Menjadi Tuan Rumah Event Olahraga Internasional, Apa Manfaatnya?

Artikel ini mengupas tentang mengapa negara-negara di dunia berebut untuk menjadi tuan rumah kompetisi olahraga internasional disertai dengan dampak positif dan negatifnya.

Halo, guys! Jumpa lagi dengan gue, Meby. Kali ini gue mau bahas tentang sebuah hal yang rame banget diomongin belakangan ini, yaitu sebuah event olahraga internasional yang kita kenal sebagai Asian Games. Banyak yang bilang bahwa Asian Games ke-18 yang diadakan di Jakarta dan Palembang kemarin tergolong sukses. Bahkan, gak sedikit negara yang memuji kemeriahan opening ceremony-nya.

Kalo lo liat opening maupun kompetisi-kompetisi Asian Games kemarin, pernah gak, lo mikir bahwa untuk ngadain event kayak gini tuh butuh biaya yang besar banget. Kenapa kok pemerintah mau aja ngeluarin dana sedemikian besar cuma untuk event yang berlangsung beberapa hari? Kenapa dananya gak dialihkan ke hal lain aja yang lebih berguna? Nah, di sini gue akan coba beri penjelasan kenapa kita (pemerintah, sih, tepatnya) tetep ngadain event ini meskipun biayanya sangat besar.

Sebelum lanjut, gue mau bahas sedikit tentang Asian Games ke-18 kemarin, nih. Sekadar info, untuk sebuah negara bisa menjadi tuan rumah sebuah sporting event, biasanya akan diadakan bidding (lelang) terlebih dahulu. Inilah mengapa gue bilang bahwa negara-negara di dunia itu “berlomba-lomba” untuk bisa mendapatkan vote terbanyak, supaya bisa menang bidding dan menjadi host sebuah sporting event. Nah, sebenernya, yang harusnya menjadi tuan rumah Asian Games ke-18 bukan Indonesia, tapi Vietnam. Proses bidding untuk event ke-18 ini diadakan di tahun 2012, dengan 3 kandidat negara, yaitu Vietnam (Hanoi), Indonesia (Surabaya), serta Uni Emirat Arab (Dubai). Di momen terakhir bidding, Uni Emirat Arab dengan Dubai sebagai kota kandidatnya mengundurkan diri, sehingga tersisa Hanoi dan Surabaya saja. Pada akhirnya, yang memenangkan bidding adalah Hanoi, dengan perolehan 29 suara, sedangkan Surabaya hanya mendapatkan 14 suara. So, yang seharusnya menjadi kota tuan rumah Asian Games adalah Hanoi.

Sayangnya, 2 tahun kemudian, kemampuan finansial Vietnam untuk menyelenggarakan event ini dipertanyakan. Target budget sebesar USD 150 juta dianggap terlalu besar, sehingga pada akhirnya Vietnam mengundurkan diri. Akhirnya Dewan Olimpiade Asia menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah, karena pada bidding sebelumnya Indonesia merupakan kandidat kedua untuk negara tuan rumah. Namun, kota yang dipilih bukan Surabaya, melainkan Jakarta dan Palembang. Surabaya tidak jadi diajukan sebagai kota tuan rumah karena ingin fokus menyiapkan Asian Youth Games di tahun 2021, sehingga akhirnya Jakarta dan Palembang yang akhirnya dipilih menjadi kota-kota tuan rumah.

International Sporting Events

Asian Games itu cuma satu contoh aja, loh, sebenernya event olahraga internasional ada banyak banget, ada yang spesifik berdasarkan jenis olahraganya seperti Piala Dunia FIFA (sepak bola), Piala Dunia FIBA (bola basket), dll. Ada juga kompetisi yang mengakomodasi kelompok tertentu, seperti Paralympic Games, Asian Para Games, dll. untuk kaum difabel. Terus ada juga berbagai kompetisi antar negara secara regional, seperti Asian Games, (jangan ketuker, ya, SEA Games itu khusus Asia Tenggara), European Games, dll., sampe yang skalanya global macam Olimpiade Musim Panas dan Olimpiade Musim Dingin.

