Penyakit-penyakit yang Menyebabkan Gangguan Organ Sistem Pencernaan

Penyakit yang dapat menyebabkan gangguan organ sistem pencernaan ada berbagai macam. Mulai dari yang ringan seperti diare hingga penyakit berbahaya seperti kanker. Setiap organ harus dijaga dengan baik supaya sistem pencernaan bisa bekerja dengan baik. 

Ada berbagai macam penyakit yang bisa mengancam organ-organ sistem pencernaan. Meski telah berusaha menjaga kesehatan dengan melakukan berbagai macam cara, mulai dari menjaga pola makan hingga rutin ke gym untuk berselfie berolahraga, penyakit tetap saja bisa menghinggapi organ pencernaan. Efek gangguannya pun berbeda-beda, tergantung kepada penyakit apa yang sedang melanda. Dari diare sampai disentri. Ada banyak sekali penyakit yang dapat menyerang kesehatan  organ-organ pencernaan. Padahal, peran organ-organ tersebut tidak bisa saling menggantikan. Setiap organ mempunyai peran masing-masing sebagaimana yang aku bahas di artikel sebelumnya tentang apa itu sistem pencernaan dan organ-organ yang terlibat. Penyakit yang menyerangnya pun berbeda-beda. Dalam Zenius Blog kali ini, aku akan menjabarkan penyakit-penyakit yang bisa mengganggu setiap anggota dari sistem pencernaan manusia. 

Penyakit yang dapat mengganggu sistem pencernaan.

Mulut 

Perjalanan makanan (yang mengandung unsur biologis, protein, karbohidrat, lipid, dan asam nukleat) menjadi sesuatu yang bisa diserap tubuh (glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol) diawali dari mulut. Dibandingkan dengan organ pencernaan lain yang kebanyakan berada di dalam tubuh, mulut lebih mudah untuk diperhatikan. Apabila terjadi perubahan, keadaan tersebut dapat diketahui secara langsung dengan cara bercermin misalnya. 

Penyakit yang menyerang mulut akan mengganggu proses pencernaan yang terjadi di dalamnya. Padahal, proses pencernaan yang terjadi di dalam mulut tidak dapat diremehkan. Tanpa adanya proses mengunyah yang baik, organ-organ lain harus bekerja ekstra keras karena makanan yang mereka terima belum dihancurkan secara maksimal. Berikut adalah beberapa penyakit yang bisa menyerang mulut. 

  • Sariawan (stomatitis)

Beberapa orang memiliki kebiasaan menggigit-gigit bibir atau bagian dalam mulutnya. Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang tidak disarankan karena menjadi salah satu penyebab terjadinya sariawan. 

Sariawan adalah peradangan yang bisa berupa pembengkakan di bagian dalam bibir, gusi, hingga lidah. Sariawan bisa disebabkan oleh virus dan luka. Virus yang bertanggungjawab dalam terjadinya sariawan adalah virus herpes simplex 1, disebut dengan istilah stomatitis herpes. Selain luka karena tergigit, sariawan juga bisa muncul akibat penggunaan obat kumur yang mengandung bahan-bahan pengering seperti gliserin dan alkohol. Sariawan yang disebabkan oleh luka disebut stomatitis aftosa

  • Karies Gigi

Gigi berperan penting dalam menghancurkan makanan di dalam mulut. Makanan sebaiknya memang dihancurkan selembut mungkin supaya organ lain tidak perlu bekerja terlalu keras dalam melakukan pencernaan. Mungkin karena itulah muncul anggapan bahwa sebaiknya makanan dikunyah sebanyak 32 kali. 

