John Snow: Detektif Medis yang Mengungkap Misteri Wabah Kolera

Mana yang umurnya lebih panjang, orang di zaman dulu atau orang di zaman sekarang? Buat yang sering baca artikel zenius, pasti tahu dong ya kalau orang zaman sekarang umurnya lebih panjang. Menurut PBB, di tahun 2010-2015, life expectancy atau angka harapan hidup dunia itu sekitar 71,5 tahun. Artinya, anak yang lahir pada tahun 2010-2015, diperkirakan rata-rata akan hidup sampai usia 71,5 tahun. Di Jepang, angka harap hidupnya bahkan mencapai 84 tahun.

Sekarang bandingkan dengan keadaan dunia 200 tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 1810. Nggak semua negara mencatat angka harapan hidup di sekitar tahun tersebut. Belanda dan Inggris aja, yang bisa dibilang dua negara yang paling makmur pada zaman itu, angka harapan hidupnya hanya mencapai 39-40 tahun. Di Indonesia, 30 tahun. Dan di India, 25 tahun! Jauh lebih kecil dibanding angka harapan hidup kita sekarang.

Hidup di zaman sekarang itu enak banget. Kita tidak mengalami tantangan seberat leluhur-leluhur kita 100-200 tahun yang lalu seperti peperangan, kematian pada saat melahirkan (baik ibu maupun anaknya), penyakit, kelaparan, dan sebagainya.

Orang zaman dulu melahirkan banyak anak, tapi kalau kita lihat statistiknya, sebenernya nggak banyak yang berhasil bisa mencapai usia dewasa. Banyak yang meninggal ketika masih kecil. Indonesia pada tahun 1800 misalnya, rata-rata satu keluarga memiliki 6,1 anak. Tapi dari setiap 100 anak yang lahir, 44-45% meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun!

Pada zaman itu, salah satu tantangan terbesar umat manusia adalah penyakit. Saat itu, pengetahuan di dunia kedokteran masih terbatas. Banyak penyakit yang kita belum tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Dan juga yang nggak kalah penting, kita belum tahu bagaimana cara mencegah supaya penyakit tersebut tidak menyebar ke banyak orang. Akibatnya, sering kali suatu populasi itu drop tiba-tiba karena penyakit yang bersifat pandemic, yang bisa membunuh jutaan orang dalam waktu singkat.

Nah, pada tulisan kali ini, kami mau menceritakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah, suatu titik balik di mana manusia mulai mengerti bagaimana mekanisme penyebaran penyakit, dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

Kalau di artikel sebelumnya, Thomas udah bercerita panjang lebar tentang bagaimana vaksin menyelamatkan jutaan nyawa manusia dan merupakan salah satu prestasi terbesar manusia di bidang kesehatan. Tapi sebenarnya, bisa dibilang kesuksesan vaksin merupakan prestasi nomor dua terbesar di bidang kesehatan. Prestasi nomor satunya apa dong? Penasaran? Yuk, kita lihat bagaimana scientist di London, Inggris, berusaha mengatasi wabah kolera di sekitar tahun 1800an.

 

Penyakit Kolera

Kita yang hidup di zaman sekarang ini sudah mengetahui bahwa Kolera terjadi karena infeksi di usus halus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Gejala umumnya berupa diare yang berlangsung berhari-hari. Sering kali disertai dengan muntah-muntah.

Kolera sendiri tidak membunuh secara langsung, tetapi diare yang terus-menerus bisa mengakibatkan tubuh kekurangan cairan dan elektrolit. Dehidrasi berat akibat kolera menyebabkan mata cekung, kulit kering dan keriput. Selain itu, organ tubuh kita, seperti jantung, lambung, hati, dan sebagainya, membutuhkan cairan untuk bisa berfungsi. Ketika tubuh kekurangan cairan, maka organ-organ pada tubuh kita jadi tidak berfungsi dengan baik; jantung tidak bisa memompa darah, darah tidak bisa mengantar makanan dan oksigen dengan baik, lambung tidak bisa memproses makanan, dan sebagainya. Semua kerusakan pada organ ini bisa menimbulkan kematian. Diperkirakan sekitar 3-5 juta orang di dunia meninggal gara-gara kolera. Mencret itu membunuh, guys. Seriously. Jangan disepelein yah.