Logo Piala Dunia FIFA dari tahun 1990-2018

Sebenernya kompetisi-kompetisi olahraga ini buat apa, sih? Yang jelas bukan cuma sekadar adu kekuatan atau keahlian para atlet di bidangnya, loh, tapi kompetisi-kompetisi ini juga berperan sebagai simbol dari berbagai hal, seperti kegigihan dan semangat juang suatu negara, sportivitas, persahabatan, dan juga kerjasama. Makanya biasanya kompetisi olahraga ini dilakukan secara reguler, misalnya tahunan, atau setiap tiga tahun, empat tahun atau lima tahun. Intinya sih untuk menjalin kerjasama antar negara di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya. Para atlet yang akan berpartisipasi dalam berbagai lomba itu pastinya udah ngejalanin latihan-latihan yang nggak gampang dan nggak sebentar. Belum lagi para pelatih dan pendukungnya yang ngebuat si atlet-atlet ini tetap semangat dan berusaha untuk memberikan yang terbaik pada saat kompetisi berlangsung, karena mereka sebagai tim pastinya akan membawa nama negaranya masing-masing ke dunia internasional.

Kesanggupan sebuah negara untuk menjadi tuan rumah (host) sebuah event olahraga internasional adalah sebuah hal yang sangat bergengsi

Persiapannya gimana?

Nah untuk jadi tuan rumah event sebesar ini pastinya kan butuh modal, ya? Misalnya aja nih, Indonesia untuk jadi tuan rumah Asian Games XVIII ini sampe ngerenovasi besar-besaran stadion utamanya di Jakarta, yaitu Gelora Bung Karno. Berbagai fasilitas olahraga dibongkar dan diperbaiki karena umurnya yang emang udah cukup tua. Bahkan ada yang baru dibangun, seperti wisma atlet yang mampu menampung 15 ribu orang. Kemudian pembangunan infrastruktur yang akan mendukung pelaksanaan event tersebut seperti pembangunan Mass-Rapid Transit (MRT) dan Light-Rapid Transit (LRT), serta perbaikan dan pembangunan jalan di berbagai ruas. Termasuk juga renovasi stadion Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan, karena selain Jakarta, Palembang merupakan kota dimana beberapa cabang olahraga dalam Asian Games kali ini akan diadakan. Nah di Palembang juga dilakukan pembangunan LRT untuk memudahkan transportasi para atlet dan pengunjungnya dari bandara ke lokasi penginapan dan pertandingan. Ditambah lagi berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mempercantik kedua kota tersebut, seperti pengecatan trotoar dan tembok, pemasangan spanduk dan banner, dan lain-lainnya.

Revitalisasi stadion GBK untuk persiapan Asian Games XVIII

Berbagai kegiatan ini pastinya membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit yang harus diambil dari anggaran negara. Diperkirakan modal yang sudah dikeluarkan untuk persiapan menjadi tuan rumah Asian Games XVIII adalah sebesar 45 triliun Rupiah, yang digunakan untuk rehabilitasi Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Jakabaring, wisma atlet, infrastruktur serta biaya operasional selama persiapan berlangsung, yaitu sejak 2015 hingga 2018 ini. Gila ya, banyak banget! Kira-kira negara kita akan balik modal nggak sih tuh ya? Kalo kita ngeliatnya cuma dari perkiraan pemasukan yang diperoleh saat event tersebut berlangsung sih jauh dari balik modal. BAPPENAS memperkirakan pemasukan kita pada event tersebut dari para pengunjung, termasuk atlet dan timnya, para pendukung dan juga penonton berbagai kompetisi olahraga tersebut, adalah kurang dari 5 triliun Rupiah, yang didapet dari pembelanjaan konsumsi, akomodasi, transportasi dan hiburan mereka selama di Indonesia. Wah, nggak sampe 10% dari pengeluaran modal kita dong tuh ya?

