Kartini: Bukan hanya tentang Kebaya

Artikel ini mengupas kisah hidup dari salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, yaitu R.A Kartini. Dari masa kecil, remaja, dan karya hidupnya secara lengkap.

Halo guys, ada yang tau tanggal 21 April diperingati sebagai hari apa? Yak, betool hari ini adalah hari Kartini! Mungkin hampir semua orang di Indonesia tau tentang hari Kartini, hari di mana anak-anak sekolah didandanin pake kebaya dan baju daerah. Hari ceria yang menghiasi masa kecil kita semua dengan pameran busana daerah, acara tarian daerah, lagu-lagu, pentas seni, bazar, dll. Sosok Kartini menjadi begitu identik dengan kebaya, pakaian daerah, dan tradisi seremonial tiap tahun.

Bisa jadi, hampir semua orang di Indonesia pernah mengalami perayaan Hari Kartini. Besar kemungkinan, semua yang membaca tulisan ini juga pernah menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini“. Kartini memang simbol nasional kita yang luar biasa. Bahkan dia adalah satu-satunya tokoh nasional yang diperingati hari kelahirannya – 21 April (hari kelahiran Sukarno saja tidak diperingati secara nasional). Mungkin juga, beliau adalah satu-satunya tokoh nasional yang dibuatkan lagu khusus (Ibu Kita Kartini). Tokoh nasional mana lagi coba yang lagunya dinyanyikan setiap tahun? Tapi di sisi lain, berapa banyak sih orang Indonesia yang benar-benar membaca pemikiran-pemikiran Kartini? Berapa banyak orang Indonesia yang tahu kisah kehidupan Kartini dan gagasan seperti apa yang ia perjuangkan?

Yah, mungkin sebagian besar orang cukup sekadar tahu bahwa Kartini adalah seorang ibu keturunan ningrat Jawa yang memperjuangkan emansipasi. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Kartini bukanlah sosok wanita yang anggun ‘seperti puteri Solo’ sebagaimana dibayangkan kebanyakan orang, melainkan wanita yang dijuluki “kuda liar” oleh keluarganya. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Kartini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para pejabat dan tokoh Hindia-Belanda. Tidak banyak yang sadar juga bahwa sampai akhir masa hidupnya, Kartini bahkan tidak pernah tahu apalagi mengenal istilah Negara Republik Indonesia, tapi kini dirinya malah kita jadikan Pahlawan Nasional.

kartini-bukan-kebaya

Siapakah sosok Kartini sebenarnya? Bagaimana mungkin hidup seorang wanita yang hanya berumur 25 tahun, bisa begitu dikenang oleh sebuah negara? Nah, untuk memperingati Hari Kartini, kali ini gua mau mempersembahkan sebuah tulisan singkat tentang kisah hidup dan perjuangannya. Apa yang gua tulis di sini adalah hasil bedah 119 dokumentasi surat yang ditinggalkan Kartini. Satu hal yang pasti bahwa keistimewaan Kartini yang akan gua ceritakan di sini, bukan terletak pada kebaya, lagu, atau seremonial adat – tapi pada intelektualitasnya, gagasannya, dan perjuangannya. Nah, buat lo yang penasaran dengan Kartini, pastiin baca artikel ini sampai habis yak!

Terlepas dari itu, gua sadar bahwa tidak mungkin untuk merangkum kehidupan Kartini hanya dalam satu artikel, terlebih tidak banyak catatan sejarah tentang kehidupan Kartini yang terdokumentasikan selain dari hasil korespondensinya. Jadi mohon maklum jika banyak kisah hidupnya yang terlewat dan peristiwa yang tidak disebutkan. Oke deh, kita langsung mulai saja ceritanya, dimulai dari latar belakang kehidupan Kartini.

