Di Jurusan Hubungan Internasional (HI) Itu Belajar Apa, Sih?

Artikel ini membahas tentang seluk-beluk jurusan Hubungan Internasional, mulai dari pembelajaran di dalamnya, hingga potensi karier lulusannya.

Halo, guys! Jumpa lagi dengan gue, Rifad. Kali ini gue pengen memenuhi permintaan dari beberapa pembaca Zenius Blog, yaitu membahas tentang jurusan Hubungan Internasional (HI) di Indonesia. Kebetulan, gue sendiri adalah mahasiswa di jurusan HI ini, jadi, gue akan bantu jawab rasa keingintahuan lo akan jurusan ini. Nah, selama gue jadi mahasiswa Hubungan Internasional, gue sering banget denger pertanyaan dan pernyataan seperti ini:

Mau jadi diplomat ya, Kak? Enak banget bisa menjelajahi dunia!

HI harus bisa berapa bahasa, sih?

Wah enak ya HI keliling dunia mulu dong!

Gak salah, tapi juga gak  100% bener, sih. Meski jurusan HI identik dengan profesi diplomat, gak semerta-merta lo akan keliling dunia dan harus menguasai banyak bahasa asing, Ini miskonsepsinya bukan hanya di jurusan HI, tapi juga di profesi diplomat itu sendiri. So, yang bener itu di HI kita ngapain, dong? Yuk, kita bahas

Gue seneng sih jadi banyak yang tertarik dan ambil jurusan HI sebagai pilihan S-1-nya. Apalagi HI termasuk salah satu jurusan dengan passing grade yang cukup ketat tiap tahun di hampir masing-masing universitas. Di tahun gue masuk aja (tahun 2015), kuota untuk masuk HI Universitas Indonesia lewat jalur tulis via SBMPTN aja cuma 15 buat seluruh Indonesia. However, ada beberapa di antara temen gue yang ternyata ‘tersesat’ di jurusan HI atau bahkan memilih untuk pindah ke jurusan lain tiap tahunnya setelah mengetahui ekspektasi yang dibayangkan tidak sesuai dengan realitas. Oleh karena itu, by this article, gue pengen coba meluruskan asumsi yang beredar agar lo setidaknya bener-bener suka atas keputusan lo menjadikan HI sebagai karir akademik kelak.

 

HI Itu Belajar Apa, Sih?

Untuk memahami ruang lingkup dari jurusan HI, lo perlu tau awal mula kemunculan HI sebagai ilmu. Disiplin ilmu HI itu sendiri muncul dari sebuah upaya untuk memahami berbagai penyebab perang dan perdamaian dalam politik internasional. Secara konkret, setelah Perang Dunia I barulah didirikan Chair of International Relations di Aberystwyth, Inggris pada tahun 1919. Fakta historis tersebut menunjukan bahwa HI merupakan bagian dari departemen Ilmu Politik dan hingga kini keduanya saling berkaitan satu sama lain. Contohnya, Department of Politics & International Relations di University of Oxford atau Department of Politics & International Studies di University of Cambridge.  Terlebih lagi, HI merupakan ilmu yang interdisipliner yang artinya pendekatan ilmunya membutuhkan ilmu lain seperti Sejarah, Politik, Sosiologi, Ekonomi, Antropologi, Psikologi, and so on.

Diskusi mengenai isu internasional, hal yang umum dilakukan di jurusan HI

Jadi, HI itu apa? Hubungan internasional itu merupakan ilmu yang mencoba menjelaskan interaksi negara dalam sistem global dan interaksi aktor lain yang perilakunya berasal dari satu negara yang ditargetkan ke negara atau aktor lain di luar batas negara. Dengan kata lain, HI mempelajari interaksi negara, swasta, lembaga antarpemerintah dan non-pemerintah dalam konteks global. Tentunya, interaksi ini dilihat dari bagaimana relasi kuasa (power) dalam hubungan tersebut dijalankan. Wih, textbook banget ya kayaknya gue! Haha, sebenernya nama jurusannya (Hubungan Internasional) itu sendiri udah self-explanatory, kok, guys, jadi lo gak perlu berpikir bahwa definisinya ribet.

