Amerika Serikat, Pertapa yang Jadi Polisi Dunia (Bagian 1)

Sebagai negara adidaya yang kini dikenal sebagai ‘Polisi Dunia’, tentulah Amerika Serikat telah mengalami perjalanan panjang sebelum akhirnya meraih predikat tersebut. Siapa sangka, justru Amerika Serikat sebelumnya adalah negara yang mengisolasikan dirinya dari pergaulan internasioanl.

Haloo, sobat Zenius, ketemu lagi sama gue, Marcel di Zenius Blog. Setelah banyak bicara soal sejarah Perang Dunia, Jerman, Jepang, Tiongkok, dan Rusia, sekarang gue mau ngomong soal sejarah negara Uwak Sam atau Amerika Serikat. Iya, gue sengaja sebut “Uwak Sam” supaya singkatannya jadi US juga kayak bahasa Inggrisnya! Persisnya gue mau omongin sejarahnya sebagai “Sebuah negara pertapa.”

Loh kok “Pertapa”? Pertapa itukan orang yang menyepi lalu bertapa di gua atau hutan? Uwak Sam ini kan negara yang KATANYA itu kepo, tukang urusin negara-negara lain, kapal-kapal induknya gentayangan di seluruh pelosok lautan, sampai-sampai disindir “Itu sih negara polisi dunia!” Kalo di kalangan ahli-ahli politik dan Hubungan Internasional, ada istilah Pax Americana, yaitu “Kedamaian (ala) Amerika” yaitu hubungan dunia saat ini tidak dilanda perang besar dikarenakan kekuatan politik, militer, dan ekonominya si Uwak Sam ini! Apa pertapanya?

Eits, itu kan di masa kini! Kalo di masa lalu, gak kayak begitu! Nah, gimana ceritanya sih si Uwak ini bisa berubah drastis begini? 

Pembukaan: Amerika Serikat sebagai Negara Pemukim

Salah satu cliche adalah kata-kata “Amerika itu adalah negara imigran”. Masalahnya, ini cuma benar separuh. Betul, rakyat Amerika banyak yang imigran, banyak yang keturunan imigran, tapi itu belum semuanya. Lebih tepat disebut Amerika Serikat itu adalah negara imigran DAN pemukim. Loh, apa bedanya?

Begini, imigran itu adalah orang yang pindah dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya di tempat lain. Pemukim adalah masyarakat yang keluar dari sebuah masyarakat untuk mendirikan masyarakat baru di tempat baru.

Imigran beradaptasi dengan (budayanya) masyarakat baru. Atau mencoba mengubah masyarakat baru agar lebih cocok dengan budaya mereka. Pemukim MENCIPTAKAN masyarakat baru dengan budaya ideal mereka.

Para pendatang pertama di negeri Amerika adalah pemukim, sebab mereka tak berniat menggabungkan diri dengan masyarakat Indian yang ada di tanah Amerika. Mereka tak tinggal di kampung-kampung Indian, mereka mendirikan kota baru dengan peraturan baru, tata kehidupan baru, yang lebih baik bukan cuma dari peraturan dan tata hidup Indian, tapi juga dari peraturan dan tata hidup daerah asal pendatang-pendatang ini yaitu Eropa. 

Pemukim-pemukim ini diikuti oleh para imigran. Pendatang-pendatang berikutnya jadi bisa memilih “Ada pemukiman yg cocok buat gue gak yah?” kalo ada yg cocok, mereka jadi imigran, sebab mereka menetap di pemukiman baru. Kalo gak ada yang cocok ya Tinggal bikin pemukiman baru! Ingat, para pendatang baru ini datang dari berbagai negara di Eropa: Inggris, Perancis, Belanda, dan lain-lain, dengan berbagai latar belakang. Seringkali tidak ada pemukiman “yang pas di hati”. Apalagi, tanah masih luas, kalo gak suka dengan pemukiman yang sudah ada, tinggal buka pemukiman baru! Apalagi orang Indian jumlahnya sedikit, dan teknologi mereka tertinggal, sehingga bisa dikalahkan (Dan diusir) untuk membuka tempat untuk pemukiman-pemukiman baru ini.

Buat lo yang kritis, mungkin muncul pertanyaan “Ngapain sih orang-orang ini pindah dari Eropa ke tanah kosong bernama Amerika Serikat?”

