Kupas Tuntas Dunia Investasi Bagi Pemula

Artikel ini mengupas dunia investasi secara komprehensif bagi para pemula. Dari mulai jenis-jenis investasi, hingga kelebihan & kekurangannya masing-masing.

Halo para pembaca setiap Zenius Blog, ketemu lagi dengan gue Meby. Pada artikel kali ini gua mau lagi-lagi mau cerita tentang topik ekonomi, khususnya tentang dunia investasi. Artikel ini sekaligus menyambut beberapa request yang zenius terima untuk membahas dunia investasi.

Oke pada artikel ini, gua harap bisa mengupas tuntas dan juga sekaligus menjawab banyak pertanyaan lo seputar dunia investasi. Yuk kita mulai pembahasannya!

Apa sih Bedanya Tabungan dengan Investasi?

Sebelum kita ngomongin tentang investasi, gue mau memastikan lo untuk ngerti dulu nih, apa sih bedanya tabungan sama investasi?  Sebagian besar dari lo mungkin udah gak asing dengan himbauan untuk menabung. Bahkan pemerintah tahun lalu meluncurkan sebuah kampanye yang namanya “Gerakan Ayo Menabung” yang didahului dengan peluncuran produk tabungan untuk pelajar yang dikenal dengan SIMPEL atau Simpanan Pelajar.

Tapi selain gerakan menabung, pemerintah Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan 2 lembaga pasar uang lainnya mengkampanyekan gerakan “Ayo Menabung Saham” yang cukup gencar menjaring para calon investor muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Wah apa lagi nih? Buat lo yang belum tau istilah menabung saham, sederhananya begini: menabung saham itu prinsipnya ya sama seperti nabung di bank, tapi tempat nyimpan uangnya bukan di bank, tapi di perusahaan-perusahaan besar dalam bentuk saham. Nah, menabung saham itu bisa dikatakan salah satu contoh dari investasi.

Apa sih sebetulnya investasi itu?

Investasi pada dasarnya adalah upaya untuk mengalokasikan kekayaan kita saat ini ke dalam bentuk lain, supaya nanti di masa mendatang nilainya akan jadi lebih tinggi. Lebih tinggi maksudnya gimana? Minimal diharapkan nilai investasi kita lebih tinggi secara nominal di masa depan, tapi akan jauh lebih baik lagi jika pertumbuhan nilai investasi bisa melampaui tingkat pertumbuhan inflasi, atau tingkat kenaikan harga barang.

Hayo, ada yang masih belum tau kenapa ada fenomena kenaikan harga barang (inflasi) setiap tahun? Buat yang belum ngerti, bisa baca artikel zenius sebelumnya tentang Kenapa sih setiap tahun harga barang selalu naik?

Oke, mungkin lo masih ada yang belum kebayang, gimana teknisnya perbedaan antara tabungan dan investasi. Sekarang gua coba jelaskan dengan sedikit simulasi, misalnya lo punya uang Rp 1000.000 (satu juta rupiah). Lalu uang itu kita alokasikan dalam 2 skenario, pertama skenario nabung, kedua skenario investasi.

Skenario 1: Menabung

Skenario pertama, duit lo yang Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) lo tabungin di Bank A, yang menawarkan bunga 2% per tahun dan ada biaya administrasi sebesar Rp. 5.000,- per bulannya. Terus lo diemin deh tuh uang sampai setahun kemudian lo dateng ke bank itu dan lo ambil kekayaan lo itu semuanya. Kira-kira berapa nominal uang yang akan lo dapet?

Jumlah tabungan dalam 1 tahun = (Rp. 1.000.000 + (2% x Rp. 1.000.000)) – (Rp. 5.000,- x 12) = Rp 960.000

Eeeeh… ternyata uang di tabungan lo kok malah berkurang ya? Karena ternyata simpanan lo yang sebesar Rp 1.000.000 itu dalam setahun dikenain biaya administrasi (Rp 60.000) lebih gede daripada bunga yang lo dapet (Rp 20.000) dalam periode waktu yang sama. Ini kalo skenario jumlah nominal tabungan lo “kecil” ya, jadi biaya administrasi bisa lebih mahal dari bunga bank. Kalo jumlah tabungan lo jauh di atas satu juta rupiah, ya secara nominal sih nggak akan berkurang.

