Apaan sih itu demokrasi, liberal, kapitalis, komunis, dll?

Apaan sih itu demokrasi, liberal, kapitalis, komunis, dll?

Pernah denger ga orang bilang seperti ini:

  • Awas jangan ikut-ikutan mereka yang menganut paham liberalisme!

  • Jangan baca buku-buku itu, nanti kamu jadi komunis!

  • Astaga, tokoh itu ternyata antek-anteknya kapitalis!

  • Dasar kelompok anarkis, kerjaannya merusak dan berbuat onar!

Tebakan gua sih senggaknya lo pernah dengar kalimat semacam itu, entah di social media, di sekolah, kampus, atau di organisasi yang sedang lo ikuti. Gua pribadi terus terang lumayan sering denger celetukan-celetukan seperti di atas, terutama ketika dulu gua masih SMA sampai kuliah. Yah kurang lebih sewaktu seumuran dengan kalian-kalian sekarang inilah, hehe...

Eh tapi pernah ga sih lo penasaran, sebetulnya apaan sih itu paham liberal? Apaan tuh kapitalis, komunis, anarkis, fasis, sosialis, dll? Kenapa ya istilah-istilah itu sering banget diidentikkan dengan atribut-atribut yang negatif? Apakah betul isi dari celetukan-celetukan itu? Apa betul orang liberal itu bertindak seenaknya tanpa aturan? Apa betul orang komunis itu kejam? Apakah orang kapitalis itu maksudnya orang-orang kaya yang licik? Apa betul kelompok anarkis itu sering berbuat onar?

Terus terang, dulu (waktu semester awal kuliah) gua pernah sempet dalam fase yang betul-betul penasaran dengan istilah-istilah ini. Sampai akhirnya gua coba cari tau sendiri apa artinya istilah-istilah di atas. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan makin banyak buku yang dibaca, makin banyak nonton film dokumenter, dan juga berdiskusi dengan temen-temen yang sama-sama mau belajar... Gua mulai paham bahwa pengertian dari istilah-istilah di atas itu JAUUHH lebih kompleks daripada atribut-atribut yang melekat kepada istilah tersebut. Sampai-sampai gua curiga bahwa mereka-mereka yang sering nyeletuk soal: "tokoh A itu neolib, tokoh B itu antek kapitalis, kelompok itu anarkis, dsb..." jangan-jangan sebetulnya nggak ngerti apa-apa, tapi cuma sok tau doang, hehe...

jangan-baca

Nah karena itulah pada kesempatan kali ini, gua secara khusus ingin mendorong lo semua sebagai para intelektual muda untuk mencoba menelusuri apa arti sebenarnya dari istilah-istilah di atas. Bagi lo yang mungkin was-was atau khawatir karena sempet ditakut-takutin "jangan belajar paham A, nanti kamu jadi ikut-ikutan berpaham seperti itu." Gua berani jamin itu cuma omong kosong. Nonsense! Jangan pernah takut dalam belajar & mencari ilmu. Seseorang yang belajar tentang sebuah gagasan politik-ekonomi tertentu, tidak berarti dia pasti/harus mengikuti gagasan tersebut. Nggak ada yang salah dengan belajar untuk menambah wawasan, karena jika wawasan semakin lebar, lo akan punya perspektif yang luas dalam melihat dunia ini.

Oke jadi sebetulnya apaan sih arti dari istilah-istilah di atas? Pada dasarnya istilah-istilah di atas lahir dari sekelumit proses perjalanan manusia dalam upaya mereka untuk menciptakan masyarakat ideal. Bentuk gagasan-gagasan itulah yang kemudian dirumuskan dengan istilah-istilah yang kita kenal sebagai pandangan sosial-politik-ekonomi tertentu. Ada yang namanya demokrasi, komunisme, sosialisme, liberalisme, dan lain sebagainya.

sistem-ekonomi-politik

Karena cerita tentang sejarah terbentuknya gagasan-gagasan itu puanjaaang banget, mustahil kalo gua bisa rangkum sejarah pandangan politik selama 2,500 tahun terakhir hanya dalam sebuah artikel. Jadi gua putuskan, gua hanya akan membahas ide pokok dan sejarah singkat dari beberapa gagasan sosial-ekonomi-politik yang seringkali disalahartikan. Selebihnya, gua berharap lo bisa secara proaktif terus menggali dan memperluas wawasan lo tentang berbagai gagasan sosial-ekonomi-politik dunia. Yuk kita mulai dengan istilah pertama yang lumayan sering disalahartikan, yaitu anarkisme:

Apa itu Anarkisme?

anarchy
Simbol dari gerakan anarkisme

Istilah anarkisme seringkali diidentikkan dengan aksi premanisme, perusakan, dan kekerasan. Padahal kalo lo coba menelusuri definisi dan pengertiannya, anarkisme hampir ga ada hubungannya sama sekali dengan aksi perusakan atau kekerasan. 

Lho, terus jadi apaan dong anarkisme? Secara sederhana, anarkisme adalah gagasan akan kondisi masyarakat tanpa ada figur pemimpin, tanpa ada hirarki kewenangan vertikal, tanpa ada bentuk otoritas apapun termasuk sistem pemerintahan.

Dari situ, biasanya timbul anggapan: Wah kalau tanpa pemimpin berarti pasti akan terjadi kekacauan dong? Tunggu dulu, jangan langsung menarik kesimpulan. Terlepas dari bagaimana kondisi setelahnya, definisi anarki stop berhenti sampai pada "kondisi masyarakat tanpa pemimpin dan tanpa hirarki kewenangan vertikal". Dalam praktiknya, gagasan politik ini bisa terjadi karena (1) dorongan aktif pada sebuah masyarakat atau bisa juga (2) terbentuk secara natural pada masyarakat yang terisolasi.

Contoh komunitas masyarakat yang secara aktif berpandangan anarkisme (1) bisa lo lihat di List of Anarchy Communities. Sementara kondisi masyarakat tanpa pemimpin yang terbentuk secara natural (2) banyak terjadi pada masyarakat pendalaman yang terisolasi, salah satu contohnya adalah masyarakat Inuit atau Eskimo yang telah puluhan ribu tahun hidup berdampingan tanpa ada tokoh pemimpin sentral dan tanpa ada hirarki kewenangan vertikal.

masyarakat-inuit-eskimo
Orang inuit (eskimo) selama puluhan ribu tahun bermasyarakat tanpa figur pemimpin dan tanpa hirarki kewenangan vertikal.

Buat yang mau lebih jauh menelusuri tokoh-tokoh yang mengusung gagasan ini, lo bisa coba ngulik beberapa pemikiran dari tokoh-tokoh berikut: Pierre-Joseph Proudhon (1809 – 1865)Mikhail Bakunin (1814 – 1876), dan Pyotr (Peter) Kropotkin (1842 – 1921)

PS: Aksi perusakan dan kekerasan lebih tepat disebut dengan tindakan vandalisme, bukan anarkisme.

 

Apa itu Demokrasi?

Nah, ini dia sistem politik yang paling populer sekarang ini. Walaupun sedikit banyak mungkin lo udah tau, ga ada salahnya kita memahami konsep dasar dari demokrasi. Kalo dilihat dari sisi sejarah, sejarah konsep demokrasi itu puanjaaang banget. Nah, pada artikel ini, gua ga akan bahas sejarahnya demokrasi. Tapi justru gua akan berfokus pada pengenalan konsep dasar dan prinsip dasar utama dari gagasan politik ini. Jadi kalo lo penasaran dengan sejarah demokrasi dari zaman Yunani Kuno (Ancient Athens Circa) 508 SM sampai demokrasi abad 21, lo bisa telusuri sendiri dari berbagai macam sumber.

Oke terus apaan sih demokrasi itu? Pada intinya sih, ide pokok dari konsep demokrasi terletak pada bagaimana cara pengambilan keputusan oleh suatu kelompok masyarakat, di mana masyarakat IKUT DILIBATKAN dalam pengambilan keputusan tersebut dan setiap individu dalam masyarakat memiliki nilai suara yang setara.

Dengan definisi seperti itu, mungkin seharusnya lo menyadari bahwa selama ini lo udah mempraktikkan konsep demokrasi di lingkungan lo. Misal, ketika lo ikut dalam pemilihan ketua OSIS, BEM, atau organisasi lain yang pernah lo ikuti.

Perlu lo camkan baik-baik juga, bahwa konsep demokrasi ini bukanlah gagasan yang tetap (fixed) dari awal pembentukannya. Gagasan politik demokrasi, sebagaimana gagasan politik lainnya, juga mengalami penyesuaian dan terus berevolusi, tapi akar prinsipnya selalu sama. Contoh dari bentuk penyesuaian itu misalnya seperti ini: Kalo kita mengacu pada definisi "masyarakat" dalam pengertian di atas, bagi kita yang hidup di negara Indonesia abad 21 ya "masyarakat" itu berarti semua warga negara yang sudah dianggap dewasa (di atas 17 tahun). Tapi bagi masyarakat di zaman Yunani Kuno atau zaman kerajaan Romawi, pengertian masyarakat demokrasi itu hanya laki-laki dewasa yang bukan golongan budak. Artinya, zaman dulu budak dan perempuan, bukan termasuk masyarakat demokrasi, tidak boleh ikut pemilu.

