Belajar Sosiologi buat Apa?

Artikel ini mengupas tentang apa itu Sosiologi, serta berbagai miskonsepsi dan kesalahpahaman orang akan bidang ilmu yang sering diremehkan ini.

Halo, guys! Perkenalkan, nama gue Adam Bagaskara. Gue adalah salah satu tutor di Zenius, dan gue bergabung sebagai tutor mata pelajaran Sosiologi. Kalo lo semua suka baca Zenius Blog, lo pasti dah familiar, dong, dengan tulisan-tulisan keren para tutor Zenius. Topik-topiknya juga keren banget, dari Fisika, Sejarah, Matematika, Biologi, Teknologi, Linguistik, sampe Filosofi juga ada! Namun, kayaknya mata pelajaran Sosiologi belum terlalu banyak dikupas, nih. Makanya gue pengen banget nulis tentang Sosiologi.

“Jadi lo mau bahas apa, Dam?”

Ya… Sosiologi! Nah, sering banget, nih, kalo gue ketemu orang, mereka denger sebuah ilmu yang bernama Sosiologi aja udah “sensi” duluan. Kesannya kayak Sosiologi itu ilmu yang boring, gak explorable, dll. Padahal, sebenernya banyak banget yang dibahas di Sosiologi, tapi kayaknya cabang ilmu ini dianaktirikan karena banyaknya miskonsepsi serta salah kaprah.

Hayo! Jangan-jangan, lo termasuk salah satu dari yang meremehkan Sosiologi, nih! Kalo iya juga gak apa-apa, kok. Justru gue akan buktikan ke lo semua bahwa Sosiologi adalah cabang ilmu yang menarik, gak kalah menariknya dengan cabang-cabang ilmu lain yang populer. So, izinkan gue untuk meyakinkan lo akan hal tersebut, dimulai dari tulisan pertama gue ini.

Jadi sebenarnya Sosiologi itu belajar tentang apa, sih? Banyak yang mikir bahwa Sosiologi itu belajar moral & etika. Gak sedikit juga yang menganggap bahwa Sosiologi itu “cuma” teori doang. Terus, yang bener apa, dong? Nah, di artikel ini, secara khusus gue akan mengupas tentang berbagai kesalahpahaman orang tentang Sosiologi.

 

Salah Kaprah 1: Sosiologi itu Belajar tentang Etika

Sebelum menjelaskan maksud dari poin pembahasan pertama, mungkin kita perlu bahas dulu apa itu etika. Etika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang hal yang dianggap baik dan buruk. Dalam suatu masyarakat, etika menjadi standar penilaian atau penentuan moral.

Dalam Sosiologi, prinsip etika tertuang dalam konsep norma. Norma itu apa, sih? Norma adalah seperangkat aturan dalam masyarakat yang menentukan hal mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. Sebagai contoh, di masyarakat Indonesia yang menghargai norma kesopanan, berbicara dengan cara yang tidak sopan kepada orang tua bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis (tidak sesuai dengan etika).

Dengan mempelajari Sosiologi, kita dapat memahami apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh suatu masyarakat. Namun, itu bukan berarti bahwa mempelajari Sosiologi sama dengan belajar beretika, atau mempelajari bagaimana caranya menjadi seorang anggota masyarakat yang baik. Walau tentunya hal ini bisa saja dilakukan dengan menyesuaikan perilaku dan perbuatan kita dengan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang kita amati. Dengan memahami Sosiologi, kita menjadi tahu konteks besar dalam pandangan bermasyarakat, tapi bukan berarti ilmu Sosiologi menyuruh atau menuntun kita menjadi masyarakat yang “baik” atau “buruk”.

Apakah ini berarti bahwa bertindak sesuai kehendak masyarakat adalah suatu hal yang tidak penting? Nggak juga. Yang jelas, tugas utama seseorang yang mempelajari Sosiologi adalah memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi di masyarakat. Bahkan, jika memang perlu, akan lebih baik lagi jika orang tersebut dapat memahami bagaimana fenomena atau permasalahan sosial harus ditanggapi atau diselesaikan.

