Ok Boomer, Snowflake, dan Potret Perselisihan Antar Generasi

Zenius Blog kali ini membicarakan tentang ungkapan ‘OK Boomer’ yang belakangan ramai dibicarakan. Tak hanya itu, Zenius blog juga mengulas penggolongan berdasarkan tahun lahir yang ternyata tak sebatas nama belaka. 

Ungkapan ‘Ok Boomer’ mendadak ramai dibicarakan setelah seorang politisi muda bernama Chlöe Swarbrick menggunakan ungkapan tersebut untuk menanggapi politisi lain yang mengejeknya saat dirinya sedang berpidato mengenai isu perubahan iklim. Chlöe Swarbrick sendiri merupakan politisi yang masih berusia 25 tahun. Chlöe duduk di parlemen New Zealand mewakili The Green Party of Aotearoa New Zealand (bisa disebut dengan Green Party saja). Chlöe menjadi juru bicara partai tersebut untuk isu pendidikan tinggi, kesehatan mental, pemberantasan narkoba, kesenian, pendidikan, dan berbagai isu lainnya. Sebagai seorang yang lahir pada tahun 1994, Chlöe merupakan bagian dari generasi Y atau yang juga dikenal sebagai generasi milenial. 

Ungkapan ‘Ok Boomer’ yang disampaikan Chlöe seolah menjadi balasan atas ungkapan ‘snowflakes (kepingan salju)’ yang biasa dilontarkan generasi baby boomers kepada generasi Z. Snowflakes sendiri merupakan ungkapan merendahkan yang ditujukan untuk orang-orang yang memiliki sensitivitas tinggi dan merasa bahwa dunia berputar demi mereka. Ejekan ini menjadi sebuah hinaan yang ditujukan kepada generasi Z karena diyakini bahwa generasi tersebut dipenuhi oleh manusia-manusia yang suka caper dan selalu ingin diperhatikan.

Mengenal Baby Boomers, Gen X, Y, dan Z

Istilah baby boomers, generasi x (lost generation), generasi Y (milenial), dan generasi Z (the unknown) merupakan istilah yang dipakai untuk menggolongkan orang-orang berdasarkan pada tahun berapa mereka dilahirkan. Terdapat kesimpangsiuran terkait definisi ini. Karenanya, aku akan merujuk kepada satu sumber saja terkait definisi. Kalau kalian merasa bahwa apa yang aku tuliskan ini berbeda dengan apa yang kalian pahami selama ini, boleh jadi itu disebabkan oleh perbedaan sumber bacaan belaka. 

Ralph Ryback M.D., seorang psikiater yang pernah mengajar di Harvard Medical School, dalam artikelnya yang dipublikasikan dalam Psychology Today menjabarkan pembagian generasi tersebut beserta kecenderungan sifat-sifat mereka. 

  • Baby Boomers

Dilansir menurut NBC News, istilah baby boomers pertama kali digunakan pada tahun 1963. Istilah ini digunakan untuk menyebut mereka yang terlahir dalam periode akhir Perang Dunia II hingga sepuluh tahun setelahnya atau berarti tahun 1965. Setelah perang dunia berakhir, para prajurit kembali ke rumahnya masing-masing dan kembali berkumpul bersama pasangannya. Saat itu, terjadi angka kelahiran sangat besar yang diperkirakan mencapai angka 75,4 juta jiwa. 

Sedangkan menurut Ralph, baby boomers merupakan generasi yang terlahir antara tahun 1946 sampai 1964. Generasi ini merupakan salah satu generasi paling berpengaruh. Salah satunya adalah melalui gerakan ‘flower generation’ yang secara aktif memprotes perang Vietnam dan mengkampanyekan kehidupan yang lebih bermakna. Generasi ini cenderung memiliki ikatan sosial yang lebih baik jika dibandingkan dengan generasi setelahnya. Hal ini dikarenakan pada masa generasi boomer teknologi komunikasi belum berkembang sepesat generasi setelahnya. Akibatnya, komunikasi yang dilakukan pun lebih bersifat fisik. Mungkin salah satu produk keren yang dimiliki mereka adalah kartu pos. Sesuatu yang sangat langka dilakukan oleh generasi milenial. 

Jika kalian pernah mendengar istilah ‘American Dream’, maka generasi inilah yang mulai memperjuangkannya. Bekerja tetap (9AM-5PM), memiliki sebuah rumah dan sebuah mobil adalah hal-hal yang diperjuangkan dalam american dream. Demi memperjuangkan impian tersebut, para boomer pun mencetuskan istilah baru lainnya yakni ‘workaholic’. Mereka bekerja keras demi mewujudkan apa yang diimpikannya. Namun, perilaku yang seperti itu ternyata berdampak pada keadaan generasi berikutnya. 

