Diskusi: Budaya curang dalam Ujian

Ada banyak trik dalam mencontek, kerjasama, dan budaya curang dalam ujian lainnya. Artikel ini membahas dan membuka ruang diskusi terkait fenomena ini.

Halo guys, gak terasa pelaksanaan UN tingkat SMA dan sederajat udah berlalu. Bagi kamu yang sekarang duduk di bangku SMP dan SD, berarti masih harus berjuang mempersiapkan UN 2016 di bulan Mei mendatang. Semangat yak!

Mumpung UN tingkat SMA/SMK sederajat baru saja berlalu, enaknya artikel blog kita kali ini ngomongin hal yang santai dan ringan-ringan dulu kali yak. Nah, pada artikel blog kali ini, gua ingin mengangkat topik diskusi yang setiap tahun selalu “panas” diangkat setelah UN selesai. Yak, topik tsb adalah seputar budaya curang dalam ujian dalam dunia pendidikan kita. Baik itu berupa bocoran soal, kunci jawaban, upaya menyontek, kerjasama, dan berbagai bentuk kecurangan lainnya. Jadi, buat lo yang kemarin punya pengalaman atau cerita seru tentang tindak kecurangan yang terjadi di lingkungan lo, yuk kita nimbrung dan saling curhat di kolom diskusi bawah artikel ini!

Anyway, sebetulnya beberapa hari yang lalu (tepatnya 7 April 2016), akun twitter @zeniuseducation sempat iseng-iseng mengadakan polling seputar tindak kecurangan yang terjadi di lingkungan sekolah para follower-nya, berikut adalah hasilnya:

kecurangan UN

Walaupun jumlah voter-nya dikit, tapi dari 442 responden ini… setidaknya kita tahu bahwa ada 77% atau setidaknya 340 responden yang menyatakan bahwa terdapat kecurangan di sekolahnya. Ini baru dalam skala kecil iseng-isengan saja. Entah bagaimana jika sampelnya diperbanyak atau bahkan diperluas secara nasional.

Nah, karena gua makin penasaran lagi. Kemarin (14 April 2016) gua bikin survei yang sedikit mengupas tindak kecurangan pada UN SMA/SMK 2016 dengan lebih mendalam. Berikut adalah distribusi bentuk kecurangan berdasarkan responden dari sosial media @zeniuseducation:

perbandingan kecurangan

Oke, berdasarkan polling & survei iseng-isengan zenius, boleh dibilang >75% responden menyatakan melihat kecurangan UN di lingkungannya. Banyak amat yak? Iya, tapi sejujurnya gua gak heran sih, karena sebetulnya fenomena kecurangan ini bukan lagi hal yang aneh. Setiap tahun, setiap generasi, dan setiap angkatan… selalu saja ada bentuk budaya curang untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus. Konteks kecurangan dalam dunia pendidikan juga bukan hanya terjadi dalam skala besar seperti UN, tapi juga dalam hal-hal kecil, seperti ulangan harian, quiz, bahkan tugas sekolah!

Ironisnya lagi, budaya curang ini juga tidak hanya dilakukan oleh para siswa saja, tapi dalam beberapa kasus juga melibatkan oknum PENGAWAS dan juga GURU. Berikut adalah beberapa screenshot dari curhatan responden survei zenius yang menyatakan keterlibatan oknum guru dan pengawas:

kecurangan UN curhat

Miris banget ya ngeliatnya?? Contoh lain lagi bisa lo lihat dari curhatan salah seorang rekan guru kenalan gua yang membeberkan tindak kecurangan masal yang terjadi di Sekolahnya pada UN beberapa tahun lalu. Berikut screenshot-nya:

curhat guru

Nah lho, berdasarkan beberapa penggal curhat tersebut, kita bisa lihat bahwa bentuk budaya kecurangan di Indonesia bukan hanya dilakukan oleh para siswa saja, bahkan sampai dilakukan oleh para oknum pengawas dan juga guru yang seharusnya menjadi panutan. Ironis banget yak!? Sebetulnya apa sih akar masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia?

PS. Kalo lo mau lihat data keseluruhan survei di atas, lo bisa klik link data individual laporan kecurangan UN dan juga laporan summary kecurangan UN kemudian laporan jawaban terbuka seputar kecurangan UN.