Kemudian, untuk dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi pada masyarakat dengan sebaik-baiknya, seseorang yang mempelajari Sosiologi perlu “melepas” seperangkat nilai dan norma yang dimilikinya agar ia tidak memandang fenomena tertentu secara bias. Bias yang dimaksud adalah perbenturan yang terjadi di antara nilai dan norma yang dimiliki seseorang dengan hal yang diamatinya.

Misalnya nih, lo lagi mengamati fenomena transgender. Ketika  lo tumbuh di sebuah masyarakat yang secara dominan hanya mendikotomikan gender ke dalam dua kelompok—laki-laki dan perempuan—mungkin akan membuat lo nganggap bahwa perilaku para transgender menyimpang atau bahkan salah. Ketika lo sudah terlebih dahulu memberikan penilaian atau penghakiman bahwa perilaku para transgender tersebut menyimpang atau salah, bisa jadi lo malah melupakan tugas utama lo, yaitu memahami mengapa para transgender berperilaku dengan cara-cara tertentu atau pola-pola tertentu. Ingat, menjadi seorang sosiolog atau researcher dalam bidang sosiologi berarti lo harus menyampingkan nilai-nilai individu yang menurut lo secara pribadi benar, kemudian lo harus fokus pada metodologi yang valid dalam mengupas sebuah fenomena kemasyarakatan dari sudut pandang yang netral.

Dalam mempelajari masyarakat, penting agar kita menghindari pandangan yang bias. Alasannya sederhana, pandangan yang bias justru akan menjauhkan kita dari pemahaman yang obyektif tentang suatu masyarakat. Pembahasan ini berkenaan dengan salah satu sifat Sosiologi yang kita pelajari, yaitu non-etis. Seperti yang telah kita ketahui, sikap non-etis berarti memandang dan memahami fenomena sosial tanpa memberikan penilaian baik/buruk maupun benar/salah. Tujuan akhir dari bersikap non-etis adalah memahami masyarakat secara objektif atau tanpa bias, sehingga kita dengan sebaik-baiknya dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi.

Jadi dari poin ini bisa disimpulkan bahwa Sosiologi itu sifatnya NON-ETIS, yang mana berarti seorang sosiolog TIDAK BOLEH menilai sesuatu fenomena kemasyarakatan itu adalah hal yang baik/benar/ataupun salah.

 

Salah Kaprah 2: Sosiologi itu Bukanlah Ilmu Pengetahuan (Science)

Kayak yang gue bilang tadi, Sosiologi seringkali menjadi subyek yang dipandang sebelah mata, khususnya oleh mereka yang hanya mengenal subyek ini di sekolah. Salah satu alasan mengapa subyek ini seringkali dipandang sebelah mata bisa jadi karena isi bahasannya yang membicarakan fenomena sosial sehari-hari. Karena “hanya” membahas fenomena sosial yang biasa ditemui sehari-hari, Sosiologi seringkali dianggap tidak ilmiah. Padahal, seperti ilmu pengetahuan lainnya, Sosiologi menawarkan perspektif dan penjelasan yang lebih mendalam tentang fenomena yang terjadi sehari-hari.

Selain itu, Sosiologi juga memenuhi salah satu syarat sebagai ilmu pengetahuan, yaitu memiliki metode penelitian—baik kuantiatif maupun kualitatif. Sama seperti ilmu pengetahuan lain, teori-teori yang dihasilkan dalam Sosiologi juga dikumpulkan melalui metode-metode penelitian yang ilmiah.