Kalau kita kembali ke tahun 1800an, ketika wabah Kolera baru aja dimulai, nggak banyak yang tahu kenapa Kolera bisa membunuh. Nggak banyak yang tahu juga bagaimana menyembuhkan Kolera dan bagaimana mencegahnya supaya tidak menyebar ke banyak orang. Akibatnya, pada tahun itu banyak sekali kematian yang terjadi di mana-mana. Wabah ini dimulai di India, kemudian menyebar ke Eropa melalui jalur perdagangan, dan kota London di Inggris merasakan dampaknya mulai tahun 1832.

Sumber: online-learning.harvard.edu

Nah, ada satu scientist yang perannya besar banget dalam mengatasi wabah Kolera ini di London. Berkat dedikasinya dalam merawat sejumlah pasien, pengumpulan data dari rumah ke rumah, penyelidikan yang teliti, data analisis yang tajam, scientist ini berhasil mengatasi wabah Kolera di London pada tahun 1854. Lebih kerennya lagi, metodologi yang dia pakai digunakan juga untuk mempelajari wabah berbagai macam penyakit di berbagai macam tempat di dunia. Sekarang, dunia mengenal dia sebagai bapak Epidemiologi, ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor yang terkait di tingkat populasi. Siapa dia? Kita kenalan dulu ya, namanya John Snow.

 

John Snow

Bukan Jon Snow ya. Tapi John Snow, pake “h”.

Jon Snow knows nothing, but John Snow knew something about cholera.

John Snow lahir di York, Inggris, pada tahun 1813. Lingkungan tempat dia lahir termasuk daerah paling miskin di kota York. Kondisi rumahnya lumayan parah, kondisinya tidak sehat dan sering kebanjiran. Ayahnya seorang buruh batu bara, bekerja sehari-hari untuk menghidupi istri dan 9 anak. Sama sekali bukan dari keluarga kaya.

Semenjak kecil, John Snow sudah menunjukkan kecerdasannya; jago matematika, punya pemikiran yang tajam, selalu penasaran, dan ingin tahu berbagai hal. Ibunya, melihat bakat anaknya yang luar biasa ini, bertekad supaya John Snow memiliki masa depan yang lebih baik dari pada keluarganya. Dari sejumlah kecil warisan yang dia miliki, ibunya mengirimkan John Snow ke sekolah.

Pada umur 14 tahun, John Snow menjadi asisten seorang dokter di Newcastle. Kemudian sekitar tahun 1831-32, wabah Kolera masuk ke Newcastle. John Snow merawat sejumlah pasien Kolera di sana, berusaha menerapkan berbagai teknik yang diketahui ilmu kedokteran pada zaman itu. Tapi tentu saja, banyak pasien yang tetap meninggal karena pengetahuan ilmu kedokteran pada zaman itu masih sangat terbatas. Teori yang dipakai para dokter di zaman itu untuk menjelaskan penyebab penyakit juga salah.

"Salah? Emangnya kayak gimana teorinya?"

Nama teorinya Miasma. Kami jelasin dulu apa itu teori Miasma.

 

Teori Miasma

Menurut teori miasma, penyakit itu datangnya dari udara. Miasma itu ada di udara dalam bentuk uap atau kabut beracun yang berisikan partikel dari materi yang membusuk, yang disebut miasmata.  Menurut teori Miasma, kolera dan penyakit-penyakit lainnya itu mewabah melalui kabut asap. Pelukis pada abad ke-19 menggambarkan wabah kolera itu seperti gambar di bawah ini.

Mungkin agak aneh sih bagi kita yang hidup di zaman modern untuk ngebayangin kalau kabut asap bisa menimbulkan wabah penyakit. Tapi, bagi orang zaman dulu begitulah adanya. Bahkan, teori ini sudah mengakar ke budaya orang-orang sejauh dua milenium lalu!

Contohnya, di Romawi Kuno, penyakit-penyakit dipercaya datang dari kabut yang dihembuskan oleh serangga-serangga atau makhluk rawa-rawa lainnya. Bahkan, jika diterjemahkan, kata "Malaria" berasal dari bahasa Romawi Kuno yang artinya udara buruk (Mal: Buruk, Aria: Udara).

Kalo kita bergeser beberapa ribu kilometer ke sebelah timur dari Romawi, di India juga ditemukan konsep miasma. Di sini, menanam pohon gambir dipercaya mengurangi dampak buruk dari miasma.

