Gimana Cara Mengerjakan Soal TPA Sebab-Akibat?

Berisi penjelasan lengkap tentang cara pikir sebab-akibat dan strategi dalam menghadapi tipe soal sebab-akibat di SBMPTN TPA.

Halooo para pejuang SBMPTN.. Gimana nih persiapan belajar SBMPTN nya? Udah mulai gas pol sejak Juli tahun lalu atau masih belum mulai juga nih belajarnya? Zenius sarankan banget untuk mulai belajar dari jaaaauh-jauh hari, yaitu dari sekarang! Ya, sekarang, bro. Soal SBMPTN itu jauh lebih ngejelimet dari ulangan harian, UTS, UAS, bahkan UN sekalipun. Persaingannya pun super sengit.

Buat yang mau mulai belajar SBMPTN dari sekarang, Zenius selalu menyarankan untuk mulai belajar dari TKPA, yang terdiri dari TPA (Tes Potensi Akademik), Matematika Dasar, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Kenapa? Karena TKPA ini bisa menjadi lumbung nilai berharga yang sering banget diremehkan para pejuang SBMPTN. Selain itu, materi yang ada di TKPA, khususnya TPA, bisa jadi fondasi berpikir yang kuat dan bakal membantu lo ketika belajar materi Saintek atau Soshum. Untuk penjelasan lebih lengkap kenapa lo sebaiknya mulai belajar dari TKPA untuk persiapan SBMPTN, lo bisa baca di sini: Mau belajar SBMPTN lebih awal, sebaiknya mulai dari mana?

Nah, artikel Zenius kali ini akan fokus ngebahas salah satu materi TKPA yang bikin heboh di SBMPTN 2016 lalu, yaitu TPA. Buat yang belum tau, pada SBMPTN 2016 kemarin, tipe soal TPA yang muncul mengalami perubahan yang lumayan bikin geleng-geleng kepala peserta tes. Muncul sebuah tipe soal TPA baru yang belum pernah ada sebelumnya di sepanjang sejarah SBMPTN, yaitu tipe soal Sebab-Akibat.

tpa

Sejak tes SBMPTN 2016 kelar sampe terakhir Wilo mengisi acara di Zenius’ Facebook Live ngobrolin Panduan Belajar TPA, banyak banget yang nanyain tipe soal ini. Ada yang nyeletuk kalo tipe soal TPA Sebab-Akibat tuh aneh, terus bingung mau jawabnya gimana, atau bahkan bingung mikirnya mesti gimana kalo dapet soal begitu.

tannya-sebab-akibat

Yep, the wait is over. Artikel kali ini hadir untuk menjawab request dari kalian. Kita akan jelasin pelan-pelan dan panjang lebar pendekatan seperti apa yang perlu digunakan untuk menjawab soal Sebab-Akibat di TPA SBMPTN. Let’s start.

 

Soal TPA Sebab-Akibat di SBMPTN 2016

Di SBMPTN 2016 kemaren, keluar 5 soal Sebab-Akibat di TPA. Ada yang udah familiar dengan soalnya? Kalo belom, ini kita comot dua soal dari SBMPTN kemaren:

Soal 1:

soal-TPA-Sebab-Akibat-1

Soal 2:

soal-tpa-sebab-akibat-sbmptn-2016-2

Nah, dari dua soal tadi, kalo kita perhatiin, di situ ada dua buah premis. Terus, kita disuruh untuk memilih hubungan mana yang paling pas buat kedua premis tersebut.

Apakah A, premis (1) menyebabkan premis (2)? Atau apakah B, sebaliknya? Atau apakah C, premis (1) dan (2) itu sama-sama penyebab? Atau apakah mereka berdua sama-sama akibat, seperti yang disebut di pilihan D dan E?

Untuk menjawab soal ini, sebenernya kita butuh pengetahuan apa aja sih? 