Masalahnya, makanan yang dikunyah oleh gigi seringkali menyisakan bagian yang menempel pada gigi. Hal ini dapat memicu permasalahan pada gigi dan salah satunya adalah karies. Karies gigi merupakan sebuah kondisi rusaknya struktur dan lapisan gigi yang terjadi secara bertahap. Kerusakan diawali dengan terkikisnya enamel atau lapisan terluar yang dimiliki gigi. Kerusakan kemudian menggerogoti dentin atau lapisan tengah gigi, dan pada akhirnya mencapai sementum alias akar gigi. Akibat yang ditimbulkan salah satunya adalah munculnya lubang pada gigi. Jika kerusakan ini tidak ditangani, ada kemungkinan gigi tersebut tidak dapat tertolong sehingga harus dicabut. 

  • Abses Gigi

Penyakit selanjutnya adalah abses gigi. Kondisi ini menimbulkan adanya nanah yang berada di gusi atau sekitar akar gigi. Penyakit ini bisa diatasi dengan cara mengeluarkan nanah yang ada yaitu melalui operasi kecil. Namun, jika kondisinya sudah sedemikian parah, gigi yang bersangkutan harus dicabut demi menghindari bertambah parahnya penyakit. Abses gigi disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri tersebut bisa muncul akibat kurangnya kebersihan dalam mulut, mulut yang kering, serta konsumsi makanan manis. Makanan manis dapat memicu gigi berlubang yang dapat mengakibatkan terjadinya abses gigi. Hal ini bisa dicegah salah satunya dengan membersihkan gigi secara teratur. 

  • Gingivitis

Cobalah raba gusimu atau bercerminlah. Jika kamu menemukan adanya tonjolan di antara gusi dan gigi, itulah yang disebut dengan istilah gingivitis. Gingivitis adalah radang pada gusi. Keadaan ini bisa bermula lantaran mulut yang kebersihannya kurang terjaga atau penumpukan karang gigi. Penyakit ini disebabkan oleh menumpuknya bakteri pada daerah tersebut. Jika tidak ditindak, gingivitis dapat memicu penyakit gigi lainnya seperti periodontitis (infeksi gusi serius yang dapat merusak jaringan tulang penyokong gigi).

Kondisi-kondisi di atas adalah beberapa kondisi yang bisa dialami mulut. Kalau diperhatikan, terdapat satu kesamaan yang mengawali terjadinya kondisi tersebut, kebersihan mulut yang kurang terjaga. Jika dipikir-pikir, apa sih susahnya menjaga kebersihan mulut? Toh tinggal sikat gigi dan berkumur secara teratur dan mengunjungi dokter gigi secara berkala. Sepertinya tidak sulit memang, hanya saja terkadang hal-hal tersebut dipandang remeh oleh beberapa orang. Padahal, konsekuensi dari kerusakan gigi dapat mengakibatkan kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Bayangkan kamu tidak lagi bisa menikmati makanan yang kamu suka karena kondisi gigi kamu tidak mendukung hal tersebut. 

Kerongkongan (Esofagus)

Setelah melewati proses pencernaan pertama di mulut, makanan akan melanjutkan proses pencernaannya di kerongkongan (esofagus). Meski hanya menjadi tempat lewat, bukan berarti esofagus bisa terlepas dari ancaman penyakit.

Salah satu penyakit yang umum terjadi pada esofagus adalah esofagitis. Kondisi tersebut mengakibatkan kesulitan dalam menelan dan biasanya akan timbul rasa perih di dada. Esofagitis bisa dipicu oleh beberapa sebab seperti naiknya asam lambung ke kerongkongan akibat terjadinya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Selain itu, esofagitis juga bisa dipicu oleh alergi dan infeksi. Jika tidak ditangani, esofagitis bisa memicu timbulnya penyakit Esofagus Barrett yaitu kondisi ketika sel yang melapisi kerongkongan rusak karena asam perut. Lapisan yang rusak tersebut kemudian akan menjadi tidak normal dan berubah bentuk menjadi seperti sel yang melapisi perut. Tidak hanya berhenti di situ saja, penyakit lain yang berpotensi muncul adalah kanker kerongkongan. 