Titik tolak perkembangan disiplin ilmu HI adalah pasca Perang Dunia II alias periode Perang Dingin yang hadir sebagai upaya untuk mencegah risiko konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Soviet. Kalo lo penasaran bagaimana kentalnya nuansa HI di era Perang Dingin lo bisa nonton film Thirteen Days yang menceritakan tarik-menarik kepentingan AS-Uni Soviet saat Krisis Misil Kuba. Nah, fokus HI di periode pasca Perang Dingin hingga sekarang jauh lebih beragam. Pertama, konflik yang muncul tidak hanya antarnegara (interstate) tetapi juga intrastate seperti hadirnya konflik etnis, separatisme dan terorisme. Kedua, bahasan mengenai globalisasi dan integrasi ekonomi yang meluas juga menjadi kajian arus utama disiplin HI. Ketiga, ide mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan isu lingkungan seperti perubahan iklim juga menjadi elemen penting dalam disiplin HI zaman now. Terakhir, HI juga sekarang mulai membahas bagaimana artificial intelligence (AI) dan ruang angkasa berperan dalam politik internasional. Asyik, kan?

 

Mata Kuliah Yang Dipelajari di HI

Secara teori, mahasiswa/i HI di awal perkuliahannya perlu memahami konsep dasar ilmu HI dan fakta-fakta historis di dalamnya. Biasanya, kedua isu ini dibahas dalam Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Selanjutnya, bahasan mengenai diplomasi, dimensi hukum, kebijakan luar negeri hingga kerangka pemikiran mengenai institusi internasional adalah fondasi penting dalam memahami percaturan politik dunia. Kemudian, mahasiswa/i HI disuguhkan pendekatan isu yang mencakup studi keamanan dan strategis (perang, resolusi konflik, sistem pertahanan hingga terorisme), ekonomi-politik internasional (produksi, perdagangan, pembangunan, dan keuangan global) dan kajian sosial-budaya secara transnasional (HAM, gender, identitas, migrasi hingga lingkungan). Terakhir, pada umumnya mahasiswa/i HI mendapatkan materi perkuliahan yang berfokus pada kajian kawasan/region dalam suatu benua melalui perspektif politik sebagai dasar seperti kajian Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa Barat, Afrika, Australia, Amerika Latin dan masih banyak lagi tergantung dari kebijakan departemen di universitas tersebut.

Namun, disiplin HI tidak memiliki banyak mata kuliah yang bersifat praktik. Secara umum, HI di beberapa universitas di Indonesia menyediakan mata kuliah kompetensi diplomasi yang juga menyisipkan praktik negosiasi dan berdiplomasi di dalamnya. Adapun praktik perumusan kebijakan berupa policy paper yang memuat rekomendasi kebijakan untuk, misalnya, pemerintah dalam suatu isu. Di Universitas Indonesia, kemampuan mahir berbahasa Inggris di kelas (speaking, listening, writing) bukanlah suatu keharusan yang mutlak dimiliki sebelum menjadi mahasiswa HI, tapi pastinya lo wajib banget untuk bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris, dan ini bisa dipelajari sembari kuliah.

Contoh pelaksanaan mata kuliah kompetensi diplomasi ini adalah adanya praktik diplomasi. Nah, kalo ngomongin soal teori & praktik, praktik di jurusan HI ini seru banget, loh! Lo bisa melakukan simulasi diskusi a la diplomat gitu. Topik & settingnya aja dibikin seolah lo sedang melakukan diplomasi beneran! Contohnya seperti di Universitas Parahyangan Bandung, untuk jurusan HI ada kegiatan yang disebut Gathering & Introducing International Relations (GINTRE). Di kegiatan ini, lo bisa praktik diplomasi langsung, loh!

