Apa Bedanya Sedih Biasa dengan Depresi?

Apa Bedanya Sedih Biasa dengan Depresi?

Halo pembaca setia zenius blog. Gimana nih kabar Ujian Nasionalnya kemarin? Semoga hasilnya oke ya. Walaupun UN SMA 2016 udah seminggu berlalu, gw rasa sebagian besar dari kalian masih mengistirahatkan otak sebelum belajar mati-matian lagi buat persiapan ujian masuk PTN.

Nah, untuk menemani kalian bersantai, gw pengen cerita tentang sesuatu yang umum nih dan mungkin dekat dengan keseharian kalian. Tentang suatu penyakit yang lumayan umum terjadi di masyarakat luas (menurut WHO, kira-kira 350 juta penduduk dunia menderita penyakit ini). Suatu penyakit yang bisa diderita oleh siapa saja, terlepas dari ras, umur, jenis kelamin, dan lingkungan; penyakit ini bisa menyerang semua orang gak pandang bulu. Suatu penyakit yang efeknya ga main-main, mulai dari membelenggu potensi cemerlang seseorang hingga tidak jarang mengantarkan ke akhir hidupnya. Tapi sayangnya, karena gejalanya "tidak terlihat", penyakit ini masih sangat diremehkan, dianggap bukan penyakit, malah sering dianggap “tidak ada”. Penyakit ini merupakan gangguan mental bernama DEPRESI.

Kalo denger kata depresi, kita mungkin sering mengasosiasikannya dengan kesedihan. Sedih itu wajar. Jika kita gagal dalam percintaan, gagal dalam ujian, atau baru saja kehilangan anggota keluarga yang kita sayangi; tentu saja kita sedih.

Lalu, apa artinya semua orang yang sedih pasti akan jadi depresi? Tentu tidak.

Apakah depresi itu sama dengan istilah ratu lebay, drama queen, caper? Juga tidak.

Apa lo punya teman atau mungkin lo sendiri suka murung ga jelas, males-malesan, suka khawatir berlebihan, sampe kepikiran untuk mengakhiri hidup?

Nah, pada kesempatan kali ini, zeniusBLOG ingin mengajak kalian untuk memahami kondisi orang-orang yang tengah jatuh ke jurang depresi. Apa sih bedanya sekedar sedih dengan depresi? Kenapa sih orang depresi susah untuk berpikir positif? Gimana caranya kita bisa membantu orang depresi agar bisa kembali ceria dan menjalani kehidupan sebagaimana biasanya? Semuanya akan gue ceritain di sini.

Oh iya, sebelum gw lanjut cerita, kita kenalan dulu yuk. Nama gw Virginia Prameswari, biasa dipanggil Virgie. Gw mengambil gelar Sarjana Kedokteran dan program profesi dokter di Universitas Kristen Indonesia. Saat ini, gw sedang menempuh studi pascasarjana untuk bidang Integrative Neuroscience di Otto von Guericke University - Magdeburg, Jerman.

Pada kesempatan ini, gw tertarik jadi guest blogger zenius untuk bercerita tentang depresi karena sangat erat kaitannya dengan bidang yang gw geluti saat ini, yaitu neurosains (ilmu tentang sistem saraf). Neurosains membantu meningkatkan pemahaman terhadap penyakit/gangguan mental, seperti depresi, yang mungkin masih dikira merupakan hanya ranah kajian psikolog dan psikiater. Dengan tambahan perspektif dari neurosains, gangguan psikis/mental yang tadinya masih dilihat sebagai sesuatu yang “abstrak”, kini bisa dibedah secara klinis. Neurosains bisa membedah gangguan mental hingga ke struktur otak penderita, interaksi genetik-lingkungan, menemukan awal mula perkembangan penyakit ini, pencegahan yang bisa dilakukan, hingga terapi baru yang lebih efektif.

Selama ini, bisa dibilang tingkat awareness masyarakat terhadap penyakit fisik sudah sukup tinggi dan meluas. Tapi kalo penyakit mental? Mungkin cuma secuil orang yang memahaminya. Inilah mungkin kenapa penyakit mental, seperti depresi, masih sering diremahkan banyak orang. Padahal, depresi juga sama dengan penyakit fisik, seperti batuk, pilek, demam, sakit jantung, ataupun sakit paru-paru. Depresi adalah penyakit yang memilki basis biologis dan implikasi pada kondisi mental serta sosial seseorang.

Oke deh tanpa berpanjang lebar lagi, kita mulai aja ceritanya.

banner depresi

 

Apa yang Dimaksud dengan Depresi?

Seperti yang gw sebutkan sebelumnya, sedih itu wajar. Tapi kalo sedihnya berlarut-larut sampe berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, lain lagi ya ceritanya. Walaupun diagnosis depresi harus secara resmi dibuat oleh psikolog dan psikiater profesional, tapi kita bisa lihat definisi umumnya agar bisa membantu diri atau orang di sekitar kita.

Meminjam definisi dari DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders versi IV) atau buku panduan penyakit mental yang digunakan di seluruh dunia,

Depression is either sad mood or lack of interest in daily activities or the ability to gain pleasure from these activities.

Dengan kata lain, depresi adalah perasaan / mood sedih yang ditandai dengan menurunnya minat untuk beraktivitas sehari-hari ataupun kehilangan minat untuk kegiatan yang sebelumnya disukai. Misalnya, seseorang yang tadinya suka belanja jadi tidak suka belanja; yang tadinya suka main game jadi ga niat lagi main game.

Loh berarti kalo ada orang yang tadinya suka nonton, terus jadi gak suka nonton berarti dia depresi dong?

Tentu saja tidak. Ada gejala yang mutlak muncul sebelum seseorang didiagnosis dengan depresi, seperti berikut.

  • perasaan sedih mendalam dan konstan,
  • kehilangan motivasi,
  • tidak bisa tidur,
  • tidak nafsu makan atau maunya makan melulu,
  • berat badan naik atau turun,
  • penurunan libido
  • gangguan konsenstrasi,
  • merasa bersalah,
  • pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri,
  • ide untuk bunuh diri sampai percobaan bunuh diri

Kalau membaca sedikit tentang depresi, kita langsung mikir,

“Oh ya sama aja dengan sedih dong kalau gitu! Waktu patah hati atau ditolak gebetan juga rasanya begitu!“

Ya dan tidak! Patah hati, setelah beberapa hari atau 2 minggu, orang mulai bisa beraktivitas kembali dengan normal, nafsu makan kembali muncul. Tetapi hal ini tidak sama dengan orang yang menderita depresi. Semua perasaan sedih, perasaan tidak berharga, hingga pikiran untuk bunuh diri yang disebutkan di atas tetap menghantui orang tersebut secara terus-menerus selama minimal 2 minggu dan bisa berlangsung seumur hidup jika tidak diterapi dengan tepat.

bayang depresi small

Agar lebih jelas lagi, kalian bisa melihat skema berikut.

skema depresi
©Holthzheimer & Mayberg 2011

Seseorang yang tadinya normal-normal saja lalu mengalami stres (pemicu) akhirnya “down” dan tidak bisa kembali lagi ke kondisi mood normal sebelumnya. Orang yang sehat dan tidak menderita depresi setelah beberapa waktu akan kembali ke kondisi normal.

 

Apa yang Membuat Orang Depresi?

Setelah memahami perbedaan antara sedih biasa dengan depresi, sekarang kita bisa lanjut ke pertanyaan selanjutnya, apa sih penyebab depresi? Apa yang membuat orang jatuh dari “Down state” ke “Depression”? Kenapa seseorang bisa jatuh ke “Depression” dan yang lain bisa balik lagi ke “Normal state”?

Secara sederhana, hal tersebut bisa dijelaskan dengan mengenali bahwa secara mental, manusia bisa dikelompokkan menjadi dua tipe golongan, yaitu  manusia yang lemah secara mental dan kuat secara mental. Sebut saja group rentan (vulnerable) dan group tangguh (resilient). Apa yang membuat seseorang masuk di group rentan atau tangguh?

1. Stres

Seberapa berat dan durasi stress yang dialami seseorang mempengaruhi perkembangan penyakit ini. Satu hal yang perlu dipahami tentang stress dan masih salah kaprah adalah anggapan bahwa stress hanya bisa dialami oleh orang dewasa. Big no! Stress bisa dialami siapa saja mulai dari janin-bayi-balita sampai usia dewasa. Anak-anak yang sedang dalam tumbuh kembang justru berada dalam usia rentan terhadap stress, termasuk bayi yang mengalami stress saat berada di kandungan, nantinya bisa berkembang menjadi individu yang rentan terhadap stress.

2. Kondisi sosial di lingkungan kita

Kalau kita sedang sedih pada masa-masa awal, ada kemungkinan kita menjauh dan menarik diri dari lingkungan sosial. Tetapi sebetulnya hal tersebut semakin memperparah kondisi depresi seseorang. Berbicara dengan sahabat ataupun pihak professional akan lebih efektif membantu meringankan gejala depresi.

3. Genetik

Faktor yang sering dianggap remeh, tetapi sebenarnya memiliki peranan besar dalam perkembangan penyakit ini. Beberapa studi terakhir menyimpulkan bahwa depresi berkaitan erat dengan riwayat keluarga. Jika ayah atau ibu menderita depresi atau saudara kandung memiliki riwayat depresi maka seseorang akan lebih rentan untuk menderita depresi. Beberapa variasi genetik juga menentukan apakah seseorang tersebut rentan atau tangguh.

 

Apa Basis Biologis dari Depresi?

“Ah tapi semua itu kan hanya ada di pikiran kita aja. Penyakit mengada-ngada, tidak ada bukti!”

Kalo ada orang punya penyakit hipertensi atau darah tinggi, kan bisa diukur tuh tekanan darahnya dengan tensimeter. Kalo ada orang yang kakinya patah, bisa di-rontgen, keliatan tulangnya emang retak dan patah. Kalo penderita depresi gimana dong cara membuktikannya?

Nah, berbagai riset di bidang neurosains telah menunjukkan bahwa gangguan mental, seperti depresi, itu sama real-nya dengan penyakit fisik. Yep, penyakit mental depresi, juga bisa diukur dan dibuktikan lho. Setidaknya ada 3 hal yang bisa diukur:

1. Aktivitas otak

fmriPenderita depresi bisa diukur kadar aktivitas otaknya dengan alat bernama fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Possitron Emission Tomography). fMRI juga biasanya dipake buat scanning penderita PET juga biasanya dipake buat scanning tumorDengan menggunakan kedua alat ini, kita bisa membandingkan hasil scan otak orang normal dengan orang depresi.