Sebabnya ada banyak. Namun, buat topik ini, gue bisa highlight dua sebab: untuk menghindari persekusi dan untuk menghindari perang. Di tahun 1600an itu, Eropa secara budaya dan moral jauh sekali dari Eropa di abad 21 ini. Eropa di jaman itu dicabik-cabik oleh perang antar negara dan konflik antar keyakinan. Ratusan ribu orang mengungsi karena tak mau dibully, dipersekusi dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. 

Hal ini menjadi penting untuk diketahui sebagai salah satu alasan kenapa Amerika Serikat memilih untuk jadi negara pertapa, atau istilah lebih inteleknya dalam ilmu politik: negara isolasionis. Isolasionisme sendiri adalah kebijakan suatu negara untuk menghindari keterlibatan baik secara politik ataupun ekonomi dengan negara lain. Salah satu negara yang pernah menerapkan kebijakan ini pada masa lalu adalah Jepang sebelum Restorasi Meiji. 

Kemerdekaan dan Doktrin Monroe

Kebijakan isolasionisme yang diterapkan Amerika Serikat tentunya tidak serta merta muncul begitu saja. Ada alasan di baliknya yang tidak bisa dibilang sederhana. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Amerika Serikat pada abad ke-17 menjadi dunia baru yang menarik kedatangan pada pemukim dari eropa dan membentuk pemukiman di Amerika Serikat. Pemukiman-pemukiman baru tersebut berada di bawah pemerintahan kerajaan Inggris. Setelah konflik dengan kerajaan tentang pajak, rakyat Amerika Serikat memutuskan untuk merdeka (silakan lo baca bagaimana sejarah kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776. Sejarahnya panjang banget dan tidak akan muat kalau dibahas di sini). Ingat, dari awal pemukiman-pemukiman ini berakar dari berbagai daerah dan budaya di Eropa, sehingga mereka tak mau menciptakan negara kesatuan seperti di Indonesia! Dari awal mereka kabur dari Eropa untuk menghindari hukum – hukum yang dibuat oleh negara-negara Eropa! Mereka mau mengurus urusan mereka masing-masing, tak mau dicampuri oleh tetangganya, apalagi oleh pemerintah pusat! Maka, dipilihlah bentuk Federal sebagai bentuk negara Amerika ini.

Nah, sebagai negara baru ini, mentalitas “gue gak mau urusan gue dicampuri oleh orang lain, TERUTAMA oleh orang Eropa!” ini masih kuat banget! Amerika, baik negerinya maupun benuanya, jadi disebut “Dunia Baru” yang hendak dibangun sesuai idealisme para pemukim ini. Kontras dengan Eropa sang “Dunia Lama” yang sudah jenuh dengan persekusi, perang, korupsi, dan 1001 kebejatan lainnya yang sudah mendarah daging, sudah mengakar! 

Mentalitas gak mau berurusan dengan perangnya “Dunia lama” ini diwujudkan di era presiden James Monroe, Presiden Amerika Serikat kelima (1817 – 1825), yang meresmikan Doktrin Monroe di tahun 1823, yang biasanya diringkas dalam bentuk kalimat pendek:

“America for America”

Artinya, Monroe menyatakan benua Amerika adalah urusannya Amerika Serikat. Negara-negara Eropa tak punya hak untuk memperebutkan wilayah di benua baru ini! Di sisi lain, Monroe juga  memproklamirkan urusan Amerika Serikat yah cuma di benua Amerika saja! Gile, berani bener melarang-larang negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, dll, yang waktu itu menguasai samudera!  Padahal Amerika Serikat belum sampai 50 tahun merdeka! Armada tempur dan tentaranya gak ada apa-apanya dibandingin negara-negara Eropa! Mana bisa Amerika Serikat menegakkan doktrin ini? 

Eits, ternyata tidak sesulit itu!

Ternyata, mantan penjajah Amerika Serikat, yaitu Kerajaan Inggris, MENDUKUNG doktrin ini! Buat Inggris sederhana, dia tak punya minat merebut jajahan baru di benua Amerika. Ditegakkannya Doktrin Monroe memastikan saingan-saingan Inggris tak bisa menambah jajahan di benua baru ini! Doktrin Monroe juga secara teoritis membuat Amerika tak mau menyaingi Inggris dalam hal perebutan jajahan di luar benua Amerika! Maka, kerajaan Inggris pun mendukung doktrin ini!

