OSPEK

Seluk-Beluk OSPEK, Masih Penting Nggak Sih Zaman Sekarang?

Apakah OSPEK masih dibutuhkan di zaman sekarang ataukah OSPEK adalah konsep yang sudah ketinggalan zaman? Mari kita bahas dan diskusikan bersama sejauh mana tujuan dan manfaat OSPEK masih dibutuhkan.

Pengumuman kelulusan SBMPTN udah, ujian mandiri udah. Pengumuman kelulusan universitas yang lain rata-rata juga udah. Nah, mungkin sebagian besar dari lo nih lagi nggak sabar nunggu untuk memulai kehidupan yang baru akhir tahun ini, yak masuk kuliah!!

“Gimana ya ntar pas pertama kali gw masuk kampus? Haduh, bisa survive nggak ya gue ntar? Bakal suka nggak ya dengan lingkungannya?”

Kali ini gue pengen bahas satu hal yang erat banget dengan hal memulai perkuliahan yang mungkin bisa ngejawab pertanyaan-pertanyaan nervous di atas. Yep, Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, a.k.a OSPEK!

Nah, kalian pernah gak sih mikirin apa pentingnya ospek?

“Memangnya kenapa gue harus ikutan? Ah malesin ah, tugas ospek lagi…. Tugas ospek lagi. Ospek kan cuma jadi ajang bagi senior untuk balas dendam!”

Nah, tulisan ini akan mengulik sebenernya apa sih pentingnya OSPEK. Kita juga akan bahas apa benar sistem pengenalan kampus ini sesuai dengan stigma negatif yang beredar selama ini. Dan terakhir, lo bisa tentukan sendiri sebenarnya ospek itu bermanfaat ga sih buat lo.

Oiya, sebelumnya gue mau ngenalin diri dulu nih. Gue Annisa Wibowo, biasa dipanggil Sasa. Kali ini gw berkesempatan untuk jadi guest blogger di Zenius Blog. Sekarang, gue lagi menjalani proses studi di Fakultas Psikologi – Universitas Indonesia.

OSPEK
Ilustrasi suasana ospek di salah satu perguruan tinggi di Indonesia.

Tulisan ini mungkin emang spesifik banget buat lo yang udah lulus dan mau masuk kuliah. Tapi, tulisan ini bisa berguna juga buat lo yang kelas 12 karena setahun lagi lo juga akan menghadapi yang sama. Dan walaupun OSPEK emang khusus buat anak kampus, tapi esensinya masih mirip2 lah dengan orientasi-orientasi masuk sekolah baru, kayak masuk SMA pertama kali.

Kenapa OSPEK Dipandang Negatif?

Beberapa tahun terakhir ini, udah lumayan banyak kasus-kasus terkait ospek di Indonesia yang beredar di internet. Kebanyakan sih, berita-berita buruk yang ngelibatin kekerasan, intimidasi, bahkan pemerkosaan. Padahal faktanya, gak semua ospek itu melibatkan hal-hal yang disebutkan dalam berita itu. Coba liat ini deh.

Beberapa waktu belakangan ini sempat beredar di media sosial kabar tentang mahasiswa-mahasiswa universitas di Singapura yang lagi ngejalanin masa orientasi mahasiswa dengan tugas bertemakan “Kindness campaign”. Kemudian, banyak orang-orang di media sosial yang membandingkan tugas ospek universitas tersebut dengan tugas-tugas ospek di universitas Indonesia.

ospek
Deskripsi masa orientasi di Singapura.

Sebenarnya kenapa sih sebagian besar dari kita mandang OSPEK itu negatif? Apa benar fakta di lapangan semuanya begitu?

Ini adalah salah satu fenomena psikologis yang namanya negativity bias, yaitu kita lebih cenderung mengingat hal-hal negatif yang kita alami, diceritakan oleh orang lain, atau diberitakan di media. Karena berita negatif tentang ospek lebih sering diberitakan daripada berita positif atau yang sifatnya netral, maka kita jadi semakin terasosiasi dengan mosi bahwa ospek itu merupakan hal negatif dan patut untuk dihindarin oleh kita.

Coba deh, sebelum kalian lanjut baca artikel ini, gue mau ngajak kalian untuk menghilangkan pandangan-pandangan tersebut terlebih dahulu. Gue akan ngajak kalian untuk mikirin esensi ospek dari sudut pandang yang netral.

Tujuan dan Manfaat OSPEK Sebenarnya

1. Experience Langsung Kuliah itu Gimana

Coba bayangin, pas kita baru lulus SMA, informasi yang kita punya terkait lingkungan di kampus lo sangat terbatas. Mungkin lo udah dapat informasi dari website universitas, atau dari senior, keluarga, temen, atau mungkin bapak dan ibu lo dulu pernah kuliah di universitas yang sama. Tapi, informasi yang lo dapatkan gak komprehensif dan nggak menutup kemungkinan juga kalau informasi yang lo dapatkan penuh dengan bias dan sentimen dari orang yang memberikan lo informasi itu.