Solusi yang bisa aku tuliskan adalah jika kamu merasakan ada yang tidak beres pada kerongkongan (sulit menelan misalnya) segera konsultasikan ke dokter terdekat. Jangan sampai kamu terlambat dan penyakit yang kamu derita menjadi semakin membahayakan nantinya. 

Lambung

Gangguan lambung paling terkenal sejauh ini mungkin adalah maag. Hampir semua orang yang aku kenal setidaknya mengenal orang yang mengidap penyakit ini jika bukan dirinya sendiri. Maag atau dispepsia merupakan gejala penyakit berupa rasa nyeri dan panas yang terjadi pada lambung yang disebabkan oleh sejumlah kondisi. Salah satunya adalah karena tukak lambung.

 

  • Tukak Lambung

Tukak lambung adalah luka yang berada di dinding lambung akibat terkikisnya lapisan lambung. Tukak juga bisa muncul di usus halus dan bagian bawah kerongkongan. Penyebabnya bisa karena infeksi bakteri Helicobacter pylori. Selain itu tukak juga bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu. 

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Saat membahas esofagitis, aku sebutkan bahwa kondisi tersebut bisa dipicu oleh penyakit GERD. GERD lebih akrab di telinga masyarakat pada umumnya dengan sebutan asam lambung. Penyakit ini sendiri disebabkan oleh melemahnya otot-otot lower esophageal sphincter (LES). Otot ini bertugas untuk menutup katup begitu makanan turun dari kerongkongan ke lambung. Karena melemah, katup pun tidak tertutup secara sempurna dan mengakibatkan asam lambung yang seharusnya berada di lambung naik ke kerongkongan. Umumnya, kondisi ini terjadi pada lansia dan pengidap obesitas. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan selain dua golongan tersebut juga dapat mengalaminya. Untuk mengatasi GERD sebenarnya tidak harus melalui tindakan operasi. Langkah-langkah kecil seperti tidak langsung berbaring setelah makan dan mengurangi rokok juga dapat dilakukan untuk mengatasinya. Namun jika memang sudah parah, operasi sebaiknya dilakukan. 

  • Gastritis

Penyakit ini terjadi akibat adanya peradangan pada dinding lambung. Dinding lambung (lapisan mukosa) memiliki kelenjar yang menghasilkan asam lambung dan enzim pepsin. Untuk melindungi lapisan mukosa dari kerusakan yang diakibatkan asam lambung (HCl yang PH-nya 2 sehingga sangatlah asam), dinding lambung dilapisi oleh lendir (mukus) yang tebal. Apabila mukus tersebut rusak, dinding lambung rentan mengalami peradangan. 

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa saja karena adanya infeksi bakteri. Gastritis juga bisa muncul seiring bertambahnya usia. Semakin tua usia seseorang, lapisan mukosa bisa semakin menipis. Maka dari itulah jaga kesehatan organmu selagi masih muda. Salah satunya adalah dengan cara mengurangi konsumsi minuman alkohol dan jangan terlalu sering memakai obat pereda rasa nyeri. 

  • Dispepsia

Jika kamu sering merasa mudah kenyang meski baru makan sedikit, rasa tidak nyaman di bagian perut, dan nyeri ulu hati setelah makan bisa jadi kamu mengalami dispepsia. Sebenarnya dispepsia bukanlah suatu penyakit. Lebih tepatnya dispepsia bisa disebut sebagai gejala awal dari suatu penyakit. Semacam alarm begitulah. Segeralah melakukan konsultasi ke dokter jika kamu merasakan gejala-gejala di atas, siapa tahu tubuh kamu sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan pertolongan segera. 

  • Gastroparesis

Penyakit yang satu ini merupakan gangguan pada otot lambung. Efeknya, makanan yang dicerna oleh lambung menjadi lebih lambat terdorong ke usus halus. Sebenarnya belum diketahui secara pasti mengapa penyakit ini dapat muncul. Sementara ini asumsi terkuat adalah karena terjadinya gangguan saraf yang mengatur otot-otot lambung. 

