mm

Catatan Perjuangan Murid Zenius yang Lolos UTBK SBMPTN 2020

Kumpulan kisah dan pengalaman murid Zenius yang berjuang menghadapi UTBK SBMPTN 2020 demi berkuliah di kampus impian mereka.

Momen UTBK bisa dibilang adalah momen yang paling ditunggu oleh banyak pelajar di Indonesia. Sebagai salah satu penentu perjalanan banyak pelajar di Indonesia, momen UTBK menjadi momen yang memiliki banyak kisah di baliknya. Tak terkecuali UTBK 2020. Pelaksanaan UTBK 2020 di tengah pandemi Covid-19 yang melanda, tentunya memiliki kisahnya sendiri. Mulai dari pelaksanaanya yang diundur, dilakukan secara online, hingga mata pelajaran yang diujikan pun dikurangi menjadi TPS saja.

Sebelumnya, gue mau mengucapkan selamat buat kalian semua yang berhasil menaklukkan pertarungan sengit UTBK 2020 dan berhasil keterima di PTN impian kalian.

Nah, sebagai teman kalian dalam menghadapi UTBK selama 16 tahun, seperti biasa kali ini Tim Zenius telah menyebarkan survei untuk para pejuang UTBK 2020. Di tahun ini, kami menerima 24.800 cerita dari para pengguna kami. Dari puluhan ribu hasil survei yang masuk, susah banget rasanya memilih cerita untuk ditampilkan ke blog ini. Semua cerita perjuangan kalian keren-keren banget! Butuh waktu berhari-hari buat gue bacain satu per satu (yup, satu-satu) sebelum akhirnya gue bisa memilih cerita-cerita mana untuk ditampilkan di blog Zenius tahun ini.

Sebuah kehormatan besar bagi gue bisa membaca cerita-cerita kalian yang penuh warna, ambisi, perjuangan, dan tentunya sangat menginspirasi. Kali ini ada 11 cerita terpilih untuk ditampilkan yang tentunya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada cerita dari anak SMK yang berhasil lolos ke kampus impian walau harus resign dari tempat kerjanya demi fokus mengejar mimpi, ada cerita dari anak gap year yang belajar materi dari kelas 4 SD demi memahami materi UTBK, cerita teman kita yang setia pada mimpinya untuk jadi dosen, dan cerita-cerita inspiratif lainnya.

Kalian pasti udah gak sabar untuk bacain satu-satu kisah mereka, kan? Yuk, langsung aja kita simak!

 

Luthfiyyah Damayani  

UI

Alumni SMA Negeri 1 Sragen

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – Geografi

@Luthfiyyah_Damayani97

Zenius totally changed the way I see the world.

Video di Zenius Learning dari Bang Sabda PS keren banget. Gak pernah aku dapet motivasi se-powerful itu, haha. Tulisan-tulisan di blog Zenius juga keren-keren banget.

Jadi di Zenius itu aku kebantu banget karena gaya pembelajarannya yang asyik, pakai konsep (jadi gak takut tuh lupa rumus), dan gampang banget nyernanya.

Setiap hari menuju UTBK aku selalu mantengin Zenius App buat daily TO dan dengerin materi buat UTBK dan SIMAK UI. Apalagi waktu menjelang UTBK, dan Zenius bikin 30 DP, itu ngebantu banget sih buat deliberate practice, buat matengin konsep sebelum UTBK.

Alhamdullilah waktu ngerjain UTBK, kayak langsung dapat feel-nya gitu, karena udah berkali-kali latihan kali ya…

Alhamdullilah-nya lagi, tanggal 14 Agustus kemarin, aku officially lolos di pilihan 1 di SBMPTN, yaitu Geografi di FMIPA UI. Huaaa, mimpi anak kota kecil di Sragen buat kuliah di UI akhirnya terwujud. Oh iya, aku juga ikut SIMAK UI dan aku memilih Soshum, padahal aku anak MIPA waktu SMA. Tapi dengan bermodalkan Zenius, aku bisa babat habis tuh materi sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Kerasa banget sih, dengan belajar pake konsep, soal-soal SIMAK UI kemarin, yang literally aku cuma belajar dari Zenius, bisa aku kerjain semua.