Simulasi negosiasi, praktik proses diplomasi di jurusan HI

 

Peluang Karier Lulusan HI

Jawabannya: diplomat dan non-diplomat. Kenapa gue kategoriin menjadi dua? Karena stereotip yang berkembang tentang HI adalah setelah lulus mutlak menjadi diplomat. Jadi, gue tulis begitu biar lebih gampang bahasnya aja, OK?

DIPLOMAT (Pejabat Diplomatik)

Gue enggak akan membahas profesi ini secara panjang lebar, karena deskripsinya emang super duper kompleks. Intinya, tugas seorang pejabat diplomatik itu adalah untuk mewakili (representing), negosiasi (negotiating), melindungi (protecting), promosi (promoting) dan melaporkan (reporting) kepentingan nasional Indonesia di negara yang ia tugaskan.

Salah satu tugas nyata dari seorang diplomat adalah melindungi nyawa WNI yang terlibat masalah di negara mitra. Misalnya di tahun 2016 kemarin, terdapat 10 Anak Buah Kapal (ABK) WNI yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina. Bersama dengan TNI, Intelijen, lembaga internasional, dan kelompok masyarakat sipil, diplomat memiliki peran kunci menjadi negosiator dan koordinator untuk membebaskan 10 sandera ini. Contoh kasus tersebut merupakan keberhasilan upaya diplomasi Indonesia dalam melindungi nyawa WNI. Namun, upaya diplomat dalam melindungi WNI tidak sesederhana itu karena kerap mengalami tantangan yang lebih berat jika dibenturkan dengan hukum dan norma negara mitra seperti hukum mati di Arab Saudi yang kerap dijatuhkan pada TKI kita yang terlibat masalah di sana. Contohnya adalah kasus Siti Zaenab yang berujung pada eksekusi mati meski pemerintah Indonesia telah melakukan diplomasi. Hingga saat ini, pemerintah Indonesia masih mengalami tantangan yang serius dalam proses perlindungan TKI di luar negeri. Oleh karena itu, pekerjaan diplomat lebih kompleks dari apa yang dibayangkan dan memerlukan kecakapan dan komitmen yang luar biasa dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.

Kemudian, kita perlu memahami delapan tingkatan gelar diplomatik dalam empat kategori jenjang tahapan karir diplomat. Urutan dari gelar diplomatik paling rendah hingga paling tinggi adalah sebagai berikut:

  • Diplomat Pertama
    • Atase
    • Sekretaris III
  • Diplomat Muda
    • Sekretaris II
    • Sekretaris I
  • Diplomat Madya
    • Counselor
    • Minister Counselor
    • Minister
  • Diplomat Utama
    • Duta Besar

Dari jenjang tersebut dapat dilihat bahwa jenjang karir duta besar merupakan jenjang tertinggi dari seorang diplomat, walaupun tidak semua diplomat mampu dapat menjadi duta besar karena perlu melewati pendidikan dan seleksi terlebih dahulu. Pendidikan jenjang karir diplomat untuk menjadi duta besar memiliki tiga tahap.