Geser lagi ke timur jauh, Tiongkok kuno juga mengadopsi teori Miasma sendiri. Mereka percaya miasma berasal dari Pengunungan Selatan Tiongkok. Di situ, terdapat hutan belantara yang sangat lebat dan hutan tersebut dihuni oleh banyak serangga. Nah, udara yang terkontaminasi kotoran serangga-serangga ini lah yang dipercaya sebagai penyebab wabah.

Gila kan, teori miasma dianut orang-orang di berbagai belahan bumi. Sampai zamannya John Snow pun pandangan ini masih bertahan dan digunakan banyak dokter dan scientist. Ketika wabah kolera muncul di zaman itu, mereka beranggapan bahwa penyakit kolera disebarkan salah satunya melalui udara. Sebagai gambaran, coba lihat selebaran di bawah ini deh.

Selebaran mencegah penyebaran wabah kolera pada abad ke-19

Di situ disebutkan “Do not sleep or sit in a draught of air” (Jangan tidur atau duduk di mana angin berhembus). Kenapa gak boleh istirahat di tempat berangin? Ya, pada zaman itu, mereka pikir hembusan udara itulah yang menyebarkan partikel miasmata penyebab kolera.

Pandangan John Snow Terhadap Teori Miasma

John Snow nggak percaya begitu aja dengan teori miasma ini. Dia melihat ada kejanggalan dari teori ini. Contohnya:

Katanya udara yang mengandung miasma itu ada di sekitar kuburan, sekitar rawa, atau sekitar air kotor. Tapi kok pasien-pasien yang dia tangani datang dari tempat yang jauh dari situ?

Tetapi John Snow saat itu belum bisa memberikan penjelasan alternatif selain teori miasma. Wajar lah ya, di tahun 1832 kan dia masih berumur 19 tahun. Kebetulan wabah kolera di Newcastle pada tahun itu juga berakhir begitu aja, tanpa ada yang mengetahui apa penyebabnya.

 

Karir John Snow

John Snow melanjutkan karirnya sebagai asisten dokter beberapa tahun kemudian. Pada bulan Oktober 1836, John Snow pergi ke London untuk menempuh pendidikan kedokteran di Hunterian School of Medicine. Dia menyelesaikan sekolahnya hanya dalam waktu satu tahun. Pada tahun 1837, John Snow yang pada saat itu berusia 24 tahun, bekerja di Rumah Sakit Westminster, termasuk rumah sakit yang memiliki reputasi yang bagus di London. Di saat yang sama, dia juga menjadi anggota Westminster Medical Society, semacam klub diskusi untuk melakukan kajian ilmiah dan klinis. (By the way, klub diskusi seperti ini jangan dianggap sepele lho. Banyak revolusi ilmiah yang datang dari kajian antara ilmuwan di klub-klub seperti ini).

Pada tahun 1838, Snow lulus ujian untuk menjadi anggota dari Royal College of Surgeons of England (MRCS). Dia masuk peringkat ke 7 dari 114 kandidat yang mengikuti ujian. Snow juga mendapatkan izin Licentiate of the Society of Apothecaries (LSA) pada Oktober 1838, yaitu izin untuk meracik dan menjual obat-obatan. Masih pada tahun ini juga, John Snow memperoleh sertifikat sebagai general practitioner, sehingga dia bisa melakukan izin praktek sebagai dokter. Canggih juga ya. Dia mulai sekolah kan baru di tahun 1836. Berarti cuma butuh 2 tahun buat John Snow untuk memeroleh itu semua!

Selama masa studinya, John Snow mempelajari banyak hal tentang Anestesi (pembiusan). Dokter pada zaman itu sudah mengenal kloroform sebagai alat Anestesi. Tapi John Snow adalah salah satu pelopor dalam menyelidiki dan mengkalkulasi dosis penggunaan ether dan kloroform. Keberhasilan John Snow dalam melakukan anestesi membuat dia dipercaya untuk melakukan anestesi terhadap Ratu Victoria, Inggris. Anestesi kemudian menjadi semakin populer semenjak peristiwa itu.

 

Investigasi John Snow pada Wabah Kolera 1848-1849

Ketika John Snow berumur 35 tahun, wabah kolera muncul lagi di London di tahun 1848. Kali ini, John Snow melalukan investigasi lebih dalam; mengunjungi berbagai pasien, mengumpulkan data dari pemerintah, membaca laporan berbagai dokter sebelumnya yang pernah menangani pasien kolera, dan sebagainya. Selama proses investigasi tersebut, John Snow mendapatkan beberapa temuan penting.

