Buku Klasik Dunia yang Gua Jamin PASTI Keren! – Part 02

Tertarik baca buku sastra klasik dunia? Berikut adalah rekomendasi buku sastra klasik dunia dari Zenius yang keren banget untuk kamu baca.

Halo Guys, mungkin sebagian dari lo ada yang inget kalo tahun lalu gua sempet nulis artikel yang berisi list buku-buku rekomendasi yang gua jamin pasti keren. Nah, kalo di artikel sebelumnya gua bahas buku-buku bergenre popular-science dan literatur sastra Indonesia, kali ini (sebagaimana janji gua di artikel lama), gua akan melanjutkan list rekomendasi buku yang (menurut gue) PASTI KEREN dengan genre SASTRA KLASIK DUNIA.

Bagi sebagian orang mungkin kata “PASTI KEREN” ini a little bit exaggerating, but believe me, gua beneran gak main-main dengan rekomendasi buku yang gua ulas di bawah ini. Buku yang gue rekomendasi udah gua seleksi dengan secermat-cermatnya, bahwa buku-buku adalah buku literatur sastra klasik kelas dunia yang sudah masuk dalam kategori “legendary books” terutama bagi kalangan penggiat sastra dan pecinta buku.

Buat lo yang ngerasa lumayan sering baca buku, jangan heran kalo beberapa buku rekomendasi gua di bawah ini gak pernah lo denger judul atau nama pengarangnya, bahkan mungkin gak pernah lo lihat nongol di toko buku langganan lo. Apa boleh buat, emang toko buku populer di Indonesia rasanya agak jarang menampilkan buku-buku sastra legendaris dunia, mungkin karena memang minat baca buku sastra di Indonesia itu sedikit. Jadi apa boleh buat, buku-buku rekomendasi gua ini emang bisa dibilang cukup langka dan pastinya bukan kategori buku sembarangan yang bisa dengan mudah lo beli di toko buku terdekat.

Btw mungkin lo ada yang kepikiran “kenapa rekomendasinya buku sastra klasik dunia?”. Emang apa serunya sih buku sastra? Mendengar kata bacaan ‘sastra’ atau ‘literatur’ mungkin membuat sebagian dari kita mengasosiasikan dengan tulisan puitis, maknanya ngawang-ngawang, muter-muter, bertele-tele, abstrak, dan ga bisa dimengerti. Well, dari pengalaman gua sih orang yang ngomong ‘bacaan sastra itu gak jelas’ pada dasarnya gak pernah bener-bener nyoba baca apalagi ngabisin satu pun bacaan sastra, haha… Atau mungkin bisa jadi bahan bacaan sastra yang pertama coba mereka baca tergolong agak berat dan bukan ditujukan untuk umur pelajar.

Tapi, kalo lo bisa memilah buku sastra klasik yang bener-bener tepat, ada banyak banget ilmu yang lo bisa dapatkan dengan membaca sastra. Dengan membaca sastra klasik kita jadi bisa melihat banyak perspektif baru dari para penulis yang hidup puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu. Kita seperti menembus ruang dan waktu untuk memahami begitu banyak hal yang ingin diungkapkan penulis, bisa jadi sebuah gagasan, perspektif, ideologi, ungkapan kekecewaan, atau pemaknaan peristiwa sejarah besar dari sudut pandang lain di luar kajian akademis. Dengan membaca sastra, kita bisa belajar sejarah tidak hanya dari sudut pandang kumpulan fakta dan dokumentasi akademik saja, tapi juga mengerti bahkan seolah-olah ikut terlibat bersama dengan perasaan orang yang mengalaminya secara langsung. Membaca sastra juga akan membuat kita mempertanyakan kembali pandangan yang selama ini kita anggap benar, membuka sudut pandang baru, serta menumbuhkan kepekaan sosial.

Okay, sekarang kita langsung aja deh masuk ke ulasan list buku sastra klasik dunia yang (menurut gue) keren banget dan cocok untuk dibaca para intelektual muda di umur pelajar-mahasiswa. Cekidot!

1. To Kill a Mockingbird – Harper Lee (1960)

Selain memenangkan Pulitzer Prize 1961 untuk kategori Fiksi & Novel… entah berapa banyak lagi penghargaan yang didapat oleh buku ini. Pada beberapa polling di forum pecinta buku (goodreads.com) yang diikuti oleh puluhan ribu pembaca, buku ini hampir selalu menempati urutan No#1 pada berbagai kategori bergengsi, di antaranya adalah:

10257528Wah, emang apa istimewanya sih buku ini sampai-sampai begitu disambut positif oleh para pecinta buku sastra klasik di seluruh dunia? Bagi gue pribadi, jawabannya terletak pada bagaimana buku ini menghantam telak pada salah satu dari penyakit umat manusia yang paling kronis, yaitu kecenderungan untuk berprasangka buruk, bias subjektif dalam menilai seseorang, serta menghakimi orang lain berdasarkan warna kulit dan latar belakang sosial.

