Indonesia kok utang melulu, kapan lunasnya?

Indonesia kok utang melulu, kapan lunasnya?

Lo pernah denger atau baca berita tentang utang negara Indonesia? Biasanya kalo ngomongin soal utang negara, banyak orang awam yang langsung berkesimpulan bahwa banyaknya utang negara adalah indikator kemerosotan ekonomi. Kalo lo perhatikan, tiap kali ada berita yang mengulas topik utang negara, belum apa-apa netizen udah berkomentar kira-kira seperti ini:

“Ini negara kok utangnya nggak lunas-lunas ya? Malah nambah utang melulu, malu-maluin banget deh!”

“Katanya Indonesia ini negeri yang kaya raya, tapi kok ngutang?”

"Makin ke sini kok utang Indonesia malah makin banyak, bukannya malah tambah dikit?"

"Apa perlu kita seluruh rakyat Indonesia ngumpulin koin, terus bayarin utang negara?"

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia ekonomi, gua merasa perlu untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Karena apa yang tersirat pada tipikal komentar-komentar netizen seperti di atas, adalah refleksi dari cara pikir pendek dan ketidaktahuan masyarakat awam tentang mekanisme ekonomi makro, khususnya dalam skala ekonomi negara.

Nah, pada kesempatan menulis kali ini, gua ingin mengupas topik utang negara Indonesia secara komprehensif dan cukup mendalam. Moga-moga apa yang gua tulis di sini bisa membuka perspektif baru dan menambah wawasan pembaca seputar dunia ekonomi makro.

Emang berapa sih utang negara kita?

Bicara soal utang, sebetulnya sejak negara kita lahir di tahun 1945, bisa dikatakan negara kita mewarisi utang dari pemerintahan kolonialis. Jadi secara teknis, dari sejak merdeka Indonesia udah punya utang, dan terus berlanjut dari pemerintahan Presiden Sukarno hingga ke pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Secara nominal, pada tahun 1960 utang negara Indonesia berada pada angkat Rp 21,25 triliun, hingga tahun 2016, utang negara kita berada pada angka Rp 3.400 triliun.

Wah, kalo dilihat dari segi nominal saja, utang Indonesia sejak 50 tahun terakhir nampaknya membengkak besar sekali ya...! Eit, tapi tunggu dulu. Dalam perspektif ekonomi, kita tidak bisa menilai baik/buruknya utang negara hanya dari sisi nominal saja, karena ada banyak faktor lain seperti inflasi, perubahan nilai kurs, dan juga rasio utang terhadap PDB. Kok bisa begitu? Sabar, nanti lebih detilnya akan gua jelaskan di bawah.

Secara garis besar kira-kira gambaran utang negara Indonesia dari masa ke masa bisa lo lihat pada infographic yang dibuat oleh Liputan6 di bawah ini:

Apa sih definisi dari utang negara?

Sebelum kita bicara lebih jauh, gua maumastiin dulu bahwa lo ngerti apa yang dimaksud dengan utang negara. Sederhananya sih, yang biasa dibilang utang negara itu mencakup di antaranya utang pemerintah dan utang swasta. Dari utang pemerintah dan utang swasta itu, ada utang yang ke pihak luar negeri, ada juga yang utang ke pihak dalam negeri. Maksudnya utang ke dalam negeri itu gimana? Ya memang bisa jadi pemerintah itu punya utang kepada masyarakat negara itu sendiri, misalnya ke elo atau gua. 🙂

Kalo utang pemerintah ya berarti pemerintah negara kita yang ngutang, kalo utang swasta ya berarti berbagai perusahaan swasta dalam negeri kita yang ngutang. Kalo utang ke pihak luar negeri itu biasanya utang ke negara lain atau organisasi internasional kayak World Bank, IMF, ADB, dan sebagainya. Sementara utang ke pihak dalam negeri ya biasanya pemerintah berhutang pada masyarakat dengan menerbitkan surat utang atau obligasi yang dijual sama pemerintah ke masyarakat umum atau ke perusahaan dalam negeri.

Nah, karena topiknya super luas, pada tulisan kali ini gua ingin fokus membahas utang pemerintah aja, baik yang ke pihak luar ataupun ke dalam negeri. Mungkin nanti lain kali gua akan bahas topik utang perusahaan swasta secara khusus di artikel lain.

Oke, balik lagi ke jumlah nominal utang negara kita tadi yang kesannya membengkak berkali-kali lipat. Kalo lo perhatikan juga, kenaikan utang kita secara nominal naik drastis sekali pada tahun 1997-1998 saat banyak negara Asia mengalami krisis ekonomi moneter yang sangat hebat. Salah satu dampak dari krisis itu untuk negara kita adalah penurunan nilai Rupiah terhadap US Dollar (USD), yang tadinya 1 USD seharga Rp. 2.600, sekarang kan 1 USD seharga Rp. 13.500. Malahan waktu tahun 1997-1998 itu 1 USD sempet loh nyampe ke angka Rp. 17.000. Makanya utang negara kita pada waktu 1998 dan beberapa tahun setelahnya juga keliatannya naiknya gila-gilaan. Bahkan sampai tahun 2016 sekarang ini pun, utang negara kita secara nominal bertambah terus. Wah berarti perekonomian Indonesia makin buruk aja dong? Buktinya, utang Indonesia terus menumpuk!

Jawaban singkat dari gue:

Nggak, perekonomian Indonesia nggak semakin buruk dibandingin sama tahun 1998, bahkan sebenernya malah membaik. Bahkan kalo mau bicara soal utang negara, sebenarnya utang Indonesia tahun 2016 secara riil itu lebih sedikit daripada 1998.

Lho kok gua bisa berkesimpulan begitu? Bukannya utang Indonesia 2016 secara nominal lebih gede dari tahun 1998? Nah, mari kita belajar mengenal apa yang dimaksud dengan rasio utang.

Apa itu Rasio Utang?

Bicara soal utang, masyarakat umum terbiasa melihat konteks utang dari sisi nominal saja. Hari ini kita hutang ke warung Rp 20.000, besok kita nambah utang lagi jadi Rp 30.000. Berarti utang kita terus bertumpuk dan makin banyak. Nah, dalam konteks ekonomi makro, khususnya dalam skala kenegaraan, kita tidak bisa melihat utang dari sisi nominal saja seperti utang ke warung.

Mungkin akan lebih mudah dipahami, jika gua menerangkan dengan perumpamaan Indonesia sebagai 2 sosok individu yang berutang ya, katakanlah ada 2 orang bernama Agus dan Budi. Si Agus punya pendapatan Rp 1 juta per bulan, dan ternyata dia punya utang sebesar Rp 12 juta yang harus dilunasi dalam 1 tahun. Artinya, jika dia mencicil utang 1 juta per bulan, dalam 1 tahun dia bisa melunasi utangnya tepat waktu kan? Sederhananya total pendapatan dia = total utang, atau utang Agus adalah 100% dari pendapatannya kan?