Lalu gimana perbandingan aktivitas otak orang normal dengan orang depresi?

scan otakDibandingkan dengan orang normal, penderita depresi mengalami penurunan aktivitas otak di bagian-bagian tertentu, tentu saja tidak seluruhnya, tetapi bagian-bagian yang penting untuk mengatur mood, konsentrasi, proses berpikir, dan mengambil keputusan. Hal inilah juga yang menyebabkan kenapa mereka menjadi sensitif dan negatif apabila ada orang yang mengkritik mereka. Lagi-lagi yang udah pernah patah hati pasti tahu rasanya, kalau habis patah hati terus ada yang pasang lagu-lagu mellow ala-ala sabtu pagi, rasanya pikirannya negatif terus, maunya nangis terus, dan sebagainya.

2. Ketidakseimbangan senyawa kimia di otak

Senyawa yang biasa diliat adalah serotonin. Serotonin adalah salah satu senyawa yang berperan untuk mengatur perasaan senang seseorang. Orang dengan depresi mengalami penurunan kadar serotonin.

3. Volume hippocampus yang berkurang

Apa itu hippocampus? Hippocampus adalah salah satu bagian otak yang berperan penting untuk memproses ingatan kita. Ketika kita mengalami stress, secara natural tubuh kita akan mengeluarkan senyawa berupa kortikosteroid untuk melindungi kita dari bahaya. Hal ini tentu diperlukan dalam jangka waktu pendek. Masalahnya, ketika tubuh kita merespon secara berlebihan terhadap stres, kortikosteroid akan dikeluarkan secara berlebihan yang dalam jangka waktu tertentu mempengaruhi ukuran hippocampus. Stres akut dan depresi berkepanjangan bisa memperkecil volume hippocampus di otak. Hal inilah yang menyebabkan mudah lupa atau tidak bisa berkonsentrasi dengan baik pada orang dengan depresi.

hippocampus
Perbandingan volume hippocampus orang normal (atas) dengan orang depresi (bawah)

Berdasarkan ketiga basis biologi di atas, dapat dikatakan bahwa stress kronis pada orang depresi bisa berdampak hingga mengubah struktur otak seseorang.

 

Perjuangan Orang Depresi dan Bahaya Depresi

Karena keadaan depresi bisa mengubah struktur otak penderitanya, ini menjadi salah satu alasan mengapa penyakit ini termasuk sulit diatasi. Bagi kalian yang mungkin dekat dengan orang depresi, mungkin rada gemes melihat mereka murung melulu. Penderita depresi bukannya tidak mau bangkit, positive thinking, dan ceria kembali. Mereka sangat ingin melepaskan segala kegundahannya. Tapi sayangnya, kemampuan mereka terhambat karena adanya perubahan di struktur otak tadi.

Tidak lupa pula stigma berat, di mana masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa gangguan psikis depresi ini cuman lebay, penyakit abu-abu, gak jelas, gak ada juntrungannya, nyari perhatian. Ini membuat sebagian besar orang yang depresi tidak bisa menceritakan kegundahannya kepada orang lain. Kalau sedih rasanya ingin sendiri dan mengurung diri di kamar, menangis sampai tertidur, dengan harapan tidak ingin bangun kembali. Mereka tenggelam dalam lingkaran setannya sendiri. Sebagai gambaran, mungkin ada baiknya kalian coba menonton salah satu monolog singkat dari Doug Leddin tentang depresi yang dialami olehnya selama 10 tahun terakhir:

depressed got drown

Karena susah terbuka dengan keadaan yang mereka derita, ga sedikit orang depresi memasang topeng bahagia kepada orang di sekelilingnya. Ya, orang yang tidak tampak depresi belum tentu tidak menderita depresi. Lo ga akan pernah tau apa yang tersembunyi di balik sebuah senyuman.

topeng depresi
©Pinterest

Kalo pun ada orang depresi yang akhirnya memberanikan diri untuk mencari pertolongan profesional, masih ada saja tantangan yang harus ia hadapi. Di Indonesia sendiri, ketika seseorang menyatakan bahwa dia butuh bantuan professional untuk mengatasi masalah mentalnya, mereka harus siap dengan hujan komentar seperti,

“Udah gila lo ya sampe minta ke psikolog/psikiater segala” atau “Ih lebay ga jelas!” 

Kombinasi dari hal-hal di atas membuat orang-orang dengan gangguan ini semakin sulit dijangkau dengan pengobatan yang layak. Bahkan, menurut National Institute of Mental Health, rata-rata orang dengan penyakit mental baru mencari bantuan profesional setelah 10 tahun menderita. Padahal nyatanya, jika tidak diobati secara tuntas dan lebih lanjut, efek yang ditimbulkan cukup besar.

Emang apa bahayanya jika orang depresi dibiarin gitu aja tanpa treatment yang tepat? Toh cumen sedih doang kan?!

Tergantung usia penderita depresi dan berada di fase apa di dalam hidupnya, bisa dibilang jika dibiarkan berlarut-larut, cukup berbahaya. Misalnya, seorang pelajar yang broken home jatuh ke jurang depresi. Dia ga semangat lagi ngapa-ngapain. Prestasi menurun, gak bisa kerjain PR, gak konsentrasi di kelas, gak bisa kerjain ujian. Ada juga dampak sosialnya. Kalau nilai kita jelek, gak mungkin kita seneng kan, kalau kita ga seneng, perilaku kita ke orang lain juga jadi tidak ramah, judes, ansos, yang akhirnya membuat kita dijauhi teman-teman dan semakin memperparah kondisi depresi tersebut.

Bayangkan hal serupa terjadi pada umur ketika kalian sudah terjun ke dunia kerja, mengemban tanggung jawab yang lebih besar, bahkan udah berkeluarga. Depresi akut bisa membuat kehidupan seseorang kacau balau. Gue harap sampai di sini kita semua bisa mengerti bahwa perjuangan orang melawan depresi sungguh nyata. Kesulitannya itu bukan main-main.

 

Bagaimana Cara Mengatasi Depresi?

Sebagai orang awam apa yang bisa kita lakukan jika kita melihat tanda-tanda depresi di sekeliling kita? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi depresi.

1. Berhenti meremehkan penyakit ini

Jika kita tidak paham sebaiknya hindari mengadili dan sok-sokan memberi nasehat. Hindari mengutarkaan kalimat-kalimat seperti di bawah ini ke orang depresi:

“Masih banyak anak kelaparan di Afrika, perang di sana-sini, masih banyak anak jalanan. Kamu kan anak orang kaya, berpendidikan, dsb. Seharusnya kamu bersyukur!”

Kenapa? Sama seperti kenyataan bahwa memang masih banyak orang kelaparan dan menderita di luar sana, bukan berarti penderitaan orang dengan depresi tidak nyata. Ingat bahwa stress kronis yang mereka derita juga telah menghambat kemampuan untuk berpikir positif. Makanya, sebenarnya kurang tepat sasaran jika kita merespon orang depresi untuk “Ayolah semangat” atau “Positive thinking lah”.

Saran ini juga ditujukan pada diri lo sendiri yang sedang membaca artikel ini dan sadar bahwa lo tengah depresi. Berhentilah meremehkan situasi lo, saatnya bertindak serius.

compare treatment
Sebuah ironi: perbandingan bagaimana orang lain memperlakukan penderita penyakit fisik (kiri) dengan penyakit mental (kanan)

2. Menjadi pendengar yang penuh kasih jauh lebih penting daripada memberi nasihat 

Setelah kita bisa menahan diri untuk tidak sembarangan memberi nasihat, jadilah pendengar yang baik. Jadilah sosok yang bisa mereka percaya untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Tanyakanlah, apa yang bisa kita bantu untuk mereka, support seperti apa yang mereka butuhkan.

3. Rujuk ke bantuan profesional

Jika seseorang di sekeliling kita ada yang kita curigai mengalami depresi, bantulah dia dengan memberikan support, ajak ke konseling, yakinkan untuk mengunjungi psikolog atau pun psikiater. Orang yang ke psikiater atau ke psikolog bukan berarti orang gila.

Jika diagnosis depresi sudah ditetapkan (oleh psikolog klinis atau dokter, bukan awam ya!), dengan terapi, berupa konseling, terapi kognitif, obat-obatan, dan dukungan sosial dari keluarga dan teman; penderita depresi diharapkan pulih kembali minimal dalam waktu satu bulan.

Loh kok lama? Obat-obat anti-depresi memerlukan waktu minimal satu bulan untuk bekerja. Gak seperti antibiotik yang diminum 5 hari dan orang langsung ngerasa lebih enak. Efek dari obat anti-depresi ini harus melintasi berbagai barrier, termasuk BBB (blood brain barrier). Otak kita termasuk salah satu organ yang paling rentan terhadap penyakit, itulah sebabnya ada barrier khusus antara darah dan otak yang sebenarnya sangat menguntungkan tetapi juga membuat otak sebagai organ yang sulit diterapi. Barrier ini menyaring berbagai kuman, virus, dan parasit supaya tidak masuk ke otak tetapi juga menyaring obat-obatan.

Ingatlah bahwa depresi bukanlah kelemahan kepribadian. Depresi adalah gangguan mental serius. Mencari pertolongan adalah bentuk kekuatan diri.

***

Di Indonesia, penyakit ini belum ditangani secara tuntas dan serius padahal anggaran kesehatan tahun 2015 mencapai 74 triliun rupiah. Jika kita lihat ke sekeliling kita masih banyak orang yang terkurung di dalam pikirannya sendiri sampai akhirnya hidup di jalanan tanpa akal sehat. Seandainya kita bisa memelihara dan mencegah kerusakan otak tanpa stigmatisasi bisa dibayangkan berapa banyak individu yang kita tolong dan memaksimalkan ide-ide cerdas yang mungkin terpenjara dalam pikirannya sendiri selama ini. Gw sangat berharap artikel ini bisa membantu taman-teman yang sedang dirundung depresi di luar sana.

Terakhir, gue akan tutup tulisan gue ini dengan satu video menarik dari WHO yang menggambarkan kehidupan seorang dengan depresi. Semoga bermanfaat!

Referensi
*Stuck in a rut: rethinking depression and its treatment* Holtzheimer PE1, Mayberg HS. Trends Neurosci. 2011 Jan;34(1):1-9. doi: 10.1016/j.tins.2010.10.004. Epub 2010 Nov 8.
Hippocampal volume reduction in major depression. Bremner JD1, Narayan M, Anderson ER, Staib LH, Miller HL, Charney DS. Am J Psychiatry. 2000 Jan;157(1):115-8.
sumber gambar anjing besar depresi: https://www.youtube.com/watch?v=z-IR48Mb3W0
sumber gambar fmri: http://web-japan.org/trends/09_sci-tech/sci090319.html
sumber gambar hippocampus: http://www.auntminnie.com/index.aspx?sec=ser&sub=def&pag=dis&ItemID=60820
sumber gambar orang tenggelam: http://www.theguardian.com/society/christmas-charity-appeal-2014-blog/2014/dec/01/-sp-drawing-depression-the-doodle-chronicles

 

==========CATATAN EDITOR===========

Membahas depresi dan gangguan mental rasanya belum cukup ya dalam satu artikel. Oleh karena itu, kalo lo mau bertanya, diskusi, atau curhat tentang depresi, khususnya dari perspektif neurosains, silakan tanyain langsung ke Virgie dengan meninggalkan komen di bawah ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Virginia "Virgie" adalah guest blogger zenius blog. Virgie mengambil gelar Sarjana Kedokteran dan profesi dokter di Universitas Kristen Indonesia. Saat ini, Virgie sedang menempuh studi pascasarjana untuk bidang Integrative Neuroscience di Otto von Guericke University - Magdeburg, Jerman. Di samping itu, Virgie juga magang di Rudolph Magnus Brain Center-Utrecht, Belanda.

