Konflik Sipil-Militer Amerika Serikat dalam Perang Korea

Artikel ini membahas tentang keterlibatan Jenderal MacArthur dan Presiden Truman selaku militer dan sipil Amerika Serikat dalam perang Korea.

Halo sahabat-sahabat Zenius, ketemu lagi sama gue, Marcel. Di artikel kali ini, gue mau ngelanjutin sejarah konflik di daerah Asia Timur. Setelah sebelumnya membahas bagaimana Tiongkok menjadi negara komunis, di artikel ini gw mau membahas seputar perang Korea.

Namun, kalau membahas perang Korea-nya, artikelnya bakal terlalu banyak membahas pertempuran-pertempurannya, ujung-ujungnya malah jadi artikel sejarah militer. Jadi, di artikel ini, gue gak mau terlalu teknis dan spesifik seperti itu. Gue mau membahas sesuatu yang lebih luas: soal bagaimana Perang Korea memberikan pelajaran penting pada kita tentang hubungan sipil dengan militer.

Kenapa gue bahas hubungan sipil-militer? Karena keberlangsungan sebuah negara itu dipengaruhi oleh keseimbangan keduanya. Peran masing-masing juga akan menentukan nasib sebuah bangsa. Di artikel ini, ada 2 tokoh penting yang akan gue bahas, yaitu Jenderal Douglas MacArthur, dan Presiden Harry S. Truman.

 

Dimulainya Perang Korea

Di artikel sebelumnya gue udah singgung dikit soal perang Korea. Perang ini terjadi karena pasukan Uni Soviet sukses menduduki Manchuria dan pangkal semenanjung Korea, sementara pasukan Amerika Serikat menduduki semenanjung Korea. Ideologi komunis yang dipeluk Uni Soviet berlawanan dengan ideologi-ideologi lain, membuat permusuhan antara Uni Soviet dengan negara-negara nonkomunis kembali seperti sebelum Perang Dunia Kedua dimulai. Semenanjung Korea yang dikuasai dua kekuatan yang ideologinya bertolak belakang inipun tak bisa disatukan: Pangkal Semenanjung Korea menjadi “Republik Rakyat Demokratik Korea” atau Korea Utara, sementara bagian Selatan Semenanjung Korea menjadi “Republik Korea” atau Korea Selatan.

Setelah Partai Komunis Tiongkok di bawah Mao Zedong sukses mengalahkan Partai Nasionalis dalam perang saudara, Korea Utara menjadi amat bersemangat menaklukkan tetangga Selatannya, mengkomuniskan seluruh semenanjung Korea. Iosif Stalin, diktator pemimpin Uni Soviet, mula-mula tak menginginkan perang. Namun, kemenangan Mao, dan keberhasilan ilmuwan-ilmuwan Soviet meledakkan bom atom buatan mereka mengubah pendapatnya. Ketika Mao juga bersemangat “membebaskan” seluruh semenanjung Korea, diam-diam kedua negara komunis raksasa itu mendukung Korea Utara.

Pihak Selatan sendiri terlalu percaya diri, mereka tak sadar, mereka kalah persenjataan. Pasukan Korea Selatan, biarpun didukung Amerika Serikat, misalnya tak memiliki tank. Di saat bersamaan, pihak Korea Utara sudah menimbun tank, artileri, dan senjata-senjata berat lainnya, berkat bantuan Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Biarpun persiapannya tak berimbang, pasukan Korea Selatan malah berkali-kali memprovokasi, terutama di daerah Kaesong dan Ongjin.

