Kenapa sih Setiap Tahun Harga Barang selalu Naik?

Kenapa sih Setiap Tahun Harga Barang selalu Naik?

Halo para pembaca zenius blog! Sebelumnya kenalin dulu nama gue Meby, belum lama ini gue bergabung di Zenius Education sebagai tutor pelajaran Ekonomi. Nah, pada kesempatan kali ini, sebagai perkenalan gue mau mempersembahkan sebuah tulisan yang membahas sebuah fenomena ekonomi yang pasti kita semua pernah rasakan. Yak, bisa lo tebak sesuai dengan judulnya: Gue mau mengupas tuntas sebuah pertanyaan yang mungkin bikin lo penasaran selama ini:

"Kenapa ya harga-harga barang setiap tahun selalu naik terus? Kenapa ga sesekali harganya turun aja sih?"

Zaman gue dulu masih SMA, sekitar tahun 1990an akhir (eh ketauan tuanya deh gue :p) uang jajan gue "cuma" Rp 5.000/hari. Wah dikit amat ya? Eh tapi dengan uang segitu, dulu gue udah bisa bayar ongkos angkot pulang pergi sekolah, makan siang, malahan masih ada sisa buat jajan sepulang sekolah. Lho kok bisa? Ya, zaman gua dulu SMA, tarif angkot Rp 500 sekali naik, terus makan nasi sama soto ayam di kantin sekolah palingan Rp. 2.500. Murah banget ya kalo kita lihat di tahun 2016 sekarang.

Kalo lo coba bandingin lagi harga barang-barang zaman sekarang dengan beberapa tahun yang lalu, sebetulnya semua harga barang di sekitar kita juga terus naik kok! Coba lo inget-inget aja mulai dari harga gorengan, air mineral, sampai harga komik di toko buku juga naik melulu setiap tahun! Kok bisa sih?

Kenaikan harga barang ini juga sebetulnya ga selalu terjadi dalam jangka waktu tahunan, bisa jadi terjadi dalam waktu hitungan bulan. Iseng-iseng coba lo cek deh di internet, harga cabe di bulan Oktober 2016 kemarin kurang lebih Rp. 60.000;-an/kg, terus di awal November 2016 naik lagi sampe Rp. 80.000;-an/kg. Gila, cabe kok harganya naik terus ya? Kenapa sih harganya ngga sama aja ya? Ini para pedagang yang mainin harga supaya cepet kaya apa gimana sih? Atau jangan-jangan, ini artinya kondisi ekonomi di Indonesia terus memburuk dari tahun ke tahun?

“Apakah kenaikan harga menunjukkan bahwa Ekonomi Indonesia terus memburuk?”

soeharto-meme

Latar Belakang Fenomena Kenaikan Harga

Dalam ilmu ekonomi, fenomena kenaikan harga ini dinamakan dengan istilah inflasi. Kalo lo lihat buku cetak, fenomena inflasi dijelaskan sebagai proses kenaikan harga barang dan jasa secara umum atau “kemerosotan nilai uang (kertas)”. Tapi penjelasan di buku cetak tersebut, kadang kurang mendalam dan masih meninggalkan tanda tanya bagi kita semua. Pertanyaan paling sederhana yang sering muncul dalam kepala kita adalah: Kok bisa sih kenaikan harga barang ini berjalan serentak? Kok naiknya bisa kompakan sih? Masa semua penjual di seluruh penjuru negeri janjian naikin harga bareng-bareng? Engga gitu sih.

Pada prinsipnya, inflasi ini adalah sebuah fenomena ekonomi yang terjadi secara natural karena adanya perubahan dari berbagai komponen dalam perputaran roda ekonomi. Fenomena ini, bukan hanya terjadi pada ekonomi modern, tapi udah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan akan terus terjadi selama sistem ekonomi berjalan.

Lalu, apa dong faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi? Sebetulnya secara makro penyebab inflasi itu bisa rumit banget, tapi secara sederhana, gua akan coba menjelaskan 2 komponen utama yang menyebabkan inflasi, yaitu:

  1. Pergeseran tingkat permintaan-penawaran
  2. Jumlah uang beredar

inflasi-poster

Kenapa pergeseran tingkat permintaan-penawaran mempengaruhi tingkat Inflasi?

Oke, gua akan coba menjelaskan fenomena bernama inflasi ini akan dalam kasus sederhana : Lo perhatiin nggak kalo tiap tahunnya menjelang Hari Raya Idul Adha biasanya harga kambing dan sapi jadi lebih mahal. Kenapa gitu? Ya jelas karena menjelang Idul Adha, permintaan daging kambing dan sapi banyak. Jadinya para pedagang naikin harga mumpung banyak orang yang mau beli. Namanya juga cari untung. Ini adalah hukum ekonomi yang sangat mendasar. Permintaan banyak, otomatis para pedagang naikin harga supaya untung lebih banyak. Tapi sehari setelah Hari Idul Adha, harga kambing dan sapi pasti langsung turun drastis! Kenapa? Ya pasti karena orang yang mau beli (permintaan) akan daging kambing dan sapi juga turun drastis. Inilah illustrasi nyata dari Hukum Permintaan-Penawaran yang mempengaruhi naik-turunnya harga barang. Nah, dari prinsip ekonomi (permintaan-penawaran) itulah, fenomena inflasi ini terjadi. Hanya saja skala-nya jauh lebih luas daripada fenomena naik-turunnya harga daging kurban menjelang Idul Adha atau harga kembang api menjelang tahun baru.

Kenapa jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat Inflasi?

Emangnya kenapa sih kalo jumlah uang yang beredar di masyarakat jadi lebih banyak? Hubungannya apa sama terjadinya inflasi sih? Nih gue coba gambarin ilustrasi singkat ya:

Misalnya lo dan temen-temen sekelas lo dibagi jadi 2 kelompok, yaitu pembeli dan penjual. Sekarang setengah dari kalian adalah kelompok pembeli dan setengahnya lagi adalah kelompok penjual. Terus yang jadi pembeli ini semuanya punya uang sebesar Rp 300.000/bulan dan yang jadi penjual ini ada yang jualan makanan, minuman, dan pakaian. Setiap hari para pembeli pasti akan membelanjakan uangnya, mereka akan beli makanan, minuman dan pakaian dari para penjual. Nah, misalnya rata-rata si pembeli membelanjakan uangnya sampe Rp 10.000/hari, dalam 30 hari kan habis tuh ya setiap bulannya. Nah sekarang tau-tau ada guru yang berbaik hati, nambahin duit ke si kelompok pembeli sebesar Rp 300.000 lagi, jadi kan sekarang si pembeli punya Rp 600.000 ya? Apa yang akan terjadi?

Kelompok pembeli mungkin aja belanja lebih dari Rp. 10.000/hari, karena sekarang mereka punya uang lebih, mungkin mereka akan beli makanan, minuman dan pakaian lebih banyak dari sebelumnya. Emang udah jadi salah satu sifat dasar manusia, bahwa semakin besar pendapatannya, cenderung semakin besar pula pengeluarannya. Lalu apa jadinya kalo semua orang mendadak jadi belanja lebih?(baca: permintaan naik) Inget fenomena daging kambing & hari Raya Idul Adha tadi, otak bisnis pedagang secara natural akan menaikan harga! Nah kalo fenomena ini terjadi terus-terusan, maka pada akhirnya terjadilah inflasi. Jadi kita bisa menyimpulkan skenarionya kira-kira seperti ini:

Kenaikan jumlah uang beredar -> menaikkan tingkat konsumsi -> menaikkan tingkat permintaan konsumen -> mendorong penjual menaikkan harga -> terjadilah inflasi

Rantai sebab-akibat ini yang sebenernya bisa dijelaskan oleh Teori Kuantitas Uang yang dikemukan oleh Irving Fisher, yang diformulasikan pada persamaan berikut:

M \times V = P \times T

  • M = jumlah uang beredar
  • V = kecepatan perputaran uang (velocity)
  • P = tingkat harga umum
  • T = jumlah transaksi

Keliatan kan ya dari persamaan tersebut bahwa kalau M naik, dengan asumsi V dan T sama karena jumlah populasi juga dianggap tidak berubah, maka P akan naik juga. Pandangan teori ini dikenal juga sebagai pandangan sebagai kaum monetaris.

