Bagaimana Vaksin Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia

Artikel ini akan mengajak kamu ke masa lampau saat wabah penyakit menular merampas jutaan nyawa dan mengkaji bagaimana vaksin menyelamatkan peradaban manusia.

Pernah ga kamu denger orang di sekitar kamu menderita atau bahkan meninggal karena penyakit difteri, tetanus, polio, campak, gondongan, atau cacar variola? Kemungkinan besar, kamu bakal jawab “jarang banget” atau bahkan “ga pernah sama sekali”.

Ya, manusia yang hidup di zaman sekarang cukup beruntung. Kita jarang mendengar suara batuk rejan (pertusis) yang khas dengan sesak nafas yang mematikan. Kita tidak perlu melihat banyak anak kecil yang lumpuh karena polio dan harus menggunakan penopang kaki sejak kecil. Kita tidak perlu melihat ruam-ruam mengerikan di sekujur tubuh penderita cacar Variola. Kita tidak perlu pula merasakan kekacauan runtuhnya suatu masyarakat karena wabah penyakit menular.

Padahal tidak sampai seabad lalu, 1,68 milyar orang telah meninggal akibat berbagai penyakit menular, selama abad ke-20 saja. Begitu besarnya dampak wabahnya, kecacatan dan kematian karena penyakit menular sudah dianggap sebagai ujian kehidupan belaka oleh nenek moyang kita.

Namun manusia berhasil melakukan intervensi, meredam angka kematian, dan meraih salah satu pencapaian terbesar di bidang kesehatan, yaitu melalui VAKSIN. Berdasarkan data dari Johns Hopkins School of Health, WHO, dan Futures Institute, vaksinasi telah menyelamatkan sekitar 6,4 juta nyawa anak-anak dan mencegah 450 juta penyakit di lebih dari 70 negara berkembang selama abad ke-21. Dan dari dua vaksin saja, yaitu untuk pneumonia dan diare, kita bisa menghemat ongkos kesehatan sebesar 77,44 milyar Rupiah. Berkat vaksin pula, manusia berhasil membuat penyakit cacar variola punah dari muka bumi ini. Semua pengalaman buruk akibat wabah penyakit ratusan tahun silam menjadi tidak relevan lagi pada masa sekarang. Kita sudah moved on.

Akan tetapi, saking suksesnya program vaksinasi ini, manusia modern kadang malah lupa betapa mengerikannya wabah penyakit dahulu dan peran vaksin itu sendiri. Sekarang mulai bermunculan kelompok yang meragukan atau bahkan menolak vaksinasi. Di negara-negara maju, terdapat 5-10% orang dengan keyakinan anti-vaksin yang kuat. Di Indonesia sendiri, salah satu kasus terakhirnya adalah penolakan vaksin oleh beberapa sekolah di Yogyakarta di pertengahan 2017.

Sebagai seorang dokter, jujur saja, fenomena keengganan dan penolakan vaksin ini membuat saya gemas. Banyak yang tidak menyadari bahwa:

Menolak vaksin sama aja dengan membangkitkan "pembunuh berantai" berupa senjata biologis yang mampu merenggut nyawa jutaan manusia dan mengulang kembali malapetaka yang seharusnya sudah menjadi mimpi buruk di masa lalu.

 

Makanya saya tertarik untuk menulis lagi di Zenius Blog. Saya ingin berbagi pengetahuan dan riset dunia kedokteran dan pengalaman saya pribadi sebagai seorang dokter mengenai vaksin. Kalo ngomongin vaksin, sepertinya banyak ya aspek yang bisa kita bahas, mulai dari komposisinya, teknik pembuatan, teknik pemberian, mitos-mitosnya, dll. Tapi saya sadar ga akan mungkin membahas semuanya dalam satu artikel ini saja. Mudah-mudahan saya bisa membahas aspek lain dari vaksin di artikel-artikel selanjutnya ya.

Begitu mengerikannya dampak yang dibawa penyakit menular, rasanya penting banget untuk mengkaji ulang penyakit-penyakit tersebut, derita, dan kekacauan yang mereka sebabkan ke peradaban manusia sebelum adanya vaksinasi. Nah pada artikel ini, saya ingin mengajak kamu semua menjelajahi waktu ke puluhan hingga ribuan tahun yang lalu. Kita akan kembali pada saat wabah-wabah terkenal dari penyakit menular berhasil memangkas jumlah populasi manusia. Lalu, kita akan menelaah bagaimana vaksin telah menjadi pahlawan dan membawa kita jauh dari masa kelam itu.