Hal ini mungkin kita anggap persoalan yang sepele dan sangat wajar terjadi dimana-mana. Tapi berapa banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa penyakit ini telah banyak menggerogoti rasa kemanusiaan kita dalam bermasyarakat. Sejauh mana kita menyadari bahwa pemikiran kolektif terhadap sekelompok manusia menjadi akar dari masalah rasisme, intoleransi antar kelompok masyarakat, bahkan golongan individu tertentu.

Harper Lee telah begitu jeli menggambarkan titik permasalahan ini di tahun 1960. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama seorang gadis kecil yang polos, Lee mengisahkan kehidupan sebuah keluarga dengan setting tahun 1930 di sebuah kota kecil di Alabama, Amerika Serikat. Dari kacamata gadis ini, kita diajak untuk melihat bagaimana nilai-nilai keadilan itu perlu ditegakkan dengan penuh perjuangan, terutama pada masa ketika isu rasialis pada orang berkulit hitam masih menghantui Amerika. Buku ini seolah-olah menggebrak dan membangunkan masyarakat di Amerika pada tahun 60an untuk sadar bahwa nilai-nilai keadilan dan kesetaraan harus diperjuangkan sampai tuntas.

Sampai saat ini, buku To Kill a Mockingbird selalu menjadi bacaan wajib bagi para pelajar di Amerika dan banyak belahan dunia yang lain. Gua sangat merekomendasikan buku ini buat lo semua yang ngakunya doyan baca buku, khususnya kalo selama ini lo belom pernah mencicip genre karya sastra klasik dunia.

PS. Buku ini juga pernah sedikit diulas pada salah satu artikel zenius blog terdahulu, lo bisa baca di 14 film dan 10 buku rekomendasi untuk mengisi liburan.

 

2. A Tale Of Two Cities – Charles Dickens (1859)

135625Bagi para remaja cowok, seringkali kita disuguhkan cerita-cerita dengan tema perjuangan revolusi yang seru-seru seperti dalam manga, anime, video game, film box office, dan lain-lain… Entah kenapa (terutama buat cowok) cerita perjuangan bersama rakyat tertindas untuk meruntuhkan pemerintahan lalim yang menyengsarakan rakyat, rasanya begitu membangkitkan ‘darah muda’ yang bergejolak mendidih untuk larut dalam romantisme revolusi.

Tapi bagi kaum muda masyarakat Perancis di akhir abad 18, romantisme dan gejolak revolusi itu bukan cuma dongeng. Bagi mereka, perjuangan revolusi itu nyata dan mereka jalani dengan penuh keberanian untuk meruntuhkan sistem pemerintahan monarki Perancis yang korup, dimana rakyat terus ditekan dengan bayaran pajak setinggi langit, sementara kaum berjois hidup sejahtera dan berfoya-foya. Sampai pada suatu keadaan dimana rakyat Perancis sudah tidak tahan lagi, mereka bangkit secara serentak dan melakukan revolusi, penjara Bastil yang digunakan sebagai simbol kekuasaan monarki diserbu rakyat sipil, para kaum bangsawan ditangkap, diadili, dan dieksekusi langsung oleh rakyatnya sendiri. Ini adalah sejarah revolusi yang betul-betul terjadi di akhir abad 18, sebuah perjuangan yang sangat dramatis, dan pastinya bukan cuma dongeng.

Sebuah kisah klasik dengan latar perjuangan revolusi besar ini ditulis dengan brilian oleh Charles Dickens di buku a Tale of Two Cities tahun 1859. Dickens sang novelis legendaris ini memang sanggup menyihir para pembaca untuk bukan sekedar menjadi ‘penonton’, tapi seolah-olah seperti beneran masuk dan terlibat dalam ceritanya. Kalo lo selama ini suka dengan cerita, anime, manga, atau video game dengan tema revolusi… gua jamin dalam buku ini, lo gak akan melihat ‘dongeng revolusi’ lagi, tapi beneran melihat dan terjun langsung dalam sejarah nyata revolusi terbesar di Eropa.

