Agrikultur: Kesalahan Terbesar Manusia Sepanjang Sejarah?

Perkembangan peradaban manusia dari hunter gatherer ke agrikultur dibahas, serta dampak positif dan negatif agrikultur terhadap manusia dan ekosistem.

Halo guys, ada yang pernah nonton film Ice Age? Itu loh film animasi dengan latar belakang zaman es yang tokoh utamanya ada tupai, mammoth, macan gigi pedang, dkk. Kalo lo perhatiin film itu, setting waktunya adalah pada era zaman es, yaitu zaman dimana hampir seluruh planet bumi ini tertutup oleh es. Wah emang seluruh planet bumi ini pernah tertutupi lapisan es ya?

Poster film Ice Age

Yak, zaman es (ice age) itu emang beneran terjadi. Bahkan secara kronologis waktu, zaman es itu relatif “belum lama” terjadi alias baru saja berlalu loh. Wah emang kapan zaman es itu berlalu? Menurut para ahli geologi dan paleontologi, zaman es terakhir yang planet Bumi lalui diperkirakan dimulai 1,8 juta tahun yang lalu, dan “baru saja” berakhir sekitar 15.000-10.000 tahun yang lalu. Wow! Berarti selama 1,8 juta tahun planet bumi ini tertutupi oleh lapisan es?? Lama banget tuh!

Yup betul, emang zaman es itu lama banget. Bahkan zaman es yang 1,8 juta tahun lalu itu bukan yang pertama kali terjadi, dan kemungkinan besar juga bukan yang akan terakhir kali terjadi. Berdasarkan perhitungan, zaman es terjadi setiap 150 juta tahun, dan akan berlangsung setidaknya 1 juta tahun. Sejauh ini, para ahli paleontologi mencatat setidaknya ada 5 era zaman es:

Starting Age

[million years ago]

 

Geologic Period

1,700 to 2,300 mya

the middle of the Huronian Era in Precambrian time

670 mya

the end of the Proterozoic Era, in Precambrian time

420 mya

the middle of the Paleozoic Era, between the Ordovician and Silurian Periods

290 mya

the late Carboniferous and early Permian Periods, late in the Paleozoic Era

1.8 mya

the Pleistocene Epoch of the Quaternary Period (Cenozoic Era)

 

Seperti yang bisa lo lihat, zaman es terakhir adalah 1.8 juta tahun dan relatif “baru saja” berlalu sekitar 10.000 tahun yang lalu. Berhentinya zaman es adalah sebuah fenomena alam yang sangat besar dan menuntut perubahan drastis dari cara manusia bertahan hidup pada saat itu. Bayangin aja, dari yang tadinya dimana-mana lapisan es, dalam waktu “singkat” (sekitar 2.000-3.000 tahun), manusia harus dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Nah, pada era pergantian zaman es inilah titik krusial dari perkembangan peradaban manusia yang menarik banget untuk dibahas.

Yuk kita coba bayangkan sama-sama kondisi planet bumi sekitar 12.000 tahun yang lalu Pada saat itu jumlah manusia diperkirakan baru berjumlah 3-4 juta manusia (kurang lebih sejumlah penduduk Surabaya saat ini). Dalam waktu beberapa ratus tahun, 2/3 es mencair dan temperatur bumi dengan cepat berubah dari dingin menjadi lebih hangat. Keadaan bumi menjadi relatif stabil dan menunjang survival rate dari berbagai makhluk hidup. Tentunya, kondisi ini menunjang kemudahan bertahan hidup sebagian besar hewan dan tumbuhan, termasuk manusia (Homo sapiens).

