Kisah Runtuhnya Dinasti Terakhir Kekaisaran Tiongkok

Selama ribuan tahun, Kekaisaran Tiongkok (China) bertahan, berkembang, serta membangun salah satu peradaban yang terbesar sepanjang sejarah manusia. Namun, peradaban yang katanya besar, kokoh, dan eksis selama lebih dari 2000 tahun itu toh akhirnya tumbang juga di awal abad ke-20. Bagaimana ceritanya? Artikel ini menceritakan beberapa penyebab kunci dari kehancuran dinasti terakhir Tiongkok (Dinasti Qing).

Halo ketemu lagi sama gua Marcel, di topik sejarah Zenius Blog! Pada kesempatan kali ini gua masih ceritain tentang sejarah Kekaisaran Tiongkok, terutama di penghujung dinasti terakhirnya (Dinasti Qing). Mungkin beberapa di antara lo pernah denger petuah “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”. Maksudnya gimana? Arti sebenarnya adalah nasihat agar kita menuntut ilmu dengan gigih, walau harus merantau ke tempat yang jauh sampai ke negeri Cina.

Kenapa harus sampai ke negeri Cina? Karena memang selama lebih dari 2000 tahun Kekaisaran Tiongkok berdiri (di bawah berbagai dinasti), mereka menjadi salah satu peradaban yang paling maju di dunia, khususnya dalam bidang penemuan teknologi seperti kompas, kertas, bubuk mesiu, pengolahan teh, dan lain-lain. Jadi, gak heran lah ya, kalau mereka dianggap hebat dan dijadikan panutan untuk menuntut ilmu.

Bendera Dinasti Qing, dinasti terakhir Tiongkok yang berasal dari etnis Manchu.

Namun, pada kenyatannya, Kekaisaran Tiongkok yang begitu digdaya selama ribuan tahun pada akhirnya runtuh juga. Wah, kenapa bisa begitu? Nah, pada artikel ini gua ingin mengajak lo sekali lagi untuk “menuntut ilmu sampai ke Negeri Cina” dalam memahami penyebab-penyebab keruntuhan dari bangsa yang begitu berjaya selama ribuan tahun. Dengan memahami sejarah itu, gua berhadap lo bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dan menjadi refleksi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

 

Sekilas terkait latar belakang sejarah dan politik.

Sebelum gua masuk ke cerita utama, gua mau memastikan lo memahami dulu latar belakang kondisi masyarakat Tiongkok pada awal abad 20. Secara garis besar, sebetulnya bisa lo baca di artikel sebelumnya yang berjudul: Bagaimana Sikap Anti-Asing Menghancurkan Kekaisaran Tiongkok. Pada artikel itu, gua  mengulas bagaimana Dinasti Qing telah begitu melemah dari sisi kestabilan politik maupun ekonominya karena serangan bangsa Eropa ke Ibukota Beijing dalam perang candu 2. Kekalahan itu ditandai dengan perjanjian Peking pada Oktober 1860, yang pada intinya memberikan hak kepada Inggris, Perancis, Rusia, dan AS untuk berlayar di sungai Yangtze serta berdagang di seluruh Tiongkok. Perjanjian ini juga memastikan wilayah Manchuria Luar seluas sekitar 600.000 km²  jatuh secara mutlak tanpa syarat ke tangan Kekaisaran Rusia.

Nah artikel ini bisa dikatakan sebagai sambungan cerita dari artikel sebelumnya. Namun pada artikel ini, gua akan menekankan pada 3 faktor kunci yang paling krusial sebagai pemicu utama runtuhnya Dinasti Qing sebagai dinasti terakhir dalam Kekaisaran Tiongkok, yaitu Pemberontakan Taiping, Pemberontakan Boxer, dan Pemberontakan Wuchang. Mari langsung kita mulai ceritanya:

 

Pemberontakan Taiping (1850-1871)

Pada abad 19, seorang calon PNS gagal bernama Hong Xiuquan merasa bahwa ia mendapat wahyu Ilahi. Dia mendeklarasikan bahwa dirinya adalah “adiknya Yesus / Nabi Isa” yang akan membawa kedamaian abadi untuk rakyat Tiongkok. Bagi kita sekarang yang membaca hal itu mungkin terdengar konyol, tapi faktanya memang banyak orang yang percaya dan terpengaruh oleh Hong Xiuquan ini.