 

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Oke, sekarang gua harap lo udah paham tentang 2 komponen dasar yang mempengaruhi inflasi. Sekarang yuk kita telusuri lebih detil lagi tentang fenomena inflasi: Seorang eekonom bernama Jhon M. Keynes punya pandangan bahwa penyebab dari fenomena inflasi bisa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu Cost-push Inflation dan Demand-pull Inflation.

1 Cost-push Inflation

Lo tau nggak kalo dari dulu sampe awal tahun 2016 ini harga BBM premium di Indonesia Timur, harganya bisa mencapai Rp 50.000/liter! Loh kok mahal amat? Di kawasan Indonesia Barat terutama di Pulau Jawa, harganya dipukul rata yaitu Rp 6.450/liter. Buset bedanya jauh amat yak! Kenapa bisa begitu? Karena sebelum 2016, pemerintah memang masih sangat kesulitan melakukan proses distribusi BBM ke daerah Indonesia timur karena keterbatasan infrastruktur dan transportasi. Akibatnya, pasokan BBM di sana jumlahnya jauh lebih sedikit daripada kebutuhan masyarakatnya. Orang yang butuh banyak, tapi jumlah pasokan barang sedikit. Ujung-ujungnya apa? Ya supaya terseleksi siapa yang layak kebagian barang, harganya meningkat setinggi langit! Secara teori di pelajaran ekonomi seringkali dijelaskan dengan D>S, kelebihan permintaan (excess demand), maka P akan naik.

Nah, situasi yang seperti inilah yang dikenal dengan Cost-push Inflation atau Inflasi Desakan Harga. Inflasi jenis ini terjadi karena kelangkaan barang akibat dari proses distribusi yang ngga lancar, atau terjadi bencana alam, panen gagal, atau kesulitan mendapatkan bahan baku sehingga proses produksi jadi terganggu.

2 Demand-pull Inflation

Kalo inflasi jenis ini, contoh yang paling gampang gini, lo pernah kepikir nggak kalo seandainya uang jajan lo lebih gede dari yang lo dapet sekarang. Misalnya duit jajan lo sekarang sebulan Rp 500.000, tiba-tiba Mama naikin uang jajan jadi Rp 1.000.000/sebulan. Ya secara natural, biasanya lo terdorong untuk belanja lebih banyak daripada waktu duit jajan lo sedikit. Nah, sekarang bayangin kalo fenomena ini terjadi dalam skala yang besar dalam masyarakat luas. Tiba-tiba semua orang pada doyan belanja! Kalo permintaan naik, lagi-lagi lo bisa tebak sendiri gimana respond para pedagang dengan otak bisnisnya? Yup, lagi-lagi naikkin harga.

Nah, rantai sebab-akibat inilah yang disebut Demand-pull Inflation atau Inflasi Tarikan Permintaan. Inflasi jenis ini terjadi karena adanya kelebihan permintaan secara agregat atau keseluruhan (Aggregate Demand/AD) sebuah negara. Kenapa permintaan barang dan jasa kok bisa naik secara keseluruhan gitu sih? Biasanya penyebabnya adalah adanya kelebihan likuiditas atau peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat.

 

Jenis Inflasi Berdasarkan Asal Penyebabnya

Oke, secara garis besar lo pasti makin paham penyebab dari fenomena inflasi. Tapi yuk kita coba gali lagi lebih mendalam tentang penyebab inflasi.

Dalam melihat fenomena ekonomi secara nyata, kita ga boleh lupa bahwa dunia udah semakin terintegrasi, terutama dari sisi ekonominya. Gampang banget ngeliatnya di kehidupan sehari-hari. Coba deh lo cek, seluruh gadget lo buatan mana? peralatan elektronik rumah tangga seperti AC, kulkas, TV, rice-cooker, dll buatan mana? Nah, ada banyak banget produk yang kita gunakan itu tidak hanya melibatkan industri dalam negeri lho. Hubungan industri ini ga hanya dalam level barang konsumsi saja, tapi juga pada level bahan baku, seperti biji besi, timah, kapas, gula, pasir, kayu, semen, dll. Nah, dari situ kita bisa melihat bahwa iklim industri di luar akan berdampak juga pada kondisi ekonomi di Indonesia, dan juga sebaliknya.

Hubungan ekonomi antar negara inilah yang juga memungkinkan terjadinya inflasi. Inflasi yang terjadi di negara lain bisa ikutan “kebawa-bawa” sampai ke negara kita juga lho ketika kita belanja dari negara lain. Makanya inflasi juga bisa dikelompokkan berdasarkan sumbernya, yaitu Imported Inflation dan Domestic Inflation.

1 Imported Inflation

Inflasi jenis ini bisa terjadi ketika negara kita melakukan pembelian dari negara yang sedang mengalami inflasi yang tinggi, sehingga barang-barang di negara tersebut kan tinggi tuh. Jadi kebawa deh harga tingginya itu ke pasar domestik. Misalnya pemilik toko alat elektronik seperti handphone atau laptop, yang bahan bakunya kebanyakan berasal dari China. Kalo pas China lagi mengalami inflasi yang tinggi, maka harga barang-barang tersebut dari negeri asalnya juga pasti akan jadi lebih mahal kan?

Pelabuhan Tanjung Priok sebagai salah satu jalur distribus export/import

Karena para importir di Indonesia mendapatkan barang dengan harga lebih mahal dari biasanya, apa yang mereka lakukan pas dijual di Indonesia? Yak, harganya juga akan lebih mahal. Inilah yang disebut dengan imported inflation, karena inflasi yang sebenernya terjadi di negara lain jadi kebawa-bawa masuk ke negara kita melalui hubungan dagang tadi.

2 Domestic Inflation

Inflasi domestik berarti dalam negeri dong, maksudnya gimana nih? Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri yang kurang tepat. Nanti kita bakalan bahas tentang penanggulangan inflasi melalui berbagai kebijakan dari Bank Indonesia. Nah, kalo pengambilan kebijakan itu dilakukan di saat yang tidak tepat, maka bisa jadi terjadi inflasi.

Selain kesalahan keputusan dari Bank Indonesia, bisa juga kesalahan terjadi pada kebijakan mengenai pajak. Masih inget tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (konten zenius.net kelas XI K2013 tentang APBN dan APBD). Di situ kan dibahas ya bahwa salah satu sumber pendapatan pemerintah adalah melalui penerimaan pajak yang harus dibayarkan oleh perorangan dan juga oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Nah kalo Pemerintah menetapkan pajak yang terlalu rendah, sedangkan belanja negaranya tinggi, akhirnya kan APBN-nya defisit. Nah kalo udah defisit gitu, kemungkinan besar pemerintah harus memotong anggaran belanjanya. Kalo yang dipotong adalah anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur, ini berpotensi untuk memicu inflasi. Karena akhirnya distribusi barang jadinya terganggu karena dukungan infrastruktur yang kurang. Hal kayak inilah yang disebut dengan domestic inflation, karena disebabkan oleh faktor-faktor yang terjadi di dalam negeri.

 

Apakah Inflasi Selalu Menandakan Bahwa Kondisi Ekonomi Memburuk?

Nah, setelah lo mengetahui  komponen apa aja yang penyebab inflasi, sekarang pertanyaannya :

"Apakah inflasi itu buruk? Apakah inflasi itu selalu menunjukkan bahwa ekonomi suatu negara buruk?"

Kalo lo cek data ekonomi negara mana pun di dunia ini, lo pasti akan nemuin yang namanya laju atau tingkat inflasi deh. Maupun negara paling maju dan makmur di dunia ini sekalipun pasti akan mengalami inflasi. Lho emang semua negara mengalami inflasi? Jawabannya IYA. Inflasi emang merupakan salah satu fenomena dalam ekonomi makro yang sangat umum alias sangat wajar.