Akhirnya, tanggal 25 Juni 1950, pihak Korea Utara yangg sudah merasa siap, melakukan serangan besar-besaran. Pasukan Korea Utara didukung tank dan tembakan artileri, melibas tentara Korea Selatan yang tak memiliki tank maupun senjata anti tank. Perang Korea pun dimulai. Tentara Korea Utara yang didukung Tiongkok dan Uni Soviet berperang melawan Korea Selatan, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

 

Jenderal Douglas MacArthur

Jenderal Douglas MacArthur adalah seorang tentara tulen, lahir pada tanggal 26 Januari 1880 di tengah-tengah keluarga tentara. Beliau lulus akademi militer di tahun 1903 sebagai valedictorian,  juara satu di angkatannya! Begitu lulus, dia menjadi serdadu zeni di Filipina yang waktu itu merupakan jajahan Amerika Serikat. Ketika dia masih muda saja, sudah ada yang memperhatikan karakternya dan menyatakan MacArthur itu seorang “Egotis”. Perhatikan: “Egotis” bukannya “Egois.” Egois itu mementingkan dirinya sendiri. Egotis itu adalah egois, merasa dirinya penting, merasanya dirinya hebat, dan sombong secara bersamaan. Seorang egotis selalu secara aktif berusaha mengiklankan kehebatan dirinya kepada seluruh dunia. Selalu. Sifat seperti ini adalah sifat kontroversial, banyak yang tak suka, tapi banyak juga yang suka.

Jenderal MacArthur

Namun, biarpun (atau karena?) dia seorang egotis, karier militernya bersinar cerah. MacArthur muda berprestasi sepanjang karirnya di Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Meksiko, dan lain-lain. Saat Perang Dunia Pertama, dia diangkat menjadi brigadir jenderal dan menerima banyak penghargaan karena kepemimpinannya. Selesai PD I, di tahun 1919 tepatnya, dia diangkat menjadi rektor West Point (akademi militer Amerika Serikat). Usia mudanya membuatnya menjadi salah satu rektor termuda dalam sejarah West Point.

Setelah menjadi rektor, dia dipromosikan menjadi mayor jenderal. Dengan pangkat setinggi itu, sifat egotisnya makin menjadi-jadi. Ada temannya yang menyatakan “Dia adalah aktor terhebat yang pernah menjadi jenderal”. Dwight Eisenhower, salah satu mantan asisten MacArthur, yang belakangan menjadi jenderal juga, dan bahkan menjadi presiden Amerika Serikat, waktu ditanya apakah dia mengenal MacArthur menjawab kurang lebih “Kenal? Bukan cuma kenal, gue belajar DRAMA bertahun-tahun sama dia!” Temannya MacArthur yang lain lagi bilang “Kalau jenderal lain diiringi Staf, MacArthur diiringi abdi istana!”

Sifat egotis MacArthur benar-benar menjadi pedang bermata dua. Publikasi prestasinya yang dia rancang sendiri membuatnya semakin populer. Siapa yang gak suka seorang pahlawan militer? Dia pun dipromosikan terus, bahkan akhirnya menjadi kepala staf angkatan bersenjata. Namun sifat ini juga membuatnya mengeluarkan kata-kata yang menyinggung banyak orang. Misalnya, ketika anggaran militer dipangkas oleh presiden Roosevelt, MacArthur sebagai kepala staf berkata “Ketika kita kalah dalam perang berikutnya, ketika seorang bocah Amerika terbaring di lumpur dengan bayonet lawan di perutnya menggunakan tenaga terakhirnya untuk mengutuk, gue mau dia mengutuk Roosevelt, bukannya MacArthur.” Tentu saja Roosevelt marah dan mencerca balik “Bukan begitu caranya bicara kepada seorang presiden!”

Roosevelt kini merasa MacArthur adalah ancaman, bukan cuma kepada dirinya, tapi juga kepada Amerika Serikat. Maka, ketika Filipina sedang menyiapkan kemerdekaannya (yang dijanjikan oleh Amerika Serikat) dan memanggil MacArthur untuk menjadi penyelia pembangunan tentaranya, Roosevelt setuju. MacArthur dikirim ke Filipina, jauh dari hingar bingar politik Amerika Serikat.