Contoh lain dari penyesuaian konsep demokrasi bisa kita lihat dari konteks "pengambilan keputusan". Dalam praktiknya, keterlibatan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan tentu tidak praktis jika jumlah masyarakat sudah terlalu banyak. Oleh karena itulah ada yang namanya "wakil rakyat". Sampai pada tahap ini, konsep demokrasi jadi sedikit bergeser, di mana masyarakat dilibatkan dalam memilih para "wakil rakyat" untuk mengambil keputusan serta menjalankan operasional pemerintahan. Nah, karena konsep demokrasi inilah, tercipta sistem-sistem baru yang ga asing lagi di telinga lo: ada pemilu, ada kampanye, ada partai politik, dll. Dalam konsep politik yang lain, lo nggak akan menemukan hal-hal tersebut.

pemilu-demokrasi
Adanya pemilu adalah salah satu tanda pemerintahan yang demokratis

Contoh terakhir dari penyempurnaan konsep demokrasi adalah konsep PEMISAHAN KEKUASAAN, di mana "wakil rakyat" yang dimaksud tadi, harus dipisahkan perannya. Dalam sejarah, sebetulnya lumayan banyak tokoh yang menggagas konsep pemisahan kekuasaan ini, seperti John Calvin John Locke, tapi yang paling populer dan dipraktikkan secara luas saat ini (termasuk di Indonesia) adalah konsep Trias Politika Montesquieu.

Trias Politica Montesquieu menuntut klasifikasi peran dari "wakil rakyat", artinya harus dipisahkan siapa yang merancang aturan, siapa yang melaksanakannya, dan siapa yang mengevaluasi pelaksanaannya. Maka dari itu, muncullah lembaga negara seperti:

  • Legislatif yang membuat aturan (DPR, MPR, DPD / Parlement)
  • Eksekutif yang melaksanakan pemerintahan (dari Presiden, Menteri, Gubernur, sampai ketua RT)
  • Yudikatif yang mengevaluasi pelaksanaan pemerintahan (MA, MK / Supreme Court)

negara-demokrasiPersebaran negara pada era modern yang menganut sistem demokrasi dalam pemerintahannya

Sampai di sini, jelas ya konsep dasar demokrasi itu apa. Buat lo yang mau lebih jauh memahami proses pembentukan konsep negara demokrasi, coba lo baca pemikiran dari Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu, dan JJ.Rousseau.

 

Apa itu Liberalisme?

Jika bicara tentang gerakan politik liberalisme, sejarahnya bisa kita tarik panjang sampai pada era pencerahan (age of enlightment) di abad 16. Tapi secara umum, gagasan ini bisa dikatakan dirangkum pertama kali oleh John Locke, di mana gagasan utama dari konsep politik liberalisme berfokus pada penghargaan atas KEBEBASAN DAN HAK INDIVIDU.

Dalam hal ini, kebebasan serta hak individu yang dimaksud terus berkembang seiring dengan pergeseran nilai-nilai sosial. Beberapa contoh kebebasan dan hak individu yang diusung oleh konsep politik liberalisme pada umumnya adalah hak untuk berekspresi, hak untuk menyampaikan pendapat, hak memiliki barang pribadi, hak untuk memilih pasangan hidup, hak untuk beribadah, hak untuk beragama, hak untuk tidak beragama, hak untuk memiliki keturunan, hak untuk melakukan aborsi, hak untuk hidup, sampai hak untuk mati (euthanasia). Bagi kaum liberal, kebebasan individu atas hak-hak pribadinya adalah unsur yang terpenting dalam membangun masyarakat yang ideal.

Pada penerapannya, konsep liberalisme ini (sebagaimana konsep politik yang lain) juga berevolusi menjadi berbagai macam versi sendiri-sendiri, walaupun gagasan pokok utamanya tetap pada kebebasan hak individu. Khusus pada artikel ini, gua akan membahas 2 klasifikasi besar dari paham liberalisme, yaitu:

  1. Liberalisme Klasik (Classical Liberalism)
  2. Sosial Liberalisme (Social Liberalism)

Perbedaan antara Liberalisme Klasik dan Sosial Liberalisme terletak pada bagaimana masing-masing sistem politik ini memandang peran pemerintah. Bagi para penganut Liberalisme Klasik (kalau di Amerika lebih populer disebut kaum Libertarian) pemerintah adalah "musuh" dari kebebasan. Oleh karena itu, menurut kaum Libelisme Klasik, sebaiknya peran pemerintah dibuat se-minimal mungkin (atau bahkan tidak sama sekali) dalam mengatur segala hal yang berhubungan dengan hak-hak pribadi masyarakatnya. Jadi kaum Liberalisme Klasik ga suka tuh kalo pemerintah ikut campur dalam mengatur hal-hal yang merupakan ranah pribadi, seperti urusan keyakinan, agama, seksualitas, pernikahan, dll.

Statue of liberty
Patung Liberty, simbol dari kebebasan. Terinspirasi dari Libertas, dewi kebebasan pada era Romawi Kuno.

Sementara itu, pandangan politik dari Sosial Liberalisme justru melihat bahwa pemerintah dapat berperan aktif dalam menjamin serta memastikan kebebasan individu tetap dijunjung tinggi dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat. Bagi kaum Sosial Liberalisme, pemerintah bertanggung jawab serta berkewajiban dalam melindungi kebebasan serta hak-hak individu dari masyarakatnya. Lebih jauh lagi, para penggagas awal konsep Sosial Liberalisme, seperti T.H. Green, L.T. Hobhouse, dan John A. Hobson, juga beranggapan bahwa kondisi ideal (di mana hak-hak individu terjamin) hanya dapat tercapai jika pemerintah mengambil peran aktif dalam mengupayakan keadilan sosial dan ekonomi dalam masyarakatnya.

Oke sampai di sini, gua harap lo udah ngerti konsep dasar dari Liberalisme secara garis besar ya. Untuk memahami lebih lanjut konsep politik ini, gua menyarankan lo untuk membaca karya pemikiran dari : Thomas Jefferson (1743-1826)Voltaire (1724-1694), John Stuart Mill (1806-1873).

 

Apa itu Kapitalisme?

adam_smith
Adam Smith (1723-1790) adalah tokoh ekonomi dianggap luas sebagai simbol dari sistem pasar bebas (free-market economics).

Pengertian dari kapitalisme yang dikenal secara umum, biasanya suka melebar ke mana-mana, dari mulai penghargaan akan uang, kekayaan, kepemilikan saham, perdagangan bebas, operasi bisnis, keuntungan/profit, dan lain-lain. Tapi sebetulnya, hal-hal yang disebutkan tadi hanyalah atribut-atribut yang seringkali terkait dengan praktik kapitalisme. Tapi atribut-atribut tersebut belum cukup menjelaskan kapitalisme itu sendiri. Jadi apa sih yang dimaksud dengan kapitalisme itu?

Secara sederhana, gua menjelaskan kapitalisme itu adalah sebuah gagasan akan sistem ekonomi yang menjunjung tinggi KEBEBASAN DARI SEKTOR SWASTA, untuk dapat berperan aktif dalam perputaran roda ekonomi. Nah, dengan berjalannya sistem ekonomi yang mendukung sektor swasta untuk terjun dalam perputaran ekonomi dengan SEBEBAS-BEBASNYA. Ngomong-ngomo siapa sih yang dimaksud dengan sektor swasta? Cakupannya adalah semua pelaku ekonomi selain dari pemerintah, bisa jadi pengusaha kelas kakap sampai tukang sayur di pasar, termasuk kalo lo memutuskan untuk jualan kue kering di sekolah.

Berdasarkan kondisi yang mendukung kebebasan dari pihak swasta, baru muncullah fenomena-fenomena yang menjadi konsekuensi dari adanya kebebasan tersebut, seperti contohnya adanya perusahaan yang mampu memonopoli pasar, adanya kegiatan jual-beli saham sebagai bentuk kepemilikan perusahaan, adanya perdagangan bebas yang membentuk persaingan bisnis antar perusahaan, dsb.

