Di Jurusan Ilmu Politik Itu Belajar Apa, Sih?

Artikel ini membahas tentang jurusan Ilmu Politik; apa saja kajiannya, ruang lingkup belajarnya, hingga peluang kariernya.

Halo semua, balik lagi nih sama gue, Hilman. Buat lo yang lagi cari-cari mau kuliah di jurusan apa, gue akan berbagi cerita tentang “belajar apa aja waktu dulu gue kuliah” dan apakah lo bakal sesuai dengan jurusan ini. Kali ini gue mau ngomongin teentang jurusan Ilmu Politik. Berhubung artikel gue yang sebelumnya membahas tentang pemilihan umum, gue lanjutin topiknya seputar politik juga, ya.

Ada satu hal unik di pikiran banyak orang kalo denger ada orang kuliah ilmu politik. Kata orang-orang itu:

ilmu politik? wah hebat banget; nanti jadi caleg/cagub/capres bisa menang ya. kerjanya nanti di MPR/DPR/Parpol (partai politik) ya?

Bener gak sih? Sebenernya anggepan macem gitu ga mengherankan. Kenapa? Ya karena prodi ilmu politik ngebawa kata “politik” di dalemnya. Orang-orang tentu bakal mikirnya kalo ga MPR/DPR, anggota dewan, gubernur, bupati/walikota, menteri, presiden, gitu-gitu deh. Hal-hal tadi memang bakal jadi makanan kuliah keseharian kita di prodi (program studi) ilmu politik, tapi dalam rupa yang berbeda yaitu dalam bentuk keilmuan. Singkatnya, kita bakal ngomongin politik dalam latar belakang tertentu, ada permasalahannya, ada kerangka teorinya, ada proses penelitiannya, dan ada hasil yang bisa diuji keabsahannya. Jadi, supaya lo gak penasaran lagi, yuk simak pembahasan gue berikut ini:

Ilmu Politik Itu Belajar Apa Aja?

Buat lo yang udah baca artikel Rifad tentang “jurusan Hubungan Internasional”, artikel ini bakal jadi semacam lanjutan dari artikelnya Rifad. Yups, HI sama ilmu politik itu merupakan satu kesatuan yang hubungannya susah dipisahkan. Sama seperti HI yang punya titik awal kemunculan, ilmu politik juga baru-baru ini muncul sebagai ilmu.

Nah, ada TAPI nya nih. Politik sebagai (calon) ilmu pengetahuan itu sebenernya udah lama jauh di peradaban dunia kuno, tepatnya di era Yunani & Romawi kuno. Masalahnya, di zaman dulu itu ilmu politik masih berwujud sebagai cabang ilmu yang ngomongin baik dan buruk dalam kehidupan bernegara. Selepas zaman klasik, ilmu politik juga masih ngomongin moral melulu. Rasanya kayak bukan ilmu tapi kayak norma dan etika hidup. Tetiba, di zaman renaisans ada orang namanya Niccolo Machiavelli. Bisa gue bilang; dialah pemikir pertama yang membawa ilmu politik menuju (agak mirip) ilmu pengetahuan. Fast-forward, dengan banyak pemikir di era Enlightment (Aufklarung) yang banyak pemikir dan pemikirannya pada lahir (semisal Voltaire, René Descartes, Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, Immanuel Kant, dan banyak deh sampe cape gue), ilmu politik semakin hari semakin “pantas” dibilang sains layaknya ilmu alam macam biologi, fisika, dan kimia.

Tahun penting ilmu politik ga jauh-jauh dari tahun pentingnya HI kok. Kalo HI dianggap konkret jadi cabang ilmu pengetahuan pas Chair of International Relations didirikan di Aberystwyth, Inggris pada tahun 1919, ilmu politik dianggap serupa pas American Political Science Association didirikan tahun 1903 di Amerika Serikat. Kantor sekretariatnya ada di Washington D.C.