LATAR BELAKANG KEHIDUPAN

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, pada sebuah masa ketika tanah ini masih bernama Hindia Belanda, sementara gagasan “negara baru” bernama Indonesia belum ada dalam benak siapapun, dan baru muncul 46 tahun kemudian. Lahir dari kalangan kelas bangsawan Jawa, ayahnya bernama RMA Ario Sosroningrat (selanjutnya disebut Sosroningrat) adalah patih/wedana dan calon bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, anak seorang mandor pabrik gula. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan, oleh karena itu ayah Kartini menikah lagi dengan RA Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura – untuk kemudian resmi diangkat sebagai Bupati Jepara.

Secara singkat, Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Pada masa itu, kedudukan wanita sangat dipengaruhi oleh feodalisme (kebangsawanan) dan adat. Hal itu menyebabkan, sejak kecil Kartini terbiasa melihat ibunya mlaku dodok ngesot, di depan suami, istri kedua, dan anak-anaknya sendiri. Sejak kecil hingga remaja, Kartini dibesarkan dalam dunia yang penuh kontradiksi dan kemungkinan besar (menurut Pramoedya) konflik rumah tangga dan permaduan. Seorang wanita keturunan terhormat yang tidak boleh bebas berekspresi, hanya boleh bicara bila benar-benar perlu, itupun dengan suara berbisik. Berjalan setindak demi setindak seperti siput, tertawa halus tanpa suara, tanpa membuka bibir, tidak boleh terlihat gigi.

Bahkan dalam lingkungan pergaulan antar saudara, seorang wanita bangsawan Jawa tidak punya kesempatan untuk memiliki kedekatan emosional dengan saudara-saudarinya. Seorang adik tidak boleh berjalan melewati kakaknya, kalaupun melewati, harus merangkak di atas tanah. Jika adiknya sedang duduk, lalu sang kakak lewat, si adik harus segera bangun lalu menekuri tanah dan menyembah. Kehidupan persaudaraan dalam bangsawan Jawa itu seperti hidup bersama orang asing satu sama lain. Itulah bentuk latar belakang kehidupan yang dialami Kartini dari sejak kecil hingga remaja.

MASA KECIL (1879 – 1892)

Meskipun menjunjung tinggi adat konservatif bangsawan Jawa, ayah Kartini bisa dibilang berpemikiran sangat progresif pada zaman itu. Kartini dan saudara-saudarinya adalah generasi permulaan dari pribumi yang menerima pendidikan Barat dan menguasai Bahasa Belanda dengan sempurna. Oleh karena itu, Kartini waktu kecil disekolahkan di Europeesche Lageree School atau Sekolah tingkat SD di Jepara yang kebanyakan berisi anak-anak pejabat Hindia-Belanda.

Dalam lingkungan sekolah, lagi-lagi Kartini melihat diskriminasi. Setiap pagi sebelum mulai pelajaran, anak-anak dibariskan kemudian dipanggil berdasarkan warna kulitnya dan kedudukan orangtuanya dalam susunan kepagawaian serta susunan status sosial Hindia Belanda. Di satu sisi, Kartini pandai bergaul dengan teman-teman sebayanya yang kebanyakan noni-noni Belanda. Ia juga sangat senang belajar dan dikenal sebagai murid yang aktif serta pandai. Namun, Kartini kecil juga merasakan diskriminasi, bukan dari teman-temannya, melainkan justru dari para guru-guru yang memperlakukan keturunan belanda lebih istimewa daripada anak keturunan pribumi.

Sejak kecil Kartini hidup dalam dunia yang “aneh”, keturunan terhormat tapi hidupnya terdiskriminasi oleh adat keluarga, lingkungan sosial maupun guru di sekolah. Namun demikian, dalam lingkungan pergaulan anak-anak yang polos, mungkin untuk pertama kalinya Kartini merasakan asas kesetaraan dan hubungan emosional yang dekat dengan bermain-main bersama anak-anak keturunan Belanda. Sampai pada suatu hari, dia mendapatkan sebuah pengalaman tak terlupakan dari sebuah pertanyaan simpel teman sebayanya bernama Letsy Detmar.

IMG_20160419_164552
(atas dari kiri ke kanan) Kartini, Soelastri, Roekmini, Kardinah. (bawah) Kartinah dan Rawito.