Terus pertanyaannya sekarang, inflasi tuh sebenarnya hal yang positif apa negatif sih? Kalo liat dari apa yang udah kita bahas dari tadi sih kok kayanya negatif ya? Siapa sih yang suka sama kenaikan harga? Kalo harga barang dan jasa naik terus, berarti kan masyarakatnya juga harus cari uang lebih banyak lagi dong ya buat memenuhi kebutuhan hidupnya? Kedengerannya kok bukan kondisi yang bagus sih?

Masih inget cerita gue tadi soal uang jajan gue zaman gue SMA? Dari cerita itu keliatan kan ya kalo nilai uang Rp 5.000 di tahun 1990an emang jauh tinggi nilainya dibanding Rp 5.000 sekarang. Padahal nominalnya sama-sama Rp 5.000. Berarti kita bisa simpulin ya bahwa inflasi membuat nilai uang semakin berkurang harganya. Hal ini jelas akan merugikan ya kalo misalnya lo nabung sebanyak-banyaknya di celengan. Karena 10 tahun kemudian, uang yang lo tabungin itu nilainya bakalan udah lebih kecil dibanding waktu lo tabungin.

Sekarang coba lo liat deh kehidupan sehari-hari buat orang-orang yang bekerja. Misalnya seorang karyawan di perusahaan A dapet gaji Rp 3.000.000/bulan. Dia udah kerja di perusahaan A itu selama 8 tahun dan gajinya dari dulu segitu. Kebayang kan bahwa 8 tahun yang lalu, dengan uang Rp. 3.000.000 itu dia mungkin bisa beli macem-macem. Tapi nilai uangnya sekarang udah ngga segede dulu lagi, karena selama 8 tahun ini terjadi inflasi. Nah, ini kan sebenernya berarti pendapatan dia turun toh? Nominalnya sih engga turun, tapi nilai riil-nya turun kan ya? Inilah yang dibilang kalo inflasi tuh menurunkan pendapatan riil seseorang. Makanya biasanya perusahaan ada kebijakan kenaikan gaji karyawan setiap tahunnya, dan seharusnya kenaikan gaji ini juga menyesuaikan dengan tingkat inflasi.

Jadi balik lagi nih, apakah inflasi tuh selalu merugikan perekonomian? Jawabannya: Nggak selalu merugikan. Kenapa kok ga selalu merugikan? Karena dalam kenyataannya, adanya inflasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Lho kok bisa? Coba ya kita liat, kalo misalnya terjadi inflasi nih di Indonesia karena jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat sebagai akibat dari banyaknya kredit yang dikucurkan oleh pihak perbankan, pasti masyarakat bakalan beli barang dan jasa lebih banyak lagi kan? Sebagai akibatnya, permintaan secara umum atau Aggregate Demand kan jadinya meningkat tuh, terus terjadilah inflasi. Tapi di sisi lain, peningkatan konsumsi masyarakat ini kan pada akhirnya meningkatkan Pendapatan Nasional atau Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic Product/GDP) kan? Dalam pengertian lain, inflasi pada tingkat tertentu dibutuhkan untuk mendorong roda ekonomi untuk terus maju.

Inget salah satu cara menghitung pendapatan nasional adalah dengan menggunakan persamaan berikut:

GDP=C+I+G+(X-M)

  • C = konsumsi
  • I = investasi
  • G = pengeluaran pemerintah
  • X = ekspor
  • M = impor

 

Cara Penghitungan Inflasi

Nah setelah kita mengetahui komponen-komponen yang menyebabkan inflasi, gua harap itu semua udah cukup menjawab pertanyaan kenapa harga barang yang kita konsumsi sehari-hari selalu naik setiap tahun. Sekarang masalahnya, tingkat kenaikan itu bisa dihitung ga? Seberapa besar tingkat inflasi? Sampai sejauh mana inflasi dikatakan wajar? Bagaimana cara mengukurnya?

Biasanya di tiap negara ada sebuah badan pemerintah yang ngurusin statistik. Di Indonesia, kita punya Biro Pusat Statistik (BPS). Setiap bulan BPS mempublikasikan inflasi Indonesia berapa persen dan angka ini didapet dari hasil pengumpulan data yang kemudian diolah lebih lanjut. Data yang dikumpulin tuh data apa sih? Secara teori, ada beberapa pendekatan yang digunakan, di artikel ini gua akan bahas 2 pendekatan yang paling populer yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) dan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI). Gimana penjelasan dari 2 pendekatan di atas?

1. Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI)

Intinya IHK adalah sebuah indeks berdasarkan harga yang dibayarkan oleh konsumen untuk membeli barang dan jasa tersebut. Di Indonesia, tim BPS mengumpulkan data harga konsumen, yaitu agregat  harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat umum di Indonesia.

Apakah itu berarti semua barang dan jasa yang dibeli? Ya engga dong, bisa gempor mereka kalo ngumpulin semua data harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari 240 juta jiwa. Jadi tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa yang dijadikan acuan untuk menghitung inflasi, mencakup antara 225-462 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok pengeluaran seperti misalnya: bahan makanan, makanan jadi, minuman, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga transpor, komunikasi, dll

Setelah mengambil data tersebut pada 82 kabupaten dan kota di Indonesia, kemudian penghitungan berdasarkan IHK itu diolah dengan menggunakan rumus:

LajuInflasi=\frac{(IHKt - IHK_{t-1})}{IHK_{t-1}} \times 100%\

Jadi pada prakteknya, IHK inilah yang paling umum digunakan untuk menghitung laju inflasi oleh berbagai negara di seluruh dunia. Nih dari tabel di bawah ini lo bisa liat deh hasil penghitungan laju inflasi yang dilakukan oleh BPS.

perhitungan-inflasi
Hasil Penghitungan Inflasi Indonesia dengan pendekatan IHK sejak 2014-2016 (2016 s/d September)

 

2. Indeks Harga Produsen (IHP) atau Producer Price Index (PPI)

Selain pendekatan IHK, ada juga pendekatan IHP. Pada dasarnya kedua pendekatan ini sama-sama mau menghitung perkiraan tingkat inflasi. Cuma kalo IHK meninjau dari sisi harga yang dibayar konsumen, kalo IHP meninjau indeksnya dari harga produsen, yaitu harga yang diterima oleh produsen dalam menjual barang dan jasanya. Jadi intinya harga produsen adalah harga dasar, yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Harga Dasar = Harga Pembelian - pajak nilai tambah - pajak produksi + subsidi

Seperti IHK juga, untuk IHP tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa di berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan dan penggalian, dan industri pengolahan, akomodasi, makanan dan minuman di 8 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua.

Dalam praktiknya, memang pendekatan IHP ini lebih jarang dipake untuk ngitung inflasi. Alasannya, karena memang lebih sulit mengumpulkan data pembelanjaan industri yang pastinya menyangkut rahasia dapur dari banyak perusahaan. Jadi pada prakteknya hal ini lebih sulit dilakukan dibandingin dengan ngumpulin data IHK.

 

Tingkat Inflasi yang Wajar itu Berapa Ukurannya?

Nah, setelah lo tau penyebab inflasi, dampak inflasi, dan cara menghitungnya. Maka pertanyaan berikutnya adalah:

Berapa sih ukuran tingkat inflasi yang wajar? Sampai pada sejauh mana tingkat inflasi bisa dikatakan merugikan?

Sebagaimana kita ketahui bahwa inflasi bisa jadi berdampak positif pada ukuran tertentu, tapi juga bisa berdampak negatif jika kebablasan. Terus yang dibilang inflasi yang merugikan tuh sebenernya berapa sih? Nah, ini pengelompokkan inflasi berdasarkan tingkat keparahannya:

  1. Creeping / Low Inflation atau Inflasi Rendah : < 10% per tahun
  2. Galloping / Moderate Inflation atau Inflasi Menengah : 10%-30% per tahun
  3. High Inflation atau Inflasi Tinggi : 30%-100% per tahun
  4. Hyperinflation atau Hiperinflasi : > 100% per tahun

Kalo lo sempet denger dari orangtua atau kakak lo, pada tahun 1998 negara kita sempat mengalami krisis moneter yang ditandai dengan inflasi yang sangat tinggi. Berdasarkan ukuran di atas, secara umum krisis moneter Indonesia tahun 1998 masuk ke kategori High Inflation. Ini udah bisa dikatakan gawat banget ya, apalagi kalo udah menyentuh hiperinflasi. Teorinya sih, sebisa mungkin lembaga kontrol keuangan negara bisa mengendalikan inflasi untuk tetap pada level low inflation.

sejarah-inflasi-indonesia
Sejarah Inflasi Indonesia 1970-2016

Cara Penanggulangan Inflasi

Oke, sekarang kita tahu bahwa inflasi bisa berdampak positif dalam takaran tertentu, tapi bisa negatif jika kebablasan. Kita juga udah tau pengklasifikasian bahaya inflasi. Sekarang pertanyaan berikutnya adalah:

Bagaimana caranya mengendalikan tingkat inflasi sebuah negara supaya ga kebablasan?