1. Kolera menular dari satu pasien ke pasien lain

Menurut teori miasma, kolera itu tidak menular dari pasien ke pasien lainnya. Partikel miasmata itu ada di udara begitu aja dan terkena siapapun yang menghirupnya. Tetapi John Snow menemukan beberapa hal yang bertentangan dengan teori tersebut.

John Snow mencatat bahwa kasus kolera pertama di tahun itu terjadi pada tanggal 22 September kepada seorang pelaut bernama John Harnold, yang datang dari Hamburg, Jerman. John Snow sendiri sudah mengetahui bahwa wabah kolera sudah terjadi di Hamburg sebelumnya. Ini adalah bukti kuat bahwa penyakit kolera itu dibawa oleh pelaut tersebut.

Kasus kolera kedua di London ternyata juga terjadi pada seseorang yang tinggal di atas kamarnya John Harnold tadi. Ini juga bukti kuat bahwa terjadi penularan kolera dari satu pasien ke pasien lainnya, bukan sekadar menyebar melalui udara.

2. Kolera menular melalui mulut

Dari setiap pasien yang dia data, John Snow menemukan kemiripan pada gejala penyakit kolera: sakit di usus, yang merupakan saluran pencernaan. Ini membuat John Snow mengambil kesimpulan bahwa “racun kolera” (belum ada istilah bakteri pada saat itu) masuk melalui mulut, dari sesuatu yang dimakan atau diminum oleh pasien.

John Snow juga mengamati bahwa kasur yang ditiduri oleh pasien kolera itu biasanya kotor, banyak… well… bekas-bekas mencret. Ugh... Terus, sering kali kamar tidur dan tempat makan itu berada dalam SATU RUANGAN di rumah atau apartemen. Dan pada zaman itu, mencuci tangan BELUM menjadi kebiasaan umum. John Snow kemudian menjelaskan bahwa pasti ada semacam "racun kolera" di kasur, yang disentuh oleh tangan, kemudian masuk ke tubuh karena makan dengan tangan yang tidak dicuci tersebut. Yummy. 🙂

3. Wabah Kolera di daerah pertambangan

John Snow juga menemukan bahwa wabah kolera sering dimulai di pertambangan. Dari yang dia amati, daerah pertambangan itu juga biasanya tidak higienis. Tidak ada tempat untuk buang air besar. Kemudian orang makan di dekat tempat yang kotor tersebut, sering kali tanpa cuci tangan terlebih dahulu. Ini memperkuat argumen dia bahwa Kolera masuk melalui mulut, dan bisa ditularkan dari satu pasien ke pasien lainnya.

4. Kolera menular melalui air yang terkontaminasi

John Snow juga menemukan satu bukti yang kuat bahwa “racun kolera” itu dibawa oleh air, bukan oleh udara seperti yang dipaparkan teori miasma. Di Thomas Street, Horsleydown, John Snow mengamati dua daerah perumahan, sebut aja perumahan A dan B. Kedua perumahan ini memiliki berbagai kemiripan. Tetapi anehnya, di perumahaan A, ada 17 orang yang meninggal karena kolera, sementara di perumahan B hanya ada satu. Kok bisa?

Setelah diselidiki, ternyata sumber air minum di perumahan A terkontaminasi. Hasil buangan dari kedua perumahan bocor ke sumur tempat orang-orang di perumahan A mengambil air minum.

Bantahan oleh William Farr

Tapi sayangnya, dari sekian banyak bukti yang sudah dia kumpulkan, hipotesis John Snow tidak diterima di komite kesehatan. Hipotesis Snow dipersulit lagi ketika William Farr memberi bantahan terhadap hipotesis John Snow tersebut.

William Farr pada saat itu adalah pegawai di Badan Sensus milik pemerintah. Beliau adalah salah satu pendukung teori miasma. Ketika John Snow menunjukkan bahwa kolera itu menular dari orang ke orang melalui air, dia nggak percaya. Tapi William Farr bukan sekadar nggak percaya, dia juga mengumpulkan data untuk mendukung argumen yang dia punya. Salah satu data yang dia ambil adalah hubungan antara dua hal ini:

  • Posisi rumah (ketinggian dari permukaan air laut)
  • Jumlah kematian (mortalitas) akibat Kolera

Hubungannya adalah seperti yang terlihat pada grafik berikut ini:

William Farr kemudian menyimpulkan bahwa tanah di dataran rendah, khususnya di bantaran sungai Thames, banyak mengandung materi organik yang memproduksi miasmata, partikel yang membawa penyakit Kolera. Dia beranggapan bahwa partikel miasmata itu cukup berat sehingga lebih banyak berada di dataran rendah.