Hong Xiuquan, penggagas Taiping Tianguo

Saat itu, pemerintahan Tiongkok yang sah di bawah Dinasti Qing memang tidak mendapatkan simpatik dari masyarakat luas. Korupsi merajalela di mana-mana, ada bencana kelaparan, penyakit, dan banyak masyarakat yang kecanduan opium. Dalam kondisi ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah itu, Hong Xiuquan dan adik-adiknya dengan mudah berhasil mengumpulkan ribuan pengikut yang setia. Mereka pun mendeklarasikan Taiping Tianguo atau “Kerajaan Perdamaian Surgawi”, tentunya dengan posisi menentang rezim Dinasti Qing.

Singkat cerita, kelompok Taiping Tianguo yang dipimpin seorang delusional ini semakin mendapatkan banyak pengikut bahkan sanggup menciptakan pasukan sendiri. Beberapa kali, pasukan Taiping sanggup mengalahkan pasukan yang dikirim oleh Dinasti Qing. Sampai pada puncaknya pasukan Taiping mampu menaklukkan Kota Nanjing, yang pada akhirnya dijadikan sebagai ibukota dari Taiping Tianguo. Dengan mendapatkan ibukota, Hong Xiuqian mengirimkan pasukan pemberontak untuk menyerang ibukota Dinasti Qing, yaitu Beijing.

Kegagalan pasukan Qing mempertahankan Kota Nanjing, menunjukkan betapa lemahnya pasukan Dinasti Qing. Salah satu faktor penyebab kekalahan Qing terhadap kubu Taiping adalah kurang modernnya militer kerajaan, dari mulai senjata, strategi, dan juga cara berperang. Sampai pada akhirnya, dinasti Qing mencoba menghimpun pasukan baru, yang dipersenjatai dengan persenjataan Eropa, bahkan dilatih dengan gaya Eropa. Para jenderal yang kalah juga dipecat, diganti dengan jenderal-jenderal baru yang bersih dari korupsi dan mau bekerja dengan serius.

Perubahan militer dari kubu Qing berbuah manis. Kekuatan tempur mereka membaik, sementara jenderal-jenderalnya Hong Xiuquan dari kubu Taiping malah terlibat pertengkaran pribadi dan gontok-gontokan sendiri. Akhirnya, upaya merebut Beijing gagal, sampai akhirnya ibukota Taiping Tianguo (Nanjing) berhasil direbut oleh pasukan Qing. Hong Xiuqian sebagai pemimpin yang dikultuskan sudah meninggal beberapa hari sebelumnya. Perlawanan-perlawanan sporadis masih berlangsung sampai tahun 1871, tapi praktis ancaman Taiping Tianguo terhadap keselamatan Dinasti Qing sudah berakhir di tahun 1864.

Pemberontakan Taiping

Reformasi & modernisasi yang Pincang: Li Hongzhang & Cixi

Bercermin dari pemberontakan Taiping, pihak kerajaan sadar betul bahwa kekuatan mereka sangatlah ringkih. Oleh karena itu sejak tahun 1861, istilah “Penguatan diri” mulai muncul dalam dokumen-dokumen negara. Satu catatan penting dari pemberontak Taiping adalah kelemahan militer kerajaan. Oleh karena itu, mulai muncul gerakan pemerintah untuk memperbaharui militer, yang berkiblat pada militer modern Eropa seperti Inggris dan Perancis.

Di antara para pejabat Qing yang bersemangat melakukan modernisasi adalah salah satu jendral penakluk Taiping Tianguo yang bernama Li Hongzhang. Hongzhang bukan hanya menginginkan modernisasi militer, tetapi juga reformasi pendidikan dan perekrutan pegawai sipil (PNS). Ia berpikir, bahwa kelemahan dinasti Qing bukan hanya pada sisi militernya saja, tapi juga sisi manusianya. Apa gunanya senjata canggih kalau tentaranya tidak terlatih untuk menggunakannya? Apa gunanya senjata canggih kalau pejabatnya masih korupsi? Karena itulah, Hongzhang juga menginginkan reformasi pendidikan dan perekrutan PNS. Menurut Hongzhang, PNS Tiongkok tak boleh hanya menguasai sastra dan filsafat Konfusianisme, tetapi juga mempelajari Matematika, Fisika, dan Bahasa Asing.