Menurut penganut paham kapitalisme, masyarakat yang ideal dapat terbentuk dari adanya kebebasan dalam berbisnis & dalam persaingan usaha. Dengan adanya persaingan usaha, kualitas dari produk dan jasa yang ditawarkan kepada pasar/konsumen menjadi lebih baik. Dengan adanya sistem perdagangan bebas, setiap orang punya hak yang sama mendapatkan keuntungan sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Jika para pengusaha diberi kebebasan dalam berbisnis, bebas dalam mendapatkan keuntungan, serta bebas bersaing; maka perputaran roda ekonomi juga semakin cepat. Hal itu akan membuat lapangan kerja menjadi luas, angka pengangguran ditekan, kesempatan untuk berkarya tidak dibatasi, serta banyak industri baru yang lahir dari kreativitas. Itulah kurang lebih argumen-argumen dari kaum kapitalis.

Bagi lo yang ingin lebih jauh mengetahui dan mengenal prinsip-prinsip dasar ekonomi dari sudut pandang kapitalisme, gua rekomendasikan lo untuk membaca tentang karya pemikiran dari: Alfred MarshallPaul Samuelson, dan John Hicks.

 

Apa itu Sosialisme?

Jika lo menelusuri arti dari konsep sosialisme, lo akan dihadapkan pada berbagai macam tokoh-tokoh dengan versi pandangan mereka masing-masing tentang "sosialisme", seperti Henri de St-Simon, Karl MarxFriedrich EngelsRobert Owen, dll. Tapi gua akan coba membantu lo untuk merangkum ide pokok gagasan utama dari Sosialisme. Gagasan sosialisme, pada prinsipnya adalah bentuk perlawanan terhadap konsep kepemilikan privat atas alat-alat produksi, serta memperjuangkan konsep kepemilikan kolektif dan kontrol demokratis atas alat-alat produksi oleh kaum pekerja.

Berdasarkan prinsip tersebut, sosialisme terbagi-bagi menjadi banyak cabang. Salah satu yang paling awal direpresentasikan adalah sosialisme versi Karl Marx & Friedrich Engels. Sosialisme versi Marx adalah sebuah fase ekonomi yang terjadi (menurut Marx) setelah runtuhnya fase kapitalisme dan juga merupakan fase perantara sebelum memasuki fase komunisme. Menurut Marx, sistem kapitalisme cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri karena sistem tersebut membagi jurang kelas sosial semakin jauh dan secara timpang, hanya menyalurkan kesejahteraan bagi kaum pemilik modal saja. Dengan semakin lebarnya kesenjangan sosial ini, Marx meramalkan bahwa suatu saat kaum pekerja akan bersatu dan mengambil alih alat-alat produksi dari para pemilik modal untuk menciptakan sistem ekonomi politik yang baru bernama Sosialisme.

Pada fase sosialisme, para pekerja akan mengambil alih kepemilikan alat-alat produksi yang kemudian akan digunakan oleh pemerintah (sebagai representasi dari kaum pekerja) untuk memenuhi kebutuhan sosial secara merata. Pada praktiknya, gagasan Sosialisme-Marxist inilah yang menginspirasi pembentukan negara-negara yang kita kenal sebagai "negara komunis", seperti Uni Soviet, RRC, Kuba, Vietnam, dll.

stage to communism
Fase sistem ekonomi menurut Marxist: Sosialisme adalah kondisi setelah Kapitalisme runtuh, dan akan menuju kondisi Komunisme.

Satu hal yang perlu lo garis bawahi adalah: negara-negara yang kita kenal sebagai "negara komunis" seperti pada contoh di atas, secara definitif sebetulnya bukanlah negara komunis, melainkan adalah negara penganut sosialisme ala Marx yang bertujuan kelak mencapai fase komunisme. Satu hal utama yang menjadi corak golongan sosialis-Marxist adalah pemerintah mengambil alih segala bentuk perputaran ekonomi. Dengan kata lain, tidak ada sektor swasta, tidak ada pasar, tidak ada perdagangan, tidak ada pengusaha. Segala bentuk pemenuhan kebutuhan masyarakat merupakan tanggung jawab tunggal dari pemerintah yang terpusat.

Communist_countries_1979-1983
Negara "komunis" atau lebih tepat disebut sebagai negara penganut Sosialisme-Marx yang bertujuan mencapai tahap Komunisme.

Sosial Demokrat

Satu hal penting yang perlu diketahui bahwa belakangan istilah 'sosialis' seringkali disalah-artikan dalam penggunaanya. Dewasa ini, seringkali jika seseorang mengatakan 'negara sosialis' (biasanya mengacu pada negara-negara di Eropa) itu secara definitif sebetulnya berlainan dengan gagasan awal 'sosialisme' dari yang gua bahas di atas. Namun lebih tepat disebut dengan istilah sosial demokrat / social democracy.

Apa bedanya sosial demokrat dengan sosialisme Marxist? Jika sosialisme dalam pengertian Marx bertumpu pada perlawanan akan konsep kepemilikan privat, maka pada konsep sosial demokrat justru tidak mempermasalahkan kepemilikan privat dan keterlibatan pihak swasta dalam menggerakan roda ekonomi. Tapi dalam penerapan kebijakan ekonominya, negara penganut kebijakan sosial demokrat sangat menekankan pada proses mendayagunaan pajak oleh pemerintah, yang mana pajak tersebut (APBN) akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat fundamental untuk KEADILAN SOSIAL, seperti membangun fasilitas umum, sarana transportasi, ketersediaan listrik, air bersih, jaminan kesehatan, jaminan pendidikan, dll.

Dalam praktiknya, sulit ditentukan mana saja yang menganut paham Sosial Demokrat karena menurut gua satu-satunya indikator dari sistem politik ekonomi ini adalah sejauh mana pemerintah mendistribusikan dana APBN terhadap pemenuhan kebutuhan sosial (social welfare), yang mana cukup bisa direpresentasikan pada gambar di bawah ini:

sosial-democrat
Social expenditure as percentage of GDP OECD 2013 | sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Welfare_state

Jadi gua tekankan sekali lagi, terminologi 'negara sosialis' dewasa ini seringkali mengacu pada definisi dari konsep sosial demokrat. Tapi pada dasarnya, konsep sosial demokrati kurang tepat jika dikategorikan sebagai turunan dari sosialisme, karena gagasan fundamental dari sosialisme tidak dicakupi dari apa yang ditawarkan oleh konsep sosial demokrat.

 

Apa itu Komunisme?

Nah ini dia nih istilah yang paling sering disalahartikan di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia keliru mengidentikkan paham Komunisme sebagai paham kaum pemberontak yang anti-Pancasila dan anti-agama. Padahal pada prinsipnya, definisi komunis tidak relevan dengan semua atribut itu. Secara garis besar, Komunisme adalah gagasan tentang sistem ekonomi yang dirancang oleh Karl Marx & Friedrich Engels dalam sebuah buku berjudul Das Kapital sebagai bentuk antitesis (pertentangan) terhadap sistem ekonomi kapitalis yang saat itu berkembang pesat seiring dengan berjalannya Revolusi Industri.

marx-dan-engels
Karl Marx & Friedrich Engels, 2 filsuf ekonomi-politik, penggagas konsep komunisme

Nah, kalau dalam pembahasan sosialisme di atas sempat disinggung bahwa Marxist-sosialism dianggap sebagai sebuah fase perantara yang kelak akan menjadi fase komunisme, lantas apa itu fase komunisme? Komunisme menurut Marx adalah sebuah fase akhir dari proses perubahan sistem ekonomi-politik, di mana ketika negara (sosialis) telah berhasil mendayagunakan alat produksi untuk pemenuhan kebutuhan rakyatnya, maka suatu ketika nanti akan terbentuk suatu masyarakat ideal yang saling memenuhi kebutuhan satu sama lain, tanpa perlu adanya peran dari pemerintah.

Dalam konteks ini, komunisme bisa dikatakan sebagai bentuk kondisi masyarakat anarkis, yang tidak lagi membutuhkan figur pemimpin, tidak membutuhkan negara sebagai lembaga kewenangan vertikal. Dalam impian komunisme ala Marx ini, akan tercipta masyarakat yang setara, tidak ada lagi kelas sosial, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, tidak ada sektor swasta, tidak ada negara, tidak ada konsep uang, tidak ada pasar, tidak ada perdagangan. Semua orang akan mengerjakan apa yang mereka inginkan, serta saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. 

Dalam praktiknya, sejauh dari yang gua tau, sampai saat ini belum ada komunitas yang secara aktif menjalani fase komunisme Marx dalam pengertian-pengertian di atas. Jika di antara pembaca ada yang mengetahui keberadaan komunitas tersebut, bisa tolong bantu untuk disebutkan di comment-section. 

PS. Buat lo yang ingin lebih jauh menelusuri sejarah penerapan dari pemikiran Marxist, gua rekomendasikan lo untuk membaca karya & perjalanan hidup dari: Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, Leon Trotsky.