Sekarang di sisi lain, si Budi punya pendapatan Rp 5 juta per bulan, dimana dia memiliki utang sebesar Rp 20 juta yang harus dia lunasi selama 1 tahun. Secara nominal, utang Budi lebih besar ya daripada utang si Agus. Tapi jika dilihat dari perspektif "sejauh mana kemampuan Budi untuk mempertanggungjawabkan utangnya", kita bisa mengukur dari rasio jumlah utang yang harus dia bayar selama 1 tahun, dibandingkan dengan total pendapatan dia 1 tahun. Hasilnya, total pendapatan dia Rp 5 juta x 12 bulan = Rp 60 juta ; dibagi dengan total hutang Rp 20 juta, jadi rasio utangnya Budi adalah 33,3% dari pendapatan Budi.

Itulah yang disebut dengan rasio utang. Semakin kecil rasio utang, berarti semakin besar daya atau kapasitas dari subjek yang berutang, untuk bisa mempertanggungjawabkan atau melunasi utangnya. Nah, rasio utang inilah yang lebih akurat untuk mengukur utang pada skala kenegaraan. Lalu total pendapatan negara Indonesia ini ukurannya apa? Biasanya yang paling umum dipakai adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Oke, terus gimana dong rasio utang negara Indonesia, jika dibandingkan dengan pendapatannya (PDB)? Nah, kita bisa lihat persentasenya dari gambar sebelumnya. Nih gua tampilkan sekali lagi ya:

Angka dalam persen di gambar di atas ini nunjukkin rasio utang negara kita (pemerintah dan swasta) terhadap PDB kita pada tahun yang bersangkutan. Jadi kalo dibilang rasio utang pada zaman Presiden Soeharto 57,7% itu berarti utang negara kita sebesar 57,7% dari PDB kita di tahun 1998, dan nominalnya sebesar Rp. 551,4 triliun. Malahan di tahun 1999 utang negara kita sebesar 85,4% dari PDB kita di tahun itu dan nominalnya sebesar Rp. 958,8 triliun.

Dari sini kita bisa berkesimpulan, walaupun nominalnya utang negara kita tahun 2016 jauh lebih besar daripada utang kita pada tahun 1998, tapi rasio terhadap PDBnya jauh lebih kecil, yaitu 27,5%. Artinya utang negara kita itu "cuma" sebesar 27,5% dari total pendapatan negara di tahun tersebut. Lho kok bisa? Ya bisa dong, karena PDB kita di tahun 2016 jauh lebih besar dibandingkan PDB kita tahun 1998. Jadi sebenernya secara riil utang negara kita mengecil ya.

Kenapa sih utangnya nggak kita lunasin aja, malah nambah utang melulu?

Mungkin di antara lo ada yang bingung, utang negara kan "cuma" 27,5% dari pendapatan negara, kenapa ga dilunasin aja? Kok malah nambah utang lagi jadi terus bertumpuk? Nah, lagi-lagi kita perlu melepas pola pikir utang-piutang ini dari perspektif pendek seperti utang ke warung.

Bicara soal utang negara, kita harus melihat dari kepentingan dan perspektif negara, secara sederhana negara kita punya 2 pertimbangan terkait pengalokasikan uang untuk melunasi utang:

  • Kesanggupan negara untuk mempertanggungjawabkan utang di masa depan.
  • Pembangunan negara pada berbagai macam sektor.

Dari 2 pertimbangan itu, negara punya 2 skenario:

  1. Melunasi utang, tapi pembangunan negara pada berbagai sektor melambat
  2. Menambah utang sejauh itu bisa dipertanggungjawabkan, untuk kemudian dipakai untuk mempercepat pembangunan negara.

Singkatnya sih, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir memilih opsi nomor 2, yaitu menambah utang (dengan pertimbangan bahwa secara rasio utang tersebut bisa dipertanggungjawabkan), untuk kemudian utang tersebut digunakan untuk mempercepat pembangunan negara.

Mungkin ada di antara lo yang mikirnya : Ngapain sih kita sampe ngutang-ngutang segala sama negara lain buat bikin MRT? Kalo belum cukup uangnya ya nabung dulu aja kali. Kalo kita mau ganti smartphone baru, kalo duitnya belum ada ya kan kita nabung dulu ya. Nah, di sini lah perbedaan manajemen keuangan negara sama manajemen keuangan pribadi. Dalam perspektif kenegaraan, ngutang untuk percepatan ekonomi itu hal yang normal banget. 

Untuk perspektif individu, menunda membeli smartphone baru mungkin adalah hal yang sepele, tapi bagi perspektif kenegaraan? MENUNDA pembangunan MRT, bandara, jalan tol, pelabuhan, pembangkit listrik, jaringan internet... sama artinya dengan menunda kesejahteraan bagi masyarakat luas. Karena pembangunan sektor-sektor pembangunan negara, tidak sesederhana menunda membeli smartphone, tapi merupakan hal yang sangat krusial untuk memperkokoh berbagai sendi ekonomi negara dalam jangka panjang.

Di sisi lain, lo juga harus melihat bahwa percepatan pembangunan akan membuat penghasilan negara bertambah dan meningkatkan kemampuan negara untuk membayar utang yang jatuh tempo di masa depan. Contoh sederhananya, kita berutang pada Jepang untuk pembangunan proyek MRT di Jakarta. Jika proyek tersebut lancar dan mampu mempercepat perputaran ekonomi di Jakarta, di sisi lain ongkos MRT tersebut juga akan menjadi salah satu sumber pendapatan baru untuk negara. Jadi sebetulnya, jika pengalokasian utang tersebut tepat sasaran pada sektor-sektor yang produktif, sebetulnya pembangunan tersebut bisa sekaligus menjadi sumber pendapatan baru untuk melunasi utang.

Emangnya Negara-negara lain juga berutang seperti Indonesia?

Mungkin masih ada yang penasaran dengan statement gua di atas, bahwa: dalam skala kenegaraan, ngutang itu adalah hal yang wajar dan normal banget.

Terus emangnya negara lain juga berutang? Iya, hampir semua negara di dunia ini punya utang kok! Bahkan negara-negara maju yang perekonomiannya paling kuat sekalipun punya utang. Katakanlah negara dengan perekonomian nomor 1 di dunia, yaitu Amerika Serikat, mereka punya utang. Negara kedua yang ekonominya maju itu Tiongkok, juga punya utang loh. Begitu juga negara-negara maju yang perekonomian negaranya sangat kuat seperti Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Singapura, Australia, dll juga punya utang loh. Bahkan bisa dikatakan rasio utang negara-negara tersebut lebih besar daripada rasio utang Indonesia terhadap PDB-nya. Berikut beberapa data yang bisa gua tampilkan:

Nah, lo bisa lihat ya perbandingan utang-utang negara di dunia, bisa dibilang rasio utang Indonesia masih sangat kecil dibandingkan negara-negara maju tersebut. Misalnya aja utang negara AS, yang terkenal sebagai perekonomian nomor satu di dunia ini, mereka tuh utangnya lebih dari 100% dari PDBnya di tahun 2016 lalu. Gila kan? Tapi kok ngga bangkrut sih? Inilah refleksi dari kekuatan ekonomi negara AS, karena perekonomian negaranya begitu kokoh dan proyeksi perkembangan ekonominya di masa depan juga bagus, jadi para pemberi utang juga jadinya percaya aja bahwa AS mampu untuk mempertanggungjawabkan utangnya pada saat jatuh tempo.