  • Nafisa

    Wow! Nice article, kak
    Love it, btw Danke for ilmunya ^_^

    • Virginia Prameswari

      You're welcome. Feel free to ask

      • Nafisa

        Kak, aku akhir-akhir ini suka mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan padahal hal yang aku khawatirin belum tentu terjadi, aku dihantui oleh rasa takut akan kegagalan. Nah, karna ketakutan yang berlebihan itu aku suka mikir yang aneh-aneh seperti yang kakak sebutin diatas dan kadang khawatiran itu bikin aku nggak mood belajar dan berlangsung secara terus menerus. Aku heran sama diri aku kak, yg aku takutin itu gagal dalam ujian tapi walaupun aku tau aku takut, aku masih ogah-ogahan belajarnya. Nggak ogah-ogahan juga sih. Tapi kak, ko’ tiap kali aku belajar pikiran ketakutan akan gagal itu selalu muncul dan kalau ketakutan itu mulai muncul aku bakal berhenti belajar sejenak yang tujuannya supaya nggak stress dan alhasil aku nggak jadi belajar beneran. Kak, tolong kasih solusi dong T_T

        • Virginia Prameswari

          Khawatir itu beda dengan depresi meski kedua gangguan ini berkaitan.Keluhan seperti khawatir, rasa takut,cemas, itu lebih kearah anxietas/gangguan kecemasan. Nah supaya bisa belajar dengan baik coba di perbaiki dulu lingkungan belajarnya, segala macam distraksi (sosial media, hp, tv, dsb) dimatiin dulu, inget istirahat disela belajar.

          • Nadia Putri Palupi

            iya kak aku sama tuh kasusnya kaya yang diatas, sampe-sampe nih kak saking takutnya aku kalo ngerjain soal ga bisa tuh tiba-tiba ngembeng sendiri terus nangis gitu kak, terus flashback ke hal-hal yang aku sesali di waktu dulu, dan terus nyalahin diri sendiri. aku takut positive thinking karena aku pernah udah yakin tapi berakhir gagal , jadi pikirannya tuh negatif terus kak 🙁

  • Nadia Putri Palupi

    Duhh ga nyangka banget separah itu ya, kak kalo berbulan-bulan takut akan sesuatu yang buruk akan terjadi gimana kak ?

    • Virginia Prameswari

      Maksudnya gimana nih? Ketakutan akan sesuatu yang spesifik atau secara umum?

  • JAR

    Wah.. bahaya nih. Kekhawatiran yang berlebihan dan ada perasaan takut gagal yang mendalam juga termasuk depresi ya kak?

  • JAR

    Wah.. bahaya nih. Kekhawatiran yang berlebihan dan ada perasaan takut gagal yang mendalam juga termasuk depresi ya kak?

    Kak, aku sempet liat blog kakak, dan kakak bilang di salah satu artikel "This is my depression talking, but never mind." berarti salah satu terapi depresi itu bisa diatasi dengan menulis ya kak? sbg penulisnya seberapa ngaruh sih itu kak?

    Thx kak :D.

    • Virginia Prameswari

      Wah gw gak inget lagi tuh. mungkin dah lama kali ya :p sebenernya menulis itu bisa berguna untuk ventilasi - mengeluarkan unek2 dan ini seperti pisau bermata dua, bisa membantu dan bisa memperburuk kondisi seseorang dan tiap orang beda-beda. Bisa membantu, karena dengan mengeluarkan unek-unek ada perasaan lega, bisa memperburuk, karena membuat kita mengingat kembali hal-hal buruk yang malahan mengkonsolidasi ingatan tersebut.

      • yang penting jaga etika penulisan ketika nuangin unek2,, jangan sampe niatnya nulis ngurangin beban pikiran, malah dibully pembaca sampe diseret ke meja ijo,,

  • Al-Rasyidin

    wah ngefeknya bisa sampai separah itu ya, berarti para pejuang sbmptn yg skrg rentan terkena depresi yah.

    • kalo dari pengalaman gua, kebanyakan penjuang SBMPTN itu serng kena sindrom "test anxiety", gak sampai pada kategori depresi. Ada juga sih beberapa yg depresi, tapi biasanya penyebabnya bukan hanya karena mau SBMPTN.

      coba kamu baca test anxiety : https://en.wikipedia.org/wiki/Test_anxiety

      • Al-Rasyidin

        oh beda yah, makasih ya bang

  • nanbernard

    Cerita dikit kak, aku sekarang udah terdaftar jadi mahasiswa ptn tapi udah muak banget karena ga cocok aja sama semuanya. Trus sekarang aku rencananya mau ngulang sbm ntar tapi kok gaada dukungan gitu ya kayaknya, soalnya waktu aku ngomongin ini ke temen jawabnya kek tadi "udah syukur keterima liat noh yang lain ada yang gabisa kuliah" ngomong ke ortu pun sama aja. Sekarang aku jadinya nekat bolos kuliah buat nyiapin sbm dan gaada yang tau, tapi ujung-ujungnya jadi uring-uringan kayak udah males banget sama semuanya, pokoknya udah gapunya semangat gitu.
    Menurut kakak ini udah ada gejala depresi ga? Soalnya gue sendiri bingung maunya apa hehe

    • Virginia Prameswari

      Coba baca ini dan pastikan gejala utama FEELS ada apa enggak (feeling of guilt, suicidal, lack of interest, sadness) dan juga boleh baca di sini tentang gejala lainnya http://www.webmd.com/depression/guide/major-depression

      • nanbernard

        thank you kak:)

    • Ica

      Eh sama gue juga bolos kuliah buat belajar sbm karena udh gabisa sama kampus yg sekarang. Tapi sekarang gue malah khawatir berlebihan takut gagal lagi dan keadaan gue di kampus udh kacau

      • nanbernard

        Wah iya nih mungkin gue juga cuma khawatir berlebihan aja kali ya
        Mau ngambil apa nih btw ntar?

      • Yufegi Dinasti S

        wah sama juga doong. kayaknya banyak yang model begini yah, para alumni yang nyambi kuliah. gue juga sering bolos :(. udah gak sanggup lagi sama kampus yg sekarang. IP gue hancur, dan SBMPTN gue kemungkinan besar gagal. eh, sori gue jadi curhat, seneng aja nemuin temen yang sama rasa.

    • aku pernah ngalamin,, akhirnya aku bilanya kuliah,, aku kerja jadi op warnet, uang spp kuliah kutabung,,

      cukup,, aku ndaptar kuliah lagi ke tempat yang sesuai keinginanku, tentunya nggak ada yang tau,, kecuali pacar n sahabat,,

      baru jujur sama ortu pas selesai ujian semeater 1,, kujelasin semuanya,, dn mereka terima,, aku yakin, sebenernya merek ingin yang terbaek buat anaknya, tapi mereka ngga tau muati mbantu gimana,, mereka cuma naruh percaa ke kita, sambil terus ngsupport (meski rasanya supportnya membabi buta, tanpa mau ngerti yang kita rasain),, mereka cumq manusia baik,, manusia

    • Stephen riady

      sama, aku juga keterima di ptn favorit, tapi jurusannya aku ga suka, jaadi aku berusaha pindah jurusan, namun negara api (keluarga) pun menyerang... akhirnya saya berkelit, andai ini filmya avatar, pasti sudah tamat... tapi ini dunia nyata... dan stress ini telah menghantuiku sewaktu 2012 meenn... help me..

  • tes

    kak. temen saya ada yg habis depresi krg lebih 1,5thn. skrg sih udah sembuh. tapi masalahnya kemampuan ingatannya skrg menurun drastis. dulu pas sma menghafal 10 kata nggak sampe 3menit. skrg disuruh beli 3 barang di warung, sampe sana dia lupa mau beli apa aja. itu gimana cara nyembuhinnya ya kak

    • Virginia Prameswari

      working memory - atau kemampuan kita untuk mengingat sesuatu seperti belanja itu seperti yang sudah ditulis diatas, diatur oleh hippocampus, kalau memang ada riwayat depresi cukup lama dan sampai ada perubahan struktur diotak butuh WAKTU (minimal 1 bulan) untuk mengembalikan fungsi seperti semula. caranya? ya dengan obat-obatan anti depresi, konseling, dan terapi kognitif. Untuk sementara waktu ya, orang tsb bawa notes aja kalo mau beli2. ^^

  • Yusita

    hai kak virgie, kenalin aku yusita. Setelah baca artikel kakak diatas, aku mau tanya nih. Jadi, aku itu alumni 2015 yang uda terdaftar disalah satu ptn dari hasil sbm taun lalu, cuman ptn tersebut merupakan ptn yang statusnya baru aja negeri dan itu hasil pilihan ke-3ku yang ada unsur paksaan dari orangtuaku. Trus sekarang, aku uda mateng-mateng rencain dan nyiapin semuanya buat sbm 2016, everybody's support me, especially my parent, but in the other ways, aku ngerasa tertekan dan bikin kurang konsen dengan adanya kuliah dan niatan sbm taun ini. Alhasil, kuliahku sering bolos dengan berbagai macam alasan, sampe-sampe tugas pun terbengkalai dan ada pikiran untuk resign. Semua itu karena aku uda dari awal ga nyaman dan setengah hati nerima kuliah disitu.

    Menurut kakak, apakah aku bisa digolongkan kategori depresi? Trus kak, apakah langkahku untuk resign merupakan langkah yang tepat, mengetahui kondisi bener-bener gaada semangat sama sekali buat menjalani aktivitas kuliah di ptn tsb? Please help ya kak, really need ur answer:(. Thx be4

    • Fanny Rofalina

      Hello Yusita. Aku bantu jawab ya.

      Menjaga keseimbangan antara melanjutkan kuliah sambil belajar buat SBMPTN selanjutnya, memang tantangan kehidupan sebagai pelajar. Kalo menurutku, situasi kamu belum tergolong sebagai depresi. Karena seperti yang sudah dikatakan Virgie di atas, gejala depresi bisa sampai ke pikiran terus-menerus untuk bunuh diri. Dari ceritamu, sepertinya belum ada gejala ke sana ya.

