Nobel Kimia Tahun Ini Diberikan Kepada Tiga Ilmuwan Pengembang Baterai Lithium-Ion

Dalam artikel kali ini, Zenius blog membahas penghargaan nobel kimia 2019 yang diberikan kepada tiga ilmuwan pengembang baterai lithium-ion. Baterai ini bisa menjadi salah satu solusi bagi terciptanya masyarakat yang bebas dari energi fosil. 

Perkembangan teknologi telah banyak membantu manusia dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya. Penemuan roda, penemuan mesin uap, sampai dengan pengembangan teknologi LED yang berhasil membantu kita dalam menghemat konsumsi energi listrik. Penemuan-penemuan ini melibatkan orang-orang hebat. Kontribusi mereka kepada masyarakat berhak atas suatu penghargaan. Salah satunya adalah penghargaan nobel. 

Penghargaan nobel dibagi ke dalam beberapa bidang. Mulai dari ekonomi, fisika, kesehatan, literasi, perdamaian, dan kimia. Selain menerima penghargaan, para peraih nobel juga berhak atas uang senilai 9 juta krona Swedia. Kalau dirupiahkan berapa ya kira-kira? Coba kalau ada yang bisa jawab silakan isi di kolom komentar, ya. 

Pengembangan Baterai Li-ion Dianugerahi Nobel Kimia 2019

Penghargaan nobel kimia 2019 diberikan kepada tiga ilmuwan yang telah mengembangkan baterai lithium-ion. Ketiga ilmuwan ini adalah John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino. Kalau kamu sedang memilih-milih HP dan melihat keterangan bahwa HP yang hendak kamu beli itu ada keterangan li-ion 5000 mAh, berarti baterai dalam HP tersebut terbuat dari lithium-ion dengan kapasitas 5000 miliampere hour (mAh). 

Penggunaan baterai lithium-ion (li-ion) telah diterapkan dalam banyak benda mulai dari ponsel, laptop, hingga kendaraan listrik. Kemampuannya menyimpan daya yang besar, bisa diisi ulang, dan kuat membuat li-ion menjadi pilihan yang sulit ditolak untuk digunakan dalam berbagai benda. Selain itu, li-ion juga dapat menyimpan energi yang diperoleh dari surya dan angin. Hal ini membuat li-ion dapat membantu menciptakan masyarakat dunia yang terbebas dari energi fosil. 

Berawal Dari Krisis Minyak Tahun 70an

Pengembangan baterai li-ion tidak bisa dilepaskan dari terjadinya krisis minyak dunia pada dekade 70an. Krisis minyak ini terjadi karena Arab Saudi bersama OAPEC (negara-negara arab yang tergabung dalam OPEC) menyatakan embargo minyak bumi terhadap Amerika Serikat. Embargo dilakukan karena Amerika Serikat dianggap ikut campur dalam perang Yom Kippur di mana Amerika Serikat menjadi penyuplai persenjataan untuk Israel. Embargo ini berpotensi mengakibatkan kenaikan harga minyak, hingga resesi ekonomi. 

Keadaan dunia yang sedang dilanda krisis tersebut membuat Stanley Whittingham bekerja untuk mengembangkan energi non-fosil. Walau telah mencoba berbagai cara, saat itu penelitian yang dilakukan oleh beliau belum berhasil, guys. Baterai yang diciptakannya saat itu terlalu mudah meledak sehingga berpotensi membahayakan jika digunakan. 

Setelah pengembangan baterai li-ion yang dilakukan oleh Stanley mengalami kegagalan, John Goodenough kemudian melakukan penelitian untuk menyempurnakannya. John Goodenough mengubah material dari material metal sulfida (yang sebelumnya dipakai oleh Stanley Whittingham) menjadi katoda. Ide ini membuahkan hasil ketika ternyata energi yang dihasilkan oleh baterainya berjumlah lebih besar.

Pengembangan yang dilakukan oleh Stanley dan John Goodenough akhirnya dilanjutkan oleh Akira Yoshino. Berangkat dengan ide pemakaian katoda oleh John Goodenough, Akira berhasil menjadikan baterai li-ion menjadi layak dikomersilkan. Hasil dari pengembangan Akira adalah bentuk baterai yang tidak terlalu berat dan dapat diisi ulang berkali-kali. 