  • Tahap pertama adalah Sekolah Dinas Luar Negeri (SEKDILU) yang memiliki jangka waktu kurang lebih 6-8 bulan. Tahap ini kemudian diikuti dengan program magang di Kemlu atau di negara Perwakilan selama kurang lebih tiga bulan. Setelah lulus magang, para calon Diplomat Muda di unit-unit Kemlu dalam negeri selama tiga tahun dan diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S2 ataupun S3. Setelah itu, barulah para diplomat ini akan ditempatkan ke perwakilan-perwakilan RI di luar negeri selama kurang lebih 3-5 tahun.
  • Tahap kedua dilanjutkan dengan Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (SESDILU) yang ditujukan bagi kenaikan jenjang Diplomat Muda menjadi Diplomat Madya. Pendidikan SESDILU dilaksanakan dalam jangka waktu kurang lebih 4 bulan. Untuk mengambil pendidikan SESDILU, calon peserta perlu memiliki gelar diplomatik Sekretaris II paling kurang selama 1 tahun terlebih dahulu dan pernah pernah ditempatkan di negara Perwakilan minimal 2 tahun.
  • Tahap terakhir yaitu Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (SESPARLU) yang ditujukan untuk kenaikan jabatan ke jenjang Diplomat Madya dari gelar Counselor ke Minister Counselor. Pendidikan SESPARLU juga memiliki jangka waktu yang sama dengan SESDILU yaitu empat bulan. Persyaratan untuk mengambil pendidikan SESPARLU diharuskan telah memiliki gelar diplomatik Counsellor minimal 1 tahun dan pernah ditempatkan di negara Perwakilan minimal 2 tahun.
  • Namun, perjalanan karir untuk menjadi duta besar tidak berhenti di situ saja. Setelah melewati pendidikan dan mengenyam jabatan hingga Minister, calon duta besar perlu memenuhi syarat seperti 1) pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal Kepala Perwakilan Konsuler, Wakil Kepala Perwakilan atau Kuasa Usaha Tetap di Perwakilan RI dan 2) pernah menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Perwakilan RI di New York atau Jenewa dalam jangka waktu yang ditentukan Kementerian Luar Negeri.

Kesimpulannya, selain tugasnya yang kompleks, jenjang karir diplomat itu panjang dan tidak sebentar. It takes time and you have to enjoy the process!

Nara Masista Rakhamatia, salah satu diplomat muda Indonesia untuk PBB

 

NON-DIPLOMAT

Okay. Mungkin bagian ini juga gak akan nge-cover semua ragam profesi yang hadir dari lulusan mahasiswa HI. Oleh karena itu, gue akan meng-highlight  beberapa profesi ‘arus utama’ yang kerap diminati oleh lulusan-lulusan HI terutama senior-senior gue di UI.

Pejabat Negeri Sipil (PNS) di kementerian negara atau badan pemerintah lainnya

Seiring dengan arus globalisasi, beberapa badan pemerintah kemudian kian membutuhkan relasi dengan pihak internasional. Otomatis anak HI bisa banget nih kerja di bagian departemen internasional dalam suatu badan pemerintah. Contohnya, Bank Indonesia. Adapun yang ga secara eksplisit memiliki departemennya tapi masih bisa banget untuk anak HI pilih sebagai kariernya adalah seperti BAPPENAS atau kementerian seperti Kementerian Pertahanan and so on.

Pegawai Multinational Corporation (MNC) atau Perusahaan Multinasional

Multinational Corporation (MNC) atau Perusahaan multinasional biasanya adalah perusahaan besar berskala internasional yang memproduksi atau menjual barang/jasa di berbagai negara. Dua karakteristik utama dari MNC adalah ukurannya yang besar dan fakta bahwa MNC memiliki perusahaan induk di satu negara untuk mengendalikan aktivitas perusahaan-perusahaan cabang di berbagai negara. Contoh MNC adalah Adidas dari Jerman, KFC dari AS, Samsung dari Korea Selatan, Xiaomi dari Cina hingga Yakult dari Jepang.

Posisi MNC yang membutuhkan lulusan HI adalah seperti konsultan bisnis internasional. Jika lulusan fakultas ekonomi yang kental dengan urusan ekonomi dan bisnis, maka lulusan HI terutama di konsentrasi Ekonomi-Politik Internasional sudah familiar dengan strategi ekonomi politik secara global. Jika suatu MNC ini hendak memasarkan suatu produk ke suatu negara, tentunya perusahaan perlu mengkaji terlebih dahulu cost and benefit kondisi pasar negara tersebut. Tidak hanya mengkaji kondisi sosial-politik negara tersebut, kondisi internasional seperti kerangka perjanjian perdagangan mana yang tarif ekspor-impornya menguntungkan bagi suatu perusahaan dapat dipahami oleh  lulusan HI. Hal tersebut dikarenakan perkuliahannya membekali teori dan praktik ekonomi-politik internasional baik itu dari strategi bisnis global maupun kerangka negosiasi perdagangan internasional.

