Kenapa sih Seseorang Memilih Jalan Hidup Sebagai Seorang Ilmuwan?

Kerja sebagai seorang ilmuwan itu seperti apa sih? Apa sih menariknya jika kita berprofesi sebagai seorang ilmuwan? Semua dijelaskan di artikel ini.

Ngapain? Mendingan jadi dokter, pilot, atau tentara kan. Keren, dibutuhin orang, gaji oke, ya gak? Tapi tunggu dulu. Di tulisan ini gue mau bahas apa sih kerjaan ilmuwan dan kenapa menurut gue profesi ini tuh keren banget. Sebelumnya gue mau ngenalin diri dulu. Nama gue Johan Wibowo, sekarang mahasiswa jurusan Teknik Tenaga Listrik ITB. Kok tulisan gue bisa ada di sini? Karena gue adalah salah satu alumni Zenius angkatan tahun 2012.  Gue termasuk yang kebantu banget dengan adanya Zenius. Walaupun nilai raport gw ancur-ancuran sehingga gagal di SNMPTN Undangan, dengan Zenius gue bisa dengan mulus menembus badai SBMPTN Tertulis dengan masuk ITB. (tsaaaah muluss..).

Oke, pertama-tama kita harus bedain dulu antara ilmuwan (scientist) dan insinyur (engineer). Dulu waktu SMA gue sering denger temen-temen bilang,”Gue pengen jadi ilmuwan ah, biar bisa nemuin macem-macem teknologi yang keren-keren!”. Nah, ini adalah contoh kesalahpahaman terhadap profesi ilmuwan. Jadi apa sih bedanya ilmuwan dan insinyur? Ini adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan dosen gue di kelas Rangkaian Elektrik. Waktu itu kami diajak berpikir sejenak tentang esensi kuliah di jurusan teknik dan kemudian menjadi insinyur dan kenapa profesi ini tuh sebenernya beda banget dengan ilmuwan.

Untuk bisa paham beda antara ilmuwan dan insinyur, lu harus paham dulu apa bedanya

  1. to find;

  2. to discover;

  3. to invent;

Untuk mengubah sebuah kata kerja menjadi kata benda kita bisa tambahin “to” di depannya. Ketiga kata tersebut dalam Bahasa Indonesia punya padanan yang sama: “menemukan”. Bedanya, to find adalah ketika seseorang kehilangan sesuatu kemudian menemukannya lagi. Sedangkan to invent adalah ketika seseorang menciptakan sesuatu yang sebelumnya ga pernah ada. Misalnya, Marconi adalah orang pertama yang menciptakan radio. Oleh karena itu Marconi disebut penemu (inventor) radio. Radio kita sebut sebuah invention (penemuan) karena radio ga eksis di dunia ini sebelum diciptakan oleh Marconi. Dari sudut pandang ini, bisa dibilang Marconi adalah seorang insinyur (engineer), yang berhasil menciptakan penemuan baru (invention).

Nah kalo gitu scientist itu yang seperti apa dong?

Seseorang bisa disebut scientist ketika orang tersebut menemukan sesuatu yang sebenernya udah ada, cuman belum ada yang tau, ini lah yang disebut to discover. Misalnya, Sir Isaac Newton disebut sebagai penemu gravitasi. Kan bukan berarti si gravitasi ini baru muncul setelah Newton mencetuskan teorinya. Gravitasi udah ada sejak pertama kali alam semesta terbentuk. It has always been there. Cuman, ga ada seorang pun sebelum Newton yang ngeh bahwa dia ada. Gimana? Kebayang kan?

zpa

Nah, sekarang gue mau cerita sedikit tentang satu penemuan ilmiah (scientific discovery) yang menurut gue life-changing banget. Tokoh yang mau gua ceritain itu bisa lo liat fotonya di samping, namanya Clair Patterson. Dia adalah seorang geokimiawan yang keren banget. Kenapa? Karena Patterson adalah orang pertama yang berhasil menemukan salah satu misteri terbesar ilmu pengetahuan saat itu, yaitu mengetahui berapa usia planet bumi.