Nah, buat kalian yang mau belajar cerdas, kritis dan efektif meskipun kalian bukan major di bidang itu, coba deh tonton video-video di aplikasi Zenius. Gitu aja sih, tapi panjang ya… hehehe.”

 

Muhammad Hidayatullah Daeng Mapato

Universitas Padjadjaran

SMA Negeri 1 Tambun Selatan

Ilmu Aktuaria

hidato_dm

“Wah, bener-bener deh… Zenius penolong gua banget. Di saat masa-masa pandemi kan bingung harus belajar sama siapa, untungnya ada Zenius yang bisa ngebantu gua buat ngadepin UTBK 2020 dengan lancar!!! Soalnya materi yang disampaikan dijelasin dengan cara yang gampang banget dimengerti. Udah gitu, yang diajarin adalah konsepnya. Jadi kita itu diajarin biar bisa paham, bukan sekedar tau aja.”

 

Maharani Rachmawati Purnomo 

ITB

SMA Negeri 1 Sukoharjo

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Ganesha

@rachmaharanii

“Aku baru mengenal Zenius di Agustus 2019, pertemuan terlambat yang cukup disesali. Zenius membuat semangat belajar aku meningkat kembali. Di kelas 11 aku pernah mendapat ranking 18, setelah jadi member Zenius langsung melesat ke peringkat 4. Belajar bisa fleksibel kapan saja, bisa diulang-ulang, dan belajar materi yang belum diajarkan guru di sekolah. Tutornya pun sangat menyenangkan. Terima kasih banyak Zen!

Waktu itu aku mencoba untuk ikut SNMPTN. Aku memilih SITH-S ITB dan Biologi IPB. Dua pilihan yang sangat “berani”. Walaupun temanku menganggap aku tidak mampu, dan guru BK pernah meminta aku untuk lebih rasional, aku tidak menggubris itu semua dan tetap bermimpi besar. Aku cukup percaya diri karena ada alumni yang diterima di jurusan yang aku pilih, dan rata-rata kami mirip.

Namun, pada akhirnya aku tidak lolos SNMPTN. Kecewa dan sedih sudah pasti, apalagi aku tidak mencoba jalur lain karena berpikiran positif akan diterima SNMPTN. Mungkin ini adalah teguran dari Allah karena aku terlalu sombong.

Akhirnya aku mendaftar di berbagai universitas yang masih membuka jalur pendaftaran. Aku mengikuti seleksi di berbagai universitas dan berhasil diterima di jalur USMI dan PSSB, keduanya merupakan jenjang diploma. Aku bersyukur, tetapi masih ada sesuatu yang bergejolak di dalam hati. 

Aku ingin mencoba UTBK.

Lagi-lagi mimpiku itu dicemooh oleh seseorang. Ia mengatakan, mana mungkin aku bisa kuliah padahal Ayahku telah purna karya muda. Kata-kata itu menjadi pelecut semangatku sampai saat ini. 

Meskipun aku belum belajar maksimal untuk UTBK, namun aku sudah rutin mengikuti berbagai try out sejak semester satu. Ternyata UTBK tahun ini hanya TPS yang diuji dan waktunya pun diundur. Aku sangat bersyukur saat itu, rasanya Allah seperti memudahkan langkahku. 

Untuk menambah semangat, aku memasang logo ITB di kamar. Setiap melihatnya aku akan mengucapkan doa dan kalimat penyemangat. Jika aku merasa malas Ganesha itu akan memelototiku seakan sedang marah. Jadwal belajarku minimal satu jam setiap selesai salat. Jadi dalam sehari, minimal aku belajar lima jam, dan minimal mengerjakan satu paket TO. Aku juga membuat jadwal harian dan target mingguan. 

Zenius benar-benar membantu. Grand TO dari Zenius juga sangat mengasah otak dan melatih mental.