Sebagai awalnya, kita bisa asumsiin dulu kalo kedua premis yang ada di dalam soal tadi mempunyai hubungan, atau bisa kita sebut berkorelasi. Nah, setelah itu, langkah selanjutnya baru kita tentuin hubungan sebab-akibatnya gimana.

Sebelum kita jawab soal tadi, berarti kita harus tau dulu:

  • apa itu pengertian korelasi,
  • apa itu sebab-akibat atau biasa disebut kausalitas,
  • terus gimana hubungan keduanya,
  • gimana cara menentukan dua kejadian itu saling berkorelasi atau mempunyai hubungan kausalitas, dan hal lain yang berhubungan dengan itu.

Yuk kita bahas satu per satu.

Apa itu Korelasi?

Secara sederhana, korelasi itu dapat diartikan sebagai hubungan. Jadi, ketika kita bilang bahwa kedua hal itu berkorelasi, artinya kira-kira sama aja dengan bilang bahwa kedua hal itu berhubungan. Bedanya, kata “hubungan” lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, sementara kalau dalam konteks ilmiah, kata yang biasa dipakai adalah “korelasi”. Nah, berhubung soal TPA ini konteksnya ilmiah, jadi sekalian aja kita pelajari apa yang dimaksud dengan korelasi dalam statistika.

Misalkan, gue punya dua kumpulan data, sebut aja data A dan data B, yang gue dapat selama 15 periode (misalnya 15 bulan). Kemudian kumpulan data tersebut gue gabungin. Ketika digabungin, kita bisa melihat apakah kedua data itu:

  1. Berkorelasi Positif
  2. Berkorelasi Negatif
  3. Tidak berkorelasi

Nah, dari mana cara kita tau apakah dia berkorelasi positif, negatif, atau tidak berkorelasi? Jawabannya adalah dengan menggunakan perhitungan matematis. Tapi, pada artikel ini, gue gak akan masuk terlalu teknis tentang bagaimana cara menghitungnya. Gue akan nunjukkin pake grafik aja supaya lo bisa melihat korelasi tersebut secara intuitif dengan menggunakan grafik.

Misalnya gue punya 3 kasus seperti ini:

data-korelasi

Coba lihat data di atas. Gak jelas kan? Hehe, ya iya lah. Kalau penyajian datanya dalam bentuk tabel gitu, pasti gak jelas memang. Nah, supaya jelas, coba masing-masing kasus kita tampilkan datanya dalam bentuk grafik.

Kasus 1

Kalo kasus 1 kita nyatakan dalam grafik, hasilnya begini:

korelasi-positif

Nah, kalo bentuk grafiknya begitu, itu berarti data A dan data B pada kasus 1 ini berkorelasi positif karena ketika nilai A naik, nilai B juga ikut naik, dan ketika nilai A turun, nilai B juga turun. Ngikut gitu.

Kasus 2

Berikutnya, gimana grafik untuk hubungan antara data A dan data B pada kasus 2? Begini grafiknya:

korelasi-negatif

Di sini, lo bisa liat bahwa pada saat nilai A naik, nilai B malah turun. Dan sebaliknya, pada saat nilai A turun, nilai B malah naik. Oleh karena itu, hubungan antara kedua kumpulan data pada kasus 2 ini kita sebut berkorelasi negatif.

Kasus 3

Terakhir, coba kita liat grafik untuk kasus 3:

tidak-berkolerasi

Wah, ternyata, pada kasus 3, kedua kumpulan data ini tidak berkorelasi. Kenapa? Karena pada saat nilai A naik, nilai B kadang naik, kadang turun. Pada saat nilai A turun, nilai B juga kadang naik, kadang turun.

Oke, sekarang lo udah kebayang lah ya, apa yang dimaksud dengan korelasi. Berikutnya, gue punya pertanyaan lagi nih:

Korelasi itu memangnya buat apa?

Terus, gimana caranya kita bisa menentukan hubungan sebab-akibat dari dua hal yang saling berkorelasi?

Lanjut terus bacanya, ya, gue akan coba menjawab pertanyaan tersebut di bagian selanjutnya.