Diceritakan pada salah satu suratnya (Agustus tahun 1900 kepada Ny. Abendanon), bahwa pada suatu hari ketika masih bersekolah dia lagi nongkrong dengan salah satu temannya di bawah pohon. Kira-kira begini illustrasi obrolan mereka (aslinya mereka ngomong pake Bahasa Belanda):

  • Kartini : “Hei Letsy, kamu lagi baca buku apaan tuh? Ceritain dong tentang bukunya!”
  • Letsy : “Ini loh, gue lagi baca buku Perancis. Gue kan nanti mau masuk Sekolah Keguruan di Belanda.”
  • Kartini : “Ooh begitu toh…”
  • Letsy : “Kalo kamu Ni, kamu mau jadi apa kelak?”

Mendengar pertanyaan itu, Kartini cuma bisa bengong. Selama ini, pertanyaan semacam itu gak pernah muncul di benaknya. Sebelumnya, Kartini hanya bocah pada umumnya yang senang bermain dan belajar di sekolah tanpa terlalu memikirkan masa depan. Pertanyaan Letsy itu terus menghantui Kartini sepanjang hari, sampai akhirnya dia lari pulang ke rumah dan bertanya pada ayahnya, akan menjadi seperti apa dirinya kelak.

Waktu ditanya, jawaban ayah Kartini singkat saja “Ya tentu, menjadi Raden Ayu”. Awalnya Kartini senang-seneng aja bahwa dirinya kelak menjadi seorang Raden Ayu (namanya juga masih bocah). Tapi apakah ‘”Raden Ayu” itu? Pertanyaan itu terjawab ketika dia lulus dari sekolah rendah (tingkat SD) waktu umur 12 tahun, umur dimana seorang gadis bangsawan Jawa harus dipersiapkan untuk menikah (dipingit) dan tidak boleh bepergian ke manapun selain di rumah untuk belajar memasak, membatik, dan pekerjaan rumah tangga agar kelak menjadi istri yang baik dan penurut.

Diceritakan dalam suratnya pada Nn. Estelle Zeehandelaar, bahwa sejak saat itu dunianya seolah runtuh dan seolah hidup dalam penjara. Kendati Kartini berlutut dan memohon pada ayahnya untuk melanjutkan sekolah ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, ayah Kartini yang terkenal progesif itupun melarang Kartini untuk “mengacaukan” tatanan istiadat bangsawan Jawa dan harus mematuhi tuntutan adat untuk dipingit dan harus bersedia menerima lamaran lelaki tanpa memiliki hak untuk bertanya, apalagi menolak.

Itulah gambaran singkat masa kecil Kartini yang tragis. Seorang gadis turunan bangsawan yang memiliki keinginan belajar yang besar, tapi tidak memiliki kebebasan. Dunia masa kecilnya dipenuhi oleh diskriminasi dan ketidakadilan. Di saat Letsy, dan sahabat-sahabatnya melanjutkan sekolah di Belanda atau Batavia, ia harus dipersiapkan untuk menjadi calon istri pria manapun yang melamar, dan hidup sebagai seorang istri dan ibu yang patuh bagi keluarga. Inilah potret kehidupan perempuan Nusantara (terutama di Jawa) pada awal abad 20.

MASA REMAJA DALAM PINGITAN (1892-1898)

Sejak umur 12 tahun (1892) Kartini masuk ke dalam “kotak” dan harus melewati setiap tahap upacara adat keluarga bangsawan Jawa. Sebagaimana kaum bangsawan Jawa pada masa itu, Kartini melewati upacara cukur rambut, turun bumi, dll. Bagi orang Jawa, upacara-upacara sangat penting untuk menentukan babak kehidupan, baik kelahiran, kedewasaan, perkawinan, maupun kematian.