Tapi, selain selisih antara biaya administrasi bank dan suku bunga bank, ada satu hal lagi yang harus lo perhatikan, yaitu inflasi. Ketahuilah bahwa inflasi menyebabkan nilai uang TERUS menyusut. Bahwa nilai Rp 1.000.000 di tahun 2007 itu berbeda dengan Rp 1000.000 pada tahun 2017, dan pasti akan berbeda dengan Rp 1.000.000 di tahun 2027.

Wah, jadi kalo kita nabung justru rugi dong? Nggak juga sih. Menabung itu pada dasarnya memang berbeda tujuan dengan investasi. Membuka tabungan di bank itu tujuannya agar kita praktis mengelola keuangan yang kita pakai sehari-hari. Dalam arti, setiap saat lo butuh uang, lo bisa tinggal cash ambil di ATM atau gesek debit card.

Pada prinsipnya, tabungan itu sifatnya lebih liquid, alias lebih mudah dicairkan dan digunakan untuk bertransaksi. Berbeda dengan investasi yang tidak semua bersifat liquid atau mudah dicairkan kapan saja. Jadi tujuannya jelas beda ya antara menabung sama investasi.

Skenario 2: Investasi

Sebagaimana dibahas sebelumnya, investasi pada dasarnya adalah upaya mengalokasikan uang kita, agar bertumbuhan secara optimal, minimal melampaui tingkat inflasi. Singkatnya, jika menabung bertujuan untuk mengelola arus keluar-masuk uang secara praktis. Investasi adalah sarana penyimpanan uang untuk menumbuhkan kekayaan kita secara optimal.

Terus gimana nih skenarionya jika kita mengalokasikan uang dengan investasi? Nah, pertama-tama kita harus mempelajari dulu berbagai macam instrument investasi. Karena setiap bentuk macam investasi, menawarkan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda.

Contohnya nih, jika lo menaruh uang Rp 1.000.000 tadi dalam bentuk saham perusahaan (misalnya) Semen Baturaja (Persero) Tbk pada September 2016. Maka lo akan mendapatkan 12 lot atau 1.200 lembar saham perusahaan tersebut dengan harga Rp 810/lembar. Nah, jika setahun kemudian (September 2017) lo mau menjual seluruh saham lo, maka dengan harga saham Semen Batu Raja pada akhir bulan Agustus 2017 hari ini telah mencapai Rp 3.000/lembar, maka uang Rp 1.000.000 yang sebelumnya lo taruh dalam bentuk saham sekarang sudah bernilai Rp 3.600.000

Wah, pertumbuhannya bisa mencapai 270% dalam waktu satu tahun, hebat banget ya! Terus kalo gitu semua orang harusnya berinvestasi aja dong, supaya nilai uangnya bertumbuh pesat begitu. Dalam prakteknya ya ga semudah itu, itu tadi gua ambil contoh skenario investasi yang bagus aja.

Pada kenyataannya, agar seorang investor dapat mengambil keputusan investasi yang tepat itu memerlukan proses analisis yang cermat, perlu pengetahuan ekonomi yang dalam, bahkan dalam beberapa instrument investasi tertentu perlu memahami dinamika perpolitikan dunia. Nah, sebagai langkah pertama mengenal dunia investasi, yuk kita berkenalan dengan bentuk-bentuk investasi.

Investasi bisa dalam bentuk apa aja sih?

Nah tadi kita udah bilang tuh ya kalo kegiatan investasi bisa dilakukan melalui berbagai instrumen atau moda investasi. Pada dasarnya, investasi terbagi menjadi 2 tipe, yaitu:

1. Investasi Riil : Kalo yang riil ya maksudnya instrumennya ini ada wujud fisiknya, bisa dilihat dan dipegang. Contohnya seperti komoditas, logam mulia, properti, alat produksi, dan sebagainya.

2. Investasi Finansial : Sementara yang finansial ini instrumennya tidak memiliki wujud fisik, kalaupun ada biasanya hanya representasi nilai berbentuk kertas atau surat berharga, contohnya seperti saham, obligasi (surat utang) yang sebetulnya informasi investasi kita telah didokumentasikan berupa data akun digital.