      Situasi yang kamu hadapi saat ini, menurutku, lebih ke "test anxiety" dan sindrom orang-orang salah jurusan. Kamu begitu merasa resah karena kekhawatiran akan kegagalan. Ini seperti pertaruhan hidup bagimu. Saranku, take a step back to relax. Ambil 1-2 hari untuk menenangkan diri, mengamati situasimu dari posisi netral tanpa menambahkan kekhawatiran yang tak berguna.

      Kalo ku liat, ini masalahnya lebih ke gimana kamu handle stress dan kekhawatiran kamu. Jadi ke depannya, ku rasa kamu sebaiknya bisa proaktif lagi untuk management stress agar bisa benar-benar fokus pada apa yang sebenarnya kamu anggap penting. Langkah-langkahnya, bisa dimulai dari menanamkan mindset yang positif hingga langkah proaktif mengurangi sumber-sumber stress yang ada, seperti resign kuliah. Apapun langkah yang kamu ambil, saranku, lakukan dengan keyakinan agar kamu bisa mantap menjalaninya. Keraguan hanya akan menambahkan kekhawatiran dan penyesalan tak berarti nantinya.

      Semoga membantu 🙂

    • masalah yg kamu ceritakan udah pernah dibahas di salah satu artikel zenius, coba deh kamu baca ini >> https://www.zenius.net/blog/6519/salah-milih-jurusan-kuliah

      • Yusita

        Thanks kak fenny and bang glenn buat responnya:)

  • Debora harsana

    Thx for sharing this article ! Sangat membantu buat hadapi hidup sehari hari biar ga depresi 🙂

  • Ghifara Alif Pribadi

    Saya pernah dalam keadaan kayak gini, sedih ga jelas, ga ada hasrat buat ngapa ngapain, ampe pernah kepikiran mo bunuh diri. Disuruh sama ortu cari penyebabnya, malah makin nambah karena ga tau apa penyebabnya 🙁 udah sampe hampir 4 bulanan kalo ga salah keadaan kayak gitu

    Setelah itu dirujuk sama ortu ke psikolog, akhirnya ngebantu walaupun ga banyak banget, tapi akhirnya sekarang bisa ngerasa lebih baik, walaupun kadang ada saat dimana ngerasa mau tenggelam lagi, tapi banyak hal yang buat ngalihin perhatian, dan sekarang bisa menikmati hidup lebih baik lagi 🙂

    Jadi, buat kalian yang merasa depresi, cari bantuan secepatnya, sebelum kelamaan dan akhirnya bisa menuju ke hal2 yang buruk, kalo ga bisa terbuka ke ortu ya curhat ke guru bk, ato kalo lebih ga bisa, ke psikolog aja. Masih banyak orang yang bisa bantu kita 🙂

    • Fanny Rofalina

      Hi Ghifara, thanks for the sharing. Keep up the good work 🙂

    • Virginia Prameswari

      You did the right thing! ^^ Karena penyakit ini seperti lingkaran setan dan support dari keluarga, teman, sahabat, dan bantuan profesional memiliki peranan besar.

  • stef

    kak, aku ketemu seseorang pas awal kuliah, dia duluan yg deketin aku. terus kita mulai saling sharing cerita gitu. nah suatu saat aku melakukan suatu kesalahan yang ngebuat dia gak mau ngomong lagi sama aku padahal dulu kita ngobrol hampir tiap hari. in the end I found out that he blocked my account. terus aku jadi nyalahin diri sendiri terus-menerus karena kesalahan itu. suka sedih dan nangis tiba-tiba. suka keluyuran sendirian gitu kalo habis ngampus. minat belajar naik turun tergantung mood dan deadline. jadwal tidur berantakan, beberapa kali nangis sampe ketiduran. terus aku juga jadi takut ngomong depan publik baik secara langsung maupun di dunia maya, takut dijudge yg aneh-aneh. aku juga jadi takut terlalu banyak ngomong sama orang. terus kalo ngumpul sama temen deket kesedihannya berkurang, tapi kalo sendiri entar sedih lagi. ngerasa sedih, sendiri, sepi gitu. udah tiga bulan begini terus, apa ini masuk kategori gejala depresi? aku sih mikirnya ini sedih doang entar juga baikan lagi tapi sejauh ini belom pernah bisa bener-bener baikan lagi 🙁

    • Fanny Rofalina

      Apakah kamu sudah punya gejala sampe pikiran untuk bunuh diri?

      • stef

        gak sih kak, untungnya. dulu sih suka ngebayangin kalo aku melakukan hal itu kira-kira bakal gimana. tapi gak pernah punya niatan buat bener-bener bunuh diri

  • ulfa

    Klw orang yg depressi sama orang gila bedanya apa kak? Apakah orang2 tersbut dapat diobati secara total?

    • Fanny Rofalina

      Nah, ini menarik juga untuk dibahas. Semoga Virgie juga bisa bikin artikel ini di lain kesempatan hehe 😉

    • Virginia Prameswari

      Orang gila yang kamu maksud merujuk ke orang gila dijalanan yang ngomong sendiri dan ketawa2 sendiri? itu beda dengan depresi. Itu schizophrenia, yang kalau diterjemahkan secara harafiah berasal dari kata skhizein 'pecah' + phrēn 'pikiran', jadi "pikirannya pecah" dan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Penyakit ini, saya jabarkan secara singkat ya, ditandai dengan gejala psikosis seperti halusinasi (melihat,mendengar atau merasakan hal yang sebenarnya tidak ada), delusi/waham (keyakinan yang tidak benar), gangguan proses pikir. Proses biologi penyakit ini berbeda dengan depresi meski keduanya terkait, orang2 tersebut (penderita schizophrenia) bisa diobati dan apakah sembuh secara total atau tidak tergantung pada banyak faktor (jenis schizophrenia, jenis kelamin, dan usia saat terserang penyakit tersebut). Mungkin bisa saya bahas lebih detail di lain waktu ^^

      • Wah schizophrenia itu penyakit yg diderita John Nash, tapi beliau bisa jadi ahli matematika yg hebat.

  • Finno

    Thank you so much for the nice article!
    I have some thoughts though... Well.. All those depression characteristics listed above are pretty much me. I have this condition since 2 years ago and though I told my parents about it, they don't seem to take it seriously. They keep telling me to 'pray harder' or 'try to be more positive' or 'God has plans for you' and things like that... I'd say, they don't help much.

    Do you think I should seek for professional help? Since it's starting to affect my grades (especially) and my social life as well.

    Ps. Zenius is so dope for posting this article, hope many ppl will be more aware about this matter..

    • Virginia Prameswari

      Well the thing about mental health is that people in general are less aware compared to physical illness, in your case, if I may suggest, when you feel like the symptoms are already bugging you and interfering with your daily activities, and worse it affects your grades and social life then it would be considerate to contact help. You can start with your bk teacher first if you're still at school =) good luck and I wish you all the best

    • Stephen riady

      I'm your friend... don't let the problem just 4 yourself... I'm same with you... one of the key to fix this problem is we have to always socialize with other, you can keep your secret just for yourself, but don't forget to talk to people, connected to the people, courage yourself. start chat with me at stephenriady@gmail.com

  • Qaysh Isaaq As situdani

    dont need people around me to care if the reality doesn't allow any of it,
    what i need is guide to self therapy and

    ....to let it go, and began again

    "Struggle, struggle might never change. But man do, through the road they walks..."

    - Ulysess, fallout new vegas

    P.S : reddit.com/r/GetMotivated >> banyak kumpulan meme untuk ngembaliin semangat, apalagi buat loe yang religius

  • Intan Permatasari Ips

    hai kak... aku intan,, saya mau tanya ini kak,, sudah 2 tahun ini saya terjebak masa lalu tidak bisa move on,, dan engalami semua masalah diatas ... nilai menurun dan sebagainya,,apakah ada hal yang bisa saya lakukan untuk menyingkirkan kenangan masa lalu yang menyakitkan,, setidaknya agar saya bisa bangkit dari keterpurukan,, krn saya sedih dan menangis hampir setiap hari,, mohon bantuannya,, thanks 🙂

    • Virginia Prameswari

      Terjebak masa lalu dan tidak bisa move on? mantan pacar atau apa nih? saran saya sih, supaya bisa move on semua barang-barang atau hal-hal yang berkaitan dengan objek yang bikin galau harus disingkirkan atau paling enggak disimpan di dalam gudang. Soalnya otak kita itu penghubung pola paling bagus, misalnya, kalo punya boneka yang dikasi sama seseorang yang sudah gak sama kita lagi, ada baiknya itu boneka ditaroh jauh-jauh supaya gak keliatan. lagu-lagu yang biasa didengarkan sama-sama, juga sebaiknya tidak didengarkan untuk sementara waktu, dan hal-hal lain seperti foto atau yang punya nilai sentimental, ditaro gudang dulu ya ^^

      • Intan Permatasari Ips

        thanks buat sarannya ya kak,, smua hal diatas jujur sudah saya lakukan,, tetapi udh 2 tahun setiap hari saya mimpi dia kak,, jujur saya tidak mau begini terus,,
        sebelumnya thanks sarannya 🙂

  • Isya R

    Kak saya masih bingung. Kadang2 hari ini saya semangat untuk belajar dan meraih apa yg diinginkan. Setelah 3 hari semangat saya menurun. Minggu kemudian semangat saya bangkit lagi tapi tetep turun lagi. Terus berulang seperti ini. Jadi siklusnya ->SADAR->Melakukan->DOWN->Malas->Stres->Sadar. Apakah saya terkena depresi?

    • Virginia Prameswari

      Selain depresi ada gangguan mood lain seperti dysthymia dan cyclothymia. Dysthymia adalah salah satu bentuk gangguan dimana low mood terlihat seperti depresi ringan yang berlangsung dalam waktu lama, sedangkan cyclothymia adalah mood yang berubah2 (naik turun) tetapi tidak separah gangguan bipolar dan seperti dysthymia, juga berlangsung kronik (dalam waktu yang lama). Untuk mengetahui apakah kamu memang menderita salah satu gangguan yang disebutkan di atas atau hanya sementara karena stress belajar sebaiknya dikonsultasikan dengan pihak profesional (psikolog/dokter/psikiater). Kapan sih kita sebaiknya ke bantuan profesional? ketika kita atau orang di sekeliling kita sudah merasa sangat terganggu dan ada penurunan kualitas hidup. semoga membantu 🙂

      • Isya R

        wah terima kasih kak penjelasannya. Hehehe

  • Fioni

    Bagaimana dengan orang2 yang gabisa mendapatkan pertolongan karena masalah ekonomis?Dan apakah pemikiran selintas untuk bunuh diri/melukai diri dpt dikatakan sebagai gejala depresi?

