Proses Panjang Menjadi Chef

Artikel ini berbicara mengenai bagaimana proses yang ditempuh seseorang untuk dapat menjadi seorang chef.

Pernah nonton Gordon Ramsey yang sedang memasak dan berpikir “Sepertinya menjadi chef adalah hal yang sangat menarik”? Jika kamu pernah berpikir seperti itu, kamu tidaklah sendirian. Ada banyak orang yang berpemikiran sama sepertimu tetapi bukan aku. Hehe. Tidak berpikiran untuk jadi chef bukan alasan bagiku untuk tidak penasaran untuk tahu cara jadi chef. Aku pun merasa sangat penasaran tentang cara jadi chef. Apakah ada jurusan khusus yang bisa ditempuh atau langsung kerja di restoran saja atau malah harus bikin restoran sendiri? 

Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku menemukan beberapa fakta tentang cara menjadi koki. Ternyata untuk jadi koki dibutuhkan usaha yang tidak bisa dibilang mudah. Ada serangkaian proses yang harus dijalani. Proses yang dialami setiap chef tentunya berbeda-beda. Namun secara garis besar, aku menyimpulkan bahwa ada 3 tahap yang bisa ditempuh. 

Kenalan sama dunia masak memasak dulu 

Tak kenal maka tak sayang. Maka berkenalanlah terlebih dahulu supaya kamu jadi sayang. Kira-kira begitu deh intronya. Mengucapkan kalimat “aku ingin menjadi chef” memang mudah tetapi alangkah lebih baiknya jika kalimat tersebut tak sekadar menjadi pemanis mulut. Akan lebih bagus dan keren jika kamu berusaha mewujudkannya dari langkah paling kecil sekalipun. Cobalah untuk mengenal makanan lebih dekat lagi. Pergilah ke dapur dan berkenalanlah dengan segala macam alat masak yang ada. Cobalah untuk akrab dengan semua jenis bumbu-bumbuan. Dan jangan takut untuk mencoba bereksperimen dalam membuat menu-menu unik.

Jika kamu sudah yakin bahwa keinginanmu menjadi chef bukanlah sekadar keinginan sekilas saja, kamu perlu mempertimbangkan untuk mengambil langkah selanjutnya. 

Tempuh pendidikan formal

Walau sebenarnya tidak diperlukan gelar khusus untuk menentukan apakah orang dapat menjadi chef, menempuh pendidikan formal tetaplah menjadi satu hal yang harus dipertimbangkan. Menempuh pendidikan formal seperti jurusan tata boga dapat memberimu bekal. Jurusan tata boga misalnya, jurusan ini tak sekadar mengajarkan tentang masakan tetapi juga mengenai manajemen dapur sampai katering. Menu-menu masakan yang diajarkan di jurusan ini juga sangat beragam dan dapat memperkaya pengetahuanmu soal makanan dan hal-hal di sekitar makanan. 

Di samping itu, menempuh pendidikan formal dapat membuatmu bertemu dengan orang-orang yang siapa tahu akan sangat membantu karir memasakmu. Let’s say ternyata ada teman sekolahmu yang memiliki minat sepertimu. Selain itu, ada banyak kegiatan mahasiswa yang bisa membantumu mengasah kemampuan seperti mengikuti kompetisi misalnya. Belum lagi dengan adanya konferensi dan berbagai bentuk organisasi yang dapat kamu manfaatkan sebaik-baiknya untuk berjejaring. Well, menempuh pendidikan formal yang berhubungan dengan dunia memasak akan sangat membantumu dalam mewujudkan impian. 

Pertanyaannya, apakah sebaiknya kuliah tata boga di dalam negeri atau di luar negeri? Aku pikir ini dikembalikan ke masing-masing individu saja. Kalau memang memiliki kesempatan untuk belajar di luar negeri terutama di negara dengan restoran terkenal semacam Prancis, tentu kesempatan tersebut jangan sampai terlewatkan. Tetapi kalau tidak bisa keluar negeri karena berbagai alasan, santai saja. Belajar tidak mengenal tempat kok. Belajar bisa di mana aja kayak belajar bareng Zenius gitu deh. 

Nah, di Indonesia ada banyak sih sebenarnya tempat belajar tata boga secara formal mulai dari jenjang SMK malah. Kalau untuk S1 sendiri kamu bisa belajar tata boga di beberapa kampus seperti UNJ, UNY, UNESA, dan kampur-kampus lainnya.

