The Virtue of Liberating Education

Banyak anak yang nanya ke gue macem-macem, yang jawabannya gw harap bisa terjawab di sini...

Among those questions are:

"kenapa elo mau jadi guru?"
"konsep pendidikan lo gimana?"
"kenapa elo suka belajar macem-macem?"
"kenapa gue disuruh-suruh untuk belajar macem-macem sama elo?"
"gue milih jurusan apa ya bagusnya da?"
"kenapa elo ga terusin kuliah?"
"Elo tujuannya apa sih dengan semua ini?"
"jurusan apa yang kira-kira prospeknya bagus da?"

dan masih banyak lagi pertanyaan sejenis...

Ini gue tulis tanpa editan, jadi bahasanya ya khas bahasa indonesia versi gue (di mana waktu gue UMPTN, nilai bhs indonesia gue 40% ūüėÄ )

Stage-1

Waktu gue tingkat 4, temen-temen gue di ITB pada mau ikut test GRE, karena pada mau kuliah ke luar negeri, nah maksimum test GRE score tuh 2400. Temen-temen gue yang best of the best ITB ini ternyata score-nya antara 1400--1650, mungkin ada yang nilainya di atas itu tapi gue nggak kenal.

Karena gue tau temen-temen gue nilainya jelek, akhirnya gue penasaran buat ikutan test ini. Gw belajar gila-gilaan supaya score gue bagus, dan akhirnya gw dapet score 2350, gue testnya 6 bulan setelah temen-temen gue took the test.

Rencananya gue emang mau kuliah keluar juga, terus gw keasikan belajar serius. Akhirnya gue nyari tau kenapa kok anak-anak indonesia rata-rata nilainya parah, sementara di luar kok nilainya bisa bagus-bagus. Gue mulai bertanya, apa sebenernya yang dipelajarin anak-anak di luar sana (termasuk USA) sampe kok pada bisa bagus-bagus. Berangkat dengan pertanyaan-pertanyaan ini, akhirnya gue belajar kurikulum di top university di negara-negara maju, untuk mencari tau misi mereka apa, konsep kurikulumnya gimana, sembari juga gue pelajarin materi-materi kuliahnya (bukunya gue download gratis atau baca dari perpus itb). Tanpa sadar, gue ngabisin 1 setengah tahun untuk belajar itu semua.

Stage-2

Dari situ akhirnya gue tau, kenapa pendidikan di indonesia tuh parah banget, bukan sekedar parah, tapi parah buanget!! jadi konsepnya gini. Di Indonesia kita belajar supaya dapet skill khusus yang nantinya skill khusus ini bisa kita pake buat kerja supaya dapet duit. Singkatnya, inti dari pendidikan Indonesia tuh itu. Ternyata yang gue liat di sistem pendidikan luar negeri tuh konsep pendidikan berjenjang. Ada memang jenjang praktis buat mereka yang akhirnya sekedar belajar buat dapet skills practical untuk akhirnya dipake untuk dapet duit.

Tapi di top Universities, pendidikannya beda, tujuannya bukan itu. Karena tujuan pendidikan di top Universities ini nantinya menciptakan orang-orang yang emang menciptakan pekerjaan, jadi top leaders, top businessmen, top engineers, top scientists, dll yang mereka ini pendidikannya nggak bisa dipola.

Jadi, apa sistem kuliahnya yang beda jauh sama kita?

Stage-3

Ada tiga hal penting yang gue liat cukup jauh perbedaannya sama kita.

Pertama, tujuan pendidikannya.

Mereka tau mereka butuh untuk creating great people, jadi tujuan pendidikan buat top people-nya bukan untuk "mencetak" orang-orang, tapi membekalin mereka dengan kemampuan berpikir yang dahsyat, trus membekali mereka dengan knowledge seluas mungkin, se-general mungkin. Mereka harus bisa mikir bener, ngerti konsep ilmu-ilmu yang ada, ngerti berbagai macam paradigma ilmu yang ada, karena tujuan pendidikan adalah menjadi seseorang cerdas yang tercerahkan. Skills-skills praktis mah gampang bisa dipelajarin di kursus, atau nanti ambil master. Di level bachelor (sarjana) intinya mereka harus punya kemampuan dasar yang kepake di segala aspek kehidupannya.