Eh, tapi ternyata hal ini gak terjadi di negara kita aja lho. Hal yang tidak kalah ironis juga terjadi di Negara India. Pada Maret 2015, ada sebuah skandal di Sekolah Bihar India, dimana para orangtua rela mempertaruhkan nyawa memanjat dinding sekolah untuk membantu anak-anak mereka mengoper contekan mencontek saat ujian masuk universitas! Hal ini sempat menjadi berita yang menghebohkan dalam dunia pendidikan tahun lalu. Kalo lo penasaran ceritanya, coba tonton liputan singkatnya di bawah ini.

Wah, wah… gila banget ya? Ternyata budaya curang dalam ujian ini juga terjadi di berbagai belahan dunia lain, dimana yang terlibat dalam prosesnya bukan hanya siswa saja, tapi juga guru, bahkan orangtua!

Kalo dipikir-pikir, kenapa ya budaya curang ini terus mengakar dengan kuat? Sepenting itukah nilai akademis, dibandingkan dengan nilai-nilai integritas dan kejujuran? Apakah dunia pendidikan seolah-olah hanya menjadi panggung sandiwara dari para siswa, guru, dan orangtua untuk mendapatkan status sosial dan kesempatan karir yang lebih baik? Tentu budaya ini tidak bisa digeneralisir merata bagi setiap siswa, guru, apalagi orangtua. Gua percaya masih banyak siswa, guru, dan orangtua yang menginginkan pendidikan yang betul-betul berorientasi untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik.

Terlepas dari itu, budaya curang untuk memperoleh nilai akademis ini memang kompleks dan rasanya sulit sekaliuntuk dibedah dalam 1 artikel ini. Oleh karena itu, gua mengundang para pembaca untuk berdiskusi dan berbagi cerita serta pengalaman terkait topik ini dalam kolom komentar di bawah artikel ini.

Sebagai pembukaan, gua akan coba berbagi opini pribadi terkait 2 hal, yaitu (1) Penyebab ; dan (2) Konsekuensinya. Kita mulai dulu dengan hal yang pertama:

A. Penyebab budaya curang dalam Ujian

Menurut pendapat gua, kecurangan dalam dunia pendidikan akan terus mengakar selama masyarakat (siswa/guru/orangtua) memiliki persepsi bahwa nilai akademis adalah tolak ukur prestasi, kebanggaan, serta satu-satunya indikator dan ‘jembatan’ dalam meraih jenjang karir, prospek kerja, dan kesuksesan finansial di masa mendatang.

Selama persepsi itu masih melekat dalam masyarakat: para orangtua akan cenderung menuntut anak-anaknya mendapat nilai akademis yang tinggi secara konsisten. Para guru akan fokus pada prestasi, nilai rata-rata UN, lomba/olimpiade dan hal-hal yang bisa menjadi simbol status sosial sekolah ketimbang berorientasi untuk bagaimana mengembangkan potensi serta pengalaman belajar siswa yang seru dan menyenangkan.

Ketika siswa melihat bahwa nilai akademis adalah hal yang krusial untuk dipersembahkan bagi orangtua, dan juga seolah-olah menjadi syarat mutlak untuk bisa ‘survive‘ di masa mendatang. Maka ukuran keberhasilan dari para pembelajar ini hanya berfokus pada nilai, bukan pada pemahaman disiplin ilmunya. Dalam perspektif seperti ini, tidak heran jika Indonesia kaya akan ‘prestasi’ dan sering memenangkan lomba olimpiade sains / cerdas cermat. Tapi jumlah kemenangan olimpiade itu tidak berimbang dengan jumlah putera-puteri Indonesia yang betul-betul berkarya dalam dunia ilmu pengetahuan. Dalam perspektif yang sama pula, tidak heran jika budaya curang untuk mendapatkan nilai akademis terus mengakar kuat di setiap angkatan pelajar.

B. Konsekuensi dari budaya curang dalam ujian.

Bicara soal konsekuensi, mungkin lo langsung kepikiran soal hukuman. Hukuman bagi mereka yang ketahuan curang, emang bisa “sadis” banget. Dari mulai nilai ujiannya nol, tidak boleh ikut ujian selanjutnya, dipanggil orangtua, bahkan yang paling ekstrim bisa dikeluarin dari sekolah/universitas. Tapi pada kenyataannya, walaupun hukumannya terbilang sadis, toh budaya nyontek dan kerja sama itu tetap marak terjadi.