Saatnya memulai

Perjuangan tampaknya belum akan berakhir dalam waktu singkat. Setelah belajar secara formal, saatnya untuk menerapkan apa yang selama ini telah dipelajari. Saatnya untuk terjun langsung ke lapangan eh ke dapur. Saatnya untuk menendang jauh-jauh gengsimu. But why? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena kamu tidak akan seketika itu juga menjadi chef. Ada tahapan panjang yang perlu kamu lalui. Bahkan bisa jadi kamu memulai karir chefmu dari posisi yang sangat tidak kamu bayangkan seperti pencuci alat masak. Iya, ga salah. Beberapa chef besar memulai karirnya dari posisi ini. Tetapi ada juga yang memulai karirnya dari posisi yang lebih tinggi seperti commis chef. Ada banyak hal yang menentukan hal tersebut seperti seberapa besar restoran tempat kamu bekerja, seberapa banyak pegawai di sana, dan banyak faktor lainnya. 

Biar kamu ada bayangan kayak gimana sih jenjang karir sampai seseorang akhirnya bisa menjadi chef itu gimana, aku akan jelasin deh hierarki yang ada di suatu dapur. Simak baik-baik, yak. 

Executive Chef

Tidak setiap restoran memiliki posisi ini. Biasanya hanya restoran-restoran besar. Menariknya, meski gelarnya mengandung nama chef, peran yang dilakoninya malah jauh dari memasak. Chef eksekutif biasanya lebih berperan di ranah manajerial termasuk mengurusi berbagai cabang yang dimiliki restorannya. 

Chef de Cuisine 

Bisa juga disebut sebagai chef kepala. Chef kepala lah yang bertanggungjawab terhadap segala hal yang terjadi di dapur mulai dari mengurus koki-koki di bawahnya, menentukan resep, dan banyak lainnya. Kalau ngomongin Chef de Cuisine yang terkenal ya kita bisa sebut deh nama-nama macam Gordon Ramsey dan Vindex Tengker.

Panggilan chef dipakai untuk memanggil chef kepala. Panggilan yang sakral sebenarnya dan tidak semua orang dapat menyandang nama panggilan chef. Di Indonesia sendiri, para chef terdaftar dalam sebuah organisasi bernama Indonesian Chef Association (ICA). Posisi sakral seorang chef ditandai dengan salah satunya melalui topi yang dikenakannya. Kalau kalian mau perhatikan, ada 100 lipatan pada topi tersebut. Kenapa 100? Jawabannya adalah angka 100 melambangkan bahwa chef telah menguasai 100 menu masakan dengan bahan dasar telur. Keren, bukan? Iya dong, makanya perjalanannya panjang. 

Sous Chef

Dikenal juga dengan sebutan second chef. Sous chef adalah tangan kanan chef kepala. Jika chef kepala dipanggil dengan sebutan chef, sous chef dipanggil langsung dengan namanya saja. Dapur-dapur kecil biasanya tidak mempunyai sous chef sedangkan dapur-dapur besar bias memiliki sous chef lebih dari satu. 

Chef de Partie

Nah posisi ini adalah posisi yang spesifik. Biasanya dalam satu dapur akan ada banyak chef de partie. Mereka memegang peranan yang berbeda-beda. Ada chef de partie yang spesifik mengurus saus, daging, ikan, dan bidang-bidang memasak lainnya. Jenis-jenis chef de partie beberapanya adalah sebagai berikut: 

  • Butcher chef, fokus untuk mengurus daging dan terkadang juga ikan. 
  • Fish chef, fokus menangani ikan dan aneka hidangan laut.
  • Fry chef, menangani goreng menggoreng. 
  • Grill chef, orang yang bertanggungjawab dalam panggang memanggang. 
  • Pantry chef, bertanggungjawab terhadap makanan-makanan dingin yang biasanya ada di pantri. 
  • Pastry chef, mengurusi makanan yang berkaitan dengan pastri (kue-kuean).
  • Roast chef, mengurus panggang memanggang. 
  • Roundsman, tidak memiliki tugas spesifik dan biasanya berganti-ganti peran untuk membantu tugas chef de partie lain. 
  • Vegetable chef, bertugas untuk mempersiapkan sayur-sayuran dan bahan makanan lain seperti telur. 

Commis Chef

Posisi commis chef biasanya dapat kamu tempati selepas kamu lulus dari pendidikanmu. Commis chef bertugas membantu peran chef de partie sambil belajar. Karena masih belajar, biasanya commis chef membawa buku catatan untuk menulis resep-resep dan pelajaran yang ia temui selama bertugas. 

Kitchenhand

Di balik namanya yang keren ini, kitchenhand memiliki peran yang tak kalah penting. Ia bertugas untuk mengupas bahan makanan seperti kentang dan juga mencucinya. 

Escuelerie

Tidak akan ada masak-memasak jika alat masak yang ingin digunakan berada dalam keadaan kotor. Di sinilah peran seorang escuelerie menjadi amat vital. Ia bertanggungjawab untuk membersihkan peralatan memasak. 

Sumber:
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Sumber 4


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Download Zenius App di sini