Karena penyaluran makanan lebih lambat daripada seharusnya, makanan yang tertinggal di dalam lambung dapat kemudian menggumpal bahkan memadat. Gumpalan ini dapat menimbulkan mual dan mengakibatkan muntah serta menyumbat lambung, sehingga makanan tidak bisa diteruskan ke usus halus.

Masalah-masalah yang melanda saluran pencernaan sebenarnya tidaklah jauh-jauh dari makanan yang kita konsumsi dan bagaimana cara kita memakannya. Apakah sejauh ini kita sudah benar-benar tahu makanan apa yang memasuki tubuh kita? Apakah kandungan di dalamnya sesuai dengan apa yang tubuh kita butuhkan? Atau jangan-jangan kita asal memasukannya saja? Belum lagi jika kita tidak terlalu peduli dengan kebersihan tangan dan alat makan. Padahal, penyakit dapat berasal dari sana. 

Usus Halus

Usus halus menjadi tempat diserapnya makanan yang sebelumnya telah dicerna di organ-organ terdahulu. Jika terjadi gangguan pada organ ini, penyerapan mikromolekul tidak akan bisa dilakukan secara optimal. Padahal, tubuh kita memerlukan banyak asupan energi dan zat pembangun yang ada pada makanan. Nah, berikut adalah beberapa penyakit yang bisa menyerang usus halus. 

  • Ulkus Duodenum

Usus halus terbagi menjadi tiga bagian, usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Sebagaimana namanya, ulkus duodenum menyerang duodenum atau usus dua belas jari. Penyakit ini merupakan kondisi ketika terdapat luka terbuka pada dinding usus dua belas jari. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri di ulu hati serta muntah darah. Penyebabnya bisa karena serangan infeksi bakteri Helicobacter pylori atau akibat konsumsi obat-obatan berjenis antiinflamasi nonsteroid (OAINS) secara berlebihan. OAINS adalah obat-obatan yang digunakan untuk meredakan peradangan sehingga bisa meredakan rasa nyeri seperti aspirin misalnya. 

  • Crohn

Sebenarnya penyakit ini bisa muncul di berbagai organ pencernaan lain mulai dari mulut hingga anus. Akan tetapi, Crohn lebih sering ditemukan di usus halus dan usus besar. Penyakit ini menyebabkan peradangan di dinding usus yang ditandai dengan terjadinya diare, tinja bercampur lendir bahkan darah, mual sampai muntah. Belum diketahui secara pasti mengapa penyakit ini bisa terjadi. 

  • Kanker usus halus

Kanker adalah penyakit yang sangat mengerikan. Kanker usus halus mengakibatkan terjadinya mutasi pada sel-sel usus halus sehingga membuat sel-sel tersebut tumbuh secara tak terkendali dan bisa berubah menjadi tumor ganas. Seperti kanker pada umumnya, belum diketahui secara pasti bagaimana kanker usus halus dapat muncul. Sejauh ini baru diketahui bahwa terjadi mutasi pada sel-sel yang ada. 

Penyakit-penyakit yang menyerang usus pada umumnya menampakkan gejala yang sering kita anggap remeh seperti diare. Bagi orang yang biasa terkena diare mungkin kondisi tersebut sangatlah biasa-biasa saja sehingga tidak akan mendapatkan perhatian lebih. Padahal, bisa jadi keadaan tersebut adalah pertanda dari hadirnya suatu penyakit yang tidak pernah kita inginkan. Jika ada sesuatu yang salah dengan dirimu, jangan diam-diam saja. Segera konsultasikan kondisimu tersebut kepada orang yang paham. Bukankah leluhur telah berpesan bahwa mencegah lebih baik daripada mengatasi? 