Belajar apa lo nanti di prodi ilmu politik? Jadi gini. Untuk membahas ilmu politik, ada tiga “cara mengulik isu” (atau istilah keilmuannya adalah “pendekatan”) yang lazim dipake, yaitu Institutionalisme, Behavioralisme, dan Post-Behavioralisme. Singkatnya lo akan membahas dari mulai konsep dasar ilmu politik, lembaga politik, aktor politik, sosiologi (gampang lah, sedikit kok) filsafat (secuil kok), hukum (sedikit aja), bahkan sejarah (sedikit juga), sampe belajar fakta terkini, metode penelitian sosial dan politik, konsep-konsep sosiologis hingga psikologis, dan pengolahan data kuantitatif alias STATISTIK. HAYO mana suaranya yang mau kabur dari matematik terus milih jurusan sosial humaniora? Tidak semudah itu kau bisa kabur, Bambang. (Kan udah dibilangin sama Faisal di sini kalau keterampilan matematika itu harus selalu dibawa.)

Terus, ilmu politik itu singkatnya belajar apa? Jadi, ilmu politik adalah ranah ilmu pengetahuan yang berusaha menjelaskan seluk-beluk politik, yaitu sebuah fenomena terjadinya perebutan dan perlombaan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan yang berlangsung dalam rangka menjalani kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kira-kira jelas ya? Banyak sih definisi lain semisal dari Bu Miriam Budiarjo, atau Mister Andrew Heywood, atau Lord Acton, tapi gue mencoba mendefinisikan sendiri. Disini, lo gabakal diajarin cara kampanye; atau cara pidato, atau pilih partai politik yang mana yang bagus. Lo bakal dilatih menjadi ilmuwan politik; yaitu orang yang mampu mengamati, menelaah, dan menjelaskan hingga memberi solusi tentang fenomena berebutnya manusia-manusia untuk kekuasaan; dengan metode yang teruji dalam kaidah ilmiah. Untuk refresh lagi gimana sih kira-kira yang namanya ilmiah itu, lo bisa cek di artikel zenius yang ini.

 

Mata Kuliah Yang Dipelajari di Ilmu Politik

Supaya lebih kegambar nyata tentang belajar apa aja di ilmu politik, gue akan kasih contoh berupa tabel mata kuliah di prodi ilmu politik Universitas Indonesia. Selain karena gue dulu kuliah disitu, cakupan mata kuliah di UI ini cukup bisa mewakili keseluruhan prodi ilmu politik di kampus lain sekaligus makna dari pelajaran ilmu politik itu sendiri. Berikut gambarnya.

Daftar Mata Kuliah di Program Studi Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Pertama lo masuk (semester 1), yaa bakal dikenalin ke kehidupan keilmuan di kampus. Lo juga bakal dikenalin ke perkenalan keilmuan sosial secara umum. Jadi, kita bakal belajar gak cuma dasar-dasar ilmu politik. Ada juga dasar-dasar Sosiologi dan Antropologi yang perlu dipelajarin untuk memperluas pengetahuan konseptual kita. Setiap semester dan secara berjenjang (semester 1, 2, 3, 4, 5, dan 6), lo juga bakal diajarin caranya menjadi ilmuwan sosial; alias cara bisa meneliti fenomena sosial-politik. Seiring semester, lo juga dikasih pengetahuan politik yang berjenjang. Pelan-pelan dulu dari konsep dasar ilmu politik (semester 1 dan 2), terus keadaan sistem politik di sekitar kita (semenjak semester 2), terus filsafat dasar politik (semester 3), atau isu-isu politik semacam HAM, perempuan, ekonomi dan bisnis, perkotaan dan perdesaan, sampai identitas dan kewarganegaraan. Nanti, mata kuliah yang harus lo ambil harus bercabang deh sejak semester 3.

Bagi lo yang mau fokus tentang gimana sih pembangunan politik di Indonesia, maka lo akan harus ambil mata kuliah yang sifatnya Indonesia banget alias peminatan Politik Indonesia (dulu namanya Sistem Politik Indonesia/Politik & Demokratisasi di Indonesia). Bagi lo yang pengen tau gimana fenomena politik di negara lain, lo bisa ambil Perbandingan Politik. Eits, lo gakan bahas hubungan internasional ya. Di peminatan ini, lo belajar gimana kehidupan politik di banyak negara yang dibagi di kawasan-kawasan dunia. Gimana sih negaranya? Parlemennya kek mana? Siapa yang berkuasa? Partainya apa aja? Hukumnya gimana? Masyarakat sipilnya gimana? Pemilunya? Sampe ke topik-topik yang mirip HI dikit semacam: pentingnya apasih negara ini buat tetangganya? Sekilas mirip HI, tapi lo tetep dituntut untuk kembali mengungkap tujuan semula: gimana proses kehidupan berjalannya kekuasaan di negeri yang dimaksud. Bahkan, lo juga bisa membandingkan fenomena politik antara satu negara dengan negara lain. Oh ya, bisa gak peminatan politik Indonesia ambil mata kuliah perbandingan politik dan sebaliknya? Bisa.

