Mereka yang Turut Berjasa Bagi Perdamaian Dunia Tetapi Tidak Terpilih Menjadi Peraih Nobel Perdamaian 2019

Meski tidak menjadi peraih nobel perdamaian 2019, nama-nama dalam artikel Zenius Blog kali ini tetaplah menjadi inspirasi bagi kita semua. Apa yang telah mereka lakukan merupakan langkah nyata dalam mewujudkan dunia yang lebih damai bagi kita semua. Manusia. 

Peraih nobel perdamaian tahun 2019 telah diumumkan. Abiy Ahmed Ali, Perdana Menteri Ethiopia, dinyatakan sebagai peraihnya. Jasanya dalam mengkampanyekan perdamaian dan kerjasama internasional menjadi pertimbangan Komite Nobel Norwegia untuk memilihnya. Salah satu prestasi Abiy Ahmed yang paling fenomenal adalah keberhasilannya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua dekade antara negaranya dengan Eritrea. 

Abiy Ahmed hanyalah salah satu orang yang berjasa dalam mewujudkan perdamaian di dunia yang kita cintai ini. Selain dirinya, masih ada nama-nama lain yang jasanya tidak boleh kita lihat dengan sebelah mata saja. Mereka ini juga memiliki jasa yang penting. Nah, kali ini aku ingin bahas nama-nama yang enggak kalah keren dari Abiy Ahmed. 

  • Greta Thunberg

Nama pertama adalah sesosok remaja putri yang tiada hentinya mengkampanyekan isu lingkungan. Seandainya dirinya terpilih sebagai pemenang nobel perdamaian tahun ini, dia akan menjadi peraih nobel termuda sepanjang sejarah karena usianya baru menyentuh angka 15 tahun. Lebih muda 2 tahun dari peraih nobel termuda, Malala Yousafzai. 

Awalnya Greta hanyalah seorang murid biasa. Ia bangun tidur pukul 6 pagi untuk bersiap-siap berangkat sekolah dan pulang ke rumahnya pada pukul 3. Semua berubah saat Greta mulai mengenal isu perubahan iklim. Greta merasa bahwa orang-orang dewasa tidaklah menganggap isu perubahan iklim sebagai suatu yang serius. Hal ini membuat Greta depresi dan memutuskan untuk tidak lagi berangkat ke sekolah. Pada akhirnya Greta berpendapat bahwa hanya berdiam diri dan meratapi depresinya tidak akan membuahkan apapun. Inilah yang menjadi titik awal Greta dalam memulai aksinya dalam memerangi perubahan iklim. 

Pada tahun 2018, Greta Thunberg mulai melakukan kampanye perubahan iklim di depan parlemen Swedia, seorang diri. Ia melakukannya sendirian. Di saat anak-anak seusianya sedang sibuk di bangku sekolah untuk belajar, Greta memilih untuk membolos demi memperjuangkan nasib dunia. Sendirian Greta membawa papan bertuliskan tuntutannya kepada pemerintah supaya mengambil langkah serius dalam menangani perubahan iklim. Perjuangan yang dilakukan Greta akhirnya menarik simpati dari banyak remaja-remaja lain. Diperkirakan sekitar 4 juta orang telah bergabung dalam gerakan yang diinisiasi oleh Greta. 

Salah satu momen yang mungkin akan diingat oleh orang-orang dalam waktu yang lama adalah saat Greta berpidato di depan para pemimpin dunia yang sedang berkumpul di markas PBB, New York, untuk membahas perubahan iklim. Saat itu Greta mengucapkan kalimat yang sangat keren berikut ini dengan nada geram. 

“This is all wrong. I should not be up here. I should be back in school on the other side of the ocean, yet you all come to us young people for hope. How dare you! You have stolen my dream and my childhood with your empty words and yet i am one of the lucky ones,” 

“People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing. We are in the beginning of a mass extinction and all you can talk about is money and fairytales of eternal economic growth? How dare you!”

  • Raoni Metuktire

Raoni Metuktire adalah seorang pemimpin masyarakat adat Brazil yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk berkampanye melawan deforestasi yang terjadi di Hutan Amazon. Usia Raoni kini telah menginjak 89 tahun. Walau sudah sepuh, Raoni tetap tidak berhenti menyuarakan pendapatnya kepada dunia internasional supaya deforestasi di Amazon dapat dihentikan. Dirinya bahkan sempat hadir dalam pertemuan G7 yang diselenggarakan pada tahun 2019. Salah satu agenda yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah soal hutan hujan. Raoni menghadiri pertemuan tersebut setelah kebakaran besar menghanguskan sebagian besar wilayah Hutan Amazon. 

Atas usaha dan komitmennya dalam memperjuangkan nasib Hutan Amazon, nama Raoni pun diusulkan kepada Komite Nobel Perdamaian untuk dianugerahi nobel. 

  • Jacinda Ardern

Ingatkah kalian dengan peristiwa teror di Selandia Baru yang terjadi pada awal tahun 2019? Saat itu seorang lelaki membawa senjata dan menembaki sekumpulan orang yang sedang berada di dalam masjid. Satu hal yang membuat peristiwa ini benar-benar mencekam adalah penembak tersebut merekam kegiatannya dan menyebarkannya secara online. 