Lo bisa baca tujuan pendidikan ini di website top university kayak harvard.edu, yale.edu, princeton.edu, dll

Kedua, pemilihan jurusan.

Di Indonesia, dari awal lo harus milih jurusan dan lo fokus ke satu jurusan, dan hampir semua mata kuliah yang perlu elo ambil udah ditentuin sama universitas. Padahal ternyata 85% matkul ini ga guna isinya di saat terjun ke kehidupan nyata (ini statement bokap gue,hehe)

Di sistem pendidikan Amerika, ternyata dari awal lo nggak langsung milih jurusan. Lo biasanya bebas ngambil mata kuliah dari segala jurusan, campur-campur dengan aturan-aturab tertentu. Kalo nantinya elo mutusin untuk ngambil konsentrasi di bidang tertentu ya boleh-boleh aja (total selama 4 tahun lo wajib ngambil sekitar 32 matkul, kalo lo ngambil konsentrasi, biasanya 12-14 matkul jadi wajib, tapi tetep aja 18-20 matkul bebas bisa lo pilih dari buanyak jurusan). Gue waktu itu coba liat pilihan mata kuliahnya ada apa aja. Dan, wow!!!Keren-keren abis. Lo bisa liat juga di website top universities itu tentang pilihan matkul yang mereka sediain.

http://generaleducation.fas.harvard.edu

Itu di atas salah satu contoh kalo di Harvard... di Princeton juga punya sejenis modelnya. Gue sendiri nyoba ngikutin buanyak banget mata kuliah yang ditawarin. Hasilnya? Dahsyat parah! Dengan ter-exposed berbagai knowledge and paradigm of thinking yang tersedia, hasil akhirnya pola pikir kita jauh total berbeda dan tercerahkan!!

Dengan belajar sistem seperti ini, kita jadi nggak sempit berpikir di satu bidang, tapi bener-bener sadar bahwa segala bidang-bidang ini nggak terpisahkan satu sama lain. Dan riset tambahan gue, orang-orang yang emang ahli di bidangnya justru adalah mereka yang punya pengetahuan general dan nggak sempit atau terfokus di bidangnya doang.

Ketiga, fokus pendidikan.

Di sana, gue liat fokus pendidikan ada menciptakan kecerdasan dan karakternya, bukan untuk mendapatkan isi ilmunya. Memang isi dari ilmu itu sendiri penting, tapi lebih penting lagi adalah pola berpikir yang kita bisa dapetin saat belajar ilmu-ilmu itu, jadi fokusnya mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, problem solving yang groundbreaking, innovating, dan lain-lain.

Jadi...belajar fokusnya bukan untuk nguasain ilmunya aja, tapi untuk menciptakan kecerdasan dan karakter. Misalnya gue belajar fisika, bukan fisika sebagai fokus materi, tapi bagaimana scientific reasoning kita pake di fisika, yang diharepin cara berpikir ini bisa kepake ke segala ilmu lainnya dan di aspek kehidupan yang lainnya juga.

kenapa hal-hal ini penting?

Stage-4

Karena menurut mereka (dan gue setuju akan hal ini), pendidikan seharusnya menyiapkan orang untuk siap seumur hidup, hidup di dalam suatu kualitas, untuk menciptakan kualitas secara terus menerus dalam 30-50 tahun kehidupan di masa mendatang. Nah, ya kita harus punya dasar yang kuat banget, karena hidup ya sayang aja kalo nggak ada misi. Kalo kita mau punya misi yang berarti (meaningful) dan untuk ngewujudinnya butuh waktu panjang, ya  harus siap belajar segala sesuatunya, karena semua itu bakal kepake.

