Amerika Serikat, Pertapa yang Jadi Polisi Dunia (Bagian 2)

Dalam tulisan edisi sebelumnya, dijelaskan bagaimana posisi Amerika Serikat dalam perpolitikan internasional yang terkesan pasif. Di saat beberapa negara masih berupaya memperluas hegemoninya. Namun, semua itu akhirnya berubah saat peradaban memasuki abad ke-20. Mau tahu ceritanya? Simak artikel dari Marcel berikut ini.

. . . Tanggal 13 Agustus 1898, perang sudah selesai. Spanyol menyerah kalah. Amerika Serikat merebut Kuba, Filipina, dan jajahan-jajahan Spanyol lainnya. Dari perang inilah Amerika Serikat mendapatkan jajahan di daerah Asia Pasifik: Filipina dan Guam.

Perang Dunia Pertama

Tak sampai 20 tahun setelah perang melawan Spanyol, akhirnya Amerika terlibat perang lainnya dengan kekuatan Eropa. Namun, kali ini perang terjadi bukan di benua Amerika, tetapi di benua Eropa. Kita mengenal perang ini saat itu dengan nama “The Great War”. Namun, belakangan perang tersebut lebih dikenal dengan nama “Perang Dunia Pertama”. Apakah ini artinya Amerika Serikat akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Doktrin Monroe?

Tidak sesederhana itu. Publik Amerika Serikat terbelah. Rakyat Amerika yang keturunan Inggris amat ingin Amerika bergabung membantu Inggris dan Perancis. Sebaliknya, rakyat yang keturunan Jerman, Skandinavia, dan Irlandia cenderung ingin Amerika Serikat tetap netral, tidak mencampuri perpolitikan di “Dunia Lama” yang sudah dari dulu memiliki tradisi berperang habis-habisan. Bilyuner Henry Ford misalnya, rela mengeluarkan uang secara jor-joran untuk mendukung gerakan anti perang. 

Kontroversi ini mulai surut saat Jerman berusaha mendapatkan dukungan Mexico. Menlu Jerman menjanjikan Mexico wilayah lamanya: Texas, New Mexico, dan Arizona seandainya Mexico berkenan membantu Jerman. Blunder besar ini tentu saja membuat publik Amerika Serikat yang masih ragu menjadi anti Jerman. Sebelumnya, kapal selam Jerman mengkaramkan kapal RMS Lusitania milik Inggris yang membawa 128 warga negara Amerika Serikat. Selain itu, mata-mata Jerman juga menyabot amunisi yg hendak dijual pabrik Amerika Serikat kepada Inggris.

Selain itu, presiden Woodrow Wilson juga berambisi mendirikan Liga Bangsa-Bangsa. Netralitas Amerika Serikat takkan membuat negara-negara lain mendukung impian dia ini. Akhirnya, 6 April 1917, Amerika Serikat menyatakan perang melawan Jerman, dan mengirim ratusan ribu tentara ke tanah Eropa.

Partisipasi Amerika Serikat ini menurut sejarawan Samuel Eliot Morison “Singkat tapi padat, dan sementara”. Kurang dari dua tahun sejak Amerika Serikat bergabung, Perang Dunia Pertama berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Tentara Amerika Serikat, setelah Perang Dunia Pertama selesai, langsung meninggalkan Eropa. Tidak ada niat untuk berlama-lama mencampuri urusan politiknya “Dunia Lama” yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya orang-orang Amerika.

Perang Dunia Pertama yang begitu hebat, begitu mengerikan, diharapkan menjadi perang besar terakhir yang dialami benua Eropa. Di tahun 1918, cuma beberapa orang, (Misalnya ahli ekonomi Inggris bernama John Maynard Keynes) yang sadar perang dunia pertama ini “Cuma pemanasan” untuk perang yang lebih dahsyat lagi. Pemerintah dan rakyat Amerika Serikat termasuk pihak yang tidak sadar.

Sebelum Perang Dunia Kedua

Selesai perang dunia pertama, ketidakpuasan muncul. Gue udah tulis bagaimana Jerman dan Jepang tidak puas dengan hasil Perang Dunia Pertama. Liga Bangsa-Bangsa juga gagal meredakan semua ketidakpuasan tersebut. Namun, publik Amerika Serikat tidak menginginkan perang lagi.