Jenderal Li Hongzhang

Di bidang militer, Li Hongzhang juga mendirikan “Tentara Huai” dan “Armada Beiyang” yang berbasiskan teknologi dan pelatihan Eropa. Keduanya menjadi tentara dan armada terbaik milik kekaisaran Qing. Hongzhang dan beberapa jenderal lainnya juga menjadi penggagas berdirinya pabrik-pabrik senjata lokal seperti  Jiangnan Arsenal, dan pabrik kapal di Port Arthur; yang diharapkan mengakhiri ketergantungan militer Qing terhadap senjata-senjata impor.

Sayangnya, gerakan “Penguatan Diri” ini bukannya tanpa hambatan. Praktek KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) sudah mengakar kuat di birokrasi Dinasti Qing. Begitu banyak pejabat yang mencuri dana negara. Begitu banyak pejabat yang mendapatkan kekuasaan karena kolusi dan nepotisme, bukan atas dasar kemampuan yang baik. Hal ini semakin diperparah, oleh sikap konservatif dari sosok yang paling dominan di Tiongkok sejak tahun 1861, yaitu Ibu Suri Cixi (Ibu dari Kaisar Tongzhi, ia memegang tampuk pemerintahan selama 47 tahun).

Sepanjang hidupnya, sang ibu suri memiliki satu tujuan: mempertahankan kekuasaannya. Modernisasi dan reformasi, tak pernah menjadi prioritas utama Cixi. Dia hanya mendukung reformasi ketika reformasi memperkuat kekuasaannya. Tentu saja, kepentingan politik pribadi ini akan menjadi hambatan utama dari reformasi militer & pendidikan yang diperjuangkan oleh Li Hongzhang.

Ibu Suri Cixi, ibu dari Kaisar Tongzhi, pemegang kekuasaan Dinasti Qing yang sesungguhnya di penghujung era dinasti tersebut.

Untuk mempertahankan kekuasaannya, Cixi mendukung dan mempromosikan banyak sekali pejabat yang paling setia kepada dirinya. Para pejabat ini banyak yang berasal dari generasi tua, yang kebanyakan bersifat terlalu konservatif, yang menolak segala buah pemikiran yang dianggap kebarat-baratan (asing), termasuk modernisasi dan reformasi. Mereka tahu, reformasi seperti itu cuma akan membuat mereka yang tak memiliki kemampuan yang relevan menjadi tersingkir. Tak heran di antara pemberontakan Taiping sampai tahun 1890-an modernisasi yang dicita-citakan oleh Hongzhang tidak berjalan dengan merata, melainkan timpang. Reformasi bisa dikatakan cukup berhasil hanya pada bidang militer, sementara korupsi di kalangan pejabat tinggi hingga rendahan masih terus mengakar.

 

Perang Melawan Jepang (1894-1895)

Akibat dari korupsi di kalangan pejabat ini terasa sekali saat Kekaisaran Qing berperang melawan Jepang (1894 – 1895) saat kedua negara memperebutkan dominasi atas semenanjung Korea. Secara jumlah, tentara dan kapal Qing perang di bawah komando Li Hongzhang lebih banyak daripada tentara dan kapal perang Jepang. Namun, opsir-opsirnya banyak yang berpandangan tradisional, dan berperang dengan cara kuno yang mereka gunakan juga saat melawan Pemberontakan Taiping 30 tahun sebelumnya.

Pembagian jatah persenjataannya juga campur aduk. Divisi-divisi terbaik dipersenjatai senapan cukup modern (seperti Mauser M1871), tetapi beberapa divisi yang kurang cakap dipersenjatai dengan senapan kuno seperti Jingal yang tidak efektif. Empat puluh persen tentara Qing bahkan masih dipersenjatai dengan busur dan panah, golok, tombak, pedang, dan senjata-senjata tajam tradisional lainnya. Ini kontras dengan tentara Jepang yang senjatanya sudah modern dan seragam seperti Murata M1889 atau Murata M1880. Pelatihan tentara Jepang juga sudah seragam, dan opsir-opsirnya sudah dilatih secara modern.