 

Hubungan Sebab-Akibat (Kausalitas) antara Dua Hal yang Berkorelasi

Jika dua hal itu tidak berkorelasi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Tapi ketika kedua hal itu berkorelasi, maka belum tentu keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat. Kayaknya dua kalimat barusan itu penting, gue highlight deh di bawah:

Ketika dua hal tidak berkorelasi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa

keduanya TIDAK menunjukkan hubungan sebab-akibat,

TAPI,

ketika kedua hal berkorelasi, maka BELUM TENTU keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Jadi, pada contoh kasus 3, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keduanya pasti tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Tapi, pada contoh kasus 1 dan 2, kita belum tau. Ada beberapa hubungan yang mungkin terjadi antara A dan B pada kasus 1 dan 2, antara lain:

  1. A menyebabkan B
  2. B menyebabkan A
  3. A dan B disebabkan oleh hal lain (sebut aja C)
  4. Tidak ada hubungan sama sekali antara A dan B, korelasi antar keduanya murni kebetulan

cartoon-correlation

Terus, gimana caranya kita bisa tau apakah kedua hal yang berkorelasi itu masuk hubungan yang ke 1, 2, 3 atau ke 4? Bisa gak, sih, kita langsung nentuin gitu aja hubungannya gimana? Nah, supaya lo lebih kebayang, mending kita coba ulas berbagai contoh nyata yang pernah diteliti sama orang-orang, ya.

Contoh Kasus I – Rokok dan Life Expectancy

Kita mulai dari contoh yang pertama, yaitu hubungan antara merokok dan menurunnya angka harapan hidup (life expectancy). Kita buat aja A dan B demikian:

  1. Konsumsi rokok
  2. Angka harapan hidup (atau gampangnya, usia ketika meninggal)

Hubungan antara konsumsi rokok dengan angka harapan hidup sudah diteliti sejak lama. Salah satu penelitian terkait hal tersebut pernah juga dibahas di artikel tentang bagaimana cara mengambil kesimpulan yang rasional. Di artikel tersebut, ditunjukkan bahwa konsumsi rokok berkorelasi terhadap angka harapan hidup (rata-rata perokok meninggal di usia 10 tahun lebih muda dibanding yang bukan perokok).

Oke, kita tau bahwa A dan B berkorelasi. Kalo gitu, sekarang pertanyaannya adalah, apakah keduanya memiliki hubungan sebab-akibat? Hmm, untuk kasus ini, kayaknya iya.

Hubungannya adalah A menyebabkan B. Udah jelas, kan, kalo rokok itu memang membuat umur kita lebih pendek? Pasti bener gitu gak, nih?

Hehe. Coba kita lanjut dulu ke contoh berikutnya.

Contoh Kasus II – Es Krim dan Kebakaran

Sekarang kita masuk ke contoh kasus II, yaitu korelasi antara penjualan es krim dengan tingkat kebakaran hutan.

  1. Penjualan Es Krim
  2. Tingkat Kebakaran Hutan

Misalnya, hubungan antara keduanya diteliti dan hubungannya bisa diliat pada grafik berikut ini:

es-krim-vs-kebakaran-hutan
[sumber gambar: linkedin]
Dari grafiknya, kita bisa bilang bahwa penjualan es krim itu berkorelasi dengan tingkat kebakaran hutan, tapi terus hubungan sebab-akibatnya gimana? Kayaknya gak mungkin, deh, penjualan es krim itu menyebabkan kebakaran hutan. Iya gak, sih? Dan gak mungkin juga kebakaran hutan membuat orang menjual es krim.

Salah satu penjelasan yang mungkin adalah, keduanya memiliki penyebab yang sama, yaitu cuaca. Ketika cuaca panas, penjualan es krim meningkat, begitu juga dengan tingkat kebakaran hutan. Sebaliknya, ketika cuaca dingin, penjualan es krim menurun, begitu juga dengan tingkat kebakaran hutan.