Saat MacArthur di Filipina, hubungan Amerika Serikat dengan kekaisaran Jepang makin tegang. MacArthur merasa Jepang tak mungkin menyerang Filipina karena Jepang pasti takut padanya. Kenyataannya, beberapa jam setelah Pearl Harbor dibom, Filipina juga dibom oleh pesawat terbang Jepang. Bala tentara Jepang pun menyusul, dengan mudah mengalahkan tentara Filipina yang kalah persenjataan. MacArthur terpaksa mengungsi. Sebelum dia meninggalkan Filipina, diapun berjanji “I Shall Return!” Sekali lagi, ini menjadi kontroversi, kenapa “I” bukannya “We”? Apakah pribadi MacArthur segitu hebatnya sampai-sampai dia berjanji secara pribadi, bukannya sebagai pejabat Amerika?

Selama PD II berlangsung, MacArthur juga ngotot untuk diangkat sebagai pemimpin seluruh angkatan bersenjata Amerika Serikat di Pasifik. Pihak AL yang merasa “Pasifik itu nama samudera coi, lo jenderal, komandan darat, ngapain ikut campur?” juga ngotot tidak menginginkan diri mereka dipimpin MacArthur. Roosevelt adalah pemimpin dengan motto “Kalo anak buahmu ribut, tidak perlu putuskan siapa yang benar, pisahkan saja!” jadinya membagi 2 wilayah Pasifik: daerah Pasifik Selatan yang dipenuhi daratan (Pulau Papua, Maluku Utara, sampai Filipina) adalah daerahnya MacArthur, sementara daerah Pasifik Tengah yang samudera melulu (Gilbert, Marshall, Micronesia, Palau, sampai Mariana) adalah milik Admiral Nimitz dari AL. Artinya, selama Perang Pasifik, ibarat pertandingan sepakbola, “Kesebelasan Amerika Serikat” punya 2 kapten.

Di PD2 ini, MacArthur kembali berprestasi. Strategi “lompat katak”nya berhasil mengalahkan ratusan ribu tentara Jepang di Irian dan Maluku. Sementara itu, Admiral Nimitz sendiri sebetulnya jauh lebih cepat, dan berhasil merebut pulau-pulau benteng milik Jepang di daerah Pasifik Tengah. Bedanya, Nimitz tidak suka publikasi. Akibatnya, MacArthur jadi lebih tersohor. Publik makin mencintai MacArthur.

Berkat supremasi industrinya, Amerika Serikat biarpun dipimpin “dua kapten” bisa mengalahkan kekaisaran Jepang. MacArthur maupun Nimitz, hadir ketika Jepang menyerah kepada Amerika Serikat di atas kapal tempur USS Missouri di Teluk Tokyo tanggal 2 September 1945.

Selesai PD II, MacArthur diberikan tugas sebagai komandan pendudukan Jepang. Artinya MacArthur diangkat sebagai “Atasannya Kaisar Jepang” dan membangun Jepang baru, Jepang yang bebas dari militarisme dan napsu menjajah. Keberhasilannya memimpin, menambah popularitasnya. Dia bahkan menjadi populer di kalangan rakyat Jepang, yang sebetulnya sedang dia jajah. Saat dia sedang di Jepang inilah Korea Utara menyerang Korea Selatan.

 

Presiden Harry S. Truman

Setelah membahas MacArthur, kita beralih ke Truman. Presiden Truman adalah presiden yang unik. Dia adalah satu-satunya presiden Amerika setelah abad 19 yang tidak punya ijazah SMA. Iya, setipe dengan menteri kelautan kita, ibu Susi Pudjiastuti. Karena latar belakang inilah Truman mendapat nama sebagai “Politikus yang merakyat”, bukannya “Elitis” seperti kebanyakan politikus.