Pastinya pihak pemerintah punya jurus tertentu dong agar tidak terjadi inflasi yang kebablasan. Gimana sih cara ngejaganya? Salah satu perangkat negara ada yang namanya bank sentral. Kalo di Indonesia, bank sentralnya dikenal dengan nama Bank Indonesia. Nah, salah satu tugas BI inilah untuk menjaga inflasi agar tetap pada level yang wajar. Gimana caranya? Salah satunya adalah dengan menentukan tingkat suku bunga acuan, yang juga dikenal dengen BI Rate. Selain itu, ada juga kebijakan pengendalian Jumlah Uang Beredar (JUB) atau Money Supply.

Mungkin lo bingung, apa hubungannya tingkat suku bunga dengan pengendalian inflasi? Jadi gini penjelasannya:

Ada 1 tolak ukur yang selalu menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi (pengusaha, pedagang, investor, dll) untuk membuat keputusan. Tolak ukur itu adalah Tingkat bunga. Tingkat bunga yang dimaksud di sini, mencakup banyak hal, contohnya bunga tabungan masyarakat, bunga deposito, bunga kredit pinjaman bank, dll. Nah, naik-turunnya tingkat bunga ini akan menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi untuk memutuskan uang mereka mau digerakkan kemana, apakah disalurkan untuk berinvestasi, disimpen di bank, atau diputer uangnya dalam usaha ekonomi riil.

Dalam kondisi ini, Bank Indonesia (BI) adalah pihak yang berwenang untuk menentukan BI Rate. BI Rate inilah yang akan menjadi acuan bagi para bankir untuk mengambil keputusan berpa persen bunga tabungan masyarakat, berapa % bunga deposito, bunga berbagai kredit yang diberikan oleh bank kepada masyarakat, dll. Terus gimana ceritanya BI rate ini bisa mengendalikan inflasi supaya ga terlalu tinggi?

Sederhananya gini, begitu BI melihat laju inflasi tinggi, BI Rate akan mereka naikkan! Lho kok malah dinaikkan? Tujuannya adalah agar masyarakat dan investor menyetorkan uangnya ke bank dalam berbagai bentuk, bisa jadi simpanan atau deposito, ataupun instrumen pasar modal lainnya. Lho iya dong, kalo bunga tinggi kan lebih untung kalo duit kita ditaro di bank, aman bebas risiko, duit nambah terus secara otomatis, ga perlu repot investasi atau jalanin usaha yang berisiko gagal. Tapi di sisi lain, tanpa sadar hal itu juga akan berpengaruh pada jumlah uang beredar! Semakin kecil jumlah uang beredar, inflasi semakin bisa ditekan!

inflasi-bi-rate
Tingkat Inflasi dan Kebijakan BI Rate dari Bank Indonesia (2005-2016)

Cara lain yang bisa dilakukan BI untuk mengontrol inflasi namanya Operasi Pasar Terbuka atau Open Market Operation. Prinsipnya sama, yaitu pengontrolan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Namun untuk bisa meminimalisir jumlah uang beredar, BI secara aktif melakukan penjualan atau pembelian surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yang dikenal dengan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI ini bentuknya macem-macem, dari surat-surat berharga (tanah), sampai kepemilikan saham, dsb. Tujuannya adalah supaya pelaku ekonomi tertarik untuk membeli SBI sehingga jumlah uang beredar jadi berkurang dan beralih menjadi bentuk tabungan.

Bank Indonesia mengendalikan jumlah uang beredar

Kedua cara di atas sebetulnya bisa dilakukan untuk mengontrol deflasi (kebalikan dari inflasi). Jika BI melihat bahwa deflasi sudah semakin parah, maka BI akan menurunkan BI rate dan akan membeli surat-surat berharga. Tujuannya supaya uang beredar bertambah. Sebaliknya kalo BI menilai bahwa jumlah uang yang beredar itu terlalu sedikit sehingga inflasi jadi terlalu rendah, maka BI akan melakukan pembelian SBI dari masyarakat. Tujuannya adalah supaya masyarakat memegang uang lebih banyak dan meningkatkan konsumsinya, sehingga pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ngerti kan sekarang konsepnya. 🙂

******

Yak, demikianlah cerita singkat gue tentang inflasi. Gua harap artikel ini bisa menjawab dari pertanyaan sederhana "kenapa harga barang selalu naik?" sekaligus juga memahami fenomena inflasi secara tuntas dan mendalam. Jika boleh gua rangkum, pada dasarnya fenomena kenaikan harga barang dari waktu ke waktu (inflasi) adalah suatu fenomena ekonomi yang sangat wajar dan bahkan bisa jadi memicu perkembangan ekonomi dalam takaran tertentu. Dia bisa jadi lawan ataupun kawan. Semuanya tergantung dari kondisi perekonomian saat itu dan bagaimana sikap kita sebagai pelaku ekonomi menghadapinya. Dengan adanya artikel ini, moga-moga wawasan lo semakin bertambah, khususnya dalam memahami fenomena ekonomi secara luas. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Referensi:

Boediono. Ekonomi Moneter. BPFE-YOGYAKARTA. Yogyakarta: 2001.
Case, Karl E., and Ray C. Fair. Principles of Economics, 9th  ed. Pearson International Edition. Prentice Hall, USA. 2009.
Nopirin. Ekonomi Moneter Buku II. BPFE-YOGYAKARTA. Yogyakarta: 2000.
Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Ekonomi Makro. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta: 2011.
www.bi.go.id
www.bps.go.id
www.worldbank.org/en/country/indonesia

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Meby Damayanti adalah tutor ekonomi di zenius.net. Sebelum bergabung di Zenius Education, Meby bekerja di berbagai kegiatan kerjasama antar pemerintah dalam bidang ekonomi dan kebijakan publik. Meby menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti jurusan Ilmu Ekonomi, dan kemudian melanjutkan ke School of Economics, the University of Adelaide di Australia dengan jurusan Applied Economics.

Follow Twitter Meby at @KuningCerah

  • yudha pratama

    Maaf out of topic, kenapa video xpedia guide 1 dan xpedia guide 2
    dihapus dari bab zenius learning, padahal menurut saya itu adalah salah
    satu sub-bab palig penting untuk menyusun kerangka belajar ?

    • Halo Yudha, kemarin saya tanya departemen terkait. Beberapa alasan mereka utk menghapus video tsb adalah:

      1. Video tsb dibuat tahun 2006 jadi informasi yang diberikan sudah tidak relevan utk tahun 2016, dari nama istilah, sistem ujian, dll.
      2. Kebanyakan isi informasi yang ada pada video tsb (termasuk menyusun kerangka belajar), juga dijelaskan pada video-video lain di zenius learning. Jadi utk alasan efisiensi, diputuskan utk menghapus konten Xpedia guide.

      • yudha pratama

        oke kak, makasih infonya.

  • Dian

    ngebantu banget kak, makasih. oh iya, boleh request topik ngga? aku mau belajar tentang elastisitas permintaan dan penawaran (pergeseran kurvanya)

  • Adib Zainuri

    Menarik topik yang dibahas kali ini
    gimana dengan isu akhir" ini yang beredar tentang Rush Money Zen ?