Cara Kerja Vaksin

Sebelum kembali ke masa lalu, ada baiknya kita tau dulu bagaimana vaksin bekerja.

Vaksin adalah larutan yang berisi kuman penyakit (patogen) yang sudah dilemahkan atau salah satu bagian tubuh dari patogen tersebut. Karena patogennya sudah dilumpuhkan, vaksin relatif aman untuk orang sehat. Tetapi cukup untuk membuat tubuh bereaksi dan membentuk antibodi yang bersesuaian.

Antibodi sendiri merupakan memori tentang patogen dan penyakit yang ditimbulkannya. Pada dasarnya, tubuh baru membentuk antibodi kalo sudah terjangkiti suatu penyakit. Tapi dengan adanya sistem imunitas buatan melalui vaksin, tubuh kita bisa langsung proaktif memerangi sebuah patogen karena udah ada informasinya, walaupun kita belum pernah menderita penyakit patogen itu sebelumnya.

Kalo dianalogikan, vaksin ini seperti seorang anggota geng kriminal yang terciduk oleh petugas keamanan, lalu diarak keliling desa biar seisi desa pada tau, mengingat ciri-ciri, dan potensi ancaman geng kriminal itu. Keberadaan anggota geng yang sudah terciduk itu tidak lagi berbahaya bagi keamanan desa. Justru, warga desa jadi lebih sigap jika suatu ketika ada anggota lain dari geng kriminal yang sama melakukan aksi kejahatan. “Nih ya, di desa sebelah, dia bikin onar. Kalo suatu hari kalian liat komplotannya masuk ke desa kita, jangan cuma diam, langsung bertindak.

Untuk lebih jelasnya, Fanny udah cerita panjang lebar tentang vaksin dan sistem kekebalan tubuh manusia di sini:

Heboh tentang Vaksin Palsu, Emang Vaksin itu Apa sih?

Herd Immunity (Imunitas Komunitas)

Tidak semua orang bisa divaksinasi. Walaupun pemberian patogen yang sudah dilemahkan tidak akan membahayakan orang sehat, vaksinasi tidak bisa diberikan pada orang yang imunitasnya sedang rentan/lemah, seperti orang yang sedang sakit, wanita hamil dan menyusui, lansia, pengidap kanker yang sedang menjalani kemoterapi, dsb.

Untungnya, vaksinasi memiliki manfaat yang unik. Vaksin tidak hanya memberikan kekebalan individual pada orang yang divaksinasi, tetapi juga melindungi masyarakat di sekitarnya. Ini disebut dengan imunitas komunitas atau herd immunity.

Biar lebih jelasnya, coba deh tonton animasi singkat berikut ini.

Melalui imunitas komunitas, semakin banyak orang yang divaksinasi (hingga 70-90% orang dalam satu populasi), kejadian penyakit cukup terisolasi dan penyebarannya terhambat. Penghentian penyebaran penyakit ini mirip dengan jika banyak orang memakai payung yang cukup besar di tengah hujan, maka beberapa orang yang tidak memakai payung pun akan ikut terlindungi dari hujan. Semakin tinggi tingkat vaksinasi, orang yang tidak dapat menerima vaksin pun ikut terlindungi.

Baiklah, kalo kamu udah paham tentang mekanisme vaksin dan herd immunity, sekarang kita bisa mulai penjelajahan waktu kita ke masa-masa penting dalam sejarah saat wabah penyakit menular menyerang dan saat vaksinnya dibuat.

Cacar Variola (Smallpox)

Perlu diperhatikan, cacar Variola (smallpox) ini beda ya dengan cacar air (chickenpox) yang masih biasa kita liat sekarang. Cacar ini disebabkan oleh virus Variola yang bersifat letal (mematikan). Sedangkan cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoster yang tidak mematikan dan gejalanya lebih ringan, seperti flu yang disertai ruam dan beruntus-beruntus cacar.

Dokumentasi penderita variola di Palestina pada awal abad 20, sebelum akhirnya penyakit ini dinyatakan musnah tahun 1980 oleh WHO.

Tidak ada pengobatan efektif untuk menyembuhkan cacar Variola. 30% dari penderita cacar Variola akan meninggal. Jika berhasil menghindari kematian akibat cacar Variola, penderita akan mengalami komplikasi cacat wajah atau kebutaan.