Presiden Truman

Tidak seperti karier MacArthur yang spektakuler, masa-masa muda Truman tidak terlalu istimewa. Saat PD I, Truman berjasa lumayan besar saat dia menyelamatkan divisi 28 dalam ofensif Meuse-Argonne, tetapi pangkatnya cuma Mayor. Selesai perang, dia mencoba berdagang tapi gagal akibat resesi ekonomi di tahun 1921. Setelah kegagalan berdagang inilah Truman memasuki politik. Namun, karier politiknya juga tidak istimewa.

Baru di tahun 1934, Truman mendapat kesempatan: menjadi calon anggota Senat! (Badan yang serupa dengan Senat di sini adalah Dewan Perwakilan Daerah) Ini juga bisa tercapai karena keempat bakal calon sebelum Truman menolak dicalonkan. Truman menang, tapi sebagai Senator (Anggota Senat) ternyata kekuasaannya kecil. Kemampuan Truman baru terlihat di tahun 1940, saat dia memimpin pansus untuk menyelidiki korupsi industri yang dikontrak pemerintah Amerika Serikat untuk mempersiapkan militer Amerika Serikat untuk berperang. Pansus ini berhasil menyelamatkan 262 milyar dolar (Sesuai dengan nilai dolar di tahun 2018) dan membuat nama Truman menjadi populer.

Di tahun 1944, presiden Roosevelt sudah menjabat sebagai presiden selama 3 periode, selama 12 tahun. Waktu itu, tidak ada batasan masa jabatan secara legal, cuma secara tradisi sebab presiden Amerika pertama, George Washington, menolak mencalonkan diri lagi setelah menjabat selama 2 periode, selama 8 tahun. Namun, karena Perang Dunia Kedua masih berjalan, Roosevelt yang kesehatannya sebetulnya memburuk, akhirnya merasa sudah tugasnya untuk mencalonkan diri untuk keempat kalinya. Wakil Presiden Roosevelt selama ini, Henry Wallace, dianggap terlalu pro buruh oleh para elit partai demokrat. Mereka yang sadar Roosevelt sudah semakin lemah, tak mau Wallace menggantikan Roosevelt. Sang presiden akhirnya mengajukan beberapa nama sebagai pengganti, dan para elite memilih Truman. Roosevelt dengan mudah memenangkan pemilu, dengan Truman sebagai wakilnya.

Cuma selang 3 bulan kemudian, Roosevelt wafat. Selama 3 bulan itu, Truman TIDAK menerima tanggung jawab yang berarti. Dalam sekejap, “seluruh langit dan bintang runtuh ke atas kepalanya”, menurut Truman sendiri. Dalam sekejap, dia harus memutuskan banyak hal, salah satu yang paling penting adalah … bagaimana caranya membuat Jepang menyerah?

Selain bom atom, Truman juga menghadapi tantangan baru: perang melawan Jerman sudah selesai, melawan Jepang akan selesai, bagaimana hubungan Amerika Serikat dengan Uni Soviet? Tidak seperti Roosevelt yang selama perang terus menerus “pedekate” sama Stalin, Truman tidak mempercayai sang diktator paranoid dari Uni Soviet ini. Buat Truman, komunisme adalah ancaman. Truman dengan tegas mencegah pasukan Uni Soviet menduduki pulau Hokkaido. Dia juga menolak mengikuti kehendak Uni Soviet di Jerman, menciptakan insiden “Berlin Airlift”. Di Tiongkok, Truman mencoba mendamaikan Tiongkok saat partai Nasionalis Guomindang sedang berperang melawan partai Komunis Gongchandang dengan mengirim jenderal Marshall sebagai utusan khusus. Usaha Marshall untuk mendamaikan keduanya gagal, dan sang jenderal malah bilang “Gak usah ngebantuin Guomindang, mereka gak mungkin menang.” Di bawah kepresidenan Trumanlah Amerika Serikat yang anti komunis harus menyaksikan seluruh Tiongkok berubah jadi negara komunis.