Baterai lithium-ion akhirnya benar-benar dipasarkan pada tahun 1991. Sejak itulah penggunaan baterai tipe ini menjadi akrab dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun juga harus diakui bahwa baterai li-ion juga memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Salah satunya adalah jika baterai ini dibuang sembarangan dan tidak diolah dengan tepat. Kandungan yang dimiliki li-ion dapat meningkatkan konsentrasi logam pada tanah. Walau demikian, manfaat yang diterima oleh lingkungan jauh lebih besar dibandingkan dengan kerugiannya. Baterai ini dapat menghasilkan energi yang lebih hijau dan bersih dibandingkan energi fosil. Hal ini menjadi kontribusi bagi penurunan emisi dan gas rumah kaca. 

Siapakah sih Sebenarnya Ketiga Ilmuwan Pembaharu Dunia Energi Tersebut?

Penerima nobel pastinya bukan orang sembarangan dong ya. Mereka telah berkontribusi bagi kemaslahatan kita semua. Tiga ilmuwan penerima nobel kimia 2019 pun memiliki latar belakang yang keren-keren. Bahkan salah satunya juga dinobatkan sebagai penerima nobel tertua sepanjang sejarah penghargaan nobel. 

Ilmuwan pertama adalah Stanley Whittingham. Beliau adalah orang pertama yang berusaha mengembangkan baterai li-ion. Profesor di Binghamton University, New York, ini memperoleh gelar Ph.D dari Oxford University, United Kingdom. 

Selanjutnya adalah John B. Goodenough. Beliau dilahirkan pada tahun 1922 yang membuatnya menjadi penerima nobel tertua sepanjang sejarah penghargaan nobel. Beliau memperoleh penghargaan nobel pada usia 97 tahun. Saat ini beliau menjabat sebagai profesor di University of Texas, Amerika Serikat. 

Akira Yoshino adalah seorang profesor di Meijo University, Nagoya, Jepang. Sebelum terjun di dunia pendidikan, beliau bekerja di perusahaan kimia Jepang bernama Asahi Kasei Corporations. Dari sana kemudian beliau bekerja di laboratorium kawasaki pada tahun 1982 sebelum akhirnya menjabat sebagai manajer pengembangan baterai ion pada tahun 1992. 

Dunia yang Terus Berkembang

Dunia terus berkembang dengan segala perkembangan teknologinya. Baterai li-ion adalah salah satu penemuan yang membantu manusia dalam menjalani kehidupannya. Baterai ini adalah satu komponen penting yang mungkin tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan jika baterai itu tidak pernah ditemukan, mungkin telepon genggam tidak akan seringan atau setipis sekarang. Bahkan bisa jadi telepon genggam tidak akan pernah ada di dunia ini. 

Penemuan-penemuan baru akan terus bermunculan dan kita adalah saksinya. Beberapa dari kita mungkin mengikuti sejarah perkembangan ponsel dari yang bentuknya sebesar batu bata hingga bisa sekecil nokia 1202. 

Pertanyaannya adalah, apakah kita hanya akan jadi saksi saja? 

Dunia terus mengalami perubahan. Teknologi-teknologi baru senantiasa bermunculan setiap hari. Pastinya akan menyenangkan untuk menyaksikan segala perubahan di sekitar kita. Stanley Whittingham merespon krisis yang sedang terjadi saat itu dengan berupaya mengembangkan sumber energi alternatif di saat orang lain mungkin sibuk dengan hal lain. Well, semuanya kembali kepada kita masing-masing. Menjadi saksi sejarah adalah pilihan dan menjadi pelaku sejarah adalah pilihan lain. Selamat belajar dan merenung, pembaca sekalian. 

Sumber bacaan: 

https://www.nobelprize.org/prizes/chemistry/2019/press-release/

==========CATATAN EDITOR===========

Ada yang sangat menggemari mata pelajaran kimia dan ingin menjadi ilmuwan di bidang kimia? Kalau ada, ceritakan padaku apa yang ingin kalian ciptakan dalam dunia kimia. Bermimpi untuk membuat penemuan tidak ada salahnya, terlebih jika penemuan kamu nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Aku pun akan dengan sangat senang hati membaca semua kisah kalian. Jadi, sampai jumpa di kolom komentar, yaa. Ciao.  


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

 

Download Zenius App di sini