Nah, jadi pada kasus II ini, ada hal lain (sebut aja C) yang menjadi penyebab kejadian A dan B. Bener gak?

Contoh Kasus III – Perceraian dan Margarin

Berikutnya, kita masuk ke contoh kasus III, yaitu hubungan antara rata-rata perceraian di Maine, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, dengan konsumsi margarin per kapita.

  1. Rata-rata perceraian di Maine
  2. Konsumsi margarin per kapita

divorce-rate

Dari grafik terlihat jelas bahwa keduanya berkorelasi. Tapi, gimana dengan hubungan sebab-akibatnya? Kayaknya sih, ini gak ada hubungan sebab-akibat sama sekali. Korelasi antara keduanya itu murni kebetulan. Apa coba hubungan antara margarin dengan perceraian rumah tangga??

By the way, kalo lo buka website ini, lo bisa menemukan contoh-contoh lucu korelasi antara dua hal yang tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

——————————————–

Okee, dari ketiga contoh kasus di atas, kelihatannya gampang lah ya, kita menentukan apakah sesuatu yang berkorelasi itu memiliki hubungan sebab-akibat atau enggak. Tapi, pada prakteknya, kalo kita terjun dalam penelitian ilmiah beneran, kita akan menemukan buanyak sekali contoh kasus di mana para ilmuwan masih saling memperdebatkan penjelasan hubungan sebab-akibat antara dua hal yang berkorelasi. Untuk lebih mengerti tentang hal ini, kita harus tau dulu bagaimana cara ilmuwan mengambil kesimpulan dari korelasi yang ada.

Pada kasus I misalnya, yang tentang rokok.

Buat kita yang hidup di jaman sekarang, mungkin gak heran mendengar argumen bahwa rokok itu merusak kesehatan. Tapi, buat orang yang hidup sebelum tahun 1900, ini adalah hal yang aneh. Pada jaman itu, rokok bukan cuma dihisap untuk gaya hidup, tapi banyak juga yang percaya bahwa rokok itu bagus untuk kesehatan. Pada jaman itu loh, ya. [ref artikel abad 19]. Jadi, ketika ada beberapa penelitian yang menunjukkan korelasi antara merokok dengan kesehatan, gak semua ilmuwan langsung setuju.

Kalau kita mengabaikan berbagai penelitian lain tentang rokok dan hanya bergantung pada korelasi antara rokok dengan angka harapan hidup tersebut, maka argumen berikut ini juga masuk akal:

Mungkin orang yang suka merokok itu memang rata-rata pemalas. Pemalas itu jarang olah raga. Nah, itu lah yang membuat mereka gak sehat.

Kira-kira argumen tersebut bisa dirangkum menjadi diagram berikut:

malas-olahraga

Jadi bukan A (rokok) menyebabkan B (umur pendek), tapi keduanya disebabkan oleh hal lain, yaitu C (malas olahraga), misalnya. Kira-kira mirip dengan argumen kasus II, tentang es krim dan kebakaran hutan.

Terus kalo gitu, gimana cara kita tau argumen mana yang bener?

Nah, di sinilah poin pentingnya.

Untuk bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara keduanya, kita membutuhkan penelitian lanjutan!

Untuk kasus rokok ini, penelitian lanjutannya sudah banyak, antara lain:

  • ditemukan korelasi antara rokok dengan penyakit jantung,
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan berbagai penyakit paru-paru,
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan stroke (gangguan pembuluh darah di otak),
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan berbagai jenis kanker,
  • ditemukan bahwa Acrolein, zat kimia yang banyak ditemukan di rokok, bereaksi dengan deoxyguanosine dan membentuk DNA crosslink, DNA-protein crosslink, dan DNA adducts (bisa dibilang itu semua bahan dasarnya kanker lah),
  • dan lain-lain

Nah, dari berbagai penelitian inilah, akhirnya ilmuwan semakin yakin bahwa memang benar rokok itu merusak kesehatan, sehingga umur perokok itu menjadi lebih pendek.