For your info, buku yang dikategorikan dalam genre ‘historical novel’ ini bahkan tercatat sebagai novel paling laris sepanjang sejarah dengan rekor penjualan fantastis di angka 200 juta kopi sejak pertama kali terbit tahun 1859. Buat lo yang ngakunya suka baca novel, tapi belom baca novel masterpiece dari sang maestro penulis yang memecahkan rekor penjualan novel sepanjang masa, berarti wajib banget deh hukumnya untuk baca mahakarya ini.

 

3. Wuthering Heights – Emily Brontë (1847)

432398Bagi para pembaca Zenius Blog yang sebagian besar umur pelajar, topik ‘cinta’ mungkin bisa jadi salah satu hal favorit yang selalu dibicarakan, dibaca, dijadikan bahan gosip, dan juga dialami sendiri. Kata orang yang namanya cinta bisa bikin orang jadi gila. Bisa jadi ungkapan itu ada benernya juga, khususnya bagi kalangan remaja yang mungkin baru mengalami pengalaman pertama sama yang namanya cinta-cintaan.

Dari pengalaman gue dulu remaja sampai kuliah, gak jarang yang namanya cinta itu jadi sumber masalah besar remaja. Ada dulu temen gue yang tadinya berprestasi luar biasa di sekolah mendadak jadi sering bolos sampai putus sekolah hanya gara-gara cinta. Ada juga temen gue yang bahkan sampe mencoba untuk bunuh diri, lagi-lagi karena cinta. Pokoknya kegilaan atas nama cinta itu ga ada habisnya deh, hehehe

Mungkin karena hal itu juga, bacaan dengan tema cinta itu menjamur di toko buku, dari kisah cinta-cintaan sama vampir, serigala, borjuis masokis, dan lain sebagainya. Tapi jangan harap, kisah ‘cinta’ dalam buku Wuthering Heights ini mirip seperti tipikal cerita cinta di buku-buku teenlit yang populer di kalangan remaja masa kini. Ini bukan kisah cinta yang cengeng, bukan pula damsel in distress dimana sang cewek ‘tersandera’ dan pasrah nunggu sang pangeran penyelamat, bukan pula kisah cinta yang romantis puitis, penuh kalimat indah berbunga-bunga.

Wuthering Heights adalah karya sastra klasik dunia yang berbicara tentang topik cinta dari sudut pandang yang paling gelap dan mengerikan. Ketika seseorang mencintai dengan cara yang salah, cinta tidak lagi berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan… melainkan berbicara tentang obsesi berlebihan, rasa ingin memiliki, dendam, benci, posesif, kecemburuan, dan amarah yang tidak terkendali… semua itu terjadi diatasnamakan cinta.

Kisah dalam buku ini mungkin gak menawarkan bacaan untuk hiburan, tapi gua pikir ada sebuah pesan dalam buku ini bisa jadi sangat berguna buat lo semua, terutama bagi para remaja yang lagi dimabuk cinta (yang gak sehat). Rasa cemburu berlebihan, posesif, patah hati yang berujung dendam, dan lain-lain adalah hal-hal yang bisa jadi membuat kehidupan seorang remaja hancur sia-sia, dari tindakan konyol untuk kabur dari rumah, putus sekolah, berantem, mau bunuh diri, dan drama-drama lainnya. Hal-hal seperti ini harusnya bisa dihindari, kalau saja bacaan para remaja yang lagi galau itu membantu mereka dalam menyelesaikan masalah.

Jadi, buat lo yang lagi bermasalah dengan cinta, daripada lo baca teenlit yang hanya akan membuat lo makin hanyut dalam masalah dan kegalauan. Gua tantang lo untuk menelan pil pahit dengan belajar tentang cinta dari buku sastra klasik yang sangat legendaris ini. Kisah cinta dalam buku ini bukan untuk ditiru, tapi justru sebagai peringatan bahwa cinta itu bisa jadi hal yang destruktif jika kita salah dalam menjalaninya. Nah, moga-moga rekomendasi gua untuk baca buku ini bisa memotivasi lo untuk berburu buku legendaris ini di toko-toko buku impor atau toko buku online.