 

Apa itu Fasisme?

hitler-mussolini
Adolf Hitler & Benito Mussolini, 2 tokoh yang paling identik dengan gerakan politik fasisme

Istilah Fasisme mungkin adalah yang paling baru dibandingkan berbagai pandangan politik yang lain, tepatnya baru populer setelah perang dunia di abad 20. Secara definitif, paham fasisme agak sulit diidentifikasi dalam satu pengertian yang jelas, bahkan oleh para ahli sejarah politik sekalipun. Namun, kita bisa lebih memahami gagasan ini dari atribut-atribut serta prinsip dasar utama dari mereka yang diidentikkan sebagai fasis. Berdasarkan atribut-atribut dan prinsip dasar utama itu, gua pribadi mendeskripsikan fasisme sebagai:

Sebuah gagasan akan kondisi masyarakat yang dipimpin oleh kekuasaan tunggal berbasis militer, yang menolak adanya kaum oposisi dalam pemerintahannya (hanya ada 1 partai tunggal), di mana kepentingan negara menjadi prioritas utama, di atas kepentingan individu atau kelompok apapun. Dalam perspektif lain, fasisme juga bisa digolongkan sebagai pandangan ultranasionalis yang menolak adanya entitas lain di luar negara, dalam arti tidak boleh sektor swasta atau kepemilikan atas nama pribadi. Selain itu, fasisme juga memiliki atribut-atribut yang sangat melekat dalam penerapannya yaitu :

  • menolak adanya kebebasan berpendapat (anti-freespeech)
  • menolak kebebasan pers (anti-freedom of pers)
  • menolak kebebasan individu (anti-liberalisme)
  • menolak kesetaraan individu (anti-egalitarian)
  • menolak segala bentuk kerjasama dengan negara lain (anti-internationalism)

Beberapa contoh rezim yang pernah menerapkan faham Fasisme:

 

Apa itu Konservatisme?

republican2
Selama beberapa dekade terakhir, partai Republikan di AS dianggap sebagai refleksi dari konservatisme pada era modern.

Terakhir adalah Konservatisme. Berbeda dengan beberapa istilah sebelumnya, konservatisme sebetulnya kurang begitu tepat jika dianggap sebagai gerakan politis tertentu. Namun lebih tepat dianggap sebagai sebuah pandangan untuk mempertahankan nilai-nilai tradisi & budaya yang sudah mengakar dalam sebuah komunitas/masyarakat/negara. Dari sudut pandang lain, bisa juga dikatakan konservatisme adalah pandangan yang menolak segala hal apapun yang merubah nilai tradisi serta berupaya tetap melestarikan apa yang sudah berjalan.

Nilai "tradisi" itu bisa jadi macem-macem bentuknya, misalnya budaya masyarakat, nilai-nilai agama tertentu, nasionalisme, acara adat, dan lain sebagainya. Dalam praktiknya, golongan konservatif hampir selalu bertentangan dengan mereka yang menyebut dirinya golongan progresif. Konflik antara 2 poros pemikiran ini selalu terjadi dari zaman ke zaman, contohnya seperti ini:

  • Ketika kelompok progresif mengusung ide untuk menghapus perbudakan, golongan konservatif ingin mempertahankan tradisi perbudakan.
  • Ketika kelompok progresif mengusung ide untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, kelompok konservatif menolak gagasan tersebut.
  • Ketika kelompok progresif mengusung ide kesetaraan gender (perempuan boleh sekolah dan boleh ikut pemilu), golongan konservatif ingin mempertahankan tradisi bahwa perempuan tidak boleh sekolah dan tidak boleh ikut pemilu.
  • Ketika kelompok progresif mengusung ide untuk menghapus tradisi pertunjukan gladiator manusia dengan hewan, kelompok konservatif ingin mempertahankan tradisi pertunjukan gladiator tersebut.

Kira-kira kebayang ya maksudnya konservatif itu apa. Bagi kaum konservatif, hal yang pokok adalah stabilitas status quo dan kelestarian dari tradisi. Tradisi dalam konteks ini, bisa jadi berbagai macam tergantung dari budaya, agama, atau hal-hal yang dianggap 'sakral' pada masyarakat tertentu.

****

Demikianlah sedikit pembahasan gua tentang beberapa istilah sistem sosial-ekonomi-politik. Gua pribadi sadar bahwa tulisan singkat gua ini, pastinya masih belum bisa menjelaskan secara penuh pengertian dari spektrum politik yang sangat luas dan kompleks. Namun gua harap, dengan adanya tulisan ini, para pembaca zenius blog jadi semakin memahami sejarah pemikiran sistem ekonomi-politik dunia. Sekaligus menjadi batu lompatan bagi lo yang tertarik untuk ingin mempelajari tentang sejarah pemikiran ekonomi-politik.

Nah, bagi lo yang sekarang mungkin mulai terpacu untuk belajar ilmu politik, gua akan coba kasih PR supaya lo mencoba mencari tau lebih dalam dari konsep-konsep yang sempat gua jelaskan di atas ya. Coba kalian cari informasi tentang:

  1. Apa bedanya sistem monarki, oligarki, dan aristokrasi?

  2. Apa bedanya social democracy dengan democratic socialism?

  3. Apakah yang dimaksud dengan pemikiran politik sayap kiri dan sayap kanan?

Kalo ada di antara lo yang ingin bahas lebih lanjut tentang pemikiran ekonomi-politik, atau ingin mencoba menjawab 3 nomor PR dari gua di atas, langsung aja tinggalin pertanyaan atau jawaban lo pada comment section di bawah artikel ini.

"A guy named Adolf Hitler won an election in 1932, and 50 million people died as a result. What I learned as a little kid is that politics is, in fact, very important." - Bernie Sanders

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol, diskusi, atau bertanya sama Glenn tentang dunia politik-ekonomi, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Glenn Ardi adalah VP of Marketing Zenius Education dan Editor Zenius Blog. Glenn mengambil gelar Sarjana di Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen Universitas Parahyangan Bandung.
 
Follow Twitter Glenn at @GlennArdi

  • Muhammad Arief Akbar

    curhat : kemaren gw beli bukunya Pramodya Ananta Toer, Jejak Langkah, terus bapak gw bilang : "Bukannya Pram itu PKI? Hati2loh bacanya." Gw cuma bisa diem, ntar kalo gw jawab dibilang yang nggk2, ada saran gk bang menghadapi org2 SOTOY kayak gitu? Soalnya orang2 sotoy tu kalo dibilangin tambah ngeyel, sama kayak org yang salah mengartikan komunis dan termakan Flat Earth :3

    • Halo Arief, saran gua cara menghadapi mereka yang seperti itu, ya ga usah dihadapi sama sekali, cuekin aja. 🙂 Jangan biarkan siapapun mencegah kamu untuk belajar dan bernalar dengan pemikiranmu sendiri. Bacalah buku apapun dengan pemikiran yang kritis, jangan langsung percaya dan setuju isinya. Resapi dengan akal sehat dan rasionalitas. Jangan takut untuk membuka perspektif kamu dengan membaca buku.

      • Zelda

        Nah itu dia Kak, susah kak kalo suruh nyuekin ?. Dicuekin pemikiran mereka kesebarrrr ? kan suka ngenezzz sendiri liat orang2 gini hidup. Mau diomongin gimana tetep ngeyel tapi kalo dibiarin malah nyebarrr~ ? trs gmanaa gk mau orang2 kek gini nularin pemikiran beracun mereka gk bisa gitu suruh cuekk ??

        • Halo Zelda, memang salah satu yang paling menggemaskan adalah banyak orang yang sebetulnya gak tau apa-apa, tapi sok tau. Udah sok tau, tambah lagi ga bisa dikritik. Komplit deh, hahaha...

          Kalo kamu ga bisa nyuekin yg seperti itu dan punya concern utk mengubah masyarakat jd lebih baik, berarti mungkin itu tandanya kamu perlu ikut terlibat aktif dalam dunia pendidikan. 🙂

          • Zelda

            Terus kalo untuk orang yang udah jadi bigot/fanatik sama suatu kepercayaan/ekstrims/dsb gmana kak? Apa pemikiran mereka dibiarin trs kita konsen ke generasi berikutnya doang?

    • Akira Yamato

      Meanwhile gw aja buku "Manifesto Partai Komunis"nya Marx aja sampe harus diumpetin dan baca ga di sembarang tempat..

    • Alfinsa EP

      Hampir mirip kayak gue nih.
      Beberapa waktu lalu gue beli buku Madilog, Dunia Sophie, ama The God Delusion. Waktu gue unpacking bukunya, bokap gue nanya itu buku (genre) apaan. Yha gue jawab aja buku bacaan biasa. Gue khawatir jadi ga boleh beli buku lagi kalo tau gue bacanya begitu. Padahal mah niatnya pengen nambah wawasan aja :))

  • Asriadi Awaluddin

    Akhir2 ini gue sering denger tentang politik-islam, karena penasaran gue sempat googling dan akhirnya dapat sesuatu. Gue sempat baca klo islam pernah digunakan sebagai ideologi sebuah negara, dan bukan main.. saat barat mengalami dark age (zaman kegelapan) di negara islam sedang mengalami golden age (zaman keemasan). Juga negara ini bisa bertahan selama hampir 14 abad (berakhir tahun 1924 setelah kalah di WW1).. bisa dijelasin gak kak..