Contoh MNC bidang Farmasi

Pegawai Organisasi Internasional

Dengan kemampuan yang lo dapat di HI, lo bisa menjadikan organisasi internasional seperti PBB atau ASEAN sebagai pilihan karier lo nantinya. PBB juga memiliki badan-badannya tersendiri seperti UNICEF, UNESCO, UNHCR, dan masih banyak lagi. Di situs UN Career lo bisa menemukan buaaanyak banget macam karir yang ditawarkan PBB mulai dari mengurusi administrasi hingga terjun lapangan! To some extent, jika lo memiliki latar belakang akademik HI, maka bakal jauh lebih gampang buat lo memahami atau bahkan membuat laporan tentang fenomena internasional yang bakal lo hadapi nantinya.

Peneliti/dosen

Terakhir, jenjang karir setelah lulus dari HI adalah peneliti atau dosen. Dengan kompetensi riset yang cukup mumpuni selama perkuliahan, lulusan HI bisa bekerja sebagai peneliti di lembaga think-tank ternama seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau bisa juga menjadi peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Lulusan HI juga cukup banyak yang menjadi dosen di universitas baik negeri maupun swasta.

Pegawai Non-Governmental Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat

Banyak lulusan HI yang memilih berkarir di NGO untuk memperjuangkan isu-isu lingkungan, hak asasi manusia, kesejahteraan hewan dan berbagai macam perkembangan isu lainnya. Melalui kompetensi khusus dalam kajian sosial-budaya transnasional yang didapat di perkuliahan, lulusan HI akan fit in dalam karir NGO karena upaya memperjuangkan isu-isu tersebut memerlukan kemampuan riset yang mendalam dan global. Contoh NGO misalnya ada Amnesty International, yang merupakan organisasi non-pemerintah internasional dengan tujuan mempromosikan seluruh Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan pembekalan pemahaman hukum internasional, lulusan HI dapat bekerja di NGO karena proses advokasi dan pemberdayaan dari NGO membutuhkan dua domain yaitu internasional dan domestik. Sebagai lulusan HI, kompetensi diplomasi dan negosiasi dapat digunakan sebagai pondasi kuat dalam melakukan advokasi HAM di berbagai level baik itu Mahkamah Pidana Internasional maupun level domestik sekalipun.

Contoh-contoh NGO

Jurnalis

Wawasan luas yang didapat selama perkuliahan di HI gak akan sia-sia kalo lo juga bekerja di media seperti jurnalis. Salah satunya adalah Isyana Bagoes Oka yang juga berkecimpung di dunia media setelah mengenyam pendidikannya di HI UI. Pembelajaran di HI akan memberikan lo konteks dalam menyampaikan berita atau mencari informasi dari narasumber untuk bahan peliputan.

Gitu, guys, pilihan karier untuk lulusan HI. Cukup beragam, kan?

 

Gue Cocok, Gak, Ya, Buat Masuk HI?

Setelah pemaparan mengenai HI di atas, mungkin lo bertanya-tanya: apa gue cocok masuk HI? Apa HI benar-benar yang gue inginkan? Semua bakal balik lagi ke diri lo sendiri seperti yang pernah dijelasin sama Glenn tentang 4 rumus penting dalam memilih jurusan. Tapi, esensi dari artikel ini setidaknya membantu memetakan dan mengurai kebingungan lo terhadap jurusan HI secara umum.

Berangkat dari sejarah ilmu HI dan segala tetek-bengek yang udah gue sampaikan, bisa lo liat bahwa politik menjadi dasar dari kerangka HI sebagai suatu disiplin ilmu. Akan jauh lebih susah kalo lo gak suka banget sama politik ketika pedekate sama ilmu HI. Jadi, kalo lo suka politik (baik lokal maupun global) tentunya akan memudahkan lo dalam mengenal HI lebih dalam. Alhasil, perbedaan dengan Ilmu Politik kemudian akan menjadi sangat tipis.