    • Virginia Prameswari

      Ya itulah sistem kesehatan di Indonesia (dan masih banyak di negara lainnya) memang masalah kesehatan jiwa tidak terlalu diperhatikan-ini sungguh disayangkan. Pemikiran untuk bunuh diri/melukai diri sendiri bisa dikatakan sebagai gejala depresi, karena orang yang sehat tidak akan memiliki pemikiran seperti itu. Kalo pemikiran ini timbul sesaat setelah stress hebat maka perlu ditinjau lebih lanjut apakah ide bunuh diri itu menetap .

  • Fasi

    Nice article,, jangan bosen bosen buat yang baru untuk di share kepada pembaca Zenius. Mangaaatt yaw kak Virgi

  • Ami

    Hi kak 🙂
    I feel like to share my situation after read your article. I've been stress for a long time until I can't remember where is the start point. And lately I've been feeling so dark, the darkest that I ever felt, that I cry by myself and fall asleep several times. Sometimes I can't fall asleep and awake the whole night. And I've been thinking a lot of negative things.
    To think about it, almost all of the depression symptom is literally me.
    One quote that I read not long ago made me thinking hard. "Mentall illness is like fighting a war where the enemy's strategy is to convince you that the war isn't happening."
    Is the war really happening? Or just me that thinking too much?

    (P.s. excuse me for bad grammar)

  • Leviansya Elfara F

    Ah, pertama-tama makasih banget udah bikin artikel ini kak Virginia! Gue jadi sedikit tercerahkan. Ya sekalian, nanya sama curhat gapapa ya. Jadi gini, awalnya gue sekolah di SMP yang bisa dibilang cukup favorit lah ya. Gue lulus SMP dengan nem yang cukup tinggi. Bermodalkan hal itu, gue berani daftar masuk ke salah satu SMA favorit di kota gue. Namun sayangnya, dengan berbagai sistem PPDB yang rumit itu gue gagal masuk SMA yang gue pengen. Hal itu maksa gue buat masuk ke salah satu SMA Swasta yang secara kualitas ga terlalu bagus. Hal itu yang bikin gue ngerasa sedih, ngerasa tertinggal dari temen-temen lain. Gue sampe sekarang mau naik ke kelas 11 masih nyesel ga bisa masuk ke SMA yang gue pengen. Dan dari gejala depresi yang ada diatas itu, banyak banget yang gue udah alamin. Kehilangan motivasi, males buat ngapa-ngapain, bahkan udah agak susah buat konsentrasi. Gue tau ada yang salah dari diri gue. Karena sebelumnya gue ga pernah males-malesan kaya gini. Mohon banget bantuannya, apa yang harus gue lakuin ya? Sejauh ini gue belum cerita ke ortu, karena tadinya gue ngira gue bisa ngehandle ini sendiri. Tapi ternyata lebih susah dari yang gue bayangin:( Mohon di jawab ya:(

    • Stephen riady

      I'm your friend... don't let the problem just 4 yourself... I'm same
      with you... the key to fix this problem is we have to always socialize
      with other, you can keep your secret just for yourself, but don't
      forget to talk to people, connected to the people, courage yourself.
      start chat with me at stephenriady@gmail.com

  • Khusna Azizah

    kak, setelah baca artikel aku makin paham apa yang aku alamin akhir2 ini. selama ini mungkin bisa dibilang depresi. tapi, aku bingung harus ngomong ke siapa lagi? sedangkan kedua orang tua ku nggk merespon secara baik. aku sudah berusaha buat curhat ke kedua orang tua ku. tapi mereka bilang, "harus berpikiran positif" . karena di bilang begitu jadi aku berusaha buat nglakuin kegiatanku sampe kecapean sendiri. kadang malah aku lebih memilih untuk menghindar dari masalah, dan bolos sekolah. bahkan sering berpikir untuk cepat "selesai" biar tidak capek lagi. kaya nggk ada semangat hidup. orang tuaku bilang, harus dibuang penyebab aku jadi gini. tapi masalahnya, aku udah berusaha, tapi kenapa susah sekali untuk bisa bebas? belum lagi predikat dari guru ku yang bilang, bahwa anak2 malas seperti aku ynag bikin negara rusak. karena waktu ulangan nilai anjlok, dan waktu disuruh maju nggk bisa apa2 padahal baru aja diajarin. aku jadi mudah lupa. jadi aku nyoba buat nyari buku yang bisa bikin otak berjalan baik. melakukan beberapa senam otak biar nggk gampang lupa. tapi itu kaya sia-sia. apakah keadaan saya yang sekarang bisa dibilang baik?

    • Stephen riady

      I'm your friend... don't let the problem just 4 yourself... I'm same
      with you... the key to fix this problem is we have to always socialize
      with other, you can keep your secret just for yourself, but don't
      forget to talk to people, connected to the people, courage yourself.
      start chat with me at stephenriady@gmail.com.....

  • Fachrunnisa Aullyani

    Setuju sekali dengan artikel ini kak 🙂 Sangat sedih karena di Indonesia, masyarakatnya masih minim sekali dengan hal seperti mental ilness.
    Sejujurnya saat ini saya juga sedang bertarung melawan depresi, hal ini sudah berlangsung lama dan puncaknya itu sekitar bulan Oktober 2015.
    Saat itu saya sudah tidak ada semangat untuk kuliah, sering bolos, kalau datang pun di kelas pikirannya dimana- dimana. Saya tiap telpon ibu saya selalu nangis2 minta pulang ngga mau kuliah lagi (kebetulan kuliah saya di salah satu ptn di jawa timur dan asal saya dari jawa barat). Silakan saja orang lain bilang ini lebay atau kekanak-kanakan, tapi memang saya sudah benar2 down saat itu. Berkali kali ibu saya jenguk ke kos karena takut saya melakukan hal yang tidak2. Akhirnya saat UAS semester 3 saya cuma masuk sehari, besoknya saya tanpa perasaan takut dan tidak bersalah, saya tidak pergi ke kampus sama sekali. Orang tua jelas makin panik, akhirnya saya dibawa pulang ke rumah asal saya untuk mendapatkan pengobatan intensif. Untuk semester selanjutnya saya mengajukan cuti sakit dengan surat keterangan dari psikiater
    Sesuatu yang membuat saya depresi sebenarnya adalah saya sudah tidak mau kuliah di jurusan yg saat ini saya geluti. Ada satu bidang yang memang sangat saya sukai dan sering saya lakukan meski tugas kuliah numpuk. Saat itu saya merasa kreatifitas saya dibatasi dan tidak ada yang mendukung. Sedari semester satu saya sudah merasa tidak sreg, padahal itu jurusan kuliah yang saya pilih sendiri dan pilihan pertama di SNMPTN. Tapi orang tua berpikiran positif dengan memberi alasan kalau saya mengalami shock culture sehingga saya masih tidak nyaman di kampus.
    Semester 2 saya minta izin untuk ikut tes SBMPTN, tapi ayah saya melarangnya. Nah penyebab lain saya depresi adalah ini, komunikasi dengan orang tua yang tidak baik sehingga sering terjadi misunderstanding. Padahal waktu saya minta izin ke ayah saya kalau mau tes tidak sekejam yg dibayangkan, seharusnya saya masih bisa mengajak diskusi dgn ortu saya. Inilah yg saya maksud dgn misunderstanding. Saya terlalu mudah menyimpulkan sesuatu padahal hal itu belum benar mutlak. Juga ada perasaan takut dgn ortu saya karena trauma masa kecil yg sering melihat ortu bertengkar hebat. Banyak sekali penyebab lainnya seperti :
    -saya merasa bersalah karena saya merasa tidak bisa bersyukur. Saya sudah kuliah di ptn bahkan masuk dengan jalur yg mudah, malah mau di sia2 kan
    -saya merasa bersalah kalau harus pindah kuliah, karena itu berarti biaya orang tua banyak yg dikeluarkan
    -saya harus siap kehilangan waktu 2 tahun saya untuk memulai hidup baru
    -saya harus siap meninggalkan semua teman kampus saya. karena saya menganggap mereka semua orang baik dan peduli pada saya. Terlebih ketika kondisi saya down
    -Saya mengalami krisis kepercayaan untuk bercerita kepada orang lain, makanya saya lebih sering memendam masalah sendiri.
    Sekarang saya sadar, semua pemikiran diatas itu salah, karena memang hidup ini seperti itu dan kita harus siap hadapi realita.
    Saya sendiri yang minta untuk pergi ke psikiater, saya sudah lelah dengan berat badan saya yang selalu turun, ditambah sulit bahkan tidak pernah bisa tidur (ini terjadi tiap hari). Saat itu saya diresepkan obat tidur dan anti depresan (lorazepam) dosis rendah. Memang saya tidak menyelesaikan terapi saya karena saat ini saya sudah sangat baik kondisinya,namun komunikasi melalui chat masih sering dgn psikiater saya. Semua perasaan yg bersalah seperti yg saya jabarkan diatas sudah bisa diatasi dan saya percaya segala macam persoalan bisa diatasi. Saya saat down sering lho berpikiran untuk bunuh diri, tapi saya masih dilindungi oleh Tuhan, yg jadi korban tembok rumah saya banyak coretan spidol, pensil, crayon ngga jelas karena ulah saya saat kambuh. Dan saat ini komunikasi dengan orang tua mulai membaik. Di masa cuti kuliah saya saat ini saya sedang mempersiapkan test untuk bisa di kuliah di jurusan yang saya inginkan. Doakan semoga semuanya lancar ya kak 🙂

    Depresi membuat saya dan keluarga saya menjadi lebih baik lagi. Depresi juga membuat saya semakin dekat dengan Tuhan. Jangan pernah sepelekan kasus mental illness. Perbanyak pengetahuan tentang penyakit mental dan segera tolong ke ahlinya jika ada teman maupun saudara yang mengalami mental illness.
    Terimakasih 🙂

  • no name

    Kak mau cerita dikit nih, 6 bulan yang lalu gua ngerasain patah hati yang luar biasa karena putus cinta, mulai dari situ gua jadi ga semangat ngapa2in, gua ga pernah masuk kuliah lagi (sampe skrg) dan gua ngerasain gejala2 yang sama kaya yg kaka tulis diatas, kaya ga bisa tidur, terlalu banyak mikir hal yang ga jelas, nafsu makan turun/ malah makan mulu, suka menyendiri pokonya hampir semua sama gejalanya setiap harinya kaya yg kaka tulis, jadi gua depresi kak? Tips biar bisa atasin sendiri ada ka? Terima kasih

  • ana rahma

    Kak Virginia, minta tolong dong kasih solusi, saya sudah berumah tangga, tapi akhir akhir ini saya mengetahui kalau suami ku selalu mencari tahu perihal mantan pacarnya lewat FB, saya sangat kecewa sekali karena suamiku diam diam memperhatikan dan ingin tahu tentang mantannya, saya sudah bicara dan minta penjelasan, tapi dia justru marah dan mendiamkan saya, sampai saya harus mengalah, Kejadian ini membuat aku merasa bingung, kepikiran terus, saat sedang sendirian saya selalu ingat dan menangis, kadang aku bisa rela dengan keadaan ini dan bisa menenangkan diri, tapi kadang saya merasa benci dan muak, rasanya sudah nggak diharapkan lagi, dan selalu terlintas untuk mengakhiri hidup, bahkan terkadang saya merasa benci sekali jika melihat suami saya sendiri,, Apa yang harus saya lakukan, apakah hanya berdiam diri saja dan menahan amarah ini, lalu sampai kapan? saya takut jika perasaan ini menimbulkan efek yang negatif pada hubungan kami atau bahkan saya tidak bisa mengontrol emosi saya,

  • Lis

    Kak, saya pernah terjebak dalam keadaan di atas. Waktu itu nafas saya jadi pendek dan terkadang dada saya terasa berat, seperti ada beban yang menekan. Pada masa itulah dada saya pertama kali terasa berat saat menunggu mamang2 ikan di pasar tradisional ngebeleh ikan. Masalahnya, saya sekarang sudah keluar dari masa kegelapan, tapi rasa aneh di dada itu masih selalu muncul di situasi di atas. Saya ga punya kenangan buruk dengan ikan, dan saya ga masalah nemenin mama belanja di pasar tradisional. This thing keeps making me wonder why..