Nah berdasarkan 2 tipe umum di atas, yuk sekarang kita bahas satu per satu contoh konkrit dari bentuk-bentuk investasi:

 

A. Apa itu Investasi Komoditas?

Banyak orang yang menyimpan kekayaannya dalam bentuk komoditas. Paling umum adalah salah satu logam mulia yang kita kenal sebagai emas. Dari jaman dulu, banyak banget orang beli perhiasan emas dengan tujuan untuk investasi. Keuntungannya adalah bahwa perhiasan ini bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan waktu mereka beli, dan sekalian bisa tampil gaya juga kan, hehe…

Kenapa emas kok umum banget sih dijadiin moda untuk berinvestasi? Soalnya harga emas dari tahun ke tahun sejak dulu bisa dibilang terus meningkat. Di sisi lain emas, sempat dipakai sebagai alat tukar perdagangan (mata uang) selama ribuan tahun di berbagai belahan dunia.

Oh ya, bagi lo yang masih penasaran dan belum tau kenapa sih sejarahnya emas bisa dianggap sebagai barang yang bernilai tinggi, lo bisa baca tulisan Zenius Blog sebelumnya tentang Asal-Usul Konsep Uang dan juga Sejarah Kenapa Emas Dianggap Berharga.

Nah dari sejarah itu, emas sampe sekarang ini masih dijadiin salah satu media penyimpan kekayaan tuh. Di Indonesia sendiri, banyak banget pasarnya selain di toko emas, misalnya aja lo bisa beli emas di PT Antam, Tbk atau di PT Pegadaian.

Fluktuasi Harga Emas 5 tahun terakhir (Sumber: Bloomberg)

 

B. Apa itu Investasi Properti?

Selain emas, nggak sedikit juga orang yang berinvestasi di properti seperti rumah, apartemen, ruko, atau sebidang tanah. Mungkin lo suka bertanya-tanya, ngapain sih orang kok punya rumah banyak amat? Emangnya dia sebenernya tinggal dimana sih? Nah, ini nih salah satu contoh orang berinvestasi di properti.

Harga properti memiliki trend atau kecenderungan untuk naik seiring berjalannya waktu. Hal ini dipicu oleh prinsip dasar ekonomi, yaitu kelangkaan. Semakin langka suatu barang, maka akan semakin bernilai. Nah properti ini emang merupakan barang langka nih. Soalnya nggak ada produsen di dunia ini yang memproduksi tanah atau lahan kan? Jadi di dunia ini, jumlah lahan terbatas. Sedangkan jumlah penduduk dunia makin lama makin banyak.

Jadi pastinya permintaan properti atau tempat tinggal juga meningkat dengan pesat dong ya? Karena tempat tinggal, dan lahan untuk melakukan aktivitas adalah kebutuhan dasar manusia ya. Makanya harga properti cenderung naik terus.

Tapi apakah properti selamanya pasti akan naik terus? Nggak juga sih, pernah terjadi juga saat harga properti jatuh. Contohnya saat terjadi kredit macet, khususnya sektor properti di Amerika tahun 2008. Banyak orang membeli properti dengan cara kredit, tanpa melihat kemampuan kreditur dalam melunasi utangnya. Akibatnya terjadilah kredit macet properti yang sangat parah di Amerika dan sampai merembet ke seluruh dunia. Kalau sudah terjadi begini, ya pastinya harga properti juga jadi anjlok parah dalam waktu yang cukup lama.

Kalo ada yang penasaran bagaimana krisis ekonomi dunia yang disebabkan kredit macet properti di Amerika tahun 2008, bisa baca artikel Zenius Blog sebelumnya >>  Bagaimana Tanggung Jawab Moral Menyebabkan Krisis Ekonomi.

 

C. Apa itu Investasi Saham? 

Ada lagi nih moda investasi yang nggak kalah populernya di kalangan para investor dan penanam modal. Lo pernah denger yang namanya saham? Kalo belum, mungkin lo bisa tonton video materi tentang Pasar Modal nih di zenius.net.

Apa sih saham itu?