Dahulu kala, cacar Variola merupakan suatu malapetaka yang peninggalannya dapat ditemukan pada hampir semua kebudayaan dan peradaban di dunia. Saking mengerikannya, kecacatan dan kematian akibat penyakit ini banyak diabadikan dalam seni dan literatur oleh berbagai bangsa dan peradaban.

Gambar dari buku abad ke-16: kejadian cacar Variola pada suku Nahua di Meksiko.

Penyakit ini digadang-gadang sebagai salah satu penyebab runtuhnya Kekaisaran Romawi. Cacar Variola juga menyebabkan kematian 90% penduduk asli Amerika pada abad ke-16 dan telah mengubah tatanan geopolitik karena kemampuannya untuk membunuh raja-raja dan menghentikan mobilisasi pasukan-pasukan kerajaan. Pada abad ke-18, sepertiga kebutaan penduduk Eropa disebabkan oleh komplikasi cacar Variola. Pada akhir abad ke-19 di Vietnam, 95% remaja memiliki cacat wajah dan 90% dari orang buta mengalami kebutaan akibat cacar Variola. Sepanjang abad ke-20 sendiri, penyakit ini merupakan pembunuh no.1 di antara penyakit-penyakit menular lainnya yang merampas 400 juta nyawa, kebanyakan adalah anak-anak.

Vaksin Cacar Variola

Pencegahan penyakit ini sebenarnya merupakan sejarah upaya vaksinasi pertama di dunia, bahkan sebelum istilah vaksinasi sendiri dibuat. Cacar Variola adalah penyakit menular pertama yang memiliki vaksin yang telah teruji secara ilmiah dan sukses diimplementasikan pada manusia.

Pada 1796, ilmuwan Edward Jenner menyuntikkan material yang diambil dari virus cacar sapi ke seorang anak berusia delapan tahun dengan harapan bahwa penyuntikan itu akan memberikan perlindungan yang diperlukan untuk menyelamatkan orang-orang dari wabah cacar Variola.  Dan hasilnya sukses. Si anak menjadi kebal terhadap penyakit cacar yang sedang merebak dan momen itu menjadi “kelahiran” vaksin modern pertama di dunia kesehatan.

Sejak 1805 di Rusia dan 1853 di Inggris, vaksinasi cacar modern menggunakan material virus cacar sapi telah dilakukan. Melalui program WHO, kasus kejadian cacar Variola yang terakhir tercatat pada tahun 1977-1978. Itu pun terjadi karena kecelakaan lab di Birmingham, Inggris. Pada 1980, WHO secara resmi mengumumkan penyakit cacar variola telah berhasil diberantas dan menjadi satu-satunya penyakit yang dapat dipunahkan oleh manusia.

Saat ini, virus Variola hanya ada di dua tempat saja, yaitu di laboratorium pusat CDC (Pusat Pencegahan Penyakit) di Atlanta, AS, dan di Pusat Penelitian Virologi dan Bioteknologi Pemerintah Federasi Rusia (VECTOR), Novosibirsk, Siberia, Rusia. Di kedua fasilitas ini, virus Variola bahkan dijaga ketat oleh pasukan militer. Akses kedua sampel virus variola terakhir di muka bumi ini dijaga ketat karena berpotensi menjadi senjata biologis.

Polio

Polio atau Poliomyelitis adalah penyakit peradangan sumsum saraf abu-abu pada sistem saraf. Polio disebabkan oleh infeksi poliovirus pada usus yang menular lewat mulut dan makanan.

Sumber gambar : http://polioeradication.org/polio-today/history-of-polio/

Gejala ringan polio adalah pusing, demam ringan, dan mual. Jika semakin parah, virus ini akan memasuki pembuluh darah, bergerak ke batang otak serta susunan saraf pusat. Lalu, menyerang sel saraf yang bertanggung jawab untuk menggerakkan otot-otot dan menyebabkan kelumpuhan yang tidak bisa sembuh. Polio umum dikenal sebagai penyebab kelumpuhan pada anak-anak, walaupun juga dapat terjadi pada orang dewasa. Ketika menyerang batang otak, penyakit ini bisa menggangu sistem pernapasan (Polio bulbar) dan harus dirawat di paru-paru besi. Gangguan pernapasan ini bisa menyebabkan kematian.

Paru-paru besi yang digunakan untuk membantu pernafasan penderita polio yang sudah mencapai otot pernafasan. Sumber: polioeradication.com

Pada 1952, terjadi wabah Polio terburuk yang menyerang 52.000 anak-anak di Amerika Serikat. Separuhnya menjadi cacat dan 3000 di antaranya meninggal. Kasus polio yang paling terkenal dialami salah satu Presiden Amerika Serikat, yaitu Franklin Delano Roosevelt. Beliau terkena penyakit ini saat berumur 39 tahun, dan hampir meninggal karena penyakit ini. Kedua kakinya lumpuh selama sisa hidupnya.