Sampai akhirnya hari ujian itu tiba. Aku berusaha semaksimal mungkin mengerjakan. Aku merasa tegang dan seperti diburu waktu. Namun, aku berusaha mengerjakan semaksimal mungkin. Setelah ujian, aku merasa lemas sampai tidak nafsu makan, tapi aku memutuskan untuk mengubah semuanya menjadi hal yang positif. Aku pasrahkan pada Allah. Aku percaya Dia selalu mendengar doa-doaku. Aku membaca shalawat seribu kali per hari sambil memandang logo ITB, membaca surat Al-Waqi’ah agar diberi kelancaran rizki, juga bangun di sepertiga malam terakhir (untuk teman-teman yang muslim bisa diamalkan). 

Ada perasaan yang sangat menentramkan. Entah mengapa rasanya begitu yakin akan ada di ITB suatu hari nanti. Namun, aku tetap mendaftar jalur mandiri UGM karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Tidak ada kata gagal ya, teman-teman, yang ada hanyalah kita terus belajar. 

Saat pengumuman, aku menangis bahagia. Aku berhasil diterima di ITB. Terbayar sudah semua rasa lelah, perasaan hampir menyerah, frustasi, dan lain sebagainya. 

Untuk teman-teman semua tolong jangan dengarkan kata-kata orang yang hendak mengerdilkan mimpi kalian, fokus berjuang untuk impian itu.

You were born to win, but to be a winner you must plan to win, prepare to win, and expect to win. Dan jangan lupa untuk pray hard. Karena sekuat apapun kita berusaha, tanpa doa tidak akan jadi makna. Aku percaya ini adalah langkah awal untuk mimpi-mimpi yang lebih liar lagi. Tentunya aku masih membutuhkan Zenius untuk me-review pelajaran SMA dan menemani masa Tahap Persiapan Bersama di ITB. Terima kasih Zenius. Maaf jika tulisan ini terlampau panjang. Semoga bisa menginspirasi anak-anak negeri untuk terus menghidupkan mimpi!”

 

Jihad Azizan

Universitas Negeri Semarang

SMA Negeri 10 Tangerang

Akuntansi

@azizanjihad

“Gue anak gap year yang gagal lolos SBMPTN 2019, ditambah gue juga anak linjur. Dulu pas persiapan SBMPTN tahun 2019 sebenarnya gue udah pakai Zenius, tapi hanya untuk pelajaran tertentu saja (Ekonomi dan Sejarah). Alhasil pada saat pengumuman, skor gue kecil di bidang-bidang yang gak gue suka, kayak Matematika, dan akhirnya, gue pun gagal.

Setelah sempat bingung mau lanjut swasta atau gap year, gue pun memilih gap year setelah diskusi dengan orangtua gue. Waktu itu, Agustus 2019, gue langsung bertekad untuk belajar semua mapel yang akan diujikan di UTBK nanti, termasuk Matematika, pelajaran yang gue gak pernah suka dari SMP.

Gue masih inget banget, dulu awal mula belajar, langsung buka materi Zenius Learning. Setelah gue lahap semua materinya, lalu gue buka materi Matematika SD. Iya, SD! Lebih tepatnya kelas 4 SD. Kenapa? Jujur dulu gue ngitung pecahan aja masih bingung. Makanya, gue mulai dari situ selama 1 bulan lebih gue belajar Matematika dari kelas 4 SD sampai SMP. Setelah itu, gue coba tuh ngerjain materi-materi SMA dan hasilnya… gue BISA!

Awal-awal emang nemunya lama, sampai-sampai pernah ngerjain soal Matematika tuh gak ketemu jawabannya, tapi kepikiran terus sampai kebawa mimpi. Alhasil nemu jawabannya pas naik motor, haha. Kocak sih, lagi naik motor gue masih kepikiran sama Matematika. Setelah itu gue bener-bener candu sama Matematika, yang dulu adalah pelajaran yang paling gue hindarin. Eh, sekarang malah jadi mapel yang paling gue sukain.