Kalo semua negara ngutang, terus yang ngasih utang siapa?

Jadi negara-negara ini pada ngutang ke siapa sih sebenernya? Nah mungkin gambar di bawah ini bisa bantu lo memahami masalah utang negara ini nih. Kita ambil contoh kasus Amerika Serikat ya, tadi kan kita udah lihat tuh utang AS lumayan gede. Nah sekarang kita lihat siapa saja sih pemberi utang negara AS:

Nah keliatan kan ya ada beberapa pihak yang punya piutang ke AS, misalnya aja China, Jepang, Belgia dan beberapa negara lainnya; terus ada berbagai lembaga investasi seperti Civil Service Retirement Fund (Dana Pensiun Pegawai Negeri Sipil), terus ada juga individual dan institusi AS.

Ini mungkin membingungkan awalnya. Tapi gini, untuk sebuah negara, ngutang bukanlah sebuah hal yang tabu, aneh, atau hal yang memalukan. Konteks ngutang dalam skala negara gini, meliputi juga piutang negara tersebut kepada negara lain. Dimana semua dinamika utang-piutang antar negara dan lembaga keuangan ini, diperhitungkan dengan cukup detil sampai pada masa jatuh temponya.

Negara mana sih yang paling banyak ngutangin Indonesia?

Utang Indonesia saat ini mayoritas dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) yang mana per Februari 2017 berada di angka 2,848.80T atau 79.4% dari total seluruh utang. Sisanya berupa pinjaman berada di angka 740.32T atau 20.6% dari total seluruh utang. Pinjaman luar negeri Indonesia terdiri dari pinjaman bilateral (pinjaman ke sebuah negara), pinjaman multilateral (misalnya pinjaman ke IMF, ADB) dan pinjaman bank komersial dan supplier.

Posisi utang pemerintah pusat Berdasarkan Kreditur dalam triliyun. Sumber: Profil Utang dan Penjaminan Pemerintah Pusat Bulan Maret 2017, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kemenkeu

Bisa lo lihat di data di atas, Jepang mendominasi utang bilateral Indonesia dengan nominal 201.80T atau 5.6% dari keseluruhan utang Indonesia. Negara-negara lain persentasenya berada di bawah 1%. Sedangkan utang multilateral didominasi dari Bank Dunia (World Bank) dan Asian Development Bank (ADB).

Mekanisme negara kalo mau nambah utang itu gimana sih?

Mungkin masih ada yang mikir kalo mekanisme negara nambah utang itu = negara begitu aja dikasih atau ditransfer duit oleh negara/institusi keuangan. Nggak begitu caranya. Jadi gini, kalau katakanlah negara AS mau nambah utangnya, mereka nggak begitu saja mintain duit ke negara lain. Pemerintah AS dan Bank Sentral AS atau biasa disebut Federal Reserve (The Fed), menerbitkan surat utang atau biasa disebut surat berharga (US Treasury Bill), contohnya obligasi. Nah, surat utang ini, dijual ke pihak lain, bisa ke individu, lembaga keuangan, atau bahkan negara lain. Setiap surat utang ini, ada semacam masa aktif dan juga bunga per tahunnya.

Jadi kalo misalnya gue beli surat utang negara AS, selain gua mendapatkan hak untuk menagih kembali piutang gue saat jatuh tempo, gua juga akan mendapatkan bunga per tahun. Selain itu, gua juga bahkan bisa memperjual-belikan surat utang ini kepada pihak lain sebelum jatuh tempo pelunasannya. Jadi sebenernya, penjualan surat utang oleh negara ini juga seringkali dilihat sebagai instrument investasi bagi masyarakat umum, perusahaan, bahkan bagi negara lain.

Jadi dalam perspektif tertentu, negara nambah utang itu ibarat dia mencetak uang baru aja. Cuma bentuknya bukan mencetak uang Rupiah secara fisik, tapi mencetak surat utang, yang dijual kepada pihak lain, lengkap dengan masa berlaku dan juga bunga per tahun. Kebayang ya maksudnya gimana. 🙂

Jadi sebenernya ngutang tuh hal yang positif apa negatif sih?

Jawaban gue: Tergantung, khususnya pada 2 hal berikut:

  1. Utangnya bisa dipertanggungjawabkan atau nggak. (baca: bisa dilunasi ketika jatuh tempo)
  2. Utangnya dipakai untuk hal yang bersifat produktif atau nggak.

Selama 2 hal itu terpenuhi, gua pribadi berpendapat bahwa utang dalam skala negara itu wajar-wajar saja, malah bagus kalo bisa mempercepat pengembangan ekonomi di masa depan. Hal yang jadi masalah adalah ketika negara kita ngutang, tapi terus nggak jelas penggunaannya untuk apa. Bisa jadi alokasinya pada sektor yang nggak produktif, atau malah dikorupsi oknum-oknum tertentu. Nah, kalo begitu, baru deh kita sebagai masyarakat berhak untuk protes tentang kebijakan utang negara.

Tapi kalo kita sebagai masyarakat protes karena kesannya negara nambah utang dan nominalnya terus bertambah, rasanya kurang tepat juga ya. Karena kita cuma asal protes tanpa memahami konsep rasio utang negara, dan juga penggunaan anggaran negara untuk perkembangan ekonomi makro.

Sampai kapan Indonesia harus terus berutang?

Nah, kalo pertanyaan ini terus terang gua ga bisa jawab secara pasti. Tapi kalo dari opini gua pribadi, jawabannya : ya sejauh mana utang itu diperlukan. Sekali lagi, jangan terjebak dengan perspektif seperti utang ke warung:

"Wah Indonesia utangnya banyak! Payah nih, berarti negara harus berusaha gimana caranya untuk bisa melunasi utang dan jadi negara bebas dari utang. Kan malu-maluin kalo Indonesia berutang terus."

Jangan mikirnya kayak begitu ya. Sekali lagi, dalam skala negara, utang adalah hal yang sangat wajar dan normal. Kita jangan terpaku pada objektif bahwa Indonesia harus segera melunasi utang. Hal yang justru harus dipikirkan adalah: pengelolaan dana kas negara (APBN & APBD) yang baik. Bagaimana caranya agar utang tersebut teralokasikan tepat sasaran pada sektor-sektor produktif, sehingga pembangunan negara berjalan dengan baik, negara punya sumber pendapatan baru, dan bisa melunasi utang pada saat jatuh tempo.