Oh ya, gue mau ngasih contoh ilustrasi spesifik tentang mata kuliah di prodi ini. Gue ambil contohnya yang peminatan perbandingan politik yah, karena yang gue ambil ya itu. Semisal ada mata kuliah “Politik di Malaysia, Singapura, dan Brunei” (MASINBRU), kemudian ada mata kuliah “Politik di Indocina” (INDOCINA), atau “Politik di Asia Timur” (ASTIM), “Politik di Timur Tengah” (TIMTENG), “Politik di Eropa Barat” (EROBAR), dan sebagainya. Di kelas MASINBRU misalnya, lo akan belajar gimana sih sistem pemerintahan Malaysia, parpol di Malaysia, dan perkembangan terkini tentang politik Malaysia. Singapura dan Brunei juga sama. Nanti, lo diminta memahami nih apa persamaan 3 negara itu. Contohnya : tiga negara tadi sama-sama eks-jajahan Inggris yang 2 di antaranya masih mewarisi kebijakan kolonial seperti kebijakan rasisme dalam kehidupan berbangsanya. Atau misalnya di kelas INDOCINA, lo akan belajar sejarah politik Kamboja, Vietnam, dan Laos. Terus gimana sistem politik mereka dan kekiniannya. Lo akan diminta analisis semisal kenapa ketiganya punya ideologi yang sama, misalnya komunisme. Lo juga bakal perlu analisis ada ga hubungan komunisme sama status mereka sebagai eks-jajahan Prancis, atau kenapa komunisme masih hidup disana meskipun komunismenya terbuka dengan dunia luar.

Poin yang menarik dari para mata kuliah negara-negara dunia itu adalah: selalu ada Amerika Serikat di semua mata kuliah itu. Di Singapura, ada Amrik yang jadi sekutu mereka. Di Indocina, Amrik pernah perang di Vietnam dan sekarang ada kerjasama ekonomi. Di Cina, Korea, dan Jepang apalagi. Di Pakistan, India dan Sri Lanka, ada Amerika yang jadi rekan dagang dan rekan militer (apalagi India sama Pakistan punya nuklir). Di Timur Tengah mah jangan ditanya. Lo akan melihat peranan Amerika Serikat di hampir semua perjalanan kehidupan politik semua negara-negara dunia, entah itu di zaman dulu, di zaman pembangunan, apalagi di zaman-zaman sekarang.

Ngomong-ngomong; sama seperti HI, kompetensi praktik yang ditawarkan di prodi ilmu politik juga tidak banyak. Selain kompetensi keilmuan (pasti, lah), ada juga latihan magang yang sifatnya wajib di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kita diminta bisa mencari sendiri anggota dewan (selanjutnya akan gue singkat “MP”; Member of Parliament), yang bersedia untuk membuka lowongan magang mahasiswa ilmu politik (mayoritas MP pada buka kok!) Ngapain tuh? Ini bertujuan supaya kita bisa mengamati langsung kegiatan politik yang berlangsung di tempat yang emang kental sama nama politik; yaitu di parlemen. Kita bisa diajak ikut (nonton aja ya) rapat kerja, rapat paripurna, rapat dengar pendapat & pendapat umum, bahkan ikut bantu nyusun laporan akademis, turun ke masyarakat, dan banyak lagi. Kalo di Biologi kan spesimennya misalnya kodok, kelabang, ikan, atau apa gitu; nah kalo ilmu politik ya spesimennya ya lo, gue, lembaga negara, masyarakat, surat suara, sampai anggota dewan. Presiden juga bisa. Kita diajak untuk lihat langsung kehidupan “spesimen” ilmu kita; gimana cara kerjanya.