Dan pada saat UTBK tahun ini, skor PK gue meningkat cukup besar. Tahun 2019 lalu hanya dapat 400-an (iya sih, dulu juga cap-cip-cup SEMUA), sekarang dapat 625.

Gitu aja sih Zen, sebenernya. Mapel lain juga kebantu banget, tapi yang bener-bener kerasa itu di Matematika.

Makasih ya Zen, telah mengubah cara pandang gue sama Matematika. Yang awalnya gue hindarin, sekarang malah jadi candu ngerjain Matematika. Walaupun terkadang masih lama nemu jawabannya, tapi justru itu yang gue suka dari Matematika. Ngajarin gue kalau belajar sesuatu tuh butuh proses, gak ada yang langsung Bisa. Maaf ya tulisannya amburadul, pengen share pengalaman menarik, tapi bingung mau ngejelasinnya dari mana, hahaha.”

 

Atirotul Jannah

UGM

SMAN 5 Bekasi

Psikologi

@atirotuljannah

“Semua orang harus banget tahu dan belajar di Zenius! Pengajarannya lengkap banget, nggak seperti di sekolah yang serba terbatas waktu dan lain hal.

Aku pertama tahu Zenius itu dari temen semejaku di kelas 10. Karena guru kelasku kalo ngajar di kelas cepet banget, aku sering ketinggalan, jadinya aku putusin daftar Zenius. Aku bukan anak yang pinter gitu, malah lebih sering lost-connection di kelas daripada nyambungnya. Aku juga hampir selalu remedial setiap ulangan harian Fisika-Kimia-Biologi. 

Sejak akhir semester 5, aku sadar nggak punya harapan buat SNMPTN (ya memang dari awal udah nggak ngarepin sih). Maka dari itu, aku jadi rajin buka aplikasi Zenius. 

Sebelum Covid-19 ini menyebar di Indonesia, aku beberapa kali seminggu rutin belajar bareng temen-temenku, terutama menggunakan Zenius. Kami saling menjelaskan ulang kalo ada yang belum paham-paham juga. Sejak ada Covid-19, aku nggak bisa belajar bareng temen lagi, tapi bukan berarti semangat aku luntur karena pengajaran di Zenius itu seru banget-banget-banget. Aku selalu targetin materi-materi yang mau aku tonton dalam waktu tertentu seperti yang disarankan Zenius. Di beberapa hari sebelum UTBK aku udah tamatin target aku sekitar 90% meskipun ada beberapa minggu yang berat karena stress akibat social distancing. Sebagian besar materi UTBK aku dapetin dari Zenius karena ya kebanyakan materi lebih mudah dipahami di Zenius. 

Intinya semua orang yang mau mempelajari pelajaran sekolah lebih detail dan lengkap, wajib daftar Zenius.”

 

Febrina Sutra Indah

Universitas Riau

SMA Negeri 2 Rantau Utara

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik – Jurusan Hubungan Internasional

@febrinasutraa

“Belajar pake Zenius tuh nancep gitu loh, beda sama baca langsung dari buku doang. Dulu waktu masih SMA sering banget kalo mau presentasi liat judul doang dari buku, abis itu gas belajar pake zenius. Auto lancar presentasi, apalagi buat anak OSIS kayak aku yg sering lewatin pelajaran demi rapat dan sebagainya.

Tanpa zenius aku tidak bisa berkata-kata saat presentasi. Pernah juga waktu ulangan, eh sering sih kayaknya, besoknya ulangan cuma kebut semalam sama Zenius. Alhamdulillah ulangan lancar padahal banyak materi ke skip karena OSIS maupun ekskul.

Kalo pengalaman belajar untuk UTB di Zenius tuh asyik banget sih. Rasanya kalo udah belajar di Zenius, pikiran auto kebuka dan nyambung, apalagi basic skills dari Bang Sabda. 

Try Out di Zenius juga banyak banget, jadi kadang kalo males belajar, kerjain Try Out terus lihat pembahasannya, udah aman lah itu, hahaha.