Terus apa untungnya?

Kalo liat contoh ini, kok ada sih ya negara yang mau jadi tuan rumah event seperti ini? Kalo diliat dari catatan keuangannya sih kayanya kan rugi besar ya? Tapi yang dicari oleh sebuah negara yang menjadi tuan rumah sebenernya bukan keuntungan dari sisi keuangan dari penyelenggaraan event, tapi dari berbagai hal lainnya. Misalnya aja, dengan jadi tuan rumah suatu event kompetisi olahraga, pastinya akan ada liputan dari berbagai media nasional dan internasional. Nah, ini bisa jadi salah satu ajang promosi, terutama di sektor pariwisata, sosial dan budaya, untuk nunjukin ke dunia seperti apa negara tuan rumah tersebut, khususnya kota-kota tempat kompetisi olahraga dilaksanain. Selain sebagai ajang promosi, bisa juga jadi instrumen untuk branding negara si tuan rumah. Jadi di sini negara tuan rumah punya kesempatan untuk menonjolkan berbagai sisi negaranya, misalnya aja keindahan alamnya, berbagai kebudayaan, situasi dan kondisi kotanya, dan sebagainya.

Nah selain untuk promosi dan branding tadi, segala persiapan untuk jadi tuan rumah event seperti itu juga bisa jadi roda penggerak perekonomian negara. Misalnya aja Indonesia yang ngerenovasi stadion di Jakarta dan Palembang untuk Asian Games XVIII itu sampe jadi stadion-stadion kelas internasional. Memang butuh modal yang cukup besar, tapi kan stadion-stadion itu akan jadi fasilitas olahraga bagi masyarakat Indonesia ke depannya, baik untuk latihan para atlet di berbagai cabang olahraga, bisa juga untuk masyarakat umum yang ingin olahraga. Belum lagi berbagai sarana dan prasarana yang udah dibangun, seperti transportasi (MRT dan LRT) di kota-kota penyelenggaraan event tersebut. Masyarakat umum bisa menikmati semua itu bertahun-tahun setelah event kompetisi olahraga tersebut selesai diselenggarakan.

LRT, fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setelah event selesai

Dan jangan lupa, perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana itu semua juga kan pastinya butuh tenaga kerja, kan? Ini juga membuka kesempatan kerja bagi para tenaga kerja di negara tuan rumah, yang pastinya akan mengurangi tingkat pengangguran di negaranya. Selama event berlangsung juga pastinya akan butuh tenaga tambahan untuk memastikan event berjalan dengan lancar. Misalnya aja program-program sukarelawan (volunteer programs) pastinya akan terbuka luas bagi para muda-mudi negara tuan rumah, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau universitas ataupun yang baru lulus. Nah ini juga kesempatan yang bagus banget buat tenaga kerja muda untuk berkenalan dengan orang-orang dari negara lain dan juga memperkenalkan negaranya ke para pengunjung tersebut, di samping pastinya mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan event itu sendiri yang pastinya merupakan pengalaman yang unik dan penuh dengan pembelajaran. Siapa tahu, mungkin aja kan nantinya negara itu bisa jadi tuan rumah event yang lebih besar lagi. Contohnya aja Seoul, Korea Selatan, yang jadi tuan rumah Asian Games X dan kemudian jadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2002, bersama dengan Jepang.

Ada ruginya, gak?

Jawabannya pasti ada. Meski sebenernya kita gak bisa dikotomi untung-rugi gitu aja, ada juga sisi negatif dari penyelenggaraan event olahraga internasional. Selain biaya penyelenggaraan yang angkanya fantastis dan dapat menyebabkan jatuhnya kondisi finansial suatu negara, contoh yang paling nyata dan beberapa kali terulang di berbagai negara adalah terbengkalainya fasilitas setelah event selesai.