Usus Besar

Selain dilakukan di usus halus, penyerapan juga terjadi di usus besar. Lebih tepatnya yang diserap adalah air dan mineral yang dikandung oleh makanan. Karena kandungan air telah diserap oleh usus besar, sisa makanan yang menjadi tinja akhirnya bisa berbentuk padat. Usus besar terdiri dari berbagai bagian seperti usus buntu yang mungkin beberapa dari kita lebih mengenalnya sebagai suatu penyakit. Selain usus buntu, masih ada beberapa penyakit yang dapat mengganggu kerja usus besar. 

  • Usus Buntu (Apendisitis) 

Adakah saudara kalian yang pernah menderita penyakit ini? Apendisitis merupakan sebuah kondisi ketika terjadi peradangan pada usus buntu (apendiks). Penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa karena terjadinya hambatan pada pintu masuk rongga usus buntu. Bisa juga karena terjadinya penebalan atau pembengkakan pada jaringan dinding usus buntu yang disebabkan oleh infeksi di saluran pencernaan atau di bagian tubuh lainnya. Selain itu, apendisitis juga bisa dipicu oleh cedera perut. Kalau kalian mempunyai teman yang pernah mengalami apendisitis, biasanya akan ada jahitan sepanjang 5-10 sentimeter di perutnya. Hal tersebut disebabkan oleh pembedahan untuk mengangkat usus buntu. 

  • Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Sindrom ini mempengaruhi kinerja usus besar. Biasanya, IBS terjadi akibat kerusakan pada cara kerja sistem usus, tetapi tidak ada tanda-tanda adanya kerusakan jaringan. IBS pada umumnya ditandai dengan serangan sakit perut yang berulang. Sakit perut bisa terjadi beberapa kali dalam sehari terutama setelah mengkonsumsi makanan. Umumnya, perut pengidap IBS akan jadi lebih sensitif sehingga rentan mengalami sakit perut, kembung, dan gangguan pencernaan seperti diare atau kadang sembelit.

Usus besar mengalami kontraksi saat menyerap makanan. Pada penderita IBS, kontraksi terjadi secara abnormal, bisa lebih lambat atau lebih cepat dari seharusnya. Kontraksi yang terlalu lambat dapat memicu sembelit. Sedangkan kontraksi yang berlangsung terlalu cepat bisa mengakibatkan diare. Penyebab munculnya kelainan ini belum diketahui. Namun, ada dugaan bahwa IBS timbul akibat kelainan pada saraf. 

  • Sembelit (konstipasi)

Jika kamu mengalami kesulitan buang air besar (kurang dari 3 kali dalam sepekan), sebaiknya kamu mulai waspada. Mulailah introspeksi makanan dan minuman apa saja yang belakangan ini kamu konsumsi. Kalau kamu merasa kurang makan serat dan kurang minum air mineral, cobalah untuk mengubah perilaku. Jika sakit berlanjut, segera hubungi dokter karena bisa saja kamu mengalami sembelit. 

Sembelit sebuah kondisi yang bisa terjadi karena kontraksi usus melambat sehingga menyebabkan kotoran bergerak lebih lambat dari biasanya. Efeknya, kotoran pun menjadi lebih keras dan kering. Selain karena asupan makanan yang kurang serat, sembelit juga bisa dipicu oleh kurangnya aktivitas yang dilakukan atau terlalu banyak duduk. 

  • Wasir (Hemoroid)

Apabila kamu mengalami sembelit dan malas mengobatinya, berhati-hatilah karena sembelit tersebut dapat berkembang ke level selanjutnya yang disebut wasir. Wasir sendiri adalah kondisi pembengkakan atau pembesaran pembuluh darah yang ada di usus besar bagian akhir (rektum), serta bisa juga terjadi di dubur atau anus. Selain disebabkan oleh sembelit berkepanjangan, wasir juga dapat dipicu oleh diare yang berlangsung dalam waktu lama, terlalu banyak mengangkat beban, dan bisa menyerang wanita yang baru melahirkan. 