Salah satu hal yang bisa lo lakuin untuk mengetahui medan yang akan lo hadapi di kampus adalah dengan terjun langsung ke lapangannya.

Contohnya aja, misalnya lo nanya “Gimana sih rasanya naik kicir-kicir di Dufan?” ke sepuluh orang temen lo yang berbeda. Jawabannya bisa bervariasi. Ada yang bilang naik kicir-kicir itu menyenangkan karena memicu adrenalin. Ada juga yang bilang kalau naik kicir-kicir itu rasanya kayak disamperin sama malaikat penjemput nyawa. Tiap orang punya opini yang beda-beda.

Nah, kalau lo mau menilai gimana rasanya naik kicir-kicir di Dufan, datang lah ke Dufan, observasi medannya, takar seberapa besar nyali dan kemampuan lo untuk mencoba wahana itu, terus lo putusin: apakah lo akan naik kicir-kicir atau enggak. Ketika lo coba, lo akan ngerasain sensasi naik kicir-kicir. Setelah itu, baru deh lo bisa punya opini tentang pengalaman naik kicir-kicir.

Sama juga dengan dulu gue bertanya-tanya, “Kuliah di Psikologi gimana ya rasanya?” Kan ada aja tuh stigma terkait kuliah di Psikologi. Ada yang bilanglah kalo Fakultas Psikologi itu fakultas cewek banget. Kalo gue cowok, apa gue masih bisa punya temen? Ada yang bilang kuliah di Psikologi itu isinya buat orang-orang yang mau “berobat jalan” ngatasi kondisi mentalnya xD Ada juga yang bilang kalo kuliah di Psiko, lo akan diajarin caranya “ngebaca” orang, diajarin ilmu nujum, meramal, dan apalah itu. Hahahaha.

Tiap orang yang gue tanya tentang kuliah di psiko, pasti punya opini yang beda. Untuk menjawab semua stigma itu, kan gue harus punya insight sendiri, ngerasain sendiri kuliah Psikologi itu. Barulah gue bisa tahu dan menilai kalo mempelajari human behavior itu sebenarnya gimana, apa benar Fakultas Psikologi itu isinya orang aneh-aneh, dan lain-lain.

Nah, sistem pengenalan kampus membantu gue menjawab stigma itu. Waktu gue jadi mahasiswa baru dulu, gue sempat ragu juga kalau ospek itu cuma ajang balas dendam dari senior ke juniornya. Disuruh bikin esai lah, wawancarain banyak orang di universitas dan fakultas lah, pokoknya gue dibimbing untuk ngerjain hal-hal yang nambah beban pikiran gue selama gue masih jadi mahasiswa baru.

Tapi, setelah mulai semester pertama, gue ngerasain kalau ospek itu berguna banget bagi gue. Ngerjain esai pas ospek itu ternyata gak ada apa-apanya dibandingin ngerjain esai buat tugas kuliah.

Esai buat kuliah tuh bebannya jauuuh lebih berat daripada esai pas masa pengenalan kampus , dari segi deadline, kuantitas, dan materinya. Ibaratnya sih, ngasih tugas esai pas ospek itu kayak ngasih peringatan ke kita, “Eh, lo bakal ngehadepin ginian loh pas kuliah entar. Supaya entar gak kaget, ini gue kasih pemanasan dulu, yak.

2. Ngenalin Kondisi Sosial Kampus

suasana kampus
Pengenalan kondisi kampus bisa kita dapatkan saat masa orientasi.

Masa pengenalan kampus sebenernya juga ngebantu kita untuk ngenalin kondisi sosial di lingkungan kampus loh. Dengan ngikutin kegiatan ini, lo bisa kenal ama senior, dosen, dan karyawan di universitas lo.

Di beberapa universitas negeri dan swasta, saat lo mengikuti rangkaian acara ini, lo biasanya akan dikasih tugas wawancara. Nah, tugas wawancara ini juga berguna buat kita nanya ke senior terkait “medan” yang akan kita hadapi pas kuliah entar. Kalian juga akan kenalan dengan teman-teman seangkatan kalian, ngerjain tugas bareng-bareng.

Kenapa mengenali kondisi sosial kampus itu penting?

Karena dunia SMA dan dunia kampus itu beda. Dunia kampus itu kompleks. Kalo di SMA, lo cuma ada satu arah, tinggal ngikutin arus, disuapin lagi. Kalo di kuliah, lo sendiri yang menentukan mau jadi mahasiswa macam apa lo ntar.

Apakah lo akan jadi mahasiswa yang bakal aktif di kepanitiaan atau kelembagaan, lebih fokus ke riset atau kompetisi-kompetisi, jadi mahasiswa kunang-kunang (kuliah-nangkring, kuliah-nangkring), atau jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang)?. Lo sendiri yang menentukan dunia lo, UKM mana yang bakal lo pilih, dll.