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan yang udah melakukan pelepasan saham ke publik atau istilah kerennya Initial Public Offering (IPO). Nah perusahaan kayak gini dikenal juga sebagai perusahaan go public atau perusahaan terbuka. Gampangnya, lo bisa melihat nama perusahannya di belakang sudah ada atribut “Tbk” atau belum. Nih beberapa contoh perusahaan yang sudah go public atau sudah jadi perusahaan terbuka:

  • PT Astra International Tbk
  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk
  • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

Jadi kalo lo beli saham perusahaan itu sebanyak 5% dari seluruh sahamnya, artinya lo memiliki 5% dari perusahaan itu. Tapi harga saham sebuah perusahaan tuh bisa berubah-ubah dengan hitungan detik loh, tergantung dari berapa banyak permintaan dari ribuan investor lainnya untuk membeli perusahaan itu, dan berapa jumlah saham yang ditawarkan oleh perusahaan itu.

Fluktuasi dari permintaan dan penawaran saham itu, merefleksikan tingkat kepercayaan publik terhadap performa dari perusahaan tersebut. Kalo performa perusahaan itu dinilai bagus dan di masa mendatang diperkirakan akan semakin meningkat, maka semakin banyak orang yang membeli saham perusahaan tersebut, akhirnya semakin meningkat juga deh harga sahamnya.

Demikian juga sebaliknya, kalo perusahaan itu performanya diperkirakan akan semakin menurun, yang mungkin bisa diliat dari banyaknya utang, profitnya berkurang, banyak karyawanya yang kena PHK, atau sampai terkena kasus sengketa hukum. Otomatis kepercayaan publik terhadap kinerja perusahaan juga menurun, maka banyak investor saham yang kabur menjual sahamya. Otomatis harga sahamnya juga akan semakin turun.

Nah keliatan kan kalo naik turunnya harga saham ini sesuai sama hukum permintaan dan penawaran yang kita udah kenal baik di ilmu ekonomi.

Oke terus apa hubungannya fluktuasi harga saham dengan investasi?

Ya jelas ada dong, jika lo membeli saham suatu perusahaan dengan harga yang lebih rendah ketika kelak nanti lo menjualnya, lo akan mendapatkan selisih yang menguntungkan, atau biasa disebut dengan istilah capital gain. Selain itu, jika lo menyimpan saham suatu perusahaan dalam jangka waktu yang lama, maka setiap tahun, lo juga akan mendapatkan jatah sekian persen dari keuntungan (profit) perusahaan tersebut, atau dikenal dengan istilah dividen.

Makanya kalo sebuah perusahaan punya performa yang bagus, pasti profitnya akan gede juga kan? Jadi dividen yang dibagikan juga bakalan lebih gede pastinya. Ditambah lagi kalo ada kenaikan harga saham itu, yang bikin si pemegang saham bisa menikmati capital gain.

Ngomong-ngomong gimana sih cara kita mengetahui performa perusahaan? Gimana juga cara kita mengetahui berapa persen profit perusahaan itu yang dibagikan dalam bentuk dividen. Emangnya kita boleh tau berapa profit perusahaan itu?

Yup, siapapun boleh melihat laporan keuangan semua perusahaan yang sudah go public. Makanya disebut dengan perusahaan terbuka, ya karena laporan keuangan perusahaan itu terbuka kepada publik. Siapapun bisa memiliki akses untuk melihat kinerja perusahaan tersebut.

Bahkan dari sisi perusahaan-perusahaan itu sendiri, mereka berkewajiban untuk mengumumkan laporan keuangannya di media massa, yang mana laporannya itu harus udah diaudit oleh auditor independen untuk memastikan nggak ada pemalsuan data keuangan.

 

D. Apa itu Investasi Obligasi?

Pada dasarnya obligasi adalah surat pernyataan utang. Pihak yang berutang bisa jadi perusahaan atau pemerintah, sementara pemberi piutang adalah masyarakat sebagai investor atau pemegang obligasi.