Biarpun “Kehilangan Tiongkok” dan diperkirakan akan kalah dalam pemilu 1948, Truman berhasil memenangkan pemilu tersebut secara dramatis.Dua tahun setelah memenangkan pemilu, pasukan Korea Utara menyerang Korea Selatan, memulai perang Korea. Kegagalan menyelamatkan Tiongkok dari komunisme masih terngiang di kepala sang presiden.

 

Jalannya Perang Korea

Begitu presiden Truman menerima kabar tentang invasi Korea Utara, dia merasa ini mirip dengan sejarah saat Jepang mencaplok wilayah Tiongkok dan saat Hitler mencaplok Austria lalu Cekoslovakia. Karena negara-negara lain saat itu membiarkan Jepang dan Hitler mencaplok wilayah tetangganya, keduanya jadi semakin menjadi-jadi. Kalau saja Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat lebih tegas saat itu, Perang Dunia Kedua bisa dihindari!

Karena itulah Truman memutuskan untuk tegas dari awal: menggunakan PBB sebagai forum untuk menghimpun pasukan multinasional untuk menghentikan serangan Korea Utara. Sebagai pemimpin pasukan ini, Truman memilih jenderal paling senior dan paling populer. Siapa lagi kalau bukan Douglas MacArthur.

Perang yang dimulai dengan kekalahan besar tentara Korea Selatan ini langsung berbalik begitu pasukan multinasional diterjunkan. Pasukan Korea Selatan yang sudah terpojok, terkepung, di kota Busan di ujung Selatan semenanjung Korea, diselamatkan dengan cara mendaratkan 75.000 tentara di kota Incheon tanggal 10 September 1950, dekat Seoul, di belakang tentara Korea Utara yang mengepung Busan. Diserang dari belakang oleh pasukan multinasional bersenjata lengkap, pasukan Korea Utara kaget dan terpaksa mundur. Keberhasilan di Incheon ini jelas melambungkan reputasi MacArthur.

Pembagian wilayah semenanjung Korea setelah PD II

Setelah Incheon, situasi berubah total. Pasukan Korea Utara dibombardir dari laut dan langit oleh AL dan AU Amerika Serikat, dan merekapun kehilangan banyak tank dan persenjataan berat lainnya.

MacArthur yang pede bukan cuma mengusir pasukan Korea Utara dari wilayah Korea Selatan, dia meneruskan serangannya ke wilayah Korea Utara. Akhir Oktober, hampir seluruh wilayah Korea Utara diduduki oleh pasukan MacArthur. Sang jenderal besar pun berniat meneruskan serangan: mulai membom pangkalan-pangkalan Tiongkok yang mendukung pasukan Korea Utara, walaupun pangkalan-pangkalan tersebut berada di wilayah Tiongkok, bukannya Korea Utara.

Di sisi lain, Presiden Truman tak ingin gegabah memperluas perang. Misi utama MacArthur, menurut Truman, adalah mengamankan Korea dan menahan penyebaran komunisme. Ketika mereka bertemu tanggal 15 Oktober 1950, MacArthur memberitahu Truman kurang lebih “Seandainya tentara Tiongkok berani menyeberangi perbatasan, mereka semua akan kami bantai!”

Kenyataannya, ratusan ribu pasukan Tiongkok di bawah pimpinan Peng Dehuai berhasil menyusup masuk, dan menyerang pasukan Amerika Serikat di bulan November 1950. Kaget karena diserang pasukan Tiongkok, ternyata ramalan MacArthur tidak menjadi kenyataan. Pasukan Tiongkok mengepung dan merebut banyak sekali lokasi yang dipertahankan pasukan multinasional, MacArthur terpaksa mundur. Pasukan Tiongkok bahkan belakangan berhasil merebut ibukota Korea Selatan, Seoul. Benturan antara Truman dan MacArthur mulai muncul ke permukaan saat pertanyaan besar mulai muncul: “Apakah pihak Amerika Serikat akan menggunakan bom atom untuk menghentikan serangan pasukan Tiongkok?”