Misalnya saja stadion olahraga di Athena, Yunani, yang pembangunannya dimulai pada tahun 1980 untuk digunakan ketika Yunani menjadi tuan rumah European Championships in Athletics pada tahun 1982. Setelah event tersebut, Olympic Stadium di Athena ini masih digunakan untuk menyelenggarakan Piala Euro, dan beberapa event olahraga Eropa lainnya. Hingga pada tahun 2002-2004 stadion tersebut direnovasi besar-besaran karena Yunani menjadi tuan rumah Summer Olympics pada tahun 2004. Namun sayangnya, setelah event olahraga internasional bergengsi tersebut berakhir, Stadion Olimpiade Athena terbengkalai dan tidak digunakan sama sekali. Salah satu penyebabnya adalah kondisi perekonomian dan politik Yunani yang sempat mengalami ketidakstabilan pasca krisis keuangan global tahun 2008-2009 lalu, yang mengakibatkan Yunani mencatat rasio utang terhadap PDBnya hingga 179% sehingga membuat Yunani terpaksa menerima bantuan dana bailout pada tahun 2010, 2012, and 2015 dari IMF, Eurogroup dan Bank Sentral Eropa.

Salah satu stadion di Rio yang terbengkalai

Selain stadion Athena, ada lagi lokasi-lokasi olahraga di Rio de Janeiro, Brazil, yang terbengkalai hanya dalam 6 bulan setelah Olimpiade Musim Panas Rio 2016. Mahalnya biaya perawatan menjadi penyebab utama pengabaian terhadap fasilitas-fasilitas ini. Sayang banget, kan? Padahal untuk bikinnya aja perlu biaya yang besar banget. Kemudian ada lagi Olympic Village di Berlin, Olympic Podium di Sarajevo, dll. Jadi bisa dibilang bahwa fasilitas yang dibangun ya cuma gitu aja. Dipake saat event, tapi ga ada keperluan untuk dipake lagi setelahnya, jadi dicampakkan, deh.

Jadi event-event seperti ini penting gak sih?

Penting banget! Selain alasan-alasan yang udah gue sebut di atas, event-event seperti ini memiliki dampak yang menurut gue cukup besar, karena memberi impact  di banyak bidang, terutama ekonomi dan politik. Malah sebenarnya event-event seperti ini bisa jadi pemersatu dan peredam konflik karena perbedaan, loh. Liat aja pas Asian Games Jakarta-Palembang kemaren, meski tahun ini cukup panas karena adanya kubu-kubu politik, sebagian besar pendukung kontingen Indonesia bersatu dan memberi semangat bagi para atlet perwakilan Tanah Air. Ini hal yang patut menjadi kebanggaan.

Asian Para Games 2018 yang akan diadakan di Jakarta pada 8-16 Oktober

By the way, di bulan Oktober 2018 ini bakal ada Asian Para Games, loh, ini kesempatan kedua Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara kita sanggup menjadi tuan rumah event olahraga internasional di tahun 2018. Bahkan, rencananya Indonesia berniat melakukan bidding untuk menjadi negara tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2032, wow! Gimana menurut lo? Indonesia udah siap belum?

Sampe di sini dulu aja ya, guys. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat lo. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

 

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Asian_Games
https://en.wikipedia.org/wiki/Olympic_Council_of_Asia
http://www.thejakartapost.com/travel/2018/06/28/2018-asian-games-time-for-indonesia-to-shine.html
https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/memaksimalkan-dampak-ekonomi-asian-games-2018-untuk-indonesia/
https://www.bappenas.go.id/files/8015/3309/4281/Siaran_Pers_-_Asian_Games_2018_akan_Memberikan_Dampak_Positif_Bagi_Perekonomian_Indonesia.pdf
https://tirto.id/dampak-ekonomi-pelaksanaan-asian-games-2018-capai-rp-45-triliun-cJrK

==========CATATAN EDITOR===========

Jika kamu ingin bertanya seputar topik event olahraga internasional ke Meby, silakan post pertanyaan kamu di kolom komentar, ya!

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.