Misalnya perusahaan A ngeluarin obligasi (surat utang), terus lo beli tuh obligasinya itu, artinya perusahaan itu punya utang sama lo sebesar nilai yang tertulis di obligasinya itu untuk jangka waktu yang juga tercantum di surat utang itu. Terus yang lo dapet apa dong dari megang obligasi perusahaan A itu? Perusahaan A memiliki kewajiban untuk membayar utangnya itu ke lo berikut bunganya.  Jadi ketika lo membeli obligasi, semua informasi sudah tercantum, dari total jumlah yang akan dikembalikan, bunganya hingga waktu jatuh tempo pelunasan.

Masalahnya apakah kita bisa percaya dengan perusahaan atau pemerintah untuk bayar utang kepada kita? Secara umum ya bisa dibilang cukup terpercaya, karena mekanisme obligasi ini dilindungi oleh hukum dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pahit-pahitnya itu, utang obligasi ga mampu dibayar jika perusahaannya bangkrut! Nah, berarti kalo mau beli obligasi perusahaan, lo harus jeli juga ya melihat kinerja perusahannya bagus atau nggak, keuangan sehat atau nggak. Kalo perusahaan di ambang kebangkrutan, ya jangan nekat investasikan uang kita ke perusahaan itu.

Nah, sebetulnya ada satu jenis obligasi yang sangat aman sebagai alat investasi, yaitu obligasi pemerintah. Kalo di Indonesia, namanya Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang dikeluarin oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan. Penjualannya biasanya dilakukan setiap tahun di sekitaran bulan September-Oktober melalui berbagai bank nasional.

Nah, lo udah baca kan artikel gue sebelumnya tentang Utang Negara Indonesia? ORI berhubungan erat nih sama utang negara, karena salah satu tujuan Pemerintah nerbitin ORI adalah untuk ngebiayain pembangunan negara kita. Jadi prinsipnya sama persis seperti obligasi perusahaan, cuma ini yang nerbitin adalah negara.

Negara menerbitkan surat utang yang dijual ke masyarakatnya dengan tambahan bunga pinjaman. Dari sisi negara diuntungkan karena mendapatkan pinjaman uang dalam jumlah besar untuk biaya pembangunan negara, di sisi lain masyarakat juga diuntungkan karena punya sarana investasi yang aman, terjamin dan menguntungkan. Win-win solution kan? Lebih lengkapnya tentang ORI, lo bisa baca di sini https://www.kemenkeu.go.id/ORI.

 

E. Apa itu Investasi Reksadana?

Kalo lo kurang gitu pede untuk terjun langsung menjadi investor saham dan obligasi, lo bisa ambil alternatif yang namanya reksadana. Apaan sih reksadana itu? Intinya sih reksadana ini adalah penawaran investasi yang diberikan oleh beberapa perusahan investasi (sekuritas) yang bentuk investasinya adalah paket-paket kombinasi dari beberapa saham dan obligasi.

Biasanya perusahaan sekuritas menawarkan produk reksadana ini dalam bentuk paket-paket. Misalnya reksadana X, lo bisa lihat isinya adalah berbagai surat berharga dari perusahaan A, B, C dan seterusnya. Terus manajemen reksadana ini juga dijalanin oleh orang yang ahli di bidangnya, yang biasanya disebut Manajer Investasi (MI). Jadi kalo lo beli reksadana, lo harus tau isi dari reksadana yang lo beli itu apa aja dan siapakah manajer investasi yang akan mendampingi lo.

Salah satu kelebihan dari reksadana dan obligasi adalah risiko kerugian yang relatif lebih kecil. Kok bisa gitu?

Pertama, karena paket produk reksadana ini merupakan kombinasi dari beberapa saham dan obligasi, jadi fluktuasi kenaikan dan penurunan harganya juga relatif lebih stabil. Misalnya nih, lo beli reksadana paket X yang terdiri dari saham perusahaan A, B, dan C. Ketika harga saham perusahaan A lagi anjlok, tapi ternyata harga saham perusahaan B dan C lagi naik, ya lo nggak akan rugi-rugi amat karena anjloknya saham perusahaan A agak sedikit kebantu naik karena saham perusahaan B dan C lagi naik.

Kedua, melalui reksadana lo akan didampingi oleh seorang Manajer Investasi yang emang ahli dalam bidangnya. Biasanya MI ini memastikan bahwa kumpulan perusahaan di dalam sebuah produk reksadana itu bisa saling mengkompensasi kerugian dan keuntungan masing-masing.

