Berpotensi Menimbulkan Konflik, Kenapa Perdagangan Internasional Terus Saja Terjadi?

Dalam artikel kali ini, Zenius Blog membicarakan bagaimana perdagangan internasional dapat terjadi.

Beberapa waktu yang lalu, dunia internasional mengalami gonjang-ganjing. Bagaimana tidak? Dua raksasa sedang saling serang. Perekonomian dunia pun jadi tak tentu arah. Amerika Serikat dan Tiongkok secara bergantian menerbitkan kebijakan yang berpotensi saling merugikan. Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang mengakibatkan beberapa merk dari Tiongkok tidak lagi diperbolehkan masuk ke wilayahnya. Tiongkok pun tak mau hanya berdiam diri saja. Tiongkok sempat meningkatkan tarif bagi barang-barang dari Amerika Serikat yang memasuki wilayah kedaulatan Tiongkok. 

Keadaan yang demikian tidak menentu berakibat pada tidak stabilnya perekonomian dunia. Imbasnya, investor tidak mau mengambil risiko dengan berinvestasi di area yang tidak stabil, misalnya saham. Emas sebagai salah satu ladang investasi paling stabil pun menjadi primadona di tengah ketidakstabilan kondisi. Harga emas di Indonesia bahkan sempat memecahkan rekor saat menembus angka 726 ribu rupiah per gram. 

Perang dagang dan instabilitas ekonomi merupakan beberapa risiko yang terjadi dalam perdagangan internasional. Dengan risiko yang seperti itu, mengapa negara-negara di dunia tetap saja melaksanakan kerjasama perdagangan? Tidakkah ada niatan bagi suatu negara untuk berdiri di atas kaki sendiri saja? 

Pastinya ada alasan di balik kerjasama yang dilakukan negara-negara di dunia.

Coba kalian simak dulu deh video dari Zenius yang satu ini kalau kalian beneran kepo mengapa negara-negara harus menjalankan perdagangan internasional. 

https://www.zenius.net/c/5507/perdagangan-internasional-teori

Setidaknya ada 4 alasan mengapa negara-negara di dunia melangsungkan perdagangan internasional. 

  • Sumber Daya Alam

Arab Saudi adalah negara yang sangat kaya akan minyak bumi. Sejak dulu, Arab Saudi telah tergabung dalam OPEC. OPEC sendiri merupakan organisasi bagi negara-negara pengekspor minyak bumi. Arab Saudi memang kaya dalam sumber daya minyak bumi. Akan tetapi, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, warga Arab Saudi tidak hanya membutuhkan minyak bumi. Mereka juga memerlukan sumber daya lain seperti karet. 

Indonesia sempat menjadi anggota OPEC. Belakangan, Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari organisasi tersebut. Produksi minyak bumi Indonesia tak lagi sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga Indonesia tidak lagi mengekspor minyak bumi keluar negeri. Karena produksi dalam negeri ternyata belum mencukupi kebutuhan, Indonesia pun membutuhkan pasokan minyak dari negara lain. 

Keadaan yang dialami Arab Saudi dan Indonesia jamak terjadi di dunia internasional. Ada negara yang kaya akan satu sumber daya tetapi kurang dalam sumber daya lain. Keadaan yang seperti itu menyebabkan terjadinya perdagangan internasional. Dalam contoh kasus di atas, Arab Saudi memperdagangkan minyak buminya ke Indonesia. Sedangkan Indonesia menjual karetnya kepada Arab Saudi. 

Kekayaan sumber daya alam yang berbeda-beda menjadi salah satu alasan mengapa terjadi perdagangan internasional. 

  • Selera

Coba cek di kamar kamu sekarang juga. Masuklah dan buka lemari pakaian kamu. Adakah pakaian-pakaian bermerk seperti Supreme, Anti Social-social club, Stussy, Levis, atau brand luar negeri lain? 

Pertanyaannya adalah, mengapa kamu membeli pakaian impor? Apakah karena selera? 

Selera menjadi salah satu alasan mengapa perdagangan internasional terjadi. Tidak selamanya perdagangan internasional dilakukan karena alasan kurangnya sumber daya alam tertentu saja. Adanya selera masyarakat terhadap komoditas tertentu pun bisa menjadi salah satu faktor terjadinya perdagangan internasional. 

  • Efisiensi

Alasan berikutnya adalah efisiensi. Terkadang biaya yang dikeluarkan saat membeli bisa lebih murah dari membuatnya sendiri. Oleh sebab itu, atas nama efisiensi anggaran, kebijakan yang diterapkan adalah membeli dan bukannya memproduksi. 

Misalkan ada satu negara yang sebenarnya sanggup membuat mobil. Sumber daya manusia negara tersebut sanggup dan menguasai benar pengetahuan yang diperlukan dalam memproduksi mobil. Namun dikarenakan anggaran negara tadi sudah habis untuk mengatasi kelaparan dalam negeri, produksi mobil urung dilakukan. Padahal keberadaan mobil sangatlah dibutuhkan dalam distribusi dalam negeri. Dengan keadaan yang seperti itu, pemerintah melakukan impor mobil dari negara lainnya. 

Nah, apakah kamu mengetahui contoh kasus seperti itu yang terjadi di Indonesia? Share di kolom komentar, ya. 

  • Perbedaan Teknologi

Untuk melindungi kedaulatan, Indonesia membutuhkan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) yang memadai. Persoalannya, negara-negara yang berpotensi dapat mengganggu kedaulatan Indonesia ternyata memiliki teknologi yang lebih maju. Misalkan negara A memiliki peluru kendali (rudal) dengan daya jelajah sejauh 2000 kilometer. Di sisi lain, Indonesia hanya mempunyai rudal yang jarak jelajahnya hanyalah sejauh 100 kilometer. Perbedaan teknologi yang seperti ini berpotensi merugikan Indonesia. Akhirnya, Indonesia memutuskan untuk mengadakan perdagangan internasional dengan negara yang sanggup memproduksi rudal dengan kekuatan setara atau lebih baik. 

Perdagangan internasional memiliki manfaat yang dapat didapatkan oleh para negara yang melakukannya. Oleh sebab itulah, walau harus menghadapi risiko yang tidak kecil, negara-negara di dunia tetap melangsungkan perdagangan internasional dengan negara lain. Begitu juga dengan Amerika Serikat dan Tiongkok. Meskipun sempat mengalami ketegangan yang berpotensi menjadi perang dagang, perdagangan akan terus dilakukan. 

==========CATATAN EDITOR===========

Pastinya kamu-kamu semua punya opini-opini sendiri terkait perdagangan internasional. Nah, coba deh kamu share di kolom komentar dan bagikan opini kamu. Aku akan dengan sangat senang hati membaca semua kisah kalian. Jadi, langsung komentar aja, yaa. Ciao.  

 


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

Download Zenius App di sini