Andaikan kita fokus mau jadi top leaders di bidang apa pun, segala ilmu-ilmu ini emang kepake. Psychology jelas, sociology jelas, critical thinking apa lagi (ini dasar semuanya), mathematical reasoning (this is a logic upon which all other knowledge will be built), scientific reasoning (nggak sama sama learning science, this is about applying scientific method di semua aspek kehidupan untuk mendapatkan hasil optimal dalam berpengetahuan apa pun), economics jelas, management apa lagi (bukan business doang), politics (ini semua orang harus tau kalo menurut gue), history (bokap gue bilang, tanpa belajar sejarah dengan bener, kita cuma akan ngulang-ngulang kesalahan yang udah dibuat orang laen), dan masih banyak lagi. Ini belum termasuk ilmu-ilmu yang belum bisa dikategoriin (dan mungkin ide mengkategori ilmu itu sendiri bisa juga rada salah kali yaa:p)

Pertama dalam menciptakan kualitas (kecerdasan, kreativitas, dan karakter). Kedua, semua ilmu itu akan kepake banget sehari-hari tanpa sadar. Ketiga, buat diwarisin ke siapa pun yang nantinya membutuhkan cara pandang yang menyeluruh, dan masih banyak lagi alesan-alesan yang lainnya...

Karena hal itu, jadi gue wajibin tutor-tutor atau manager-manager di zenius untuk belajar dengan model ini. Mereka wajib nguasain ilmu seluas-luasnya, dan thinking skills penting harus didapet dari segala ilmu-ilmu itu, supaya mereka tercerahkan dan akan mandang hidup dan dunia dengan cara yang beda.

Sabda PS (@sabdaps)
Founder and Teacher of  Zenius Education

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara lo yang mau ngobrol atau diskusi sama Sabda tentang dunia pendidikan Indonesia secara umum, langsung aja tinggalin komentar di bawah artikel ini. Buat lo yang mau baca artikel zenius lain terkait dunia pendidikan, gua sangat merekomendasikan lo untuk baca beberapa artikel di bawah ini:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

  • Fajar Jibril

    Nice post gan, btw gimana bikin cara pandang dari pikiran gue jadi lebih luas kayak yg lu bilang tadi?

    Thanks, keep writing

  • Makasih Da pencerahannya..¬† Dulu waktu dosen matematik sy bilang pentingnya¬† logic , mathematical reasoning dlm hidup.. pas waktu belajar pembuktian2 teori matematika yg terasa hanya bingung krn abstrak! Selalu terpikir.. ini belajar ginian buat apa..? eh ga taunya.. Sekarang gw bersyukur banget masuk matematika stelah gw ambil S2 sains manajemen SBM ITB.. kerasa banget manfaatnya dalam nyelesain masalah2 bisnis.. Nah skrg gw dari sains beralih ke terapannya yakni berbisnis rill.. kecil2an lah.. moga2 jadi gede.. Salah satunya ya itu jadi reseller zenius di Bandung.. Tapi pas gw baca tulisan lu ... sepertinya sudah lama saya tidak belajar lagi soal hal2 yg berbau sains, logic, kajian ilmiah yaa yg abstrak2 gitu deh... Terima kasih Da atas tulisannya.. gw jadi termotivasi lagi belajar sains lagi..

  • Nadiar Ahmad Syariful

    karena zenius pula gue jadi suka belajar matematika sama sains, padahal sekarang disipln ilmu gue bukan d sana. :))

  • rakhmarini

    sangat mencerahkan ūüôā a wise essay i think. keep write ya~

  • Btw makasih banget ya buat Sabda PS dan tutor-tutor Zenius yang lain. Gara-gara elo semua, cara pandang gue tentang belajar jadi berubah secara radikal. Mungkin karena elo ngajarin gimana belogika dengan bener, gimana konsep diri yg bener, dan yang penting dan ngaruh juga, elo ngajarin gue paradigma yang bener tentang belajar. So far, itu semua ngaruh banget buat hidup gue, bukan cuma dalam kehidupan akademik, tapi juga yang terpenting ngaruh di kehidupan sehari-hari gue. Sejak belajar pake Zenius, kebiasaan gue jadi berubah drastis, dari yang dulu suka salah mikir, salah paradigma dan lain-lain, sekarang gue udah bisa (dikit-dikit) berpikir kritis. Thanks banget Zenius :))

  • belumdinamain

    implicitly, because of zenius, gue jadi berpikir lebih kritis, cara pandang gue berubah, wah banyak banget yang gue rasain bedanya.. thanks, Da

  • Danang

    Kalo itusih kembali ke diri sendiri aja...