Namun di sisi lain, karena dikemas dalam bentuk paket-paket seperti ini, capital gain yang didapat melalui reksadana juga cenderung tidak setinggi investor yang bermain saham pada 1 perusahaan. Lagi-lagi penyebabnya karena kombinasi harga saham dalam paket investasi reksadana akan saling “tarik-menarik”. Jadi gampangnya, kalau lo rugi, ya nggak akan rugi-rugi amat. Tapi kalo lo untung, juga nggak akan sampai untung besar-besaran.

Khusus untuk reksadana, gua sangat menyarankan lo untung mengecek ulang kredibilitas dari perusahaan sekuritas/investasi yang akan menjadi media investasi lo. Pastikan perusahaan itu sudah diakui oleh BEI dan OJK. Lo juga sering-sering lihat daftar investasi bodong yang ditutup oleh OJK.

Berikut ini beberapa ciri-ciri dari orang yang menawarkan investasi bodong (investasi hoax) yang patut lo waspadai:

  • Menjanjikan lo untuk mendapatkan manfaat yang sangat besar secara CEPAT dan MUDAH.
  • Memberikan JAMINAN dan KEPASTIAN pengembalian investasi dengan angka yang fantastis.
  • Berupaya membuat lo mengambil keputusan terkait keuangan SESEGERA mungkin.
  • Memberi kesan pada produk/sistem yang dia tawarkan adalah yang sebuah RAHASIA yang tidak diketahui banyak orang.
  • Memberi kesan bahwa lo sangat BERUNTUNG karena mendapatkan kesempatan langka, oleh karena itu kesempatan tersebut harus diambil sesegera mungkin.
  • Subjek yang menawarkan biasanya tampil rapi, sangat MEYAKINKAN, dan penuh percaya diri.

 

F. Apa itu Investasi Valuta Asing?

Lo pasti udah tau kan kalo tiap negara punya mata uangnya sendiri-sendiri. Ya mungkin ada beberapa negara yang pake 1 mata uang, seperti negara-negara di kawasan Eropa Barat tuh yang tergabung dalam Uni Eropa. Mereka sih emang udah ada perjanjiannya ya untuk menggunakan 1 mata uang, yaitu Euro. Tapi selebihnya, negara-negara lain di dunia punya mata uangnya masing-masing.

Buat lo yang masih bingung kenapa tiap-tiap negara punya mata uang sendiri-sendiri? Kenapa negara-negara nggak pake satu mata uang saja? Bagi yang masih bingung, bisa baca penjelasannya di artikel Zenius Blog sebelumnya tentang Tiga Skenario Kebijakan Ekonomi Dunia.

Indonesia menggunakan mata uang Rupiah untuk bertransaksi, Malaysia punya mata uang Ringgit, Thailand punya mata uang Baht. Jadi kalau kita mau bertransaksi antar negara, kita harus konversi dulu mata uang negara lain itu ke mata uang negara kita, dan juga sebaliknya. Kalau kita jadi turis di negara lain, penukaran mata uang ini bisa dilakukan di sebuah toko yang namanya money changer.

Nahkalo kapan-kapan lo ada kesempatan untuk berkunjung ke salah satu money changer atau kantor cabang bank atau mungkin di websitenya, biasa ada papan yang isinya informasi kaya gini deh:

Ini maksudnya gimana nih kira-kira? Tabel kaya gini bacanya adalah dari sisi bank atau penjualnya. Jadi yang dibilang kurs jual adalah harga mata uang tertentu yang dijual oleh bank atau money changer. Sebaliknya kurs beli adalah harga mata uang tertentu yang dibeli oleh mereka. Jadi misalnya lo dateng ke bank dan bilang lo mau beli mata uang USD (Dollar Amerika Serikat), yang lo liat adalah kurs jual, karena artinya bank yang jual ke lo. Jangan sampe terbalik baca tabelnya yak!

Nah, selain untuk bertransaksi di negara yang bersangkutan, mata uang negara-negara ini bisa juga dijadiin salah satu alternatif instrumen investasi, biasa dikenal juga dengan istilah valas (valuta asing) atau Bahasa Inggrisnya disebut forex (foreign exchange). Konsep dasar dari investasi di valas adalah untuk bisa nikmatin perbedaan harga dari perdagangan valuta asing di negara kita.