Emang apanya sih yang berubah dari cara manusia untuk bertahan hidup? Sebetulnya kalo harus dijabarkan secara detail, prosesnya bisa kompleks banget. Tapi secara garis besar, kita bisa menyederhanakan bahwa perubahan cara hidup manusia yang paling signifikan adalah peralihan cara manusia dalam mendapatkan sumber makanannya, yaitu dari yang tadinya hunting-gathering beralih menjadi agrikultur. Hunting-gathering sebagaimana bisa lo tebak dari namanya, adalah mekanisme paling primitif untuk mendapatkan makanan, yaitu dengan cara berburu (hunting) hewan liar dan mengumpulkan (gathering) tumbuhan & buah-buahan liar buat dimakan. Ciri khas hunter-gatherer (orang yang melakukan hunting-gathering) adalah berpencar untuk mencari makanan, kemudian berkumpul untuk makan bareng, tidur bareng, kemudian setelah sumber makanan di sekitar dianggap sudah habis, mereka akan langsung pindah tempat buat cari tempat berburu yang baru (nomadik). Mekanisme bertahan hidup inilah yang membuat Homo sapiens sukses bertahan hidup sekaligus menjelajahi berbagai penjuru Bumi selama sekitar 200.000 tahun di zaman es yang penuh tantangan.

Nah, pada saat era zaman es berakhir. Bumi jadi lebih hangat dan lebih bersahabat bagi makhluk hidup. Otomatis, sumber makanan juga mulai melimpah. Pada saat inilah, manusia mulai mempertanyakan efektivitas dari mekanisme cara hidup berpindah-pindah (nomadik). Ngapain pindah-pindah lagi? Wong di sini sumber makanan berlimpah, kayaknya ga akan habis-habis nih kalaupun kita tetap terus menetap di sini. Itulah kira-kira yang manusia pikirkan di berbagai penjuru bumi. Pada zaman peralihan inilah, sebagian manusia lambat laun memutuskan untuk menetap pada lokasinya masing-masing dan mulai mencoba berbagai cara kreatif untuk mendapatkan sumber makanan dengan lebih efisien.

Wah cara kreatif apa nih yang dilakukan manusia? Hal pertama yang adalah domestifikasi hewan, yaitu upaya manusia memanfaatkan hewan dalam membantu kehidupannya, baik menjadi teman berburu, sampai beternak sebagai sumber pangan. Menurut penelitan, hewan yang pertama kali didomestifikasi adalah serigala. Serigala dimanfaatkan manusia untuk menjaga keamanan (jadi satpam), teman berburu, dan juga untuk menghangatkan tubuh manusia (dengan memeluknya). Keturunan serigala yang saat itu berhasil didomestifikasi oleh manusia, kini telah berevolusi menjadi anjing, atau dalam taksonomi biologi dikenal dengan family canidae.

Pada masa ini juga, suatu peradaban kuno di Turki, tepatnya di Catalhayuk, diteliti sebagai kelompok masyarakat pertama yang mencoba untuk mendomestifikasi tumbuhan. Prinsipnya sama seperti domestifikasi hewan, domestifikasi tumbuhan di sini maksudnya adalah manusia mengolah tumbuhan untuk menopang kehidupannya (salah satunya sebagai bahan pangan). Peradaban ini udah mulai mencoba menanam barley (jelai) secara sistematis sebagai bahan makanan sehari-hari. Sebenarnya sih manusia sudah mulai memakan sejenis jelai pada 20.000 SM. Namun pada saat itu, manusia belum mendomestifikasi tumbuhan dengan sistematis. Di Catalhoyuk ini, meskipun sudah mulai domestifikasi tumbuhan, mereka masih tetap mengandalkan hewan buruan sebagai makanan utama. Domestifikasi tanaman ini diduga sebagai bentuk percobaan manusia pertama manusia untuk bercocok-tanam (agrikultur).

Pada 9.000 tahun yang lalu, populasi manusia bertambah sehingga makanan juga perlu ditambah stoknya. Untuk itu, manusia mulai serius memerhatikan domestifikasi tanaman. Mereka mulai melakukan eksperimen, neliti, nyoba-nyoba. Dari proses eksperimen manusia, termasuk salah makan, keracunan, mencret, dsb… pada akhirnya gandum dan jelai pertama kali muncul sebagai makanan pokok yang cocok untuk dikembangkan. Bisa dibilang, di sinilah agrikultur dimulai. Agrikultur maksudnya adalah pemanfaatan hewan, tumbuhan, dan jamur untuk kebutuhan hidup manusia, terutama untuk kebutuhan makanan.