Nah, sekarang coba pikirin dulu deh. Menurut lu, data di atas sebenernya menyanggah teorinya John Snow nggak sih? Tulis pendapat lu di kolom komentar di bawah ya.

 

Wabah Kolera di Broad Street, London (1854)

Dua tahun setelah itu, muncul lagi wabah kolera di Soho, dekat tempat di mana John Snow menetap. Walau gagasannya pernah ditolak sebelumnya, John Snow masih gigih untuk membuktikan hipotesisnya. Skala dari wabah kolera kali ini sangat besar. Bayangin, dalam tiga hari 127 orang tewas di daerah Broad Street! Selama kurang lebih seminggu, wabah kolera melenyapkan 500 jiwa!

Lekas saja, John Snow bergerak bukan cuma berupaya untuk menanggulangi wabah kolera, tapi juga untuk memahami dan mencari tahu asal-usul wabah ini. Dia mengumpulkan data rumah orang-orang yang mati karena kolera, kemudian disajikan dalam peta seperti di bawah ini.

Berdasarkan investigasi sebelumnya, John Snow tahu kalau ada hubungan antara air dan kolera. Dari situ dia menduga bahwa pasti kematian ini ada hubungannya dengan pompa air tertentu. Akhirnya dia membagi-bagi daerah di peta tersebut berdasarkan kedekatannya dengan masing-masing pompa. Hasilnya seperti ini.

Bingo! Peta ini membuat John Snow menduga bahwa air yang berasal dari pompa air Broad Street adalah sumber wabah kolera. Semua kematian memberi jejak yang berhulu ke pompa ini.

But Wait! Bagaimana dengan yang ini:

  1. Orang-orang yang rumahnya jauh dari pompa Broad Street, tapi tetap meninggal karena kolera.
  2. Beberapa blok rumah yang dekat dari pompa Broad Street, tapi nggak ada kematian di situ.

John Snow melakukan investigasi lebih lanjut. Untuk kasus yang pertama, setelah dia selidiki, ternyata dari berbagai kasus kematian, di antaranya adalah anak sekolah atau pekerja yang sehari-hari melintasi Broad Street. Jadi meskipun rumahnya jauh, tetapi mereka sering jalan kaki melewati Broad Street.

Sementara, untuk kasus yang kedua, ini juga menarik. Ada satu blok yang tidak terkena kolera sama sekali, yaitu di sini:

Kenapa tidak ada kematian pada blok ini? Setelah diselidiki, ternyata di situ adalah letak pabrik bir! Untuk membuat bir, campuran air harus didihkan dahulu. Proses mendidihkan air ini membunuh bakteri kolera yang terdapat di dalam air. Karena buruh pabrik di sana diperbolehkan untuk minum bir yang mereka produksi, mereka tidak minum air sumur di Broad Street. Mereka cuma minum bir aja. Selamatlah mereka dari wabah kolera.

Jelas deh, ternyata mereka yang tidak mati padahal tinggal di blok yang dekat dengan kejadian wabah kolera mengkonsumsi air yang berasal dari sumber berbeda dan telah diproses terlebih dahulu. Kesimpulan John masih kokoh, pompa Broad Street adalah sumber wabah.

Pada tanggal 7 September 1854, bukti-bukti di atas dibawa oleh John Snow ke komite kesehatan untuk meminta pompa air Broad Street dicabut dari operasi. Pada rapat tersebut, terjadi debat yang panjang. Sebab, banyak di antara anggota komite kesehatan adalah pemeluk teori Miasma dan presentasi John Snow akan pompa air ini jelas-jelas keliru banget kalo dilihat dari sudut pandang seorang penganut teori miasma. Tetapi untungnya setelah perdebatan panjang, pemerintah menyetujui dan mencabut tuas pada pompa Broad Street keesokan harinya.

Beberapa hari setelah tuas pompa dicabut, wabah kolera mereda.

