lo bisa lo hadirkan dengan berbagai cara seperti cara lo senyum, bahasa tubuh lo, cara lo berbicara, nada bicara lo, kosakata yang lo gunakan, mimik muka lo, cara lo berpakaian, dan sebagainya. Percaya deh, walaupun lo pikir itu hal-hal sepele yang nggak ngaruh, tapi sebetulnya itu justru sangat berperan waktu orang pertama kali menilai lo.

Sekarang lo bayangin aja nih ya, kalo lo sebagai senior yang dihadapkan dengan dua tipe junior. Tipe yang pertama junior yang dari awal udah ngasih kesan yang nyenengin, orangnya asik, kocak, pokoknya kalo ada nih anak pasti jadi seru deh. Dengan adanya orang baru yang asik, tentunya lo juga akan menyambut dengan baik kehadiran mereka di tengah lingkungan lo. Nah, sebaliknya kalo ada junior yang dari awal masuk ke lingkungan baru udah masang muka jutek, cemberut, naro peralatan sembarangan, sampah nggak dibuang di tempatnya, intinya dari awal udah memberikan kesan yang nggak enak buat lingkungan. Nah, lo kalo sebagai senior juga udah males duluan kan berinteraksi sama junior yang seperti itu?

Sekarang pertanyaannya : Lo mau jadi junior yang tipe seperti apa? Jawabannya sih terserah lo. Tapi, kalo emang tujuan lo itu buat bisa masuk dan diterima secara positif di lingkungan yang baru, saran gua sih lo manfaatkan halo effect tersebut untuk membuat lo jauh lebih mudah beradaptasi di lingkungan yang baru.

Oiya, mungkin lo bisa baca lebih lanjut di artikel Zenius Blog sebelumnya tentang gimana caranya berinteraksi dengan lingkungan sosial, supaya lo bisa jadi gaul.

 

Saran buat Senior: Gimana caranya supaya bisa dihormati (secara sehat) dan membangun budaya interaksi yang positif dengan junior?

Buat lo sekarang yang berstatus senior, udah ngaku aja deh kalo kita semua emang seneng berada di posisi yang lebih tinggi dari orang lain, kita ngerti kok kalo pada dasarnya remaja itu maunya dianggep gede, ya kan? Hehehe..  Nah, dalam posisi lo sebagai senior, mungkin jadi pengalaman pertama lo buat dihormati sebagai orang yang lebih muda, pertama kali dipanggil “Kak” atau “Bang” yang mungkin bikin lo rada lupa diri, Cuma masalahnya, jangan sampai perasaan seperti itu jadi kelewat bates dan malah lo jadiin ajang pamer dan menunjukan kehebatan lo dibandingkan adek-adek angkatan lo. Justru lo harus memandang junior-junior lo ini sebagai sosok adek yang perlu arahan dan bimbingan dari lo.

Lha, emang apa sih manfaatnya berinteraksi sama junior? Kalo emang gua gak mau berbagi pengalaman ya gimana, emang harus ya?

Tentu saja ini bukan keharusan buat lo, gua juga gak mau ngasih nasehat “Tapi kan alangkah baiknya kalau…” atau semacamnya. Cuma kita di sini sebagai senior lo, mau berbagi satu tips yang sering banget gak disadari. Dengan menjaga hubungan baik antar jenjang umur, baik kepada senior maupun junior, akan amat sangat bermanfaat bagi lo ke depannya. Percaya deh, lo sekarang mungkin ngeliat para junior lo cuma sekumpulan anak culun yang gak tau apa-apa. Tapi seiring waktunya berjalan, 5-10 tahun lagi jenjang umur antar 1–2 tahun itu udah nggak ada artinya sama sekali. Di dunia profesional setelah lo kuliah nanti, nilai senioritas-junioritas itu akan terkikis dan gak hanya terbatas dengan perbedaan umur doang. Faktor-faktor yang lebih diperhitungkan justru adalah :

  • Bagaimana kualitas karakter lo? Apakah lo dikenal sebagai orang yang punya integritas, kedisiplinan, punya kemampuan, dan sebagainya.
  • Seberapa dalam lo mengkaji bidang yang lo tekuni?
  • Dan mungkin yang paling penting adalah… Seluas apa lo membangun koneksi lo dengan orang-orang berkualitas lainnya?

Nah, khususnya di point terakhir yang mau gua tekankan adalah, para junior lo yang mungkin sekarang tampak culun ini bisa jadi akan berubah jadi orang-orang berkualitas yang kelak bisa jadi: temen berdiskusi, sahabat seperjuangan lo, calon anak buah lo, partner kerja lo, sumber koneksi lo ke orang-orang penting, atau bahkan mereka bisa jadi atasan lo.

Nah, dengan lo ngeliat perspektif hidup yang lebih luas seperti ini. Gua harap sih lo bisa memandang para junior lo ini bukan sebagai target supaya lo bisa pamer atau jadi pesuruh lo doang yah. Tapi justru jadi asset masa depan lo yang berharga! Asset dalam arti bukan jadi objek buat dimanfaatkan yah, tapi justru untuk saling memberi manfaat satu sama lain.

So, gua pikir sih kalo lo bisa ambil sikap secara positif dengan membantu adek-adek lo ini untuk bisa beradaptasi, lo bisa share pengalaman lo sama mereka, bisa ngasih bimbingan serta manfaat dalam menjalani rintangan dan hambatan yang sebelumnya pernah lo hadapi. Gua yakin mereka akan respect sama lo dengan cara yang lebih natural, lebih sehat, dan pastinya lebih tulus dan nggak dibuat-buat. Akhirnya, dalam beberapa tahun ke depan lo akan jadi orang yang memiliki koneksi yang luas karena lo udah membangun hubungan yang baik dengan setiap lingkungan lo. Dengan koneksi lo yang luas, peluang dan kesempatan lo juga lebih luas, dan lo akan jauh lebih mudah untuk survive dan nyaman kalo lo punya banyak kenalan di mana-mana yang bisa dengan rela bantuin lo dengan tulus kapan aja. Iya kan?

*****

Oke deh, sekian sharing dari kedua senior lo. Moga-moga bisa bermanfaat bagi lo yang saat ini berada dalam posisi sebagai junior maupun senior, supaya masing-masing dari lo bisa membangun budaya interaksi yang positif dan saling bermanfaat satu sama lain.

Keterangan Sumber :

http://www.khoisanpeoples.org/
http://en.wikipedia.org/wiki/Halo_effect
http://psychology.about.com/od/socialpsychology/f/halo-effect.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hunter-gatherer
Sumber gambar: dimodifikasi dari http://www.workplacerantings.com/workplace-bullying-do-school-bullies-turn-into-workplace-bullies/

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada yang mau ngobrol lebih lanjut sama Faisal atau Glenn, jangan malu-malu langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.