Bagi negara, utang itu menguntungkan (jika dilalokasikan dengan tepat), bagi pemberi utang juga menguntungkan (sebagai media investasi). Bagi kedua pihak jadi win-win solution kan? Jadi sampai kapan negara akan terus berutang? Ya sejauh mana hal itu diperlukan. 🙂

****

Nah, demikianlah sedikit pembahasan gua seputar topik utang negara Indonesia. Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini, bisa menambah wawasan lo dan juga membuka perspektif pemikiran baru, khususnya di bidang ekonomi kenegaraan. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Sumber:

https://www.asienhaus.de/public/archiv/WB-and_Indonesia_Walhi_paper.pdf
http://www.economicshelp.org/blog/5481/economics/why-does-the-government-borrow/
http://www.financeinanswers.com/how-do-countries-borrow-money/
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_external_debt
http://deden-arpega.blogspot.co.id/2013/10/hutang-negara-indonesia-dari-era.html
http://www.bi.go.id/en/iru/economic-data/external-debt/Default.aspx
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/external-debt
http://www.thepositiveeconomist.com/why-do-governments-borrow-cant-they-balance-their-budget-like-everyone-else/

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau nanya-nanya sama Kak Meby tentang topik ekonomi makro secara umum atau ekonomi kenegaraan, langsung aja tinggal comment di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Meby Damayanti adalah tutor ekonomi di zenius.net. Sebelum bergabung di Zenius Education, Meby bekerja di berbagai kegiatan kerjasama antar pemerintah dalam bidang ekonomi dan kebijakan publik. Meby menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti jurusan Ilmu Ekonomi, dan kemudian melanjutkan ke School of Economics, the University of Adelaide di Australia dengan jurusan Applied Economics.

Follow Twitter Meby at @KuningCerah

  • Ivan Alim

    Gila, tulisannya mantap banget. Benar-benar merubah perspektif gue tentang utang dalam skala makroekonomi seperti utang negara. Keren.

    • Meby Damayanti

      makasih ivan 🙂

  • Ahmad Yusni Fauzi

    Apakah negara saudi arabia megadakan utang jga?
    Jd slama ini indonesia hanya akan berutang dan mmbayar bungà utang trsebut tnpa ada solusi untuk mlunasiny? Ato gmana nih. Jlasin dong kak?

    • ramadhan

      Coba bantu jawab setahu gue.
      Untuk pertanyaan no 1, elo bisa googling sendiri untuk tahu pastinya.
      Untuk pertanyaan no 2, jawabannya enggak selamanya seperti itu, jadi negara itu ngutang duit, itu duit nantinya buat di puterin dulu, buat "investasi" berupa pembangunan, biar nanti ekonominya gerak cepet, ntar kan kalo ekonominya cepet, otomatis negara untung, rasio utangnya lebih rendah dari sebelumnya.
      Duh, mending elo baca lagi deh artikel di atas, agak rancu penjelasan gue 🙂

      • Meby Damayanti

        nah bener banget nih.. jadi sebenernya negara-negara ngutang tuh bukan tanpa solusi kok, termasuk negara kita juga. atau mungkin lebih tepatnya strategi kali ya, bukan solusi. karena tujuan negara2 itu bukan lunasin utang kok, tapi mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi

  • Tohidin ciao

    Tulisannya ringan, tapi ngena banget. Belakangan ini banyak yang bikin tulisan "sok pinter" dengan bahasa dan teori yang tinggi susah difahami, cuma ingin menunjukan bahwa dia pinter, bodo amat dengan pembaca mau faham atau enggak. Yang ada masyarakat awam gak faham2. Toh yang namanya tulisan kan harusnya bikin orang faham

    Tapi berbeda dengan tulisan ini sederhana, mudah difahami tanpa mengesampingkan isinya. Meskipun tidak terlalu formal, tapi isinya ngena banget.

    Lanjutkan 👍👍

    Lanjutkan!

    • Meby Damayanti

      siyaaappp 🙂

  • Willa Waliyadin

    baru ngerti gw...

    • Meby Damayanti

      apanya tuh? hehehe..

  • ramadhan

    Dan saya rasa akhir-akhir ini, negara mulai menggerakan UMKM untuk melakukan "taktik ekonomi" ala-ala negara. Tujuannya agar menggerakan perekonomian secara mikro (pemilik UMKM) dan makro.
    Atau memang kenyataannya peran terkecil dalam perekonomian kita memang menerapkan "taktik ekonomi" ini? Jadi bukan hanya bersklala negara saja?

    • Meby Damayanti

      iya sebenernya dari dulu banyak kok berbagai strategi pemerintah yang mendorong UMKM, sekarang juga masih banyak. Karena menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, struktur perekonomian kita emang lebih dari 98%nya adalah UMKM. Dan berbagai penelitian juga nunjukkin kalo pas krisis 97-98 itu, UMKM lah yang lebih bertahan dibanding perusahaan yang gede-gede yang akhirnya pada bangkrut. Jadi strategi pemerintah utk mendorong perekonomian emang skalanya macem-macem, dari yang gede sampe yang kecil.

  • ramadhan

    Terus, dengan konsep utang seperti ini, yang PALING diuntungkan siapa zen?
    Masih belom ngeh juga, kenapa negara kok utang ke bank sentral... (contoh AS ke the fed)

    • Meby Damayanti

      Yang paling diuntungkan? Tergantung penggunaannya sih.. Kalo dimanfaatin utk pembangunan, yang paling diuntungkan adalah masyarakat negara itu. Tapi kalo dikorupsi sih ya pastinya si para koruptor itulah

  • faishal idduddin

    Nice post !

    • Meby Damayanti

      Thank you, Faisal 😉

  • Muhammad Reza

    Keren banget gileeeeee zenius banget nih

    • Meby Damayanti

      Makasih Reza 😉

  • Arekcsueng Hutahaean

    Gila, Kak. Tulisannya kok bikin bangga gimana gitu ya, keren banget

    • Meby Damayanti

      Huehehehe.. Jadi bangga ya?

  • Ari Candra Arista

    Tambahan aja, buat yang pengen memantau utang pemerintah pusat, kemenkeu setiap bulan ngeluarin buku saku profil utang pemerintah pusat, disitu bakal dijabarin statistik utang pemerintah secara detail termasuk perbandingannya dengan negara lain. Bisa lo download di sini >> http://www.djppr.kemenkeu.go.id/page/load/23

    • Meby Damayanti

      Thanks Ari Candra 🙂

  • ClairyFairy

    keren banget.
    ah tapi yang males baca juga gak bakal dibaca ini wkwk

    • Meby Damayanti

      Hehehe.. Iya bener banget!