Ilustrasi Ilmu Politik. Spesimennya ya Negara dan Pemerintah.

Seru juga kan liat anggota dewan lagi rapat paripurna tentang harga BBM, atau UU ITE, atau diajak turun ketemu masyarakat, atau kalo lagi hoki; rapat terbuka Komisi X DPR-RI dengan Kemendikbud atau Kemenristekdikti lagi ngomongin kisi-kisi soal HOTS UN & SBMPTN (yakali).

Rapat Paripurna DPR.

 

Peluang Karier Untuk Prodi Ilmu Politik

“Kerja apa ya gue entar kalo bisanya cuma meneliti fenomena politik?” Nah, di sini gue akan cerita beberapa prospek karier yang sama dan serupa dengan apa yang dipelajari kalo kita kuliah di ilmu politik. Gue bagi jadi dua kelompok besar, yaitu peneliti dan non-peneliti. Gue bagi begini karena ada yang spesial dari peneliti ilmu politik sampe-sampe harus dibikin kelompok sendiri.

Peneliti

Ilmu yang didapet pas kuliah bisa langsung kerasa banget kepake kalo lo jadi peneliti. Ada banyak tempat yang butuh peneliti politik; entah di kampus sebagai asisten dosen, dosen peneliti; atau di lembaga think-tank seperti CSIS (Centre for Strategic and International Studies), CIPS (Centre for Indonesian Policy Studies); sampai di lembaga survey dan konsultan politik seperti SMRC (Saiful Mujani Research Center), Populi Center, sama yang terkenal baru-baru ini dari Amerika Serikat yaitu Cambridge Analytica (Fun Fact: Cambridge Analytica adalah lembaga survey dan konsultan politik yang membantu Donald Trump menang di pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2016).

Peneliti politik kerjanya ga cuma bikin penelitian yang sifatnya mengembangkan pengetahuan alias ngembangin ilmu murni belaka. Dia juga bisa menghasilkan penelitian yang sifatnya terapan, entah itu untuk kalangan bisnis dan industri, sampai kalangan politikus. Disinilah ilmu politik bisa membuat peneliti politik jadi manusia ajaib. Kenapa? Nanti di tingkat yang lebih tinggi, ada ilmu yang bisa dipake untuk cari data untuk menangin kandidat, cara ngubah pandangan masyarakat, cara  giring opini publik, dampaknya kalau ada koalisi ini, apa yang terjadi kalo kandidat ngomong itu, sampe prediksi kapan sebuah rezim bisa jatuh atau bangun. Prediksi tersebut gak ngasal kayak ramalan dukun; melainkan ada kerangka konseptualnya semisal yaitu Game Theory. Itu adalah perpaduan konsep-konsep ilmu politik dengan kalkukasi matematis yang bisa dipake untuk memperkirakan aktivitas aktor politik bahkan aktor ekonomi. Nah, gitu ya gambarannya kira-kira. Ini salah satu ilmu tingkat atas banget dari ilmu politik deh. Ini dia yang spesial dari peneliti ilmu politik. Sama seperti master Kung Fu, perlu bertahun-tahun belajar dan latihan supaya dapet skill dan feel pengalamannya supaya bisa jadi peneliti tingkat tinggi. Mantep ya? Makanya belajar yang rajin DAN senantiasa kuasai dengan baik ilmu matematika.

Ilustrasi Analisis Game Theory Dalam Kasus Cuban Missile Crisis.

Non-Peneliti

Untuk non-peneliti, ada beberapa pilihan yang bisa dilirik.

Pilihan pertama: ASN (Aparatur Sipil Negara) atau umumnya kita sebut PNS (Pegawai Negeri Sipil). Selain HI, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga menerima para sarjana ilmu politik untuk menjadi diplomat. Untuk peluang-peluang formasi lain di lembaga pemerintahan lain, berikut tabel daftar kemungkinan badan pemerintahan yang menerima sarjana ilmu politik beserta gambaran singkat kerjaan yang bakal dijalanin. Tentu, prospek ASN bagi sarjana ilmu politik ga sesedikit daftar di tabel ini. Satu yang pasti, sarjana ilmu politik dianggap memahami dengan baik komponen politik dan pemerintahan (misalnya birokrasi); jadi diharapkan bisa membantu kinerja pemerintahan. Makanya, salah satu prospek terbesar sarjana ilmu politik adalah ASN ini.