Di benua Amerika sendiri, negara-negara yang ada di Amerika Tengah dan Amerika Latin menjadi waspada. Di satu sisi, mereka senang Amerika Serikat menantang hegemoni negara-negara Eropa. Namun di sisi lain, mereka juga takut hegemoni tersebut cuma diganti dengan hegemoni Amerika Serikat. Banyak juga yang cuek karena mereka yakin Amerika Serikat tak punya kekuatan militer, politik, maupun ekonomi untuk menegakkan doktrin ini.

Kenyataannya, di awal 1800an itu, Amerika Serikat memang tak bisa mendominasi benua Amerika. Perancis misalnya, memblokade Argentina di tahun 1838, dan Amerika Serikat tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan blokade tersebut. Inggris sendiri biarpun katanya mendukung doktrin Monroe, nyatanya memperluas jajahannya di benua Amerika, misalnya dengan menduduki Belize di tahun 1862. Doktrin ini makin sulit ditegakkan karena pada medio tahun 1861 – 1865, Amerika Serikat sendiri mengalami perang saudara yang memakan ratusan ribu korban jiwa. 

Namun, biarpun sering tak bisa mencegah negara Eropa menyerang benua Amerika, pemerintah Amerika Serikat sendiri di tahun 1800an ini menjadi “Negara Pertapa” karena tak ikut campur dalam perang apapun yang terjadi di benua Eropa atau bersaing memperebutkan jajahan di Asia dan Afrika. Walaupun tak bisa mengatur negara-negara Eropa, Doktrin Monroe kelihatannya berhasil mengatur kebijakan Amerika Serikat sendiri untuk tetap jadi isolasionis. Kalau di jaman Orde Baru Indonesia memiliki kebijakan luar negeri “Bebas Aktif”, Amerika Serikat di tahun 1800an ini menggunakan kebijakan “Bebas PASIF” berkat doktrin Monroe ini.  

Namun, konsep “Amerika sebagai negara pertapa” ini benar-benar kontras dengan satu konsep lagi yg sama pentingnya dengan Doktrin Monroe ini, dan bisa dibilang bertentangan, yaitu Manifest Destiny.

Manifest Destiny

Perhatikan, Amerika cuma mau jadi pertapa “Di kancah dunia di luar benua Amerika”. Di benua Amerika sendiri, tindak-tanduk Amerika Serikat sama sekali tidak isolasionis. 

Di tahun 1812, Amerika Serikat berperang melawan Inggris dan Kanada. Pasukan Kanada bahkan berhasil merebut dan membakar gedung putih di Washington DC walaupun perang pada akhirnya berakhir dengan seimbang tanpa perubahan wilayah.

Di tahun 1846 – 1848, Amerika Serikat berperang melawan Mexico. Perang berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat yang berhak mendapatkan Texas, New Mexico, Utah, Arizona, Nevada, California, dan beberapa wilayah lainnya (Ditandai dengan warna putih di peta di bawah.)

Selain itu, peperangan untuk memperluas wilayah Amerika Serikat dengan orang-orang Indian juga berhasil dimenangkan, memperluas negeri Amerika Serikat.

Jadi, biarpun di luar benua Amerika si Uwak Sam ini jadi pertapa, gak mau ribut, gak mau perang, gak macem-macem, kalo di benua Amerika sih, si Uwak garang loh! Wilayah Amerika Serikat jadi tambah luas bukan cuma lewat transaksi dagang (Pembelian Louisiana) tapi juga lewat perang (Dibaca: pembunuhan, pembantaian, pengusiran, dan 1001 hal tak menyenangkan lainnya.) yang disebutkan di atas! Nah, untuk menjelaskan perilaku ini, kita tidak menggunakan Monroe Doctrine tapinya Manifest Destiny.  

Manifest Destiny sendiri tidak diciptakan oleh pejabat resmi Amerika Serikat, tapi oleh seorang kolumnis bernama John L. Sullivan di tahun 1845. Di kolomnya, Sullivan mengomentari sengketa wilayah dengan Inggris di daerah Oregon waktu itu, dia kurang lebih bilang

“Klaim Amerika Serikat atas wilayah itu berdasarkan hak kita yang merupakan manifestasi takdir kita atas benua ini, yang sudah dianugerahkan (oleh Tuhan) pada kita untuk  menyebarkan kebebasan …”

Intinya, Manifest Destiny adalah pernyataan bahwa Amerika Serikat adalah negara yang khusus, istimewa, yang memiliki hak (dari Tuhan) untuk membawa kebudayaan, kebebasan, kepada benua Amerika. Politikus-politikus Amerika yang waktu itu menentang konflik dengan Inggris ini merasa pernyataan ini berlebihan, dan memalukan. Mereka mengejeknya, menghinanya, tapi para pendukung Sullivan, orang-orang yang ingin memperluas wilayah Amerika Serikat langsung menjadikan 2 kata ini sebagai bahan kampanye. Amerika Serikat adalah negeri istimewa, kota di puncak bukit, uswatun khasanah, teladan, dan pembimbing dunia yang kurang beradab, kurang bebas! Ironisnya, karena ejekan lawan-lawannya inilah istilah Manifest Destiny jadi tersohor sampai sekarang.