    • Meby Damayanti

      Nah ini emang menarik banget nih, dari berita-berita yang beredar pasti lo tau kan kalo isu rush money itu bisa banget dibuat dan disebarluaskan oleh siapa aja, bahkan oleh oknum yang ngga jelas dan ngga bertanggungjawab. Tapi dari sini keliatan kan ya isu ini juga nunjukin bahwa ekonomi terkait erat sama stabilitas sosial dan politik sebuah negara, kayak pengalaman di tahun 1997-1998. Karena di saat kondisi sosial dan politik
      ngga stabil, masyarakat jadi takut terjadi inflasi yang tinggi, karena kegiatan ekonomi pastinya terganggu. Tapi utk isu rush money yang beredar di Jakarta awal bulan ini udah berhasil diredam dan pihak kepolisian juga udah menetapkan status tersangka kan ya ke orang yang menyebarkan isu tersebut?

  • Alfinsa EP

    Artikel keren lagi dari zeni, yey! Kayak lagi baca jurnal atau paper (kayak pernah baca aja gue haha)

    • Meby Damayanti

      Terima kasih, Alfinsa 🙂
      Boleh juga lho sekali-sekali baca jurnal atau academic paper, terutama yang berkaitan sama isu-isu yang menurut lo menarik. Pasti beneran "hanyut" deh lo sama isinya. Hehe ;p

      • Alfinsa EP

        Weleh dijawab, hehe. Boleh dong minta referensi link academic papernya? Hehe.

        • Meby Damayanti

          Banyak banget kok academic paper dan jurnal-jurnak yang bisa diakses dengan bebas. Misalnya BI (http://www.bi.go.id/id/publikasi/jurnal-ekonomi/Default.aspx) atau Kementerian Keuangan RI (http://www.fiskal.kemenkeu.go.id/dw-kek.asp) atau dari berbagai kampus di seluruh dunia, tinggal lo search aja nama kampusnya atau pake keyword topik yang menurut lo menarik + journal atau + academic paper gitu.. Pasti muncul banyak banget deh yang bakal lo temuin, bisa baca tanpa harus berlangganan jurnalnya.

          • Alfinsa EP

            BTW, ada yang mau gue tanyain tentang rumus-rumus di Ekonomi, especially tentang biaya produksi macem MC, TC, AVC, dll yang ada beginian: ΔQ/ΔP (dan semacemnya, gue agak lupa muncul di mana aja)

            Kenapa rumus yang delta-deltaan itu bisa jadi turunan dari fungsinya? Bingung nih.

          • Meby Damayanti

            Tunggu.. Tunggu.. Gue agak bingung sama pertanyaan lo nih. MC, TC, AVC, dll ini kan mengenai biaya produksi ya? Karena C-nya disitu adalah Cost (biaya), jadi MC adalah Marginal Cost, TC adalah Total Cost, AVC adalah Average Variable Cost. Lalu masih ada lagi AFC yaitu Average Fixed Cost, AC yaitu Average Cost. Nah lo masih inget kan kalo ngitung biaya produksi total atau yang dikenal dengan Total Cost (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (Fixed Cost/FC) dan biaya variabel (Variable Cost/VC).

            Nah rumus dari biaya total rata-ratanya atau Average Total Cost (ATC), ini bisa juga dituliskan sebagai biaya rata-rata atau Average Cost (AC) saja, adalah penjumlahan dari AFC dan AVC. Namanya juga rata-rata ya, jadi menghitung ATC adalah dengan rumus TC/Q. Bener nggak? Otomatis utk AFC juga dihitung dengan rumus FC/Q dan AVC dengan rumus VC/Q.

            Kalo untuk ΔQ/ΔP, ini sih rumus untuk menghitung elastisitas permintaan atau penawaran, seperti yang dijelaskan di video-video ini https://www.zenius.net/c/5481/permintaan-penawaran-dan-keseimbangan-pasar.

            Tapi gue coba main tebak-tebak ya? Mungkin maksud lo menghitung biaya marjinal atau Marginal Cost (MC) yang dihitung dengan rumus ΔTC/ΔQ = 0? Kalo bener ini pertanyaan lo, ini sih sebenernya cuma fungsi matematis aja mengenai persamaan diferensial. Untuk lebih lengkapnya mungkin lo bisa cek link ini https://id.wikipedia.org/wiki/Kalkulus_diferensial

            Intinya kalo turunan pertama dari sebuah fungsi = 0, maka angka tersebut menunjukkan titik kritis, yaitu titik maksimum atau titik maksimum, kaya di gambar di bawah ini nih. https://uploads.disquscdn.com/images/6557e98f0eb69615e88f29825d293b40bb340cd7eb2efd9866d67bbf7493e273.jpg

            Gue menjawab pertanyaan lo nggak?

          • Alfinsa EP

            Sebenernya pertayaan gue lebih khusus ke persamaan diferensialnya sih. Misal nih, (gue ambil dari salah satu buku)
            1) MU (Marginal Utility) = ΔTU/ΔQ atau MU = TU'
            2) MR (Marginal Revenue) = ΔTR/ΔQ atau MR = TR'
            3) MC (Marginal Cost) = ΔTC/ΔQ atau MC = TC'
            Pertanyaan gue:
            - Makna dari marginal sama dengan turunan dari total itu apa? Kenapa harus turunannya gitu? Dari mana asal muasal rumus turunan begitu?

            Kira-kira gitu sih pertanyaan gue. Maaf ya bikin bingung. Sebelumnya gue udah nanya ke tentor di bimbel, tapi masih gak ngerti essence-nya gitu.

          • Meby Damayanti

            Aaaahhh... OK, gue akan coba jelasin konsepnya melalui salah satu rumus yang lo tulis itu ya? Misalnya yang tentang MU. Nah sebelum masuk ke konsepnya, gue mau bahas dikit tentang TU dan MU ini. Lo masih inget kan kalo ini merupakan analisis perilaku konsumen dengan pendekatan kardinal? Di sini ada sedikit penjelasan tentang topik ini nih https://www.zenius.net/c/5790/peran-pelaku-ekonomi-dalam-kegiatan-ekonomi-teori

            Nah di situ kan dikenalin tuh sama yang namanya Hukum Gossen I ya? Bahwa konsumsi suatu benda (barang ataupun jasa) secara terus menerus pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kepuasan (utilitas). Jadi begitulah penjelasan kenapa kepuasan maksimum dihitung dengan rumus MU=0. Ya soalnya secara matematis, kalo MU=0 itu posisinya adalah di titik kritis.

            Kalo konsepnya, intinya sih gini. Yang namanya marjinal itu kan artinya tambahan ya? Jadi MU kan definisinya adalah tambahan kepuasan yang diperoleh konsumen sebagai akibat dari tambahan 1 unit benda yang dikonsumsi. Nah, selama tambahan kepuasannya itu positif, konsumen cenderung akan menambah konsumsinya terus. Sampai akhirnya dia nyampe di titik dimana ketika konsumsinya ditambah, tambahan kepuasannya udah nol, dan kalo diterusin malah bakal jadi negatif.

            Contohnya gini deh. Lo pulang sekolah naik bis di suatu hari yang amat sangat terik. Nyampe rumah, lo pastinya kegerahan kan tuh ya? Cape dan keringetan. Kemungkinan besar lo bakalan langsung ngeloyor ke kulkas atau dispenser air minum tanpa ganti baju dulu deh. Lo ambil gelas n isi sama aer dingin. Gelas pertama lo minum sampe abis. Gimana rasanya? Pasti mantep banget ya? Tapi masih haus nih.. Isi lagi gelasnya, minum lagi.. Gitu terus.. Mungkin sampe gelas ke-6 lo udah mulai kekembungan kali tuh ya? Terus kalo lo maksain minum gelas ke-7, yang ada lo bakalan muntah kayanya deh. Iya ngga? Nah ini bisa digambarin sama kurva di bawah ini

            https://uploads.disquscdn.com/images/841223b8d2ac2006494caf3d6ac1f86f79f6e75f77f50c04ecf354045809a2c2.png

            Gambar ini nunjukkin bahwa ketika lo minum gelas pertama, kepuasan total (TU) lo adalah sebesar 10 (titik A), karena MUnya juga 10. Gelas ke-2 bikin TU lo jadi sebesar 18 (titik B), karena MUnya 8. Gelas ke-3, TU lo jadi sebesar 24, karena MUnya 6. Dan seterusnya sampe gelas ke-6 TU lo 28, karena MUnya 0. Di sini, kalo lo minum segelas lagi, gelas ke-7 akan bikin TU lo turun jadi 26 karena udah kekembungan, dan MUnya pun udah -2. Makanya kepuasan maksimum lo capai ketika MUnya sebesar 0. Gitu looh..