    • Ari Candra Arista

      Islamic golden age sudah pernah dibahas di sini >> https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-islam-ilmu-pengetahuan

    • Halo Asriadi, peradaban Islam (tepatnya di Baghdad) pada abad 7-13M pernah sempat menjadi pusat peradaban & ilmu pengetahuan manusia. Banyak sekali tokoh ilmuwan dari peradaban Islam yang memberikan kontribusi luar biasa bagi peradaban dunia, seperti Ibn Sina, Al Tusi, Ibn Rush, Al Kindi, Al Khwarizmi, dkk.

      Namun demikian, lo juga harus memahami sistem kemasyarakatan seperti apa yang mendasari peradaban Islam abad 7-13M pada masa kejayaannya. Peradaban Islam pada masa emasnya, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai:
      - Ilmu Pengetahuan & Pendidikan
      - Rasionalitas & Logika (dari filsafat Yunani)
      - Toleransi antar agama (Muslim, Nasrani, Yahudi, Majusi) hidup berdampingan.
      - Internationalism (terbuka dengan suku bangsa lain seperti Yahudi, Persia, India)
      - Perdagangan ekonomi bebas, dll.

      Peradaban yang bisa bertahan sampai WW1 yang lo maksud itu adalah Kekaisaran Ottoman. Namun, jika kita mengacu pada definisi "islamic golden age", para sejarahwan sepakat bahwa masa kejayaan itu berhenti sekitar pertengahan abad-13, tepatnya setelah pengalihan kekuasaan Kota Baghdad karena serangan dari Mongol. Setelah kehancuran Baghdad & Baytl Al Hikmah, peradaban selanjutnya tidak lagi dikategorikan sebagai "Islamic Golden Age". Informasi selengkapnya bisa kamu baca di artikel berikut ini:

      https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-islam-ilmu-pengetahuan

      • Asriadi Awaluddin

        Klo artikel yg itu udah gue baca (artikelnya mantaff). tp menurut ane islam-ideologi tdk hanya berlaku di masa abbasiyah, melainkan di semua masa mulai dari khulafarrayidin, umayyah, hingga ottoman.
        ohh iyya, islam-ideologi klo mau diidentikkan sama faham yg diatas masuk yg mana yahh? Soalnya menurut research gue, dr semua faham yg ada islam adalah yg paling baik (mencakup segala hal) itu klo menurut gue..
        sorry panjang lebar

        • Steve

          Kita tidak bisa menilai apakah suatu paham lebih baik atau merupakan yang terbaik dibandingkan paham yang lain. Semuanya tergantung konteks masyarakat di tempat dan waktu tersebut, tidak tepat menyederhanakan sesuatu yang kompleks dari satu "kacamata" saja. Contohnya: negara pasca-perang akan sangat sulit untuk menerapkan paham demokrasi, di mana kondisi masyarakat masih kacau.

      • Muhammad Fikri Al Ghifari

        Tulisan yang menarik, bang Glen. Benar banget perlu adanya edukasi masyarakat terhadap istilah-istilah ini.
        Biar lebih greget lagi, hehehe buku nya Syekh Abdul Qadim Zallum - Kaifa Hudimatil Khilafah. emang dibenarkan bahwa kaum muslim saat itu emang memahami yang tadi abang sebutkan ilmu pengetahuan, toleransi, dan rasionalitas. Namun disaat itu jugalah kaum muslim mengalami kemunduran dalam berfikir. Biar tambah lebih-lebih greget, bang buku nya Hafidz Aburrahman - Pengaruh Filsafat dan Ilmu Kalam Terhadap Kemunduran Dunia Islam di jelaskan bahwa ilmu-ilmu itulah yang menyebabkan kaum muslim menghadapi kemunduran dalam berfikir.
        Dan disaat juga Barat dan Kaum Kafir menyusupi pemahaman itu ke tubuh kaum muslim.

        • Asriadi Awaluddin

          Jawaban dari pertanyaan: 1) mengapa islam mundur? Dan 2) mengapa barat bangkit? Jawabannya hanya satu "meninggalkan agama"
          barat bisa bangkit karena agama mereka menegekang ilmu pengetahuan dengan berdalih bahwa ini adalah ucapan tuhan. Beda dengan islam yg menggunakan pemikiran sebagai dasar keimanan, ketika umat muslim saat itu meninggalkan aturan allah swt, seketika itu peradaban yg telah berdiri kokoh langsung lenyap

          • Marcel Susanto

            UHUK, al Ghazali, UHUK!!

          • Fauzan Affandi

            Dulu pas kuliah semester 1, tahun 2002. Gue ditanya oleh murobbi/mentor mengenai hal di atas. Gue kekeh bahwa kemunduran sains di dunia islam lebih karena penalaran/filsafat mulai dibatasi dan kalah dengan kelompok fikih al Gozali. Murobbi saya berpendapat kemunduran karena umat islam mulai meninggalkan agamanya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya saya dikeluarkan dari kelompok ngaji karena dianggap meracuni pemikiran teman yang lain hahahaha.

          • Yg menyebabkan Islamic Golden Age adalah masih eksisnya aliran Mutazilah pada saat itu yg akhirnya dicap sesat oleh Al Ghazali dan bahkan anggapan itu masih bertahan hingga sekarang. Dengan punahnya Mutazilah, Islamic Golden Age pun turut musnah dan sekarang peradaban Islam sedang memasuki era kegelapan (Dark Ages) seperti yg dialami Eropa berabad-abad lalu.

      • Ahmad Nur Fauzi

        setelah berakhirnya islamic golden age filsafat muslim terpecah menjadi 2, yg pertama berdasarkan rasionalitas & ilmu pengetahuan yg akarnya dari aristoteles tokohnya Averroes/ Ibnu Rusd, yg menjadi salah satu faktor lahirnya kejayaan eropa Renaisans,dan yang kedua berdasarkan kegaiban mystisme tokohnya Al Ghazali
        CMIIW

  • Yusril A

    Artikel yang sangat menarik! Memang, masyarakat saat ini kurang sekali pengetahuan tentang hal-hal semacam ini. Sehingga menjudge berbagai pemikiran pemikiran mutlak negative. Bahkan menyebabkan banyak anak muda juga ikut2an ngejudge jelek. Anak-anak muda yang juga ga mau mencari data dan asal ngejudge juga ikut2an mempernegativekan segala macam ke tidak tauannya. Padahal hal2 tersebut sudah pernah dipelajari di SMP.

    Saya sangat suka dengan tulisan2 di blog Zenius karena isinya sangat bermanfaat hehe ...

    Oiya, ada kesalahan penulisan di tulisan blog ini "hirarki" dalam kbbi tulisannya "hierarki".
    Menurut saya tulisan ini bisa dipersingkat/perjelas lagi dengan analogi sapi~ karena sebelum membaca tulisan ini saya jadi keinget analogiitu hehe...

    Good luck~ semoga zenius tidak akan lelah memberikan educationnya yang bermanfaat kepada masyarakat Indonesia.. terimakasih 😀

    • Halo Yusril, sejujurnya saya juga sangat mengharapkan pendidikan politik seperti ini justru yang seharusnya dipelajari pada pelajaran PPkn & Sejarah. Terus terang saya kurang mengikuti kurikulum SMP yang sekarang, tapi waktu zaman saya sekolah dulu, pendidikan politik semacam ini nyaris tidak pernah sama sekali dibahas di sekolah, termasuk pelajaran PPkn, Kewarganegaraan, ataupun Sejarah.

      Ngomong2 soal analogi sapi, menurut pendapat saya, hal itu justru baru bisa dipahami oleh mereka yang sudah memahami konsep dasar dan ide pokok dari pemikiran2 politik tersebut. Sementara bagi mereka yang masih awam dengan ide pokoknya, analogi sapi itu tidak jarang malah membuat pengertian mereka menjadi keliru. 🙂

      Terima kasih atas apresiasi dan juga koreksinya, nanti saya betulkan menjadi 'hierarki'.

  • Mohammad Rifqi

    1.Ka Glen, MPR itu termasuk lembaga legislatif kan? Anggotanya trdiri dari anggota DPR sma DPD. Smentara Kalo lembaga Yudikatif itu MA, MK sama KY.
    2. Jepang pada masa PM Hideko Tojo termasuk fasisme bukan ka?