Walaupun faktanya begitu, komite kesehatan masih gak nerima gagasan John Snow bahwa “Kolera ditularkan melalui air yang terkontaminasi”. Masih belum ada perbaikan sistem saluran pembuangan yang dilakukan oleh komite kesehatan di London.

 

Warisan John Snow untuk Dunia

Kebenaran gagasan John Snow baru terbukti ketika Louis Pasteur menyusun teori bahwa kuman sebagai sumber penyakit (Germ Theory of Disease) dan Robert Koch berhasil mengisolasi bakeri Vibrio cholerae, yang merupakan bakteri penyebab kolera. Teori inilah yang menjadi landasan bagi kita sekarang dalam mempelajari penyakit. Teori ini juga yang meruntuhkan teori miasma. Dengan teori ini, jadi semakin jelas mengapa kuman kolera itu bisa berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya, bagaimana kuman tersebut bisa masuk ke dalam mulut, dan bagaimana air yang terkontaminasi kuman-kuman bisa menyebabkan kolera jika diminum.

Selain itu, temuan John Snow juga menjadi katalis bagi perombakan sistem saluran pembuangan (sewer system) di London. Zaman itu, kotoran manusia, kotoran kuda, dan sebagainya masih banyak menghiasi jalan-jalan di kota. Setelah orang-orang tahu bahwa kotoran itu bisa menjadi sumber penyakit, mulailah pemerintah serius memperbaiki sistem saluran pembuangan ini. Skala proyek perbaikan sistem saluran pembuangan di London gede banget. Jarak saluran pipanya aja mencapai 1800 km!

Nah sistem saluran pembuangan yang masif ini diadopsi di kota kota besar lainnya di dunia, seperti di Paris, Frankfurt, dll. Tercatat di Jerman, setelah mengimplementasikan sistem pembuangan, kematian yang disebabkan oleh Typhoid menurun drastis dari 80 menjadi 10 per 100.000. Ini angka gede banget mengingat belum ada antibiotik di zaman itu.

Jadi, pengetahuan akan bahayanya lingkungan yang kotor dan sistem saluran pembuangan yang baik dapat mencegah mewabahnya penyakit dan menyelamatkan jutaan jiwa.

****

Kami berdua suka banget sama kisah John Snow di atas. Pertama, kami suka karena meskipun teori miasma sudah diterima sejak lama dan digunakan oleh berbagai dokter dan scientist, John Snow nggak mudah percaya kalau belum jelas buktinya. Kedua, John Snow bukan sekadar “berani beda” dibanding ilmuwan-ilmuwan lain pada zaman itu, tapi dia juga melakukan berbagai investigasi ilmiah dengan determinasi yang tinggi. Dateng ke rumah-rumah, mencatat data pasien, dan sebagainya itu bukan pekerjaan yang mudah ya. Sepertinya dia juga sampe begadang-begadang untuk melakukan itu semua. Haha. Bahkan ketika orang-orang menolak gagasan dia, dia juga nggak gampang nyerah kan.

Terakhir, yang menurut kami juga keren  adalah, ternyata kerja keras dia bermanfaat bagi orang banyak. Kita-kita yang hidup di zaman sekarang ini bisa hidup enak, bisa punya angka harapan hidup yang tinggi, ya salah satunya karena kerja keras ilmuwan-ilmuwan seperti John Snow ini. By the way, John Snow pernah ngomong gini ke Henry Whitehead:

"You and I may not live to see the day, and my name may be forgotten when it comes, but the time will arrive when great outbreaks of cholera will be things of the past; and it is the knowledge of the way in which the disease is propagated which will cause them to disappear."

Quote ini setengah benar, setengah salah. Benar karena wabah kolera memang sudah menjadi “things of the past”. Salahnya adalah bagian ketika dia bilang bahwa namanya akan dilupakan. At least nggak dilupain sama elu yang baca artikel ini. 🙂