Hari-hari awal dipingit, Kartini masih galau, bosan, jenuh, dan sedikit sirik dengan teman-teman maupun saudara-saudarinya yang bersekolah. Adik-adik Kartini yang lebih muda (Roekmini dan Kardinah), masih bersekolah di sekolah rendah dan menanti giliran dipingit. Sementara kakak laki-lakinya, RM Sosrokartono bernasib lebih beruntung sebagai laki-laki karena bisa melanjutkan sekolah di HBS Semarang dan ke Universitas Leiden, Belanda. Hari-hari awal Kartini hanya dihiasi dengan kegiatan belajar memasak, membatik, dan menulis surat.

Beruntungnya, Kartini memiliki 2 orang yang sangat peduli dengan kegelisahan dan juga semangat belajar dalam dirinya. Orang pertama adalah sang kakak, Sosrokartono, yang sering mengirimkan buku-buku berkualitas pada Kartini. Kedua adalah Nyonya Marie Ovink-Soer, seorang istri asisten residen Jepara yang tidak memiliki anak. Karena hubungan politik antar keluarga ini, Nyonya Ovink-Soer sering bertamu ke keluarga Sosroningrat. Hubungan emosional antar Kartini dan Nyonya Ovink-Soer menjadi sangat dekat hingga Kartini menyebutnya dengan sebutan Moedertje yang artinya Ibu tersayang.

IMG_20160419_164734
Nyonya Marie Ovink-Soer. sang Ibu Tersayang

Keluarga Ovink-Soer merupakan keluarga bangsawan Belanda yang pertama kali dikenal Kartini. Lewat Nyonya Ovink-Soer, Kartini belajar budaya Belanda dan nilai-nilai modernitas Barat. Interaksi dan diskusi Kartini dengan keluarga Ovink-Soer membuat Kartini merasakan bahwa dirinya setara dengan perempuan Belanda – suatu perasaan yang sangat sulit ia dapatkan dalam lingkungan feodalisme keluarga Jawa. Selain memperkenalkan Kartini dengan bacaan progresif Belanda, keluarga Ovink-Soer ini juga memberi perspektif baru dalam pola hubungan keluarga antar lelaki dan perempuan. Kartini sangat heran sekaligus tertarik dengan pola hubungan pasangan Ovink-Soer yang menjunjung tinggi asas kesetaraan, kebebasan berpendapat, sikap saling menghargai, di mana keduanya sama-sama memiliki hak suara dalam keputusan keluarga. Suatu bentuk hubungan yang sangat bertolak belakang dengan adat masyarakat Jawa pada saat itu.

Sejak dipingit dan tidak boleh bersekolah maupun tidak boleh keluar rumah, semangat belajar Kartini hanya tersalurkan pada bacaan buku-buku Belanda yang dikirim oleh sang kakak dan sang moedertje. Bacaan Kartini tergolong dari karya sastra feminis dan anti perang, seperti Goekoop de-Jong Van Beek, Berta Von Suttner, Van Eeden, hingga Max Havelaar karya Multatuli yang menceritakan ketidakadilan dari cultuurstelsel tanam paksa kopi. Semua buku berbahasa Belanda ini memperkaya perspektif Kartini yang diam-diam mulai ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan hak yang setara dengan lelaki, baik dalam pendidikan, berpendapat, hingga pengambilan keputusan.

Gebrakan awal yang dilakukan Kartini dimulai dari lingkungan keluarga terdekatnya sendiri, yaitu adik-adiknya (Roekmini dan Kardinah) yang terpaut hanya 1-2 tahun dan kebagian nasib yang sama (dipingit) segera setelah mereka lulus sekolah rendah (SD). Kepada adik-adiknya, Kartini mempraktekan nilai-nilai kesetaraan dalam persaudaraan. Kartini tidak ingin adik-adiknya berjalan jongkok di depannya, menyembah, berbahasa kromo inggil, dan etiket feodal Jawa lainnya. Kartini bahkan mengizinkan adik-adiknya untuk bertatap muka langsung ketika berbicara dan memanggil satu sama lain dengan sebutan “kamu” yang berarti tergolong bahasa jawa ngoko. Bagi kita yang sekarang hidup di zaman Indonesia modern, memanggil orang lain dengan sebutan “kamu” adalah hal yang wajar, bahkan tergolong sopan dalam lingkungan pergaulan sebaya. Namun bagi zaman awal abad 20, itu adalah suatu gebrakan yang sangat serius dan mencengangkan. Kartini adalah orang pertama yang berani mendobrak tatanan adat masyarakat Jawa yang dia anggap merendahkan orang lain.