    • 1. Oops, mungkin wkt gua ngetik mata gua siwer karena udah subuh. Barusan udah gua revisi.
      2. Pada era tsb, secara definitif Jepang digolongkan Monarki, tapi secara praktik, Jepang pada era itu sulit di definisikan. Di satu sisi, gerakan politik Jepang mengarah pada imperialisme, karena punya ambisi menguasai Asia Pasifik. Di sisi lain, kondisi yang melatar-belakangi tindakan itu memang memiliki atribut2 yg mirip dengan Fasisme, seperti 'harga diri bangsa', 'kehormatan kaisar', dan semacamnya. Mungkin Kak Marcel bisa ngasih jawaban lebih akurat. Nanti gua minta dia ikut jawab di sini.

    • Marcel Susanto

      Di Jepang era Tojo tidak ada kekuatan tunggal yg menguasai politik Jepang, ada banyak faksi yg saling bersaing, saling mempengaruhi, dan bahkan terkadang saling membunuh. Persamaan semua faksi tsb adalah semuanya mengutamakan "kepentingan negara" di atas individualisme, kebebasan pribadi, dan HAM. Ini adalah ciri utama fasisme. Namun, ceritanya belum selesai.

      Dari semua faksi² itu, faksi² yg terkuat adalah faksi² militer. Para anggota faksi² militer meng-agung²kan kekuatan militer, merasa perang adalah keharusan, sebuah ritual untuk menyatukan bangsa, sebuah kesempatan untuk menunjukkan kekuatan sebuah bangsa.

      Jadi, saya lebih cenderung menyebut Jepang era Tojo "militarist", lebih pas. Namun kalo disebut "fasis" juga gak salah.

  • Alfan

    kak, mau tanya nih, apakah propaganda dapat menimbulkan pengertian berbeda terhadap suatu hal, contohnya istilah "komunisme"?

    • Propaganda sendiri pengertian mendasarnya adalah upaya untuk membelokkan opini masyarakat dengan memberikan disinformasi yang mengacu pada agenda/kepentingan tertentu. Jadi jawabannya : YES, propaganda dapat menimbulkan pengertian yang bias terhadap segala sesuatu, termasuk contoh yang kamu sebut itu.

      • Alfinsa EP

        Glenn, apakah awal mula makna komunisme jadi sedemikian angker di Indonesia itu gara-gara peristiwa G30S atau ada propaganda waktu era Orde Baru?

        • Sejauh yang gue tau, memang persepsi negatif tentang komunisme itu sudah terjadi jauh sebelum peristiwa G30s, tapi persepsi itu hanya terjadi pada golongan tertentu saja. Kemudian baru meluas setelah peristiwa G30S.

  • luthfi

    Ka glen, mau nanya nih, ada saran gak buku tentang "paham liberalisme" terus buku tentang "politik sayap kanan dan sayap kiri"?

    • Utk memahami proses pemikiran Liberalisme, coba kamu baca Toward the Light of Liberty karya A.C. Grayling

      kalo tentang sayap politik kanan-kiri lebih baik lo baca tentang sejarah Revolusi Perancis : The French Revolution: A History by Thomas Carlyle atau kalo mau dibalut fiksi sedikit, a Tale of Two Cities karya Charles Dickens.

  • Ria Mlau

    halo kak glen
    mau nanya, kalo rt/rw itu sama ga ideologinya dengan anarkisme atau lebih pada kekeluargaan
    thks kak, mohon dijawab, ya

    • Halo Ria, RT/RW yang kamu maksud itu apa ya? Rukung Warga & Rukun Tetangga?

      Kalo memang yg kamu maksud adalah itu, maka RT/RW adalah pihak PELAKSANA daripada undang-undang. Oleh karena itu, RT & RW adalah bagian fungsi eksekutif dari sistem demokrasi. Sementara itu, dalam ideologi anarkisme, tidak ada pemimpin dan tidak ada pemerintah, yang artinya tidak ada presiden, tidak ada gubernur, tidak ada lurah, tidak ada RT & RW.

  • Isal Mawardi

    bang Glenn, gua masih bingung mengenai beberapa hal
    1. Sebenarnya Amerika Serikat itu memegang paham Liberalisme atau Demokrasi? Liberty (Lambang kebebasan) ada di New York, Amerika. sedangkan penjelasan artikel diatas Amerika itu Demokrasi -,-

    2. John Locke berarti pencetus 2 paham dong? paham demokrasi dan paham Liberal?

    btw nice artikel bang!

    • Marcel Susanto

      Menurut Samuel Huntington, Amerika sejak lahir sampai sekarang adalah negara demokratis bercorak liberal. Konservatifme sesekali muncul, tetapi tak bisa mematahkan dominasi liberalisme.

      Dan demokrasi Amerika juga unik, sebab pada dasarnya Amerika setiap 4 tahun itu "memilih raja". Presiden Amerika Serikat itu fungsi dan kekuasaannya serupa banget dengan raja² Tudor dari inggris. Inggris mempertahankan mahkota kerajaan Tudor, sementara Amerika mempertahankan substansi kerajaan Tudor.

    • Halo Isal, pertanyaan lo bagus banget.

      Pertama, ada 1 hal yang perlu lo pahami dulu. Suatu ideologi politik pada dasarnya tidak selalu bertentangan satu sama lain, ada beberapa ideologi yang bisa berjalan beriringan. Namun ada juga ideologi yang tidak mungkin disatukan karena prinsipnya sangat bertolak belakang. Contohnya, negara yang demokratis, bisa saja menganut faham liberalisme, bisa juga konservatif, atau bisa juga ideologi ekonominya kapitalis.

      Jadi bukan berarti jika negara A menganut demokratis, berarti tidak mungkin memiliki corak ideologi lainnya. Asalkan tidak sangat berseberangan secara prinsip, hal itu mungkin terjadi. Contoh yang sangat bersebarangan adalah Fasisme dan Anarkisme, contoh lain adalah kapitalisme dan komunisme. Tidak mungkin sebuah negara/komunitas menganut fasisme dan anarkisme secara bersamaan, karena kedua prinsipnya saling bertolak belakang. Tidak mungkin juga sebuah negara menganut komunisme sekaligus kapitalisme, karena secara prinsip berseberangan.

      Nah, kalo bicara dalam konteks Amerika, pada dasarnya memang AS negara yang demokratis yang memiliki corak liberalisme yang kental. Namun dalam sejarahnya, lo juga harus tau bahwa AS secara silih berganti dikuasai oleh 2 partai politik yang secara ideologi berbeda, yaitu Partai Republikan dan Partai Demokrat.

      Dalam beberapa tahun terakhir, secara sederhana gua bisa membagi bahwa Republikan menawarkan kebijakan2 yang tergolong konservatif, sementara partai Demokrat menawarkan kebijakan2 yang tergolong liberal & progresif. Dua partai ini secara bergantian menduduki kepemimpin di AS, katakanlah mantan presiden AS, George Bush (Republikan) itu punya kebijakan yang jauh beda dengan presiden AS skrg, Barack Obama (Demokrat)

    • Terkait dengan pertanyaan lo apakah John Locke mencetuskan 2 paham, sebetulnya bisa menjadi penjelasan lebih lanjut.

      Jadi begini, sebuah ideologi politik-ekonomi, jarang sekali terbentuk secara bulat dari kontribusi 1 tokoh saja. Seperti contohnya saja, ketika banyak filsuf memikirkan tentang isu tentang: kebebasan, hak, keleluasaan, perlindungan, dll... itu bisa kita kemas dengan label Liberalisme saat ini. Tapi pada saat gagasan itu digodok, seringkali melibatkan beberapa tokoh secara gradual.

      Kalo apakah John Locke mencetuskan beberapa paham? Menurut gua kurang tepat. Yang lebih tepat adalah: John Locke punya banyak kontribusi besar dalam ideologi politik demokrasi, liberalisme, bahkan juga konsep toleransi antar agama, tentang ekonomi (makroekonomi & mikroekonomi), psikologi pendidikan, psikologi individu, dan masiiih banyak lagi.

  • Alfinsa EP

    Nice article Glenn. Hal yang beginian yang harus dilurusin dari setiap persepsi orang Indonesia. Khawatir kita mendefinisikannya apa, tapi disalahartikan ama pendengarnya. Kan repot juga ya.

  • Febri Nur Fiqri Hidayat

    Hai bang!!! Your topic is so cool (y)
    Klo menurut persepsi gua ya INDONESIA itu negara yang menerapkan aliran2 yang berbeda pada setiap pemimpinnya, demokrasi itu dipakai untuk menjembatani masyarakat dgn pemimpin, lo ngerasa ga sih?
    Yang ngebuat gua pribadi senang dan bahagia adalah INDONESIA penuh dengan konflik akan persepsi/aliran, jadi gua sebagai pelajar semakin tertarik akan "OLD ORDER" and "NEW ORDER" with "VOID PERIOD of INDONESIA"
    Coba bang lo ulas sedikit bang! Transfer ilmu lah ke generasi muda.
    Thank you bang

    • Halo Febri, sebetulnya ya demokrasi itu sudah jadi fondasi negara kita, tapi secara de facto mungkin memang baru berjalan ketika pemilu pertama Indonesia utk menentukan legislatif thn 1955. Kebijakan pemimpin memang berbeda2, tapi ya fondasi yang dijalani tetaplah demokrasi, buktinya masih ada DPR, MPR, MA, MK, dll.