Supaya dirimu dapat terhindar dari wasir, terapkanlah pola makan yang sehat. Jangan sampai kamu kekurangan serat. Jika kamu sudah terlanjur mengalaminya, kamu bisa menjalani operasi pengangkatan wasir. 

Anus 

Organ pencernaan terakhir adalah saluran pembuangan, anus. Semua makanan yang kita makan tidak setiap bagiannya diserap oleh tubuh. Sisa-sisa pencernaan tersebut kemudian dialirkan menuju anus untuk selanjutnya kita buang di kamar mandi atau toilet. Organ ini menjadi penting karena tanpanya semua kotoran akan tertahan di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan penyakit.

  • Abses Anus

Abses anus merupakan penyakit yang memicu timbulnya nyeri di daerah anus akibat infeksi yang terjadi pada kelenjar-kelenjar yang ada di dinding anus. Di antara usus besar dan anus, terdapat sebuah katup yang bernama katup anus internal (sphincter ani internus). Katup ini berfungsi untuk mencegah infeksi dari rongga usus ke jaringan di sekitaran anus, perianal. Masalahnya, jika infeksi yang terjadi di usus berhasil menembus katup ini, penyebaran infeksi dapat mencapai jaringan perianal dan menyebabkan abses anus.

Gejala yang akan kalian alami jika menderita penyakit ini bisa bermacam-macam. Mulai dari rasa nyeri yang terus menyerang hingga munculnya nanah dari anus. Penyakit ini bisa disembuhkan melalui metode operasi. 

  • Fisura Ani 

Fisura ani merupakan sebuah kondisi terjadinya luka atau robekan pada jaringan kulit yang melapisi saluran anus serta lubang anus. Saluran anus adalah bagian paling ujung dari usus besar (kolon), yang terletak di antara tempat penyimpanan kotoran (rectum) dan lubang tempat keluarnya kotoran (anus). Pada umumnya, Fisura ani bisa disebabkan oleh tinja yang berukuran besar dan keras ketika seseorang buang air besar. Tinja berukuran besar dan keras tersebut mampu mengikis dinding anus sehingga menyebabkan rasa sakit, pendarahan, serta ketegangan pada otot yang berfungsi membuka dan menutup lubang anus (otot sfingter ani).

Untuk mencegah terjadinya penyakit ini, sebaiknya kamu tidak menunda-nunda buang air besar. Selain itu, kamu juga harus memperhatikan asupan makananmu. 

Berawal Dari Makanan

Untuk dapat memperoleh energi dan zat-zat yang diperlukan tubuh, kita perlu makan. Masalahnya, seringkali kita tidak benar-benar peduli dengan makanan yang masuk ke tubuh kita. Terutama pada saat kita berada dalam kondisi benar-benar lapar. Dalam keadaan seperti itu, biasanya beberapa dari kita akan ‘menyikat’ apa saja yang kita temui. Kita tak mempedulikan apakah makanan tersebut mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh atau tidak. Jangankan memikirkan kandungannya, bersih atau tidak bahkan terkadang tidak kita perhatikan. Mencuci tangan pun bisa jadi tidak kita pikirkan.

Menjaga kesehatan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dan menjaga kebersihan alat makan. Kalau kamu mau, kamu juga bisa mengikuti program vaksinasi. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Sebaiknya kamu mulai berkenalan secara lebih intim dengan dirimu sendiri. Kenali kebutuhan-kebutuhan dirimu supaya kamu bisa merencanakan menu makanan yang sebaiknya kamu konsumsi. Selain itu, sebaiknya kamu juga mengalokasikan waktu secara khusus untuk berolahraga. Dengan demikian, kamu bisa terhindar dari berbagai macam penyakit. Dengan tubuh yang sehat, kamu bisa fokus untuk menjalani keseharianmu dan memperjuangkan apa yang kamu inginkan. 


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

 

Download Zenius App di sini