Kenekatan Kartini dengan prinsip egaliternya (kesetaraan), menjadikan dirinya dijuluki kuda kore atau kuda liar oleh lingkungannya. Enam tahun dalam pingitan, Kartini adalah gadis pertama yang tercatat dalam sejarah peradaban Jawa yang memberontak pada tatanan adat istiadat yang kaku dan tidak mempedulikan tekanan sosial di sekitarnya. Jadi sekarang kalo lo memandang potret Kartini yang kalem dengan mengenakan kebaya, jangan dibayangkan dia adalah putri bangsawan yang kalem, anggun, sopan, dengan tata krama yang halus. Sosok Kartini yang gua baca dalam surat-surat aslinya adalah sosok yang pecicilan, pemberontak, tidak patuh, lincah, berpandangan luas, pandai, suka bercanda dan kalau tertawa terbahak-bahak. Hal yang sangat sulit diterima oleh lingkungan adat Jawa pada masa itu.

Semangat Kartini untuk mendobrak tatanan adat yang membuat wanita tidak bebas memperoleh pendidikan tinggi, kawin paksa, poligami, perceraian sepihak, dsb – juga diikuti oleh Roekmini dan Kardinah. Semangat mereka bertiga semakin menyala ketika 2 Mei 1898 sang ayah memutuskan membebaskan mereka dari pingitan. Keputusan Sosroningrat ini tidak lepas atas bujukan dari Pieter Sijthoff dan Nyonya Marie Ovink-Soer agar memperbolehkan Kartini dan adik-adiknya untuk menghadiri perayaan hari penobatan Ratu Wilhelmina di Semarang. Kegembiraan Kartini ia tuliskan dalam suratnya tak terbendung. Ini adalah hari paling membahagiakan bagi dirinya, hari pertama pembebasan itupun dirayakan dengan pengalaman pertama Kartini ke luar Jepara dan melihat “dunia baru” di Semarang.

TERLEPAS DARI PINGITAN (1898-1903)

Setelah lepas dari pingitan, Kartini mendirikan sekolah pertama untuk perempuan pribumi di tanah Hindia Belanda. Awalnya, sekolah itu berisi hanya satu orang murid. Ide “menyekolahkan anak perempuan” itu adalah hal yang asing, aneh, dan radikal. Tidak menyerah, Kartini terus menyurati orangtua yang memiliki anak perempuan di seluruh Jepara untuk menjadi murid sekolah yang didirikannya. Lambat laun, murid-murid Kartini pun bertambah.

Kiprah Kartini yang mungkin bagi kita terkesan sederhana, tapi rupanya menjadi tonggak awal dan pendobrak pertama yang menguraikan ketidakadilan posisi wanita di Nusantara. Sebagai pelopor gagasan-gagasan yang radikal, ia secara tegas mengkritik adat istiadat yang tidak menjunjung tinggi kesetaraan. Bagi Kartini, kemajuan rakyat di Jawa (khususnya di Jepara) justru dihalang-halangi oleh kaum aristokratnya sendiri, yang menganggap dirinya paling mulia dalam masyarakat.

Bukan saja tercatat sebagai pendiri sekolah wanita pertama, Didi Kwartanada (sejarawan Yayasan Nabil) berpendapat bahwa Kartini juga bisa disebut sebagai jurnalis pertama sekaligus antropolog pertama Indonesia. Pada suatu kesempatan, Kartini menulis catatan dokumentasi perkawinan di tanah Koja dengan sangat detil. Sebelum Kartini, tidak ada tokoh nasional yang sampai melakukan observasi langsung dan mendokumentasikan tata cara perkawinan adat Jawa secara tertulis. Tanpa tulisan-tulisan Kartini, mungkin Bangsa Indonesia tidak pernah memiliki catatan sejarah tertulis yang jelas tentang kondisi masyarakat, budaya, dan adat istiadat Jawa di masa lampau.