            Nah untuk konsep marjinal yang lainnya, MR dan MC juga konsepnya sama. Cukup jelas gak? 🙂

  • Daoutlier

    Kerrennnnnnn. Btw kak itu rumusnya dpt dr mana?? ???.
    Ada lagi, kalo lebaran kan harga naik (spt yg udah kakak jelaskan) itu karna banyaknya permintaan. Tapi apa penyebab utamanya memang itu? Atau ada faktor yg lebih penting lg yg menyebabkan kenaikan waktu lebaran?

    • Meby Damayanti

      Hi Daoutlier, rumus yg mana nih yg lo tanyain?
      Kalo soal harga naik pada saat menjelang Lebaran, lebih banyak pemicunya adalah kelebihan permintaan (excess demand), seperti yang dijelasin di artikel ini. Tapi di samping itu juga adanya pertambahan jumlah uang beredar, karena banyak orang yang bekerja di menerima Tunjangan Hari Raya (THR) kan dari kantornya. Nah kedua hal inilah yang kemudian jadi pemicu kenaikan harga tadi.

      • Daoutlier

        Yang rumusnya Irving Fisher sama IHK kok bisa gitu sih rumusnya ??

        • Meby Damayanti

          Oh kalo yang teori kuantitas uang oleh Irving Fisher itu sih cuma nunjukin hubungan antara jumlah uang beredar (M), yang ditentukan oleh bank sentral suatu negara, dan kecepatan perputaran uang (V), dengan tingkat harga (P) dan jumlah transaksi yang terjadi (T). Kenapa rumusnya begitu? Soalnya seperti ilustrasi singkat di artikel ini tentang penjual dan pembeli di kelas itu.

          Kalo rumus perhitungan laju IHK sih sebenernya cuma menghitung seberapa besar (dalam persentase) IHK tahun ini dibandingkan dengan IHK tahun lalu aja.

          • Daoutlier

            Oh begitu, terimakasih banyak kak!

          • Meby Damayanti

            Sama-sama 🙂

  • Zuhry

    langsung jatuh cinta aq sama tulisan ini (sama penulisnya juga #haha)...diperbanyak lagi yh informasi kyk gini, soalnya pentiiiiiiiiiiiiiiiiiiing banget min (*bagi saya)

    • Meby Damayanti

      Terima kasih yaa Zuhry.. Stay tune di http://www.zenius.net. Pasti banyak lagi deh artikel-artikel menarik yang ngebahas tentang berbagai topik 😉

  • HIB

    Bagus bangeettss 🙂 ngangkat dari isu akhir2 ini.menurut gua rush money malah ngimbas ke bangsa sendiri.inflasi bakal naik.cakep buat nglawan dosen gua yg nyuruh nglakuin 212 -_- berdalih mau majuin Indonesia,malah nglumpuhin perekonomian itu sendiri -_- thankss.ijin share yaaa 🙂

    • Meby Damayanti

      Hi HIB, senang artikelnya bisa ngebantu. Tapi itu dosen lo kenapa? Haha.. Jangan dilawan, coba ditanya kenapa dia nyuruh lo ngelakuin itu. Nah nanti argumennya lo share deh ke kita-kita, siapa tau bermanfaat utk pembelajaran kita semua kan? At least lo sendiri udah ngerti kan soal isu rush money dan hubungannya dengan kesehatan kondisi sosial, ekonomi dan politik sebuah negara..

  • Jansen Alfredo

    Kan ada tulisan (IHKt - IHKt)-1 / IHKt-1 dikali 100%
    Nah itu artinya 0 - 1 / IHKt-1 dikali 100%.
    Jd yg benar (IHKt - IHKt-1) / IHKt-1 dikali 100%, di mana
    IHKt = IHK pada waktu (t) tertentu
    IHKt-1 = IHK sebelum IHKt

    • Meby Damayanti

      Hi Ncen. Iya, ini sepertinya ada kesalahan layout penulisan. Harusnya IHK tahun t dikurangi dengan IHK tahun t-1) dibagi dengan IHK tahun t-1 kemudian baru dikalikan dengan 100%. Thanks ya masukannya, akan segera diperbaiki supaya ngga membingungkan lagi.

      • Jansen Alfredo

        Okay.

    • barusan udah gua revisi

      • Meby Damayanti

        Thanks Glenn

  • Jansen Alfredo

    "Di Indonesia, tim BPS mengumpulkan data harga konsumen, yaitu agregat harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat umum di Indonesia."
    Gue msh blm kebayang, gimana kira-kira tim BPS ngitung data tersebut? ngitungin rata-rata tiap orang beli beras brp rupiah tiap bulan? ngecek dari transaksinya? or gimana yah? hehe

    • Meby Damayanti

      Yup, tugas BPS untuk ngumpulin data harga-harga barang dan jasa itu dilakukan hanya di beberapa pasar tradisional dan modern, serta outlet penjualan yang telah dipilih sebelumnya untuk mewakili tingkat harga di kabupaten/kota yang bersangkutan. Nah, di pasar dan outlet yang udah dipilih tadi, tim BPS akan ngewawancara secara langsung 3-4 orang pedagang eceran yang jualan di situ untuk ngedapetin data harga dan jumlah penjualan barang dan jasa yang akan digunakan untuk ngitung IHK.

      Pemilihan sampelnya (pasar/outlet, pedagang, komoditas dan kabupaten/kota) dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Artinya sampel yang diambil untuk pengumpulan data ini tidak dilakukan secara acak (random), tapi dipilih berdasarkan alasan tertentu. Misalnya dipilih pasar tradisional A karena lebih dari 50% masyarakat di kabupaten/kota tersebut belanjanya di pasar tersebut.

      Kemudian pengumpulan data harga-harga barang dan jasa ini juga frekwensinya beda-beda, tergantung dari karakteristik barang dan jasa itu sendiri. Misalnya data harga beras ini dikumpulin setiap hari, soalnya kan setiap hari pada umumnya masyarakat Indonesia makan nasi ya. Tapi kalo data yang berhubungan dengan jasa pendidikan atau kesehatan ini dikumpulinnya setiap bulan. Untuk lengkapnya, bisa dicek di sini nih http://bps.go.id/Subjek/view/id/3#subjekViewTab2|accordion-daftar-subjek2 .

      Mudah-mudahan menjawab pertanyaan lo ya..

      • Jansen Alfredo

        Ouh, iya, udah kebayang gue. Di link tersebut juga udah dijelasin. Sip. Thx meb.

  • Puji

    artikelnya keren , tp gue mau nanya kak,
    kakak gue pernah magang di BI terus dia bawa semacem uang yang udh dirobek2 kecil ,ada pecahan 100 rb , 50rb , pokoknya uang kertas ,trus kata kakak gue itu uangya udah ga layak buat masyarakat makanya dirobek2 , tp entah kenpa gue liat yang robek2an itu keknya masih layak keknya
    tujuanya duit yg dirobek2 itu apasih atau jangan2 mau ngurangin jumlah uang beredar ,tp klw dirobek kan sayang bagus di kasih sama UKM kan masih ada juga manfaatnya (ini sih menurut gue)whehehe tolong jawab ya kak
    thank you

    • Yup, sudah tugas bank Indonesia utk mengontrol peredaran uang, jangan heran kalau dengar berita bahwa bulan September lalu, Bank Indonesia memusnahkan uang sampai Rp 29 Triliun. Bagi kita yang hanya melihat dari sisi ekonomi mikro, pasti terpikir bahwa "Kenapa uangnya ga dibagikan ke rakyat miskin atau UMKM saja?"