Atas: Jingal, senapan kuno milik Tiongkok, harus diletakkan pada tumpuan agar bisa digunakan.
Bawah: Senapan canggih M1889 Jepang

Perang berjalan dengan buruk bagi pihak Qing. Di darat, tentara Qing bukan cuma kalah persenjataan, tapi juga kalah kompak. Berkali-kali tentara Qing panik, dan meninggalkan posisi yang seharusnya dipertahankan. Berkali-kali pula jenderal-jenderal Qing saling curiga satu sama lain, sehingga mereka tak mau bergerak untuk membantu rekannya. Akibatnya, berkali-kali tentara Jepang mengalahkan tentara Qing, padahal dalam beberapa kesempatan, tentara Jepang kalah jumlah. Dampak dari korupsi juga memperparah persenjataan perang, seringkali mesiu diganti dengan serbuk gergaji, pedang bukannya terbuat dari baja tapi terbuat dari timah yang jauh lebih murah dan lunak. Di sisi lain kebanyakan tentara Qing saat itu sudah lama tidak menerima gaji, sehingga mereka pun bertugas dengan malas-malasan.

Di laut, keadaan yang sama terjadi. Biarpun menang jumlah dan ukuran kapal perang, armada Beiyang (armada laut Dinasti Qing) malah kalah melawan armada Jepang karena persenjataan perang mereka dikorupsi. Banyak peluru meriam kapal mereka diisi oleh semen atau porselen ketimbang mesiu. Armada Beiyang terpaksa berlindung di dalam pelabuhan Weihaiwei, sampai akhirnya tentara Jepang merebut Weihaiwei. Konsekuensinya, armada Jepang dengan bebas menyalurkan tentara, amunisi, dan makanan dari tanah Jepang ke medan perang di daerah Korea dan Manchuria.

Modernisasi yang diterapkan oleh Li Hongzhang sayangnya dibarengi oleh korupsi besar-besaran, sehingga baik AD maupun AL dinasti Qing tak bisa bertempur dengan baik, yang berujung kepada kekalahan telak tentara Kerajaan Qing atas tentara Jepang.

Perang Tiongkok vs. Jepang. Tentara Qing menderita kekalahan telak.

Akhirnya, ketika kedua belah pihak berunding di Shimonoseki, pihak Qing tak punya taring apa pun untuk berunding. Praktis pihak Jepang bisa mendikte jalannya perundingan. “Untungnya” pada saat perindungan tersebut, seorang ultra-nasionalis dari Jepang mencoba membunuh Li Hongzhang yang menjadi kepala diplomat Qing, namun hanya berhasil melukainya. Upaya serangan dalam proses perundingan ini adalah aib yang sangat memalukan martabat Jepang. Dibalut perasaan malu karena kegagalan dalam menjaga keselamatan utusan lawan, pihak Jepang sepakat untuk menurunkan permintaan mereka.

Peristiwa perundingan Tiongkok-Jepang pasca perang.

Selesai perang melawan Jepang, Li Hongzhang juga kehilangan pengaruhnya dalam proses reformasi pembangunan, justru malah ditempatkan pada kegiatan-kegiatan seremonial. Akhirnya Li Hongzhang malah sibuk melakukan tur keliling dunia, dalam rangka mewakili Dinasti Qing dalam peristiwa-peristiwa seremonial seperti upacara naik takhtanya Tsar Nicholas II di Rusia, ketimbang aktif meneruskan reformasi militer dan pendidikan di Tiongkok.

 

Reformasi 100 Hari

Kekalahan dari Jepang benar-benar mempermalukan Dinasti Qing. Kekalahan tersebut lebih menyakitkan daripada kekalahan melawan Inggris atau Perancis. Kenapa begitu? Karena sepanjang sejarah Tiongkok, Jepang selalu dipandang sebagai “junior”, “adik”, bahkan sebagai “wilayah kecil yang membayar upeti kepada Tiongkok”.

Sampai tibalah saat dimana Kaisar Guangxu (1871 – 1908), yang merupakan keponakan dari Cixi, naik tahta menggantikan Kaisar Tongzhi. Dengan adanya kaisar, bisa dikatakan pengaruh ibu suri yang konservatif tidak sedominan dulu lagi. Sang kaisar pun memerintahkan reformasi besar-besaran, baik dari segi militer, maupun sumber daya manusianya.

Sektor pendidikan kerajaan mulai direformasi. Pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada sastra, filsafat, dan Konfusianisme, melainkan juga pada sains, teknologi, dan bahasa asing. Sistem politik juga harus menjadi lebih representatif, dan harus diatur dengan konstitusi (Undang-undang Dasar) bukannya diatur seenak jidat kaisar atau ibu suri seperti era terdahulu. Ekonomi Tiongkok juga harus diubah, tidak boleh lagi melulu berbasis pertanian, tapi harus mulai beralih ke sektor perdagangan dan industri.