  • Haidar Zein

    Terus kalo Indonesia ga bisa bayar utang2nya (ekonomi Indonesia semakin buruk, pembangunan ga berjalan mulus karena banyak yg korupsi dll) sehingga negara2 yg "meminjamkan" utang udh ga percaya lg sama Indonesia apa yg akan terjadi? Apakah dengan cara mengembalikan kepercayaan mereka? How? Atau malah terpaksa menjual aset negara?

    • Meby Damayanti

      Nah itulah yang terjadi waktu krisis ekonomi dan moneter yang melanda beberapa negara di Asia taun 1997-1998, salah satunya Indonesia. Waktu itu akhirnya negara kita kan melakukan reformasi dari berbagai sisi, terutama struktur ekonomi dan pemerintahannya. Ada beberapa aset negara yang terpaksa dijual dalam bentuk privatisasi, alias dijual ke pihak swasta. Dan banyak lagi yang dilakukan pemerintah negara kita dlm upayanya keluar dr krisis itu. Nanti ya kalo ada kesempatan, gue ngedongeng tentang krisis itu 😉

      • SAF

        btw ditunggu lagi dongeng ekonomi nya kak,
        pengetahuan tentang ekonomi negara ini penting untuk gua (khususnya) di masa depan nti

  • Areum Maudy W

    Ada nggak negara lain yang ngutang ke indonesia?

    • Meby Damayanti

      Setau gua sih nih yaa sampe saat ini negara kita belum jadi pemberi piutang ke negara lain.. Tapi para negara pemberi utang pun juga punya utang lho.. Bingung nggak? Hehhee.. Itu hal yang lumrah kok di dunia ekonomi. Karena utang piutang negara itu sebenernya nggak cuma ada unsur ekonomi aja, tapi juga ada unsur politisnya. Di samping itu, mungkin juga pertimbangan negara pemberi piutang yang juga punya utang itu adalah karena mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari piutangnya (misalnya dgn bunga yang lebih tinggi) divandingin sama utangnya. Jadi selama menguntungjan ya kenapa nggak? Toh juga dipake buat kesejahteraan rakyatnya kok dalam bentuk pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negaranya yang bisa jadi lebih pesat. Make sense kan?

      • Eksa Oktavian

        oh gitu, gue kira negara(contoh jepang) itu blagu, dah rasio utangnya paling gede eh sok sokan ngutangin lagi.. haha

  • hirawb

    Yang gue tangkep dari tulisan ini tuh jadi intinya negara itu melihat selama utang itu masih dalam hitungan yang dapat dipertanggungjawabkan, ya aman aman aja gitu ya? seperti ga punya utang aja gitu ya?

    • Meby Damayanti

      Ngga kaya ngga punya utang juga siih.. Karena kan harus diperhitungkan bayar cicilannya n kapan jatuh temponya, dan yang pasti penggunaan/pengelolaan utangnya itulah yang penting 🙂

      • hirawb

        Jadi selama duit utang itu terpakai sesuai rencana, misalnya pembangunannya tepat, tidak dikorupsi, dll. utang itu pasti bisa kebayar saat jatuh tempo dan negara juga dapet profit?

        • Meby Damayanti

          Mungkin banget itu.. Yang kemudian profitnya bisa dipake buat peningkatan kesejahteraan masyarakat negaranya lagi

  • Arie Dwi Sulthoni

    Baca baca baca, eh gak taunya udah habis.. Seru nih kak, jadi paham konsep utang negara..

    • Meby Damayanti

      Hehehe.. semoga bermanfaat yaa

  • Erald David

    Keren banget tulisannya. Makasih kak Meby. Jadi lebih ngeh dan punya "peluru" cadangan kalau ada yang koar-koar pemerintah sekarang gagal gara-gara utang tambah numpuk. Hehehe

    But, one question kak, apa bener SEMUA negara punya utang? Di Quora kalau gak salah pernah ada yang nanya gitu ._. Thanks

    • Meby Damayanti

      Hueheheh.. iya menurut gua sih pemerintah dianggep gagal atau sukses nggak bisa diukur dari utang negara doang.. kan tergantung pengelolaan utangnya n pembangunan ekonominya yang lebih penting ya?

      Kalo soal semua negara punya utang, enggak kok. ada beberapa negara yang nggak ada utang negara sama sekali. Kalo iseng, coba aja cek di webnya World Bank.

  • Imad

    surat utang = obligasi?

    • Meby Damayanti

      iya betul

  • Iodine Hanifan Firdaus

    Kenapa sih kita gak produksi uang secara besar-besaran ? Terus di bagi-bagi ke seluruh orang sehingga memiliki kesetaraan ekonomi ?

    • Ilma Aliya

      Bantu jawab nih setauku.

      Singkatnya, produksi uang besar-besaran itu bisa menyebabkan inflasi.
      Kalau uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, daya beli masyarakat jadi meningkat, otomatis supply barang jadi sedikit dan harga-harga kebutuhan naik. Terjadi inflasi deh. Di sini uang udah berkurang nilainya karena jumlahnya terlalu banyak (kasarnya uang itu jadi barang murahan), dan nilai mata uang pun jadi turun.

      Jadi, produksi uang besar-besaran ini bukan solusi yang cukup bagus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun mengurangi utang negara.

      • Iodine Hanifan Firdaus

        Berarti sistem ekonomi sekarang mengharuskan adanya strata sosial dong ? . Kenapa ga kita ciptain aja sebuah sistem yang mengurangi perbedaan strata yang sangat mencolok tersebut ? Karena secara ga sadar kita mendefinisikan suatu nilai yang tinggi pada suatu kertas (red : duit ) ,nah lembaga yang buat duit ini kan yang kontrol ? Kenapa harus ada perbedaan ini loh ? Kenapa ga semua orang dengan bebas memiliki apa pun yang mereka mau ? Soal energi yang dihabiskan aja yang dibatasi , jadi yang dihitung berapa besar energi yang boleh dihabiskan sama satu orang perhari atau perbulannya . Bagaimana ya jika sistem tersebut benar-benar dijalankan ? Bagaimana sih resikonya ?

        • Meby Damayanti

          Makasih ya Ilma Aliya. Bener banget, nyetak uang banyak-banyak bakal menyebabkan inflasi tinggi, sehingga akhirnya nilao uang akan turun dan harga barang-barang akan naik.

          Kalo soal nyiptain sistem ekonomi tanpa uang, ini kan yang sebenernya terjadi jaman dulu, sebelum masyarakat kenal uang, kita pake sistem barter. Karena manusia ngga akan mamapu memproduksi/menciptakan barang dan jasa untuk menuhin kebutuhannya. Jadi sebenernya penggunaan sistem uang ini sangat membantu jalannya kehidupan perekonomian manusia.