  • feri

    keren banget lah ini, kenapa ga jadi pejabat di kemendikbud aja bro?
    ubrak abrik kurikulum yg kacau di Indonesia ūüôā

    Sadar banget, saya yg baru lulus dari program D3, emang beda banget konsep cara berpikirnya. Di D3, khususnya saya di ilmu kesehatan, lebih banyak dijejelin materi2 hafalan spesifik dengan jumlah matkul yang bisa sampe 15an per semester. ckckc
    Sering ngebayang2in gimana ceritanya kalo saya waktu thn 2009 ambil ke ptn SNMPTN yang udah masuk ūüėÄ

  • Fawcet Jenusdy

    Sabda, Ps
    Anda lebih cocok menjadi pemimpin di bidang Pendidikan..
    Indonesia pendidikannya kurang karena pemimpinnya yang salah cara berfikirnya...
    .. dan orang seperti ANda lebih cocok menjadi pemimpinnya

  • keren dan mencerahkan bang, buat lagi yang kayak ginian ya ūüėÄ

  • Fatimah Bilqis

    bang lu gantiiin Muhammad Nuh aja deh ūüôā

  • Sanjivani

    keren parah bang! kita2 emang butuhin yg beginian nih... pengarahan yg mencerahkan.. gw berharap lu yg jadi menteri pendidikan selanjutnya bang!

  • Pingback: Mengubah Amatir Jadi Mahir » Sanjivani Bulandari Radji()

  • Fakhrul Shidqi

    Kiai Haji Sabda bisa gntiin alm. KH Zainuddin MZ ni dalam masalah pndidikan ūüėÄ

  • duma

    kerennn abis bangg... pengen bisa kaya loe bang ūüėÄ butuh waktu berapa lama tuh buat jadi seseorang yang bisa memandang dunia dari berbagai sudut pandang yang berbeda ūüėÄ

  • niesa hanum

    bang sabda nanya dong, kok bisa ngrasain kuliah di liberal arts college? saat itu bang sabda udah kuliah di itb kan? emang statusnya sebagai apa pas di liberal art college? transfer student? terus kok bisa ngambil beda jurusan dari jurusan yang sebelumnya(stei itb)? kok bisa bang? bagi pengalaman dong! ūüėÄ pengen jg apply nyoba di salah satu liberal art college

  • ezekiel

    nice post bro..
    mantep abis dah..
    keep inspiring other people!

  • retno

    wah .. syukron bgt bang ..
    dari SD ga suka matematika ..tapi sekarang bukan suka tapi cinta .. haha

  • Achan

    mantap sumpah!!!nih makanan empuk sifar kritis gua,,,tolong post solusinya dong kak,kalo kita udah terjebak kontruksi masyarakat yg pendidikannya lemah,,,

  • yasri

    masalahnya adalah, sistem pendidikan suatu negara itu, sangat berkaitan dengan sisem ekonomi yang diembannya. namanya juga sistem, pasti saling berkaitan satu sama lain. ada bagian yang rusak, yang lain juga ikutan rusak

  • Safira Anggani

    kak gue mau bertanya sekaligus minta saran. seperti kebanyakan masyarakat, ortu gua juga berpandangan kalau tujuan sekolah/kuliah itu adalah untuk uang dan uang, padahal cara pandang gua juga ga melulu kesitu, gua pengen bebas belajar kemana aja dan apa aja. kira kira gimana solusinya kak? thanks

  • Naomi Oktavianti

    Ah keren banget.. "Article-zeniusBlog-walking" nya sampe yang inii, baru engeh ini artikel di post 4 tahun yang laluu ahahaha. Bikin speechless, Bang... Makasih kaka kaka tutor Zenius, gua jadi pengen ikutan bagusin (atau perbaiki) pendidikan di Indonesia :')

    Btw, asik deh di post yang tatacara SBM ituu ada contoh nama Naomi.. (walaupun yang itu kayanya Naomi yang itutuh.. wkwk)

  • Kaysha Ainayya

    Pernah coba untuk kerjasama dengan Kemdikbud gak kak?

  • yudhis

    thanks bang
    i really agree with you to study many things because everything is connect each other
    even if I want to become expert in something, I need other knowledge to support my focus too, so i can get the maximum result

  • Cristalia Nisa

    Bang Sabda.. keren banget pemikirannya !! Jempol daahh (y)
    Gue doain kelak kau bisa jadi Menteri Pendidikan Indonesia, hehe :))