Gampangnya kita coba bandingkan saja, nilai tukar Rupiah ke $1 USD pada Agustus 2015 berkisar antara Rp 14.300. Sementara pada Agustus tahun 2011, nilai tukar Rupiah ke $1 USD berkisar di angka Rp 8.500. Sekarang lo bayangkan jika ada orang yang menukar uang Rupiahnya dalam jumlah sangat besar di tahun 2011 lalu menjualnya kembali menjadi bentuk Rupiah di tahun 2015. Berarti orang tersebut mendapatkan keuntungan 70% dari modalnya dalam waktu 4 tahun hanya dengan jual-beli mata uang asing tanpa perlu kerja apa-apa.

Nah, cuma dalam prakteknya nggak perlu nunggu bertahun-tahun sih, nggak sedikit juga trader forex yang melakukan jual beli valas dalam waktu singkat, bisa dalam hitungan minggu, hari, atau bahkan dalam hitungan jam saja, mereka sudah bisa meraih selisih keuntungan.

Salah satu keunikan dari pasar valas ini adalah bursa pasar yang nggak pernah tutup. Pasar saham di BEI aja cuma buka jam 09.00 – 16.00 Senin sampai Jumat. Tapi yang namanya valas, wah transaksinya bisa dilakuin setiap saat, buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, setiap menit, setiap detik transaksi berjalan! Bayangin, dinamis banget ya pasar ini?

Fluktuasi harganya bener-bener ditentuin sama mekanisme pasar, yaitu jumlah permintaan dan penawaran setiap valas ini menentukan harga jual dan belinya di pasar uang. Belum lagi unsur inflasi yang bikin nilai uang suatu negara bisa naik lebih cepat dibandingin sama nilai uang negara lainnya. Kalo lo investasiin kekayaan lo (dalam Rupiah) ke dalam bentuk valas dari sebuah negara yang tingkat inflasinya lebih rendah dibanding tingkat inflasi di negara kita, kan artinya nilai uang di negara penyusutannya lebih kecil dibandingin mata uang negara kita kan? Jadi lo bisa mempertahankan penyusutan nilai uang akibat tingkat inflasi di negara kita dengan cara nyimpen kekayaan lo dalam bentuk mata uang negara lain.

 

Kapan Sebaiknya Kita Mulai Investasi?

Nah ini pertanyaan yang penting banget nih. Kalo lo nanya gue sih menurut gue seperti menabung aja, kita sebaiknya mulai berinvestasi sedini mungkin. Cuma kan mungkin kalo belum punya penghasilan jadinya agak susah ya. Terlepas dari itu, menurut gue waktu yang paling ideal dalam berinvestasi adalah ketika lo merasa sudah siap berinvestasi. Siap dalam hal apa?

Siap memiliki modal, siap memiliki pengetahuan teknisnya, dan siap mental untuk menerima segala konsekuensi dari keputusan investasi lo.

Beberapa hal yang perlu lo pelajarin dulu sebelum memutuskan mau investasi di instrumen apa.

Tips Memulai Investasi

TIPS #1: Pelajarin instrumen-instrumen investasi. 

Pelajar semua instrumen yang jadi opsi untuk investasi lo sebelum lo memutuskan mau inves dimana. Apa yang gua ulas di artikel ini, pada dasarnya baru kulit luarnya saja. Ada banyak hal teknis yang sebaiknya lo pelajari sebelum terjun ke dunia investasi.

Misalnya lo pengen investasi di emas. Lo coba cek dulu harga emas selama setahun atau 5 tahun atau bahkan 10 tahun terakhir gimana? Kenaikannya tajam atau nggak? Pernah turun atau nggak? Kalo kenaikannya ada yang pesat ada juga yang lambat, lo bisa cari tau penyebabnya apa tuh. Misalnya aja nih ya menurut data harga emas di Indonesia selama 5 tahun terakhir nunjukkin kalo di sekitar pertengahan tahun 2013 sempet ada penurunan cukup tajam ya. Nah perlu lo cari tau dulu tuh, apa yang bikin harga emas itu turun waktu itu. Apakah penyebab itu akan terjadi dalam waktu dekat? Silakan bereksplorasi! 🙂

TIPS #2: Identifikasi kondisi lo saat ini dan keperluan lo di masa mendatang.