Ketika situasi di Eropa dan Asia memanas, rakyat Amerika Serikat sendiri cenderung menginginkan netralitas. Perang Dunia Pertama masih segar di ingatan mereka. Masih segar dalam ingatan mereka kematian, kehancuran, dan penderitaan akibat perang yang membuat nenek moyang mereka meninggalkan Eropa dan pindah ke Amerika. Rakyat Amerika waktu itu tahu betul, perang baru akan berarti wajib militer. Putra-putra serta suami-suami mereka akan dikirim ke medan perang. Semua itu untuk apa? Untuk membela ‘dunia lama’ yang sudah mereka pertahankan? Untuk mempertahankan jajahan-jajahan negeri-negeri Eropa itu di Asia? Ngapain Amerika Serikat ngabis-ngabisin uang, tenaga, bahkan nyawa buat melakukan itu semua? Karena itu, di tahun 1930an sampai 1940, sentimen anti perang di Amerika Serikat sangatlah kuat. 

Namun, di sisi lain, Hitler semakin menjadi-jadi di Eropa. Setelah menduduki Polandia, Hitler menaklukkan Norwegia dan Denmark, lalu secara spektakuler menghabisi Perancis. Semuanya dia lakukan kurang dari 2 tahun. Di Asia, berita tentang kekejian tentara Jepang di Tiongkok juga sudah sampai ke telinga publik Amerika Serikat. Tentara Jepang tak segan-segan memperkosa wanita dan membantai anak-anak di kota-kota yang mereka taklukkan. Seruan agar Amerika Serikat bergerak untuk membantu Eropa dan Tiongkok juga muncul.

Biarpun demikian, gerakan anti perang masih amat kuat. Menanggapi seruan agar Amerika Serikat berperang, dibentuklah “America First Committee”. Komite anti perang ini didukung oleh selebritis dan khalayak umum. Pertemuan-pertemuan mereka selalu ramai dipenuhi publik yang antusias menentang perang. Tak heran, pada pemilihan presiden tahun 1940, presiden Roosevelt yang sudah menjabat 2 periode, berjanji “Saya takkan mengirim anak-anak bapak ibu ke medan perang!” sebagai bagian kampanyenya.

Sentimen anti perang dan America First Committee berakhir saat Jepang membom Pearl Harbor pada tanggal 7 Agustus 1941 (8 Agustus menurut kalender Indonesia/Jepang). Perdamaian yang begitu didambakan kini harus dicapai dengan harga yang terlalu mahal. Rakyat Amerika Serikat menolak harga tersebut dan presiden Roosevelt pun menyatakan perang melawan Jepang. 

Perang Dunia Kedua

Kalau partisipasi Amerika Serikat di Perang Dunia Pertama itu “Singkat tapi padat, dan sementara”, di Perang Dunia Kedua, partisipasi Amerika itu “Lama, padat, dan permanen”. Baik di Eropa maupun Pasifik, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat secara aktif dalam jangka waktu lama berpartisipasi mengalahkan Jerman maupun Jepang. Seluruh industri Amerika Serikat dikerahkan untuk memenangkan perang ini. Amerika kini seperti pertapa yang baru turun gunung dan mengerahkan 1001 ilmu pertapaannya untuk menaklukkan dunia! Di artikel sebelumnya, gue udah tulis bagaimana kapasitas industri Amerika ini JAUH melebihi kapasitas industri Jepang tapi biar gue tegaskan: kapasitas industri Amerika Serikat itu masih LEBIH BESAR lagi.

Di saat yang sama, industri Amerika memproduksi kapal-kapal perang untuk melawan Jepang, mereka juga menghasilkan ribuan tank, truk, meriam, pesawat, dll untuk melawan Jerman. Di saat yang sama juga, ribuan uang dikucurkan, ratusan ilmuwan dan insinyur dimobilisasi untuk menciptakan bom atom pertama di dunia. Orang bilang Jerman kalah karena menghadapi perang 2 front: Di Barat melawan Amerika & Inggris, di Timur melawan Uni Soviet. Ironisnya, jarang orang-orang menunjuk fakta bahwa Amerika Serikat menghadapi perang 3 front: Di Eropa melawan Jerman dan Italia, di Pasifik melawan Jepang, dan di dunia ilmu pengetahuan untuk menciptakan bom atom pertama. Hebatnya, Amerika Serikat memenangkan ketiganya.