Contohnya nih, misal seorang siswa mau mengetahui dampak penggunaan smartphone terhadap konsentrasi belajar teman-temannya di sekolah. Pertama-tama, ia merumuskan masalah atau latar belakang dari penelitian, yaitu sering digunakannya smartphone oleh teman-temannya untuk mengakses media sosial ketika belajar di kelas. Selanjutnya, ia akan menentukan teori-teori yang sesuai dengan tema penelitian, teori-teori ini nantinya  akan digunakan sebagai acuan untuk mendukung argumen yang ia tetapkan pada bagian selanjutnya, yaitu hipotesis. Kemudian, ssang siswa akan membuat dugaan awal atau hipotesis tentang kesimpulan penelitian, misalnya ia berargumen bahwa digunakannya smartphone di kelas berdampak buruk pada konsentrasi belajar. Tahap selanjutnya adalah mengumpulkan data, hal ini bisa ia lakukan dengan menyebar kuesioner ke teman-temannya di kelas. Data yang ia peroleh kemudian akan diolah dan dianalisis, pada tahap ini sang siswa akan menguji kebenaran dari hipotesis yang telah ia buat di awal penelitian. Jika data sudah dianalisis, kemudian ia perlu menyusun kesimpulan yang menjawab apakah hipotesis yang telah dibuat di awal penelitian benar atau salah.

Teori-teori dalam Sosiologi dihasilkan dari pengumpulan fakta dan terus diuji secara ilmiah. Sebagai contoh, misalnya sebuah penelitian yang dilakukan sekitar dua puluh tahun lalu dengan judul “Pengaruh Ketergantungan Alkohol dengan Kecenderungan Bertindak Kriminal di Kota Bandung”. Ini berarti data harus dikumpulkan terlebih dahulu sampel penelitiannya di area geografis yang tepat, harus didefinisikan juga “ketergantungan alkohol” itu seberapa sering konsumsi alkoholnya. Perlu didefinisikan juga “tindakan kriminal” itu batasannya apa saja, dll.

Kemudian, jika penelitian dengan tema yang sama dilakukan sekarang dengan beberapa tahun kemudian, mungkin kesimpulan yang kita peroleh akan berbeda. Kenapa? Karena kondisi masyarakat pasti selalu berubah dan bergerak dinamis.

Jadi apakah Sosiologi itu bagian dari science? Ya tentu saja. Science itu kan upaya manusia untuk memahami segala sesuatunya bekerja, dan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dengan menggunakan metode penelitian dengan kaidah-kaidah metodologi ilmiah.

So, untuk melakukan penelitian dalam Sosiologi, gak sembarangan, guys, lo harus tetap mengikuti kaidah-kaidah dan kerangka berpikir ilmiah.

 

Salah Kaprah 3: Norma Adalah Sebuah Kebenaran

Norma adalah suatu kesepakatan konsensus tentang hal yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. Walau “disepakati”, bukan berarti bahwa norma merupakan suatu kebenaran yang bersifat mutlak, ya.

Misalnya lo manggil orang tua temen lo dengan hanya menyebut namanya (sebut saja bunga). Di masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai sopan santun, kemungkinan besar apa yang lo lakukan akan dianggap menyimpang dari norma. Berbeda jika lo tinggal di Amerika Serikat, perilaku memanggil orangtua dengan sebutan nama mungkin dianggap sebagai suatu hal yang wajar.

Apa yang bisa kita simpulkan dari contoh tadi? Norma adalah sebuah konstruksi sosial, artinya ia dibangun berdasarkan kesepakatan setiap masyarakat. Kemudian, norma tidak bersifat absolut, melainkan kontekstual. Hal ini berarti keberlakuan norma di setiap masyarakat akan berbeda, sehingga apa yang dianggap baik maupun buruk di setiap masyarakat juga akan berbeda.

Jika kita telusuri secara kritis, norma juga tidak terlepas dari konteks politik. Hal ini berarti bahwa hal-hal yang disepakati sebagai norma dalam suatu masyarakat tidak akan terlepas dari siapa kelompok yang berkuasa di dalam masyarakat tersebut serta gagasan-gagasan apa yang ingin dilanggengkan untuk mempertahankan kekuasaan kelompok tersebut.

Kita ambil contoh “norma” yang berlaku di Jerman pada konteks kekuasaan Partai Nazi di tahun 1933-1945. Di bawah kediktatoran Hitler, “norma” untuk membenci etnis Yahudi dikonstruksikan di tengah masyarakat Jerman. Ada berbagai pandangan yang menjelaskan mengapa kebencian terhadap etnisYahudi dibangun oleh pemerintah Jerman pada masa tersebut. Salah satunya menurut seorang sejarawan Jerman bernama Ralf Georg Reuth adalah keterpurukan ekonomi Jerman yang dianggap turut disebabkan oleh etnis Yahudi. Dominasi Partai Nazi pada masa tersebut memberikan mereka kekuasaan untuk menciptakan suatu norma yang berwujud sikap anti-Yahudi.