Dan Zenius juga yang ngenalin aku sama jurusan Hubungan Internasional lewat artikel yang dibuat Bang Rifad. Jadi bisa dibilang Zenius teman setia perjalananku sampai lulus di Universitas. Makasih banyak pokoknya Zenius! Semua tutor dan semua Tim Zenius, kalian manusia panutankuu! Love you so much Zenius! Semoga makin keren kedepannya, dan makin banyak menghasilkan anak-anak cerdas dan keren yang bakalan sukses dimasa depan Aamiin.”

 

Amanda Pricilla Santoso

Universitas Airlangga

SMA Negeri 13 Jakarta

Kedokteran

@amandaprcl_

“Awalnya aku berlangganan Zenius di pertengahan kelas 11, dan kaget ternyata perubahannya signifikan banget! Tadinya aku medioker, nilai ulangan yang kudapat itu maksimal 7, seperti rata-rata di kelas. Setelah pakai Zenius, nilaiku jadi naik di atas rata-rata kelas, terutama Matematika, yang jadi tidak pernah di bawah 90.

Setelah itu aku memutuskan untuk mempersiapkan UTBK dengan Zenius. Di kelas 12, aku duduk di paling belakang, jadi kalau ada kesempatan, aku selalu buka Zenius. Lumayan monoton sih, kegiatanku di kelas 12. Tapi Zenius sangat berkontribusi dalam perjuanganku belajar UTBK. Walaupun pada akhirnya UTBK 2020 ini hanya TPS, aku yakin ilmu TPA yang aku pelajari tetap akan berguna. Terima kasih banyak, Zenius!”

 

Zahra Afriani

Universitas Padjajaran

SMK Analis Kimia Bogor

Kimia

raaa.afr

“Hai Zenius! Alhamdulillah aku lolos UTBK di Universitas Padjajaran, Prodi kimia, hehehe. 

Btw, aku juga mau ngucapin banyak-banyak terima kasihhhhhh, percaya deh aku UTBK cuma ngandelin Zenius. Latihan soal pun cuma dari Zenius.

Aku anak gapyear. Dulu, aku enggak punya pikiran buat kuliah di PTN, karena lulus SMK aku emang udah kerja. Dan emang kebanyakan dari lulusan di SMK aku itu langsung kerja. Kalau Zenius tau, aku itu lulusan dari salah satu SMK Analis Kimia di bawah Kemenperin di Bogor, SMAKBO. Jadi begitu aku lulus, aku kerja. Bahkan sebelum wisuda udah kerja.

Dulu pemikiranku, aku pengen kuliah sambil kerja. Jadi ya, ngambil PTS.

Jadi, dari tahun lalu enggak ada sama sekali persiapan buat UTBK. Tapi dari dulu aku enggak pernah punya pikiran untuk stuck disitu dan enggak ngelanjutin pendidikan sama sekali. Kerja bikin pemikiranku berubah. Aku enggak percaya diri untuk bisa kuliah sambil kerja. Di samping aku kerja di pabrik, aku ngerasa kalau kuliah sambil kerja, aku akan punya tanggung jawab yang besar banget ke perusahaan, ke orangtua, ke universitas, juga ke diri sendiri.

Setelah berkecimpung dengan pemikiran sendiri, akhirnya aku membulatkan tekad untuk gapyear dan ambil PTN, walaupun kebanyakan keluarga besarku menentang hal itu, hehe.

Dari situ, mulailah aku cari platform online untuk belajar. Setelah membaca review dan minta saran ke teman-teman, akhirnya aku memutuskan pakai Zenius. Aku sama sekali enggak les offline, karena terkendala jadwal kerja.

Aku mulai belajar materi TPA dari Zenius itu sekitar bulan Oktober. Awalnya aku belajar biologi, soalnya selama SMK aku belajar biologi cuma di kelas 10, dan ternyata, biologi tuh semenyenangkan itu!