Upaya reformasi ini secara politik dipimpin oleh Kaisar Guangxu, dan secara intelektual oleh tokoh bernama Kang Youwei (1858 – 1927). Reformasi ini secara resmi dimulai tanggal 11 Juni 1898.

Kiri Kaisar Guangxu, Kanan Kang Youwei

Sayangnya dalam praktik di lapangan, Kaisar Guangxu tidak sepenuhnya menjadi penguasa tertinggi di Tiongkok saat itu. Ibu suri Cixi yang jauh lebih tua, lebih senior, dan lebih memiliki pengaruh politik di kalangan pejabat tinggi masih menjadi penghambat modernisasi Tiongkok. Ada kalanya, keputusan-keputusan penting masih diambil oleh sang Ibu Suri dari sudut pandang tradisional dan konservatif.

Di kalangan pejabat internal sendiri, reformasi besar-besaran yang dimotori oleh Kang dan didukung oleh Kaisar Guangxu tidak dipandang dengan seragam. Para pejabat lama yang mendapat posisi karena koneksi mereka, sadar bahwa mereka akan dipecat atau dipensiunkan dini kalau reformasi besar-besaran ini diteruskan. Mereka pun berkumpul dan mendesak ibu suri untuk mencegah “Dirusaknya negeri dan kebudayaan Tiongkok yang luhur dan sakral oleh nilai-nilai barat yang asing yang barbar.”

Ibu suri Cixi sepakat. Dia juga menganggap para pemimpin reformasi adalah pengkhianat bangsa yang sudah disogok oleh kekuatan asing untuk merusak Tiongkok. Akhirnya, sang ibu suri pun melakukan kudeta pada 21 September 1898. Kaisar Guangxu ditangkap, dan ibu suri Cixi kembali memimpin negeri Tiongkok. Reformasi berakhir cuma sekitar 3 bulan setelah dimulai, maka itu dikenal dengan nama “Reformasi 100 Hari”. Di bawah pemerintahan Ibu Suri, reformasi yang tadinya berjalan cepat, kembali menghadapi kendala.

 

Pemberontakan Boxer

Rakyat Tiongkok frustrasi karena kekalahan bertubi-tubi dari negara-negara asing, frustrasi karena kemiskinan merajalela, frustrasi karena bahan makanan terbatas, frustasi karena pemerintahan dikuasai oleh koruptor. Mereka pun marah, tidak hanya kepada Dinasti Qing, tetapi juga kepada orang-orang asing. Apalagi, setelah kekalahan dari Jepang, negara-negara lain mulai mencaplok wilayah Tiongkok, Inggris mencaplok Weihaiwei, Jerman mencaplok Jiaozhou, Rusia mencaplok Liaodong, dan lain-lain.

Rakyat yang frustrasi ini mulai mengorganisasikan diri, membentuk perkumpulan-perkumpulan ormas. Salah satu organisasi itu bernama Yihequan (Tinju Keadilan dan Harmoni) yang semula bertujuan untuk mempromosikan beladiri Tiongkok (Kungfu) kepada rakyat jelata, untuk menjaga kebugaran dan kesehatan. Ormas ini makin lama kian berkembang, mereka sering melakukan latihan kungfu secara terbuka, sekalian mempromosikan gerakan mereka. Karena banyak gerakan beladiri itu menggunakan tinju, maka anggota ormas ini sering disebut “Boxer” oleh orang-orang Eropa.

Seorang tentara Boxer. Awalnya ormas ini nampak tidak berbahaya, dan mempromosikan gerakan positif.

Keputusasaan, kekecewaan, dan kemarahan membuat rakyat Tiongkok, membuat para pengikut Yihequan mengubah arah gerakan organisasi. Dari semula “Kungfu untuk kebugaran” menjadi “Kungfu untuk membasmi orang asing” dan “Kungfu untuk memurnikan budaya Tiongkok”. Pengikut Yihequan bertambah banyak di mana-mana, terutama di daerah perkotaan, yang dipenuhi orang-orang miskin yang baru saja pindah dari desa. Gerakan ini makin kuat setelah beberapa pejabat Qing bergabung dengan mereka.