Dari paparan di atas, kita bisa melihat bahwa norma (kebencian terhadap bangsa Yahudi) yang dibangun di tengah masyarakat Jerman pada masa kepemimpinan Hitler tidak terlepas dari konteks politik. Kebencian terhadap bangsa Yahudi dibangun sebagai suatu “kebenaran” untuk mendukung kepentingan-kepentingan yang hendak dicapai oleh penguasa Jerman saat itu. Nah, dalam konteks Sosiologi, kita bisa banget ngeliat efek dari “norma” ini sebagai salah satu faktor penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia II

Contoh lain, mungkin lo familiar dengan jargon “penak jamanku, to” yang seringkali ditulis berdampingan dengan foto mantan presiden Soeharto. Jargon tersebut juga merupakan suatu bentuk “norma” yang tidak terlepas dari konteks politik. Jargon tersebut dapat dikatakan sebagai suatu norma karena ia merupakan suatu “kebenaran” yang disepakati oleh orang-orang yang mendukung keberlanjutan masa pemerintahan Soeharto.

Dua contoh yang telah dipaparkan memberikan gambaran kepada kita bahwa norma tidak mewakili suatu kebenaran absolut. “Kebenaran” dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat merupakan hasil konstruksi dan tidak luput dari usaha untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan kelompok tertentu. Hal ini berdampak pada “kebenaran” yang seringkali jadi mengacu pada apa yang dianggap benar oleh kelompok yang berkedudukan dominan dalam masyarakat.

 

Salah Kaprah 4: Sosiologi itu Isinya Teori Doang

Banyak orang berpendapat bahwa belajar Sosiologi hanya sebatas tentang memahami masyarakat secara teoretis dan gak ada “langkah nyata” untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat. Pandangan ini jelas salah, karena Sosiologi memiliki dimensi-dimensi yang lebih pragmatis dari hanya sekadar mengenal masyarakat melalui teori.

Meski nampak abstra, sebenarnya Sosiologi bisa banget nawarin langkah nyata dalam merespon suatu fenomena. Langkah nyata ini biasanya diolah melalu salah satu cabang Sosiologi yang disebut sebagai Applied Sociology atau yang juga dikenal dengan nama Practical Sociology. Seperti Sosiologi pada umumnya, cabang yang dikenal sebagai Sosiologi terapan ini mempelajari masyarakat melalui penelitian serta teori-teori Sosiologi untuk memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi dalam masyarakat. Namun, tidak berhenti di situ, hasil penelitian yang telah dibuat kemudian digunakan sebagai acuan untuk melakukan perubahan sosial yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat.

Sebagai contoh, seseorang melihat masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin dalam mengakses pendidikan. Dengan menggunakan teori Sosiologi tentang pendidikan, ia kemudian mengajukan solusi yang dapat mempermudah akses masyarakat miskin terhadap pendidikan. Solusi yang telah dirumuskan kemudian diwujudkan sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah atau dapat juga direalisasikan melalui program Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan.

Walaupun lebih berfokus pada penyelesaian masalah secara praktis, Applied Sociology ujung-ujungnya akan tetap mengacu pada teori atau hasil suatu penelitian yang telah dilakukan. Pada akhirnya, kesinambungan teori dan praktik tidak dapat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya karena solusi yang baik hanya dapat dihasilkan ketika masalah yang hendak diselesaikan dapat dipahami secara mendalam, salah satu caranya melalui teori. Serba balanced, lah. Gak “cuma” teori, kan?

 

Salah Kaprah 5: Ahli Sosiologi Gak Punya Banyak Pilihan Karier

Terus, kalo gue ngambil jurusan Sosiologi untuk kuliah, gue bisa kerja jadi apa?