Epilog: Amerika sebagai Polisi Dunia

Nah, baru setelah memenangkan Perang Dunia Kedua inilah sentimen publik dan politikus Amerika Serikat tentang campur tangan mereka di dunia luar benua Amerika berubah.

Kemenangan melawan Fasisme Eropa dan Militerisme Jepang tidak hanya berarti kemenangan Amerika saja, sebab Uni Soviet yang Komunis juga turut memenangkan perang ini. Presiden Truman dan rakyat Amerika kini tersadar, mereka tak bisa lagi berdiam diri, menutup diri terhadap perkembangan politik di Eropa dan Asia. Karena Amerika Serikat adalah negara terkaya di dunia, dengan militer terkuat di dunia, maka merekalah yang harus memimpin negara-negara Eropa, yang masih porak-poranda akibat PD II, untuk menghadapi ancaman terbaru, yaitu Uni Soviet dengan paham Komunismenya. Amerika Serikat buru-buru meminjamkan uang agar negara-negara Eropa bisa memperbaiki infrastruktur dan ekonominya, sebab negeri yang miskin adalah negeri yang amat mungkin dipengaruhi paham Komunis. Amerika Serikat juga memprakarsai berdirinya NATO, organisasi kerja sama militer untuk menghadapi ancaman militer Uni Soviet.

“America in 1939 – 1941 wanted neither world power nor world responsibility, only to be let alone; but world power and world responsibility were forced upon her by the two nations, Germany and Japan, that badly wanted both.”

— Samuel Eliot Morison, The Two-Ocean War:, halaman 45.

Ketika ekonomi negara-negara Komunis akhirnya ambruk di tahun 1990an, dominasi Amerika atas dunia artinya tak terbantahkan. Sampai saat ini, masih banyak negara bergantung secara militer kepada Amerika Serikat. Jepang dan Jerman misalnya. Setelah PD II, sebagai pihak yang kalah, militer mereka praktis “Dikebiri” dan pertahanan negara mereka saat ini didominasi oleh militer Amerika Serikat. Namun, bukan cuma pihak yang kalah. Perancis, Italia, Norwegia, dan banyak negara lainnya yang menjadi pemenang Perang Dunia Kedua juga pertahanan militer negaranya tergantung pada militer Amerika Serikat, karena mereka menolak menghabiskan anggaran negara mereka untuk melengkapi militer mereka. Gak heran Amerika disebut sebagai “Polisi Dunia” sebab militer merekalah yang diandalkan BANYAK negara!

Nah, ini yang jarang disorot. Media sering menyorot “Ketidaksukaan banyak negara” pada status polisi dunia ini, tanpa menyoroti sebabnya. 

“Action speak louder than words” di mulut mereka mencerca Amerika Serikat terlalu mendominasi, terlalu sok sebagai polisi dunia, tapi kenyataannya, mereka semua ogah meningkatkan anggaran militer mereka. 

“Kami kan cinta damai” 

“Ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah selain dengan perang!”

“Anggaran inikan lebih berguna untuk bidang lain!”

Adalah alasan-alasan yang dikeluarkan ketika negara-negara ini ditanya perihal rendahnya anggaran militer mereka. Artinya, para pencerca ini sebetulnya sedang memanfaatkan kekuatan militer Amerika Serikat! Sudah memanfaatkan, masih protes pula! 

Gue harap dengan tulisan gue ini, kita semua jadi lebih bijak memandang politik luar negeri. Bukan cuma politik Amerika Serikat, tapi politik luar negeri dan kebijakan militer secara lebih umum.

DISCLAIMER:

Artikel di atas adalah ringkasan sejarah politik luar negeri Amerika Serikat sejak 1776 sampai hari ini. Pembaca harap maklum kalau banyak hal terlewatkan.

Sumber:
How America Became A Superpower, Explained in 8 Minutes
https://www.vox.com/2016/11/28/13708364/america-superpower-expansion-colony 

Wikipedia
https://en.wikipedia.org/wiki/Monroe_Doctrine
https://en.wikipedia.org/wiki/Manifest_destiny
https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish–American_War
https://en.wikipedia.org/wiki/United_States_in_World_War_I

Samuel P. Huntington: Who Are We? America’s Great Debate
Samuel Elliot Morrison: The Two Ocean War

Sumber Peta & Foto:
Wikimedia Commons:
https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Guadalupe_Hidalgo#/media/File:Mexican_Cession_in_Mexican_View.PNG

Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Download Zenius App di sini