Kisah Einstein & Eddington

"Oh leave the Wise our measures to collate
One thing at least is certain, light has weight
One thing is certain and the rest debate
Light rays, when near the Sun, do not go straight."
-Sir Arthur Eddington-

Suasana aula Cambridge sepi dan tegang, orang-orang berkumpul menunggu hasil penelitian yang menentukan bukan saja untuk sains, tapi untuk harga diri bangsa (untuk beberapa orang). Sir Eddington melangkah pasti membawa 2 plate fotografi pemotretan gugus bintang Hyades. Satu diambil di Inggris dan satu lagi diambil di Pulau Principe, lepas pantai barat Afrika, kala gerhana matahari total.

"Today we will become the witness of scientific breakthrough gentleman, please be seated."

Semua orang memilih tempat duduknya dan beberapa menghentikan pembicaraan mereka dengan kolega di belakang tempat duduknya. Semua mata memandang Sir Eddington memasang dua plate yang akan menentukan nasib ilmuwan pencetus gravitasi hampir 300 tahun yang lalu, yang merupakan pujaan bangsa Inggris, Sir Isaac Newton. Hari ini mereka akan menyaksikan, apakah teori yang bertahan selama 300 tahun itu akan tetap bertahan atau gugur oleh perhitungan ilmuwan tak terkenal, asosial, bahkan lahir di negara musuh mereka saat itu, Jerman. Ilmuwan itu bernama Albert Einstein.

Dua plate yang diambil dari dua lokasi berjauhan dan pada kondisi yang sama tersebut disatukan. Apabila Newton benar, maka foto bintang di dua lokasi tersebut akan sama. Dan sebaliknya, jika Einstein dengan perhitungan di khayalannya (Der Gedankexperiment), maka cahaya bintang di Afrika Selatan, yang mengalami gerhana matahari, akan dibelokkan. Dan terdapat gap, antara dua titik di foto.

"Light bended by gravity??? What kind of nonsense this German scientist proposed?" sebagian ilmuwan Inggris bergumam menunggu Eddington selesai memasang 2 plate itu.

Eddington melihat 2 plate yang disatukan. Ia memfokuskan lensa objektif untuk melihat gugus Hyades di samping prominence matahari di kala gerhana. Ia ragu sejenak. Teringat ia akan tulisan di jurnal hariannya di Pulau Principe tertanggal 29 Mei 1919:

The rain stopped about noon and about 1.30... we began to get a glimpse of the sun. We had to carry out our photographs in faith. I did not see the eclipse, being too busy changing plates, except for one glance to make sure that it had begun and another half-way through to see how much cloud there was. We took sixteen photographs. They are all good of the sun, showing a very remarkable prominence; but the cloud has interfered with the star images. The last few photographs show a few images which I hope will give us what we need...

Sambil membetulkan kacamatanya, sekali lagi ia lihat lebih teliti. Ia angkat kepalanya dan berkata:

"A gap! Einstein!!!"

Suasana Aula berusia lebih dari 500 tahun itu senyap. Beberapa menganggukkan kepala, beberapa menatap heran, beberapa berdiri, menghentak dan bergegas ke luar ruangan. Seorang Englishman, Eddington, membuktikan teori ilmuwan musuh negaranya yakni seorang Jerman, Einstein, untuk mengoreksi ilmuwan besar negaranya sendiri, Newton.

Banyak orang mengira sains adalah bidang arogan yang hanya berisi orang-orang di menara gading. Seringkali, saya bertemu orang yang melihat sains sebagai sesuatu yang berat.

Well I can't blame them all. Sering juga saya bertemu orang yang mengaku saintis tapi tidak menggunakan logika mereka untuk berpikir. Saintis atau ilmuwan bukanlah mahasiswa yang lulus dari MIPA saja. Saintis bisa orang-orang dari tiap profesi asalkan mereka menggunakan metode sains untuk berpikir mereka. Liat dulu permasalahan, ajukan pertanyaan, buat percobaan, atau cari data mengenai jawaban pertanyaan dan tarik kesimpulan. Eddington membuktikan ia merupakan saintis sejati dengan tidak bias. Baik bias dalam hal nasionalime sempit, atau bias mengakui hasil karya Einstein sebagai karyanya sendiri.