Selama berkuliah, orang-orang yang lulus dari jurusan Sosiologi gak hanya belajar teori, salah satu hal lain yang juga dipelajari secara mendalam adalah metode penelitian. Berbagai metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif dipelajari untuk digunakan dalam berbagai macam penelitian sosial. Jadi, berbagai jenis pekerjaan yang berkenaan dengan penelitian sangat cocok untuk lulusan jurusan Sosiologi. Sekarang coba kita eksplorasi apa saja pekerjaan-pekerjaan tersebut dan kenapa lulusan jurusan Sosiologi ideal untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Lo pasti familiar dengan berbagai aplikasi di smartphone, kan, baik media sosial, aplikasi untuk belanja, aplikasi untuk transportasi, dan lain-lain. Kira-kira lo kebayang gak bagaimana letak setiap menu yang ada di aplikasi diatur sehingga menjadi nyaman untuk digunakan? Sebelum letak menu-menu tersebut ditentukan, ada proses risetnya, loh! Riset biar lo semua nyaman saat melakukan navigasi di aplikasi tersebut.

Orang yang bertugas dalam melakukan riset ini adalah seorang User Experience Researcher/Analyst (UX Researcher/Analyst). Riset yang dilakukan oleh seorang UX Researcher/Analyst bisa menggunakan metode kuantitatif (melalui survei) maupun kualitatif (melalui wawancara, focus group discussion, dan lain-lain). Selain itu, data yang dianalisis oleh seorang UX Researcher/Analyst bisa berupa data primer (dikumpulkan secara langsung) maupun sekunder (dikumpulkan dari hasil-hasil riset yang telah dilakukan). Dipelajarinya metode-metode penelitian dan pengolahan berbagai jenis data oleh lulusan jurusan Sosiologi akan memudahkan mereka untuk melakukan pekerjaan ini.

Salah satu prospek pekerjaan lain yang cocok untuk dimiliki seorang lulusan jurusan Sosiologi adalah market researcher. Seorang market researcher bertugas dalam mengumpulkan dan menganalisis data tentang pasar sesuai dengan kebutuhan klien, klien yang dimaksud bisa saja bergerak di bidang bisnis maupun politik. Misal, sebuah perusahaan makanan ringan hendak mengeluarkan varian produk baru. Untuk memastikan bahwa varian produk baru tersebut laku di pasar, seorang market researcher akan mengumpulkan dan menganalisis data yang ia butuhkan untuk mendukung penjualan produk baru tersebut. Sang market researcher dapat mencari tahu rasa apa yang kira-kira akan disukai oleh pasar saat ini. Kemudian, ia juga akan mencari tahu siapa target pasar dari produk baru tersebut dan bagaimana produk akan dipasarkan. Perkiraan harga jual dari produk terbaru tersebut juga perlu disesuaikan dengan target pasar. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh seorang UX Researcher/Analyst, berbagai informasi di atas dapat diperoleh melalui penelitian kuantitatif maupun kualitatif.

Contoh-contoh pekerjaan dari yang dapat dilakoni oleh lulusan jurusan Sosiologi di atas dipilih untuk dibahas karena menduduki peran yang penting untuk kelangsungan kehidupan masyarakat. Kalo lo belajar Sosiologi secara mendalam, lo akan terbiasa untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data. Ini merupakan advantage lo banget dalam dunia kerja, khususnya di era data driven society seperti saat ini di mana berbagai keputusan diambil dengan mengacu pada data.

 

Salah Kaprah 6: Sosiologi Hanya Mempelajari Relasi Antarmanusia

Ketika belajar tentang pola interaksi sosial di SMA, kita belajar bahwa Sosiologi mempelajari relasi di antara individu-individu, individu-kelompok, dan kelompok-kelompok. Namun, apakah kira-kira interaksi yang dipelajari dalam Sosiologi hanya terbatas dalam interaksi antarmanusia? Jawabannya tidak, karena melalui Sosiologi kita juga bisa mempelajari relasi masyarakat dengan benda-benda mati.

Kok bisa? Maksudnya gimana tuh?