Daftar Badan Pemerintahan yang Membutuhkan Lulusan Sarjana Ilmu Politik

Pilihan kedua: Pegawai Organisasi Internasional, NGO (Non-Governmental Organization), dan Kedutaan Besar Negara Asing di Indonesia. Kalau organisasi internasional seperti PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ASEAN (Association of Southeast Asia Nation) sudah pasti membutuhkan orang-orang yang punya keterampilan pengetahuan ilmu politk. Alasan yang paling umum adalah untuk memastikan dan mengembangkannya jalannya operasional kegiatan mereka di negara kita. Kalo keterampilan kita udah mahir banget nih, kita bakal dibutuhkan lagi di misi berskala mancanegara. Semisal, PBB butuh orang untuk melaksanakan proyek bantuan yang ada hubungannya dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Tertinggal. Untuk kedutaan besar negara asing, mereka cukup sering butuh analis politik atau orang dengan fungsi kerja lainnya untuk bisa memperlancar kinerja mereka di Indonesia. Sarjana ilmu politik bisa berkontribusi dengan memberikan pandangan dan masukan politik yang berdasarkan data dan fakta serta terpercaya secara keilmuan untuk bisa digunakan sebagai informasi bagi kebutuhan kerja kedutaan besar negara asing di Indonesia. Gitu yak gambarannya kira-kira. Oh, satu lagi. Berbeda dengan HI, gue gak ngasih contoh tentang NGO yang spesifik untuk anak HI. Hampir semua NGO bisa butuh anak-anak ilmu politik, karena mereka butuh orang yang paham dan bisa menganalisis serta menjadi jembatan antara NGO dengan kondisi politik di tempat NGO tersebut beroperasi. Dengan kata lain, lo bakal jadi orang yang dituntut untuk mengerti dan menghubungkan NGO dengan pemerintah; misalnya.

 

Jadi, Apa Gue Cocok Masuk Ilmu Politik ?

Sekarang giliran lo untung hitung-hitungan diri. Cocok gak nih buat milih prodi ilmu politik? Selain baca baik-baik saran dari Glenn tentang milih jurusan untuk kuliah (cek artikelnya di sini), Tanya lagi banyak-banyak ke diri sendiri. “Minat gak lo sama prodi ini? Kenapa minat? Abis belajar apa kok bisa minat? Mau di kampus mana? Prospek karirnya pas kah? Ilmu yang lo mau pelajarin bisa buat apa entar? Bla bla bla dan seterusnya dan seterusnya. Apapun pilihan lo, 3 hal wajib ini harus selalu dibawa di pilihan prodi apapun: matematika, kemampuan ilmiah, dan kemampuan menulis.

Setelah lo nimbang-nimbang dengan matang dan ternyata melirik prodi ilmu politik, gue harap artikel ini memberi informasi yang lo butuhkan untuk nimbangnimbang lebih mateng lagi alias supaya ga asal milih prodi ini karena hal simple X atau Y atau Z udah gada pertimbangan lanjutan. Misal: lo minat dan mahir banget sejarah nih, terus jadi kepo sama ilmu politik tapi ga mikirin apa yang nanti dijalanin 3, 5, bahkan 10 tahun ke depan. Setidaknya, disini kita udah ngobrol tentang gimana sih prodi ilmu politik. Pertama sih gue pengen mengingatkan kembali seperti yang sudah disebutkan Rifad tentang sedikit perbandingan dengan ilmu hubungan internasional:

Kalo lo lebih tertarik pada teori filosofis di balik ideologi politik, urusan politik di negara tertentu dan bertujuan untuk berkarier di dunia politik secara spesifik maka akan cenderung lebih cocok jika lo belajar di Ilmu Politik. Kalo lo justru tertarik pada pemahaman politik kontemporer di tingkat global dengan melihat masalah yang memengaruhinya secara luas, tertarik dengan sifat interdisipliner (lintas ilmu pengetahuan), memiliki minat khusus dalam bidang HI seperti keamanan internasional, atau ekonomi-politik internasional, dan ingin terjun dalam karier politik internasional seperti diplomasi, maka lo cocok untuk belajar di jurusan Hubungan Internasional.”