          Mungkin artikel Glenn bisa ngasih sedikit pencerahan ttg konsep uang https://www.zenius.net/blog/9210/sejarah-latar-belakang-konsep-uang-barter

          • Gita Nurul Faradina

            nyetak uang banyak-banyak (nggak disebarin ke rakyat, ya walaupun akhirnya akan kmbali ke rakyat), cuma buat lunasin utang aja. Emng gak bisa? juga kan buat bikin infrastruktur2 negara juga bisa pake uang itu.., jadi uangnya nggak usah dikasihin ke rakyat, cuma buat beli buat keperluan pembangunan tersebut.. nggak bisa ya? jujur saya belum paham.

        • Arya Pratama Putra

          Mungkin sistem ekonomi yang tidak memiliki strata sosial dan setiap orang bebas melakukan apa yang diinginkan seperti yang kamu maksud itu adalah definisi dari sistem KOMUNISME.

          "Komunisme bisa dikatakan sebagai bentuk kondisi masyarakat yang tidak lagi membutuhkan figur pemimpin, tidak membutuhkan negara sebagai lembaga kewenangan vertikal. Dalam impian komunisme ala Marx, akan tercipta masyarakat yang setara, tidak ada lagi kelas sosial, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, tidak ada sektor swasta, tidak ada negara, tidak ada konsep uang, tidak ada pasar, tidak ada perdagangan. Semua orang akan mengerjakan apa yang mereka inginkan, serta saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.".

          Kamu tau sendiri kan kalo negara kita sekarang ini adalah negara yang anti-komunisme 😀

          Di blog Zenius sendiri pernah dijelaskan oleh Glenn tentang sistem2 politik dan ekonomi yang ada di dunia,
          https://www.zenius.net/blog/13453/apa-itu-demokrasi-liberal-kapitalis-komunis-sosialis-fasis-anarkis-konservatif

          • Iodine Hanifan Firdaus

            Ooo jadi gitu... Baru tau , dan keren juga sih sistemnya. Tapi kenapa ya kok melekat bgt komunisme sama hal negatif ? Apa cuma gara" pki dengan G30Spki nya atau ada hal lain yang menyebabkan pandangan negatif itu ?

          • Ada byk faktor yang menyebabkan stigma negatif terhadap padangan politik komunis. Khusus di Indonesia, pemicu utamanya adalah peristiwa G30S, kamu juga bisa baca catatan sejarahnya di sini >> https://www.zenius.net/blog/5405/catatan-sejarah-g30s-pki

            untuk di negara lain, ada juga beberapa alasan lain. Beberapa di antaranya adalah kekejaman rezim Stalin di Uni Soviet & Mao Zedong di Tiongkok pada saat menjalankan sistem komunis di negaranya.

        • Halo Iodine sistem ekonomi apapun yg masih memakai konsep uang pasti akan menimbulkan strata sosial. Namun sebetulnya jangan melihat ketimpangan sosial seperti yg di Indonesia. Sebetulnya di negara2 yg ekonominya maju dan pemerintahannya fokus mensejahterakan rakyat, perbedaan strata sosial tsb bisa menjadi sangat kecil. Contohnya di Singapura, Norwegia, Swedia, dan negara2 Eropa utara. Akan sangat sulit sekali kamu menemukan apa yang biasa kita kategorikan "orang miskin" di negara-negara tersebut.

          Katakanlah orang paling "miskin" di negara-negara tersebut, minimal mereka memiliki tempat tinggal, air bersih, listrik, makanan yang cukup, dan sarana transportasi yang memadai.

          Utk sistem yang menghapus sistem strata sosial, adalah sosialisme dan komunisme. Kamu bisa baca di sini >> https://www.zenius.net/blog/13453/apa-itu-demokrasi-liberal-kapitalis-komunis-sosialis-fasis-anarkis-konservatif

          • Iodine Hanifan Firdaus

            Kalo gitu sistem ekonomi di Indonesia gagal dong ? Kalo emang gagal apa sih faktor utamanya ?

          • gagal atau tidaknya ekonomi sebuah negara, bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. kalo selama 20 tahun terakhir sih, ekonomi Indonesia bisa gua bilang bertumbuh dengan sangat positif. Masih jauh dari kata "negara yg ekonominya gagal".

            Negara-negara yang bisa dikatakan "gagal" (failed states) itu Somalia, Sudan, Yemen, Suriah, Congo. dll.

            pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa kamu baca di sini http://www.rba.gov.au/publications/bulletin/2011/dec/4.html

          • Iodine Hanifan Firdaus

            Oooooo... Berarti keren dong sistemnya pemerintah, kalo gitu gimana sih pengaruhnya ke rakyat ? Perasaan sama aja deh beli apa-apa tetep mahal ? Kemarin ada orang kantor *aku lagi pkl ni bang* ke italy lah perbandingan rasio harga hp Samsul kalo disana sama sini bahkan sampe 1:2 an lah. apa rasio ini tetap konstan atau berubah seiring dengan tumbuhnya sistem ekonomi negara kita ?

            *)
            Sebelumnyamaaf ni bang banyak nanya soalnya di SMK ga ada pelajaran sejarah atau ekonomi gitu , hehe

      • Meby Damayanti

        Hmmmmm... apa ya perbedaannya? Mungkin salah satunya adalah akses ke air bersih atau listrik di berbagai daerah sekarang ini lebih baik, seperti yang Glenn bilang. Kalo di Jakarta, salah satu contoh kalo pembangunan membuat hal-hal jadi lebih baik mungkin alat transportasi umum. Kaya commuter line atau transjakarta yang biayanya relatif murah, alat transportasinya pun kondisinya lebih bagus dibanding dulu. Iya ngga?

        Kalo masalah perbedaan harga di Indonesia sama di luar negeri, biasanya sih efek pajak/bea masuk. Karena produk-produk itu kan bukan buatan dalam negeri, jadi kena pajak deh. Tujuannya apa sih dikenain pajak? Salah satunya sih proteksi produk dalam negeri, supaya harga produk luar negeri jadi lebih mahal dibandingin produk dalam negeri, jadi masyarakat lebih memilih utk beli dalam negeri. Gitu cerita singkatnya 🙂

  • Urip Widodo

    Terimakasih atas sharing pengatahuannya 👍

    • Meby Damayanti

      Sama-sama Urip Widodo 🙂

  • Gita Nurul Faradina

    Kalo negara hutang, kenapa nggak bikin uang yang banyak(setara dengan jumlah uang) aja terus dipake buat bayar hutang..

    juga kenapa harus ngutang, bikin uang yang banyak buat bikin infrastruktur sendiri

    • Meby Damayanti

      Nah ini sama nih kaya pertanyaan dari Iodine Hanifan Firdaus di atas. Coba dicek yaa 🙂

  • Eksa Oktavian

    jadi utang negara itu selayaknya saham negara ya kak meby?