 

Emang gimana sih caranya tau berapa usia planet bumi ini? Kan gak ada yang pernah liat secara langsung

Cara dia mengukur umur bumi persis sama dengan cara mengukur umur fosil. Teknik ini namanya radiometric dating. Gua ceritain dikit yah tentang metode ini. Radiometric dating adalah metode untuk mengetahui umur suatu material alam. Teknisnya, radiometric dating dilakukan pada benda-benda radioaktif yang berubah menjadi unsur lain. Contohnya, untuk mengukur umur fosil, kita hitung kecepatan meluruh atom karbon-14. Atom ini ga stabil karena punya 6 proton, 6 elektron, dan 8 buah neutron, padahal jumlah neutron pada karbon biasa cuman 6. Akibatnya, atom ini akan berubah menjadi unsur lain untuk mencapai kestabilan. Atom C-14 adalah zat sisa metabolisme. Oleh karena itu, selama suatu organisme masih hidup, jumlah C-14 di tubuhnya akan tetap sebesar jumlah tertentu. Dengan mengetahui jumlah C-14 awal (saat organisme masih hidup), jumlah C-14 akhir (yang ada di fosil), dan laju peluruhan/perubahan atom (diketahui dari eksperimen di lab), kita bisa hitung sudah berapa lama peluruhan terjadi. Dengan kata lain, kita bisa hitung berapa tahun yang lalu organisme yang udah jadi fosil ini hidup.  Ini konsepnya analog dengan kalo lu tau jarak dua titik dan tau kecepatan bergerak, lu bakal tau berapa lama waktu yang dibutuhin untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya.

Nah, Patterson waktu itu (1940an) ngumpulin sampel meteorit tua radioaktif yang diperkirakan sudah ada sejak bumi terbentuk. Dengan metode yang sama seperti penjelasan di atas, Patterson mencoba mengukur sudah berapa lama meteorit tersebut meluruh. Dengan upaya tersebut, dia akan menjadi orang yang pertama kali mengetahui suatu rahasia terbesar yang sudah menghantui para ilmuwan sebelumnya, yaitu “Berapa lama sih usia bumi ini sebenarnya?”

Upaya dia untuk mengetahui berapa lama umur planet bumi kita yang tercinta ini sama sekali gak mudah. Dia nyoba ngukur berkali-kali, hasilnya selalu fluktuatif ga karuan, padahal metodenya udah bener. Di sini Patterson bingung dan mencoba berulang kali dengan berbagai macam cara selama 6 tahun! Sampai akhirnya Patterson berpikir, jangan-jangan laboratorium tempat dia melakukan pengukuran sebenernya tercemar timbal, makanya hasil pembacaan angka konsentrasi timbalnya ngaco. Soalnya, hasil peluruhan dari meteorit itu adalah timbal, jadi kalo ada konsentrasi timbal yang cukup tinggi di lingkungan sekitar, pastinya akan mempengaruhi hasil perhitungan di laboratorium jadi gak valid.

Nah, untuk mensiasati kondisi tersebut, Patterson sampe niat bikin laboratorium baru yang steril di Argonne National Laboratory.. dan di laboratorium itulah, detik-detik discovery dari sebuah misteri terbesar ilmu pengetahuan akhirnya terkuak. Umur dari rumah kita sendiri, planet bumi.

Berikut di bawah ini adalah cuplikan dari serial Cosmos : A Space-time Odyssey Episode 7 yang mengilustrasikan detik-detik dimana Patterson akhirnya berhasil menghitung secara akurat berapa sebenarnya umur planet bumi.

Gua saranin banget lo sempetin waktu buat nonton cuplikan di atas. Gak lama kok, udah diset supaya lo cuma nonton bagian dimana dia discover berapa umur bumi.

Nah kalo udah, sekarang lu bayangin deh gimana perasaan Patterson ketika dia nyoret-nyoret di kertas dan keluar angka ajaib ini. Gimana perasaan dia waktu dia mendapatkan kehormatan sebagai manusia pertama yang tahu bahwa bumi ini ternyata berumur 4,55 milyar tahun (dengan rentang akurasi kurang-lebih 70 juta tahun).