      Idenya ditampung dulu utk penjelasan ttg Orde Lama & Orde Baru ya. Untuk void period of Indonesia, terus terang gua belum nangkep itu yang lo maksud timeline tahun berapa ya? Apa yang lo maksud itu ketika peralihan Republik Maluku Selatan?

      oh ya kalo untuk penjelasan era Orde Lama Indonesia, mungkin lo bisa baca juga artikel Biografi dari Sukarno, Hatta, Syahrir, & Tan Malaka di https://www.zenius.net/blog/category/biografi-tokoh

  • artikelnya bagus bang glenn. kalau aku pribadi sih kalo baca tentang suatu ideologi biasanya aku baca kritik atas ideologi tersebut, sebagai pembanding, tentu saja. seandainya saja orang tahu situasi macam apa yang dihadapi Marx waktu dia bilang 'Agama itu candu."

    • Itu kebiasaan yang bagus Viny, kita memang harus selalu melihat segala hal dari banyak sisi, termasuk dari yang kontra.

      Yes, gua setuju. Ketika Marx mengatakan itu, kemungkinan besar terdorong ketika melihat bahwa kaum pemilik modal menggunakan isu agama untuk mengontrol kaum pekerja.

  • Chairul Amin

    Soal fasisme secara definisi berarti orde baru (era Soeharto) kayaknya termasuk. bener gak tuh?
    Ada gak yang membedakan fasisme dengan Orde Baru?

    • tidak dapat dipungkiri memang ada beberapa pengamat & ahli politik yang berpendapat bahwa era Orde Baru bisa dikatakan sebagai fasisme. Tapi ada beberapa juga pengamat yang berpendapat bahwa Orde Baru tidak bisa disamakan dengan Fasisme. Alasannya karena ketika saat itu, Indonesia relatif membuka banyak ruang kerjasama bisnis dengan pihak luar negeri dan cenderung tidak terlalu banyak mengalami konfrontasi militer dengan negara lain.

  • Patut diapresiasi! Artikelnya menarik buat belajar perpolitikan...

    By the way, kebetulan banget nih, departemen gue (Dept. Kajian Strategis, Bidang Sosial Politik, BEM F. Psikologi UI) pernah ada program kerja ngebuat tulisan ringan tentang ideologi-ideologi sekaligus pandangan sayap kanan dan sayap kiri.

    Mau share aja, mungkin bermanfaat wqwq. Nama program kerjanya Gradasi, tujuannya buat mengenalkan civitas UI dan masyarakat pada hal-hal /term-term dasar tentang politik.

    Buat temen2 yang pengen tau lebih lanjut, boleh banget baca Gradasi lewat link di bawah ini:

    http://bit.ly/diklikdongbosqu
    "Kenapa Pak Nur Suka Makan Sayur?" - Pembahasan tentang ideologi, sayap kanan-sayap kiri.

    https://drive.google.com/file/d/0BxmF9-wSEEE6SnpHaVUycjF5TW8/view
    "Legenda Burung yang Bersila" - Pembahasan singkat tentang Pancasila sebagai ideologi Indonesia

    • Halo Ifandi, terima kasih sharingnya. Semoga bisa bermanfaat juga untuk pembaca yang lain. btw masukan aja soal mengedukasi ideologi saya kanan-sayap kiri. mungkin jauh lebih baik jika diceritakan kronologi latar belakang sejarahnya dari Revolusi Perancis. Sehingga para pembaca bisa lebih memahami konsep mendasar kenapa ada pengertian ideologi kanan-kiri. Dari sejarahnya yang dari Revolusi Perancis itu pula, kita punya acuan yang sahih ketika memperdebatkan apakah suatu ideologi layak disebut sayap kanan/kiri.

      Semoga sukses dengan program kerjanya!

  • Alif

    Kalo disimpulkan, komunisme itu udah fase akhir dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat utopia (an utopian society), surga nya 'dunia' dimana semuanya sudah tidak perlu meributkan apa-apa lagi. Tapi, menurut gue itu butuh waktu yang sangat lama. Hampir dibilang mustahil.

    • Ya betul sekali. Tahap komunisme versi Marxist seringkali dilabelkan utopia society. Dalam upaya utk mencapainya, menurut Marx diperlukan tahap transisi yaitu Sosialisme, yang mana telah diupayakan oleh Uni Soviet, RRC, Vietname, Kuba, dll. Tapi sampai saat ini, sejauh yang gua tau, belum ada komunitas yang telah sampai pada tahap komunisme versi Marx.

  • Rahma

    sekularisme dan liberalisme itu gimana ya bedanya? Aku bingung 🙁 sepemahan aku sekular itu kan membedakan urusan agama (ga dicampuri dengan hal2 yang berkaitan dengan negara) biarlah agama tuh urusan masing2..bener ga sih? Jadi juga malah kyk bebas kan? nah liberalisme kan juga bebas gtu, bebas memilih utk beragama atau tidak. Pengen tau letak perbedaannya yang jelas di mana ya? Maaf ya pertanyaannya terlalu remeh, udah bbrp kali nanya sama org hasilnya tidak memuaskan. semoga bisa dibantu 🙂

    • Halo Rahma, pertanyaan kamu bagus kok.
      Kalo secara sekilas memang sekularisme dan liberalisme itu agak mirip, tapi untuk memudahkan kamu untuk melihat inti perbedaanya, terletak pada penekanannya.

      Negara sekuler = agama itu urusan individu, tidak boleh menjadi pertimbangan untuk bikin undang-undang negara, agama tidak boleh juga jadi dasar pelaksanaan undang-undang, agama tidak boleh juga jadi bahan dasar pertimbangan dalam pengadilan.

      Negara liberal= warga negara memiliki hak individu yang harus dihormati, berpendapat diperbolehkan, beragama diperbolehkan, tidak beragama juga boleh, ingin menikah boleh, tidak ingin menikah juga boleh.

      Sekilas beda tapi ga sama ya, bedanya pada PENEKANANNYA. Sekuler menekankan pada pemisahan agama dari pemerintah. Liberal menekankan hak-hak dan kebebasan individu.

      Kalo lo mau tau beberapa negara yang masih menggunakan dasar agama dalam pemerintahannya, bis dilihat di sini : https://en.wikipedia.org/wiki/Secular_state#/media/File:Map_of_state_religions.svg

      • Reinhard

        Ga nyangka, negara yang maju (pendidikan, ekonomi, teknologi) kaya Singapura ga mendukung kebebasan berpendapat.
        Nice info Kak.

      • Rahma

        Thanks Kak! It helps me a lot, nanti aku baca lebih banyak referensi lagi ^^

      • Sarah Evangelista

        Habis baca jawaban Kak Glenn tiba-tiba otak nyeletuk "apa gunanya depag di Indonesia?" Secara cuma mewakili satu agama aja gitu. Lagian UUD bilang Indonesia negara hukum, bukan negara agama. ?

  • abdullah ba’agil

    Harusnya zaman dulu pki baca blog zenius.

    Gimana menurut bang glen ?

  • Mas Dartono

    Tulisan yang bagus.

  • Adela Wardhani

    Artikelnya keren. Kebanyakan masyarakat banyak yang enggak tahu atau awam masalah ideologi. Tapi... yang paling bikin greget kalau udah masalah komunis, habis banyak salah pahamnya. sejarah komunisme di Indonesia aja juga enggak semuanya bener, kalau enggak salah pernah tuh baca buku sejarah saya lupa pengarangnya siapa, di buku itu mengatakan Amerika ikut andil dalam G30S PKI dan kasus ini disimpen sama CIA.

  • AiEsper

    Kak mau nanya nih
    Jadi kita bisa ngambil kesimpulan dari tulisan itu kalau komunisme itu untuk mewujudkan masyarakat yg setara dan bebas, jadi kenapa china mensensor internet warganya ?

    • Ada 2 hal yang perlu kamu pahami di sini:

      1. Komunisme memang memperjuangkan kesetaraan TAPI tidak memperjuangkan kebebasan. Kesetaraan dan kebebasan adalah 2 hal yang berbeda.
      2. China secara teknis memang dikuasai oleh "Chinese Communist Party" tapi dalam prakteknya, kebijakan Negara China sangat jauh menyimpang dari gagasan komunis. Terutama sejak tahun 1978, ketika Deng Xiaopeng mengambil alih pemerintahan Mao.

      Kenapa China mensensor internet? Ya karena memang Negara China sejak dulu bukanlah negara yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan kebebasan informasi.