Ngomong-ngomong emangnya selegendaris apa sih buku ini? Sebagai info aja, edisi pertama buku ini (terbitan 1847) sempat terjual tahun 2007 di rumah lelang Bohams Inggris dengan harga £114.000 atau +/- Rp 2,4 milyar! Sekarang lo bayangin aja sebuah karya sastra mampu membuat seseorang rela bayar 2,4 milyar rupiah untuk dapetin edisi pertamanya, pastinya bukan buku sembarangan dong. 😉

 

4. The Little Prince – Antoine de Saint-Exupéry (1943)

the little princeBuku ini terinspirasi oleh pengalaman langsung dari sang penulis yang telah menjumpai titik nadir dalam kehidupannya yang berhadapan dengan ujung kematian. Pada 30 Desember 1935, Saint-Exupéry (sang penulis buku) sekaligus juga pilot berpengalaman hendak memecahkan rekor penerbangan tercepat dari Paris menuju Saigon (sekarang dikenal sebagai Ho Chi Minh, ibukota Vietnam). Pada pukul 02:45 subuh, setelah hampir 20 jam di udara, pesawat berjenis monoplane jatuh di tengah-tengah gurun Sahara, dekat dengan delta Sungai Nil. Dalam kondisi yang tak terbayangkan, Sant-Exupéry bersama dengan ko-pilot André Prévot berjuang untuk tetap hidup melawan dehidrasi parah sampai mengalami halusinasi. Untungnya di hari keempat pasca kecelakaan pesawat, mereka diselamatkan oleh serombongan suku pengembara yang sedang melintasi gurun dengan menunggangi unta.

Entah proses kontemplasi seperti apa yang dialami oleh Saint-Exupéry ketika berhadapan dengan titik nadir dalam hidupnya hingga nyaris tewas, yang jelas dia menyalurkan bentuk kontemplasi yang terinspirasi dari pengalamannya tersebut dalam sebuah karya sastra klasik yang sangat unik, berjudul the Little Prince. Terus terang, gua sendiri agak sulit mendeskripsikan buku ini… karena buku ini tidak bercerita tentang kisah yang literal dan konkret, namun penuh dengan metafora, alegori, dan pemaknaan abstrak terhadap kehidupan secara luas. Terlepas dari itu, buku ini sukses menjadi salah satu buku sastra klasik paling legendaris di abad 20 yang telah diterjemahkan lebih dari 250 bahasa dan mencapai jumlah angka penjualan fantastis di angka 140 juta kopi di seluruh dunia.

Mungkin lo penasaran gimana sih isi dari buku yang isinya penuh metafora dan alegori tapi bisa laku keras di seluruh dunia? Well, buku ini emang dari bentuk luarnya terkesan seperti buku untuk anak-anak, tapi setelah gua baca, isinya jauh lebih tepat ditujukan untuk orang dewasa. Buku ini membawa kita menembus waktu dan kembali pada pemikiran anak kecil yang polos, yang terkadang bisa mengajarkan jauh lebih banyak kebijaksanaan dan perspektif baru dibandingkan sudut pandang orang dewasa yang sudah terkontaminasi oleh banyak kepentingan, seperti uang, kekuasaan, gengsi, popularitas, dan lain-lain.

Mengutip potongan resensi dari Kak Prasdianto (tutor Biologi Zenius) terhadap buku ini :

“You don’t take much time to finish this book, but to understand the messages? it’ll take your lifetime perhaps…” – Prasdianto

Anyway, sebetulnya di tahun ini, the Little Prince sempat diangkat dalam bentuk film animasi. Berikut di bawah ini gua akan tampilkan salah satu trailernya. Terlepas dari itu, sebetulnya gua gak menyarankan lo untuk menonton film ini sebelum lo baca bukunya, karena kemungkinan sih lo akan banyak miss / gak ngerti makna film ini kalo gak baca bukunya dulu.

PS. Buku the Little Prince ini juga pernah direkomendasikan pada artikel blog Zenius sebelumnya, lo bisa baca beberapa rekomendasi 14 film dan 10 buku untuk mengisi liburan sekolah di sini.

 

5. 1984 – George Orwell (1949)

3744438Kalo ada orang yang bertanya ke gue, apa buku fiksi terbaik yang pernah gua baca sepanjang hidup gue… maka tanpa setitik pun keraguan, jawaban gua adalah buku ini. 1984 karya George Orwell. Ini adalah satu-satunya buku yang isinya terus menghantui gue berminggu-minggu setelah gua selesai baca bukunya. Emang apa sih istimewanya buku ini? Kok judulnya cuma angka 1984 doang?

Buku ini ditulis tahun 1948, ketika Perang Dunia 2 baru saja berakhir, dan Perang Dingin antar blok barat dan timur baru saja akan dimulai. Pada tahun-tahun krusial di mana bentrokan antar 2 poros kekuatan dunia, gagasan, dan ideologi politik berbenturan satu sama lain… George Orwell menulis sebuah proyeksi skenario terburuk yang bisa jadi dialami oleh umat manusia pada tahun 1984.