      Tapi dalam konteks makro, pemusnahan uang ini tindakan yg tepat. Kalo uang2 tsb dialokasi (misalnya dalam bentuk BLT), dampaknya adalah inflasi dan yang merasakan kerugiannya jutaan rakyat Indonesia.

      http://wartakota.tribunnews.com/2016/09/09/bank-indonesia-musnahkan-uang-rp-29-triliun

    • Meby Damayanti

      Nah bener tuh kata Glenn. Gue tambahin dikit ya.. Emang kadang BI terpaksa ngancurin uang kertas ataupun logam, misalnya dianggep udah nggak layak beredar karena robek atau rusak. Atau bisa juga uang yang diancurin itu ternyata adalah uang yang terdeteksi sebagai uang palsu. Kalo palsu kan ngga mungkin ya diedarin lagi ke UKM atau masyarakat yang kurang mampu.

      Kalo untuk ngontrol Jumlah Uang Beredar (JUB) sih sebenernya BI masih punya instrumen-instrumen lain, seperti yang udah dibahas di artikel ini. Kalo uangnya udah masuk ke BI, misalnya melalui Operasi Pasar Terbuka (penjualan SBI) atau meningkatkan tingkat suku bunga supaya masyarakat pada nabungin uangnya di bank dalam berbagai bentuk, sebenernya sih uangnya bisa aja disimpen sama BI dan ngga dimusnahkan, kalau memang masih layak pakai. Karena kan mungkin aja di masa mendatang, BI memutuskan bahwa JUB perlu ditambah karena kondisi perekonomian udah berubah.

      • Puji

        ooo gitu
        oh ya kak sorry gue nanya lagi hehe,utk penghancuran uang yang bg glen jelasin sampe Rp29triliun itu indonesia ga rugi yaa?eeiitss , gue kan nabung disalah satu bank ,tp itu ga pernah saldo gue dipotong per bulan ,malahan dikasih bunga2 dikit,tp kakak gue saldonya kepotong 5rb/bln klw ga salah , itu kebijakan kayak gitu dari pememrintah atau bank itu aja kak?
        2.adddduuuuh satu lagi niiih ,link yg dikasih bg glen gue masih bingung
        "Menurut dia uang tidak layak edar itu diperoleh dari hasil setoran bank setiap hari setelah dilakukan penyortiran dan yang tidak layak ditarik untuk diganti dengan yang baru"itu kita nabung ke bank trus kita kasih duit yg lusuh ,eh malah pihak bank yg ngasih uang yg layak itu apa ga rugi BI ?

        3.eehhh satu lagi kak
        http://bisnis.liputan6.com/read/2610218/utang-pemerintah-tembus-rp-3438-triliun-masih-wajar?
        pemerintah kan ngadain tax amnesty ,penanaman modal swasta sebanyak2nya, itu kok ga surut2 ya itu utangnya?trrruss utang yg sebanyak itu dikemanain aja ya? klw utk pembangunan infrastruktur kan pihak swasta ikut kerja juga tuh (wkwk itu menurut gue sih haha)atau APBN itu dari ngutang, trus pajak kemana aja KLW EMG APBN itu ngutang?kwkwk sorry ya gue harus interogasi kakak biar gue paham ,
        Thankyou

        • Meby Damayanti

          Hehhee.. ngga apa2, Puji. Kan ini emang ajang belajar dan diskusi. Kita berbagi pengetahuan yaa.. Gue seneng kok diinterogasi. Semoga lo ngga cape baca penjelasannya. Gue usahain sesimple mungkin ya..

          1. Untuk pemusnahan uang, kalo ditanya rugi apa ngga, pasti ada ruginya sih, karena kan untuk memproduksi uang kertas dan logam ada biaya produksinya ya? Butuh kertas khusus, tinta khusus, dan lain-lain sebagai bahan dasarnya. Belum lagi tenaga kerja dan mesin pembuatnya. Tapi kalo BI udah memutuskan untku memusnahkan sejumlah uang, pasti udah diperhitungkan untung ruginya melalui Cost and Benefit Analysis. Misalnya dengan memusnahkan uang sejumlah Rp. 29 triliun itu BI mengalami kerugian Rp. 10 juta. Eh tunggu deh, kok ruginya kecil amat? Ya mungkin aja, karena nilai uang yang tertera di fisik uangnya pasti lebih kecil kan ya dibandingkan dengan nilai produksinya kan? Masih inget jenis uang token ya? Nah terus kerugian tadi itu dibandingin deh sama benefits/keuntungannya, yaitu stabilitas ekonomi makro krn kalo ternyata uang yang dihancurin itu uang palsu kan gawat banget ya kalo dibiarin tetep beredar.

          Kalo untuk masalah bunga dan potongan, ini tiap bank bisa beda-beda angkanya nih. Tapi tetep semua bank umum yang ada di Indonesia akan mengacu ke kebijakan BI. Jadi bunga yang mereka berikan akan mengacu ke tingkat suku bunga acuan BI atau yang lebih umum dikenal sebagai BI Rate. Biasanya bank ngga akan ngasih bunga yang lebih tinggi dari BI Rate ini. Kalo potongan-potongan, ini biasanya ada beberapa jenis. Ada potongan pajak, yang pastinya harus sesuai sama berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Misalnya lo punya simpanan dalam bentuk tabungan atau deposito di sebuah bank. Nah simpanan lo itu kan berbunga tuh ya? Bunga itu kan termasuk penghasilan lo kan? Jadi kena Pajak Penghasilan (PPh) deh. Untuk aturannya, mungkin link ini membantu
          http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pph-final-atas-bunga-deposito-dan-tabungan-serta-diskonto-bank-indonesia
          http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-tarif-pph-untuk-bunga-deposito-dan-tabungan-lainnya

          Tapi selain pajak atas simpanan, ada juga bank yang mengenakan biaya administrasi ke nasabahnya. Kenapa gitu? Ya bank nya kan juga harus bayar gaji karyawannya ya? Jadi ada yang namanya biaya operasional. Nah biaya operasional ini sebagian didapet dari biaya administrasi untuk pemeliharan rekening nasabah. Tapi ngga semuanya, karena bank kan juga sebuah badan usaha ya, jadi pasti juga ada keuntungannya. Dari hal-hal itulah biaya operasional bank didapet. Makanya ada bank yang mengenakan biaya admin, ada juga yang engga. Ada yang ngenain biaya kalo saldonya di bawah angka tertentu.

          2. Nah untuk masalah ini, emang mungkin banget masyarakat umum nyetor uang yang lusuh atau rusak ke bank, kemudian bank nukerin ke BI. BI rugi ngga? Jelas rugi, karena biaya produksi tadi. Tapi ini udah jadi salah satu tanggungjawab BI sebagai bank sentral, yaitu mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, termasuk juga menyediakan alat pembayaran yang diterima secara umum. Dan ngga mungkin juga bank yang nerima setoran dlm bentuk uang rusak itu musnahin sendiri lalu nyetak uang sendiri, karena itu melanggar UU yang berlaku, jadi emang harus dikasihin ke BI. Dan BI sendiri juga suka ngasih layanan penukaran uang yang udah ngga laku atau ngga layak lagi lewat kas keliling ke berbagai daerah. Karena emang di daerah yang masih minim cabang bank, karena kecenderungannya masyarakat jadi nyimpen uang tunai dan mungkin ngga kerawat dengan baik, misalnya kecuci atau diuwel-uwel aja gitu.