Vaksin Polio

Penemuan vaksin polio oleh Jonas Salk disambut baik oleh dunia. Penemuan vaksin ini diumumkan di konferensi pers dan menjadi headline berita di koran-koran dan saluran TV dunia. Vaksin polio berisi virus Polio yang sudah dilemahkan.

Angka kejadian penyakit polio turun menjadi di bawah 1000 kasus saja di Amerika Serikat pada tahun 1961. 10 tahun kemudian, berkat pengenalan vaksin tetes polio, angka kejadian polio di AS kembali menukik tajam sampai dua digit saja.

Campak (Measles)

Campak (measles) disebabkan oleh infeksi Morbilivirus. Gejalanya meliputi demam dan kecapekan, batuk, radang mata, dan ruam atau kulit yang kemerahan dengan pola yang khas. Penyakit ini menjangkiti anak-anak dengan gejala yang ringan. Namun penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berkelanjutan seperti diare, radang telinga, batuk hebat, paru-paru basah, dan radang otak akut.

Radang otak akut dapat terjadi pada 1 dari 1000 kasus Campak, dan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Kerusakan otak tersebut berupa penurunan kecerdasan, kemunduran perilaku, dan kejang-kejang berkelanjutan bahkan setelah 7-10 tahun setelah penyakit ini terjadi, hingga kematian.

Sebelum adanya vaksinasi, campak merupakan penyakit biasa yang umum terjadi, terutama pada anak usia sekolah. 90% manusia sebelum adanya vaksinasi pernah menderita penyakit ini. Musibah kecacatan dan kematian karena campak dianggap sebagai ujian kehidupan belaka pada masa lalu. Sepanjang abad ke-20, campak telah merenggut 96,7 juta nyawa di seluruh dunia.

Vaksin Campak

Vaksin campak ditemukan di Amerika Serikat pada 1963 yang membuat Amerika Serikat menjadi negara pertama yang memiliki jadwal vaksin rutin untuk campak. Setelah penggunaan vaksin selama beberapa tahun saja, angka kejadian penyakit campak telah berkurang secara signifikan. Secara global, angka kematian campak sudah berkurang sampai 90% pada tahun 2010, dengan angka kematian yang masih terus menurun dari 750.000 kematian per tahun pada tahun 2000, menjadi 197.000 kematian per tahun pada tahun 2007.

Sejak program vaksin campak pada 1963, angka kejadian dan kematian akibat campak menurun di AS. Sumber: VacciNews

Gondongan (Mumps)

Gondongan disebabkan oleh Rubulavirus. Gondongan (mumps) adalah salah satu penyakit kuno yang menyerang susunan saraf pusat dan menyebabkan radang buah zakar serta kemandulan pada laki-laki. Karena menyerang saraf pusat, 10% dari mereka yang terserang penyakit ini akan mengalami peradangan selaput otak (meningitis aseptic) ringan. Namun 0.3% dari mereka yang terkena gondongan dapat meninggal akibat peradangan jaringan otak (ensefalitis). Selain itu, penyakit ini juga sering menyebabkan komplikasi, berupa ketulian.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa epidemi gondongan telah terjadi di seluruh dunia sejak abad ke-18. Wabah penyakit ini juga pernah menyerang pasukan AS saat perang sipil dan saat perang dunia pertama dengan dampak yang cukup besar.

Vaksin Gondongan

Vaksin untuk Gondongan berhasil dikembangkan pada 1951 menggunakan virus yang di non-aktifkan menggunakan formalin. Vaksinasi gondongan kemudian diwajibkan sejak tahun 1968. Sejak saat itu, angka kejadian Gondongan turun sampai 50%. Ongkos kesehatan dari penyakit ini turun sampai 85% sejak pengenalan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) saja pada tahun 90-an. Angka kejadian gondongan sejak saat itu terus menukik tajam.