Ini lah, yang disebut Phil Plait (astronom), sebagai “the thrill of discovery”. Sebelum jaman Patterson, hampir semua peradaban di seluruh dunia sejak puluhan ribu tahun lalu berspekulasi tentang umur bumi dan proses penciptaannya. Mereka biasanya punya dongeng atau legenda untuk memenuhi dahaga mereka akan penjelasan terhadap misteri ini. Sekarang lu bayangin, gimana merindingnya Patterson, ketika detik-detik dia tau hasil pekerjaannya akan memecahkan salah satu misteri terbesar yang pernah ada di dunia. Getaran di dada ketika dia tahu bahwa kertas coretannya akan muncul di headline koran di seluruh dunia dan menjawab teka-teki yang selama ini bergentayangan bahkan di kepala cendekiawan-cendekiawan seluruh dunia. Ini lah reward yang didapat ilmuwan yang gak akan bisa didapat oleh profesi lain. Lu adalah orang pertama yang tahu tentang sesuatu, dan lu tahu bahwa dunia akan menyambut hasil temuan lu sebagai pengisi dahaga intelektualitas mereka. Keren abis kan??

Nah, tapi ternyata kontribusi Patterson gak cuma itu doang.  Ada hal lain yang disadari oleh Patterson lewat jerih payahnya tersebut.. Dia menyadari bahwa yang membuat penelitiannya itu terhambat sekian lama itu ternyata karena lingkungan sekitar udah terkontaminasi dengan timbal! Padahal dia sebagai scientist tuh tahu kalo timbal tuh bahaya banget buat kesehatan. Pada saat itu, timbal sering digunakan sebagai bahan campuran pada bensin untuk mencegah knocking pada mesin mobil. Jadi wajar aja, kalo ada kekuatan bisnis besar dibalik semua itu yang berkepentingan untuk tetap menggunakan timbal sebagai campuran bensin tersebut.

Masalahnya, timbal bisa mengganggu fungsi syaraf dan tubuh kita ga punya mekanisme alami untuk ngeluarinnya. Pekerja-pekerja yang bersentuhan sama timbal udah banyak yang meninggal. Cuman perusahaan-perusahaan minyak pada waktu itu menolak untuk mengakui bahwa timbal udah mengkontaminasi lingkungan dan mengancam kehidupan manusia. Mereka takut penjualan mereka turun.

Meski terus-terusan ditekan oleh perusahaan minyak, Patterson gak nyerah gitu aja. Untuk bisa support hipotesanya, dia melakukan investagasi kandungan timbal ke daerah yang paling steril dari ujung greenland sampai menggali sampel material es paling “murni” di Antartika! Bayangin seberapa besar perjuangan dan pengorbanan dia untuk pembuktian sebuah hipotesa sains..!!

Sampai akhirnya pada tahun 1965, Patterson menerbitkan karya ilmiah tentang lingkungan yang udah tercemar oleh timbal dan bahayanya bagi kesehatan. Meski terus-terusan ditekan oleh perusahaan minyak, Patterson terus aktif mengkampanyekan bahaya timbal. Sampai akhirnya 20 tahun penuh perjuangan keluar-masuk pengadilan sampai eksplorasi ke ujung dunia, akhirnya pemerintah Amerika memutuskan untuk melarang penggunaan timbal sebagai zat tambahan pada bensin. Ini lah hal keren kedua yang dilakukan oleh Patterson sebagai seorang ilmuwan: melakukan Transformasi Sosial.

Dengan penemuan ilmiah yang mereka punya, ilmuwan bisa punya dasar yang kuaaatt banget untuk memberikan masukan pada pembuat kebijakan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik. Sekarang ini ada banyak banget ilmuwan yang keliling dunia mempublikasikan karya dan pemikirannya masing-masing. Tujuannya cuman satu: agar masyarakat berubah menjadi lebih beradab.