Sejauh mana lo memiliki modal untuk diputar dalam investasi. Apakah modal investasi lo ingin diputar dengan mekanisme pencairan yang mudah atau “terkunci” dalam bentuk aset dalam jangka waktu lama?  Apakah lo lebih cocok dengan gaya investasi yang “high risk high return” atau “low risk low return”.

Memilih moda investasi itu cocok-cocokan dengan kondisi keuangan dan gaya investasi lo. Ada orang yang cocok investasi saham, ada yang cocok berinvestasi properti, ada yang cocoknya trading valuta asing. Nah coba lo eksplorasi dan cari yang cocok dengan kondisi keuangan dan rencana masa depan lo.

TIPS #3: Perluas wawasan lo terhadap isu-isu global.

Pemahaman terhadap isu global, dari sentimen politik, hingga kebijakan perdagangan internasional adalah informasi yang sangat penting dalam dunia investasi, khususnya mereka yang bermain di valuta asing.

Seperti gue bilang tadi, berbagai moda investasi sangat tergantung sama kondisi sosial, politik dan ekonomi. Di pasar uang, ada yang namanya sentimen psikologi pasar. Analisis sentimen pasar ini memang susah dipelajari secara teoritis, pengetahuan ini mau tidak mau diperoleh dari mengamati isu ekonomi global selama bertahun-tahun. Nah mumpung para pembaca Zenius Blog kebanyakan masih muda, silakan dimulai dari sekarang.

TIPS #4: “Don’t put all your eggs in one basket.”

Ini juga salah satu analogi investor yang penting banget nih. Coba lo bayangin deh, kalau lo naro semua telor (kekayaan) yang lo punya itu dalam satu keranjang (instrumen investasi), kalo keranjang lo itu jatoh atau hilang, habis lah semua telor (baca: kekayaan) lo kan? Makanya sebagai investor yang bijak, sebaiknya investasi dipecah ke beberapa instrumen.

Misalnya sebagian disimpan dalam bentuk emas, sebagian lagi saham, terus ada juga yang di valas. Intinya sih lo perlu melakukan diversifikasi atau pembagian risiko. Jadi seandainya pun keranjang valas lo hancur, yang ikutan hancur cuma kekayaan yang lo simpan dalam bentuk valas aja. Tapi kan keranjang saham dan emas lo aman.

TIPS #5: Jangan pernah berpikiran mau kaya dalam waktu singkat.

Karena segala bentuk instrumen investasi ini punya risikonya sendiri-sendiri. Banyak pemula di dunia investasi yang nggak sabaran, ingin jadi kaya secepat mungkin, padahal pengalaman juga baru kemarin sore. Akhirnya keputusan-keputusan investasinya seperti tidak ada hari esok, alias banyak dipertaruhkan di sektor-sektor yang berisiko. Tidak jarang banyak investor pemula yang merugi parah bahkan jatuh bangkrut karena nggak sabar dan tidak menghargai proses pembelajaran.

Karena itulah untuk berinvestasi, sangat diperlukan pembelajaran yang nggak habis-habis dan juga proses trial and error. Jadi cobalah mulai belajar tentang investasi dari sekarang, supaya pas lo udah mau nyimpen kekayaan lo ke dalam bentuk instrumen investasi apapun, lo udah punya bekal pengetahuan syang cukup untuk bermain di pasar uang dan pasar modal. Semoga kelak lo menjadi investor yang cermat dan memiliki kebebasan finansial dalam berkarya. Good luck!

****

Referensi:

www.bi.go.id
www.idx.co.id/
www.kemenkeu.go.id
http://goldprice.org/
www.antam.com/
http://brokerforexindonesia.net/category/belajar-saham/
http://www.caraberinvestasi.com/

 

CATATAN EDITOR

Jika ada di antara kamu yang ingin ngobrol atau diskusi dengan Kak Meby seputar topik investasi, khususnya bagi para pemula, jangan ragu untuk bertanya pada kolom komentar di bawah artikel ini yak.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.