Kedua, gue pengen menyampaikan bahwa kuliah ilmu politik tidak mengajarkan lo bagaimana berpolitik alias politik praktis. Semisal: latihan kampanye, pidato, lobi-lobi, kaderisasi partai, bukan begitu.

Di sini, kita belajar bagaimana melihat fenomena permainan kekuasaan sebagai fenomena yang bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Disini juga, kita akan belajar bahwa politik itu abu-abu, alias semakin sulit dicari benar atau salahnya karena dari segi keilmuan, untuk bilang A memengaruhi B aja kadang susahnya minta ampun; apalagi kalo bilang A itu baik/buruk. Walhasil, kita jadi belajar untuk kritis, toleran, dan bijak dengan fakta kehidupan terutama yang menyangkut kehidupan politik. Saking sulitnya, setiap kali kita pengen partisan (memihak) di setiap isu atau kandidat politik tertentu, kita pasti pengen ngelepas keterkaitan kita dengan ilmu politik alias “bicara sebagai rakyat biasa.” Why? Karena kita malu kalo kita dukung A dan bilang A itu bagus tapi gabisa buktiin demikian karena sebegitu rumitnya. Ngomong-ngomong partisan (keberpihakan), kebetulan banget di tahun 2019 ini bakal ada pemiliham umum (presiden, legislatif, nah bedanya apatuh? Coba cek di sini). Di masa-masa hangat yang banyak berseliweran hoaks, kampanye hitam, dan kebencian ini, diharapkan ilmu politik bisa jadi insight keilmuan yang bisa meluruskan fakta, menenangkan keadaan, mendamaikan, dan membangun kesadaran toleransi sebagai saudara sebangsa Indonesia. Semisal: lo bisa menjelaskan kenapa utang luar negeri Indonesia itu perlu atau tidak; bahaya atau tidak, kemudian lo bisa memahami fenomena memilih berdasarkan agama, atau lo bisa mengerti kondisi partai politik di Indonesia disebabkan apa saja, atau menelusuri akar kebutuhan keragaman masyarakat Indonesia, dan lain-lain; dengan penjelasan yang berbasis data dan fakta.

Ketiga, gue pengen mengingatkan bahwa seandainya prodi ini lo pilih atau prodi apapun itu, inget bahwa belajar lo gak akan pernah selesai. Kita adalah lifelong learners. Belajar itu harus berkelanjutan, belajarlah sampe mati. Kenapa? Karena ilmu dan kehidupan itu berkembang terus, dan kita perlu selalu update. Jadi gitu ya. Bagi lo yang berminat untuk belajar tentang seluk-beluk dan hiruk pikuk bermain kekuasaan, dan berminat untuk membangun kehidupan bernegara dan berbangsa yang lebih makmur sejahtera, selamat datang di ilmu politik. Nah, sebelum lo bisa belajar yang begitu, rajin-rajinlah belajar buat SBMPTN supaya lo bisa dapet kesempatan belajar hal gede yang gue sebutin tadi. Oke? Sampe ketemu di obrolan artikel berikutnya yah. Good luck! Semoga artikel ini bisa memberikan gambaran akan Ilmu Politik buat lo, ya!

 

Referensi
Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Heywood, Andrew. 2013. Politik. Edisi Ke-4. Terj. Ahmad Lintang Lazuardi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Farr, James. 1988. The History of Political Science. American Journal of Political Science. Vol. 32, No. 4 (Nov. 1988) Hlm. 1175-1195
https://en.wikipedia.org/wiki/Political_science

—————————CATATAN EDITOR—————————

Jika kamu ingin bertanya seputar jurusan Ilmu Politik ke Hilman, silakan post pertanyaan kamu di kolom komentar, ya!


Dapatkan pengalaman belajar yang semakin seru dan bikin ketagihan dengan Zenius!

Daftar Membership Zenius

 

Download Zenius App di sini