Nah, mungkin lu masih inget ketika lo jadi orang pertama di kelas yang berhasil menjawab pertanyaan dari guru lo? Gimana perasaan lo? Ada perasaan bangga yang gak bisa dijelasin dengan kata-kata kan? Perasaan itu adalah imbalan untuk para ilmuwan yang gak bisa diukur dengan materi, uang, jabatan, kekuasaan, dan lain-lain.

Ah, tapi kalo di Indonesia sih.. emangnya berpeluang besar buat jadi ilmuwan yang bisa discover sesuatu yah?

Jangan salah guys, di Indonesia ini pun, udah banyak banget melahirkan scientist keren yang research-nya gak main-main dan udah berkelas dunia. Sebagian dari mereka bahkan udah berhasil “to discover” dan mendapatkan kehormatan sebagai seorang ilmuwan, berikut adalah beberapa ilmuwan Indonesia yang patut kita semua kagumi prestasinya:

  • Reinard Primulando, theoritical physicist yang lagi neliti tentang force misterius yang berperan besar dalam interaksinya dengan gravitasi di seluruh jagat raya serta bertanggung jawab terhadap keteraturan dari kecepatan rotasi yang (hampir) konstan dari seluruh galaksi di alam semesta.
  • Suharyo Sumowidagdo, alumnus UI yang ikut berkontribusi dalam penemuan fisika teori yang sangat fenomenal yaitu partikel Higgs Boson di Large Hadron Collider (LHC)
  • Kemudian Tri Astraatmadja, kakak angkatan senior gue di ITB yang sekarang udah S3 dan aktif research di Max-Planck-Institut für Astronomie dengan membuat Teleskop Neutrino untuk mendeteksi sinar gamma dari ruang angkasa.  Dari situ dia berupaya untuk mengetahui hukum-hukum dasar yang menggarisbawahi cara kerja alam semesta.
  • Hokky Situngkir, yang menemukan pola geometri pada batik dan anyaman di Indonesia. Dengan mengetahui polanya, kita bisa generate rumus matematikanya sehingga kita bisa modifikasi pola dalam batik dan anyaman yang lebih kompleks lagi dengan cara yang efisien.
  • Ken Soetanto, yang udah jadi profesor di Jepang dan telah berhasil discover banyak metode baru dalam dunia farmasi.
  • Johnny Setiawan yang udah discover beberapa extra solar planets.
  • Dan masih banyak lagi scientist Indonesia yang kalo gua bahas bakal kepanjangan seperti Rizal Hariadi (biophysics dan medicine), Rezy Pradipta (plasma science and fusion), Nelson Tansu (condensed matter physics), Yow Pin Lim (medicine), etc…

Berikut adalah list beberapa putra-putri bangsa Indonesia lainnya yang udah unjuk gigi dalam perkembangan ilmu pengetahuan

So, siapa bilang di Indonesia gak ada peluang buat jadi ilmuwan kelas dunia? Udah banyak kali putra-putri terbaik bangsa ini yang diem-diem udah jadi scientist keren di luar sana.. Jadi gimana, tertarik jadi discoverer?

 

“You can experience the thrill of discovery, the incredible, visceral feeling of doing something no one has ever done before, see things no one has ever seen before, know something no one has ever known before. … Welcome to science, you’re gonna like it here.” – Phil Plait

 

Keterangan Sumber : 
http://en.wikipedia.org/wiki/Clair_Cameron_Patterson
Cosmos: A Space Time Odyssey Episode 7
http://www.cosmosontv.com/watch/230227523738
http://todayinsci.com/P/Patterson_Clair/PattersonClair-Wiki.htm
 

[ CATATAN EDITOR : Buat lo yang mau sungkem, ngeceng, atau modus kakak angkatan senior lo yang satu ini, bisa tinggalin comment di bawah artikel ini, terus minta nomer hape beliau. Nah, kalo lu mau meng-upgrade pemikiran lo jadi lebih canggih lagi, coba deh follow akun twitter ilmuwan-ilmuwan itu dan coba pahami pemikiran mereka. berikut adalah beberapa referensi link twitter ilmuwan keren yang menurut gua wajib lo follow!]

1. Michio Kaku
2. Neil deGrasse Tyson
3. Brian Cox
4. Brian Greene
5. Sam Harris

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.