kartini-2

Selain mengajar, Kartini juga aktif berkorespondensi (surat-menyurat) dengan banyak sahabat pena di Belanda. Kebiasaan itu dimulai dari saran sang Moedertje untuk meminta Johanna van Woude (redaksi majalah de hollandsche lelie) untuk menerbitkan iklan yang isinya permintaan Kartini untuk mendapatkan sahabat pena dan bertukar pikiran seputar budaya. Iklan 15 Maret 1899 itu disambut oleh seorang aktivis feminis Belanda yang 5 tahun lebih tua dari Kartini bernama Estelle Zeehandelaar (Stella). Maka sejak saat itu, dimulailah korespondensi antara 2 wanita berpikiran maju dari 2 dunia berbeda yang belum pernah bertemu. Dari rantai korespondensi ini pula, Kartini mengenal berbagai tokoh feminis Eropa seperti Abendanon, Rosa Manuela, Hendrik de Booy, Hilda Gerarda, Henri Hubert van Kol, dll… yang selalu membakar semangat Kartini untuk membuat perubahan di tanah Jawa.

Sampai pada suatu ketika, Kartini memiliki impian untuk kembali bersekolah dan melihat dunia. Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Namun nasib berkata lain, impiannya bersekolah di Eropa pupus kendati telah mengantongi beasiswa setelah permintaannya ditolak pada 24 Januari 1903 oleh J.H. Abendanon, seorang direktur departemen (setingkat menteri) pendidikan, agama, dan industri Hindia Belanda yang sudah dianggap ayah angkat oleh Kartini.

Alasan penolakan ini menuai perdebatan beberapa versi di kalangan sejarawan. Namun secara garis besar, Abendanon menyatakan kekhawatirannya jika Kartini disekolahkan oleh Belanda, akan menuai persepsi negatif oleh masyarakat lokal. Sementara itu, sekolah yang didirikan Kartini sedang berkembang dan cukup mendapat simpatik dari masyarakat. Di sisi lain, kondisi kesehatan ayah Kartini kian memburuk dan semakin memberatkan niat keberangkatannya. Kegagalannya untuk dapat melanjutkan sekolah ke Eropa cukup membuat Kartini terpukul dan kecewa hingga beberapa minggu.

Nasib kurang beruntung Kartini ternyata belum berakhir pula. Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatnya untuk melanjutkan studi menjadi guru di Batavia juga terhalang oleh kedatangan sepucuk surat lamaran, dari bupati Rembang, KRM Adipati Ario Djojo Adhiningrat (selanjutnya disebut Djojoadhiningrat).

POLEMIK PERNIKAHAN (1903-1904)

Kartini sangat kaget karena mendapat lamaran dari seorang Bupati Rembang yang telah memiliki 3 garwo ampil atau selir dengan 7 anak. Keheranan Kartini tidak hanya karena dilamar oleh pria yang sudah beristri, tetapi juga karena image seorang Kartini yang pada zaman itu dinilai sudah tidak “layak” dijadikan istri. Selain sudah berumur 24 tahun (waktu itu umur segitu dianggap perawan tua), Kartini juga dinilai sebagai kuda kore yang tidak mau diatur. Jelas bukan citra “istri yang ideal” pada zaman adat feodalisme masih sangat kental dalam masyarakat Jawa.

Di sisi lain, ayah Kartini yang awalnya keras memaksa Kartini untuk menempuh adat pingitan, sedikit banyak merasa bersalah. Oleh karenanya, Sosroningrat membebaskan puterinya membaca dan agak segan meminta puterinya lekas menikah dalam pingitan. Namun dalam tatanan masyarakat masa itu, tetap saja cibiran mengalir deras pada keluarga. Gagal mengawinkan anak gadisnya hingga menjadi perawan tua adalah sebuah “kegagalan” norma dalam tatanan adat Jawa. Akibatnya, Sosroningrat jatuh sakit dan mengalami gejala psikosomatis. Kartini yang sangat menyayangi ayahnya dan tidak ingin membuat ayahnya “menderita” lebih jauh, akhirnya mengalah dan mempertimbangkan lamaran Djojoadhiningrat.