Kalo ilo lebih tertarik pada teori filosofis di balik ideologi politik, urusan politik di negara tertentu dan bertujuan untuk berkarier di dunia politik secara spesifik maka akan cenderung lebih cocok jika lo belajar di Ilmu Politik. Kalo lo justru tertarik pada pemahaman politik kontemporer di tingkat global dengan melihat masalah yang memengaruhinya secara luas, tertarik dengan sifat interdisipliner (lintas ilmu pengetahuan), memiliki minat khusus dalam bidang HI seperti keamanan internasional, atau ekonomi-politik internasional, dan ingin terjun dalam karier politik internasional seperti diplomasi, maka lo cocok untuk belajar di jurusan Hubungan Internasional.

Selain itu, banyak juga yang nanya ke gue kalo pelajaran di SMA apa yang bisa di boost untuk pondasi awal memahami HI. Well, karena HI itu sifatnya interdisipliner, jadi gue bisa jawab semua mata pelajaran SMA ya bisa-bisa aja jadi dasar buat disiplin HI. Ga saklek gitu loh. Biar ada bayangan mungkin lo bisa baca-baca artikel HI yang dikemas secara ringan dan mudah dibaca di E-International Relations. Situs tersebut ga hanya diisi oleh dosen tapi juga mahasiswa HI di seluruh dunia dalam mengupas fenomena global. Asiknya, karena HI ini interdisipliner, lo benerbener harus terbiasa untuk menerima segala jenis perbedaan. Asik banget untuk belajar memupuk toleransi!

Jadi, mahasiswa/i HI itu bukan yang wajib cas-cis-cus pake bahasa Inggris sambil jalan-jalan ke luar negeri atau nge-mix percakapan dengan istilah-istilah asing seperti “which is” a la “anak Jaksel”, Mahasiswa/i HI itu simply mahasiswa biasa yang dilatih untk lebih kritis terhadap suatu isu politik global yang dibahas secara meluas dan komprehensif. Kalo lo lebih minat dengan kemampuan berbahasa asing, mending lo ambil jurusan sastra/linguistik aja.

Mengingat ilmu sosial itu bersifat dinamis, tidak menutup kemungkinan kalo beberapa tahun ke depan disiplin HI juga akan terus berubah. Biarlah lo yang merasakan sendiri the untold story tentang HI ketika lo udah masuk menjadi mahasiswa. Intinya, dengan berkarir di dunia HI, lo bisa ikut belajar untuk tahu bagaimana caranya berkontribusi pada perubahan dunia. Sekecil apapun yang lo lakukan, lo adalah bagian dari masyarakat global. Dan masih banyak permasalahan-permasalahan di belahan dunia lain yang menunggu untuk diselesaikan oleh kita semua. Tujuan lo semua buat masuk HI nantinya mungkin beda-beda tapi mari kita sama-sama bangun negeri ini agar setidaknya bisa menguasai panggung dunia lewat disiplin ilmu HI. Okay? Good luck and hope it helps! 😊

Referensi

Lamont, Christoper Lamont. Research Methods in International Relations. London: SAGE Publications, 2015.
Sudarsono, Juwono, dkk. Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1996.
https://polisci.wisc.edu/fields/international-relations
https://polisci.wisc.edu/fields/international-relations
https://en.wikipedia.org/wiki/Multinational_corporation
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_multinational_corporations https://www.igeahub.com/2016/05/06/top-10-pharmaceutical-companies-2016/
Dahlan & Siregar. Cara Jitu Jadi Diplomat.  Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2018. https://books.google.co.id/books?id=YshsDwAAQBAJ&pg=PA74&lpg=PA74&dq=naik+pangkat+diplomat&source=bl&ots=dkGjJxb1Sc&sig=mpnOus1EXLfvzjmXPIBVqh_FWPo&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwim1-a1t6DeAhWMK48KHX0ICg0Q6AEwDXoECAkQAQ#v=onepage&q&f=false

 

==========CATATAN EDITOR===========

Jika kamu ingin bertanya seputar jurusan Hubungan Internasional ke Rifad, silakan post pertanyaan kamu di kolom komentar, ya!

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.