 

Konflik Memuncak

Wewenang untuk menggunakan bom atom berada di tangan presiden sesuai UU Energi Atom 1946. Pihak militer cuma berperan sebagai penasihat, keputusan akhir untuk menggunakan atau tidak menggunakan bom atom tetap berada di tangan presiden, seorang non-militer atau sipil. Truman sendiri merasa MacArthur hendak menggunakan bom atom. MacArthur sendiri membantah.

Selain mengenai kesalahpahaman tentang bom atom, ada masalah lainnya yang tak kalah penting. Truman melarang MacArthur membom pangkalan-pangkalan Tiongkok karena sang presiden ingin perang ini dibatasi di wilayah Korea saja. MacArthur tidak menyukai pembatasan ini. Tanggal 1 Desember 1950, MacArthur dalam sebuah wawancara dengan gamblang menyatakan dirinya, pasukannya, dibatasi sehingga tak bisa bertempur secara efektif. Ini jelas-jelas menyerang atasannya, presiden Truman. Sang presiden mengeluarkan perintah: “Semua pemimpin militer harus berkonsultasi dengan kementerian luar negeri sebelum mengeluarkan pernyataan resmi, dan sebaiknya tidak berbicara kepada wartawan!” Ketegangan antara kedua sosok ini kini menjadi jelas.

Di bulan Februari dan Maret 1951, pasukan multinasional MacArthur kembali memukul mundur pasukan Tiongkok. Dengan pasukan Tiongkok dipukul mundur, Seoul kembali jatuh ke tangan MacArthur tanggal 17 Maret 1951. Truman merasa inilah saat yang tepat untuk menawarkan perdamaian kepada Mao Zedong. Ketika wilayah yang dikuasai kedua belah pihak sama dengan wilayah sebelum perang dimulai. Dengan begini, pihak Komunis Tiongkok bisa bilang “Kami gak kalah kok” sehingga mereka akan menerima tawaran damai. Truman pun menyiapkan draft tawaran perdamaian ini, dan MacArthur pun dikabari oleh kementerian pertahanan mengenai perkembangan terbaru ini.

MacArthur tak menyukai perkembangan ini. Tiga hari setelah menerima kabar tentang usaha Truman mencapai gencatan senjata, sebelum Truman mengajukan tawaran gencatan senjata kepada pihak Tiongkok, MacArthur sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Pernyataan resmi ini dia tulis dan publikasi tanpa memberitahu kementerian luar negeri. MacArthur menyatakan bahwa Tiongkok tak memiliki industri, sehingga tak memiliki kemampuan untuk berperang dalam jangka panjang, bahwa pihak Amerika Serikat akan menghancurkan daerah pantai dan pedalaman Tiongkok. Kehancuran akan memberikan perdamaian yang dibutuhkan. Intinya: “Emang gue takut sama Tiongkok, kalo perang betulan KEOK LO!!”

Truman marah besar begitu dia tahu soal pernyataan resmi ini. Pernyataan ini terang-terang melanggar perintah tertulis dari Truman bahwa semua pernyataan resmi dari petinggi militer harus disunting dulu oleh kementerian luar negeri. Pernyataan ini berarti MacArthur sudah melangkahi kementerian luar negeri, dan presiden, dalam menentukan kebijakan politik luar negeri. Ingat, Truman hendak membatasi (CONTAIN) perang ini, bukannya meningkatkan dan memperluas perang ini. Truman ingin secepatnya mencapai gencatan senjata!

Truman langsung mengingat-ingat sejarah: presiden Abraham Lincoln pernah memecat jenderal George McClellan, dan presiden James Polk juga pernah memecat jenderal Winfield Scott. Ketika Truman masih menimbang-nimbang, MacArthur diam-diam menghubungi pemerintah Spanyol dan Portugal. Dia memberitahu:

Eh, bentar lagi gue bakalan bikin perang GEDE nih! Lu orang jangan pada kaget, yah!