Sekitar 3-4 bulan aku belajar, aku ngerasa progress aku kecil. Ya memang itu karena aku enggak disiplin sama jadwal yang aku buat. Aku cuma bisa belajar kalau pulang shift pagi, atau sebelum berangkat shift 2, itu pun cuma sebentar karena aku susah fokus. Hari Minggu pun aku banyak tidurnya, hehe. Entah karena badanku sudah terlalu capek, atau gimana. Mau belajar lama juga jadinya enggak masuk. Dari situ aku berpikir, aku enggak akan bisa masuk PTN kalau kayak gini.

Setelah melewati perdebatan dengan diri sendiri, diskusi bareng orangtua dan atasanku, dan berbagai drama selama sekitar 2 bulan, akhirnya aku putuskan untuk resign pada April 2020. Setelah resign, barulah aku benar-benar mulai fokus belajar. Aku mulai print hampir semua latihan soal TPS di Zenius, ngabisin materi TPS, ikut TO, pokoknya aku mulai “ngambis” deh!

Kurang lebih 3 bulan aku belajar dengan sumber dari Zenius dan beberapa thread di Twitter.

6 Juli 2020 aku UTBK, hari kedua. Alhamdullilah aku bisa mengerjakan UTBK dengan lancar. Mendekati pengumuman UTBK, aku sempet gak percaya diri, soalnya banyak bacain cerita orang yang “ngambis” UTBK lebih lama dari aku. Aku enggak les offline pula, kayak yang lain. Nilai TO aku juga jauh dari mereka. Tapi aku akhirnya berserah diri, dan mulai belajar buat SIMAK UI, lagi-lagi, cuma pakai Zenius, hehe. Waktu pengumuman UTBK, aku enggak punya ekspektasi tinggi, tapi hasilnya… tadaaaa, aku lolos! Hanya dengan belajar 3 bulan bareng Zenius! So, I’m really thankful of you. One of my dreams come true because of you, Zenius!”

 

Bayu Saputra 

Universitas Brawijaya

SMA Negeri 93 Jakarta

Teknologi Industri Pertanian

bay.usptr

“Sudah lebih dari 3 tahun saya memakai Zenius. Dua tahun lalu, waktu saya kelas 12, saya mulai aktif memakai Zenius. Saya mantapkan matematika dasar dan IPA, lalu MIPA. Visual yang diberikan cocok, simple dan mudah dimengerti untuk saya. Tetapi pada 2019, saya tidak diterima di SNMPTN dan SBMPTN, juga Ujian Mandiri.

Di awal September, dengan segala resiko sosial, saya memutuskan untuk gap year. Pada saat itu saya terpuruk dan hampir setiap hari mendapat komentar-komentar tidak menyenangkan dan lumayan menyerang mental saya. Tetapi dengan membaca Blog Zenius tentang gap year, menonton dan memahami video tentang gap year yang dijelaskan Bang Sabda, saya menjadi optimis kembali untuk berjuang di UTBK 2020.

Saya mulai memantapkan materi dengan menonton, memahami, mencatat, dan mengerjakan soal-soal di Zenius. Uniknya, selama gap year, saya belajar UTBK di warkop, karena jika di rumah, suasananya ngantuk dan malas saja, hehe.

Selama di warkop, orang-orang mungkin agak aneh melihat saya, terutama penjaga warkopnya. Karena hampir enam kali seminggu saya belajar disana, pakai headset, handphone dan biner.

Hingga 10 Juli 2020, saya UTBK. Beberapa jam sebelum tes dimulai, saya mendengarkan Mozart untuk membantu menenangkan pikiran saya. Alhamdulillah pada 14 agustus 2020, saya diterima di Universitas Brawijaya – Teknologi Industri Pertanian. Itu sedikit cerita perjuangan SBMPTN dari saya, semoga teman-teman bisa belajar darinya dan ingat, keputusan gap year itu harus sangat-sangat dipertanggungjawabkan, jangan asal gap year tanpa menrencanakan kedepan dan memikirkan resiko-resikonya. Okaayyyy!!!”