    Anyway, makasih karena sudah nulis artikel ini kak! I'll share this untuk mereka yang ga ngerti apa2. 🙂

  • Ella Rosdiana

    Kak kan aku pernah takut sm hantu sampek berapa bulan (lebih dr 4 bln)(sampek2 aku kalau ke kmr mandi ditemenin, tidur ditemenin dll) ndah skrng aku gak takut apa aku harus ke psikiater lagi biar nnti rasa takut gak muncul lagi

  • Sharikha Al Mustashrikha

    Kak mau tanya, kalo perasaan ingin menangis tiba-tiba kalo melihat adegan sedih dalam film atau mendengarkan cerita sedih dari orang lain itu termasuk depresi atau tidak? Atau misalkan perasaan sedih tiba-tiba dan ingin menangis tanpa ada sebab yang jelas itu termasuk depresi juga gak kak? Pertanyaab terakhirnya kak, baik atau tidak untuk psikologis kita jika kita tidak ingin menunjukkan atau memberi tahu perasaan sedih kita kepada orang lain? Misalnya ketika perasaan lagi sedih kita tidak ingin memberi tahu pada siapapun dan ketika kita menangis, kita tidak ingin dilihat orang lain sehingga ketika menangis kita malah bersembunyi atau menyendiri dan ketika berhadapan dengan orang lain kita menahan diri agar kita tidak menangis. Apakah itu sifat orang yang depresi?
    Ditunggu kak virgie jawabannya.

  • Ciaa

    Kaak boleh bagi email/contact person?:)

  • Yolga Fatza

    Artikel yg keren dan bermanfaat ka!! Apalagi tambahan videonya!!

    Tapi sebelumnya mau bertanya, apakah orang depresi menyadari dirinya mengalami depresi? Dan apakah penderita depresi akan mengatakan kepada sahabatnya bahwa ia mengalami depresi tetapi ia takut bila apa yang akan dibicarakannya itu dianggap sebagai kebohongan?

    Terimakasih sebelumnya

  • Yolga Fatza

    Artikel yg bermanfaat dan menambah wawasan kak keren..

    Oh iya sebelumnya saya ingin bertanya, apakah orang yg depresi mengetahui bahwa dirinya itu depresi? Dan bila "iya", bagaimana cara mengatakan kepada teman dekatnya bahwa ia mengalami depresi agar tidak dianggap sebagai "berlebihan"? 

    Terimakasih sebelumnya

  • moepeze

    thank you so much
    thank u
    it helps me a lot
    thanks!

  • Sharley

    Halo kak. Aku belum tau apakah aku udah mencapai level depresi tapi inilah yang aku alamin.
    Aku selalu takut untuk memulai sesuatu. Setiap mau mencoba aktivitas baru, pikiranku selalu dihantui dengan hal-hal negatif. Misalnya untuk public speaking, kira2 ini yang bakal terlintas dipikiranku "Apa ya yang orang2 bakal pikirin tentang gue?" "Gimana kalo gue lupa materi dan gue gatau apa yg musti gue omongin?" "gimana kalo situasinya jadi awkward?" "Gimana kalo gue keliatan bodoh?". Dan pikiran2 negatifku benar-benar terjadi saat eksekusinya. Pas aku maju aku jadi gemetaran, ngomong terlalu cepat, dan hilang arah. Dan hasilnya aku jadi stress dan ngerasa kalo aku gacocok untuk tampil di depan umum. Ini cuma sepenggal kisah depresi yang aku alami, kak. Aku udah cukup banyak nyobain berbagai aktivitas, ikut organisasi, dsb. Tapi aku selalu berakhir kayak "kayaknya gue gacocok di sini"
    Btw, selalu berifkir negatif, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial (susah bgt yg namanya berhubungan dgn manusia) dan ga percaya diri bener2 tepat seperti apa yang aku rasain hingga diumurku yang ke 19 ini.
    Kalau aku bisa tarik penyebabnya mungkin krn aku masih terjebak sama masa laluku yg pernah di-bully parah. Dan kurangnya awareness dan support dari keluarga aku mengenai problemku ini. Dan penyebab2 lainnya.
    Aku rasa ini waktunya aku untuk menceritakan segala bebanku ke orang yang tepat. Jujur, aku sulit untuk menceritakan masalah pribadi aku ke orang lain karena faktor malu/gengsi. Jadi aku lebih banyak 'memendam' dan selalu menampilkan diri kalo "aku baik2 aja".
    Sebenernya aku malu harus menulis masalahku di ruang publik begini, tapi aku bener2 bertekad utk sembuh. Jadi, apakah ada dokter/ psikiater yang recommended yg kira2 bisa membantu memecahkan masalah aku? Atau ada langkah lain yang perlu aku lakukan? Terima kasih, sukses terus untuk kak Virgie! 🙂

  • angela

    Kak aku mau nanya, aku pelajar SMA kelas 11, aku tuh sering pusing, terus suka blank kaya pikirannya kosong, kalo misalnya marah suka ketawa tapi ditahan, terus kemaren sempet kaya males banget sekolah, kaya gamau sekolah. aku broken home dari kecil, dan dulu sering banget kaya mau bunuh dirinya. Aku juga suka makan terus gaberhenti padahal dulu ga gini, berat badan aku naik. Kak apa ini depresi? Ditunggu ya ka jawabannya terimakasih ?

  • gegara nyenggol beautiful mind, aku jadi langsung keinget shutter island,,

    si skizro yang diperanin mas leo, berpikir dirinya detektif, fdan menyelidiki hal yang nggak ada,, dan banyak lagi

  • PND

    Depresi itu ciri2nya, kesulitan berpikir, susah berkonsentrasi, sulit mengingat sesuatu, lelah sepanjang hari, berbulan-bulan bahkan bertahun2, punya keluhan fisik, kayak pegal2, atau ketegangan otot di bagian tertentu, dan gk ilang2, intinya secara kognitif kemampuannya berkurang drastis. Aku dah kyk gini 6 tahun, ada gk yah cara sembuhnya, biar otak nih normal lagi. 🙁

  • naeil

    Makasih articlenya, kayaknya memang saya lagi dlm kondisi depresi. Saya ngeliat beberapa tahun ini banyak perubahan dalam diri saya:

    - Saya tidak bisa bahagia seperti dulu (bahkan saat saya makan makanan favorit saya ataupun saat saya melakukan hal yang disukai yang dulu membuat saya bahagia)

    - Saya sedih setiap hari

    - Saya tidak bisa berpikiran positif; selalu merasa diri saya tidak berarti dan selalu merasa saya tidak bisa apa-apa

    - Saya males ketemu orang lain bahkan keluarga saya sendiri, pengennya di kamar sendirian. Temen sering ngajak ketemuan selalu saya tolak, entah kenapa saya tidak mau ketemu mereka

    - Pikiran untuk bunuh diri terus menghantui saya, sempet sekali saya hampir ngelakuin hal itu

    - Saya tidak punya semangat hidup, mungkin kalo ada gempa/bencana saya tdk akan lari ke luar rumah, mending saya mati aja di dalam kamar

    - Saya tidak mau melakukan apa-apa, tidak ada semangat untuk melakukan apa-apa

    - Hobi saya gambar, tapi entah kenapa saya tidak merasa bahagia lagi saat saya gambar seperti dulu.

    - Saya tidak bisa merasakan apapun selain kesedihan, saya tidak bisa merasa bahagia ataupun empati kepada orang lain. Saya jadi tidak peduli pada apapun.

    Keluarga saya itu sangat relijius, jadi mereka merasa saya harus merubah kondisi ini dengan mendekatkan diri saya ke Tuhan, yang sudah saya coba berkali-kali dan gagal. Kondisi saya juga tidak membaik.

    Saya sudah lelah berada dalam kondisi ini, kakak saya (yg paling deket sama saya) juga tidak mengerti kalo saya depresi. Saya pengen keluar dari kondisi ini, tapi saya tdk tau caranya.

    My wish is simple, i just want to be happy.

    Pertanyaan saya:
    1. Kalo saya mengkonsumsi obat anti-depresi apakah harus dengan petunjuk dokter? Bisa tidak kalo saya beli sendiri? Apakah saya harus bertemu psikiater/psikolog dulu baru diperbolehkan utk beli obat anti-depresi sesuai dengan resep dokter?

    2. Kalo diperbolehkan untuk beli sendiri, apa ya nama obat anti depresinya? Berapa dosis yang dianjurkan?

    3. Apakah ada psikolog/psikiater yg mbak bisa rekomendasikan? (Mungkin dengan memberikan link/nama website psikiater/psikolog tersebut)

    Terima kasih mbak Virgie.