Domestifikasi tumbuhan akhirnya menyebar ke belahan dunia secara perlahan. Namun, penyebaran ini tidak terjadi di waktu yang sama. Sebagai contoh: Beras didomestifikasi di China di antara 13.500-8.200 tahun yang lalu. Timur tengah mulai era agrikultur sekitar 10.500-9.500 tahun yang lalu. Sayuran berakar didomestifikasi di Papua Nugini di 9.000 tahun yang lalu.  Kentang didomestifikasi di Amerika Selatan pada 10.000-7.000 tahun yang lalu, diikuti oleh kacang polong, pohon koka, dan tumbuhan pangan khas tropis lainnya.

Tidak hanya tanaman, domestifikasi hewan juga makin dikembangkan. Hewan yang tadinya hanya digunakan sebagai teman berburu (serigala) dan membantu proses pertanian (membajak sawah), mulai dipertimbangakan untuk hal lain. Pada akhirnya manusia mikir kayaknya enak juga nih kalo hewan-hewan ini dikembang-biakan untuk disantap. Menurut catatan geo-antropologi, tercatat babi didomestifikasi pertama kali di Mesopotamia sekitar 15.000 tahun yang lalu, kemudian diikuti domba di 13.000-11.000 tahun yang lalu. Sapi didomestifikasi di Turki dan Pakistan di 10.500 yang lalu. Nah, konsep inilah yang kita kenal sekarang dengan istilah beternak.

Pada masa peralihan inilah (15.000-5.000 tahun yang lalu) atau bisa disebut sebagai era Neolithic Revolution atau Agricultural Revolution, sebagian masyarakat yang masih menjalani mekanisme hunting and gathering mulai benar-benar beralih untuk mengutamakan agrikulutur (bercocok-tanam & beternak) sebagai cara bertahan hidup yang baru sekaligus sarana untuk mengembangkan berbagai macam teknologi untuk mempermudah hidup manusia.

Namun demikian, banyak para ahli yang berpendapat bahwa proses peralihan hunter-gatherer ini adalah salah satu kesalahan terbesar manusia dalam sejarah peradaban manusia. Lho kok bisa?

 

Dampak Negatif Era Agrikultur

“(Agriculture is) the Worst Mistake in the History of the Human Race” – Professor Jared Diamond

“The Agricultural Revolution was History’s Biggest Fraud” – Professor Yuval Noah Harari.

Era agrikultur adalah kesalahan terbesar dalam sejarah umat manusia, menurut pendapat Prof Jared Diamond & Prof. Yuval Harari. Buat lo yang belum kenal, Jared Diamond adalah seorang ahli geo-antropologi & Yuval Harari adalah seorang ahli sejarah peradaban.

Mungkin lo penasaran, mengapa beberapa ahli sejarah berpendapat begitu? Bukankah dengan adanya pertanian dan peternakan itu memudahkan manusia mendapatkan makanan? Bukankah agrikultur itu memungkinkan kita sebagai manusia untuk hidup secara praktis? Yuk mari kita bedah dampak negatif dari proses transisi ini, baik terhadap manusia, hewan lain, maupun pada lingkungan alam secara luas.

Dampak Negatif Terhadap Manusia

Kalo boleh gua sederhanakan dampak negatif agrikultur bagi manusia, adalah : RIBET! Iya, segalanya jadi ribet bagi manusia, terutama jika kita melihat konteks pada 10.000 tahun yang lalu. Fokus energi, pemikiran, dan tenaga manusia terlalu banyak tersita untuk memikirkan proses agrikultur, dimana manfaatnya dinilai tidak seberapa.

Bayangkan saja, demi keberlangsungan proses agrikultur, manusia di berbagai belahan dunia membuka lahan (baca: merusak alam). Demi hasil panen yang baik, manusia harus kerja ekstra keras dibandingkan sebelumnya untuk memikirkan proses kondisi tanah yang cocok untuk tanaman, proses pengairan (irigasi), ancaman hama, potensi bencana alam, dll. Ribet banget deh! Padahal sebelumnya pola hidup manusia jauh lebih sederhana. Kalo laper ya tinggal berburu kijang atau menangkap ikan, beres langsung bisa makan.