Salah satu studi Sosiologi tentang relasi masyarakat dengan benda mati yang paling dikenal pernah dilakukan oleh sekelompok sosiolog asal Frankfurt School, Jerman, pada sekitar tahun 1940-an. Dikuasainya Jerman oleh Partai Nazi pada masa tersebut memaksa para sosiolog Frankfurt School yang berkebangsaan Yahudi untuk melakukan pengungsian ke Amerika Serikat. By the way, gue ngasih contoh tentang Nazi Jerman lagi karena memang fenomena mereka sangat seksi untuk dijadikan obyek penelitian Sosiologi, bahkan menurut gue, gak cuma dalam Sosiologi, tapi di berbagai bidang ilmu lainnya.

Pada masa pengungsiannya di Amerika Serikat, para sosiolog Frankfurt School menemukan bagaimana produk kesenian—seperti musik, film, dan lain-lain—memiliki kekuatan untuk membentuk pola pikir masyarakat.Para sosiolog Frankfurt School ini berargumen bahwa produk kesenian tidak lagi dibuat untuk merefleksikan kesadaran kritis masyarakat tentang kondisi-kondisi di sekitar mereka, melainkan hanya dibuat untuk meraup keuntungan ekonomi sebesar-besanya. Apa yang dimaksud oleh mereka adalah seharusnya produk kesenian seperti musik atau film dapat mencerminkan kondisi sosial maupun politik yang tengah terjadi dalam masyarakat dan tidak hanya dijadikan sebatas komoditas untuk diperjualbelikan. (sounds familiar?)

Kalau kita kaitkan dengan konteks yang terjadi di Indonesia, apa yang disampaikan oleh para sosiolog Frankfurt School bisa jadi relevan. Saat ini kita mungkin banyak terpapar oleh lagu-lagu populer tentang cinta atau patah hati, yang terkadang bisa membuat kita larut dalam perasaan-perasaan tersebut dan jadi tidak mengacuhkan kondisi sosial-politik yang tengah terjadi di dalam masyarakat. Namun, pada kenyataannya memang ada berbagai musik atau film yang dibuat pada masa sekarang yang mengangkat tema sosial maupun politik terkini maupun dari masa lampau yang dianggap penting untuk dibahas.

 

Jadi Belajar Sosiologi buat Apa?

Nah, kalo lo udah baca beberapa miskonsepsi besar di atas tadi, menurut gue sebenernya lo udah bisa jawab pertanyaan ini. Banyak banget yang bisa lo lakukan dalam ilmu yang fleksibel ini. Mau tahu kenapa BTS, Bigbang, SNSD, Blackpink, dll. bisa booming banget? bisa lo pahami melalui Sosiologi. Kenapa Doraemon bisa menimbulkan rasa nostalgia bagi beberapa orang? Lo bisa cari tahu juga penyebabnya melalui riset Sosiologis.

Fenomena “Korean Wave”, topik yang menarik banget untuk dikaji dengan Sosiologi

Sebenernya dalam kehidupan sehari-hari lo udah memulai penelitian dengan menggunakan Sosiologi, loh! Cuma mungkin lo gak ngeh, karena tahapnya baru sampe perumusan masalah aja. Jadi, untuk bisa memenuhi rasa keingintahuan lo, Sosiologi sebenernya bisa jadi instrumen yang berguna banget.

Gue ingatkan lagi juga, bahwa Sosiologi adalah sebuah ilmu pengetahuan. Dan sebagai sebuah ilmu pengetahuan, tentunya ia memiliki andil dalam membentuk kerangka berpikir individu serta kelompok. Sosiologi bisa menjadi medium yang penting banget dalam hal ini. Misalnya nih, norma tentang mayoritas dan minoritas dalam masyarakat gak ada, dan semua individu dilihat secara rata, tanpa ada kuantifikasi identitas, kira-kira apa yang akan terjadi? Ini bisa lo telaah melalui Sosiologi.

Gitu deh, guys. Sekian dulu tulisan gue tentang Sosiologi. Semoga tulisan ini bermanfaat buat lo, dan jangan ragu untuk diskusi di kolom komentar, ya!

CATATAN EDITOR

Kalo ada yang pengen ngobrol, diskusi, atau bertanya tentang sosiologi, silakan bertanya dan ngobrol langsung dengan kak Adam pada kolom komentar di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.