  • Risma

    Kak aku ngerasain ini dari aku sd hingga aku mulai masuk kuliah tahun ini, sejak sd aku selalu berfikir kegiatan sekolah itu beban yg berat untuk aku, karena aku pikir aku tidak terlalu pintar. Dari sd hingga sma aku selalu ada masalah di sekolah. Yg agak parah dimulai sejak aku masuk sma. Aku selalu cemas dalam menghadapi mata pelajaran yang tidak aku kuasai, dan mencoba selalu menghindar, aku jadi jarang masuk sekolah dan akhirnya kabur dari rumah agar permintaanku pindah dari sekolah itu dikabulkan. Setelah aku menganggur selama setahun aku mulai didaftarkan kembali sekolah. Awal2 masuk seperti biasa aku cemas takut gapunya temen lah, pokoknya aku takut kejadian di Sma yg dlu terulang. Nah setelah aku kelas 3 Sma suatu hari aku merasa lelah sekali menjalani sekolah ingin berhenti. sampai2 tiap malam kalo bsknya sekolah tuh rasanya gamau tidur sampai nangis2 semalaman. Aku sempat ke psikiater untuk mencari tahu apa yg terjadi pd diri aku, disana aku menceritakan apa yanh aku rasakan dan diberi terapi sebelum tidur dan bangun tidur. alhamdulillah aku bisa lulus Sma. Setelah lulus sma aku masuk universitas swasta di bdg. Singkatnya aja ya kak karnasudah terlalu panjang:( masuk kuliah aku kembali tidak betah karna saya tidak mempunyai teman yg cocok, ada beberapa mata kuliah yang aku tidak bisa jd aku selalu menghindar lagi sampai akhirnya berhenti lagi dan menganggur lg 1 tahun. Skg aku mulai disuruh kuliah lagi oleh ortu meskipun sebenernya gak mau tp terpaksa. Alhasil tiap mau kuliah malem gak bisa tidur nangis2 karna stress ngadepin hari esok. Kak tlg di bales ya aku udh gak tahan ketika aku mulai ngerasa cemas dan down nangis2 hingga beberpa kali mikir mending bunuh diri saja. Kak bantuin please.

    • Muhammad Gilang Siswantoro

      Aku punya masalah sama kayak km. Bisa bagi kontakmu

    • gilang 1

      Hai Risma, boleh minta kontak kamu ?

      • Risma

        Kontak apa ya ka? Untuk apa?

        • Muhammad Gilang Siswantoro

          Km masih nglamin apa yg km tulis ? Kontak line. Biar bisa sharing

        • Muhammad Gilang Siswantoro

          Line. Buat sharing.

          • Risma

            Bbm aja gapapa?

          • Risma

            Bbm aja gapapa ka?

          • Risma

            D3613A27

          • gilang 1

            accept dong

          • Risma

            Udh aku acc

    • Afrisia Naufal Fahrianto

      this is actually happen to me.

  • Akhsan ॐ

    Artikel yang sangat bermanfaat, terima kasih.?

  • Ray

    Terima kasih ilmunya.. Saya penderita depresi, terdiagnosa sejak 1 tahun lalu (melihat gejala depresi, mungkin sudah mengalami depresi lebih dari 10 tahun tanpa saya sadari sebelumnya). Saya berasal dari keluarga broken home, yang membentuk karakter saya cenderung menutup diri. Saat mengalami stress, saya tidak mendapatkan support yang cukup, sehingga berubah menjadi depresi.
    Menurut artikel ini, manusia dikelompokan menjadi 2 : mental kuat dan lemah, serta disebutkan faktor penyebabnya. Berdasarkan pengalaman saya, teori tsb benar juga. Tetapi kalau boleh jujur, sebagai orang yang mengalami depresi, sakit menerima penilaian sebagai kelompok lemah. Karena saya sendiri tidak pernah menentukan apakah kuat atau lemah dasar mental yang akan saya miliki, saya hanya "menyerap" apa yang ada di sekitar saya. Mungkin seperti kondisi kekebalan tubuh fisik manusia ada lemah dan kuat dibentuk saat masih kecil dan di luar kendali diri sendiri, tidak seperti membentuk otot di tempat fitnes. cmiiw.
    Saat menderita depresi, dalam sehari-hari, dibutuhkan kekuatan super untuk melakukan kegiatan seperti orang normal:
    - kemampuan berfikir, bergaul menurun
    - merasa memiliki low self esteem, hal ini diperparah saat ada justifikasi dari orang sekitar, kadang muncul pemikiran suicidal
    - tubuh terasa lelah, pegal-pegal, tidak bersemangat, saat bangun tidur susah untuk memulai hari.
    - kadang mimpi yang negatif
    - sedih sepanjang waktu
    - ditambah masyarakat yang masih menganggap depresi sebagai stigma, membuat saya ingin menutup diri lebih lagi.
    Bertahan atas itu semua, kadang saya merasa sebagai manusia super dalam kelemahan saya sendiri.

  • Rani Aprilia Putri

    Kak gue sering bnget kehilangan mood mau ngelakuin sesuatu. mudah lupa. Konsentrasi juga susah bnget perasaan. Padahal gue sering menyugesti diri sendiri buat fokus dan konsen tpi masih aja kyak lost gitu gak tau apa yg dipikirin kyak apa ya melamunin sesuatu tpi gue gak tau apa yg dilamunin/dipikirin. Nah kak itu termasuk tanda gue depresi gak? Atau gara2 faktor lain? Makasih kak virgie

  • Furqon Lanang

    just listened this song when i was feel dying , it's more make me feel good in either way :https://www.youtube.com/watch?v=SSsNaAB9wlg

  • santi

    I used to cook, I used to play piano, I used to laugh a lot, I used to have lot of things to talk, tapi sekarang semuanya ilang gitu. Biasanya berisik ribut banyak omong tp sekarang kok aku malah kayak gatau mau ngomong apa. And i have a real problem with motivating myself. Sekarang rasanya males parah buat belajar, buat sekolah, buat bangun pagi tuh gak semangat. Am I in a serious problem right now? udah termasuk depressed belum kalau kayak gini:( huhuhuhu :((( And how to deal with this problem yahh hahaha bingung:(. by the way thanks for sharing kak!:)

  • Afrisia Naufal Fahrianto

    I've been through this for 4 years and hide my depression, it's literally suck. I have to move to another school because I'm incapable to socialize, study, and do my homework. I always wanted to seek professional help to cure my depression but my mom always said no, she said I should've be grateful and pray instead, but you know, of course those things don't work anyway. I hope with this article my mom can understand.

    based on quiz that I took, I have bipolar II (undiagnosed) there are times that I feel happy, energetic, and normal. I can finish two books in a day, play guitar, and study. But after several weeks, I started to feel numb, just want to lay in bed all day, sleep more, and even suicidal. Sorry, I'm speaking in English, because I feel more comfortable to talk something like this with English.

    • Afrisia Naufal Fahrianto

      based on quiz that I took, I have bipolar II (undiagnosed) there are times that I feel happy, energetic, and normal. I can finish two books in a day, play guitar, and study. But after several weeks, I started to feel numb, just want to lay in bed all day, sleep more, and even suicidal. Sorry, I'm speaking in English, because I feel more comfortable to talk something like this with English.

    • Jalaludin Al’ayubi

      Swing mood is killing yeah. You must going to psychiatry brad.

  • Rui Ninomiya

    niceee

  • nisrina z

    Ka kalo misalnya nih kita fobia sosial itu sama aja depresi ga si??
    Terus, waktu kita jatuh cinta tapi ditolak sampai si dia menjauh menghindar itu kadang membuat saya stress berlebihan sampai gagal fokus itu termasuk depresi ga?

    • Jalaludin Al’ayubi

      Kalau udah buruk baget kemungkinan anxiety disorder cuman kalo sekarang cemas merasa bersalah khawatir terus beberapa hari kemudian hilang dan reda bisa senyum lagi bisa aktifitas seperti biasanya itu hal normal. Just IMO y.

  • Ziza

    Saya sdh lama mgkin 5 tahun terakhir mengalami hal spt itu bahkan sdh beberapa kali berpikir bwt melukai diri sendiri. Saya sempat berpikir utk pergi ke psikiater tapi saya memikirkan apa saya sdh dianggap gila. Kak menurut anda saya sudah termasuk depresi?

  • Sha fhr

    Kak ceritanya aku salah masuk jurusan terus mau ngulang sbm taun depan. 5 kali tes masuk kedokteran ptn ga keterima semua . Tapi ga termotivasi sama sekali untuk belajar padahal ga cocok banget sama jurusannya walaupun bisa dibilang ptn favorit. Terus sering banget saking ga moodnya seharian tuh cuma diem aja kerjaannya gamulai mulai belajar terus nangis gajelas gara gara banyak pikiran. Terus pesimis banget kalau sbm taun depan bakal dapet jurusan dan ptn yang diinginkan. And i had some suicidal thoughts too because i feel so worthless all the time. Nothing is working on my life and feel like a failure.but since mental illness is a taboo in this country . I dont even know what to do . My problem is not limited to my academic career only. Harus gimana dong kak ?

  • Cynthia

    PLEASE HELP ME TERIMA TUHAN YANG MAHA ESA UNTUK MENGGUNAKAN INI GREATE NABI UNTUK MEMBAWA SMILES KEMBALI KE WAJAH SAYA LAGI ..

    Nama saya Bu Cynthia, saya dari Meksiko, itu begitu nyata ketika saya mencoba dan begitu benar. Aku tidak percaya hidup saya bisa berubah

    lebih baik. Aku benar-benar ingin menggunakan media ini untuk menghargai karya indah yang Tuhan telah digunakan Nabi Musa yang dapat dilakukan di saya

    kehidupan. Saya dan suami saya di mana hidup bahagia bersama-sama dengan anak kami sampai iblis harus membawa seorang wanita antara .. My

    Suami tiba-tiba berubah. Dia mulai menjaga larut malam dan lain waktu ia bahkan tidak akan datang kembali ke rumah selama 5 hari.