Dalam proses penerimaan lamaran ini, Kartini melakukan banyak hal yang sangat tidak lazim bagi perempuan pada masa itu. Hal pertama adalah, Kartini menyelidiki latar belakang calon suaminya. Bagi tatanan masyarakat Jawa pada masa saat itu, seharusnya pihak wanita pasrah-pasrah saja menerima lamaran, tanpa ada hak untuk tahu, bertanya, apalagi mempertimbangkan. Hal berikutnya adalah, Kartini mengajukan syarat pernikahan kepada calon suaminya. Lagi-lagi ini adalah langkah yang sangat radikal dalam sejarah pernikahan bangsawan Jawa.

IMG_20160419_164801
Kartini dan suaminya RMA Ario Singgih Djojo Adhiningrat

Syarat dari Kartini antara lain: Kartini ingin diberi kebebasan untuk membuka sekolah dan mengajar puteri-puteri pejabat Rembang, seperti yang telah dia lakukan di Jepara. Dalam prosesi pernikahan, Kartini tidak mau ada proses jalan jongkok, berlutut, menyembah kaki pria, dan gestur-gestur lain yang melambangkan ketidaksetaraan antar hubungan laki-laki dan perempuan. Syarat terakhir, Kartini minta untuk diperbolehkan berbicara dengan suaminya dengan bahasa jawa ngoko, bukan kromo inggil.

Entah bagaimana kagetnya Djojoadiningrat sewaktu mendengar syarat-syarat sinting itu. Namun demikian, Djojoadhiningrat telah menerima wasiat salah seorang mendiang istrinya yang sangat mengagumi Kartini dan berpesan agar dirinya menikahi Kartini demi anak-anak mereka. Singkatnya, Djojoadhiningrat menerima lamaran Kartini dan mereka menikah pada tanggal 12 November 1903.

MENINGGAL & WARISANNYA (1904-SEKARANG)

Sepuluh bulan setelah pernikahannya, Kartini melahirkan anak semata wayang RM Soesalit Djojoadhiningrat. Kelak, putra tunggalnya itu menjadi seorang pejuang Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Empat hari setelah proses melahirkan, kondisi tubuh Kartini drop secara mendadak dan meninggal dunia pada 17 september 1904. Kematian Kartini sangat mendadak dan mengagetkan banyak pihak, bahkan ada desas-desus Kartini meninggal karena diracun atau korban malpraktik dari dokter yang tidak cakap. Namun hingga kini, tidak ada bukti kuat yang bisa mengarahkan dugaan kita pada kemungkinan tersebut, selain dari kondisi fisik yang sangat rentan paska-melahirkan.

Setelah Kartini wafat, J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini bikin geger Amsterdam ketika diterbitkan pertama kali tahun 1911. Sejak saat itu, suara Kartini terdengar jauh hingga ke seluruh Eropa dan Hindia, sebagai sosok perempuan pertama yang memecah keheningan dan menjadi suara inspirasi sekaligus pelopor dari revolusi budaya di tanah Nusantara, menuju kesetaraan hak antar lelaki dan perempuan. Dari kesempatan yang sama untuk menimba ilmu, persamaan hak untuk mendapatkan kesempatan berkembang, hingga kebebasan berpendapat dan mengambil keputusan.

Hingga pada akhirnya, Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Terinspirasi oleh semangat Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini“. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

PENUTUP

Belakangan ini, ada sebagian kalangan (termasuk sejarawan) yang memperdebatkan gelar Pahlawan Nasional Kartini. Ada banyak alasan yang menjadi dasar kritik pemberian gelar pahlawan Kartini, salah satunya karena Kartini dalam hidupnya tidak pernah mengenal istilah negara Indonesia. Di sisi lain, ada sebagian kalangan intelektual juga menyebut Kartini “dibesarkan penjajah” dan tidak konsisten pada prinsipnya dan memutuskan menikah dengan pria yang sudah beristri. Terlebih lagi, Kartini juga tidak secara aktif mengangkat senjata melawan penjajah dan hanya bergelut dengan ide dan pemikiran abstrak saja.