Dengan mengenali kondisi sosial kampus, you know who to ask when you need something. Staf administrasi mana yang perlu lo hubungi kalo misalnya mau urus beasiswa. Kalo lo lagi ada masalah, lo bisa hubungi dosen pembimbing. Dan inget juga, pas belajar di dunia perkuliahan, lo ga akan selalu belajar dan mengerjakan tugas dengan teman seangkatan.

Ga menutup kemungkinan banget kalo lo bakal belajar dan ngerjain tugas lintas angkatan. Belum lagi kalo lo mau punya proyekan, ambisi riset/kompetisi, atau ikut kepanitiaan.

Dan satu lagi, mengenali kondisi sosial kampus juga berarti memahami culture kampus itu. Ini ngebantu banget soalnya lo bakal tau gimana cara berinteraksi yang tepat dengan elemen kampus tertentu untuk mencapai tujuan yang sedang lo kejar saat itu.

3. Ngenalin Sistem Perkuliahan

Di beberapa universitas, pada saat mengikuti masa pengenalan kampus juga akan ngebahas sistem akademik di perkuliahan yang pasti akan jauh beda dengan sistem akademis pas kalian SMA. Dari sistem kredit semester, penilaian, hingga cara dosen ngajar pun beda-beda.

Belum lagi biasanya beberapa universitas udah nerapin metode PBL (problem based learning) dan CL (collaborative learning). Nah, gak semua SMA nerapin metode ini dalam kegiatan belajar mengajar. Pada saat ospek inilah biasanya dikasih tau dasar-dasar PBL dan CL itu apa, kemudian ada simulasinya juga.

Kebayang gak pentingnya masa ospek gimana? Ngikutin ospek bisa jadi sarana buat lo supaya bisa survive di dunia perkuliahan, baik dalam segi akademis, non-akademis, dan lingkungan sosial. Dari ospek juga lo bisa menakar-nakar dan ngedapetin referensi kira-kira lo akan jadi mahasiswa yang akan fokus ke ranah mana (bisa ranah akademis, kelembagaan, kepanitiaan, dll).

Tapi kan, Beneran Ada yang Menjalankan OSPEK Secara Negatif?

Terkait kekerasan yang sifatnya fisik, verbal, atau psikologis sebenarnya sudah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi no 38/DIKTI/Kep/2000 yang ditegaskan lagi di Surat Edaran no. 3120/D/T/2001.

Jadi sebenarnya lo ngga mesti takut. Karena secara konstitusi, lo sudah dilindungi dari hal-hal yang melibatkan pelecehan, pemerasan, pemaksaan kehendak, penganiayaan yang mengakibatkan cidera, dan kemungkinan dapat mengakibatkan cacat tubuh dan meninggal dunia akibat pelaksanaan ospek.

Tapi gue rasa gak semua universitas mendapatkan sosialisasi atau paham sama aturan ini. Mungkin juga panitia ospeknya gak mempertimbangkan aturan itu untuk ngerancang acara ospeknya. Atau mungkin penegakan hukum di Indonesia dan kesadaran intelektual di lingkungan akademis belum maju apabila dibandingkan dengan universitas di luar negeri sana.

****

So, bagi lo semua yang baru keterima SNMPTN, SBMPTN, dan seleksi universitas lainnya, it’s up to you to judge and decide! Kalau lo menilai bahwa lo butuh ospek buat survive selama masa kuliah, silakan ikutan ospek. Tapi, ada juga nih, yang mungkin punya mekanisme sendiri buat survive di lingkungan baru kampus tanpa ospek.

Ya bisa aja lo udah punya banyak kenalan di kampus, atau keluarga merupakan salah satu elemen kampus, atau sebelumnya lo udah pernah kuliah. Kalau lo menilai bahwa lo punya mekanisme lain buat survive, silakan dipikirkan dan diimplementasikan.

Kalau lo udah ngejalanin ospek dan lo ngerasa bahwa ospek lo bisa dikemas dengan cara yang lebih menarik dan bermanfaat bagi pesertanya, jadilah panitia ospek ketika lo udah memasuki tahun kedua, ketiga, atau keempat kuliah.

Ubah mindset orang-orang yang seringkali menganggap ospek jadi ajang balas dendam dan bullying. Masa pengenalan kampus gak harus sarat akan senioritas dan hal-hal yang serius, kok. Justru kalau kita bisa bikin ospek sebagai ajang yang fun tapi memberikan manfaat besar bagi mahasiswa baru buat survive di kehidupan kampus, kita akan bikin gebrakan baru dalam tradisi ospek di negeri kita.

Kalo ada yang mau ngobrol lebih lanjut soal ini, bisa langsung tinggalin comment di bawah, ya!

Bagikan Artikel Ini!