Kontradiksi, Perkembangan, Perang Melawan Spanyol

Jadi, pada intinya, ada 2 kontradiksi dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di tahun 1800an. Di dalam benua Amerika, Uwak Sam adalah negeri pede, yang merasa dirinya sudah ditakdirkan untuk memajukan dunia. Di luar benua Amerika, Uwak Sam bertingkah seperti pertapa dan menolak ikut campur. Di penghujung tahun 1800an, situasi politik, militer, dan ekonomi dunia sudah berubah. Amerika Serikat sudah memiliki armada tempur, pasukan besar, industri raksasa, dan 1001 hal lainnya yang memungkinkan mereka menegakkan Doktrin Monroe. 

Namun, kekuatan yang sama juga bisa digunakan untuk memperluas aplikasi Manifest Destiny.

Akhirnya, di tahun 1898, Amerika berperang melawan salah satu kekuatan Eropa: Spanyol. Waktu itu, Kuba adalah jajahan Spanyol yang turut mengalami instabilitas politik yang dialami pemerintah pusat Spanyol. Di sini, Monroe Doctrine dan Manifest Destiny berjalan beriringan. Kuba adalah bagian dari benua Amerika, yang mengalami masalah. Adalah takdirnya Uwak Sam untuk memerdekakan, menstabilkan, dan memajukan daerah ini! Di sisi lain, mengusir Spanyol dari Kuba juga berarti memerdekakan benua Amerika dari kekuatan Eropa! Namun, bukan berarti perang melawan Spanyol otomatis menjadi keniscayaan. 

Sekali lagi, kita harus ingat mentalitas para pendiri Amerika. Banyak dari mereka melarikan diri dari benua Eropa menghindari perang! Selama ini perang yang dialami negeri Amerika Serikat biasanya adalah perang-perang melawan kekuatan-kekuatan lemah. Cuma perang 1812 dan perang saudara saja yang dahsyat, dan semua masih ingat betapa banyaknya korban timbul. Masyarakat Amerika masih ogah berperang, biarpun perang ini sejalan dengan Doktrin Monroe dan Manifest Destiny.

Di tengah-tengah kontroversi ini, pemerintah Amerika Serikat mengirimkan kapal perang USS Maine ke pelabuhan Havana. Tanggal 15 Februari 1898, USS Maine mendadak meledak! Waktu itu, ada 2 raja media yang sedang bersaing memperebutkan pembaca: Joseph Pulitzer (yang sekarang namanya dikenal sebagai Pulitzer Award, penghargaan bergengsi bagi karya jurnalistik) dan William Randolph Hearst. Peristiwa meledaknya USS Maine ini dimanfaatkan keduanya dengan menulis berita-berita sensasional yang menuduh pihak Spanyol meledakkan kapal perang Amerika! Publik Amerika pun murka, padahal penyebab ledakan belum diketahui secara pasti! Politikus-politikus Amerika Serikat pun berubah pikiran, dari menentang menjadi mendukung perang! Akhirnya, kapal-kapal perang Amerika Serikat dikirim untuk mengepung Kuba tanggal 21 April 1898. Artinya, perang pun dimulai.

Tanggal 13 Agustus 1898, perang sudah selesai. Spanyol menyerah kalah. Amerika Serikat merebut Kuba, Filipina, dan jajahan-jajahan Spanyol lainnya. Dari perang inilah Amerika Serikat mendapatkan jajahan di daerah Asia Pasifik: Filipina dan Guam. (Bersambung)

==========CATATAN EDITOR===========

Demikianlah untuk pembahasan perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (bagian 1) yang sebelumnya menerapkan politik isolasionisme menjadi negara yang aktif wira-wiri ke sana ke mari seperti sekarang ini. Awal mula perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat akan dibahas dalam tulisan bagian dua. 

Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Download Zenius App di sini