Sumber: Vaccine ProCons.org

Rubella

Rubella awalnya dianggap sebagai penyakit yang ringan saja pada orang dewasa. Namun pada 1941 ditemukan bahwa penyakit ini dapat menyebabkan katarak pada anak-anak yang lahir dari mereka yang hamil saat terserang virus Rubella. Dan sejak saat itu, bahaya Rubella pada wanita hamil dan keturunannya telah diteliti dan diketahui tidak hanya menyerang penglihatan saja. Kecacatan akibat Rubella ternyata juga menyerang organ pendengaran dan jantung. Namun pada beberapa kasus, penyakit ini dapat juga menyebabkan radang otak (ensefalitis), mengecilnya kepala bayi (mikrosefali), keterbelakangan mental, dan autisme.

Katarak pada bayi yang lahir dari ibu penderita Rubella

Vaksin Rubella

Perkembangan vaksin Rubella dimulai pada tahun 1962-1963 ketika badan-badan kesehatan dunia saat itu memprediksi akan terjadi wabah Rubella. Vaksin virus ini pun berhasil dibuat pada 1967. Karena begitu cepatnya reaksi dunia atas bahaya Rubella serta pesatnya perkembangan vaksin untuk penyakit ini, wabah yang sempat muncul pada pertengahan tahun 60-an berhasil dicegah, dan pada tahun 2000-an penyakit ini sudah punah di negara-negara barat.

Sumber: drwile.com

Difteri, Tetanus, dan Pertusis

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri merupakan penyakit yang menyerang saluran nafas atas dan dapat membahayakan nyawa. Penyakit ini menyebabkan peradangan lapisan dalam rongga tubuh sehingga terjadi penumpukan material yang dapat menghalangi saluran nafas, terutama pada anak-anak. Kematian dari penyakit ini pun terjadi akibat kehabisan nafas pelan-pelan. Pada akhir abad ke-19, terdapat 100.000 kasus difteri setiap tahunnya di AS dengan tingkat kematian sebesar 15%.

Pseudomembran akibat infeksi bakteri Difteri yang dapat menghambat saluran nafas.

Tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani Kejadian penyakit Tetanus sudah diketahui sejak jaman Yunani kuno, dan namanya sendiri pun berasal dari bahasa Yunani. Penyakit ini menyebabkan kejang otot karena infeksi luka. Awalnya terjadi kejang otot di sekitar leher dan rahang, tapi dapat menyebar dengat cepat dan menyebabkan kematian karena kerusakan otot pernafasan dan saraf otonom. Penyakit ini telah dapat menjadi sumber kematian manusia yang cukup signifikan selama beberapa dekade.

Kejang tegang akibat toksin bakteri Tetanus

Pertussis disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertussis atau batuk rejan adalah penyakit saluran pernafasan atas yang sering mewabah, mudah ditularkan, dan menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi. Penderita penyakit ini batuk kuat terus-menerus. Suara batuknya khas karena si penderita susah bernapas akibat tertutupnya pangkal tenggorok. Penyakit ini umumnya menyerang anak kecil.

Sepanjang abad ke-20, ketiga penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini telah merampas lebih dari 100 juta nyawa.

Vaksin Difteri, Tetanus, Pertusis

Perkembangan ketiga vaksin ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan toksoid, yaitu partikel racun yang sudah di non-aktifkan. Pada 1907, ditemukan bahwa partikel racun ini dapat memicu kekebalan pada kelinci percobaan. Selama 50 tahun kemudian, produk ini berhasil ditingkatkan kemurniannya dan dikurangkan dosisnya untuk kebutuhan vaksinasi. Sejak 1974, vaksin kombinasi DTP berhasil dibuat dan menjadi vaksin wajib di Indonesia sejak 1996.

Penyakit Difteri, Tetanus, dan Pertusis sempat menjadi contoh kesuksesan awal penanggulangan infeksi bakteri berat dengan cara vaksinasi aktif. Vaksin DTP berhasil menurunkan angka kematian sampai 50% dalam beberapa tahun awal pembuatan vaksin. Walaupun begitu, ketakutan atas penggunaan bahan toksoid dan ketakutan lain terhadap vaksin sempat menurunkan tingkat vaksinasi ketiga penyakit ini pada tahun 1978 dari 79% ke 31% dan menyebabkan 102.500 anak terserang penyakit dengan 36 kematian di Inggris. Sampai hari ini, angka kejadian penyakit dan angka kematian akibat Pertussis dapat mencapai 10-100 kali lipat di daerah-daerah yang menolak vaksin ini.