Truman mengetahui hal ini karena dinas mata-mata Amerika Serikat menyadap kedutaan Spanyol dan Portugal. Truman kali ini benar-benar murka, menurutnya ini bukan cuma pembangkangan, ini pengkhianatan! Mantap sudah niat Truman untuk memecat sang jenderal besar. Namun, informasi soal “Pengkhianatan” MacArthur ini tak bisa dipublikasi. Masak memberitahu seluruh dunia bahwa mata-mata Amerika menyadap kedutaan Spanyol dan Portugal? Jadi, Truman harus memecat MacArthur tanpa mempertimbangkan faktor ini.

 

MacArthur Dipecat

Saat merundingkan hal ini dengan empat penasihatnya, Truman mendapat peringatan. MacArthur adalah jenderal yang populer. Sangat populer. Super populer. Dia seorang pahlawan, loh! Di negara demokrasi, di mana pemilu itu penting, memecat jenderal yang sepopuler MacArthur akan amat-sangat menurunkan elektabilitas. Namun, para penasihat non-militer setuju, MacArthur harus dipecat. Para penasihat militer Truman semula tidak setuju MacArthur dipecat, tapi setelah mereka berunding dengan pejabat-pejabat tinggi militer lainnya, mereka akhirnya sepakat bahwa “supremasi sipil atas militer” harus dijunjung tinggi. Merekapun jadi setuju, MacArthur harus dipecat.

Akhirnya, 11 April 1951, Jenderal Douglas MacArthur resmi dipecat oleh presiden Truman. Akibatnya sungguh dahsyat. Elektabilitas Truman langsung terjun bebas ke kisaran 20 persen. Sampai sekarang masih rekor, elektabilitas terendah yang pernah dialami seorang presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat. Sebaliknya, ketika MacArthur pulang, dia disambut meriah. Ketika dia mengunjungi New York, dia disambut parade paling meriah sepanjang sejarah Amerika Serikat sampai saat tersebut.

Perang Korea sendiri berlanjut tanpa kemajuan berarti dari kedua belah pihak. Baru pada tanggal 27 Juli 1953 kedua belah pihak sepakat menandatangani perjanjian gencatan senjata. Saat itu Truman sudah tak menjabat presiden lagi. Di tahun 1952, Truman tahu, karir politiknya sudah habis. Dia tak mencoba mencalonkan dirinya kembali, dan politikus-politikus Amerika saat itu langsung menjaga jarak dengannya.

 

Profesionalisme militer dan supremasi sipil

Di tahun 1950an, Truman dianggap sudah membuat blunder dengan memecat MacArthur. Dia dianggap semua orang salah satu presiden terburuk yang pernah didapat Amerika Serikat. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika banyak dokumen-dokumen yang semula rahasia dibuka, ketika orang-orang yang terlibat memberikan kesaksian tentang proses pemecatan MacArthur, pelan-pelan pendapat publik dan sejarawan terhadap Truman berubah. Terutama pendapat terhadap pemecatan MacArthur.

Dalam kasus ini, hal yang terutama dan harus digarisbawahi adalah “profesionalisme militer” bahwa jajaran kepemimpinan militer adalah jajaran profesional yang harus mempraktekkan profesionalisme.

BTW, ketika lo mendengar “Profesional”, mungkin lo langsung mengaitkan dengan kata “Ahli”. Ya, betul, seorang profesional sejati adalah seorang yang ahli di bidangnya. Sayangnya, ini adalah pemahaman yang amat terbatas. Nyatanya, profesionalisme itu jauh lebih luas daripada keahlian. Seorang profesional bukan cuma sekadar ahli. Dia juga harus fokus. Dia harus membaktikan segenap waktunya untuk pekerjaannya itu.