Para ormas jago Kungfu inipun mulai secara aktif menyerang misionaris-misionaris Kristen dan orang-orang Tionghoa yang masuk agama Kristen. Aksi pengeroyokan dan pukul-pukulan terjadi di mana-mana dengan slogan “anti-asing” dan “pemurnian budaya Tiongkok”. Lambat laun, ormas ini semakin jumawa dan merasa menjadi “jagoan” yang menyelematkan budaya tradisional Tiongkok dari pengaruh asing. Gerakan beladiri Kungfu ini juga tidak jarang diwarnai oleh klaim-klaim yang tidak masuk akal dan mengada-ngada. Contohnya para pemimpin Yihequan  menjanjikan para pengikutnya bahwa mereka akan kebal peluru dan bisa mengendalikan cuaca, sehingga mereka bisa menghancurkan tentara-tentara asing.

Di sisi lain, pandangan pejabat Qing terhadap ormas ini sendiri tidak kompak. Beberapa ada yang simpatik dan mendukung gerakan Boxer ini. Beberapa ada juga yang merasa gerakan ini membahayakan ketertiban dan mempromosikan takhayul. Sampai akhirnya pada 9 Oktober 1899, para Boxer memulai pemberontakan di daerah Pingyuan. Mereka mengkambinghitamkan orang-orang Kristen atas kegagalan panen di daerah itu. Pemberontakan pun menyebar dengan cepat. Kota demi kota jatuh ke tangan pemberontak.

Di ibukota, Beijing, ada satu daerah yang menjadi sasaran empuk bagi ormas anti-asing ini, yaitu sebuah pemukiman yang ditinggali oleh orang Barat dan Jepang, istilahnya “Foreign Legation” atau “Pemukiman Orang Asing”. Di tahun 1900, ketika pemberontakan semakin meluas, negara-negara asing yang memiliki warga di pemukiman tersebut mulai khawatir akan keselamatan warga mereka dan mengirim tentara untuk menjaga keselamatan warga mereka di Beijing. Tanggal 14 Juni 1900, para “Boxer” mulai menyerang Beijing. Lucunya, tentara Qing yang seharusnya melindungi “tamu” malah membantu para Boxer ini memukuli orang-orang barat & Jepang. Dinasti Qing malah memberikan ultimatum, tanggal 19 Juni, semua warga asing harus meninggalkan Beijing. Ternyata, ibu suri Cixi diam-diam sudah memberikan restu kepada para Boxer dari jauh-jauh hari.

Denah lokasi Pemukiman Orang Asing, yang menjadi salah satu medan pertempuran besar Pemberontakan Boxer.

Para warga asing di pemukiman memutuskan untuk bertahan. Jelas mereka takut, seandainya mereka meninggalkan tempat itu pun, mereka tetap dibantai, sebab mereka sudah mendengar kabar pembantaian warga-warga asing di luar Beijing. Apalagi duta besar Jerman dibunuh dalam perjalanan pulang ke pemukiman setelah dia menemui kekaisaran Qing. Pada tanggal 20 Juni, ketika ultimatum tersebut tidak dituruti, Cixi mendeklarasikan perang terhadap semua kekuatan asing. Maka, dimulailah pengepungan pemukiman asing oleh gerombolan Boxer dan tentara Qing.

Situasi bertambah kacau setelah Rusia, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, dan Austria-Hongaria memutuskan untuk mengirim pasukan gabungan ke kota pelabuhan Tianjin untuk menolong warga mereka yg terjebak di Beijing. Pertempuran-pertempuran hebat pun pecah mulai dari Tianjin sampai Beijing. Belakangan, pasukan gabungan ini juga termakan “hoax” bahwa pemukiman sudah jatuh dan semua warganya sudah dibantai, sehingga terjadilah pemerkosaan dan pembantaian pada banyak warga sipil di sepanjang perjalanan mereka.

Di Beijing, para marinir, tentara, dan sukarelawan dari berbagai negara mempertahankan pemukiman asing dari gempuran pasukan “Boxer” yang masih berpikir mereka kebal peluru akibat kungfu dan jimat pemberian guru-guru kungfu mereka. Tentunya mereka tidak kebal peluru. Ketika para “Boxer” menyerang pemukiman secara besar-besaran, mereka langsung disambut oleh tembakan-tembakan peluru pasukan penjaga pemukiman. Gerombolan “boxer” inipun dipukul mundur karena kekonyolan mereka sendiri.