  • hehahehi

    bang, sori OOT, gue pingin curhat sedikit boleh ga? gue barusan baca artikel bang glenn yg salah jurusan, tapi gue bukannya salah jurusan sih, gue ngerasa salah univ.
    nih, gue sejak kecil pingin kuliah di UGM, entah jurusan apa gue belom mikir, intinya pingin kuliah di UGM, trs awal kelas 12 kemaren gue mulai mikir sbmptn mau daftar mana aja, buat jurusannya gue udah mantepin geologi, dan hanya geologi. akhirnya gue milih ugm dan 1 univ lainnya tapi kurang 1 kan ya, masa mau 2 doang. akhirnya gue nyantumin FITB ITB di pilian pertama -- setelah pertimbangan think outside the box, cobain idup rantau jauh sama ortu, dan nyobain kuliah di itb.
    Setelah belajar, bla bla bla, gue keterima di FITB nih, bener-bener ga nyangka, nah setelah gue ngerasain atmosfer kuliah di sini, gue malah ngerasa tertekan ya, entah masih adaptasi ato gimana, tapi gue ga ngerasa belajar itu asik lagi, tapi suatu tuntutan, dan keburu gue waktu SMA BENER-BENER BODO, ranking paralel aja 90-an dari 200 anak IPA, materi UN ga gue kuasain semuanya, waktu sbmptn aja gue ninggalin materi kalkulus 100% dan cuma ngandelin beberapa bab doang, gue jadi ngerasa ketinggalan jauh (pake banget). dan tiap abis kuliah gue selalu capek dan ketiduran di kost susah mau belajar, gue sempet nangis nangis telpon orang tua, ortu gue malah bilang gini "kalo kamu emang ga betah, taun depan boleh cobain daftar kuliah lagi kok, yang penting kamu yang kuat dulu ya, ibu sama bapak doain dari sini" air mata gue makin deres. gue ga pingin ngecewain ortu, tapi gue gak dapet esensi belajar buat ilmunya disini. selama sbmptn gue enjoy aja belajar sampe jam 2 pagi TANPA kopi, sekarang pake kopi aja jam 10 udah ketiduran.
    dan selama gue kuliah disini, gue jarang banget maen, semua temen gue pada ngajakin belajar, padahal gue lagi dititik jenuhnya belajar, kalo belajar juga ga fokus dan ilmunya ga masuk.
    Pernah gue saking jenuhnya disini, gue ngadain 'main' mendadak, gue langsung cabut ke jakarta selepas kegiatan UKM, masih bawa barang-brang dari kegiatan itu, gabawa baju ganti, buat maen ke dufan (ada promo) ,dengan tugas masih banyak, gue cabut aja. Konsekuensinya setelah balik dari jakarta gue begadang ngerjain tugas tuh.
    nah yg masih bikin gue kaget setelah 2 bulan disini adalah harganya, mahal banget dibandingin biaya kehidupan di jawa.
    dan disini gue masih ngerasa sendiri, banyak temen gue yg kuliahnya masih di tanah jawa, gue kayak mencar sendiri ke bandung. dan keburu gue orangnya tertutup banget, susah buat gue dapet temen yg klop. kalo kenal sih udah kenal banyak anak, tapi masih belom dapet yg klop buat diajakin kemanamana.
    gue niatnya kuliah disini biar ngerasain atmosfer belajar, eh ternyata kuliah disini cepet banget ya, belom sempet meresapi ilmunya, udah ganti bab aja 🙁 bener bener keteteran abis gue disini (akhirnya gue jadi gaikut UKM samasekali -- gerakan non unit wk)
    nah kalo gue mau pindah, gue masih gaenak sama biayanya itu. walaupun dalem ati, gue jadi teringat impian gue dulu kalo pingin kuliah di ugm (jogja ngangenin banget ternyata).
    menurut bang glenn gimana? apa yang salah sama diri gue?

    • Al

      omg gue ngerasain apa yang lo rasain sekarang. boleh minta kontak line atau yang bisa dihubungi? let's sharinggg

      • hehahehi

        boleh boleeh, sini bagi id line lo wkwk.

      • hehahehi

        kalo ga, kirim id line lo ke hehahehi1998@gmail.com ya

        • Al

          udah gue kirim bro

  • Firman

    Korea utara bisa dibilang negara fasisme juga nggak?

    • lebih tepat disebut dengan Absolut Monarki, tapi coraknya memang mirip sekali dengan fasisme

  • yudhis

    huftttt gilak - gilak , aku baru pertama kali baca yang berbau bau sosial - ekonomi - politik kyk gini wkwkwk , biasanya dah ngak napsu klok dah dengar kata kata diatas
    tpi thanks kak glenn , nambah wawasanku 🙂

  • Rivaldi Octora Sulaiman

    tambahan bang.

    untuk fasisme itu sendiri sebenarnya memperbolehkan perusahaan swasta

    contohnya bisa kita lihat dari produksi senjata dan pendesainan kendaraan lapis baja oleh perusahaan perusahaan swasta jerman. ataupun itali
    PIAT = tank
    Mauser = small arms
    Rheinmetal = artillery
    Opel = Truk
    Porche = desain awal tiger, produksi tank
    Henshcel = produksi masal tiger, produksi tank
    Dornier , heinkel, focke wulf, messerschmitt = pesawat
    blom n voss = submarine, screenship dll

    belum termasuk perusahaan perusahaan non militer seperti siemens dll

    dan setau saya third reich itu bukan fasis tapi nasional sosialis, berbeda.
    sama halnya di Indonesia bahwa pengertian dasar komunisme sudah didistorsi, begitupun dengan konsep nasional sosialis dengan propaganda sejarah pemenang yang melukiskan bahwa merekalah penjahat.

    terima kasih

  • ichsandwip

    As always keren artikelnya. Bang, apa ga takut ntar dicekal gr2 dikira zenius kemunculan bibit komunis? Soalnya ane gamau sampe zenius dibredeli hahahay

    • Haha... rasanya dalam artikel ini gua hanya menjelaskan ide pokok dari berbagai macam pandangan ideologi politik & sama sekali tidak mempromosikan pemikiran ideologi politik manapun. 🙂

  • M Syahman Samhan

    "jangan belajar paham A, nanti kamu jadi ikut-ikutan berpaham seperti itu." Gua berani jamin itu cuma omong kosong. Nonsense! Jangan pernah takut dalam belajar & mencari ilmu. Seseorang yang belajar tentang sebuah gagasan politik-ekonomi tertentu, tidak berarti dia pasti/harus mengikuti gagasan tersebut. Nggak ada yang salah dengan belajar untuk menambah wawasan, karena jika wawasan semakin lebar, lo akan punya perspektif yang luas dalam melihat dunia ini.

    Best banget tulisannya. My personal experience: Gw tetep baca The God Delusion nya Richard Dawkins, bukan untuk menjadi atheis, tetapi untuk membuka sudut pandang baru tentang agama. Gw seneng banget di Indonesia masih ada orang-orang berpikiran terbuka. Keep posting, zenius blog 🙂

  • Anggra alhera nasmita Utamo

    Wah berarti zenius pro paham kapitalis dong 😀 secara perusahaan swasta.

  • Manap Gan Teng

    Artikelnya bagus bang. Cuma mau gimana lagi, mencerdaskan bangsa indonesia susah bener sampe" pemerintah bosen ngejalaninnya.

  • Artikel yang sangat bermanfaat sekali bang Glenn 🙂
    Terimakasihhh

  • hassan herman

    Bolehkah saya minta sugesti tentang buku yang menerangkan paham demokrasi,sosialisme,komunisme,fasisme,kapitalisme,jamilahisme,saya mulai tertarik untuk mempelajarinya.kalau di sekolah tidak jelas.Mohon bantuannya

  • Erwin Rockymel

    Misalnya nih ada orang yang menganut komunis apa emang bisa dibilang dia orang jahat? Apa emang bisa dia dianggep pemberontak sebenernya komunis itu g salah karena yang salah orang indonesia nya sendiri yang salah mengartikannya seadainya dlu pki g ada yang namanya komunis mubgkin masih baik di pandangan orang indo tapi karena didirikan di indo yang negara demokratis yaa berbentur lah ama yang ada indonesia kan nasionalis sebenernya masih bisa aja sih ada komunis karena bung karno sendiri kan menggagas nasakom sebenernya bisa tuh komunis berdampingan ama agamis dan nasionalis tapi karena ada 'aktor2' yang sengaja pengen ngejatohin bung karno jadi yaa... kek gitu lah akhirnya

  • Fuck

    Blog yang sangat keren,
    Di sini saya hanya fokus di paham Komunis, ya paham yang menurut gua mencakup semuanya.
    Srkali kali, bahas tentang Teologi.
    Lanjutkan!
    Trms