1984 akan membawa lo pada sebuah kehidupan distopia dalam iklim politik totaliter, saat dimana pemerintah memiliki kontrol penuh kekuasaan atas rakyatnya yang sudah sangat jauh melampaui batas… Apa yang terjadi ketika pemerintah memiliki kekuasaan absolut atas rakyatnya? yang terjadi adalah manipulasi informasi publik, pemberantasan kebebasan berpendapat, dan pencabutan hak-hak individu. Orwell akan mengajak kita masuk ke dalam sebuah zaman paling mengerikan dimana akal sehat, nilai-nilai kemanusiaan, harapan, cinta, ilmu pengetahuan, fakta sejarah, kebebasan, keadilan, logika, dan rasionalitas – hancur lebur, lumat, musnah tak berbekas sampai tidak ada ampas-ampasnya sama sekali… dan yang lebih mengerikan lagi, proses kehancuran itu diceritakan dalam sebuah proses yang wajar dan tidak terbantahkan.

Tahun 1984 memang telah lama berlalu, namun buku 1984 ini tetap dikenal sebagai karya fenomenal jenius yang akan tetap terus menjadi obor peringatan bagi setiap generasi (khususnya generasi intelektual muda seperti lo semua) bagaimana kekuatan otoriter absolut dapat menghancurkan kemanusiaan sampai ke akar-akarnya dengan cara yang sngat mengerikan. Sebuah kekuatan otoriter absolut memang terus menghantui peradaban manusia sepanjang sejarah, dari zaman Firaun, monarki Perancis, hingga fasisme Nazi ala Hitler, gagasan mengerikan ini terus direproduksi dan hanya berubah wajah. Oleh karena itulah, selain menjadi ‘holy grail’ bagi para penggila fiksi klasik dan genre distopia, buku ini juga menjadi bentuk peringatan keras bagi para setiap generasi mendatang untuk tetap terus menjaga rasionalitas dan kemanusiaan.

PS. Terus terang aja, ini bukan bacaan ringan. Sebelum baca buku ini, ada baiknya lo ngerti sedikit tentang konsep ideologi politik totalitarianisme dan otoritarianisme... dan jangan lupa siapkan mental yang kuat. I'm dead serious, don't take it lightly.

****

Nah, demikianlah 5 list bacaan sastra klasik dunia yang gua pikir perlu banget dibaca sama lo, terutama untuk mengisi liburan akhir tahun. Sebetulnya masih ada banyak banget buku sastra klasik yang keren-keren, tapi karena pertimbangan demografi pembaca, gua hanya mengulas buku-buku yang menurut gua cocok untuk para pelajar/mahasiswa. Terlepas dari itu, gua tetap akan memberikan beberapa list bacaan sastra klasik lain yang gak kalah keren dengan yang gua bahas di atas, berikut di antaranya:

  1. Catcher in the Rye – J. D. Salinger (1951)
  2. Crime and Punishment – Fyodor Dostoyevsky (1866)
  3. The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (1890)
  4. Great Expectations – Charles Dickens (1861)
  5. The Overcoat – Nikolai Gogol (1842)
  6. Of Mice and Men – John Steinbeck (1937)
  7. Brave New World – Aldous Huxley (1932)
  8. The Plague – Albert Camus (1947)
  9. Slaughterhouse-Five – Kurt Vonnegut (1969)
  10. Jane Eyre – Charlotte Brontë (1847)

Okay deh, sekian rekomendasi buku sastra klasik dunia dari gue. Moga-moga bisa jadi bahan target bahan bacaan lo menjelang hari liburan Natal dan akhir tahun. Kemungkinan besar sih list buku di atas itu gak bisa lo dapetin dengan mudah di toko-toko buku populer, tapi mungkin disitu juga sisi yang bikin penasaran dari buku-buku sastra klasik dunia. Begitu lo nemuin buku itu nyempil di antara tumpukan buku loak yang berjejalan di pasar buku tradisional atau perpustakaan lawas, rasanya senengnya berlipat ganda… ada yang bilang rasanya itu seperti dapet ‘harta karun’, hehehe… Oke deh, sampai jumpa di artikel rekomendasi buku yang berikutnya, selamat berburu dan selamat membaca!

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara lo yang mau ngobrol atau sharing sama Glenn tentang rekomendasi buku di atas, atau ada yang bahas tentang buku yang udah pernah lo baca, atau mungkin lo mau kasih rekomendasi tentang buku sastra klasik dunia yang lain – Lo bisa langsung tinggalin aja comment di bawah artikel ini.

Buat lo yang penasaran dengan beberapa list rekomendasi buku/film lain yang pernah dibahas di zenius blog, berikut adalah artikelnya :

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.