Kasus Pertusis / batuk rejan (whooping cough) di AS yang sempat menurun tajam sejak adanya vaksinasi, kembali meningkat seiring berkembangnya gerakan anti-vaksin. Sumber: jsonline.com

PS. Isi ringkasan dari dampak manfaat vaksin dalam menyelamatkan jutaan nyawa manusia juga bisa lo tonton dalam format video singkat berikut ini:

Penolakan Vaksin

Oke, ketika sudah kembali ke masa lalu, saya harap kamu bisa memahami betapa mengerikannya bencana akibat penyakit menular dan bagaimana vaksin berperan besar menumpas wabah penyakit menular.

"Padahal udah menyelamatkan jutaan jiwa, kenapa masih ada aja yang meragukan dan menolak vaksin?"

.

Sejarah mencatat bahwa penolakan vaksinasi sudah ada sejak vaksinasi pertama kali ada. Penemuan vaksin cacar Variola adalah tonggak bersejarah dalam dunia kesehatan. Tapi saat itu, ada yang menolak vaksin cacar Variola karena takut dirinya akan berubah menjadi sapi mengingat vaksin cacar Variola menggunakan material virus cacar sapi.

Sikap meragukan dan menolak vaksin berlanjut saat program vaksinasi baru berlangsung selama satu generasi. Padahal saat itu kejadian cacar di Amerika dan Eropa sudah mulai menurun tajam lho. Para penolak vaksin saat itu kebanyakan berasal dari kelas menengah baru yang menganggap bahwa vaksinasi merupakan pelanggaran terhadap privasi dan hak atas tubuh mereka. “Ini kan tubuh gue, suka-suka gue dong mau diapain. Lo ga berhak minta gue menerima suntikan cairan berisi kuman penyakit!

Gerakan anti-vaksin di California USA

Golongan lain yang mempertanyakan vaksinasi sejak jaman itu adalah para dokter yang khawatir kehilangan pemasukan, pendukung konsep Malthusianisme yang menganggap bahwa cacar variola merupakan suatu bentuk kontrol populasi alami yang seharusnya dibiarkan saja, dan para pemuka agama yang melihat vaksinasi sebagai upaya untuk melawan rencana Tuhan.

Dapat dilihat kalo alasan penolakan vaksin sangatlah beragam. Tapi pada akhirnya, sikap mendukung atau menolak vaksin bergantung pada tingkat pemahaman dan kepercayaan seseorang terhadap ilmu dan kompetensi otoritas medis. Sayangnya, tingkat kepercayaan ini bergeser seiring meningkatnya konsumerisme, di mana seorang individu dapat berperan lebih aktif dalam pengambilan keputusan medis. Mereka berhak menolak sebuah perawatan karena alasan pribadi walaupun sudah disuguhkan bukti-bukti ilmiah yang valid. Tidak dipungkiri pula, media ikut berperan menyebarkan miskonsepsi tentang vaksin yang mengundang debat kusir tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Generational Amnesia

Keengganan dan penolakan bervaksin juga muncul akibat amnesia generasional, di mana sebuah masalah terlupakan akibat tidak adanya transfer pengetahuan tentang suatu kejadian karena kecilnya relevansi kejadian tersebut terhadap generasi yang akan datang. Ini maksudnya seperti yang gue sebutkan di awal. Saking berhasilnya program vaksinasi, kita kadang lupa betapa mengerikannya bahaya suatu penyakit menular.

Sebagai contoh, sebelum adanya vaksin Campak pada tahun 1963, hampir setiap anak akan terjangkit campak, ga peduli status sosial dan tempat tinggalnya. Namun semua berubah sejak adanya vaksinasi, kejadian campak menjadi semakin jarang terjadi. Kemudian terciptalah satu generasi yang seumur hidupnya tidak pernah tau satu orang pun yang terkena campak. Lambat laun, penyakit dan risiko campak pun terlupakan. Mereka pun akhirnya lupa atas jasa vaksin campak.

Bahaya Penolakan Vaksin

Ketika kamu sudah mengerti mekanisme vaksin dan herd immunity serta sejarah wabah penyakit dan vaksinasinya, saya rasa kamu bisa menalar sendiri bahaya dari penolakan vaksin, yaitu kemunculan kembali penyakit-penyakit serta komplikasinya yang setelah sekian lama berhasil dicegah. Menolak vaksin tidak hanya membahayakan individu penolak, tapi juga membahayakan orang lain.