 

Fathiya Ni’matul ‘Aisy

Universitas Airlangga

PP TMI AL AMIEN PRENDUAN

Ekonomi Islam

@fatyfathiya

“Sebagai lulusan pondok pesantren, saya sangat sadar bahwa materi yang saya pelajari tertinggal jauh dengan anak-anak SMA. Jadi mau tidak mau, saya harus belajar dari nol lagi. Saat bertanya pada teman saya, dia menyarankan saya memakai aplikasi Zenius. Akhirnya saya mencoba memakai aplikasi Zenius untuk mempersiapkan UTBK. Saya merasa sangat nyaman dan cocok belajar dengan Zenius untuk persiapan UTBK. Ada paket khusus UTBK, dan belajar live setiap hari dengan kakak tutor yang enggak pelit menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Konsep pengajarannya juga simpel sehingga saya cepat paham dan gampang ingat.

Zenius juga memakai metode pembelajaran yang sangat bagus menurut saya. Selain cara mengajar yang enak banget, ada juga soal latihan dan pembahasannya, sampai nilai-nilainya juga ada. Jadi seru deh, hehe. Saya sering bertukar nilai dengan teman, kemudian saling tanya mana yang belum dipahami. Intinya, saya sangat berterima kasih pada Zenius. tanpa aplikasi belajar berkualitas seperti ini, saya tidak bisa masuk PTN impian saya. Dari kakak-kakak kelas di pondok dulu, saya belum pernah mendengar ada yang lolos UTBK di UNAIR. Saya sangat senang sekali. Sungguh saya sangat berterima kasih pada Zenius. Semoga tetap berkembang selalu. Beribu terima kasih saya haturkan.”

 

Hanif Amin

UI

SMAN 5 Mataram

Ilmu Politik

@gondolasoy

“Saya mulai pakai Zenius waktu awal kelas 12. Waktu itu saya sudah punya tujuan jelas untuk masuk ke Ilmu Politik UI, tinggal belajarnya. Nah, karena lintas jurusan dan banyak materi yang mesti dipelajari, saya jadi nyari platform belajar yang punya semua materi UTBK dan disusun dengan rapi. Platform satu-satunya yang kepikiran waktu itu ya, Zenius. Soalnya dari SMP sudah beberapa kali juga bacain blognya yang keren-keren, terus juga suka dengerin podcastnya Bang Sabda PS sama Cania, dan ngulik twitternya. Jadilah saya merasa, Zenius kayaknya platform keren, karena foundernya juga keren, hahaha.

Selama satu tahun saya belajar rutin pakai Zenius, dan… keterima, deh.

Tapi mungkin yang jauh lebih penting dari sekedar UTBK adalah, Zenius bisa memberi saya inspirasi untuk ngulik-ngulik banyak hal. Dari SMP, misalnya, kalo gak salah saya pertama kali bca Madilog-nya Tan Malaka gara-gara rekomendasi blog Zenius. Buku itu sangat mempengaruhi saya, sang bocah SMP ingusan. Gara-gara blog Zenius, saya juga secara tidak langsung mulai tertarik untuk ngulik filsafat dan sains. Dan itu semua makin bertambah waktu nontonin beberapa video di Zenius waktu belajar UTBK. Videonya Bang Sabda di awal-awal yang nerangin seluk beluk UTBK, pikiran manusia, dan lain-lain, sangat memotivasi saya buat belajar lebih lanjut soal apa saja.

Mungkin itu sih yang paling berkesan dari Zenius. Saya jadi bisa menggali dan menemukan hal-hal yang lebih berharga dari sekedar kuliah atau lolos UTBK (walaupun kalo gagal akan tetep nangis, sih). Zenius secara tidak langsung semacam kasih saya bahan bakar untuk belajar lebih jauh soal apapun, soal dunia. Untuk kasih tahu metode berpikir yang reliable. Zenius juga memperkenalkan saya sama orang-orang keren yang layak diidolakan dan diikuti sosmednya seperti Sabda PS dan Pras. Mudah-mudahan bahan bakar ini bisa terus ada di dalam diri saya sampai mati. Terima kasih, zenius.”

Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Download Zenius App di sini