Sementara itu, tidak semua tentara Qing setuju dengan “perang yang dipicu oleh ormas” ini, sehingga beberapa jenderal malah diam-diam menyelundupkan makanan ke dalam pemukiman asing selama pengepungan. Ada sebagian tentara Qing yang menolak menembaki pemukiman, bahkan tidak menyerang pasukan gabungan dari Eropa dan Jepang, ada juga yang secara aktif memerintahkan pasukannya untuk menyerang para “Boxer”. Tentu saja jendral-jendral ini dipecat, dihukum oleh Cixi, salah satunya adalah jendral Yuan Shikai, yang saat itu memimpin pasukan terbaik.

Tanggal 14 Agustus 1900, akhirnya pasukan gabungan dari Eropa dan Jepang berhasil memasuki ibukota Beijing. Ibu suri Cixi yang ketakutan, sudah lari meninggalkan ibukota. Tentara gabungan dari 8 negara memaksa Dinasti Qing membayar ganti rugi, menghukum mati banyak sekali simpatisan “Boxer”, dan menyerahkan 25 wilayah pantai untuk dibagi-bagi di antara 8 negara. Sekali lagi, Dinasti Qing dipermalukan. Diplomasi dengan pihak luar ini menjadi tugas terakhir untuk Li Hongzhang, yang wafat 2 bulan setelah perjanjian tersebut ditandatangani.

Karikatur ilustrasi “bagi-bagi kue” Tiongkok oleh penguasa asing pasca

 

Modernisasi dan Pemberontakan Wuchang

Institusi militer Dinasti Qing terbukti bukan cuma tidak bisa menghadapi serangan militer asing, tetapi juga gagal memperkuat diri. Rakyat Tiongkok semakin tidak percaya, semakin benci kepada Dinasti Qing, memastikan berakhirnya Dinasti Qing tinggal tunggu waktu. Sementara itu nama Yuan Shikai kian populer sebagai jenderal tinggi yang aktif melawan para “Boxer”, Yuan kini mendapat populeritas di dunia internasional maupun nasional.

Setelah wafatnya sang Ibu Suri Cixi, para intelektual tergerak untuk melanjutkan proses modernisasi. Namun, para intelektual tidak cukup untuk mengubah keadaan. Jumlah mereka terlalu sedikit. Mereka membutuhkan dukungan dari golongan lain seperti petani, buruh, tentara, dan lain-lain. Pelan-pelan, tulisan-tulisan para intelektual tersebar dan golongan lain mulai sependapat dengan para intelektual: modernisasi harus dipercepat! Tiongkok yang modern harus segera meninggalkan bentuk Kekaisaran menjadi identitas politik yang baru, yaitu Republik Tiongkok.

Di tahun 1910 dan 1911, setiap konflik kecil antara pemerintah dengan rakyat seringkali meluas tak terkendal. Pada bulan Oktober 1911, demonstrasi rakyat menentang pembangunan rel kereta api antara Szechuan dan Hankou di daerah industri Wuhan berujung menjadi bentrokan besar antara tentara kerajaan dengan rakyat sipil. Banyak tentara kerajaan sendiri yang turut membangkang, menyerang tentara lain dan petugas kekaisaran untuk membela pemberontakan rakyat. Pertempuran hebat pecah di daerah industri Wuhan, terutama di kota Wuchang, ribuan korban berjatuhan. Kedua belah pihak akhirnya memutuskan untuk berunding. Jendral Yuan Shihkai yang populer di dalam maupun luar negeri dipanggil kembali oleh Kekaisaran Qing untuk menjadi Perdana Menteri memimpin perundingan dengan para pemberontak.

 

Berakhirnya Kekaisaran Tiongkok

Yuan Shikai membaca animo masyarakat, politik, dan militer di Tiongkok. Walaupun pemberontak di kota Wuchang relatif sudah terkepung, seluruh wilayah Tiongkok saat ini sudah muak pada dinasti Qing dan siap memberontak. Yuan sadar kalau dia bisa saja menghancurkan pemberontakan di daerah Wuhan dengan pengaruhnya yang besar di kalangan militer, tapi tentu ada harga yang akan dia bayar, yaitu antipati dari masyarakat luas. Tentu Yuan akan berpikir beribu kali kalau harus menghadapi kemarahan seluruh rakyat Tiongkok.