  • Lost Generations, Generasi X

Generasi X adalah generasi yang berisi orang-orang yang memperjuangkan keseimbangan hidup antara bekerja dan kehidupan sosial. Hal ini merupakan dampak dari perilaku para boomer yang gila kerja. Perilaku tersebut mengakibatkan generasi X tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tuanya lantaran sejak kecil menghabiskan waktunya di tempat penitipan anak. 

Generasi X adalah sebutan bagi orang-orang yang lahir antara tahun 1965-1980. Dikarenakan sejak kecil sering menjalani kesehariannya sendirian, ada kecenderungan pada generasi X untuk lebih mandiri dalam hidupnya. Satu hal yang perlu aku ingatkan, tidak semua orang yang lahir pada generasi tersebut memiliki kecenderungan yang sama. Semua tetap kembali lagi kepada masing-masing individu dan faktor-faktor lainnya seperti dalam keluarga macam apa orang tersebut dibesarkan, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya. 

  • Milenial, Generasi Y

Okay, aku adalah bagian dari generasi ini. Generasi yang mendapat julukannya karena tumbuh besar di era pergantian milenium. Generasi ini terdiri dari manusia-manusia yang dilahirkan dalam rentang waktu antara 1980-2000. Ada juga yang menggolongkan generasi ini adalah mereka yang lahir pada tahun 1981-1994. Namun sebagaimana kita sepakati di awal, kita menggunakan definisi menurut Ralph Ryback sehingga kita membatasinya sampai tahun 2000. 

Di awal tulisan, aku sebutkan sebuah ungkapan ‘Ok Boomer’ yang dicetuskan oleh seorang milenial bernama Chlöe Swarbrick. Hal ini sepertinya juga dialami oleh milenial lain. Perbedaan yang sangat kentara dimiliki oleh kedua generasi. Misalkan dalam urusan mencari pasangan. Generasi boomer mendapatkan pasangan biasanya dari kolega atau dikenalkan oleh temannya temannya teman. Sedangkan untuk generasiku ini bisa mengenal orang yang kelak menjadi pasangannya tanpa perlu keluar rumah. Aplikasi online dating seperti tinder menjadikan hal ini mungkin. Apalagi? Persebaran informasi yang terjadi di era milenial sangatlah berbeda dengan apa yang dialami para boomer. Masih banyak sekali perbedaan yang dimiliki kedua generasi. Aku sendiri masih ingat saat dulu ayahku masih bekerja ketika beliau harus mengenakan pakaian rapi, kemeja berkerah dan sepatu pantofel. Sedangkan saat aku mulai bekerja, aku bebas untuk memakai kaos dan mengenakan sepatu nike air max. 

Perbedaan-perbedaan ini menjadikan watak kedua generasi menjadi sangat berbeda dan hal tersebut rasanya sah-sah saja. Akan tetapi semua itu menjadi hal yang menyebalkan dan mengganggu ketika satu generasi mulai mengolok-olok generasi lain. Ya, sebagaimana ketika muncul hinaan ‘Ok Boomer’ dan ‘snowflake’ sebagaimana aku sebutkan di atas. 

  • Generasi Z

Belum banyak informasi yang bisa dikumpulkan dari generasi ini. Mereka masih tumbuh dan berkembang. Mungkin satu hal yang bisa dilihat dari generasi ini adalah mereka tumbuh dengan dikelilingi oleh teknologi yang telah berkembang pesat dan setiap harinya masih terus menerus berkembang. Hal ini kiranya akan melahirkan sebuah generasi baru yang berbeda dengan generasi pendahulunya. 

Saling ejek dan saling hina yang terjadi antar generasi rasanya bukanlah sesuatu yang perlu. Sebagai manusia, bukankah lebih baik jika setiap generasi yang ada saling bahu membahu mengatasi segala permasalahan yang terjadi di dunia? Perubahan iklim, isu pangan, kesehatan, dan tantangan yang akan dihadapi manusia pada era yang akan datang. Hal itu jauh lebih baik daripada saling menghina dan menyalahkan. 

Siapapun kamu, selama kamu memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia, orang tidak akan mempertanyakan dari generasi mana kamu. Apakah saat kamu berbuat baik ada orang yang menanyakan kamu lahir tahun berapa? Lebih dari itu, orang tidak akan melihat agamamu, warna kulitmu, tingkat pendidikanmu, dan lain sebagainya selama kamu berbuat baik. Intinya, berbuatlah kebaikan. 

Sumber:

https://www.psychologytoday.com/

https://www.nbcnews.com

==========CATATAN EDITOR===========

Kalau kamu ada keinginan untuk mendiskusikan isu-isu lain yang belakangan terjadi, langsung komentar saja ya. Aku akan dengan sangat senang hati membaca semua komentar kalian. Sampai jumpa di kolom komentar, yaa. Ciao.


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

 

Download Zenius App di sini