Referensi

1. United Nations Department of Economic and Social Affairs (29 July 2015). "United Nations World Population Prospects: 2015 revision"
2. Cholera – Vibrio cholerae infection Information for Public Health & Medical Professionals". Centers for Disease Control and Prevention.
January 6, 2015. Archived from the original on 20 March 2015. Retrieved 17 March 2015
3. Snow, John (1849). On the Mode of Communication of Cholera (PDF). London: John Churchill.
4. Snow, John (1855). On the Mode of Communication of Cholera (2nd ed.). London: John Churchil
5. Bingham, P.; Verlander, N. Q.; Cheal, M. J. (2004-09-01). "John Snow, William Farr and the 1849 outbreak of cholera that affected London:
a reworking of the data highlights the importance of the water supply". Public Health. 118 (6): 387–394.
6. Summers, Judith. Soho -- A History of London's Most Colourful Neighborhood, Bloomsbury, London, 1989, pp. 113-117.
7. Howard-Jones, N (1984). "Robert Koch and the cholera vibrio: a centenary". BMJ. 288 (6414): 379–81.
8. Sumber gambar Jon Snow: HBO
9. Sumber gambar John Snow: John Snow, Portrait in Oil. Thomas Jones Barker, 1847.
10. Sumber gambar peta: Snow, John (1855). On the Mode of Communication of Cholera (2nd ed.). London: John Churchil.
11. Sumber gambar lukisan miasma: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Cholera_art.jpg
12. Sumber gambar selebaran: http://medicinethroughtime.co.uk/history/history-of-medicine/public-health-industrial-revolution/#.Wg2ZXEqWZhE

 

CATATAN EDITOR

Kalo ada yang pengen diskusi tentang wabah kolera, John Snow, dan revolusi kebersihan sama Jon dan Wisnu , silakan bertanya pada kolom komentar di bawah ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

  • Atthariq Ibrah

    asek storynya keren abis lah 🙂
    cukup interest sama bukti grafiknya sama si far, kalo partikel miasmanya "berat" dimisalkan dengan "debu", rada engak masuk akal kalo partikel tersebut bisa menular lewat udara sedangkan di ketinggian 10 kaki partikel tersebut bisa tertahan disana, apa faktor yg membuat sampe tertahan? malahan teori si "king of winterfell" (wkwkwk) sdh terlihat benar bahwa di ketinggian yang rendah justru pasokan air tanah lebih banyak dan tingkat persebarannya lebih tinggi.

    mungkin yang bikin teori si jon kalah gara2 penganut teori miasma yang sdh melekat di mayoritas masyarakat dulu yang menyebabkan susahnya upaya adanya terobosan teori baru justru di underestimated masyarakat.
    jon snow emang penyelamat dunia, di film ato dunia asli sama aja wkwk

    • dhia muhammad

      Jon Snow may be save thousands, but John snow saved millions he he

  • Ahmad Farhan

    WKWKWK pertama Liat judulnya udah kepikir "You know nothing Jon Snow"
    *GOT fans intensifies

    • Yang nulis ini panggilannya Jon juga by the way. Hehe. Dan gue GOT fan juga. 🙂

      • Ahmad Farhan

        hehe saya tau kok bang, pernah liat di Instagram abang lagi GOT marathon sama Bang Sabda :v

  • Josep Razaqi

    Mungkin itu 1831-32?

    • Yang mana nih?

      • Josep Razaqi

        Yang ini, "Pada umur 14 tahun, John Snow menjadi asisten seorang dokter di Newcastle. Kemudian sekitar tahun 1931-32, wabah Kolera masuk ke Newcastle" Typo dikit aja kyknya, hehehe

        • dhia muhammad

          Waduh iya, ada typo.

          Thanks yah Josep

        • Udah dibenerin yah jadi 1831-32. Thank you. 🙂

  • Ahmad Farhan

    anyway Bang Dhia ni video biologi yang mana ya? kelas berapa? materi apa?

    • dhia muhammad

      Hey Ahmad,

      Gue ngisi biologi smp bro.

  • Hasan Maruf

    Menurutku data di atas sebenernya tidak menyanggah teorinya John Snow.
    karena john snow bilan kolera disebabkan oleh air, didataran rendah air lebih banyak tercemar daripada dataran tinggi. Air dibumi ini mengalami siklus. Air didatan tinggi akan turun ke dataran rendah, lalu ke laut dan kemudian terevaporasi menjadi awan, jika kondisi yang tepat terpenuhi maka turunlah hujan, air tersebut terus menerus mengalami siklus demikian.