Dalam perspektif tersebut, sebetulnya gua juga setuju bahwa gelar kepahlawanan Kartini layak dipertanyakan. Namun di sisi lain, gua pribadi berpendapat bahwa memang bukan di situ cara memandang karya hidup Kartini. Kartini bisa jadi bukan pahlawan (yang bahkan sangat mungkin dia sendiri tidak suka diberi gelar itu). Tapi terlepas dari ada atau tidaknya gelar kepahlawanan, Kartini adalah sosok yang menjadi tonggak pertama dari sebuah perjuangan sekaligus pendobrak awal dari sistem yang menjerat peran wanita di Nusantara selama entah ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Dengan hidupnya yang singkat, skala pencapaian Kartini memang relatif tidak besar. Bisa jadi, ada banyak sosok perempuan lain yang lebih layak dijadikan simbol perempuan nasional Indonesia. Tapi yang menjadikannya istimewa, karena Kartini adalah pemikir modern pertama di tanah Nusantara yang menuliskan pemikirannya secara runut dan detail. Tanpa tulisan-tulisan dan surat asli dari Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia akan sangat sulit dilakukan. Tidak bisa dipungkiri pula, Kartini adalah penggerak gigi roda pertama yang mendobrak kemakluman atas represi gender. Dialah inspirasi pertama dari perjuangan rakyat (terutama wanita) untuk memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan atas status sosial dan hukum.

112 tahun berlalu setelah kepergian Kartini, saat ini bukan hanya tidak ada lagi seorang istri yang mlaku ndodok ngesot di depan suami dan anak sendiri. Tapi kini bangsa kita sudah dalam sebuah masa, di mana perempuan sama-sama memiliki hak yang setara di hadapan hukum, sama-sama memiliki kesempatan belajar setinggi-tingginya, dan bisa memberikan hak suara politik dalam sistem demokrasi. Sebuah kondisi yang mungkin sangat sulit dibayangkan oleh masyarakat di Nusantara yang hidup 112 tahun yang lalu.

Demikian sedikit persembahan gua di Hari Kartini ini. Gua harap melalui tulisan singkat ini, semangat Kartini kembali diestafetkan pada generasi mendatang. Jangan sampai, Kartini hanya diidentikan pada kebaya atau acara seremonial adat, tapi pada semangat untuk berkarya sebebas-bebasnya, menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan keadilan bagi semua orang tanpa terkecuali. Selamat Hari Kartini!

Referensi :

Ananta Toer, Pramoedya. 2015. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.
Kartini, RA. 1997. Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka.
Kartini, RA. 2014. Emansipasi: Surat-Surat Kepada Bangsanya. Yogyakarta : Jalasutra.
Tim Buku Tempo. 2013. Gelap-Terang Hidup Kartini. Jakarta: KPG.

****

PS. Sebetulnya nih, masih ada sangat banyak sisi kehidupan Kartini yang menarik, tapi karena khawatir artikel ini nanti jadi terlalu panjang, jadi tidak mungkin gua tuliskan semuanya. Bagi lo semua yang terinspirasi untuk membaca langsung karya-karya Kartini, gua merekomendasikan lo untuk membaca kumpulan surat-surat Kartini yang telah terdokumentasikan secara lengkap. Banyak kalangan umum yang menduga bahwa pemikiran Kartini hanya direpresentasikan pada buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Padahal justru ada banyak sekali pemikiran Kartini yang tidak tercatat dalam buku itu. Sebagai gambaran, ini adalah perbandingan antar buku Habis Gelap terbitlah terang, dengan buku Emansipasi yang berisi 119 surat-surat dan pemikiran Kartini:

IMG_20160419_164211

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol sama Glenn tentang kehidupan dan pemikiran Kartini, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.