Jadi gua pikir, daripada kita bicara soal ‘hukuman yang efektif’ atau berkampanye tentang nilai-nilai kejujuran dan integritas sebagai pelajar. Gua pikir akan lebih efektif jika kita membahas soal KONSEKUENSI jangka panjang dari kebiasaan contek-mencontek ini bagi kepentingan siswa itu sendiri ke depannya. Wah emang apaan sih konsekuensi jangka panjangnya? Sebelumnya, gua mau cerita dulu tentang salah satu murid zenius yang pernah curhat buka-bukaan sama gua…

Cheating On A Test

Singkatnya, beberapa tahun yang lalu ada yang curhat sama gua (katakanlah namanya Tony) bahwa dari sejak SMP sampai kelas 12 SMA, dia bener-bener kecanduan nyontek dan nyalin PR, terutama dalam pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Menurut cerita dia, hampir setiap kali pr, ulangan, dia selalu nyari akal gimana caranya supaya bisa nyontek dan “lolos” dengan bagaimanapun caranya. Bahkan dalam UN SMP sekalipun, dia berhasil dapet bocoran soal dan kunci jawaban untuk bisa lolos UN SMP.

Nah, somehow dia akhirnya bisa menginjakan kaki di kelas 12 SMA dan mau gak mau harus berhadapan dengan SBMPTN dan Ujian Mandiri berbagai universitas yang kebanyakan soalnya menguji kemampuan matematika dan Bahasa Inggris. Pada moment itu, akhirnya dia sadar bahwa dia udah gak bisa lari kemana-mana lagi. Si Tony yang udah kelas 12 di umur 18 tahun, bahkan gak ngerti operasi hitung pecahan sederhana, dan bahkan gak bisa baca teks Bahasa Inggris sama sekali. Kacau banget yak!? Setelah udah gak bisa lari kemana-mana baru deh dia panik dan nyesel.

Itu baru konsekuensi dalam hal akademis. Hal yang lebih ngeri lagi adalah konsekuensi dalam kapasitas mental diri lo sendiri. Seseorang yang terbiasa untuk mensiasati sistem, mencari jalan pintas, menyogok, berkolusi… pada akhirnya membentuk pribadi dengan ingin serba instan, dan tidak terbiasa bekerja keras. Bagi mereka yang terbiasa curang sejak menjadi pelajar, akan tetap terus berada dalam pola pikir untuk bisa “lolos” dari masalah dengan cara yang tidak fair. Sampai pada akhirnya, suatu hari nanti mau gak mau lo akan tiba pada moment dimana lo harus membuktikan kemampuan lo.

Ingat, budaya curang dalam ujian mungkin hanyalah awal dari pengikisan prinsip dan integritas, tapi ketika kecurangan menjadi kebiasaan yang terus lo lakukan berulang kali, otak lo akan berpikir bahwa berbuat curang adalah hal yang lumrah. Di sisi lain, lo juga harus sadar bahwa ‘hukuman’ dari kecurangan akan semakin mengerikan seiring berjalannya waktu. Ketika masih pelajar, perbuatan mencontek itu paling hukumannya cuma dapet nilai nol. Tapi kelak jika dalam dunia profesi, konsekuensi dari bentuk kecurangan akan jauh lebih sadis lagi, bisa jadi dipecat dari pekerjaan, dikejar-kejar penagih hutang, bahkan bisa jadi masuk penjara.

Jadi menurut gua pribadi, budaya curang dalam dunia pendidikan bukan soal gak jujur pada nilai akademis saja, tapi soal kebiasaan memupuk masalah yang jauh lebih besar lagi di kemudian hari. Ujung-ujungnya, keputusan untuk jujur atau curang dalam jenjang akademis, pada akhirnya bukan demi siapa-siapa tapi untuk mengasah prinsip dan ketahanan mental lo untuk menghadapi masalah (baca: ujian yang jauh lebih besar) di masa depan.

****

Nah, demikianlah sedikit opini dan pendapat pribadi gua soal topik kali ini. Bagi para pembaca di sini yang juga ingin berbagi cerita, pengalaman, opini, serta pendapat seputar budaya curang dalam dunia akademis. Gua mengundang kalian semua untuk ikut nimbrung pada kolom diskusi di bawah artikel ini. Ditunggu komentarnya yak, dan sampai jumpa di artikel zenius blog berikutnya!

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol sama Glenn tentang topik diskusi kali ini, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya. Jika ada di antara kamu yang berpendapat bahwa UN SMA/sederajat tahun 2016 tidak layak dijadikan penentu kelolosan seleksi SNMPTN 2016 karena banyak terdapat bentuk kecurangan, kamu bisa ikut serta menandatangani petisi Change.org berikut ini >> Petisi menuntut agar nilai UN SMA/SMK/MA 2016 tidak menjadi komponen penilaian untuk SNMPTN 2016.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.