    Asumsi 1 : Asal penyakit kolera dari air yang berada di dataran tinggi
    Air mengalami siklus dan suatu saat air akan mengalir sampai didataran rendah. Orang-orang dataran rendah tentu akan menggunakan air yang dihasilakan dari dataran tinggi. jika air pada dataran tinggi mengandung kolera tentu sampai dataran rendah akan mengandung kolera juga. Dengan asumsi tersebut maka orang-orang pada dataran rendah juga akan mengalami kolera juga. Jumlah proporsi orang yang terkena kolera tentu lebih banyak pada dataran rendah daripada datara tinggi, karena air pada dataran tinggi telah mengalami proses evaporasi yang menyebabkan bakteri kolera mati, akan tetapi di dataran rendah tidak demikian.

    Asumsi 2: Asal penyakit dari air yag berada di dataran rendah
    Air yang digunakan dari dataran rendah akan mengalir ke laut, dari laut akan mengalami evaporasi. Pada proses evaporasi mengunakan bantuan matahari. Proses evapoasi tentu akan mematikan bakteri penyebab kolera. ketika hujan terjadi air tersebut tidak mengandung bakteri kolera sehinngga orang-orang di datara tinggi selamat dai kolera.

    Kesimpulan : salah satu faktor yang berpengaruh pada kolera adalah air.

    • Thanks Hasan buat analisisnya. Sebenernya alasan kenapa di dataran rendah itu banyak yang kena Kolera itu simpel aja sih: makin ke bawah, airnya makin kotor. Kalau di atas, airnya masih bersih, belum kecampur macem-macem. Makin ke bawah, kan banyak tuh air pembuangan dari rumah-rumah, termasuk pembuangan ee. Kadang air pembuangan itu tercampur dengan air bersih untuk minum. Itu sebabnya makin ke bawah makin besar peluangnya buat terkena Kolera.

    • Seto Mulyadi

      tolong bisa dijelaskan kenapa di dataran rendah tidak mengalami evaporasi !! asumsi yang membingungkan :v hehe tq

  • Dery

    Wahhh jujur udh lama ga baca2 blog zen, dan sekalinya baca yaaaa malah nagih wk
    Si william justru malah mendukung teori si John Snow, ya to bang?
    Emang, paradigma yang telah tertanam itu kadang gabisa mudah diterima meski pake pembuktian ilmiah wk

    • Yoi. Sebenernya kalau mau terhindar dari bias, lebih bagus kalau kita selalu cek fakta yang bisa membantah apa yang kita percaya daripada mengkonfirmasi. Ilmu pengetahuan itu justru berkembang ketika teori lama terbantahkan, dan diganti dengan teori baru. Dulu miasma, sekarang teori kuman. Dulu alchemy, sekarang kimia. Dan seterusnya. Bahkan di zaman modern pun teori itu berkembang setelah teori yang lama terbantahkan oleh data. Contoh, hukum gravitasi Newton "terbantahkan" dengan data pergerakan planet merkurius. Akhirnya teorinya diperbaharui dengan teori relativitas Einstein. Dan seterusnya.

      By the way, kalau tahu lebih lanjut kenapa memeriksa fakta yang membantah itu lebih penting daripada mengkonfirmasi, baca artikel ini deh: Bias Konfirmasi.

      • Seto Mulyadi

        bahas tentang pergerakan merkurius :v heheh

      • Ahmad Farhan

        wah bang tolong bikin artikel lagi dong bang mengenai Hukum gravitasi newton yang terbantahkan dengan pergerakan planet merkurius dan diperbaharui relativitas einstein yang seperti abang bilang 😀

        • Itu bisa jadi artikel menarik sih. Bisa dibahas dari mulai zamannya Aristotles, Kepler, Newton, terus sampai Gravitasi umumnya Eistein. Tapi ga janji dibikin dalam waktu dekat ya. Hehe.

  • Akhmadi Waridyanto

    1 kata keren nih artikel, lanjutkan dong zenius terbitin artikel artikel yang berkualitas 😀

  • Endrio Wistara

    Wahhh wahhh infonya bermanfaat banget, tengkyu duo kakak sejoli (Dhia & Wisnu) 😍😍😍. aku yang baru aja patah hati tiba2 langsung bisa moveon. tertawa terbahak-bahak berkat tulisan ajaib ini : “Mencret itu membunuh, guys. Seriously. Jangan disepelein yah.” 😅

  • Tiara Dewangga

    Wuuooowwww... baca kisahnya berasa kayak didongengin !! 😀 baca awalnya aja udh tertarik, makin dibaca jadi makin penasaran :v mantab kak Wisnu & kak Dhia ^^ thankyou banget infonyaa