Pihak pemberontak juga sadar, tanpa Yuan dan tentaranya, dinasti Qing takkan bisa bertahan. Mereka juga tak mau Yuan menggunakan tentaranya untuk menghabisi pemberontakan Wuhan ini. Karena itu para pemberontak membujuk Yuan Shikai untuk menjadi presiden dari konsep negara Tiongkok masa depan, yaitu Republik Tiongkok. Bagi Yuan, tentu saja ini tawaran yang sangat menarik. Di satu sisi dia akan mendapatkan simpatik masyarakat, di sisi lain dia berkesempatan menjadi orang yang paling berkuasa di Tiongkok. Kekaisaran Qing bertambah lemah saat di akhir bulan Januari 1912, ketika 44 jendral kekaisaran dari seluruh penjuru Tiongkok meminta secara tegas kekaisaran membubarkan diri, dan membentuk negara Republik.

Setelah mempertimbangkan semua kemungkinan, Yuan dan kekaisaran Qing akhirnya mencapai kata sepakat dengan para pemberontak. Kekaisaran Qing akan diganti dengan Republik Tiongkok, Yuan Shikai sebagai presidennya, Nanjing sebagai ibukotanya. Kaisar terakhir dinasti Qing, Kaisar Pu Yi yang baru berumur 6 tahun, diperbolehkan tinggal di istananya (Kota Terlarang) yang hanya seluas 72 hektar. Di dalam istana tersebut, Pu Yi masih menjadi Kaisar, tapi di luar istana, Pu Yi cuma seorang warga Tiongkok biasa. Runtuhnya Kekaisaran Tiongkok dan peralihan menjadi Republik Rakyat Tiongkok dikenal dengan nama Xinhai Revolution.

Pu Yi, Kaisar terakhir Tiongkok

Maka berakhirlah Kekaisaran Tiongkok dan berdirilah Republik Tiongkok dengan Yuan Shikai sebagai presiden pertamanya. Tragisnya, Yuan Shikai memimpin dengan otoriter, sebagai seorang jendral besar yang diktator. Ini mengulangi pola yang sering disebut ahli politik Samuel P. Huntington: “Mahasiswa & kaum intelektual boleh saja memulai revolusi. Namun, begitu revolusi sukses, seringkali militerlah yang mendapatkan kekuasaan. Bukan cuma karena militer memiliki senjata, tapi juga karena militer sudah memiliki organisasi yang cukup luas dan berpengalaman untuk memimpin negara.”

 

Akhir Kata

Demikianlah cerita runtuhnya kekaisaran Tiongkok, salah satu peradaban tertua dan paling besar dalam sejarah. Gua harap dengan memahami sejarah runtuhnya Kekaisaran Tiongkok, kita bisa sekali lagi “menuntut ilmu sampai ke negeri Cina” sekaligus menjadi refleksi bagi kita semua untuk mencegah perpecahan dan kehancuran negara kita sendiri. Dari sikap anti modernisasi, korupsi yang merajalela, penolakan terhadap perubahan birokrasi, gerakan ormas anti-asing, sikap irasional dan kepercayaan pada takhayul, serta naiknya tokoh yang memimpin dengan cara diktator seperti Yuan Shikai adalah pelajaran sejarah yang sangat berharga bagi kita semua.

Sekian dulu cerita dari gua, semoga artikel ini bermanfaat buat lo. Zai Jian! (artinya sampai jumpa)

 

Referensi:

John Curtis Perry, “The Battle off the Tayang” in The Mariner’s Mirror (Taylor and Francis):
http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00253359.1964.10657787
Michael Dillon, China: A Modern History (I.B. Tauris & Co. Ltd.: London, 2010)
Philp Jowett, China’s Wars: Rousing the Dragon 1894 – 1949 (Osprey Publishing: New York, 2013)
Samuel P. Huntington, Political Order in Changing Societies (The Colonial Press: Clinton, 1968)
The Cambridge History of China volume 10, edited by Denis Twitchett & John K. Fairbank (Cambridge University press: New York, 1978)
The Cambridge History of China volume 11, edited by Denis Twitchett & John K. Fairbank (Cambridge University press: New York, 1978)

 

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada yang pengen ngobrol, diskusi, atau bertanya tentang topik sejarah secara luas, atau secara khusus ingin bertanya tentang runtuhnya Kekaisaran Tiongkok, silakan bertanya dan ngobrol langsung dengan Kak Marcel pada kolom komentar di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.