    • Menurut saya kalo analoginya seperti saham itu kurang tepat. Kepemilikan saham itu bisa diartikan memiliki sebagian hak dari total asset emiten. Sementara ketika negara berutang, negara TIDAK berarti "menjual" saham negaranya kepada pihak lain.

      Misalnya jika utang Indonesia terhadap Jepang adalah 5% dari PDB, itu BUKAN berarti Jepang memiliki hak 5% atas Indonesia. Konsep Utang itu berbeda dengan konsep Saham.

    • Meby Damayanti

      iya.. perbedaannya sama seperti perbedaan pengertian antara saham perusahaan dan obligasi perusahaan. Seperti kata Glenn, kalo saham perusahaan itu pengertiannya adalah surat kepemilikan perusahaan tersebut. Jadi profit perusahaan akan dibagi ke lo sesuai persentase kepemilikan saham lo, yang dikenal juga dengan istilah dividen. Misalnya lo punya saham 5%, nanti lo dapet pembagian dividen sebesar 5% dari keuntungan perusahaan itu. Yang artinya lo memiliki sebagian dari perusahaan itu. Kalo surat utang/obligasi perusahaan, artinya perusahaan tersebut punya utang sama lo. Kalo lo punya obligasi perusahaan, si perusahaan harus bayar utangnya itu ke lo senilai obligasinya plus bunganya pas jatoh tempo.

      Nah obligasi pemerintah konsepnya kaya obligasi perusahaan gitu.

  • Dwiki Maulana

    apakah negara bisa bangkrut, dan jika utang sudah jatuh tempo tpi ga bisa bayar gimna?

    • Secara teknis sih bisa. Belakangan negara-negara yang hampir bangkrut karena terlilit utang adalah Yunani & Puerto Rico. Mungkin ada beberapa contoh lain lagi, nanti Kak Meby menambahkan.

    • Meby Damayanti

      Iya betul yang kata Glenn tuh. Itu juga yang terjadi sama negara kita waktu taun 1997-1998 lalu. Utang pada jatuh tempo, tapi kita nggak bisa bayar. Terus gimana? Ya waktu itu sih kita minta bantuan sama beberapa lembaga, seperti IMF. Akhirnya kita dikasih pinjaman lunak (soft loan), yaitu pinjaman yang bunganya ringan, tapi kita harus melakukan reformasi besar-besaran dari berbagai sisi supaya bisa bayar utang-utang kita itu. Biasanya sih ini berhasil. Dan hal seperti ini juga ya g sedang terjadi di Yunani, yang lagi mengalami krisis dan negaranya bisa dikatakan bangkrut.

  • Nur Muhammad ‘Ainul Yaqin

    Suka sama gaya tulisannya. Kapan ya bisa nulis artikel sebagus ini

    • Meby Damayanti

      Thank yoouuu... Bisa kok pasti!! Ayo dicoba 🙂

  • Putri Mawang

    Nah! Artikel ini bener-bener menjawab bagi orang-orang yang udah pesimis sama pemerintahan kita saat ini. Bukan bermaksud masuk ke "hal yang lain" ya, cuma masalah utang kita yang makin membengkak itu juga bukan bermaksud untuk dihamburin terus dinikmati sama oknum tertentu. ngutang tuh buat kesejahteraan umum kok. mungkin efeknya ga bakalan berasa sekarang. tapi nanti 🙂 sekali lagi, terima kasih artikelnya, kak!

    • Meby Damayanti

      Hehehe.. Makasih Putri. Senang kalo tulisan singkat ini bermanfaat 🙂

  • Putri Mawang

    btw zen, boleh nanya ya? kan dari artikel, informasi dan sumber-sumber lain pada bilang kalo Indonesia pertumbuhan ekonominya bagus (berkisar 5-6% an ya kalo ngga salah), tapi kenapa indeks gininya masih lumayan tinggi ya? soalnya pernah baca jurnal gitu yang meneliti indeks gini di salah satu provinsi di Indonesia yang kesimpulannya menunjukkan kesenjangan ekonomi di provinsi tersebut masih tergolong cukup tinggi. nah gimana tuh?._. artinya kan, pertumbuhan ekonomi kita lebih didominasi oleh perusahaan yang punya power sedangkan masih banyak orang-orang di Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan? butuh penjelasan nih zen. makasih sebelumnya, ya zen! keep inspiring!

    • Meby Damayanti

      Boleh dong. Memang negara kita ini termasuk negara yang pertumbuhannya cukup tinggi tapi indeks gininya juga tinggi, yang artinya kesenjangan antara si kaya dan si miskin cukup jauh, alias timpang. Kalo kaya gini, artinya pembangunan ekonomi terpusat di suatu wilayah aja, bukan karena didominasi oleh perusahaan besar aja. Kalo di skala nasional mungkin yang keliatan banget adalah pembangunan terpusat di pulau jawa, dan beberapa daerah di Indonesia bagian barat, sedangkan di bagian timurnya masih kurang banget.

      Makanya berbagai kebijakan pemerintah banyak yang berusaha untuk mempersempit ketimpangan ini, misalnya aja dengan membangun infrastruktur di seluruh negeri, atau berbagai bantuan sosial dan subsidi yang tepat sasaran, atau akses listrik ke berbagai daerah pelosok supaya masyarakatnya bisa lebih produktif sehingga lebih makmur.

  • Andi Muhammad Risal

    Perspektif gw ttg utang negara tuh bner2 lngsung totally changed:):)

    Salut dah ama tutor zenius yg sllu ngasih artikel yg brmnfaat 👍🏻👏🏻

    • Meby Damayanti

      Hehe.. Makasih Andi. Semoga bermanfaat yaa 🙂

  • Hakan Ahmad Fatahillah

    mengapa kalo negara bayar utang pasti pake bunga? apa manfaat bunga dalam perekonomian baik mikro maupun makro?

    • Meby Damayanti

      Iya dong.. Ibarat kita minjem uang ke bank kan bayarnya plus bunga toh? Karena dalam ekonomi, bunga itu konsepnya seperti harga untuk uang

  • Ahmad Syehan

    Bagaimana kalo negara menolak membayar utang, seperti Yunani tahun 2015(CMIIW)?

    • Meby Damayanti

      Kalo sebuah negara nolak bayar utang, pasti akan mendapat tekanan sih dari pemberi piutangnya, bahkan bisa dibawa ke forum internasional seperti PBB, IMF, Bank Dunia, dsb, untuk diminta membayar utang. Kalo masih nolak juga, bisa diembargo, alias produk-produknya nggak diterima di pasar luar negeri dan nggak ada juga negara-negara yang mau ngirim produk-produknya ke negara itu.

  • Siti Ninin

    Wah nice artikel kak, nambah wawasan banget, ditunggu next artikel yang menarik lagi ya kak 👍👍

    • Meby Damayanti

      Terima kasih Siti 🙂 Semoga bermanfaat yaa

  • Eksa Oktavian

    [OOT]
    kalau negara dalam keadaan inflasi, apakah eksportir mengalami keuntungan -> ekspor akan meningkat?? butuh penjeasan, makasih..