          3. Masalah ini emang menarik banget nih. Utang negara emang ngga ada abisnya, sampe-sampe banyak yang mempertanyakan "ni negara kita kok ngutang melulu sih?? apa kondisi negara kita ngga bagus ya?" Engga juga kok, kalo lo cek data di berbagai negara, hampir semua negara di seluruh dunia punya utang kok. Nah utang ini dibagi 2 nih, ada utang pemerintah, ada juga utang swasta. Kalo utang pemerintah ya artinya pemerintah negara A ngutang sama pemerintah negara B, dari APBN negara B untuk nambahin pendapatan APBN negara A. Ada juga utang swasta, yang artinya yang ngutang adalah perusahaan di negara A, ngutang sama perusahaan di negara B. Lalu utangnya itu dipake buat apa? Kalo utang pemerintah/negara sih seharusnya dipergunakan untuk pembangunan ekonomi negara tersebut ya, misalnya pembangunan infrastruktur dan berbagai fasilitas umum lainnya, misalnya taman kota, toilet umum, gelanggang olahraga, dll. Yang lo bilang kalo untuk pembangunan infrastruktur ini pihak swasta juga ikut kerja, yup benar. Pihak swasta juga ikut nanem modal malahan, tapi kan nggak 100%, karena ini bakal nyalahin UUD 1945 pasal 33, bahwa negara lah yang harus menjadi pemilik dan penyelenggara hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Ya kan?Terus pemerintah duitnya dari mana tuh? Penerimaan APBN kan dari penerimaan pajak ya? Dan sayangnya di negara kita, penduduk yang taat pajak masih sangat minim. Ditambah lagi dengan basis data yang masih belum mendukung. Jadi pihak pemerintah pun mengalami kendala dalam memungut pajak. Misalnya aja pemungutan pajak penghasilan, di Indonesia kan sistemnya melaporkan diri ya (self-assessment). Jadi siapa juga yang tau kalo ada yang curang dan tidak melaporkan diri. Atau melaporkan kalo pendapatannya cuma Rp. 50 juta/tahun, padahal sebenernya Rp. 500 juta/tahun. Kalo ketauan sama pihak pemerintah sih ya pasti kena hukuman dan sanksi sesuai UU yang berlaku. Begitu juga sama tax amnesty, sistem pemungutannya adalah self-assessment. Jadi pemerintah berharap kalo masyarakatnya taat pajak dan taat hukum sehingga mau melaporkan diri dengan sebener-benernya.

          Kira-kira gimana tuh penjelasan gue? Semoga ngebantu ngasih pencerahan yaa 🙂

          • Puji

            waaah jadi gitu yaaa skemanya.
            jujur niiih kadang2 mama gue bayar PBB sering telat buahaha tp alasen klasiknya gini "aaah udahlah bayar PBB pun ga bakalan ngaruh kok toh duitnya kan ada tikus di kantor pajak" buset wkwkw
            kadang2 gue juga pikir gitu hahaha, tp klw gue pikir lebih panjang,klw satu org ga bayar pajak klw ditumpuk2 kan bisa juga ngeruguin pemerintah juga ya , yang gue sayangin yaaaah oknum2 ni yg bikin org kadang2 males bayar pajak
            ohhh yaa kemajuan suatu negara bisa diukur dari pendapatan pajak warga negara itu ga?ini ga masuk ya pihak swasta

          • Meby Damayanti

            Hehhehe.. Iya, emang perlu banget tuh kesadaran tinggi, baik dari pihak wajib pajak (masyarakat) maupun dari pihak pemerintah untuk pemanfaatan yang optimal. Kalo semua orang ngejalanin kewajibannya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku, pajak bisa banget menjadi salah satu indikator pembangunan negara. Soalnya kan kalo masyarakat memiliki pendapatan yang tinggi, otomatis bayar pajak penghasilannya (PPh) juga harusnya makin besar ya.. Lalu perusahaan/industri juga gitu, semakin banyak barang dan jasa yang dijual, bayar pajak penjualan (PPn) dan pajak pertambahan nilainya (PPN) juga makin gede. Begitu juga ekspor dan impor.

          • Puji

            thx banget yaaa kak,
            ntar klw ada lagi yg ga gue pahamin yaaah terpaksa gue nanya lagi dan wajib buat dijawab kwkwkw
            sekali lagi thankyou ilmunya bermanfaat

          • Meby Damayanti

            Sama-sama Puji 🙂

  • Tulus Arief Wicaksana

    jadi kan efek inflasi itu mengurangi nilai rill.
    misalnya gua mau rencanain nabung selama 1tahun, sebulan gua nabung 2jt x 12 = 24jt. terus ada barang anggap aja motor harga nya 24jt. jadi karna spt dijelaskan inflasi itu mengurangi nilai rill, jadi Pertanyaan saya, lebih baik nabung sebulan 2jt selama 1 tahun yg hasilnya 24jt, atau kredit suatu barang dgn harga sama dan cicilannya itu tetap dari awal - akhir ? *( biaya cicilan tetap sama, inflasi ttp jalan dan pendapatan bertambah tiap tahunnya ). thankss

    • Meby Damayanti

      Yup betul, salah satu efek dari inflasi adalah mengurangi nilai riil uang. Kalo pertanyaan lo ini agak susah. Kalo lo nabung Rp. 2 juta per bulan selama setahun, hasil tabungan lo di akhir tahun mungkin Rp. 24 juta banget (kalo lo nabungnya di celengan) atau bisa juga lebih sedikit (kalo lo nabung di bank, karena dapet bunga). Terus kalo lo bandingin sama beli barang seharga Rp. 24 juta, misalnya motor, dengan skema cicilan 12 bulan, ini juga harus dilihat, biasanya kredit atau cicilan-cicilan gitu kan kena bunga ya? Kadang cicilan yang katanya 0% pun akan beda harganya sama kalo lo beli secara tunai. Salah satu strategi penjual untuk jualan kredit adalah dengan cicilan 0% yang dihitung dari harga jual barang itu langsung aja dibagi dengan 12 (kalo cicilannya 12 bulan), biar keliatannya 0%. Tapi terus ada promo lagi klo lo bayar pake uang tunai atau debit, dapet cashback sekian rupiah. Sebenernya sama aja kan kaya kalo cicilan itu dikenain bunga. Iya ngga?

      • Indah Kartika Azka Sefi

        terus juga, menurut ku nyicil motor itu malah menambah pengeluaran. kenapa? karena saat kita ingin nyicil sebuah motor kita dikenai uang muka sekian ratus ribu/juta rupiah so lebih baik beli tunai karena jatuhnya lebih murah.

        • Meby Damayanti

          Perlu dihitung2 dulu sih kalo emang niat mau nyicil apapun. Uang mukanya berapa, cicilannya berapa dan durasinya berapa bulan. Nanti totalnya dibandingin sama kalo beli dengan cara tunai. Kemungkinan besar sih akan lebih murah kalo beli dengan cara tunai ya, kecuali ada promo tertentu. Nah bedanya itu dibandingin deh sama nilai uang yang hilang karena tingkat inflasi. Kan udah ngerti toh efek inflasi ini? 🙂

  • Henoch

    kak, saya sebagai anak ipa yg ga ngerti sama ekonomi tiba2 jd ngerti, keren bgt kakk, bener2 nyambung bgt sama kehidupan sehari-harii
    Kapan-kapan post tema ekonomi lagi kak biar anak ipa juga bs berbaur gitu ama anak ips kak hehehe

    • Meby Damayanti

      Makasih Henoch.. Ditunggu ya artikel ekonomi lainnya 🙂

  • rahmatrmdn

    sedikit koreksi, BPS singkatan dari Badan Pusat Statistik. Nama Biro Pusat Statistik sudah tidak digunakan sejak tahun 1997

    • Meby Damayanti

      Ah iya betul, terima kasih koreksinya ya, Rahmatrmdn. Maklum angkatan tua ;p

  • Muhammad Irfan Wicaksono

    Kak, kan BI sekarang nyetak uang baru tuh.. Banyak orang risih gitu "Kenapa sih angka 0-nya banyak banget? kenapa Rp. 10.000 gak jadi Rp.10 aja?", itu angka 0 mempengaruhi ya kak? Kalo kata orang2 dulu nambah angka 0 karena inflasi._. bener gak ya? Soalnya jaman ibu saya juga harga barang2 5-10 perak

  • damon

    jadi pola konsumtif kita ni dikontrol sama BI? wow, ane baru tau

  • Oktoni Pambudi

    Berarti mungkin ya suatu saat harga bakso semangkok Rp100.000 untuk porsi normal?

  • M Syahman Samhan

    Nice kak, clear dan lengkap banget. Usul nih, gimana kalo ada tombol subscribe di zen blog? Pasti langsung kusubscribe kak

  • Faridatul Hidayah

    Kalo mau memantau tingkat inflasi Indonesia dimana ya?