So, yang mau gue tekankan di sini sekali lagi adalah:

Ketika dua hal itu berkorelasi, kita perlu INFORMASI TAMBAHAN mengenai berbagai penelitian di luar sana untuk bisa menyimpulkan apakah keduanya benar-benar memiliki hubungan sebab-akibat.

Jadi, gak boleh sembarang tebak pake perasaan aja. 🙂

 

Kembali ke soal TPA SBMPTN

Okee. Itu tadi sekilas penjelasan tentang korelasi dan sebab-akibat atau kausalitas. Coba sekarang kita balik lagi ke soal SBMPTN yang di awal banget tadi. Pada soal-soal tersebut, terdapat dua premis, lalu kita diminta mencari tau hubungan sebab-akibat antara keduanya. Gimana caranya? Sebelum masuk ke sana, gue mau cerita dulu tentang sistem tertutup di soal TPA SBMPTN.

Soal TPA SBMPTN itu biasanya menggunakan sistem tertutup. Maksudnya sistem tertutup itu adalah, lo gak boleh mengambil kesimpulan dengan menggunakan informasi yang ada di luar soal. Sebagai contoh, lihat soal logika deduksi berikut ini:

tertutup-1

Untuk soal nomor (1) di atas, jawabannya adalah “Donal warnanya putih”. Lo gak perlu tau apakah beneran ada bebek yang bernama Donal, dan lo juga gak perlu tau apakah benar semua bebek warnanya putih. Yang pasti, kalo kedua premis tersebut dianggap benar, maka kesimpulannya juga PASTI BENAR. Supaya lebih jelas, gue kasih contoh yang lebih ekstrim, deh.

tertutup-2

Untuk soal nomor (2) ini, jawabannya adalah “Donal kakinya empat”. Jadi, kita gak bisa menyimpulkan bahwa Donal kakinya dua meskipun lo pernah baca di komik bahwa Donal itu kakinya dua. 🙂

Kalo kita berpikir dengan sistem logika tertutup, artinya, dalam menarik suatu kesimpulan, kita cuma boleh menggunakan data atau premis yang dikasih. Misalnya, seperti contoh tadi, kita dikasih 2 buah premis, maka kesimpulan yang kita tarik harus cuma berdasarkan 2 premis yang dikasih itu.

Kita gak boleh nambahin premis-premis lain atau memasukkan data empiris sendiri, apalagi dihubung-hubungin dengan keadaan yang ada di kehidupan sehari-hari misalnya, pake asumsi juga gak boleh. Pokoknya, harus terbatas dengan premis yang dikasih aja.

Atau contoh lain di TPA Logika Analitik misalnya, ada soal begini:

kasus-3-timo

Nah, dari data yang dikasih, jelas bahwa nilai Dino adalah yang terendah karena lo menyimpulkannya dari data yang dikasih. Lain halnya kalo misalnya lo punya temen (in real life) bernama Timo dan sepanjang lo kenal dia, dia gak pernah dapet nilai matematika 100, terus lo mau menghubung-hubungkan dengan soal ini, dan pada akhirnya urutan nilainya lo ubah sendiri. Nah, yang begini juga gak boleh lo lakuin, ya 🙂

Sekarang, coba kita liat salah satu soal TPA SBMPTN yang baru. Apakah ini juga merupakan tipe soal yang tertutup? Pada soal nomor satu misalnya, terdapat dua premis dan kita diminta mencari hubungan sebab-akibat antara kedua premis itu.

soal-TPA-Sebab-Akibat-1

Nah, kalau lo perhatiin, soal ini bukanlah tipe soal sistem tertutup. Kenapa? Karena seperti yang kita jelasin sebelumnya, untuk bisa menyimpulkan bagaimana hubungan sebab-akibat antar keduanya, kita harus mempunyai dukungan data dengan penelitian, yang informasinya berada di luar soal itu sendiri.