    • jika terjadi inflasi, maka secara umum harga bahan baku produksi di negara tersebut akan naik. dengan begitu, cost of production dari pengusaha eksportir dalam negeri juga meningkat. otomatis, eksportir terpaksa menaikan harga barang ekspor ke luar negeri.

      soal untung atau ruginya eksportir, tergantung bagaimana market di negara lain merespond kenaikan harga tersebut. Jika produknya bersifat fundamental yang pasti laku, kemungkinan eksportir diuntungkan. kalo barang yang diekspor punya sentimen yang tinggi terhadap perubahan harga, ya kemungkinan eksportir dirugikan karena barang ga laku.

    • Meby Damayanti

      Iya dong. Karena kalo negara kita inflasi, artinya kan nilai uang kita (Rupiah) jadi lebih rendah tuh ya. Jadi harga barang kita bersaing dibanding produk-produk luar negeri lain yang berasal dari negara yang ngga inflasi. Misalnya gini, biaya produksi sebuah baju di Indonesia Rp 10.000,- Saat itu nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar sebesar Rp. 10.000,- Artinya kan orang bisa beli kaos seharga 1 USD aja. Nah terus negara kita mengalami inflasi 100%, sehingga nilai Rupiah menurun, sekarang jadi Rp. 20.000,- per 1 USD. Nah baju yang tadi itu jadi bisa dibeli dengan harga 0.5 USD kan? Nah jadinya eksportir diuntungkan kan tuh karena bajunya jadi lebih murah di pasar negara lain. Kebayang gak?

  • M. Pranandha

    Kalau negara gak bisa bayar utang pas jatuh temponya, itu gimana kak?

    • Meby Damayanti

      Nah ini pertanyaan yang sama seperti Dwiki Maulana. Coba dicek ya di atas 🙂

  • Fathan

    Mau tanya bedanya materi di matematika ipa sama dasar apa ya

  • Sri Murdiani

    Baru ngerti, ternyata keuangan negara itu jauh berbeda sama keuangan pribadi. Mantap kak... Amazing artikel 🙂

    • Meby Damayanti

      Iya beda banget kan ya

  • Agus Setiawan

    Nice post.. Dapat pencerahan saya, jadi konsep ngutang dalam bernegara ternyata gak bs disamain dgn ngutang di warung.. Hehehe

    • Meby Damayanti

      Hehe.. Thank you! Semoga bermanfaat yaa 🙂

  • SAF

    ini sangat menjawab pertanyaan yang ada di kepala selama ini
    kuncinya ada di rasio utang geningan mah...
    terimakasih ini mencerahkan

    • Meby Damayanti

      Iya betul. Lebih penting melihat rasio utangnya dibanding nominal utangnya 🙂

  • Tedi

    Artikelnya bagus banget .. (y)(y)

    • Meby Damayanti

      Thank you Tedi 🙂

  • benni primarkus

    kak bisa tolong bikin artikel yg berkaitan dengan ekonomi? yang lebih spesifik ke Bidang akuntansi kak hehe. soalnya saya mahasiswa jurusan akuntansi, senang baca artikel2 di blog zenius. siapa tau kakak mau bikin , makasih sebelumnya kak Meby damayanti ☺

    • Meby Damayanti

      Ditunggu yaa topik-topik berikutnya Benni 🙂

      • benni primarkus

        ayo dong kak hehe

  • Hououin Kyouma

    kak. ijin saya share yaa... kayaknya banyak temen saya yang harus dicerahkan. supaya gk seenaknya ngehina press dan menkeu. 😀

    • Meby Damayanti

      Silahkan 🙂

  • Faridatul Hidayah

    Kereeeenn 😁😄

    • Meby Damayanti

      Terima kasih Faridatul 🙂

  • Fajar gilang

    Paling suka si sama artikel kaya gini.mencerahkan pemikiran yang salah tentang ekonomi

    • Meby Damayanti

      Thank you Fajar 🙂

  • Eksa Oktavian

    [OOT] lagi
    mana yang bener nih kak
    eko sbm kode konten 914(no14) vs 1603(no47)
    soal sama tp jawaban beda 😀

    • Meby Damayanti

      Waduh.. Makasih ya koreksinya Eksa. Yang betul yang kode konten 914 (no. 14). Segera kita perbaiki rekamannya..

      • Eksa Oktavian

        okey, kalau boleh usul agar setiap bab/konten diberi kolom komentar(sperti ini), biar gak bingung kalo mau nanya".. (y)

  • Hanas Bayu Pratama

    ka kalau jadi orang yang bisa diandalkan gimana ?

    • Meby Damayanti

      ha? maksudnya gimana nih?

  • Oktoni Pambudi

    Mantab artikelnya. Ternyata gitu to. Kalo masyarakat awam kaya aku pernah mikir kenapa ngga mbuat uang yg banyak aja dr pd utang. wkwk

    • Meby Damayanti

      Hehe.. Thank you, Oktoni. Semoga bermanfaat yaa 🙂

  • Dennisa Hasanah

    Keren artikelnya kak, bikin lagi ya kak artikel tentang investasi2 kayak sukuk ritel gitu kak. Thank you kak sudah berbagi 😀

    • Meby Damayanti

      Thank you, Dennisa. Ditunggu ya topik-topik lainnya

  • Rizky Darmawan

    Mantap jiwa, ngena bangeeeeett tulisanya. Merubah total prespektif gue tentang utang Indonesia. Nice hehe

    • Meby Damayanti

      Thank you, Rizky 🙂
      Mari sama-sama kita terus belajar yaa

  • Nandara FI

    Artikelnya keren, bener2 enlightening dengan bahasa yang ringan dan gampang dimengerti buat anak sma yang awam kayak aku.

    Oiya kak bahas tentang APBN dong. Kenapa dengan jumlah APBN yang dimiliki Indonesia, serapannya tidak mencapai 100% ya? Padahal banyak yang perlu dibangun dari berbagai sektor, tapi APBN malah nggak digunakan semuanya?

  • Alfina Salsabila

    such an interesting topic kak,,,nah kok aku jadi inget novel pulang nya tere liye ya ?

  • Alfina Salsabila

    kak misal nih negara A berhutang ke negara B, eh setelah itu ada perseteruan diantara dua negara tersebut.negara B bisa nggak naikin bunga nya seenak mereka akibat perseteruan itu ?

  • Nadya Ulyana

    Sangat tepat milih artikel ini sbgai bacaan sebelum tidur. Biasanya cuma surfing internet yg unfaedah banget wkwkwk. Nambah wawasan dan membuka pikiran banget!
    Juga! Menjawab rasa penasaran gue selama ini tentang utang negara Indonesia kita tercinta.... Sip! thank you, Ka! =D