Dari segi nutrisi, semenjak dimulainya era agrikultur, nutrisi makanan yang didapat manusia menjadi terlalu homogen (ya iyalah makanannya jadi itu-itu doang). Sementara dulu ketika masih jadi hunter-gatherer, manusia mempunyai nutrisi makanan yang lebih bervariasi dan seimbang. Akibat dari ketimpangan nutrisi ini juga berdampak pada daya tahan tubuh manusia terhadap penyakit. Selain itu, proses peralihan ini juga membuat manusia jadi lebih sering mengalami anemia dan kekurangan vitamin, sering mengalami penyakit masalah tulang, dan masalah gigi. Dalam komunitas manusia yang melakukan agrikultur, manusia lebih cepat dan lebih gampang tertular penyakit. Terutama penyakit yang muncul dari domestifikasi hewan dan tumbuhan, seperti cacar, campak, flu, tetanus, dll.

Secara fisiologis, proses transisi cara hidup manusia ke budaya agrikultur membuat manusia menyusut dan lemah secara fisik. Tinggi rata-rata pria 178 cm dan 165 untuk wanita pada zaman hunter gatherer turun menjadi secara berurutan 168 cm dan 155 cm pada zaman agrikulutur. Butuh sekitar 200 tahun bagi manusia buat balik lagi ke tinggi rata-rata 178 cm dan 165 cm tadi. Penurunan kondisi fisik, kekurangan nutrisi, dan tingginya kemungkinan penularan penyakit ini membuat tingkat harapan hidup (mortalitas) manusia juga berkurang drastis dari era hunter-gatherer 26 tahun menjadi rata-rata 19 tahun pada awal era agrikultur.

Dalam era modern sekarang ini, industri agrikultur bisa dibilang sebagai industri yang paling mematikan. Diperkirakan 170.000 kematian tenaga kerja di dunia setiap tahunnya berkaitan dengan agrikultur. Bahkan, itu belum termasuk tenaga kerja yang cedera, sakit, atau hal lain yang tidak dilaporkan. Jumlah kematian itu dua kali lebih besar dibanding rata-rata kematian akibat sektor lain. Organisasi Buruh Internasional menganggap agrikultur merupakan “Salah satu sektor ekonomi yang paling beracun (mematikan)”.

Dampak Negatif Terhadap Hewan

Selama sekitar 70 tahun terakhir, produsen ternak melakukan kawin silang kepada hewan ternak. Hal ini tentunya secara signifikan meningkatkan hasil ternak. Namun, perkawinan silang ini justru mengurangi keberagaman genetik terhadap hewan ternak. Akibatnya, hewan ternak menjadi rentan terhadap penyakit dan mengalami penurunan kemampuan dalam beradaptasi.

Dari sudut pandang moral, mekanisme agrikultur juga tentu merugikan bagi hewan. Bayangkan saja terlahir menjadi hewan sapi ternak. Begitu lahir langsung dipisahkan dari induk, lalu dimasukin ke kandang yang sempit banget. Dari kecil hanya diem di kandang untuk makan, tidur, buang air. Sampai 18 bulan kemudian dipotong. Itulah siklus kehidupan hewan-hewan ternak.

Dampak Negatif Terhadap Lingkungan

Sebagaimana sudah pernah dibahas pada banyak artikel sebelumnya, bahwa salah satu tantangan terbesar manusia modern saat ini adalah memperlambat proses perubahan iklim (climate change) yang kian mengkhawatirkan. Penyebab utamanya di era modern mungkin bisa lo baca di artikel zenius blog sebelumnya. Tapi terlepas dari itu, sebetulnya peralihan agrikultur juga menjadi salah satu pemicu yang mempercepat proses perubahan iklim global.

Pada tahun 2010, riset yang dilakukan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) menyatakan bahwa industri agrikultur dan konsumsi makanan adalah 2 faktor yang paling penting dalam pengaruhnya pada perubahan iklim. Selanjutnya di tahun 2011, UNEP bilang bahwa sekitar 13% emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh kegiatan manusia di seluruh dunia disebabkan oleh pengoperasian agrikultur.