    Saya mencoba untuk mengetahui apa yang salah tapi dia selalu mengatakan kepada saya apa-apa. Ini berlanjut sampai akhirnya dia meninggalkan saya dan anak kami

    untuk wanita lain .. Saya mencoba semua saya bisa untuk mendapatkan dia kembali, saya mengunjungi banyak rumah spiritual tetapi non bisa membantu saya. Satu

    hari seperti aku akan melalui internet untuk mencari pekerjaan, saya melihat kesaksian yang berbeda tentang bagaimana nabi membantu mereka

    dengan masalah mereka. Salah satu dari mereka mengatakan ia membantunya sembuh penyakit nya, yang lain mengatakan Dia membantunya hamil setelah 11

    tahun keberadaan punya anak dan aku melihat lain yang katanya membantunya menyelamatkan pernikahannya dan mendapatkan pekerjaan yang baik, dia menjatuhkan

    Nabi Email, jadi saya memutuskan untuk memberikan pria sidang dan saya menghubungi dia di Email nya: revjohn90@yahoo.com
    Saya menghubungi orang ini Allah dan menyuruhnya masalah saya dan dia mampu membantu saya membawa kembali suami saya meminta maaf kepada

    saya dan anak kami, saya juga mendapat pekerjaan yang baik dan sekarang kami meninggalkan bahagia bahkan lebih dari sebelumnya. Dia tidak pernah dikumpulkan setiap

    uang dari saya, saya hanya harus Menabur Benih (korban) untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Ohh terima kasih Tuhan UNTUK MENGIRIM NABI BESAR

    Seperti NABI MOSES UNTUK MEMBANTU MASYARAKAT DUNIA INI DENGAN MASALAH MEREKA, TERIMA KASIH BESAR NABI. Saya akan terus berbicara

    Anda bekerja baik untuk dunia. Anda juga dapat menghubungi dia hari ini di Email nya: revjohn90@yahoo.com
    Nabi Musa mengatakan kepada saya saya juga bisa menghubungi dia di salah satu masalah berikut:

    (1) ingin kembali mantan Anda.
    (2) Anda selalu memiliki mimpi buruk.
    (3) Untuk dipromosikan di kantor Anda
    (4) Ingin anak.
    (5) Apakah Anda ingin menjadi kaya.
    (Setan) ingin terus suami / istri menjadi milik Anda sendiri selamanya.
    (7) membutuhkan bantuan keuangan.
    ? Apakah Anda ingin mengendalikan pernikahan Anda
    9) Ingin Anda tertarik pada orang
    10) memiliki anak
    11) MEMBUTUHKAN SUAMI / ISTRI
    12) Cure untuk penyakit apapun.
    Hubungi Orang besar ini hari ini dan Anda akan senang Anda lakukan .. Email: revjohn90@yahoo.com

  • Rany Junika

    Saya juga ingin shared ttg diri saya, di tempat kerja, pekerjaan saya tidak terlalu berat..akan tetapi atasan saya selalu mem-push saya, dan hanya saya saja yg selalu ditegur, di marahi..padahal kary yg lain melakukan hal yg sama, dan klo ada kesalahan sedikit saja saya kena marah, sejak saat itu saya selalu takut untuk melakukan pekerjaan saya, takut membuat kesalahan, dan ia selalu membanding2kan saya dgn yg lain, sehingga saya menjadi tambah stress dan pernah ingin mengakhiri hidup karena hal itu
    Udh hampir 1thn lebih begini, Solusinya bagaimana? Saya bingung

  • Jalaludin Al’ayubi

    Depresi akut itu rasanya hampa udah nggak bisa merasakan sesuatu lagi karena hatinya sudah mati. Sekujur tubuh mengalami letih yang berat. Jalan ngaret apa-apa ngaret. semuanya baik buruk itu hitam tak berkesudahan. Hidup berantakan. Hidup dibalik layar. Orang normal nggak bakal bisa merasakan ini. Biasanya malah memperparah pengidap depresi dalam posisi terburuk. Hancur lebur.

  • kiki

    gue suka sama artikel nya kak tapi gue mau nanya ni, bokap gue meninggal sekitar 13 tahun yang lalu waktu gue masih kecil kak, dulu sih waktu gue masih kelas 2sd gue biasa aja tapi semenjak gue kelas 4 sd gue suka sedih nangis gak jelas kak sampe sekarang gue sedihnya itu kadang gue gak terima bokap udah gak ada, trus semenjak nyokap gue nikah lagi gue jadi dendam sama suaminya gue gak tau kenapa kak, gue jadi takut sama yang namanya komitmen gue juga jadi kurang percaya diri, dan gue juga tertutup sama orang, ini pertama kalinya gue mau coba nanya ke kakak ini termasuk depresi berat atau cuma trauma kak karena ini udah terjadi selama kurang lebih 10 tahun kak gue gak berani buat periksa ke psikolog karena gue takut dikira gila
    thaks sebelumnya kak

  • Susanto Kuanda

    Saya nama Susanto Kuanda terus terang habis baca article di atas, saya panggil kakak atau ibu rasanya kakak lbh tepat krn kalau lihat photo nya masih muda tp sdh hebat dan kembali ke maksud saya awal. saya ingin bertanya soal depresi kesedihan saya ini apa masih bisa diobati atau kembali jd orang normal krn saya kena penyakit ini di tahun 2008 kalau tdk salah bulan oct atau awal tahun sekitar maret tdk begitu ingat tp jelas saya sampai skrg belum sembuh cuma beda nya awal nya depresi saya bukan sedih tapi takut dalam segala hal contoh masih saya ingat takut mandi kepala maksud nya cuci rambut takut tdk bernapas wkt masuk air shg mati, takut makan kdg2 takut tersedak dan takut kena hujan ini kdg2 tdk selalu dr ketiga takut td saya sebut lalu jelas takut mandi kalau mandi harus buka pintu dan heran nya kalau takut tersebut bisa hilang kalau di sekeliling saya banyak orang apalg mereka2 mau mendengar apa yg saya keluhkan singkat cerita saya ketemu dokter di pinang malaysia di kasih obat kecil setiap mau tidur sebutir bisa meredam penyakit takut ini minum sampai setiap 6bulan dosis dikurangi seperempat setiap enam bulan lg kurangi lg seperempat otomatis setiap dua tahun dinyatakan sembuh oleh dokter dan 2tahun pertama dlm seminggu penyakit nya balik dan berjalan 3 kali 2tahun otomatis 6tahun sdh dan skrg tetap sama cuma beda deperesi saya bukan takut yg ada skrg banyak kan depresi kesedihan jd mohon bantuan nya kak apa saya masih bisa sembuh itu dulu jawaban pasti jangan dikasih jawaban menghibur kalau tdk bisa sembuh bilang tdk bisa sembuh lg penyakit ini thanks sebelumnya dan mudah2an ada balasan posting saya ini

  • isty rofiah

    Artikel yang sangat bagus dan membantu. Setelah membaca beberapa artikel dan artikel ini, sy smakin yakin bahwa sy sedang mengalami depresi saat ini. Sebelumny sy tahu ad sesuatu yang salah dalam diri sy, tp sy tidak tahu apa itu. Sudah skitar 3 bulan ini sy merasa menjadi orang yang berbeda. Dan ini mempengaruhi semua sistem kehidupan di sekitar sy. Tp setelah ini timbul pertanyaan baru. Bagaimana cara sy memulai untuk menyembuhkan diri sy?

  • Adit Nya Cungkring

    permisi kak...
    masih aktif nggak ya tanya jawab nya...

  • Nur Hasna Alifia Latifa

    Terlambat baca artikel ini:( kak Virginia, saya mau tanya. Saya baru aja mengalami masalah dalam percintaan. Hari pertama sampai ketiga pagi hari saya masih bisa nangis. Tapi pas sore hari saya malah gak ngerasain apapun dan gak bisa nangis juga. Apakah ini masuk dalam golongan depresi? Apa ini berbahaya? Saya betul2 gak merasa apapun, dan bener2 gak bisa nangis seberapapun saya berusaha. Tolong dijawab ya, terimakasih

  • Anita Fiona Belinda

    ka, umur saya sekarang udah 21 dari kecil sampe sekarang aku ngerasa hidup aku itu tertekan. orang tua pisah dari saya kecil, ibu membesarkan saya dengan tegas dan mungkin kejam ditambah kaka yg juga kejam. tuntutan untuk menjadi the best slalu menghantui saya dari kecil sampe saya selalu bekerja keras bahkan kadang sampe d luar kemampuan. dulu ketika saya mendapat hasil yg kurang memuaskan ibu selalu memarahi saya dan tak jarang memukuli saya ditambah pandangan dari keluarga pihak papah yg seakan merendahkan saya, berbeda dg kaka saya apapun yg dia lakukan selalu mndapatkan perilaku manis dari keluarga. saya iri dan terus berusaha menjadi lebih dari dia tapi apapun yg saya lakukan betapa pun bagusnya prestasi saya tetap tak ada yg merubah pandangan terhadap saya. pandangan" itu selalu menghantui saya hingga saya terkadang merasa sangat tertekan saya sedih yg sangat sedih ditambah sekarang saya sangat merasakan diakriminasi itu, ibu selalu membela kaka meskipun kaka melakukan kesalahan tapi yg disalahkan dan d marahi selalu saya. sekarang saya duduk dibangku kuliah mengambil jurusan IT pemrograman sesuai keinginan ibu, saya sudah stress dengan tugas" dan selalu berusaha memberikan yg terbaik dg harapan mereka bisa bangga terhadap saya dan hasilnya saya rasa cukup memuaskan karna hanya ada 1 nilai B dan yg lainnya A namun hasilnya nihil, ayah selalu merendahkan mengatakan bahwa itu belum seberapa semua mata kuliah harus mendapatkan A dan ibu saya selalu dan selalu menuduh saya main terus padahal saya belajar berusaha untuk membuatnya bangga. saya sangat lelah saya sedih krna tak pernah dianggap beberapa kali saya merasa ingin mengakhiri hidup saya toh saya matipun rasanya tidak akan ada yg peduli, setiap kali saya merasa sedih saya merasakan sakit yg luar biasa dari dalam diri saya sehingga saya selalu mukul" kepala dan tak jarang menjedotkannya ke tembok cukup keras.. apa saya termasuk orang yg memiliki penyakit depresi ka ? lalu apa yg harus saya lakukan ?? 😥

  • keroro

    Hai kak, aku sbenarnya udah mengalami ini sejak lama. Jd sejak smp
    aku menyimpan rahasia ttg slh satu orangtuaku yang aku gamau orang lain
    dan orangtuaku sendiri tau krn takut ada masalah besar nantinya. Dan
    akhirnya sampe sekarang udah kuliah ngerasa bersalah terus menerus,
    apalagi kalo lagi dimarahin orang tua, rasanya kaya semua masalah itu
    aku penyebabnya. Kebetulan aku anak tunggal, aku juga introvert orangnya
    sampe sampe jarang banget bisa deket sama keluarga(sepupu,om, tante) ,
    punya banyak temen deket tapi kalo cerita tentang masalah pribadiku suka
    malu dan takut orang itu jadi illfeel. Sering banget menyimpan masalah
    sendiri dan takut ngomong ke orang tua. Sering ngerasa jadi trouble
    maker, motivasi hilang sejak smp padahal dul waktu sd sering lomba
    kemana mana. Dan juga, ayahku orangnya kurang sabar, aku gatau bener apa
    nggak tapi yang kurasain ayahku kalau ngasih tau hal yang salah dengan
    nada tinggi katanya beliau didik aku keras biar aku nggak jadi orang
    yang penakut. Tapi justru aku jadi takut sama ayahku sampe sampe dr
    kecil hampir gapernah bercanda. Menurut kakak apa saran yang baik buat
    aku sekarang? Makasih

    • keroro

      Maaf cerita dikit

  • Dara Permana

    "Apa lo punya teman atau mungkin lo sendiri suka murung ga jelas, males-malesan, suka khawatir berlebihan, sampe kepikiran untuk mengakhiri hidup?"

    iya, mungkin bagi mereka yang ga tau tentang ini mungkin di kira berlebihan tp tulisan yg diatas itu saya alami sendiri, bener bener sampe saya rasanya ingin mati aja,