Selain fokus, seorang profesional juga berarti dia itu seorang yang memiliki pengabdian sebagai orientasi utamanya, tujuan utamanya. Tugas utama seorang profesional adalah MENGABDI dan MELAYANI kliennya, titik. Dalam kasus ini, militer harus mengabdi kepada negaranya. Kemudian, seorang profesional juga terikat oleh kode etik. Begitu dia melanggar kode etik tersebut, dia akan menerima hukuman. Ketika pelanggarannya cukup sering atau cukup parah, dia akan kehilangan haknya untuk menjalankan profesi tersebut.

Ketika MacArthur melanggar perintah Truman dengan mengeluarkan pernyataan akan memperluas perang, dia bukan cuma membangkang terhadap Truman secara pribadi. Dia baru saja melanggar profesionalisme militer. Seorang jenderal harus mengikuti arahan dan perintah dari pemerintah sipil, bukannya menciptakan kebijakan luar negeri sendiri. Kebijakan luar negeri adalah wewenang profesional lain, yaitu presiden, menteri luar negeri, serta jajaran stafnya. Oleh karena itu, para pemegang wewenang ini sadar bahwa MacArthur udah kelewatan, sehingga mereka sepakat bahwa sang jenderal harus dipecat.

Supremasi sipil adalah ide yang mutlak bagi Amerika Serikat. Hal ini membuat manuver MacArthur menjadi sangat fatal bagi posisi AS saat perang Korea pada saat itu. Militer adalah para pemegang senjata yang bertugas melindungi keselamatan negara dan rakyatnya. Tugas ini saja sudah berat, dan membutuhkan keahlian spesifik serta konsentrasi penuh. Para anggota militer sebaiknya membatasi dirinya dalam tugas ini, bukannya mencoba mengatur-ngatur semua aspek non-militer sebuah negara.

Lo bisa lihat, kan, betapa krusialnya hal ini? Bayangin ketika pemimpin militer menyabotase ranah sipil, terutama dalam keputusan internasional. Karena itulah netralitas militer di hal-hal yang bukan ranahnya, terutama politik, menjadi amat penting. Netralitas militer sangat penting bagi kestabilan politik. Jika militer sanggup menjaga netralitas, maka profesionalitasnya sudah terbukti. Makanya, jangan heran kalau lo liat ada spanduk bertuliskan “TNI NETRAL DI 2019”, karena mereka memang wajib menjaga profesionalisme militer dengan tidak masuk ke ranah politik.

Nah, pelajarannya di sini. Ketika seorang pemimpin militer (yang egotis ini) membuat sebuah manuver politik, yang jelas bukan merupakan ranahnya, situasi menjadi kacau. Dalam perang Korea ini, lo bisa lihat, akhirnya Korea terpecah menjadi 2 (bahkan hingga saat ini). Andai saja MacArthur bisa mengendalikan dirinya dan tidak membuat statement yang blunder, mungkin saja peta politik di semenanjung Korea akan berbeda.

Sekian dulu deh tulisan gue. Semoga bisa menambah wawasan lo semua, ya. Sampai jumpa lagi di artikel gue berikutnya!

referensi:
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Douglas_MacArthur
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Korean_War
  • https://en.wikipedia.org/wiki/President_Truman’s_relief_of_General_Douglas_MacArthur
  • Samuel P. Huntington: The Soldier and The State: The Theory and Practice of Civil-Military Relations.
  • Billy C. Mossman: Ebb and Flow November 1950 – July 1951
  • https://history.army.mil/books/korea/ebb/fm.htm
  • Dan van der Vat: The Pacific Campaign: The US-Japanese Naval War 1941 – 1945
  • Lessons Learned: General MacArthur’s Dismissal
  • Samuel Eliot Morison: The Two-Ocean War: a Short History of the United States in the Second World War
  • https://anzacportal.dva.gov.au/history/conflicts/korean-war/resources/korean-warstrategic-map
  • Billy C. Mossman: Ebb and Flow pp. 345 – 346.

———————CATATAN EDITOR———————

Jika kamu ingin bertanya seputar keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Korea ke kak Marcel, silakan post pertanyaan kamu di kolom komentar, ya!

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.