Dalam laporan United Nations, peternakan menghabiskan 70% tanah yang digunakan untuk agrikutur atau setara dengan 30% permukaan tanah yang ada di planet ini. Oleh karenanya, sektor peternakan merupakan salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca. Ia berkontribusi terhadap 18% emisi gas rumah kaca. (Dihitung dari emisi CO2-nya).Sebagai perbandingan, transportasi itu menyumbang 13,5% emisi CO2. Peternakan menyumbang 65% dari seluruh N20 yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Dampak N20 itu 296 kali dampaknya CO2 buat pemanasan global, wuuiih jauh lebih ganas dari CO2. Peternakan juga berkontribusi terhadap 37% CH4 (atau biasa disebut metana) yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Dampak CH4 itu 23 kali dampaknya CO2 buat pemanasan global.

Dampak konkrit sektor peternakan juga bisa lebih mudah lo bayangkan pada contoh hewan sapi. Bayangkan saja, 1 ekor sapi dewasa mampu mengeluarkan 70-20kg zat Methane setiap tahun ke udara. Itu kira-kira setara dengan pembakaran 1.000 liter BBM. Sekarang ada berapa banyak ekor sapi yang diternakan untuk sumber pangan manusia? Sekitar 1,5 milyar sapi yang diternakan di seluruh penjuru dunia! 6x lipat lebih banyak jumlahnya dari seluruh penduduk Indonesia!

Diperkirakan, emisi metana dari peternakan akan meningkat sebesar 60% sampai 2030. Selain itu, peternakan juga disebut merupakan salah satu faktor penting dalam hal penggundulan hutan, degradasi tanah, dan pengurangan keanekaragaman hayati.

 

Dampak Positif  Agrikultur

Oke, dari pembahasan di atas, senggaknya kita bisa melihat perspektif lain bahwa ternyata mekanisme perubahan cara hidup manusia dari berburu menjadi bercocok-tanam & beternak, dalam sudut pandang tertentu bisa dilihat sebagai kerugian yang sangat besar dalam peradaban manusia. Fisik manusia menjadi lebih, rentan terhadap berbagai jenis penyakit, belum lagi kehidupan manusia jadi lebih ribet, merugikan hewan-hewan lain, dan bahkan juga lingkungan secara luas. Tapi di sisi lain, gua mau kita coba membeda sisi positif dari revolusi agrikultur ini juga. Dengan demikian, kita jadi bisa melihat proses transisi ini dari perspektif yang lebih luas

Meskipun mempunyai dampak negatif seperti yang disebutkan di atas, agrikultur jelas membuat manusia jadi mempunyai persediaan makanan dalam jumlah besar. Persediaan makanan dalam jumlah banyak bisa menyuplai makanan kepada populasi manusia yang masif. Selain itu, manusia juga jadi bisa tinggal menetap dan tidak perlu terus berpindah-pindah tanpa kepastian (hayati lelah bang!).

Dari sisi teknologi, bisa dibilang peradaban manusia berkembang pesat akibat adanya Agricultural Revolution ini. Beberapa peneliti mengatakan betapa besar peran agrikultur dalam membangun peradaban Mesir, Mesopotamia, China, Inka. Peradaban inilah yang nantinya akan menghasilkan ilmu pengetahuan awal manusia untuk memahami siklus alam, sistem penanggalan, konsep waktu (hari, jam, menit, detik), astronomi, pencatatan dan perhitungan jumlah (kuantifikasi), perkembangan bahasa (linguistik), dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, mekanisme agrikultur juga membuat manusia relatif menempuh cara yang lebih aman dan berisiko kecil dalam mendapatkan makanan. Bayangin aja, kalo tiap hari berburu, manusia selalu berhadapan dengan risiko diterkam macan, ditanduk bison, diinjek mammoth, atau disikat sama buaya. Belum lagi karena tinggalnya belum menetap dan belum ada tempat tinggal yang aman, membuat ancaman dari binatang liar jadi sangat besar.

Selain itu, mekanisme agrikultur memungkinkan manusia bisa menyimpan stok makanan dalam jumlah banyak. Sehingga persediaan pangan relatif lebih stabil. Teknologi pengolahan hewan ternak dalam menghasilkan daging yang unggul, jelas sangat menguntungkan manusia untuk mendapatkan daging yang berkualitas baik.