Kalo kita menggunakan logika sistem tertutup untuk mengerjakan soal TPA yang baru tersebut, jawabannya simpel: tidak bisa diambil kesimpulan apa-apa dari dua premis yang ada. Jadi, jawabannya adalah: F. 🙂

Tapi, kalau kita bersikeras bahwa soal tersebut harus ada jawabannya, maka kita harus memandang soal itu dengan menggunakan sistem terbuka, di mana kita harus mempertimbangkan informasi di luar soal untuk bisa menjawab soal tersebut. Nah, kalo begitu, kita harus mengambil data penelitian yang ada di luar sana dulu sebagai informasi tambahan untuk menentukan hubungan sebab-akibat dari kedua premis yang dikasih. Dalam mencari data penelitian, beberapa pertanyaan berikut ini bisa kita ajukan:

  • Apakah benar ada korelasi antara jumlah siswa yang mengikuti bimbel dengan siswa menyediakan lebih banyak waktu untuk belajar?
  • Apakah korelasi antar keduanya merupakan korelasi positif atau negatif?

Kalau positif, maka ada kemungkinan bahwa semakin banyak siswa yang mengikuti bimbel, maka semakin banyak siswa yang menyediakan lebih banyak waktu untuk belajar. Kalau negatif, maka ada kemungkinan bahwa semakin banyak mengikuti bimbel, maka malah semakin sedikit siswa yang menyediakan lebih banyak waktu untuk belajar.

  • Mungkin gak keduanya disebabkan oleh hal lain?

Misalnya, siswa yang mengikuti bimbel semakin banyak bisa jadi karena UN yang sudah dekat. Terus, siswa yang menyediakan waktu lebih banyak untuk belajar juga bisa jadi karena UN yang sudah dekat. Apakah sudah ada data pasti yang menunjukkan korelasi antara hal-hal ini?

  • dan lain-lain

Nah, banyak kan, yang perlu kita cari tau untuk bisa mengambil kesimpulan dari kedua premis yang ada di soal tersebut? Jangan lupa bahwa kesimpulan yang valid itu harus didukung dengan berbagai penelitian, bukan sembarang nebak pakai perasaan. 🙂

Terus, cara gue jawab soal itu gimana nih, kalao nanti tipe soal seperti ini keluar lagi di TPA SBMPTN?

Nah, kalau mau lihat bagaimana jawaban gue untuk soal kayak gini, lihat aja video berikut:

>> video pembahasan soal TPA logika – TPA SBMPTN 2016 <<

(soal sebab-akibat mulai dari nomor 6)

OKEE. Udah jelas berarti ya kalo gitu gimana cara menghadapi soal-soal tipe sebab-akibat ini. Mudah-mudahan dengan adanya penjelasan tentang korelasi dan kausalitas (sebab-akibat) ini, lo bisa mengerti pentingnya mengolah informasi secara benar.

Meskipun menurut kita pribadi soal ini gak bagus sebagai soal TPA SBMPTN, tapi, lumayan lah yaa, bisa memancing diskusi tentang bagaimana mengolah informasi dengan baik. Gue ingetin sekali lagi nih, poin pentingnya,

Ketika ada dua hal yang mempunyai hubungan sebab-akibat, mereka berdua PASTI berkorelasi.

Tapi, kalo ada dua hal yang muncul secara bersamaandan berkorelasi, BELUM TENTU keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat walaupun keliatannya masuk akal.

;)
😉 😉 😉

Jadi, hati-hati, ya, dalam menyaring dan menganalisis informasi yang lo dapet dari mana-mana. Jangan lupa untuk selalu melakukan fact checking, apalagi kalo lo mau meneruskan informasi itu ke orang lain. Pastiin dulu bahwa itu benar. Siip! Sampe ketemu di artikel berikutnya, yaa.

 

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada yang mau ngobrol lebih lanjut sama Wilo dan Wisnu tentang soal TPA Sebab-Akibat, jangan malu-malu langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini.

Kalo lo butuh panduan belajar untuk tipe soal TPA yang lain, lo bisa cek di sini:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.