Contohnya, kasus Polio. Indonesia pernah dinyatakan bebas polio pada periode 1995-2005. Lalu pada 2005, status itu mesti ditarik ketika seorang balita di Jawa Barat positif dinyatakan terjangkit polio. Padahal sudah satu dekade kasus polio tidak terjadi lagi di Indonesia! Berdasarkan penyelidikan, virus polio ini berasal dari Nigeria, negara dengan gerakan anti-vaksin yang cukup mengkhawatirkan. Akibat satu kejadian di Jawa Barat tersebut, virus polio menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia. Angka kejadian polio menukik tajam menjadi 349 kasus selama 2006 saja. Bayangkan, hanya dari 1 kasus aja, merembet ke ratusan kasus lainnya!

Untungnya, berkat kerja keras petugas dan berbagai badan kesehatan, Indonesia kembali dinyatakan bebas polio sejak 2014 lalu. Pengalaman bangkitnya kembali polio pada 2005 lalu seharusnya menjadi pelajaran pentingnya untuk meneruskan program imunisasi, bahkan setelah sebuah penyakit menular berhasil ditekan penyebarannya.

Di sinilah pentingnya untuk terus meningkatkan pemahaman dan kepercayaan terhadap dunia medis. Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa vaksinasi merupakan tanggung jawab sosial. Sudah menjadi tugas seseorang sebagai bagian dari masyarakat untuk turut menjaga imunitas kelompok. Di negara maju sendiri, ada golongan orang tua yang dengan sengaja memvaksinasi anak-anaknya bukan hanya untuk melindungi diri mereka saja, namun juga untuk banyak orang lain.

Melakukan vaksinasi seperti melakukan kegiatan amal.

Vaksinasi memang “mengorbankan” hak atau kontrol seseorang terhadap tubuh sendiri atau anaknya, demi melindungi orang lain, mencegah kecacatan dan kematian yang ke depannya malah akan membebani masyarakat. Sebuah langkah kecil yang dapat menyelamatkan jutaan jiwa.

CATATAN EDITOR

Jika ada di antara kamu yang ingin ngobrol atau diskusi dengan dokter Thomas seputar dunia medis dan kedokteran, khususnya topik tentang vaksin, jangan ragu -ragu untuk bertanya di kolom komentar di bawah artikel ini. Sebelumnya zenius juga sudah pernah mengupas tentang cara kerja vaksin lebih detil pada artikel berikut ini: Apa itu Vaksin dan Bagaimana Cara Kerja Vaksin Pada Tubuh Manusia?

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.

  • rl

    Tapikan tubuh kita sempurna, diciptakan oleh Allah. menerima vaksin berarti mengakui kalau Allah itu pembohong. Ini mah konspirasi zionis dan amerika saja *sarkas*

    • Ilham Syamsuddin

      jadi autis masih lebih baik daripada jadi kayak lu *sarkas juga*

    • Imad

      klo vaksin itu berguna ya... lakukan aja.
      memang sih, banyak rumor mengnai vaksin, tapi apakah itu terbukti?

      • Thomas Adhi Nugroho Chua

        Memang banyak rumor mengenai vaksin, terutama yang mengaitkan vaksin dengan autisme. Yang menjadi masalah adalah penelitian vaksin MMR yang dikaitkan dengan Autisme yang dilakukan di Inggris, setelah di investigasi ternyata cacat etik dan cacat ilmiah sehingga gelar sang dokter peneliti pun harus dicabut. Setelah dilakukan penelitian ulang untuk memastikan apakah ada risiko atau tidak, tidak ditemukan perbedaan risiko autisme pada masyarakat yang divaksinasi maupun yang tidak divaksinasi. Selain itu sudah banyak ditemukan faktor genetik yang diduga merupakan penyebab autisme, dan tidak ada sangkut pautnya dengan vaksinasi.

    • Andri Nur

      Menerima vaksin bukan mengakui Allah itu pembohong 🙂 . menerima vaksin merupakan bentuk ikhtiar kita untuk meminimalisir terjadinya penyakit-penyakit seperti di atas 🙂 toh kalo kita sehat, beribadah juga nyaman kan ? 🙂

      • rahmatrmdn

        setuju bruh!

  • Ahmad Hanif Auora

    Gimana dengan wabah Black Death?

    • Thomas Adhi Nugroho Chua

      Untuk wabah Black Death sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang sampai sekarang masih sulit dibuatkan vaksin nya karena protein kulitnya tidak ada yang khas yang dengan mudah dijadikan vaksin seperti banyak bakteri lain. Selain itu kepentingan pembuatan vaksinnya tidak terlalu tinggi karena penyebarannya yang sudah sangat terbatas setelah peningkatan standar higienitas selama 1000 tahun terakhir dan juga fakta bahwa 95% dari kasus yang ada sekarang dapat sembuh menggunakan antibiotik yang lazim ada.