Sulit memang, memisahkan ego manusia dan idealisme saintifik. Saya teringat suatu kata-kata yang saya lupa kapan dan di mana membacanya.

Pertama,

"Dokter itu boleh bohong, tapi tidak boleh salah"
karena kalau pasien mau meninggal besok, dokter biasanya akan menenangkan. Akan tetapi dokter hampir tidak boleh salah    mendiagnosis.

Kedua,

"Ilmuwan itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong."
Hasil data penelitian boleh saja tidak sesuai teori di buku. Namun, tampilkan apa adanya dan jangan diubah. Salah data, kurvanya nggak bagus atau datanya ngacak? Nggak ada tuh, justru kesalahan sering membuka penemuan baru.

Ketiga

"Politikus itu boleh salah boleh bohong!!"
"No offense to politician, but reality bites sometimes."

Kembali ke Eddington, Einstein, dan Newton. Apakah setelah dibuktikan dengan percobaan, teori gravitasi Newton menjadi tak berguna? Bisa iya, bisa tidak. Pada kondisi normal (consider yourselves about what is a normal condition) teori Newton berlaku, tapi pada kondisi ekstrem, relativitas Einstein merajai. Einstein "hanya" memoles Newton sedikit untuk fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh mekanika klasik Newton. Rangkaian pengetahuan sambung-menyambung ini, seperti yang dikatakan Stephen Hawking ketika ditanya mengapa ia sangat jenius oleh wartawan, adalah: "Because I'm standing on the shoulder of giant."

Karena penelitian ilmuwan sebelum masanya, Hawking bisa merumuskan persamaan gravitasi di dalam black hole dan terus menyempurnakan teori Einstein dengan TOE (Theory Of Everything) yang masih dikerjakannya.

Setelah pembuktian teori relativitas umum oleh Eddington, Einstein menjadi terkenal dan mendunia. Jerman yang baru saja kalah perang dunia pertama, seolah mendapat kebanggan sendiri di tengah kedukaan dan inflasi yang menghebat.

Eddington sendiri? Seperti juga penarik layar untuk pertunjukan, ia tenggelam dalam nama besar Albert Einstein. Mengapa ia rela membuktikan teori orang lain dan menekan bias pendapatnya sendiri? Ilmuwan yang baik selalu mencari kebenaran pada data eksperimen. Ketika science board Cambridge menanyakan maksud Eddington untuk membuktikan teori seorang Jerman, kesetiaanya pada Inggris Raya diragukan. Ia ditanya apakah ia bisa objektif? Eddington berkata, "With my respect Sir, I'm built with it".

Pras Dianto (@kamentrader)
Biology teacher of Zenius Education

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara lo yang mau ngobrol atau diskusi sama Pras tentang cerita populer sains, langsung aja tinggalin komentar di bawah artikel ini. Buat lo yang mau baca artikel zenius lain terkait sejarah sains, gua sangat merekomendasikan lo untuk baca beberapa artikel di bawah ini:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Prasdianto adalah senior tutor pelajaran Biologi di Zenius Education tahun 2009-2016. Prasdianto mengambil S1 Fakultas MIPA Jurusan Biologi di Universitas Indonesia
 
Follow Twitter Pras at @prasdianto

  • Ivan ruben

    Cool

  • @yazid_ivan

    Kereeen Pras artikelnya!. Thank you Sir Eddington for taught us how should the scientist be. Salute!

  • Isaac Newton pun pernah mengatakan hal serupa "I'm standing on the shoulder of giant."

  • Andriyanto Wibowo

    kak pras buat artikel soal fisika kuantum dong, kayaknya bakal menarik soalnya fisika di kehidupan sehari2 agak berbeda di alam kuantum sana 🙂

  • Arin Tria Anggrelita

    Iya bg pras, bner banget, ilmuan ga boleh nyembunyiin kebenaran walaupun harus ngorbanin harga dirinya bahkan harga diri bangsanya. Btw, yg mahasiswa pertanian boleh visit blog saya http://catatananaktani.blogspot.com

  • yudhis

    nice bang ,
    though this is an old article , but still good 🙂
    I hope i can learn from eddington , to be a person who can be objective and not follow my ego
    of course to be honest person