Kejadian mengerikan tersebut terjadi di Selandia Baru yang saat itu (dan masih sampai sekarang) dipimpin oleh perdana menteri bernama Jacinda Ardern. Tanggapannya atas peristiwa kelam yang menewaskan setidaknya 51 nyawa tersebut disambut secara positif oleh dunia internasional. Kurang dari sebulan pasca kejadian, parlemen Selandia Baru menerbitkan undang-undang tentang kontrol senjata api. Segala bentuk senjata baik otomatis maupun semi otomatis dan juga komponen untuk memodifikasinya kini dilarang di Selandia Baru. Pembuatan undang-undang ini meraih suara bulat dari parlemen. Jacinda menjadi simbol empati, perlawanan, dan kekuatan dalam menghadapi peristiwa tragis yang terjadi di negaranya. 

Atas respon cepatnya ini, Jacinda menuai banyak pujian dari berbagai pihak termasuk dari pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama. 

  • The UN High Commission for Refugees (UNHCR)

Badan milik PBB yang berfokus menangani pengungsi ini telah berdiri setelah perang dunia kedua berakhir. Tujuan dari didirikannya UNHCR adalah untuk membantu orang-orang yang terlantar akibat perang dan persekusi di seluruh penjuru dunia. Sebelumnya, UNHCR sendiri pernah meraih nobel perdamaian sebanyak dua kali pada edisi 1954 dan 1984. 

Pada Juli 2019, UNHCR secara terbuka menyuarakan keprihatinannya atas kebijakan Trump, Presiden Amerika Serikat, yang menghalangi banyak orang melintasi perbatasan Amerika Serikat bagian selatan untuk mencari suaka. 

  • Reporters Without Borders

Reporters Without Borders adalah sebuah organisasi yang berfokus kepada pengawasan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi dengan melindungi kegiatan jurnalis di seluruh dunia serta menyoroti ketidakadilan yang menimpa mereka. 

Organisasi ini mengecam Pemerintah Arab Saudi setelah terjadinya pembunuhan terhadap jurnalis Arab Saudi bernama Jamal Khashoggi. Pembunuhan ini diduga dilakukan oleh otoritas Arab Saudi di dalam area konsulat mereka di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Seandainya Reporters Without Borders lah yang menjadi pemenang nobel perdamaian 2019, mereka akan menjadi kelompok pejuang kebebasan pers pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. 

Tak bisa dipungkiri betapa besarnya jasa-jasa mereka dalam mewujudkan dunia yang lebih damai dan aman bagi kita semua. Walau mereka tidak mendapatkan nobel perdamaian tahun ini, perjuangan mereka tetaplah bisa kita jadikan sebagai inspirasi. Raoni memperlihatkan perjuangan yang tak kenal usia. Bayangkan saja, di usia 89 Raoni masih memperjuangkan nasib hutan amazon di saat orang-orang seusianya mungkin sibuk menimang cucu. Jacinda telah menjadi simbol perlawanan atas teror. Kejadian tragis yang terjadi di Selandia Baru adalah hal yang sangat mengerikan dan memperlihatkan bahwa penggunaan senjata api tidak bisa dilakukan secara sembarangan. 

Bagaimanapun juga, perdamaian di atas dunia harus kita wujudkan bersama. Raoni dan Jacinda memiliki tempat berjuangnya sendiri. Raoni melalui keselamatan lingkungan dan Jacinda melalui kebijakannya selaku perdana menteri. Lantas bagaimana dengan kita-kita yang masih muda ini? Mungkin Greta adalah contoh nyata bagi anak muda yang merasa tidak mampu dan pesimistis. Usianya baru 16 tahun pada tahun ini tetapi langkah yang ditempuhnya benar-benar nyata. Jadi, sudahkah kamu menentukan langkah mana yang akan kamu ambil demi kesejahteraan seluruh umat manusia? 

Kamu bisa menikmati materi Zenius tentang perjuangan menegakkan perdamaian dunia dengan klik tautan di bawah. 

https://www.zenius.net/prologmateri/sejarah/a/430/KONGA

https://www.zenius.net/prologmateri/sejarah/a/332/PeristiwaPascaProklamasi

https://www.zenius.net/prologmateri/sejarah/a/375/Koninklijke-Nederlands-Indische-Leger

Sumber bacaan: 

https://www.thesun.co.uk

https://time.com

https://www.theguardian.com

==========CATATAN EDITOR===========

Perubahan iklim, deforestasi, dan peperangan masih saja terjadi di bumi tercinta kita. Namun di balik itu semua, aku percaya akan selalu ada juru damai yang lahir ke dunia. Apakah kamu salah satunya? Kalau iya, ceritakan padaku rencana kalian dalam mewujudkan kedamaian di dunia. Aku akan dengan sangat senang hati membaca semua kisah kalian. Jadi, sampai jumpa di kolom komentar, yaa. Ciao.  


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

 

Download Zenius App di sini