  • Vincent Leonhart Setiawan

    Tapi gimana kalo misalkan suatu hari nanti perang dunia ke 3 pecah ? Apakah tuh virus variola bisa dipake lagi ? Dan kalo misalnya udah divaksin emangnya bakal ketular ya kalo misalnya tuh virus dilepas ke dunia bebas ? Sorry gw banyak nanya. Masih mau belajar kak.

    • Arya Pratama Putra

      Vaksin itu untuk membuat tubuh kita memiliki antibodi untuk penyakit tertentu. Jadi walaupun sudah divaksin pun masih ada kemungkinan terkena penyakitnya, tapi tubuh kita akan bisa melawan penyakit tersebut lebih efektif

    • Thomas Adhi Nugroho Chua

      Walaupun ada kemungkinan bisa dipakai lagi, tapi kedua negara yang sekarang berperan sebagai pengampu penyimpanan virus hidup variola sudah menandatangani perjanjian tidak akan menggunakan sebagai senjata biologis, selain itu sudah ada rencana cadangan dari CDC sendiri untuk dapat menyebarluaskan vaksin jika ada Kejadian Luar Biasa ataupun serangan senjata biologis.

  • Maz day

    makasih bang thimas chaidir untuk informasi yang bermanfaat itu . nah bang gue mau tanya , apakah bernah ada kasus anak yang di vaksin , trus belum tuntas vaksinasinya ? apakah itu bisa berakibat di masa depan nya . sekian dan terima kasih bang ...:D !

    • Thomas Adhi Nugroho Chua

      Kalau belum tuntas, maka sebaiknya ke spesialis anak untuk melakukan kejar imunisasi, karena imunisasi yang tidak lengkap akan menghasilkan kekebalan tubuh yang tidak lengkap juga sehingga proteksi nya tidak maksimal. Di masa depan, terutama di dunia kerja, sang anak dapat lebih mudah terjangkit penyakit dan berpotensi tidak mencapai potensi optimal nya nanti, dan nantinya akan berpengaruh ke hal-hal lainnya.

  • Melati Sasabila

    Disimpen di AS dan Rusia ? Dijaga ketat sama militer... hm..
    Bisa jadi senjata biologis buat mereka ya

  • Penasaran sama bagian Variola, kalau penyakitnya memang sudah dinyatakan punah, kenapa virusnya masih disimpan sampai sekarang? Apa kiranya manfaat menyimpan virus Variola?

    • Ini Jokowi

      Apa ini termasuk tipu daya lg

  • Dailami D Firdaus

    khusus artikel ini saya sangat berterima kasih buat Kak Thomas sudah memberikan "pencerahan" yang berharga buat saya. sebelumnya saya termasuk yang anti dengan vaksin karena info yang saya terima tentang konspirasi zionis, halal haramnya vaksin, asal usul vaksin, bid'ah dll yang belum tentu semua itu dapat dibuktikan secara ilmiah

    Tapi setelah membaca artikel ini bener2 membuka mata saya. seolah olah ini adalah "Tabayyun" yang ideal dan ilmiah untuk meruntuhkan "tembok keangkuhan" saya dalam menolak vaksin atas nama fanatisme agama. padahal Allah itu selain menciptakan penyakit. juga menciptakan obatnya untuk kita ikhtiar. Vaksin adalah salah satunya. apalagi toh... MUI sudah menghalalkan penggunaan Vaksin. itu juga termasuk fanatisme agama. hehe......

    Saya tunggu janji Kak Thomas dalam membahas aspek lain dari vaksin di artikel-artikel selanjutnya. 🙂

  • Jafar Jaysyurrahman

    Kok aids belom ada vaksinnya sampe sekarang

    • Thomas Adhi Nugroho Chua

      karena virus HIV menyerang di bagian yang rumit, HIV menyerang sel darah putih itu sendiri yang tugasnya juga menyaring virus-virus seperti HIV sehingga kemampuannya untuk menon-aktifkan kemampuan ini menjadi permasalahan khusus untuk desain dan implementasi dari vaksinnya, selain itu kemampuan virus HIV untuk bermutasi dan beradaptasi dengan cepat membuat vaksin HIV tidak bisa universal walaupun sudah dibuat, seperti vaksin flu yang harus disuntik tiap tahun karena kemampuan berkembangnya yang cepat sehingga penelitian vaksin harus berkejar-kejaran dengan mutasi virusnya sendiri.