Perkawinan silang pada hewan dan tumbuhan juga terbukti dapat menghasilkan produksi yang banyak. Nah, ayam yang lo makan di restoran cepat saji biasanya dari ayam perkawinan silang itu, begitu juga buah-buahan manis & tak berbiji yang lo beli di supermarket.

Hasil dari agrikultur modern dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: Makanan, fiber, bahan bakar, dan bahan mentah. Kita bahas beberapa bagian aja yah. Hasil agrikultur yang pertama adalah makanan. Hasilnya seperti sayuran, buah, minyak, sereal (seperti beras), daging, bumbu masak. Kebayangkan kontribusi dari agrikultur buat makanan sehari-hari kita.

Terus setelah makanan, hasil agrikultur yang kedua adalah berupa fiber. Contoh fiber seperti katun, wol, sutera, dan sebagainya. Nah hasil fiber dipake buat bikin celana yang sekarang lo pake, selimut di kasur lo, dan sebagainya. Agrikultur juga menghasilkan bahan bakar atau biasa disebut fuel. Beberapa penelitan bahkan bilang kalo fuel yang pertama kali digunakan manusia berasal dari agrikultur. Coba tebak apa? Kayu. Kayu kalo dibakar kan bisa jadi sumber energi atau sumber bahan bakar. Selain itu, agrikultur juga bisa menghasilkan bahan mentah seperti latex (bahan dasar karet), bambu (bahan dasar kursi), dan sebagainya.

Keuntungan lain dari agrikultur modern adalah terbukanya lapangan pekerjaan. Pada tahun 2011, diperkirakan 1 miliar orang atau sekitar 1/3 tenaga kerja yang ada di dunia ini bekerja di sektor agrikultur. Kebanyakan, para pekerja agrikultur itu berada di negara berkembang. Dari sudut pandang ini, agrikultur meningkatkan kehidupan manusia karena bisa membuka lapangan pekerjaan segitu banyaknya.

Menurut worldbank.org, perkembangan agrikultur merupakan salah satu hal yang paling kuat dalam upaya penghapusan kemiskinan. Agrikultur juga diperkirankan dapat memberi makan 9 miliar orang pada tahun 2050. Perkembangan di sektor agrikultur diperkirakan 2-4 kali lipat lebih efektif dibanding sektor lain dalam meningkatkan pendapatan orang-orang menengah ke bawah. Bisa lo bayangkan bahwa di banyak sektor kehidupan kita saat ini, agrikultur itu bener-bener ngebantu kehidupan manusia.

Penutup

Nah, begitu kira-kira gambaran tentang peralihan dari hunting gathering ke agrikultur beserta dampaknya ke manusia dan ekosistemnya. Di sini sebenarnya gue pengen ngasih berbagai macam perspektif mengenai proses peralihan ini. Di satu sisi gua mau lo memahami bahwa ada pandangan dari para ahli yang menyatakan bahwa agrikultur gak sepenuhnya juga memberi keuntungan pada manusia dan ekosistemnya. Di sisi lain, kehidupan manusia modern yang serba praktis juga tidak bisa lepas dari jasa revolusi agrikultur 10.000 tahun yang lalu.

Nah, sekarang mungkin di antara lo timbul pertanyaan:

“Kalau sampai sekarang manusia tetap hidup sebagai hunter gatherer, apakah manusia akan lebih maju, sama saja, atau bahkan lebih terbelakang dari manusia sekarang?”

Apakah betul bahwa trade off antara produksi makanan dan pencemaran lingkungan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan? Artinya, bisa ini adalah pilihan yang dilematis. Produksi makanan tapi lingkungan rusak atau gak produksi makanan tapi lingkungan jadi gak tercemar oleh agrikultur?

Nah dengan adanya tulisan ini, gua justru ingin memicu lo untuk berdiskusi dan berdebat secara sehat di kolom komentar di bawah ini tentang ke 2 perspektif di atas. Mungkin ada di antara lo yang punya pendapat pribadi, atau bisa memberikan sumber penelitian baru yang bisa kita diskusikan bersama. Buat bahas lebih lanjut, yok, kita diskusikan pada kolom komentar di bawah!

Sources :

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.